Sabtu, 09 Oktober 2021
Sabtu, 25 September 2021
Tidak Ada Lagi Kebebasan untuk (Perusahaan) Teknologi
Dunia mengenal Jack Ma sebagai pebisnis China dengan nilai kekayaan sebesar 41,2 biliun dolar, salah satu di antara sedikit wirausahawan Asia yang pernah menempati 10 besar orang terkaya sejagat. Pria kelahiran 10 September 1964 memulai karirnya sebagai guru Bahasa Inggris dan penerjemah, yang pernah dua kali gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi karena lemah di mata pelajaran Matematika. Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat di tahun 1995, Ma menyadari bahwa ketiadaan situs web China adalah sebuah peluang besar yang menjadi inspirasi bagi pendirian beberapa situs web. Di antaranya adalah Alibaba, situs lokapasar yang di awal pendiriannya adalah perantara berbagai bisnis kecil di China menjadi raksasa e-dagang sekaligus kesuksesan besar bagi seorang Jack Ma.
Tak sedikit sumber yang menuding keberhasilan Ma adalah
berkat kedekatannya dengan Presiden Xi Jinping. Memang, antara 1998-1999 Ma
pernah mengepalai sebuah perusahaan internet yang didukung oleh Kementerian
Kerja Sama Perdagangan Luar Negeri dan Ekonomi China. Dia meninggalkan posisi
itu karena tidak ingin melewatkan berjuta peluang yang ditawarkan Internet. Ma
mengungkapkan perbedaan pandangan terhadap pemerintah China dalam sebuah pidato
di Shanghai 24 Oktober 2020. Saat itu dia mengatakan bank-bank China seperti
pegadaian, bermental seperti rentenir jaman dahulu yang mengandalkan sistem “pledge
and collateral (gadai dan agunan, artinya bila tidak mampu membayar pinjaman
maka barang jaminan akan disita)”. Ujaran ini dianggap subversif dan mahal
harganya. Sebulan kemudian, pemerintah China menggagalkan penawaran saham
perdana (IPO) Alibaba senilai 37 biliun dolar yang seharusnya memecahkan rekor
sebagai IPO termahal sepanjang masa.
Sapi perah bernama
perusahaan teknologi
Tekanan pemerintah bukan hanya dialami oleh Jack Ma dan
Alibaba. Bersama ledakan pandemi COVID-19 pada 2020, 90% aktivitas masyarakat
sedunia dilakukan di Internet yang mencakup pekerjaan, hiburan, belanja,
pendidikan, sampai interaksi sosial. Di tahun yang sama, Big Tech (Google,
Amazon, Apple, & Facebook) menghadapi pembersihan massif dari segala
penjuru dalam bentuk gugatan, pengetatan pengawasan, hingga hukuman denda atas
berbagai tuduhan mulai dari persaingan tidak sehat, kebocoran dan
penyalahgunaan data pengguna, penyebaran misinformasi, hingga praktik penarikan
komisi terselubung. Sebuah artikel
menyebut penyebab tekanan beruntun terhadap Big Tech, adalah kekuatan ajaib
yang mereka miliki dalam mengendalikan pikiran dan perilaku para pengguna
melalui algoritma yang tidak dipahami orang awam, termasuk sebagian besar dari
kalangan pembuat regulasi.
Di sisi lain, IMF
meyakini bahwa perusahaan teknologi adalah sumber pemasukan nasional yang
menguntungkan bagi pemerintah Uni Eropa (dan dunia, tentunya). Akibat kuncitara
besar-besaran, perdagangan dunia pun menderita demam yang entah kapan akan
pulih seperti sediakala. Pemerintah berbagai negara menyadari bahwa
penyelesaian masalah ekonomi tidak cukup dengan mengandalkan Quantitative Easing, karena bisa
berdampak fatal bagi nilai mata uang nasional dalam jangka panjang (Mengapa? Baca
artikel ini).
Kemandekan ini memaksa pemerintah berbagai negara mencari tambahan pemasukan
dengan menaikkan pajak bisnis, terutama dari bintang yang paling bersinar di
era pandemi, siapa lagi kalau bukan Big Tech dkk. Maka muncul anggapan
perusahaan-perusahaan digital akan menjadi masa depan yang cerah bagi sebuah
negara, karena besarnya nilai pajak yang akan mereka setorkan ke kas
negara. Dengan kata lain, semakin banyak
perusahaan digital yang beroperasi atau didirikan di suatu negara maka semakin
makmurlah negara itu. Apalagi bila pajak yang diberlakukan bagi perusahaan
digital sangat tinggi seperti saat ini, seharusnya suatu negara tidak akan lagi
terbelit utang di mana-mana. Perusahaan digital tidak mengambil apa pun dari
tanah, laut, dan udara di mana dia beroperasi, tidak menimbulkan polusi udara,
dan suara. Dampak lingkungan paling kentara berasal dari sampah komputer zaman
nenek moyang, tetapi dapat didaur ulang bila kita mencurahkan perhatian, waktu
dan tenaga untuk itu.
Melalui perdebatan panjang dan melelahkan, beberapa
perusahaan digital raksasa akhirnya bersedia
membayar pajak kepada negara-negara di mana mereka beroperasi meski besaran
pajak lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Big Tech berusaha menepis
tudingan bahwa mereka telah dengan sengaja memindahkan laba perusahaan ke
wilayah bebas pajak atau wilayah dengan pengenaan pajak yang lebih rendah,
dengan memberikan dukungan mereka atas mekanisme pajak global. Juru bicara
mereka juga mengajukan usulan
agar besaran pajak dapat diperkecil, karena semakin besar pajak semakin besar
pula tarif yang harus dibayar para pengguna layanan digital. Bagi mereka yang
memilih layanan digital gratisan, kenaikan pajak digital bisa berarti semakin
banyak iklan yang menghiasi layar gawai Anda. Tidak nyaman, jelas. Namun para
penyedia layanan digital membutuhkan pemasukan lebih besar agar tetap bisa
menghibur dan melayani Anda sekaligus membayar kewajiban pajak mereka. Kenaikan
pajak juga memaksa manajemen perusahaan memotong anggaran bagi sektor R&D
(research & development/ riset & pengembangan) yang bertanggung jawab
mencari dan melakukan inovasi agar suatu layanan digital dapat bertahan di
tengah persaingan ketat. Walakin, dukungan pemerintah berbagai negara terhadap
inovasi teknologi adalah suatu privilese bagi pemerintah itu sendiri. Bukan
hanya karena teknologi menghasilkan gelimang uang tetapi juga satu hal lain
yang dibahas di bawah ini.
Government hacking
Meski masih jadi platform jejaring sosial dengan pengguna
terbanyak di dunia, Facebook tidak lagi populer di kalangan anak muda. Saat ini
sebagian besar penggunanya adalah orang dewasa berusia 30 tahun ke atas, yang
di tahun 2009-2012 pernah jadi anak-anak muda pecicilan. Di tahun-tahun
kejayaan Facebook, siapa pun boleh memublikasikan apa pun di dinding Facebook
masing-masing (atau dinding orang lain). Mulai aktivitas remeh-temeh sehari-hari,
gosip, ajang temu kangen online, kritik sosial, sumpah serapah, sampai curhat
masalah rumah tangga semua diumbar sebebas-bebasnya di ‘dinding ratapan’ karya
Mark Zuckerberg dkk. Satu hal yang kita lupa bahwa menurut sejarahnya, internet
diciptakan oleh pemerintah (Amerika Serikat) pada 1960-an untuk mefasilitasi
pertukaran informasi di antara para periset pemerintah. Dengan adanya fakta
ini, tidak ada yang bisa melarang ketika pemerintah AS memutuskan untuk
memanfaatkan internet demi kepentingannya melalui otak dan tangan perusahaan
digital, tidak terkecuali Big Tech.
Masyarakat awam bisa menggunakan internet sebagai sebuah
cara untuk melihat dunia luar yang mungkin tidak akan pernah terjangkau sampai
akhir hayat mereka. Bagi pemerintah negara-negara, internet adalah sebuah cara
untuk mengawasi aktivitas warga negara secara rahasia, aman, dan akurat. Beberapa waktu lalu telah terungkap bahwa
suatu negara sudah merancang malicious
software (malware) yang bersembunyi dalam komputer para aktivis, para jurnalis,
dan para pembangkang. Kita sebaiknya tidak serta merta percaya ketika sebuah
layanan digital mengklaim bahwa data digital kita terenkripsi sehingga tidak
bisa dibocorkan atau diretas. Dengan dukungan berbagai jenis undang-undang,
proses pengadilan, atau tekanan di balik layar, para penyedia layanan digital
seperti Big Tech tidak mampu menentang kehendak otoritas mana pun yang ingin
tahu dengan siapa seorang demonstran berkawan, siapa pacarnya, siapa
selingkuhannya, berapa banyak utangnya, apa warna pakaian dalamnya … semua
rahasia tergelap dan kisah-kisah memalukan yang ingin dia lupakan untuk
selamanya. Ketika percakapan
mesra seorang tokoh organisasi massa Indonesia dengan kekasih gelapnya
dijadikan bukti untuk menyeretnya ke pengadilan, kita seharusnya sudah mulai
sadar bahwa dunia digital tidaklah sebebas yang kita sangka.
Platform digital selalu dituduh memanfaatkan konten dan percakapan pengguna sebagai umpan untuk menjalankan surveilans dan penambangan data. Para peretas telah ditetapkan sebagai sekelompok orang cerdas yang memilih jalan salah untuk mencari ketenaran dan penghasilan. Bagaimana seandainya platform digital dan para peretas sedari dulu dibentuk sebagai alat penguasa untuk memasukkan kita dalam jebakan, membaca pikiran, mengendalikan, dan mengadu domba antar manusia? Bila ya, lantas siapa yang menciptakan mereka? Seseorang di luar sana sangat membutuhkan kehadiran perusahaan teknologi untuk menambah pemasukan nasional sekaligus mengawasi “anak-anak nakal.” Dari sini kita bisa mengetahui siapa biang kerok sejati dari problema kerahasiaan data pengguna yang ibarat benang kusut tak kunjung usai. (dy)
Jumat, 03 September 2021
Represi Finansial: Solusi atau Bencana?
Mendengar kata ‘Bitcoin’ atau cryptocurrency, mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah suatu ruangan remang-remang di dalam bangunan bekas pabrik yang terbengkalai. Ada sosok misterius duduk di tengah ruangan sambil mengawasi anak buahnya: sederet mega komputer penambang elektronik bekerja membuat uang dari dunia maya, sembari mengirim pesan singkat ke sosok lain di seberang sana yang sedang menyusun rencana demonstrasi dan pemogokan besar-besaran di sebuah kota. Inilah gambaran ‘seram’ sebuah era ketika gerakan anti mata uang kripto dilancarkan berbagai pemerintahan di seluruh dunia, yang secara tidak langsung telah memberikan label tidak nasionalis atau bahkan anarkis kepada para penggiat cryptocurrency. Otoritas menganggap mata uang baru ini telah memainkan peranan besar sebagai alat pencucian uang, pembayaran aksi kriminalitas terorganisir, dan terorisme, sehingga pengawasan dan peraturan perlu diperketat. Pelabelan negatif ini terlalu berlebihan karena berbagai aktivitas ilegal di atas sudah ada berpuluh tahun silam sebelum Satoshi Nakamoto menciptakan bitcoin, dan bisa dilakukan lewat jalur transaksi perbankan biasa.
Represi tanpa darah
Juragan Tesla, Elon Musk, pernah mengatakan bahwa ikhtiar menambang
uang kripto memerlukan tenaga listrik dari sumber energi yang pada gilirannya melepaskan
megaton emisi karbon ke atmosfer sehingga memperparah pemanasan global.
Tudingan ini sukses memporakporandakan harga Bitcoin cs selama beberapa
saat, setelah lambat laun publik menyadari bahwa jumlah para penambang kripto
‘perusak lingkungan’ hanya sekian persen dibandingkan total jumlah kendaraan
bermotor berbahan bakar fosil di seluruh dunia. Tujuan utama penciptaan mata
uang kripto sejatinya adalah menghilangkan “orang ketiga” antara dua pihak yang
melakukan transaksi finansial, agar uang yang dipindahtangankan tidak berkurang
nominalnya akibat komisi perantara dan kerahasiaan informasi kedua belah pihak
tetap terjaga. Bitcoin sebagai pelopor mata uang kripto telah menciptakan
alternatif sistem finansial konvensional dengan mengenyahkan peran si orang
ketiga.
Orang ketiga yang dimaksud di sini adalah bank sentral, bank
pemerintah, dan bank swasta yang menjadi perantara transaksi finansial,
mengawasi, dan melakukan verifikasi validitas. Di antara tiga lembaga ini, bank
sentral berada di posisi tertinggi karena bertanggung jawab untuk menerbitkan,
mengedarkan, mencabut, menarik, serta memusnahkan uang dari peredaran. Akibat
pandemi COVID-19, nyaris seluruh negara di dunia mengalami kesulitan keuangan
yang dimulai dari kebijakan pembatasan untuk mencegah meluasnya virus. Tidak
terkecuali Amerika
Serikat sebagai ekonomi nomor satu sejagat raya. Sebagai upaya
mempertahankan gerak ekonomi, The
Fed (Bank Sentral AS) memutuskan untuk menerbitkan triliunan dolar uang
baru untuk membeli obligasi pemerintah AS melalui sejumlah bank komersial di
pasar terbuka (atau disebut Quantitative
Easing/ QE). Hal yang sama juga
dilakukan bank
sentral berbagai negara di mana wabah menelan korban sejak 2020.
Mengapa bank sentral tidak menerbitkan uang dalam jumlah tak terbatas dan membagikannya kepada warga negara agar tidak ada lagi kemiskinan di antara kita? Tak berbeda dengan hukum permintaan dan penawaran, ketika persediaan suatu barang atau jasa melimpah di pasar maka harga/nilainya akan turun. Tidak terkecuali uang. Untuk menjaga kestabilan nilai uang nasional dari konsekuensi QE, pemerintah mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi supaya uang dapat disalurkan ke berbagai penyedia barang dan jasa. Sampai di sini kita bisa memahami mengapa pusat perbelanjaan jadi tempat yang pertama kali dibuka untuk umum setelah pandemi mereda, bukan? Konsumsi tinggi yang lebih tinggi dari ketersediaan pasokan barang dan jasa menyebabkan inflasi, di saat harga barang dan jasa berubah menjadi lebih mahal secara bertahap dalam rentang waktu yang relatif singkat. Ditambah dengan keadaan panik massal, seperti pandemi, bencana alam, perang atau kekacauan politik yang membuat masyarakat memilih memegang uang tunai agar merasa aman di tengah ketidakpastian. Masyarakat tidak mempunyai pilihan selain menarik uang dari bank dan menghabiskan uang gaji bulanan hasil memeras keringat untuk mengejar cuci gudang, sebelum uang mereka kehilangan nilainya esok hari.
Pilihan sulit
Apa yang dipaparkan di atas adalah beberapa situasi yang
biasa terjadi bila suatu negara sedang menerapkan represi finansial. Represi
finansial tidaklah menakutkan, meskipun makna ‘represi’ secara harafiah
adalah tindakan penahanan, pengekangan, dan penekanan. Negara-negara maju maupun
berkembang sudah tidak asing dengan istilah ini. Tidak ada tindakan hukum atau
sanksi yang dijatuhkan sebagai tanggapan atas represi finansial, karena langkah
ini biasa dipilih sebagai jalan keluar untuk mengatasi kondisi finansial luar
biasa yang terjadi di berbagai negara. Sesuai dengan namanya, represi finansial
mengarah kepada tindakan yang dilakukan untuk memperketat peraturan pemerintah
di bidang keuangan. Setelah menggelontorkan uang yang baru dicetak ke
masyarakat, pemerintah cenderung mencegah masuknya modal asing ke dalam negeri
dengan cara menurunkan imbal hasil (yield)
obligasi pemerintah. Suku bunga acuan juga diturunkan agar tidak memberatkan
mereka yang harus membayar pinjaman di era kesuraman.
Saya yakin iklan dan judul berita yang menjejali gawai Anda
belakangan ini adalah keunggulan produk dalam negeri, iklan rumah minimalis
baru nan murah, mobil listrik, gawai terbaru, atau tempat wisata cantik di
pulau terpencil. Publikasi semacam ini diperlukan untuk menerbitkan kepercayaan
masyarakat untuk terus mengonsumsi barang dan jasa. Bagaimana kalau kita tidak
punya cukup uang untuk memiliki semua keindahan itu? Mari
kita pinjam uang di bank! Kita tidak perlu khawatir tidak bisa membayar
cicilan mobil listrik atau cicilan kartu kredit, bukankah suku bunga pinjaman
sudah lebih rendah daripada 2-3 tahun lalu? Asal tahu saja, pemerintah berbagai
negara juga diuntungkan karena suku bunga rendah sangat membantu memperkecil
jumlah pinjaman atau utang yang harus dibayar pemerintah.
Bagi banyak orang berutang atau meminjam uang dari bank
satu-satunya jalan keluar ketika semua pintu sudah tertutup, walaupun ada juga
orang yang berutang untuk mengembangkan bisnis dan kesejahteraan pribadi. Memang,
ada segelintir orang yang bisa berbangga hati di kemudian hari ketika sudah
berhasil melunasi cicilan mobil Tesla. Namun jangan kita abai pada mereka yang luluh
lantak akibat utang. Tak sedikit yang menganggap utang sebagai bagian dari
hidup untuk dijalani hingga akhir hayat, sebab mereka percaya pengorbanan
mutlak diperlukan dalam perjuangan mencapai cita-cita. Sebaiknya kita berpikir
panjang sebelum memutuskan untuk berutang karena ketenangan hidup Anda menjadi
taruhannya. Tidak ada salahnya menerapkan hidup minimalis. Hidup sesuai
kemampuan dan tidak memaksakan diri membeli rumah, mobil, perhiasan atau gawai
mahal yang cicilannya tak terjangkau dompet kita. Menjadi seseorang yang tidak
punya kemewahan untuk dipamerkan dan tidak punya utang. (dy)
Kamis, 12 Agustus 2021
Membangun Mimpi di Atas Ilusi: Ketika Negara Menjadi Bandar Narkoba
Pertama kali saya tahu kata “sabu-sabu” adalah sekitar tahun 1999, ketika seorang teman mahasiswa yang orang tuanya cukup berada memperkenalkan “mainan” baru ini kepada kami. Saat itu harga sabu-sabu, atau disebut juga metamfetamina alias crystal meth, masih sangat mahal dan hanya para mahasiswa kaya yang bisa membelinya. Darah muda memang identik dengan petualangan, apalagi bila petualangan itu bisa dilakukan dalam angan-angan tanpa harus pergi jauh. Setidaknya itulah yang biasanya dicari seorang pengguna narkoba. Dia mengenal narkoba dari teman-teman, dari dua orang menjadi tiga, lima, sepuluh, lima puluh … Sebuah kampus di mana 90% mahasiswanya pengguna narkoba, ini bukan hoaks. Pandemi COVID-19 yang membatasi gerakan para pelajar dan mahasiswa dituding menjadi biang kemerosotan pencapaian akademis generasi muda sedunia. Meski demikian, kuncitara selama lebih dari setahun dapat menanamkan kebiasaan bergaul yang baru dalam diri anak-anak muda. Suatu kebiasaan yang diharapkan akan melindungi diri mereka sendiri ketika jauh dari rumah dan bertemu berbagai jenis teman baru yang menawarkan hal-hal menggelitik untuk dicoba. Namun, apakah ini cukup?
Epidemi di dalam
Epidemi
Sementara itu, di Amerika Serikat kuncitara diberlakukan
sejak Maret 2020 dan sudah dilonggarkan beberapa waktu lalu. Namun, jejak-jejak
yang ditinggalkan kuncitara mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk hilang
sepenuhnya. Bagi kita semua, kuncitara bukan hanya menjadi awal bagi kesulitan
ekonomi dan pengangguran berkepanjangan. Keadaan sulit di berbagai sendi
kehidupan akibat COVID-19 telah memicu timbulnya wabah lain, yaitu penyakit
jiwa atau lebih sering disebut depresi. Sebagaimana penyakit lainnya, daya
tahan yang lemah adalah pra kondisi sempurna bagi segala jenis virus untuk
merajalela. Dalam hal ini, kondisi kejiwaan yang rapuh menjadi lahan subur bagi
depresi dan keinginan menyakiti diri sendiri untuk berkembang biak. Sebuah laporan
menyebut terjadi kenaikan kematian akibat overdosis zat terlarang sekitar
30% year-on-year di tahun 2020 di AS, atau lebih dari 93.000 kasus. Artikel ini
juga menggarisbawahi stigma yang diberikan masyarakat kepada mereka dengan gangguan
kejiwaan ibarat “orang cacat,” sehingga tidak sedikit dari mereka yang tidak
mencari bantuan professional dan mencari kesembuhan dengan mengonsumsi
obat-obat penenang seperti fentanyl yang pada saat artikel ini ditulis sedang
booming di negeri Joe Biden.
Kita mulai mengenal nama fentanyl setelah obat legal ini
dikaitkan dengan kematian legenda pop Prince 2016 lalu. Menurut sebuah dokumen
resmi DEA,
fentanyl adalah obat penenang yang 100 kali lebih kuat dibanding morfin dan 50
kali lebih keras dari heroin sebagai analgesik. Mirisnya, fentanyl adalah jenis
obat yang diproduksi dan dijual secara legal di AS. Upaya mengurangi penggunaan
fentanyl sebagai obat yang diresepkan dokter sudah dilakukan sejak 2011, tetapi
belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Pandemi COVID-19 memicu apa yang
disebut epidemi di dalam epidemi, ketika jumlah orang yang tewas akibat
overdosis fentanyl meningkat bersamaan dengan jumlah kematian akibat virus
korona. Sejumlah pihak menuding keberpihakan pemerintah AS pada Big Pharma
(kelompok perusahaan-perusahaan farmasi besar yang mendominasi peredaran
obat-obatan di AS maupun global) menjadi penyebab kegagalan AS menekan
penyalahgunaan fentanyl dewasa ini.
Malangnya, penyalahgunaan fentanyl bukan satu-satunya
penyebab epidemi dalam epidemi di Amerika Serikat. Sabu-sabu juga menjadi
masalah besar, ketika beberapa Negara bagian AS sudah melegalkan penggunaan
mariyuana sejak beberapa tahun lalu. Salah satu pemicunya adalah mudahnya
membuat sabu-sabu menggunakan metode “shake-and-bake” dengan bahan dasar
ephedrine atau pseudoephedrine, sebuah dekongestan dalam obat demam dan alergi
yang dijual bebas di apotik. Ini adalah cara alternatif para pemadat ketika
pasokan sabu dari Amerika Tengah sudah diputus pihak berwajib. Upaya DEA untuk mendesak
Kongres AS mengatur peredaran obat demam juga pernah dipatahkan oleh Big Pharma
yang berdalih masyarakat umum juga berhak dan bebas membeli obat demam sesuai
kebutuhan tanpa resep dokter. Sebuah situs menyebutkan, Big
Pharma merupakan penyumbang terbesar bagi anggaran Badan Obat dan Makanan AS
(FDA). Kelompok ini juga mengerahkan pasukan pelobi sebanyak 1378 orang untuk
menyebarkan pengaruhnya di Capitol Hill, memastikan agar kebijakan-kebijakan
yang dibuat pemerintah AS tidak menghalangi upaya mereka meraup profit.
Bulan Sabit Emas
Sementara itu di belahan dunia lainnya, Presiden Joe Biden
mengakhiri operasi militer Amerika Serikat di Afghanistan yang sudah
berlangsung 20 tahun. Sikap dunia terbelah dua terhadap keputusan itu, karena belakangan
ini pasukan Taliban semakin menggila, membantai para pejabat pemerintah dan
anggota militer Afghanistan, bahkan memenggal kepala para penerjemah
Afghanistan yang pernah bekerja untuk militer AS. Di sisi lain, tidak sedikit
pihak yang menuding operasi militer AS sebagai upaya campur tangan dalam urusan
dalam negeri bangsa lain. Terlepas dari kontroversi itu, ada satu masalah
“sepele” yang belum berhasil mereka selesaikan ketika operasi militer mereka
jatuh tempo Agustus 2021. Perdagangan narkoba.
Laporan UNODC
(United Nations Office on Drugs and Crime/ Badan PBB untuk Narkoba dan
Kriminalitas) mencatat, Afghanistan menjadi pemasok utama industri heroin sejak
1979, atau sesaat sebelum perang berkepanjangan berkecamuk di Negara itu. Luas
lahan tanaman opium (bahan dasar heroin) di Afghanistan adalah 224 ribu hektar
di tahun 2020, bertambah 37% atau 61 ribu hektar bila dibandingkan tahun 2019. Menurut
studi
lain yang dipublikasikan tahun 2005, heroin dari Afghanistan didistribusikan ke
berbagai Negara, termasuk Eropa, Asia Barat Daya, dan China. Sementara itu di
Afghanistan, jumlah pecandu heroin menurun karena mereka
beralih ke sabu-sabu yang jumlahnya terus meningkat bersamaan dengan ketidakpastian
hidup akibat situasi dalam negeri. Ironisnya, di antara mereka adalah kaum
perempuan yang sebagian besar menjadi pecandu sabu-sabu akibat pengaruh para
suami mereka.
Di tengah upaya membasmi peredaran opium Segitiga Emas, para
penegak hukum China telah mendeteksi adanya wilayah perdagangan narkoba yang
disebut Bulan Sabit
Emas (Afghanistan, Pakistan, Iran) mengambil alih kejayaan jalur Segitiga
Emas sejak 1990-an. Para produsen narkoba Bulan Sabit Emas telah merasuk ke
wilayah China Barat melalui Provinsi Xinjiang, area transit sebelum narkoba
diedarkan ke wilayah lain di China dan Asia. Pergeseran tren produksi Bulan
Sabit Emas dari opium dan heroin ke sabu-sabu bisa jadi dipicu oleh peningkatan
jumlah pemakainya di seluruh dunia. Dibandingkan
heroin atau mariyuana, setelah menghisap sabu-sabu seseorang akan merasa lebih
percaya diri, lebih bugar saat beraktivitas, dugem, dan bercinta tanpa kenal
lelah. Belakangan ini para pecandu narkoba tidak lagi menggunakan crystal meth untuk sekedar lari dari
kejamnya kenyataan dan melayang di awang-awang. Mereka mendambakan energi yang
kekal agar dapat bekerja keras non-stop untuk mengumpulkan banyak uang demi
tercapainya cita-cita akan kesejahteraan hidup yang akan mengangkat derajat mereka
dalam masyarakat, tanpa mengorbankan kesenangan. Efek dahsyat sabu-sabu memang
dapat memberikan sensasi energi semacam itu, meski untuk sesaat.
Lalu siapakah yang menginisiasi berdirinya Bulan Sabit Emas
di mana sumber energi delusi berasal? Mulai 1980-an sudah ada indikasi
bahwa para mujahidin Afghanistan memanfaatkan produksi dan penjualan opium untuk
mendanai penjualan senjata, yang belakangan mendiversifikasi bisnisnya ke
penjualan sabu-sabu. Kemurnian sabu-sabu berbahan dasar obat demam tentunya
akan kalah jauh dengan sabu-sabu buatan Afghanistan, karena ephedra (sejenis
tanaman bahan dasar ephedrine) tumbuh subur di sana. Mengandalkan pengalaman
panjang dalam hal pemrosesan dan distribusi heroin, Taliban
mengendalikan seluruh jaringan narkoba Afghan dengan income sekitar 4,2 juta dolar per tahun. Dalam beberapa tahun,
penyeludupan sabu-sabu Afghan telah terbongkar di Iran, Pakistan, dan Indonesia.
Akan tetapi ini belum cukup untuk membasmi akar permasalahan, sementara
peredaran sabu-sabu yang makin marak luput dari perhatian akibat riuh rendah
pemberitaan varian Delta.
Saya jadi teringat kisah seorang teman yang kakaknya
meninggal karena tertembak dalam sebuah operasi penggerebekan narkoba di sebuah
kota. Teman saya sama sekali tak menyangka kakaknya terlibat jaringan perdagangan
gelap, karena almarhum tidak merokok dan bukan pemabuk. Terungkap bahwa saat
itu si kakak dan temannya, seorang bandar kelas kakap, berkendara dalam sebuah
mobil yang membawa beberapa puluh kilogram metamfetamina. Pihak berwajib
menembaknya karena berusaha melarikan diri. Teman saya juga bercerita bahwa si bandar
besar sempat meneleponnya dari penjara sebelum dihukum mati di tahun 2011,
bercerita bahwa dia sudah menyumbangkan uang “hasil kerja kerasnya” ke beberapa
pondok pesantren di sebuah kota. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mendengar
gosip bahwa GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjual ganja untuk mendanai pembelian
senjata dan aksi pemberontakan mereka. Benar dan tidaknya gosip ini, entahlah.
Dari kisah-kisah di atas bisa disimpulkan bahwa Bulan Sabit
Emas tidaklah seindah namanya. Tidak dipungkiri bahwa cita-cita Taliban untuk
mendirikan Negara Islam yang menegakkan Syariah Islam telah mengundang simpati
dari kalangan umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebagai
seorang Muslim yang belum dapat menjalankan Syariah Islam dengan benar, saya
sedikit lega ketika Taliban menjamin bahwa mereka akan memperlakukan kaum perempuan
Afghan dengan lebih manusiawi sesuai dengan hak asasi manusia. Namun sebuah
cita-cita seharusnya diwujudkan melalui jalan yang benar, karena apa pun nama
agamanya seyogyanya tidak digunakan untuk membenarkan dan melegalkan berbagai
tindakan keliru yang dengan sengaja kita lakukan semulia apa pun tujuan
tindakan itu. Apakah tujuan menegakkan Syariah Islam bisa membuat orang
memaafkan tindakan Taliban yang mengangkat senjata hasil penjualan narkoba?
Saya bukan orang yang sempurna dan tanpa dosa tetapi saya tidak terima bila siapa pun menggunakan agama sebagai dalih atau kedok, karena saya yakin bukan untuk itu agama diciptakan. Hasil tidak mengkhianati proses. Sebuah proses yang bersih tentunya juga akan menghasilkan sesuatu yang positif, bukan sebaliknya. PR utama bagi Taliban ketika mereka sudah berhasil menguasai Afghanistan adalah memutus lingkaran perdagangan narkoba yang sudah menafkahi masyarakat Afghan selama puluhan tahun, karena saya yakin semua negara menginginkan warga negaranya sehat fisik dan mental tanpa narkoba agar dapat bersama membangun kehidupan bangsa yang sejahtera. Saya bersyukur karena sudah menemukan cahaya di ujung lorong kegelapan, tetapi narkoba dan khususnya sabu-sabu masih menjadi ancaman hingga entah kapan. Seorang mantan bandar ganja yang telah meninggal 15 tahun lalu pernah mengatakan, “bisnis narkoba tidak akan pernah mati selama masih ada orang yang mau membelinya.” (dy)
Sabtu, 31 Juli 2021
Kehendak Bebas Untuk Membebaskan
Kebebasan, saya akui, adalah topik favorit karena saya pecinta kebebasan jebolan sebuah kampus yang dulu pernah menjadi surga buat anak-anak (yang pernah) muda seperti saya. Kami cukup beruntung menjadi bagian sebuah generasi yang mengabaikan pencitraan, lantang mengekspresikan ide-ide, korban sekaligus pelaku bullying yang jarang sekali berujung pada perkelahian atau permusuhan. Akan tetapi, waktu berjalan ke depan dan bukan ke belakang. Ketika rambut sudah mulai memutih, kami menyadari ternyata kebebasan telah berganti wajah. Kini dia bukan lagi sesuatu yang kami cintai di masa muda, melainkan monster pengumbar nafsu yang siap memakan dan memenjarakan akal sehat. Dulu kebebasan sangat berharga melebihi emas, karena sangat sulit didapatkan. Kini harganya turun drastis dan nyaris kehilangan makna sejatinya. Sudah saatnya kita mengkaji kembali makna kebebasan dengan tanpa mengorbankan hak asasi manusia untuk hidup dalam damai dan sejahtera.
Meski sudah mendapat pengakuan di beberapa tempat di dunia,
tidak sedikit yang enggan membahas isu LGBT+ (lesbian, gay, biseksual,
transgender, + ditujukan untuk mereka dengan orientasi seks yang tidak termasuk
di kelompok mana pun) karena masalah moralitas dan kepantasan. Kaum LGBT+ sudah
cukup lama menerima perlakuan sewenang-wenang, pelecehan, diskriminasi, korban
kejahatan akibat kebencian, rudapaksa, bahkan pemenjaraan akibat apa yang
mereka percayai sebagai jati diri mereka. Di tahun 1940-an kelompok LGBT+ mulai
bangkit di Amerika Serikat menuntut hak mereka untuk diperlakukan sebagai
manusia. Mereka beroleh kemenangan ketika semua negara bagian Amerika Serikat
mencabut larangan hubungan seks sesama jenis di tahun 2003.
Angin segar bagi kalangan LGBT+ semakin sejuk ketika Uni
Eropa mengesahkan undang-undang perlindungan hak-hak LGBT+, dan menindak tegas
negara anggota yang dianggap tidak menunjukkan niat untuk menerima
undang-undang itu sepenuhnya. Hungaria memersepsikan undang-undang itu dengan cara yang
berbeda. Negara itu berkomitmen untuk melindungi nilai-nilai tradisional keluarga
dari “kampanye” LGBT+ melalui sebuah peraturan yang melarang propaganda LGBT+
di sekolah, televisi maupun iklan bagi anak-anak di bawah usia 18+. Hungaria
melalui PM Viktor Orban telah menolak tudingan peraturan itu dibuat karena
Hungaria anti LGBT+. Sialnya, Hungaria
dihujani kecaman dan diancam dikeluarkan dari keanggotaan Uni Eropa bila tidak
mencabut peraturan tersebut. Ini belum seberapa, karena saat artikel ini
ditulis beberapa negara Barat sedang merumuskan undang-undang yang mengizinkan
anak di bawah usia 15 tahun untuk memutuskan berganti jenis kelamin.
Ketika Kebebasan
Tidak Membebaskan
Kebebasan itu memang seharusnya bisa membebaskan, agar
manusia tidak terhimpit oleh penolakan dari dalam dirinya terhadap situasi yang
sedang berlangsung di sekitarnya di mana ia terlibat langsung atau pun sebagai
penonton. Agar siapa pun bisa memilih dan menentukan apa yang terbaik untuk
dirinya, tumbuh dan berkembang di arah sesuai harapan dan cita-citanya.
Sayangnya ini hanyalah sebuah utopia tentang kehidupan yang ideal, karena kenyataan
tidak dapat diramalkan. Kehendak bebas (free will) tidak muncul
sekonyong-konyong. Awalnya, kehendak bebas muncul karena ada tekanan, di mana
keduanya adalah sepasang sejoli yang saling mengisi. Ketika tekanan sudah tidak
ada, maka kehendak bebas mengembara tak tentu arah, mendesak di dalam
relung-relung sempit dalam Pikiran manusia yang mempunyai kebiasaan egosentris
melawan kehendak kehidupan untuk hidup dalam kewajaran. Apakah ini berarti
tekanan memang dibutuhkan agar kehendak bebas dalam diri masing-masing manusia
tidak salah jalan?
Sanksi bidang ekonomi, keuangan, dan militer dari Amerika
Serikat untuk Kuba adalah yang terpanjang
dalam sejarah dunia. Selama kurang lebih 60 tahun, masyarakat Kuba tidak
diperkenankan melakukan perdagangan dengan negara mana pun, tidak dapat
menggunakan metode pembayaran internasional baik untuk keperluan nasional
maupun pribadi, mengalami keterbatasan pasokan obat dan makanan, dan tidak
dapat menjual produksi dalam negerinya ke negara mana pun. Sanksi yang
dijatuhkan sejak jaman Dwight Eisenhower dan semakin meluas di tahun 2021,
telah berlaku sejak tahun 1960 ketika Fidel Castro menggulingkan Presiden Fulgencio
Batista (1952-1959) yang didukung Amerika Serikat. Dalam sudut pandang Amerika, sanksi ini dijatuhkan sebagai hukuman atas tindakan pemerintah Fidel Castro di tahun 1959 yang menasionalisasi beberapa
aset milik warga AS di Kuba di bawah Undang-Undang Reformasi Pertanian, serta
peran serta negara itu dalam mensponsori pergerakan revolusioner di wilayah Karibia.
Sanksi Amerika Serikat yang bertujuan memberi pelajaran
kepada negara-negara pembangkang biasanya bertujuan agar rakyat negara itu
bangkit dan mengakhiri rezim berkuasa yang bertentangan dengan kepentingan sang
negara adidaya. Bila sanksi adalah salah satu manifestasi tekanan, maka
perlawanan rakyat adalah kehendak bebas yang seharusnya muncul sebagai pangkal
dari hubungan sebab akibat ini. Akan tetapi, tekanan dari sanksi berasal dari
luar (Amerika Serikat) yang jelas-jelas pelanggaran terhadap kedaulatan suatu
bangsa. Sebagian warga Kuba yang menjadi imigran di AS menyadari hal ini, dan
melakukan aksi protes terhadap pemerintah AS di Washington menuntut pencabutan sanksi atas
Tanah Air mereka. Apa yang mereka lakukan patut menjadi bahan renungan kita,
karena komunitas Kuba yang kita bicarakan meninggalkan negaranya akibat
ketidaksepahaman dengan pemerintah komunis Kuba.
Kisah perseteruan Kuba dan Amerika Serikat berawal dari kehendak
bebas Presiden Fidel Castro dengan berbagai aksinya yang memicu reaksi yaitu sanksi AS.
Namun, sebelum itu Amerika Serikat sudah berniat memadamkan komunisme di Kuba
dengan memberikan dukungan kepada Presiden Batista. Komunisme bagi Amerika
adalah paham gagal yang otoriter, pelanggar hak asasi manusia karena negara
menerapkan berbagai peraturan mengikat untuk menjaga kedisplinan warga
negaranya dari ujung rambut sampai kaki. Kehidupan masyarakat dijamin oleh
negara komunis, ibarat orang tua yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan
anak-anaknya. Sebagai imbalannya, anak-anak harus patuh dan mendengarkan kata
orang tua supaya mereka aman hingga dewasa. Artinya, anak-anak itu dilatih
untuk tidak memiliki free will yang bagi pemerintah komunis sangat merepotkan
dan bisa menyebar laksana virus dari satu anak ke anak lain.
Anak-anak yang cinta kebebasan tentunya sangat ketakutan
membayangkan musnahnya kebebasan. Di alam demokrasi pendapat pribadi dapat
diekspresikan sebebas mungkin, tidak ada hukuman bagi pembuat karikatur atau
meme presiden. Warga negara juga bebas mencari nafkah dan memilih agama atau kepercayaan. Cakupan kebebasan pun meluas seiring dengan berjalannya
waktu, di mana kehendak memutuskan menjadi LGBT+ adalah salah satunya. Semua
yang kita bahas di bagian ini adalah contoh-contoh kasus di mana kehendak bebas
gagal untuk membebaskan manusia, baik secara individu maupun kolektif, dari
eksklusivitas. Mereka menciptakan pagar pembatas yang memisahkan diri mereka
dari kehidupan bermasyarakat, baik itu Fidel Castro, para presiden AS pembela
sanksi Kuba, maupun para pejuang LGBT+. Kehendak bebas dalam sudut pandang kita
tidak selalu sejalan dengan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, tetapi
individu tidak harus mengorbankan kesenangan pribadinya agar tercipta
kestabilan dalam masyarakat. Inilah yang diperjuangkan oleh kalangan yang
meyakini bahwa kekuatan suatu bangsa terdapat pada kekuatan masing-masing
individu dalam berkehendak dan mewujudkan kehendaknya. Kegigihan memperjuangkan
kehendak bebas dalam contoh di atas mengundang konflik dalam berbagai bentuk
dan skala keparahan, tidak berhasil membebaskan komunitas dari tekanan agar
dapat melangkah maju untuk mencapai hal-hal lain yang lebih berarti.
Apakah ini berarti kehendak bebas adalah sesuatu yang terlarang? Tidak juga. Tidak ada yang bisa menentukan orientasi seksual seseorang, atau menasihati seorang pemimpin tentang bagaimana cara memerintah wilayahnya, termasuk bagaimana cara bersikap terhadap musuh-musuhnya. Kita membutuhkan kehendak bebas agar berani bereksperimen dan berani menanggung akibatnya. Sebuah kehendak bebas akan membebaskan ketika dia tidak lagi eksklusif, tidak menakutkan bagi masyarakat, tetapi ada ruang rahasia baginya untuk bebas dari berbagai keharusan. Ruang yang bisa tercipta ketika kita tidak lagi membutuhkan pengakuan, dan menyadari peran kita dalam mempertahankan kestabilan suatu kebersamaan. (swastantika)
Selasa, 15 Juni 2021
Jalan Terjal Sang Juara
Pandemi COVID-19 memaksa Komite Internasional Olimpiade (IOC) menunda penyelenggaraan Olimpiade Tokyo yang seharusnya diadakan 2020 lalu. Pemerintah Jepang sebagai tuan rumah terpaksa menerima pil pahit ini dan menerima kenyataan bahwa renovasi besar-besaran sejumlah stadion dan berbagai fasilitas olahraga lainnya belum akan balik modal dalam waktu dekat. Walaupun ada sejumlah orang yang meraup untung dari pembatasan sosial dan kuncitara, jumlah kerugian yang dialami bidang olahraga sangat besar karena larangan membuat kerumunan mengharuskan pertandingan diadakan tanpa penonton. Artinya, pihak penyelenggara event olahraga tidak akan memperoleh penghasilan dari penjualan tiket. Bagi para atlit, tidak ada kompetisi bukan hanya akan berdampak buruk bagi performa dan stamina. Semangat bertanding pun bisa luntur seiring berlalunya waktu, dan mengakhiri rasa dahaga akan kemenangan. Seperti bidang lain yang terpaksa menghadapi ujian berat di masa pandemi, para atlit harus menyelesaikan sebuah pertanyaan besar. Bagi para atlit, pertanyaan yang harus mereka jawab adalah apakah kehadiran penonton mereka butuhkan agar berhasil mencapai prestasi?
Bagaimanapun, pencapaian prestasi bukan hak monopoli para atlit. Sama seperti hak asasi manusia, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berusaha mencapai prestasi. Mereka berhak menempa diri sebaik mungkin, baik dengan mempelajari ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, melatih kekuatan fisik, dan meningkatkan keahlian yang dimiliki agar dapat meraih pengakuan atas apa yang sudah mereka lakukan dengan baik di bidangnya masing-masing. Keberhasilan mencapai prestasi bukan hanya menimbulkan rasa bangga, tetapi juga hadiah dalam bentuk materi (uang) yang tak sedikit jumlahnya. Prestasi akan mengukuhkan pengakuan masyarakat atas kemampuan seseorang, sekaligus meningkatkan reputasinya dalam kehidupan bermasyarakat atau dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas.
Namun tidak ada yang abadi, demikian juga prestasi. Ada yang mengatakan mempertahankan lebih sulit daripada merebut, dan pepatah ini benar adanya. Sebuah tim olah raga akan berjuang mati-matian merebut sebuah gelar yang belum pernah dimenangkan, mengolah skill, mempelajari taktik lawan, mencoba berbagai strategi baru, dll. Di musim kompetisi berikutnya, sang jawara musim lalu harus menghadapi situasi yang lebih menantang karena para pesaing sudah mengetahui kemampuan mereka dan kehilangan gelar adalah sesuatu yang tidak membanggakan. Akan tetapi, tidak semua jawara memilih jalan logis dan pantas untuk mempertahankan gelar. Ada juga yang menghalalkan segala cara demi mempertahankan kebanggaan, walaupun cara tersebut jauh dari nilai dan prinsip sportivitas.
Balada Juara Bertahan
Di artikel blog ini, dijabarkan tentang bagaimana
Amerika Serikat memperoleh posisi mereka sebagai penguasa dunia finansial.
Berbagai kisah dan sejarah yang kurang lebih sama juga memaparkan secara detil
bagaimana sang negara adidaya berusaha mempertahankan posisinya. Masa pandemi
COVID-19 rupanya sudah dianggap sebagai momen yang tepat untuk melestarikan
dominasi tersebut. Pertama, AS di bawah pemerintahan Donald Trump secara
terang-terangan menuduh bahwa virus COVID-19 adalah hasil rekayasa sebuah
laboratorium senjata biologis di Wuhan, China. WHO pernah menyatakan bahwa tuduhan itu dibuat berdasarkan bukti-bukti yang keliru dan tidak berdasar karena virus
Sars Cov-2 adalah murni hasil rekayasa alam. Namun AS mengabaikan laporan WHO dan bersikukuh dengan asumsinya. Penerus Trump, Joe Biden,
belum menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri tuduhan ini meski dirinya sudah
berikrar akan melakukan detrumpfikasi (penghapusan semua kebijakan yang dibuat
di masa pemerintahan Trump). Sebaliknya, Biden memerintahkan para anak buahnya
untuk melipatgandakan
upaya guna membuktikan asal usul virus COVID-19.
Kedua, Amerika Serikat juga secara terang-terangan merayu
pemerintah Brasil agar tidak mengesahkan penggunaan vaksin COVID-19 buatan
Rusia, Sputnik V, dengan alasan Amerika Serikat ingin meminimalisir pengaruh
negara yang bukan sekutunya di benua Amerika. Padahal saat itu dan bahkan saat
ini hingga waktu yang belum dapat ditentukan, rakyat Brasil dan semua penduduk
dunia sangat membutuhkan vaksin dari pihak mana pun tidak memandang siapa
produsen atau dari negara mana vaksin tersebut berasal. Bagi pemerintah Brasil,
keselamatan rakyat dari COVID-19 lebih penting daripada membantu melestarikan
hegemoni politik salah satu pihak. Seolah ada mimpi buruk dari masa lalu yang
belum bisa dilupakan oleh Amerika Serikat dalam kaitannya dengan ideologi suatu
negara yang notabene adalah kompetitor. Namun perilaku yang menolak move on ini bukan sekonyong-konyong
muncul tanpa sebab. Manusia adalah makhluk yang mudah ditebak, perilaku yang
diperlihatkan saat ini adalah cerminan dari apa yang pernah dilakukannya sebelumnya.
Amerika Serikat sangat beruntung memiliki Inggris sebagai
sekutu. Hubungan simbiosis mutualisme mereka berdua ibarat sepasang kekasih
yang mengalahkan batasan ruang dan waktu. Salah satu bentuk kesetiaan itu
adalah pengusiran
masyarakat Chagos yang tinggal di Pulau Diego Garcia Kepulauan Chagos,
sebuah kelompok kepulauan karang dengan luas total 56,13 km persegi di Samudra
Hindia.
Diego Garcia pertama kali berpenghuni di abad ke-18 ketika sekelompok
warga Afrika dari Kepulauan Mauritius didatangkan ke pulau itu sebagai pekerja
perkebunan kelapa. Dengan berakhirnya masa perbudakan, masyarakat Chagos
beroleh kemerdekaan mereka dan hidup tenang di kepulauan tropis itu bersama
anak keturunan mereka. Namun ini tidak berlangsung lama, karena di tahun 1965
Inggris memutuskan wilayah itu termasuk wilayah koloni mereka. Di tahun 1967,
2000 orang warga Chagos diusir dari kampung halaman mereka oleh pemerintah
Inggris. Pemerintah Inggris saat itu menganggap masyarakat Chagos bukanlah
warga asli sehingga tidak berhak atas rumah dan tanah yang sudah mereka warisi
dari nenek moyang selama berpuluh tahun. Ini hanyalah dalih karena tak lama
kemudian Diego Garcia menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di Samudra
Hindia, di mana AS memberangkatkan pesawat-pesawat tempur pengebom Iraq dan
Afghanistan. Kisah pilu yang diabadikan film dokumenter Stealing of a Nation ini nyaris tidak terdengar, walau sama
tragisnya dengan pendudukan Jalur Gaza.
Sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki hasrat dalam berbagai
bentuk dan tujuan, termasuk hasrat menjadi pemenang. Akan tetapi, podium
terlalu sempit sehingga tidak semua orang dapat naik podium secara bersamaan. Manusia
harus berkompetisi mengalahkan manusia lain yang juga ingin merasakan nikmatnya
kemenangan, sehingga selalu ada pemenang dan juga pecundang. Di satu sisi,
kekalahan bisa menjadi pengalaman berharga sebagai pengukur kemampuan diri dan
memotivasi agar tidak lelah mencari jalan agar bisa jadi pemenang di lain hari.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kemerdekaan setidaknya menjadi pelipur
lara pengingat kita untuk memanfaatkan kemerdekaan itu seluas-luasnya agar bisa
menjadi sesuatu yang kita inginkan. Atau mencapai sesuatu yang belum pernah
kita capai, sesuatu yang lebih baik dan bermartabat tentunya.
Memang, kemenangan bisa menjadi sebuah jebakan bagi sang juara untuk besar kepala dan mengabaikan rasa keadilan serta kemanusiaan asal dirinya bisa terus jadi pemenang. Ini karena tidak semua orang bisa memaknai secara positif suatu kekalahan sebagai kemenangan yang tertunda. Rasa sakit akibat jatuh terjerembab dari ketinggian tentunya lebih pedih dibandingkan sudah terbiasa kalah dan tidak pernah menang di berbagai kesempatan. Alih-alih siap menghadapi kenyataan, sang juara bertahan berusaha menghindari kekalahan atau kemungkinan akan kalah dengan membiarkan ego tidak terkontrol dan merusak diri sendiri. Sayangnya, golongan dengan karakter semacam ini sekarang sedang menguasai dunia (Amerika Serikat dan para sekutunya) seakan tak kehabisan akal menyingkirkan golongan lain yang berusaha menciptakan perbedaan (Rusia & China).
Haruskah bangsa-bangsa yang belum pernah jadi pemenang pasrah
dengan keadaan dan mengubur dalam-dalam impian mereka menjadi bangsa pemenang
untuk selamanya? Kebanggaan memang hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan
disiplin, tetapi suatu negara juga bertanggung jawab menghasilkan sesuatu yang
bisa membuat warga negaranya tidak minder di tengah pergaulan internasional.
Sesuatu yang bukan sekedar bisa dinilai dengan uang dan habis dibelanjakan.
(d.swastantika).
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...