“Terima kasih” adalah sebuah frasa sederhana, dan saya yakin seluruh bahasa di muka Bumi ini punya “terima kasih” versi mereka sendiri.
Ketika seseorang bersedia membantu kita untuk melakukan atau
mendapatkan sesuatu, ada sesuatu yang ia korbankan. Ini bukan tentang materi,
melainkan waktu. Mendengarkan keluh kesah, obrolan, atau curhatan orang lain
artinya kita membuang waktu yang seharusnya kita gunakan untuk hal lain. Berinteraksi
dengan orang lain berarti kita secara sadar melepaskan sesuatu yang kita
miliki, agar interaksi tersebut dapat berlangsung dua arah.
Walaupun berterima kasih, atau bersyukur, sesimpel itu,
tidak semua orang dapat atau bersedia meluangkan waktu untuk mengungkapkannya
secara lisan, apalagi dalam bentuk tindakan. Mereka yang sudah menerima bantuan
kadang ingin lebih, sehingga menganggap sepele pengorbanan waktu yang sudah
dilakukan si penolong. Mungkin bagi mereka pengorbanan itu baru ada nilainya
kalau berkaitan dengan uang.
Menurut pengamatan saya, sikap tidak tahu terima kasih
terepik dalam sejarah tetapi jarang dibicarakan orang adalah Black September.
Sebuah nama yang diberikan untuk mengenang satu peristiwa penting suatu periode
dalam sejarah Timur Tengah, tatkala terjadi pertikaian antara para pejuang
Palestina kontra pemerintah Yordania pada 1970. Konflik ini bukanlah konflik 'biasa', karena bertujuan menggulingkan Raja Hussein bin Talal sebagai pemerintah
sah Yordania saat itu.
Pengaruh komunis?
Akibat Perang Enam Hari (5 – 10 Juni 1967) antara Israel
melawan tiga negara Arab; Mesir, Suriah, dan Yordania, yang bersatu padu
membela Palestina tetapi kemudian kalah, para pejuang (fidayun) Palestina
mundur ke wilayah perbatasan Yordania (Karameh).
Berdasarkan
kesepakatan, para pejuang Palestina di bawah organisasi Palestine Liberation
Organization (PLO) pimpinan Yasser Arafat akan meluncurkan serangan atas Israel
dari Karameh (skenario serupa juga digunakan di era 2000-an dengan menempatkan
para petinggi Hamas di Qatar sejak 2012).
Serangan Israel atas kelompok ini menumbuhkan dukungan
mayoritas negara Arab pada kelompok fidayun. Mengapa? Seorang Youtuber Israel
berpandangan bahwa situasi yang dihadapi negaranya saat ini berpangkal dari
masalah agama. Lantaran Israel adalah satu-satunya negara non Muslim di Timur
Tengah, mereka harus menghadapi kenyataan digambarkan sebagai sang penjahat
berwatak keji. Namun, ada kalanya persatuan di bawah bendera suatu kelompok
melawan kelompok lain ini tidak kekal apabila terjadi benturan kepentingan
antara berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.
Intensitas serangan Israel ke wilayah Yordania terus
meningkat paska Perang Enam Hari, karena IDF (Angkatan Besenjata Israel)
bermaksud membasmi PLO yang saat itu bermarkas di Karameh. Walaupun serangan
tidak ditujukan kepada rakyat Yordania, tetapi situasi itu sudah pasti
menimbulkan kecemasan di hati seorang pemimpin negara, termasuk bagi Raja
Hussein yang merupakan keturunan Wangsa Hasyimiyah.
Kelompok sayap kiri dalam PLO diduga mempelajari ajaran-ajaran komunis anti monarki dari berbagai sumber, yang menginspirasi mereka untuk melancarkan serangan atas Kerajaan Yordania dan menggulingkan Raja Hussein (walaupun tidak menutup kemungkinan telah terjadi fusi antara gerakan kiri dan Islam seperti pernah terjadi di Indonesia, misalnya Banten 1926). Peristiwa yang terjadi tepat 1 September 1970 ini cukup jarang dibicarakan orang, bahkan ketika wilayah yang ‘itu-itu lagi’ kembali berkonflik lagi dan lagi, melintas batas waktu dan abad.
Adat istiadat anti
kemajuan?
Dengan menyingkirkan faktor emosional dan segala jenis
sentimen berlatar belakang apa pun dalam mengamati suatu peristiwa, kita mampu
membuat batas antara ‘saya’ dan ‘mereka’. Kesadaran ini kita bangun bukan demi
tujuan apa pun, selain sebagai langkah awal membangun wellness bagi diri kita sendiri, terlepas dari segala bentuk
pencapaian duniawi (prestasi, materi, jabatan, status, dan sejenisnya). Karena
sesuatu akan lebih layak disebut progress apabila tercipta keadaan yang lebih baik daripada
sebelumnya, bukan sebaliknya.
Adat istiadat seringkali dianggap anti kemajuan, nostalgia
kaum masa lalu yang tidak dapat menerima kenyataan zaman now. Adat istiadat
dipandang menghambat langkah kaum progresif yang sudah tak sabar ingin mengusir kegelapan dan mengundang cahaya. Ajaran kebijaksanaan lokal yang
berpangkal dari adat istiadat harus ditinggalkan, karena tidak membuat orang
cepat kaya. Dan seterusnya.
Generasi tua pun mengalah. Mereka mundur ke tempat-tempat sepi; pegunungan, hutan, kuburan, guna memberi jalan pada generasi baru mewujudkan tekad mereka membangun bangsa ke arah kemajuan. Ide-ide luhur dari masa lalu disimpan rapat-rapat, atau dibagikan bersama kalangan sendiri yang sama-sama ingin bernostalgia mengenang kejayaan masa silam.
Mereka menutup mulut dan menahan diri untuk mengungkapkan rahasia bahwa tanpa masa lalu, tak akan tercipta masa kini dan masa depan. Bahwa nilai-nilai yang membahana di masa leluhur bertujuan membentuk situasi guna mendukung situasi berikutnya yang belum dan mungkin akan terjadi, beribu-ribu tahun sebelum PBB mengumandangkan visi Sustainable Development Goals (SDGs). Berpangkal pada kesadaran bahwa dunia adalah hidup, dan selalu ada tunas baru yang menanti untuk tumbuh.
Akibat darah muda yang senantiasa bergolak, kaum tua memilih tidak mengungkapkan bahwa memperjuangkan keadilan bukan perkara turun ke jalan, atau menandatangani petisi demi sekelompok orang di seberang lautan yang tak pernah kita datangi.
Memperjuangkan keadilan sesungguhnya bisa diawali dengan satu langkah mudah, yaitu menyadarkan diri sendiri tentang hak generasi berikutnya untuk menikmati keberlimpahan, keindahan, kemurahan hati, dan nilai tinggi sumber daya alam, sebagaimana kita menikmati dan menghabiskannya.
(dyahswas)





