Senin, 25 September 2023

Kita atau Mereka: Ketika Agama Tidak Mempersatukan

Dalam sebuah survei tentang religiusitas terungkap bahwa Indonesia adalah negara di mana 96% penduduknya percaya kepada Tuhan, sehingga bisa disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Temuan ini ditanggapi biasa saja bagi sebagian orang, karena pada kenyataannya nilai-nilai agama hanya sebatas rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, religius bukan berarti bebas korupsi (misalnya).

Di masa pemerintahan Suharto (1968-1998), gesekan antar umat beragama tidak pernah terjadi berkat adanya peraturan tegas yang mengatur bidang sensitif ini. Kebijakan Suharto cenderung memperlakukan semua agama secara sama, bahkan menekan ‘kebebasan beribadah’ (menurut anggapan beberapa orang), guna mencegah munculnya dominasi suatu kelompok. Kebijakan yang sama juga diterapkan Lee Kuan Yew, salah satu pemimpin Asia Tenggara yang cukup disegani sampai saat ini.

Akibat kekeruhan politik di sekitarnya, apa yang diterapkan Suharto ditinggalkan jauh-jauh oleh para penerusnya, kecuali Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid, yang masa jabatan sangat singkat. Setelah beberapa pergantian kepemimpinan, ada satu pertanyaan penting yang kian nyata menghantui kehidupan bangsa paling religius di dunia. Manakah yang lebih wajib dipatuhi, peraturan agama atau peraturan negara?

Perang dan agama

Pertanyaan itu tidak akan sulit dijawab apabila suatu negara berideologi hukum agama, misalnya Iran dan Arab Saudi. Berabad silam, dorongan kehendak menegakkan hukum agama menjadi salah satu penyebab utama Perang Salib yang berlangsung selama dua abad (abad 15-abad 17) bagi kubu Islam. Sementara di kubu Katolik dan Kristen, mencari ampunan Tuhan dan laku tobat adalah motivasi utama mereka berjuang di medan pertempuran suci itu.

Membicarakan peristiwa ini mungkin mengungkit kembali luka lama yang ingin kita lupakan, tetapi dampaknya terus menghantui hingga saat ini. Sebagai pihak pemenang dalam Perang Salib, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) merampas wilayah Byzantium yang sebelumnya menjadi Pusat Kristen Ortodoks Timur. Para pemimpin Turki dan para penerusnya memang memberikan perlindungan pada umat Kristen dan Yahudi di wilayah itu di bawah aturan tersendiri.

Sebuah perang dahsyat (Great Turkish War) mengubah semuanya. Pertama, karena Utsmaniyah menderita kekalahan dalam perang melawan Liga Suci (Kekaisaran Romawi Suci, Polandia-Lithuania, Hongaria, Kekaisaran Rusia, Venesia). Kedua, keterlibatan Utsmaniyah dalam perang itu berawal dari penandatanganan kesepakatan antara seorang pemimpin Kazaki (Cossack) Kristen Ortodoks, Petro Dorosenko, dengan Kesultanan Utsmaniyah sebagai upaya mempertahankan diri dari serangan Polandia.

Bagaimana perasaan seseorang yang kalah dalam pertempuran? Kata apapun yang menjadi jawaban pertanyaan ini, itulah penyebab Kesultanan Utsmaniyah mengubah sikap terhadap kaum non-Muslim yang selama ini mereka lindungi. Kekalahan dari Liga Suci diduga kuat sebagai penyebab menguatnya nasionalisme Turki yang mendorong tumbuhnya sentimen anti non-Muslim dan anti orang asing.

Orang-orang Kristen Ortodoks Armenia menjadi korban pertama gerakan ultranasionalisme di Turki pasca perang, meski para sejarawan hingga saat ini masih memperdebatkan detail jalannya peristiwa itu dan jumlah korbannya. Selama berlangsungnya Perang Dunia II orang-orang Kristen Ortodoks Serbia menghadapi tragedi terburuk sebelum era Perang Balkan yang jarang dibahas, mungkin lantaran alasan miris yang melatarbelakanginya diam-diam disesalkan beberapa kalangan. Di abad 21, Gereja Kristen Ortodoks Ukraina (Ukrainian Orthodox Church) dibubarkan pemerintah Ukraina karena menolak fusi dengan OCU (Orthodox Church of Ukraine) dan salah satu biara mereka ditutup.

Lalu, harus bagaimana?

Religiositas itu besar maknanya dalam membentuk persepsi manusia tentang kehidupannya sendiri dan sekelilingnya, tanpa mengecilkan berbagai faktor lain yang juga berperan besar dalam hal ini. Masing-masing agama besar di dunia saat ini terbentuk dan eksis berkat proses panjang berabad-abad yang membentuk perspektif masing-masing agama itu sendiri tentang banyak hal lain di luar diri mereka.

Para pemuka dan penyebar agama membawa persepsi ini di dalam ajaran mereka dan meneruskan pesan mereka pada masyarakat di tempat lain. Maka tidak heran apabila kadang kala kita mendengar seseorang memiliki visi agamis yang tidak sesuai dengan kaidah norma-norma budaya di mana kita berada. Namun, menyerang mereka secara frontal juga tidak disarankan karena itu artinya kita menganggap serius apa yang sedang mereka lakukan.

Situasi beberapa bangsa di muka Bumi ini unik satu sama lain, tetapi keunikan ini sedang terancam di bawah wacana “pembangunan modernitas yang berkelanjutan”. Ajaran yang kita butuhkan untuk menghadapinya harus mampu mengajak kita untuk wawas diri, fokus pada suasana batin kita terlebih dahulu agar tidak mudah syok mendapati kenyataan hidup. Itulah yang sebaiknya kita lakukan sebelum memutuskan untuk “mengobati” dunia.

Selasa, 05 September 2023

5 Tips Menghadapi Kesulitan Ekonomi

Kesulitan ekonomi bukanlah sesuatu yang memalukan, bisa menimpa siapa saja dan di mana saja, mulai dari seorang ibu tunggal di pedesaan sampai pengusaha di kota besar. Tidak ada satu atau serangkaian solusi tunggal yang bisa menyelesaikan masalah ini, karena kesulitan ekonomi adalah hasil dari berbagai faktor yang saling berkelindan, tarik menarik, dan tergantung satu sama lain.

Media cetak, daring, elektronik sudah banyak membahas penyebab kemerosotan ekonomi global saat ini, dan saya tidak akan membahasnya di sini. Apabila saat ini Anda sedang mengalami kesulitan ekonomi, jangan khawatir, Anda tidak sendiri.

Inilah beberapa cara yang bisa Anda terapkan.

       Masalahmu bukanlah dirimu”

Ya, masalah Anda dan diri Anda adalah dua entitas yang berbeda. Anda mungkin seorang anak muda, ayah, ibu, atau lansia yang memiliki nama dan segala hal yang bisa diidentikkan dengan keberadaan Anda sebagai manusia.

Sedangkan masalah Anda punya nama, tetapi dia bukanlah benda hidup. Dia adalah situasi atau sekumpulan situasi yang membuat batin dan pikiran kita terasa berat. Lalu mengapa kita harus takluk pada benda mati?

          Bersih-bersih

Masihkah ingat di masa pandemi lalu saat kita tinggal di rumah saja berhari-hari sampai berbulan-bulan? Kita menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, di antaranya membersihkan rumah dan area di sekitarnya.

Sesulit apapun situasi ekonomi yang harus kita hadapi, jangan korbankan kenyamanan diri kita dan seluruh anggota keluarga. Tempat tidur, kamar mandi, dapur, ruang kerja, bahkan kamar anak-anak Anda harus dalam kondisi rapi agar tidak memperberat benak yang sedang tertekan.

          Menjaga diri sendiri

Sering kita mendengar kisah orang-orang yang tidak mau makan demi menghemat makanan di rumah. Ini kurang tepat karena sama artinya dengan Anda menyakiti diri sendiri. Tubuh perlu makan untuk mendapat energi agar bisa beraktivitas dan berpikir jernih dari waktu ke waktu. Sarapan dan makan siang itu penting, makan malam bisa Anda lewatkan bila ingin berhemat sekaligus mengurangi berat badan.

Menjaga kebersihan diri juga penting. Mandi, gosok gigi, mencuci rambut, bercukur, dll. itu krusial sebagai bentuk penghormatan kita pada tubuh kita yang bekerja keras dan memutar otak tanpa henti mencari solusi mengatasi masalah ekonomi.

          Olahraga

Orang cenderung malas berolah raga karena dipandang tidak mendatangkan uang untuk membayar tagihan atau membeli makanan. Justru kepenatan pikiran dan perasaan kita harus disalurkan dalam bentuk aktivitas fisik, karena energi negatif yang menjadi penyebab stres dan depresi bisa ditipiskan dengan cara berolah raga secara rutin.

Anda tidak harus melakukan olahraga kelas berat jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jalan-jalan pagi di sekitar tempat tinggal pun sudah cukup dan akan bermanfaat bila dilakukan teratur. Ingatlah pepatah mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

         Meditasi

Meditasi bisa diterapkan semua orang apapun agama dan kepercayaannya, apabila mereka bisa menerimanya sebagai penerapan universal oleh umat manusia secara umum. Meditasi adalah sebuah aktivitas di mana kita mengistirahatkan pikiran kita dari berpikir, mendiamkan suara-suara negatif di dalam benak yang cenderung membuat kita justru merasa lebih tertekan di tengah kerumitan apapun.

Seorang ahli neurologi mengakui manfaat meditasi dalam membantu manusia membugarkan kembali otak yang performanya turun dari tahun ke tahun akibat berpikir tanpa henti. Ibarat gadget yang perlu dimatikan setelah lama digunakan, otak manusia akan segar setelah diistirahatkan untuk beberapa saat melalui meditasi.


Skala keparahan, jenis, dan cakupan kesulitan ekonomi tiap orang berbeda karena manusia tidak sama satu sama lain Tidak ada satu obat yang ampuh menyembuhkan semua halangan ini seketika.

Penjelasan di atas adalah sedikit cara yang bisa Anda terapkan untuk memberikan jarak/ ruang antara Anda sebagai seseorang dan masalah atau situasi Anda saat ini.

Kesulitan ekonomi memang tidak akan hilang setelah Anda bermeditasi dan berolah raga. Namun, jiwa dan raga akan terasa bugar dan cerah sehingga Anda akan bisa melihat jalan keluar yang sudah Anda cari-cari selama ini.

Minggu, 30 Juli 2023

Ilusi Kesempurnaan

Sempurna itu indah, lebih unggul dari lainnya. Merasa memiliki kesempurnaan adalah apa yang dibutuhkan mayoritas orang untuk bangga dan puas dengan hidup mereka agar terhindar jadi bahan olokan di muka umum. Entah itu kesempurnaan yang datang dari hasil kerja keras mereka, atau didapatkan sebagai warisan.

Mereka yang berhasil mengeklaim kesempurnaan setelah melalui jatuh bangun dalam usaha mereka akan cenderung menjaga “prestasi” ini baik-baik agar tidak lepas begitu saja, karena mempertahankan sesuatu lebih sulit daripada meraihnya.

Ketika Perang Ukraina meletus 24 Februari 2022, negara-negara yang enggan memilih kubu menyatakan diri sebagai pihak netral. Beberapa dari mereka menunjukkan itikad baik sebagai mediator, entah karena sangat terganggu konflik Eropa Timur itu atau memang berniat jadi penengah; sikap yang menurut beberapa kultur dan ajaran agama sebaiknya dikedepankan ketika kita terjebak di tengah kemelut perseteruan. Salah satu di antara kelompok netral ini adalah Turki.

Selain mengajukan diri sebagai mediator antara pihak Rusia dan Ukraina, pada Juni 2022 Turki bersedia mefasilitasi ekspor biji-bijian Ukraina dan Rusia ke negara-negara yang membutuhkan.

Turki juga menampung lima orang tahanan perang dari pihak Ukraina dari Batalyon Azov setelah kekalahan dari pasukan Rusia dalam pertempuran panjang di pabrik baja Azovstal 2022 lalu melalui perjanjian resmi antar pemerintah Turki-Rusia.

Entah mengapa Turki sekonyong-konyong mengubah sikap. Presiden Recep Erdogan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara pribadi untuk berkunjung ke negaranya dan membawa pulang lima tahanan perang yang seharusnya tidak menghirup udara bebas sampai operasi militer Rusia di Ukraina berakhir. Pihak Rusia, tentu saja, menyesalkan pelanggaran kesepakatan yang dilakukan Turki di awal musim panas 2023.

“Iman”

Iman (faith) adalah kesediaan untuk percaya dengan penuh keyakinan tanpa keraguan dan penolakan terhadap sesuatu (atau seseorang) yang pada gilirannya memengaruhi falsafah, pandangan hidup, tingkah laku, sikap, dan perbuatan sehari-hari. Iman bukan hanya menyangkut-paut dunia rohani atau sebagai pernyataan keadaan religiusitas seseorang, meskipun istilah ini nyaris jarang meninggalkan dua wilayah itu.

Menurut riwayatnya, faith (iman) dikenal sejak abad 13 sebagai sebuah kata yang bermakna “keyakinan pada kepercayaan atau janji; kesetiaan pada seseorang.” Kata ini merupakan bentukan dari kata Prancis Kuno feid yang berarti “kepercayaan, percaya, keyakinan, ikrar” dari sebuah kata Latin fides dengan makna “percaya, iman, keyakinan, kepercayaan, kredo, anutan.”

Ada dinamika dalam makna orisinil faith selama abad 14 ketika kata ini digunakan untuk mendefinisikan persetujuan akal pikiran pada kebenaran pernyataan yang buktinya tidak lengkap, khususnya dalam hal keyakinan pada hal-hal religius. Awalnya, faith digunakan untuk merujuk referensi yang berkaitan dengan agama apapun, lebih jauh lagi, referensi tentang persuasi agama. Makna faith kembali meluas di akhir abad yang sama sebagai “keyakinan pada seseorang atau sesuatu yang merujuk pada keadaan yang sebenarnya dan dapat dipercaya.”

Karena mengejar kesempurnaan tidak selamanya baik, orang tua dan para pendahulu menasehati kita untuk lebih fokus pada menjaga kualitas kepribadian atau karakter sebagai manusia melalui laku sederhana yang tidak sundul langit. Di antaranya, dengan menepati janji.

Manusia membuat janji hampir setiap hari pada siapapun; keluarga, kolega, pasangan, atasan, penagih utang … Himpitan kesulitan hidup yang makin berat akibat berbagai hal mendorong manusia untuk buru-buru melepaskan diri dari tekanan dengan membuat janji tanpa memperhitungkan kemampuan diri untuk memenuhi janji tersebut.

Berlandaskan penjabaran asal dan makna kata faith secara luas di luar konteks agama di atas, tidak salah bila ditafsirkan bahwa seseorang murtad (apostate) saat ia melanggar janji yang telah diikrarkannya sendiri, di mana kemurtadan adalah apokalips; sebuah tonggak penanda akhir dan awal suatu fase akibat tersingkapnya sebuah kasunyatan yang menimbulkan penolakan kelompok atau kalangan tertentu. Ketika dunia ibarat runtuh bagi mereka yang kita khianati, di saat yang sama dunia mekar bersemi bagi mereka yang mendapat profit sebagai hasil pengingkaran janji tersebut.

“Tertuduh” yang setia

Memercayai sesuatu adalah bagian dari hak dasar manusia yang dilindungi hukum internasional, termasuk kebebasan untuk memutuskan berganti keyakinan atau mengalihkan kepercayaan dari satu entitas ke entitas lainnya. Peradaban manusia akan tetap ada selama Bumi masih ada, dan senantiasa mengubah diri demi bertahan untuk tetap ada.

Sama halnya keyakinan manusia bisa luntur dan pergi ke tempat lain (hijrah) ketika ia merasa dirinya tak lagi mampu bertahan untuk tetap ada akibat memegang keyakinan lamanya. Perpindahan ini diputuskan di bawah dorongan keyakinan yang timbul setelah menerima persuasi bahwa tempat baru lebih baik.

Pada cuplikan salah satu skena Perang Ukraina di atas, Turki yakin sudah bertindak benar dengan melepaskan lima tahanan perang Ukraina supaya mereka bisa kembali membela negaranya. Demi bertindak di jalan kebenaran, Turki mengkianati kepercayaan sahabatnya, Rusia, dan mengorbankan hubungan baik yang sudah berjalan puluhan tahun. Meskipun ajaran berbagai agama besar menganjurkannya, menegakkan kebenaran tidak selalu berdampak manis bagi semua pihak -- selalu akan ada yang merasa dikecewakan.

Menyadari bahwa dirinya bukan “orang baik-baik”, seseorang akan cenderung mengalihkan rasa sakit itu ke hal-hal lain yang diharapkan dapat meredakannya. Mungkin ia akan rajin beribadah atau terlibat aktivitas amal untuk membuang uang jutaan dolar demi menebus “dosa-dosanya”. Apakah semua itu akan membuat Tuhan tergerak untuk mengampuni kita? Kita tidak pernah tahu, kecuali kita meninggalkan dunia ini dan bisa kembali ke rumah untuk bercerita tentang pengalaman kita.

Oleh karena itu, mengejar kesempurnaan adalah ikhtiar yang sia-sia karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dibutuhkan kerja keras secara fisik maupun mental untuk bersedia menerima tanpa penolakan tentang kenyataan itu, sembari tetap melakukan yang terbaik sesuai bidang kita masing-masing.   

Selasa, 16 Mei 2023

Сансара (Samsara) by Basta and Friends (video)


Beberapa dari kita berusaha membuat perubahan, tetapi apa yang diinginkan tidak tercapai juga. Dibutuhkan kerelaan dan keikhlasan menerima semua itu, bagaikan peninggalan bersejarah di berbagai negara yang tetap sama di tengah perubahan. 

Gagasan ini kami visualisasikan melalui video tidak resmi untuk tembang Сансара (Samsara) dari Basta, seorang biduan dari Rusia. Video dipublikasikan di channel YouTube anak lanangku.

Senin, 15 Mei 2023

Siti Jenar Cypher Drive - Homicide (video)


Video dari kanal anak lanangku tentang sejarah dan kampanye anti narkoba. Homicide adalah rapper dari Bandung, Indonesia. Lalu, apa itu Siti Jenar? Siapa, tepatnya.

 

Senin, 24 April 2023

Dunia Tidak Terdiri Dari Hitam dan Putih

Dunia Barat mencela perilaku orang-orang Dunia Ketiga yang punya istri lebih dari satu; mereka memandang poligami sebagai perilaku kaum maniak seks. Bagi umat Islam, pendapat semacam ini sama dengan hinaan karena Nabi Muhammad SAW beristri 9 orang. Mereka memandang rendah pilihan hidup Nabi Muhammad lantaran tidak tahu bahwa beliau hanya mencintai 1 perempuan (istri pertama beliau, Khadijah binti Khuwailid) saja selama 25 tahun usia perkawinan mereka. Beliau tidak berpoligami ketika masih berusia muda dan fit secara fisik, melainkan ketika beliau sudah berusia 50 tahun atau 5 tahun setelah wafatnya Khadijah yang lebih tua 15 tahun dari Nabi Muhammad.

Akibat sebuah perang besar, yaitu Perang Uhud, banyak pria Arab tewas dalam pertempuran. Istri-istri mereka menjadi janda, dan anak-anak mereka tidak berayah. Di zaman kuno tidak ada lowongan kerja untuk perempuan, maka para janda tidak bisa bekerja untuk menafkahi anak-anak mereka dan hidup dalam kemiskinan.

Nabi Muhammad menikahi salah satu janda akibat Perang Uhud, Zainab binti Khuzaimah, untuk meringankan penderitaannya. Pernikahan itu awalnya dimaksudkan sebagai contoh agar para pria di sekeliling Nabi Muhammad di masa itu juga melakukan hal yang sama demi menolong janda-janda lainnya.

Para cendekiawan Muslim menuturkan bahwa Nabi Muhammad berpoligami bukan demi tujuan tidak berselingkuh dengan perempuan lain (salah satu argumen justfikasi poligami yang sering kita dengar), melainkan demi menjaga martabat seorang janda dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah kepingan peradaban masa lalu menganggap janda sebagai barang bekas dipakai orang lain, sehingga tidak layak dinikahi apalagi diberi nafkah.

Lain dulu lain sekarang. Latar belakang poligami berkembang seiring waktu, demikian pula suara-suara yang menentangnya. Di tengah tingginya angka perceraian saat ini, kesetiaan bagaikan emas. Mereka yang yakin monogami lebih baik, tentu akan sakit kepala bila menyaksikan kehidupan beberapa perempuan baik-baik saja meski suami mereka menikah lagi.

 

Vladimir Putin

Presiden Rusia Vladimir Putin berhasil membawa negerinya keluar dari situasi carut marut untuk kembali menjadi kekuatan dunia yang diperhitungkan, sehingga dirinya dinobatkan sebagai Person of The Year 2007 oleh majalah Time. Namun, Putin sosok berbahaya dan bukanlah pribadi baik-baik, tulis editor pelaksana Time, Richard Stengel.

Menurut Stengel, Putin perlu diwaspadai karena ia memprioritaskan stabilitas di atas kebebasan sipil; menurutnya inilah yang dibutuhkan Rusia meninggalkan bayang-bayang Uni Soviet dan gang-gang buntu di mana hantu itu bersemayam. Dan ia berhasil; ekonomi Rusia maju pesat berkat minyak, gas alam, gandum, dan berbagai komoditas. Setelah membiarkan pintu terbuka lebar-lebar bagi investasi asing dari Eropa dan Amerika dalam waktu sekitar 20 tahun sejak ia berkuasa, Putin memutuskan untuk putar balik. Kita menyaksikannya dalam bentuk operasi militer khusus Rusia di Ukraina 24 Februari 2022 berikut ribuan sanksi yang menyertainya.

Seperti pemimpin dunia manapun, Putin sudah punya banyak haters jauh sebelum rudal pertama Rusia mendarat di Ukraina. Bila Anda belum tahu, para haters ini biasanya menentang pandangan konservatif Putin terkait identitas nasional Rusia dan nilai-nilai keluarga. Pernikahan sesama jenis dan transgenderisme adalah perilaku menyimpang yang wajib dijauhi, bahkan dipenjarakan, menurut undang-undang Rusia. Situasinya relatif tidak berbeda dengan pandangan beberapa negara Islam.

Alasan Putin, demi melindungi nilai-nilai tradisional dan identitas nasional Rusia, sebenarnya sangat wajar dan dapat dipahami hampir siapa pun. Meski tujuannya adalah terciptanya negara kesejahteraan (welfare state), tidak sedikit anak muda Rusia yang sangat anti Putin, termasuk band punk cewek Pussy Riot. Ulah vandal band ini 2012 silam berujung hukuman dua tahun penjara bagi dua anggotanya, tetapi berkat amnesti pada Desember 2013 mereka bebas sebelum waktunya.

Kekokohan Vladimir Putin dalam sudut pandang berbagai media Barat mengisnpirasi terciptanya ratusan meme dan karikatur sindiran tentang dirinya. Inilah manifestasi kebebasan berekspresi yang mendorong kita untuk mengabaikan fakta bahwa Putin juga manusia. Lahir dari keluarga sederhana yang harmonis, Vladimir kecil juga nakal seperti kita semua. Ia beruntung karena salah satu gurunya di Sekolah Dasar menafsirkan kenakalannya sebagai ciri-ciri seorang pemimpin hebat di masa depan.

Sebagaimana lelaki Rusia pada umumnya, Putin menaruh hormat pada perempuan yang anggun, mampu menjaga martabat keluarga, suka berolah raga, setia pada pasangan, sopan, cerdas, sayang anak, dan mahir dalam urusan rumah tangga. Perempuan yang terlalu dominan dalam kehidupan berpasangan, atau di lingkungan profesi, dipandang menakutkan bagi para lelaki Rusia. Dengan adanya “nilai-nilai tradisional” ini, kita bisa memaklumi pandangan Presiden Putin tentang gerakan feminisme di Rusia . Sialnya, di tengah konflik geopolitik Eropa Timur, gerakan itu dimanfaatkan musuh-musuh Rusia dengan tujuan menyerang dari dalam.

 

Abu-Abu

Manusia cenderung tidak merasa nyaman menghadapi sesuatu yang samar-samar, di saat yang sama, konsep Ketuhanan juga samar-samar karena hanya berlandaskan keyakinan manusia itu sendiri. Maka ada segolongan orang yang menolak konsep ini dan menyatakan diri sebagai kaum ateis.

Sebuah bangsa religius mungkin akan menganggap mereka sebagai anak-anak yang tersesat, meski ada sebagian kecil kalangan religius yang menghargai pilihan hidup kaum ateis. Sri Sri Ravi Shankar, pemimpin spiritual dan praktisi yoga kawakan dari India, membeberkan tentang baik atau buruk seseorang tidak ditentukan oleh apa yang mereka yakini (parafrasa dari versi aslinya).

Kemajuan teknologi informasi Amerika dibayar dengan semakin sempitnya ruang pribadi masyarakat, algoritma menjadi tongkat sihir sekelompok orang untuk mengendalikan kebiasaan sekelompok orang lainnya tanpa berinteraksi langsung dengan mereka. Mendobrak masuk dalam privasi seseorang bisa menimbulkan perasaan terganggu, kehilangan kebebasan, malu, kurang nyaman; atas nama ekonomi mereka mengabaikan hak manusia untuk memiliki kehidupan pribadi yang tidak harus diketahui orang lain. Ketika demokrasi memberikan kebebasan ekonomi seluas-luasnya kepada kita untuk meraup keuntungan, bukankah seharusnya para karyawan sektor teknologi Amerika terhindar dari pemecatan karena perusahaan mereka mengantongi banyak uang berkat kebebasan itu?

Di sisi lain, berbagai platform teknologi informasi menyebarkan kisah tentang mereka yang mendambakan kebenaran selalu menang melawan kejahatan, bahwa golongan hitam akan selamanya berperilaku buruk dan golongan putih lebih suci dari mereka. Bahwa di hari akhir nanti hanya orang baik dan beriman yang bahagia, sementara orang jahat dan tidak beriman akan sengsara. Bahwa mereka yang terlibat perang adalah para zombie haus darah, sementara yang tidak adalah para pahlawan. Lalu ada di pihak mana Lockheed Martin (produsen peralatan tempur nomor satu dunia asal Amerika Serikat) dalam hal ini, misalnya?

Sebagai bentuk dukungan untuk Ukraina, Amerika Serikat dan para sekutunya yang didominasi negara-negara Eropa sepakat mengucilkan Rusia dari akses finansial dan perbankan, perdagangan, sektor energi, pertanian, teknologi, sampai olahraga internasional, film dan seni sejak 2022 lalu. Namun, mengapa semua itu tidak mengakhiri perang Ukraina secepat yang diharapkan, mengapa kebangkrutan dan chaos massal yang seharusnya hanya terjadi di Rusia malah meluas ke banyak tempat di seluruh dunia?

Bukankah seharusnya tatanan dunia yang lebih adil dan sejahtera tercipta ketika si jahat sudah dihukum seberat-beratnya?  

Kamis, 29 Desember 2022

Bercerai dan Bersatu di Bawah Nasionalisme

Bahasa Inggris punya banyak kekurangan, meski berstatus bahasa persatuan dunia. Kata ‘we’ memperlihatkan impresi kemanunggalan antara banyak orang, yang menghadirkan citra kekokohan dan meyakinkan daripada kata ‘I’. ‘We’ seringkali diucapkan banyak tokoh pemimpin untuk mengarahkan kepercayaan khalayak kepada apa yang mereka sampaikan, walaupun ‘we’ dalam konteks tertentu bersifat eksklusif, tidak selalu mengarah kepada atau melibatkan orang yang diajak bicara.

Dalam Bahasa Inggris, we (subyek) dan us (obyek) adalah kata ganti orang pertama jamak yang sangat membantu tujuan penggalangan massa karena kelenturan eksklusivitas dan inklusivitasnya. Ketika seorang presiden Amerika Serikat (misalnya) berbicara di depan sidang PBB tentang perlunya warga dunia mengutuk operasi militer Rusia di Ukraina, ia bisa berkata, “’Wecondemn Russia invasion over Ukraine,” meskipun ‘we’ tidak merepresentasikan semua negara anggota PBB secara kontekstual.

Persentase orang yang mencari nafkah di bidang bahasa hanya sekian dari total penduduk dunia, mungkin akan lebih sedikit lagi jumlahnya bila AI (artificial intelligence) kian fasih berbicara dalam banyak bahasa. Apa pun perkembangan yang akan terjadi di masa depan, bahasa tetap adalah jembatan menjalin hubungan dengan mereka yang ada di luar diri kita. Bahasa memberi bentuk kepada semua hal yang keluar dari dan masuk ke dalam diri kita, yang pada gilirannya menjadi alat untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Ketika Subcomandante Marcos berkata, “kata adalah senjata (our word is our weapon),” maka bahasa adalah militer karena sama-sama punya aturan baku yang tidak bisa dilanggar.

Sebuah akar diskriminasi bahasa

Beberapa negara dengan mayoritas Muslim sedikit rikuh menanggapi gelombang aksi massa Iran yang memanas sejak akhir September 2022, mungkin mereka mengira aksi tersebut wujud protes terhadap syariah Islam. Akar masalah kerusuhan sipil Iran sebenarnya jauh dari masalah agama, walaupun dipicu kematian Mahsa Amini (22) saat ditahan polisi moralitas Iran karena tidak berhijab sesuai peraturan. Ketimpangan dan diskriminasi budaya serta bahasa atas kelompok etnis tertentu di wilayah Asia Barat, inilah api dalam sekam yang membakar atmosfer Persia dewasa ini.

Dinasti Hasanwayhid, Annazid, dan Ayyubid adalah penguasa besar dari suku Kurdi di masanya, tetapi di era modern suku ini mengalami persekusi berkelanjutan. Nasib buruk suku Kurdi bermula 1920 dengan runtuhnya Kekaisaran Ottoman, Türkiye, sebagai hasil akhir Perang Dunia I. Mustafa Kemal Attaturk, presiden Türkiye saat itu, menolak klausul Traktat Sevres tentang pembentukan wilayah otonom bagi etnis Kurdi yang mendiami wilayah Ottoman pra Perang Dunia I.

Selanjutnya, diterbitkanlah Traktat Lausanne (1923) yang mengabaikan penyebutan apa pun tentang rumah untuk suku Kurdi. Akibatnya, sejumlah besar orang Kurdi tersebar di empat negara (Iran, Irak, Turki, Suriah) sembari terus memperjuangkan wilayah otonom untuk mereka. Tuntutan mereka bukan hanya diekspresikan dalam unjuk rasa. Aksi terorisme kerap mewarnai perjuangan mereka terutama setelah tokoh terkenal suku Kurdi, Abdullah Öcalan, mendirikan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang berhalauan Marxis-Leninis. PKK berikut para anggota dan simpatisannya ditetapkan sebagai kelompok teroris di berbagai negara, termasuk Uni Eropa dan Türkiye.

Bahasa Persia sudah menjadi bahasa nasional Iran sejak beberapa dekade silam menggantikan bahasa lokal kelompok etnis minoritas Kurdi, Arab Khuzestan, Türkiye Azerbaijan, Turkmenistan, dan Balochistan. Di bawah Republik Islam Iran, bahasa suku minoritas dicap kuno, ketinggalan zaman, bahkan ada larangan mempelajari maupun mengajarkan bahasa lokal/ daerah suku minoritas di sekolah. Mereka yang menentang dihukum berat dan dijebloskan ke penjara. Anda menganggap fenomena ini ekses permusuhan abadi Islam Syiah versus Islam Sunni, mengingat penguasa dan mayoritas warga Iran beraliran Syiah sementara kaum minoritasnya beraliran Sunni? Waspadalah! Jangan biarkan sentimen agama menutupi cakrawala Anda.

Terorisme bukanlah makanan cepat saji; selalu ada latar belakang panjang di balik keputusan seorang teroris memilih jalan kelamnya. Karena semua manusia di Bumi butuh pengakuan atas keberadaaan mereka, maka pelarangan bahasa berarti pelarangan budaya. Anda bisa dianggap punya hak lebih kecil untuk eksis di dunia ini ketika seseorang mencela budaya Anda. Mengingat budaya adalah produk daya cipta, rasa, dan karsa manusia, maka diskriminasi budaya adalah genosida tak berdarah secara perlahan atas intelektualitas mereka.

Dampak takut sakit

Analis JPMorgan meramalkan deglobalisasi adalah tren 2023, di mana deglobalisasi menurutnya adalah berhentinya Barat sebagai kiblat dunia dalam hal perkembangan ekonomi. JPMorgan bukanlah paranormal yang sekonyong-konyong membuat ramalan berdasarkan hasil penerawangan ke masa depan dengan bantuan kekuatan supranatural. Prediksi JPMorgan yang semata-mata berdasarkan logika dan berbagai peristiwa sepanjang 2022, seolah menyiratkan pesimisme entitas bisnis kelas paus tentang perkembangan terkini dominasi kelompok negara maju (Barat) terhadap kelompok negara berkembang (Timur).

Kuncitara global COVID-19 sepanjang 2020 menyadarkan banyak kalangan bahwa isolasi total tidak menjamin manusia terhindar dari wabah penyakit, karena virus dan bakteri selalu bisa menemukan celah-celah kecil untuk menyusup dan menggerogoti ketahanan manusia. Manusia yang sudah sakit, baik sakit maupun psikologis, sejak sebelum virus masuk adalah sasaran empuk bagi COVID-19. Ada makna tersirat bahwa inilah fenomena ketika penyakit dan kesedihan menjadi ganas pasca masuknya zat dari luar yang bertujuan mengakhiri hidup seseorang. Menurut beberapa kisah pandemi, bukan virus melainkan kuncitara memperparah penyakit yang diderita para pasien dan keluarga mereka.

Ramalan analis JPMorgan di atas seakan-akan memberikan sinyal bahwa kuncitara global bisa saja diterapkan kembali di waktu mendatang untuk tujuan yang berbeda. Saat ini, kuncitara sedang diberlakukan atas Rusia dalam bentuk 6800 sanksi dan pengucilan dunia internasional sebagai “hukuman” atas operasi militernya di Ukraina. Berhasilkah kuncitara termasif atas suatu bangsa ini memelihara keamanan bangsa-bangsa lain? Siapa yang berperan sebagai penyakit berbahaya dalam drama ini, Rusia atau negara-negara yang menghukumnya?

Kisah suku Kurdi pasca-Perang Dunia I dan etnis Rusia di Ukraina hampir tak jauh beda, mereka adalah apa yang tersisa dari kejayaan suatu masa lalu. Ketika kejayaan itu berakhir, orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka menyerah pada ambisi pribadi, golongan, bahkan tekanan pihak luar. Kita tidak bisa bertanya kepada Mustafa Kemal Attaturk, mengapa ia menolak menyetujui pendirian wilayah khusus untuk suku Kurdi. Namun, kita masih bisa bertanya kepada pers Barat mengapa diskriminasi atas bahasa dan budaya Rusia di Ukraina tidak dipaparkan sama detailnya. Sukar dipercaya jika dalih pengabaian ini adalah rasa takut pada virus komunisme, mengingat negara-negara pro demokrasi seperti Swedia, Jerman, dan Prancis pernah dan masih menampung beberapa anggota PKK yang “tercemar” Leninisme di suatu fase dalam kehidupan mereka.

Nasionalisme itu cinta?

Nasionalisme adalah nama lain dari rasa cinta untuk tanah air, yang akhir-akhir ini sering diungkapkan dalam bentuk seruan untuk memprioritaskan produk dalam negeri, kepentingan negara, atau pembangunan adil dan merata di seluruh negeri. Beberapa negara dengan penduduk homogen sejak awal berdirinya, mungkin tidak mengalami hambatan berarti untuk menyatukan warga negaranya. Mereka berbicara dan berperilaku menurut sebuah standar, sehingga penguasa tahu pasti apa yang mereka butuhkan dan (seharusnya) mampu mengemudikan perahu negeri menuju tujuan yang sama sebagai satu bangsa.

Banyak dari kita rindu masa lalu, karena masa lalu lebih simpel daripada masa kini. Tidak sedikit pemimpin nasionalis yang sepakat dengan ini. Globalisasi dan keterbukaan membuat orang lebih mudah berpindah tempat, baik secara fisik maupun virtual, lintas wilayah hingga lintas negara. Para alien berwujud manusia masuk dalam kehidupan kita membawa adat, budaya, dan nilai-nilai mereka, membuat kita tertegun karena keunikan mereka yang tak terlupakan. Virus-virus alien menghipnotis, mengacaukan mindset dan tindak-tanduk masyarakat homogen, dan… pusing kepala penguasa dibuatnya!

Sementara itu, masyarakat heterogen menghadapi kendala yang jauh berbeda. Iran memberlakukan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi sebagai bagian dari standar budaya dengan cenderung mengabaikan bahasa minoritas. Tak adakah solusi lain? Hanya para penguasa di sana tahu jawabannya. Pemberlakuan standar secara paksa tidak hanya terjadi di Iran, sebenarnya. Seorang saksi hidup (yang kini sudah meninggal) terlibat dalam gerakan penyeragaman agama di suatu kepulauan terpencil Indonesia bertahun-tahun silam, saat masyarakat di pulau itu diwajibkan meninggalkan agama lokal dan memilih antara agama Islam, Kristen Protestan, atau Katolik. Pemberlakuan standar semacam ini pernah jadi kebijakan untuk mempersatukan masyarakat heterogen dengan cara meniadakan keragaman.

Lebih mudah mempersatukan beragam suku, ras, golongan, dan agama di masa perang, karena mereka sama-sama bertujuan menaklukkan musuh dan mau tidak mau harus bekerja sama. Karena hidup nikmat juga suatu cobaan, maka masalah datang kepada mereka ketika tujuan sudah tercapai. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, sehingga ia akan selalu berusaha mencapai kenyamanan hidup yang maksimal. Namun, standar hidup ideal tidak pernah sama bagi masing-masing kita. Persatuan kehilangan kekuatannya, melemah karena kepentingan yang saling bertabrakan sehingga diputuskan keragaman perlu dimusnahkan. Jadi, apakah nasionalisme itu cinta? 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...