Jumat, 30 Desember 2016

SUARA DI DALAM KEPALA

 “Waktu aku lahir hari sedang hujan gerimis. Saat itu pagi hari dan matahari sudah keluar. Tapi bulan masih ada di langit. O iya, saat itu di langit juga ada pelangi.” Ini diceritakan seorang teman asal Atjeh pada saya sekitar 10 atau 11 tahun lalu. Seperti Anda saat ini, saat itu saya tak yakin ia menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Saya hampir yakin ia sedang lapar atau baru bangun tidur ketika menceritakan kisah kelahirannya pada saya.

Saya curiga, jangan-jangan ia terinspirasi oleh lukisan ‘Starry Night’ karya Vincent Van Gogh. Apa boleh buat, lukisan itu memang sangat indah dan dianggap sebuah breakthrough pada jamannya. Sesuai dengan judulnya, center of interest lukisan ini adalah langit yang digambarkan kaya dengan beraneka kedalaman warna biru. Jangan-jangan teman saya menganggap keindahan lukisan langit malam bertabur bintang, dengan bulan yang mendekap matahari adalah realita. Realita yang diinginkannya untuk terjadi dalam kehidupannya sendiri. Teman saya ini seorang pria, dan ia juga pelukis seperti Van Gogh. Sayang sekali maut sudah keburu menjemput sebelum dia bisa melihat konstelasi bulan, matahari, hujan dan pelangi itu benar-benar terjadi pada satu waktu dan tempat yang sama.

Satu hal yang pasti, dua sosok yang kita bicarakan di atas memiliki satu persamaan. Dua-duanya membicarakan fenomena alam yang punya sedikit peluang untuk bisa terjadi. Lalu darimana dua orang ini bisa menggambarkan dengan detil sebuah fenomena alam yang belum pernah mereka lihat? Hujan gerimis, matahari terbit dan matahari tenggelam, pelangi, semua bukan peristiwa aneh yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang. Bagi dua orang ini, peristiwa alam yang remeh itu mengandung kecantikan tersendiri. Seniman, dalam hal ini pelukis, cenderung peka terhadap hal-hal demikian, hal-hal yang menurut kita terlalu banal dan biasa-biasa saja. Mereka juga memiliki pandangan lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Mereka akan panik jika kemungkinan-kemungkinan itu tidak ada, sehingga membuka jalan untuk menciptakan sendiri kemungkinan yang mereka inginkan. Sejalan dengan ujaran Albert Einstein, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami saat ini. Sedangkan imajinasi merengkuh seluruh dunia, dan semua yang ada di sana akan dapat diketahui dan dipahami ”( “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand”).

Apa yang Eyang Einstein coba katakan adalah, tidak ada salahnya seseorang berimajinasi karena imajinasi bagaikan suara dalam otak yang mengarahkan manusia untuk menciptakan kemungkinan dari sesuatu yang tidak atau belum mungkin. Namun otak manusia adalah suatu benda yang tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari benda lain yang hidup dan bernama manusia. Dalam tubuh manusia otak harus berbagi tempat dengan anggota tubuh lain yang sama-sama berfungsi baik. Ada jantung di mana manusia bisa merasakan emosi. Ada juga lambung pusat dari segala keinginan lahiriah manusia, baik makan, minum, mabuk atau bercinta. Sama seperti manusia, anggota-anggota tubuh ini berada pada posisi rentan. Pilihan yang mereka miliki adalah kalah, menang, atau fifty-fifty. Anggota tubuh yang kurang berlatih akan kalah dalam persaingan menghadapi anggota tubuh lainnya. Daya pikir otak bisa kalah oleh emosi yang ditandai dengan detak jantung tak teratur. Atau kalah dengan nafsu yang terlihat dari perilaku makan, minum, mabuk atau bercinta terus menerus. Sebaliknya, otak yang terlalu perkasa sanggup mengalahkan kinerja anggota tubuh lainnya. Otak yang terlalu sibuk berpikir akan menyingkirkan makan, minum, mabuk dan bercinta dari jadwal harian manusia. Ia juga akan membunuh emosi, dan sibuk menghitung untung rugi atau cara mencapai tujuan tanpa mengindahkan desakan rasa keadilan atau kasih sayang.

Seniman ‘nyeleneh’

Adolf Hitler dulunya adalah seorang seniman, dan ia juga pernah kuliah di perguruan tinggi seni. Dengan demikian, seharusnya ia menjadi sosok yang peka dan berperasaan, seperti para seniman pada umumnya. Melihat karya lukis dan drawingnya, kita tak akan pernah menyangka bahwa itu semua adalah buah karya seorang pemimpin yang … yah kita semua sudah tahu kisah kehidupan Hitler bukan? Jika belum tahu, mari buat smartphone Anda bermanfaat dengan mengetikkan kata ‘Hitler’ di kotak pencarian. Anda bisa pilih sumber mana yang ingin Anda baca. Ada sebuah sumber yang mengungkapkan bahwa Hitler ternyata punya masa kecil yang tidak menyenangkan. Setelah ibunya meninggal, ia dan kakaknya dididik dengan keras oleh ayahnya. Pukulan dan makian adalah santapan dua bocah cilik itu setiap hari. Kalau Adolf Hitler kecil membuat kesalahan, ia akan dicambuk oleh ayahnya. Pernah suatu kali ia dicambuk sekitar 32 kali dan ia berusaha untuk tidak menangis. Saat itu umurnya 11 tahun. Rupanya inilah yang membuatnya terobsesi pada kesempurnaan, karena saat kecil ia dihukum berat oleh ayahnya jika ia melakukan kesalahan kecil, apalagi kesalahan besar.  

Situs yang sama mendiagnosa Hitler sebagai pribadi dengan karakter narsistik. Narsistik, atau pengagum diri sendiri rasanya kurang tepat jika dialamatkan pada Hitler. Track record Hitler lebih condong pada perilaku OCD (obsessive compulsion disorder), atau desakan untuk melakukan segala sesuatu dengan sempurna menurut cara yang diyakininya. Ini lebih masuk akal sebagai akibat dari obsesi pada kesempurnaan. Menurut suara dalam kepala Adolf, sesuatu yang paling sempurna itu adalah sesuatu yang alami, asli dan berakar dari tempat itu sendiri. Sesuatu yang seperti dirinya sendiri, dalam hal ini ras. Semua yang berbeda itu tidak sempurna, sedangkan ketidaksempurnaan itu tak dapat ditolerir. Oleh karena itu, semua yang berbeda itu harus diberangus. Ini tentu berbeda dengan seorang gadis atau janda yang menolak cinta seorang jejaka atau duda lantaran si cowok tidak suka film India. Lebih sedikit mirip dengan perang antar suporter dari dua tim sepak bola yang bersaing memperebutkan puncak klasemen. Kemenangan, baik dalam mengalahkan tim lawan maupun hati si gadis pujaan, dibutuhkan seseorang untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pantas untuk menang. Mengapa ia layak menang? Karena ia dan hanya dialah yang sempurna. Saya dan Anda tahu ini bukan hal baru. Saya yakin Anda sekarang baru menyadari betapa berlimpahnya para penderita OCD di sekitar kita.

Apa kata suara dalam kepala?

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa Adolf Hitler tidak dilahirkan ke dunia dan ‘diberkahi’ oleh Pencipta dengan sifat-sifat yang membentuk dirinya menjadi seperti dalam kisah sejarah. Ada banyak faktor saling berkelindan yang pada akhirnya akan mempengaruhi cara manusia berpikir, berbuat dan merasa, yang tidak ada kaitannya dengan takdir, atau ‘dari sononya memang begitu’. Sekumpulan cara berpikir, berbuat dan merasa yang sama diajarkan seorang ayah atau ibu pada anaknya, seorang kakek pada cucunya, seorang guru pada muridnya (Meski kita tahu hal ini sudah jarang terjadi, karena para guru tak ada waktu untuk mengajarkan budaya. Beban mata pelajaran yang harus diajarkan telah menyita waktu mereka. Mari berharap full day school akan membawa perubahan, walaupun saya pesimis). Otak seseorang akan merekam setiap suara dengan baik, sehingga suara itu bisa terus terdengar bahkan si pemilik suara telah tiada. Sekumpulan suara yang akan berasimilasi menjadi satu suara baru di dalam kepala si manusia.

Namun lupa adalah nature setiap manusia, entah disengaja ataupun tidak. Pada situasi tertentu otak berhasil menipu pemiliknya. Entah karena kurang minum air putih atau kurang makan ikan, ada kalanya otak mengkhianati sang pemilik (dalam hal ini kita, manusia) dengan cara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya ia melupakan apa kata suara yang pernah didengarnya. Ada otak manusia yang mendadak layu terhadap peristiwa penting di masa lalu, janji penting dengan calon klien, lupa menjemput pacar, lupa PIN ATM, lupa mengerjakan PR, dan lupa-lupa lainnya. 

Itu semua bukanlah dosa, kecuali kelupaan kita ‘berhasil’ mendatangkan masalah besar. Kecenderungan ini sering kali dimanfaatkan sekelompok manusia untuk menguasai sekelompok atau beberapa kelompok manusia lainnya demi mencapai tujuan pribadi. Caranya adalah dengan memborbardir otak manusia dengan suara-suara yang dikatakan sebagai fakta secara terus menerus, sampai otak manusia yang digunakan sebagai obyek menganggapnya sebagai kenyataan. Stagflasi ekonomi dunia cepat lambat akan berimbas pada ekonomi domestik. Dalam kondisi ekonomi baik-baik saja pun manusia harus berjuang mencari nafkah, apalagi dalam kondisi ekonomi lesu. Manusia jadi tidak punya waktu untuk mencerna informasi yang sibuk lalu lalang di depannya. Mau benar atau tidak, dia merasa itu bukanlah urusannya. Ia sudah terlalu lelah mencari uang untuk membeli beras, tak ada daya yang tersisa untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Tak ada waktu mendengarkan suara di dalam kepalanya. Lambat laun suara-suara itu menghilang dan tak terdengar lagi kabarnya, karena banyak orang kurang edukasi mengenai masalah kejiwaan dan mereka menyangka berdialog dengan diri sendiri adalah tanda kegilaan. 
 
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Namun itu bukan berarti dia harus terus menerus menyerahkan dirinya kepada mereka yang ada di sekitarnya. Orang tua bukanlah milik anak sepenuhnya, demikian juga sebaliknya. Suami dan istri saling memiliki, tetapi ada ruang bagi masing-masing untuk mendewasakan diri bersama waktu. Hidup berbaur bersama masyarakat sangat penting, apalagi sejarah membuktikan kesulitan bisa datang kapan saja dan masyarakat sekitar kitalah yang pertama kali datang menolong bila terjadi sesuatu. Akan tetapi, bagaimana bila keringantanganan masyarakat malah membuat kita malas untuk belajar mengatasi kesulitan seorang diri? Bagaimana bila kepercayaan diri kita terhadap kemampuan sendiri malah menjadi tembok penghalang antara kita dan realita sosial? Seperti apa sih aturan baku yang bisa menjadi garis merah bahwa kita sudah terlalu jauh masuk dalam kehidupan seseorang? Semua ini adalah suara dalam kepala yang sedang berdialog, melakukan eksperimen, mencari pemecahan masalah, yang bisa saja tidak akan terdengar bila manusia terlalu banyak menghabiskan waktu menanggapi suara banyak orang. 
(swastantika) 

Senin, 23 Mei 2016

WARISAN BOM WAKTU

Death is not the end

Apa yang terjadi ketika seseorang berhenti bernafas untuk selamanya? Tidak, kita tidak akan bicarakan tentang kemana nyawanya akan pergi. Neraka dan Surga memang dikenal di hampir semua agama, tapi tak ada seorang pun di antara kita yang tahu kebenarannya. Jangan sebut saya ateis loh. Kenyataannya, kita semua masih hidup bukan? Karena kita masih hidup, maka belum ada seorang pun di antara kita yang pernah pergi ke sana. Belum ada juga yang kembali dari sana dan menceritakannya buat kita semua di bawah sini. Tapi, sudahlah. Bukan itu tujuan saya membuat tulisan ini.

Waktu manusia mati, nyawanya memang telah pergi. Sedangkan tubuhnya masih tertinggal di bumi, dan membusuk bersama dengan waktu. Orang-orang akan bicara tentang dia dan sepak terjangnya waktu masih hidup. Ada juga yang mendoakannya pada tiap 7, 40, 100 hingga 1000 hari setelah kematiannya. Jika dia seorang public figure, kisah hidupnya akan berhari-hari menghiasi layar kaca dan media sosial. Beberapa tahun sesudahnya mungkin ada yang menulis buku tentang dia, membangun monumen atau menamai anjing kesayangan dengan namanya. Singkat kata, seseorang yang pergi ke alam baka pasti meninggalkan sesuatu di belakang. 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan hutang. Bukan maksud saya menertawakan ketidakberuntungan seseorang. Lagipula, sejak kapan gading gajah utuh dibiarkan menempel di sana ketika gajahnya mati? Bukankah dalam banyak kasus perburuan liar gajah harus mati dulu dengan cara disembelih agar bisa diambil gadingnya dengan paksa, dan sekelompok pejantan akan bersedia membelinya dengan harga mahal demi meningkatkan kejantanan mereka?

Memendam bom waktu rahasia

Rayuan materi yang semakin menggila bisa menghanyutkan orang pada dua samudra. Samudra dengan ombak tenggat waktu yang ganas dan tak putus-putus, buih-buih ketenaran dan gelombang pujian. Orang-orang itu berpikir, hidup adalah mereka dan apa yang ada di diri mereka. Hidup adalah hari ini, maka nikmatilah dan kejarlah kegemilangan sebelum mati. Kegemilangan bisa dicapai dengan berbagai cara, tapi cara yang sedang ngetren belakangan ini adalah menghalalkan segala cara. Jikalau perlu dan berpeluang, mereka akan membuat dasar hukum yang bisa melegitimasi cara ‘menghalalkan segala cara’. 

Suatu saat nanti, anak, cucu, anak dari cucu kita dan cucu dari cucu kita mungkin masih akan menerapkan cara menghalalkan segala cara, bahkan mungkin sudah mengupgradenya hingga ratusan ribuan versi. Itu karena mereka adalah generasi penerus yang baik, generasi pewaris nan setia pada ajaran generasi pendahulu yang lebih dulu menerapkannya.

Mereka mungkin juga masih ingat pepatah yang kurang lebih berbunyi seperti ini dalam bahasa Jawa : ‘mikul dhuwur mendhem jero.’ Artinya, memikul tinggi-tinggi mengubur dalam-dalam. Seorang anak atau warga Negara sebaiknya mengubur dalam-dalam keburukan, kekurangan maupun aib orangtua atau masyarakat tempat di mana ia tinggal. Menjelek-jelekkan para pendahulu sama dengan melestarikan dendam dan permusuhan. Pepatah ini disebarluaskan dengan tujuan agar semua individu segera move on dari peristiwa pahit apapun dan mengharumkan nama baik keluarga atau Negara.

Kewajiban ‘demi mengharumkan nama …’ dibebankan kepada semua warga Negara, tua, muda, anak-anak, bahkan mereka yang belum lahir juga mendapat hadiah ini. Kebiasaan mengubur dalam-dalam membuat kita lupa, apakah melupakan peristiwa pahit dan menganggapnya tak pernah ada adalah cara terbaik untuk mencegah peristiwa pahit serupa tidak terulang lagi?  

Pembuat pepatah ini mungkin benar-benar hidup di masa lalu, di mana fenomena supranatural seperti sebuah peristiwa yang mendadak muncul dan menghilang adalah sesuatu yang biasa. Namun, waktu terus berjalan. Hantu bukan lagi tercipta dari arwah penasaran, melainkan efek animasi. Peristiwa buruk terjadi bukan karena seseorang sedang mempraktekkan ilmu hitam, melainkan hasil dari sekumpulan peristiwa yang saling berkaitan.

Kita menjadi bangsa terbelakang bukan karena bodoh atau gagap teknologi. Kita terlalu banyak menyimpan sampah, sehingga tak ada ruang dalam istana pikiran kita untuk menanam hal-hal baik yang lebih konstruktif. Terlalu banyak aib dan peristiwa buruk yang dikunci dalam brankas, disimpan dan ditumpuk sampai tinggi, sampai tak ada brankas apapun yang bisa menyimpannya. Akan tiba saatnya brankas itu akan meledak karena terlalu banyak rahasia yang disimpan di dalamnya. Kita sedang membuat bom waktu dan kita tak tahu kapan bom ini bisa meledak.

Melestarikan ‘peninggalan’ para pendahulu

Ada kemungkinan Bumi ini akan hancur bukan karena bencana alam, bukan juga karena tertelan Black Hole. Melainkan akibat semakin meningkatnya jumlah orang yang tidak sadar kalau mereka sedang sakit jiwa. Mereka juga bukan orang gila sembarangan yang benar-benar tak tahu siapa dirinya dan dibuang keluarganya jauh-jauh. Golongan yang saya maksud bertingkah seperti orang normal dan berpikir delusional. Mereka menjadi gila karena kehilangan kemampuan menerima dan memahami mana yang impian dan mana yang kenyataan. Bagaimana pun juga, segila-gilanya orang gila ia tidak berbahaya bagi siapapun, atau Negara manapun. Orang yang merasa benar padahal dirinya salah, itulah orang yang paling berbahaya di muka Bumi ini.

Apakah salah kalau saya simpulkan para pendahulu kita itu ternyata sekelompok orang egois dan paranoid? Mereka telah lama tiada dan tak perlu menanggung konsekuensi dari prinsip selalu menyimpan aib rapat-rapat. Kematian telah menyelamatkan muka orang-orang semacam ini karena mereka tak harus menyaksikan di kala banyak orang beramai-ramai menumpahkan kesalahan padanya. Lebih baik mati daripada menanggung malu. Jadi sekarang kita tahu kan, depresi bukan satu-satunya pemicu tindakan bunuh diri.

Saya pernah membaca sebuah diskusi di jejaring sosial Quora yang membicarakan tentang seperti apa rasanya menjadi keturunan dari nenek moyang yang pernah melakukan perbuatan buruk dan memalukan. Para penjawab pertanyaan ini mengakui mereka adalah keturunan dari keluarga tidak baik-baik. Ada yang kakek moyangnya perampok bank, suka menyiksa anak-anak, pedagang budak, terlibat Nazi, penggiat Klu Klux Klan dan ada juga yang pernah terlibat penculikan dan penyiksaan kaum komunis di Brazil.

Mereka mendeskripsikan semua hal buruk yang pernah dilakukan pendahulunya dengan sangat detil, hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi di sini. Mereka tidak merasa bersalah atau merasa bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan nenek moyang mereka. Mengapa harus merasa bersalah atas perbuatan anggota keluarga yang telah mati berpuluh tahun sebelum mereka lahir?

Mereka tahu perbuatan yang dilakukan para nenek moyang jauh dari benar, dan mereka mengakuinya. Sifat alami manusia, kata mereka, adalah tidak luput dari kesalahan. Semua yang alami itu memberi kehidupan, tapi sifat alami manusia cenderung untuk selalu merusaknya. Apakah kita bisa menerima alasan ‘sifat manusia yang tak luput dari kesalahan’, atau ‘manusia tak ada yang sempurna’ ini sebagai alasan untuk menjustifikasi kesalahan para nenek moyang, untuk menguburnya dalam-dalam sampai ke dasar dunia?

Tentu bisa. Tapi kesalahan yang mana? (swastantika).

Senin, 14 Desember 2015

Mirror

Pahlawan Berkepribadian Ganda

Siapa sih dia? Mengapa dia dijuluki pahlawan, dan mengapa pula dia harus kita akui sebagai pahlawan? Kita sebenarnya sudah tahu apa jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Hanya saja, pahlawan dalam dunia nyata sering kali menimbulkan pro dan kontra dan bukannya kekaguman seperti yang kita rasakan pada para tokoh superhero dunia khayalan. Selaras dengan sebuah pertanyaan klasik, ‘mengapa seseorang yang membunuh musuhnya dalam perang dianggap pahlawan, sedangkan seseorang yang membunuh musuhnya dalam perkelahian di bar disebut pembunuh?’

Industri komik dan animasi melahirkan ratusan tokoh superhero setiap tahun, bahkan mungkin setiap minggu. Tapi saya hanya mengenal satu dan dia bernama Batman. Buat saya dialah satu-satunya superhero yang mendekati kenyataan karena dia tak punya kekuatan super yang jatuh dari langit, namun syukurlah ia anak orang kaya sehingga tak pernah kekurangan uang untuk meneruskan hobinya menegakkan kebenaran.

Di siang hari Bruce Wayne adalah seorang pebisnis, milyuner yang dikelilingi banyak wanita dan pusat perhatian media massa. Di malam hari ia suka berjalan-jalan sendiri, berkostum hitam-hitam, berdiri di atap gedung tinggi mencari-cari orang jahat yang mengganggu ketertiban umum. 

Mengapa Bruce mau capek-capek menangkap maling di kala semua orang sedang tertidur? Apakah karena ia memang bercita-cita jadi polisi sejak kecil karena kedekatannya dengan Jim Gordon, seorang polisi yang menemaninya tepat di saat orangtuanya terbunuh? Atau karena ia benar-benar ingin mengamankan situasi Gotham, karena suasana kacau tak baik untuk bisnis?  Atau mungkin karena ia menderita dissociative personality disorder (gangguan kepribadian terbelah) akibat trauma masa kecil?

Jauh sebelum Bob Kane menciptakan Batman, ratusan tahun sebelumnya kitab Mahabharata sudah muncul duluan dan kita bisa menemukan banyak sekali tokoh penyelamat di dalamnya dengan permasalahan personal mereka sendiri. Di sisi Pandawa kita pasti udah kenal sama yang namanya Arjuna, si pahlawan yang gagah perkasa dan ganteng pula. Namun semua kekuatannya seakan sirna dan ia seakan lumpuh ketika istrinya, Drupadi, (atau kakak iparnya kalo menurut versi Jawa) dipermalukan di depan umum dalam permainan dadu. Seperti Bruce Wayne, Arjuna disinyalir juga mengalami dissociative personality disorder karena ia berhasil menyamar menjadi banci bernama Brihanala selama dua tahun tanpa ketahuan saat menjalankan misi penyamaran di Kerajaan Wirata.

Dari sini kita bisa mengumpulkan berbagai persamaan dari dua tokoh legendaris dari jaman yang berbeda, sama-sama gagah, pembela kebenaran, ganteng, pujaan wanita, kaya, terkenal, tapi juga sama-sama berkepribadian ganda/ terbelah, dan dua-duanya juga sanggup melakukan apapun demi menaklukkan musuhnya, termasuk membunuh. Singkat kata, ketidaksempurnaan itu selalu ada di setiap makhluk, termasuk pada para pahlawan.


Harapan, sumber segala bencana

Ketika kita masih anak-anak, dunia tampak lebih indah karena kita belum tahu pahit getirnya mencari nafkah, maupun dendam membara akibat cinta yang ditolak. Kita dididik untuk selalu condong pada sisi kebenaran, sisi orang baik-baik, karena orangtua mana yang tak hancur hatinya melihat anaknya menderita akibat perbuatan yang salah. Karena penjara pasti akan penuh sesak jika semua anak di dunia ini menjadi penjahat.

Akan tetapi, dunia nyata, sekali lagi, seringkali bertolak belakang dari konsep kehidupan ideal yang sudah ditanamkan dalam otak kita sejak usia dini. Dalam kehidupan nyata kejahatan lebih sulit ditaklukkan, karena para penjahat selalu mempunyai cara baru untuk menjalankan misinya, selalu bisa mencari kolega-kolega baru untuk mencapai tujuannya. Tujuan mereka pun semakin bervariasi, mulai dari memperkaya diri atau sengaja berbuat onar atas perintah penjahat yang jauh lebih jahat dari dirinya atau seseorang penjahat lain yang (ternyata) menderita sindrom kepribadian terbelah, yaitu ingin menjadi orang baik dengan cara yang jahat.

Dalam jiwa seseorang semacam ini tersembunyi harapan dan cita-cita yang tinggi, namun ia ogah bekerja keras untuk mencapai tujuannya. Cara singkat yang dipilihnya juga bervariasi, mulai dari menjual jiwanya kepada iblis, hingga menjual nuraninya kepada uang. Dari menjual sensasi demi ketenaran, sampai menjual alam kepada pemilik modal. Maka orangtua sebaiknya jangan menaruh harapan yang terlalu tinggi kepada anak, kecuali Anda bisa mengetahui karakternya sejak ia dilahirkan. Harapan yang tinggi memang baik untuk dijadikan motivasi, tapi bukan itu saja yang bisa dilakukan sebuah hal bernama harapan.

Dilihat dari arti katanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harap berarti keinginan akan sesuatu agar terjadi. Sedangkan keinginan ada kaitannya dengan nafsu, dengan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini tapi kita berandai-andai agar sesuatu itu ada dan menjadi milik kita. Saat mencermati asal katanya saja kita sudah bisa menyimpulkan, harapan cenderung menyesatkan dan menjadi beban hati karena dengan berharap kita mengarahkan diri kita untuk mendekati khayalan tentang apa yang tidak/ belum kita miliki saat ini sehingga menjauhkan diri dari kenyataan.

Percaya atau tidak, penggemar DC Comics yang berusia dewasa telah mengganti pahlawan mereka dari Batman menjadi Joker. Mereka bilang, Jokerlah yang sebenarnya pantas dianggap pahlawan. Apakah mereka juga gila seperti Joker? Mungkin tidak, mereka mungkin hanya menderita putus asa berkepanjangan melihat segala kekacauan terus berlangsung di dunia dan tak pernah ada Batman yang cukup perkasa untuk mengalahkan mereka semua.

Satu alasan yang membuat fans mengidolakan Joker adalah kelihaiannya merancang satu bom untuk membumihanguskan Kota Gotham dalam waktu singkat. Saat Kota Gotham dihancurkan, orang baik mungkin akan banyak yang mati, tapi orang jahat juga banyak yang mati kan? Hukum sudah gagal menjalankan khittahnya sebagai payung penjamin keadilan umat manusia, kenapa nggak kita coba sebuah cara baru yang lebih cepat, tepat dan ‘fun’? Mungkin itu yang mereka pikirkan.

Ya, harapan mereka akan kehidupan yang lebih baik ternyata hampa belaka dan palsu. Menyalahkan para pemimpin lokal dan dunia tiada berarti lagi. Karena mereka, para pemimpin, itu sudah depresi dan tak mampu lagi mendengar suara apapun selain suaranya sendiri. Menyesali tindakan atau aktivitas berharap yang dulu pernah kita lakukan, atau menyesali harapan yang tersia-sia, atau menyesali keputusan karena berharap pada seseorang yang ternyata tidak capable tidaklah cukup. Cara mengatasi kesemerawutan ini hanya ada satu jalan, yaitu jangan berhenti berjalan dan jangan berharap lagi.  

Strategi rayuan gombal

Kita tahu orang Jawa jaman dahulu selalu meletakkan keris, senjata andalannya, di punggung. Mengapa harus di punggung? Mengapa tidak diselipkan di dada, atau di pinggang? Meletakkan senjata tajam di pinggang memang tampak lebih praktis karena senjata lebih mudah dijangkau. Tapi musuh dapat dengan mudah membaca gesture tubuh Anda yang bersiap hendak menyerang dan ia bisa lebih dulu menyerang Anda.

Lain hal kalo kita meletakkan senjata di punggung. Musuh di depan tidak bisa melihat apakah kita membawa senjata atau tidak. Dia juga tidak bisa memastikan apakah tangan kita sedang garuk-garuk punggung atau mencomot senjata. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar mengamati musuh dan memutuskan saat yang tepat mencabut keris dengan perkasa.

Strategi ini sesuai sekali dengan karakter orang Jawa yang lemah lembut dan cenderung menjaga perasaan orang lain. Untuk menghindari konfrontasi mereka tak segan menampakkan persetujuan, meski dalam hatinya memberontak. Namun tujuan strategi keris pun telah bergeser seiring dengan berlalunya waktu.

Di masa lalu orang menyimpan keris di belakang punggung dengan tujuan untuk membela dan mempertahankan diri. Di masa kini orang menyimpan wajah buruknya di belakang punggung agar dapat merayu seseorang jatuh dalam pelukannya dan memberikan apa yang ia inginkan.

Demi meraih tujuan mereka mampu bersikap baik dan memasang senyum selebar mungkin untuk menutupi sadisme dalam dirinya. Apakah sebutan yang patut kita berikan pada orang yang tetap mampu tertawa lebar setelah membunuh ratusan jiwa manusia?

Ironisnya, sindrom ini telah menyebar luas ke berbagai tempat belakangan ini. Di dalam komik seorang tokoh memanfaatkan gangguan jiwa yang dialami akibat kepribadian terbelah untuk membasmi kejahatan. Di dunia nyata seseorang bisa tampil bak malaikat dengan tujuan membaik-baikkan dirinya dan menutupi perbuatan jahat yang dilakukannya di belakang layar. Sekarang siapa yang lebih terganggu jiwanya, mereka yang ada di rumah sakit jiwa atau mereka yang setiap hari tampil di televisi sebagai pejabat dan politikus?


Tulisan ini saya tutup dengan sebuah kesimpulan, bahwa berterus terang bahwa kita ini adalah orang jahat ternyata lebih sulit daripada berterus terang kita ini orang baik. Sebuah noda tak akan pernah hilang dengan hanya disembunyikan. Layar yang menutupi noda itu harus diangkat dan terlihat sebelum kita bisa memutuskan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk membersihkan npda itu untuk selamanya. (swastantika) 

Kamis, 20 Agustus 2015

KEMBALI KE AKAR

        “Why do we fall, Sir?” (A. Pennyworth)

Ya, ‘why do we fall? (kenapa kita tersungkur?). Jaman dulu para pengasuh bayi akan memukul lantai, meja atau apapun karena gara-gara benda-benda mati itulah si anak balita terjatuh, sambil mengatakan “Oh, mejanya nakal sih. Nih biar Emak pukul,” atau sejenisnya. Padahal meja, lantai, kursi, batu, dsb sudah berdiam diri di sana sejak sebelum si anak bermain di sekitarnya, bahkan ada juga yang sudah membatu di tempat yang sama sejak si anak belum lahir. Kecuali, tentu saja, rumah yang dihuni anak dan pengasuhnya ini dihuni oleh makhluk halus yang gemar memindah-mindahkan barang tanpa sepengetahuan pengasuh maupun si anak itu sendiri. Sejak detik itulah si anak akan terbiasa dengan perasaan bahwa kesialan yang menimpanya bukan akibat kecerobohannya melainkan kecerobohan orang lain, atau bisa juga kecerobohan si hantu yang usil. 

Beratnya mengakui sejarah


Sejak masih sekolah kita selalu diajarkan tentang pelajaran sejarah yang dari tahun ke tahun isinya tetap sama, dan sedikit berubah semenjak Mei 1998, terus berubah lagi setiap ada pergantian presiden dan para menterinya. Selama itu pula kita diajarkan untuk membenci para penjajah karena kerakusan mereka maka nenek moyang kita menderita selama 350 tahun. Karena kekejaman mereka nenek moyang kita tewas bukan di medan perang, tapi dalam perbudakan menjadi tenaga kerja paksa tanpa upah dan makanan yang layak.

Saya yakin para penjajah tersebut adalah orang-orang baik di negara asalnya, di kampungnya dan di rumahnya masing-masing. Apakah mungkin hawa panas katulistiwa ini yang membuat mereka menjadi ‘haus darah’? Itu bisa jadi. Karena berdasarkan sebuah penelitian di akhir tahun 2014 pemanasan global telah membuat banyak orang semakin emosional dan meningkatkan angka kriminalitas.

Tapi di awal abad ke-20, di saat-saat awal di mana menjajah adalah sebuah mainstream di kalangan negara-negara maju, global warming belum menjadi sebuah tren karena jumlah pabrik lebih sedikit, mobil-mobil lebih sedikit dan jumlan manusia yang lebih sedikit. Kalau begitu, apa mungkin para penjajah itu tidak memiliki keimanan yang kuat sehingga mereka dirasuki iblis banaspati yang saat itu konon masih berkeliaran di hutan-hutan, dan berubah menjadi monster tanpa peri kemanusiaan?

Lalu di manakah para raja domestik kita berada, sebegitu teganyakah mereka berdiam diri melihat penderitaan rakyat dan menyerahkan daerah kekuasaannya yang mampu menghasilkan emas kuning, hitam, coklat dan abu-abu ke tangan pendatang yang sok jago secara sukarela? Ya, benar. Beberapa orang raja lokal. Bahkan seandainya sejarah yang benar di negara kita tak pernah tertuliskan, kita masih bisa mengambil kesimpulan dengan menggunakan logika. Bahwa ada sebagian oknum penguasa (di masa lalu, kini dan nanti) yang memang telah dengan sengaja membiarkan, melegalkan dan mempersilakan Tanah Airnya untuk dijajah.

Untuk dapat mengungkap siapa sajakah di antara para nenek moyang kita yang telah melakukan kekhilafan fatal tersebut, pertama-tama dibutuhkan pikiran terbuka dan kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Karena kita mungkin akan terpana begitu mengetahui siapa saja para raja lokal yang pernah bekerja sama dengan penjajah dari negara lain, memperluas wilayah kekuasaan dengan menjajah kerajaan-kerajaan kecil, merebut takhta dengan jalan kekerasan, menyebarkan agama dengan paksaan, beristri lebih dari satu dan alkoholik. However, para nenek moyang kita hanyalah manusia biasa yang tak sempurna. Sejarah yang benar dituliskan bukan untuk mem-bully mereka yang telah pergi ke Nirwana. Bukan juga untuk mempermalukan anak dan keturunan mereka dalam pergaulan sosial. 

Melainkan sebagai bahan renungan, cerminan, refleksi dan pelajaran berharga tentang keabadian hukum sebab akibat. Bahwa sebab seseorang tidak mengakui telah melakukan kesalahan, terjerembablah ia di lubang kesalahan yang sama di masa depan. Meski manusia telah diberikan pelajaran tentang mana yang benar dan salah sejak berusia dini, tetap saja ia hanya mendengar apa yang ingin ia dengar. Tak masalah jika yang ingin didengarnya adalah ‘kebenaran’. Tapi bagaimana jika yang ingin ia dengarkan adalah ‘aku yang benar’? Bersiaplah saja untuk mengucapkan selamat tinggal pada kebenaran karena kita tak akan pernah menemukannya di manapun selama kita tak rela bernenekmoyangkan orang-orang yang tidak suci.

(Pura-pura) Bangkit dari kejatuhan

Tapi .. tunggu dulu. Cobalah kita perhatikan siklus yang terjadi di sekitar tuntutan terhadap pelurusan sejarah negeri ini. Suatu hari pihak sini membatu terhadap pertanyaan tentang di manakah anak, ayah, ibu, saudara, kakek, nenek, tetangga, kekasih dan mantan pacar mereka yang hilang tanpa kabar dan tak jelas apakah mereka sudah jadi tulang belulang ataukah masih hidup. Tunggulah beberapa hari kemudian (biasanya) akan muncul sekonyong-konyong massa yang tak jelas dari mana asalnya atau silsilah berdirinya menuntut pemberangusan, pencekalan dan pembasmian paham komunisme.

Saya mengira massa ini hidup di tengah masyarakat tanpa televisi, radio, smartphone dan internet karena mereka tidak mengerti bahwa komunisme sudah tamat sejak satu dekade lalu. Mereka (mungkin) telah hidup dengan sangat berkecukupan, makan 3 kali sehari pakai daging sapi, beras rojolele, pergi kemana-mana naik mobil, anak-anak mereka kemungkinan bersekolah di sekolah swasta terbaik yang membebaskan orangtua siswa dari segala pungutan, rumah mereka besar dan ber-AC dan listrik gratis. Massa yang hidup mewah tak punya waktu memikirkan apa yang musti dimakan atau dari mana dapat uang esok hari karena semua sudah tersedia. Sehingga pikiran mereka bernostalgia ke masa lalu, ke masa yang hanya hidup dalam cerita para elders, tepat di tahun 1965 ketika mereka masih balita (atau mungkin belum lahir) dan mengenang paranoia yang dirasakan segelintir orang saat itu.

Bisa jadi para elders mereka adalah penderita buta warna, karena tak bisa melihat warna merah darah para korban yang mengotori sungai-sungai di berbagai kota di Jawa. Mungkin mereka juga tuli, lantaran tak bisa mendengar suara tembakan senapan dan jeritan para korban pada malam-malam paling kelam dalam sejarah sebuah negara bernama Indonesia. Saya nggak akan bilang begini jika saya tak punya bukti, Jendral.

Karena negara tak pernah mengakui bahwa 1965 adalah sebuah kesalahan, maka terulangilah kesalahan itu lagi di tahun-tahun berikutnya. Anda pasti sudah tahu peristiwa apa sajakah itu. Please, jangan paksa dan buat hati saya sedih karena menyebutkan peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Jika peristiwa-peristiwa semua bukanlah kesalahan, lalu apa? Retorika yang dibuat oleh pihak sana yang tak ingin mengakuinya hanya makin mengukuhkan kesan bahwa mereka tahu kebenarannya, kebenaran yang sangat menyakitkan untuk diakui sebagai sebuah kenyataan.

Bukti? Ya, ibaratnya begini: peringatan 17 Agustus beberapa waktu lalu menumbuhkan semacam keyakinan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang menghargai jasa para pahlawannya, bla bla bla. Sebagai bangsa dengan adat ketimuran yang tinggi dan menjunjung tinggi harkat serta martabatnya dalam pergaulan internasional tentu akan malu jika memiliki noda hitam yang tak bisa dicuci seperti peristiwa-peristiwa unexplained tersebut dan akan bertindak untuk mengakhiri siksaan rasa malu itu selamanya.

Tapi kita adalah bangsa yang sangat praktis, segala sesuatu dilihat dari nilai ekonomi, jadi kalo nggak menguntungkan dari sisi ekonomi ya tinggalkan saja. Mengapa pola pikir praktis itu tidak terlihat dalam upaya penyelesaian peristiwa-peristiwa kelam? Jangan-jangan kita memang sebenarnya hanya pura-pura; pura-pura pintar, pura-pura praktis dan pura-pura berharkat dan martabat tinggi.

Saran saya, Pak Bos, gunakanlah isu-isu yang lebih sophisticated lagi, lebih kekinian agar kebangkitan dari kejatuhan yang pura-pura itu bisa menjadi kenyataan dan kita tak perlu lagi menjadi bangsa yang berpura-pura memiliki harkat dan martabat tinggi. Isu komunisme itu sudah out of date, dan kini para arwah korban unsolved tragedies penghuni alam baka mungkin sedang menertawakan Anda, saya dan kejatuhan kita berulang kali di kesalahan yang sama . (da)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...