Selasa, 25 Agustus 2015
Kamis, 20 Agustus 2015
KEMBALI KE AKAR
“Why
do we fall, Sir?” (A. Pennyworth)
Ya, ‘why do we fall? (kenapa kita tersungkur?). Jaman dulu para pengasuh bayi
akan memukul lantai, meja atau apapun karena gara-gara benda-benda mati itulah
si anak balita terjatuh, sambil mengatakan “Oh, mejanya nakal sih. Nih biar
Emak pukul,” atau sejenisnya. Padahal meja, lantai, kursi, batu, dsb sudah
berdiam diri di sana sejak sebelum si anak bermain di sekitarnya, bahkan ada
juga yang sudah membatu di tempat yang sama sejak si anak belum lahir. Kecuali,
tentu saja, rumah yang dihuni anak dan pengasuhnya ini dihuni oleh makhluk
halus yang gemar memindah-mindahkan barang tanpa sepengetahuan pengasuh maupun
si anak itu sendiri. Sejak detik itulah si anak akan terbiasa dengan perasaan
bahwa kesialan yang menimpanya bukan akibat kecerobohannya melainkan
kecerobohan orang lain, atau bisa juga kecerobohan si hantu yang usil.
Beratnya mengakui sejarah
Beratnya mengakui sejarah
Sejak masih sekolah kita selalu diajarkan tentang pelajaran sejarah yang dari
tahun ke tahun isinya tetap sama, dan sedikit berubah semenjak Mei 1998, terus
berubah lagi setiap ada pergantian presiden dan para menterinya. Selama itu
pula kita diajarkan untuk membenci para penjajah karena kerakusan mereka maka
nenek moyang kita menderita selama 350 tahun. Karena kekejaman mereka nenek
moyang kita tewas bukan di medan perang, tapi dalam perbudakan menjadi tenaga
kerja paksa tanpa upah dan makanan yang layak.
Saya
yakin para penjajah tersebut adalah orang-orang baik di negara asalnya, di
kampungnya dan di rumahnya masing-masing. Apakah mungkin hawa panas katulistiwa
ini yang membuat mereka menjadi ‘haus darah’? Itu bisa jadi. Karena berdasarkan
sebuah penelitian di akhir tahun 2014 pemanasan global telah membuat banyak
orang semakin emosional dan meningkatkan angka kriminalitas.
Tapi
di awal abad ke-20, di saat-saat awal di mana menjajah adalah sebuah mainstream di kalangan negara-negara
maju, global warming belum menjadi
sebuah tren karena jumlah pabrik lebih sedikit, mobil-mobil lebih sedikit dan
jumlan manusia yang lebih sedikit. Kalau begitu, apa mungkin para penjajah itu
tidak memiliki keimanan yang kuat sehingga mereka dirasuki iblis banaspati yang saat itu konon masih
berkeliaran di hutan-hutan, dan berubah menjadi monster tanpa peri kemanusiaan?
Lalu
di manakah para raja domestik kita berada, sebegitu teganyakah mereka berdiam
diri melihat penderitaan rakyat dan menyerahkan daerah kekuasaannya yang mampu
menghasilkan emas kuning, hitam, coklat dan abu-abu ke tangan pendatang yang
sok jago secara sukarela? Ya, benar. Beberapa orang raja lokal. Bahkan
seandainya sejarah yang benar di
negara kita tak pernah tertuliskan, kita masih bisa mengambil kesimpulan dengan
menggunakan logika. Bahwa ada sebagian oknum
penguasa (di masa lalu, kini dan nanti) yang memang telah dengan sengaja
membiarkan, melegalkan dan mempersilakan Tanah Airnya untuk dijajah.
Untuk
dapat mengungkap siapa sajakah di antara para nenek moyang kita yang telah
melakukan kekhilafan fatal tersebut, pertama-tama dibutuhkan pikiran terbuka
dan kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Karena kita mungkin akan terpana
begitu mengetahui siapa saja para raja lokal yang pernah bekerja sama dengan
penjajah dari negara lain, memperluas wilayah kekuasaan dengan menjajah
kerajaan-kerajaan kecil, merebut takhta dengan jalan kekerasan, menyebarkan
agama dengan paksaan, beristri lebih dari satu dan alkoholik. However, para nenek moyang kita hanyalah
manusia biasa yang tak sempurna. Sejarah yang benar dituliskan bukan untuk mem-bully mereka yang telah pergi ke Nirwana. Bukan juga untuk
mempermalukan anak dan keturunan mereka dalam pergaulan sosial.
Melainkan
sebagai bahan renungan, cerminan, refleksi dan pelajaran berharga tentang
keabadian hukum sebab akibat. Bahwa sebab seseorang tidak mengakui telah
melakukan kesalahan, terjerembablah ia di lubang kesalahan yang sama di masa
depan. Meski manusia telah diberikan pelajaran tentang mana yang benar dan
salah sejak berusia dini, tetap saja ia hanya mendengar apa yang ingin ia
dengar. Tak masalah jika yang ingin didengarnya adalah ‘kebenaran’. Tapi
bagaimana jika yang ingin ia dengarkan adalah ‘aku yang benar’? Bersiaplah saja
untuk mengucapkan selamat tinggal pada kebenaran karena kita tak akan pernah
menemukannya di manapun selama kita tak rela bernenekmoyangkan orang-orang yang
tidak suci.
(Pura-pura) Bangkit dari kejatuhan
Tapi
.. tunggu dulu. Cobalah kita perhatikan siklus yang terjadi di sekitar tuntutan
terhadap pelurusan sejarah negeri ini. Suatu hari pihak sini membatu terhadap
pertanyaan tentang di manakah anak, ayah, ibu, saudara, kakek, nenek, tetangga,
kekasih dan mantan pacar mereka yang hilang tanpa kabar dan tak jelas apakah
mereka sudah jadi tulang belulang ataukah masih hidup. Tunggulah beberapa hari
kemudian (biasanya) akan muncul sekonyong-konyong massa yang tak jelas dari
mana asalnya atau silsilah berdirinya menuntut pemberangusan, pencekalan dan
pembasmian paham komunisme.
Saya
mengira massa ini hidup di tengah masyarakat tanpa televisi, radio, smartphone
dan internet karena mereka tidak mengerti bahwa komunisme sudah tamat sejak
satu dekade lalu. Mereka (mungkin) telah hidup dengan sangat berkecukupan,
makan 3 kali sehari pakai daging sapi, beras rojolele, pergi kemana-mana naik
mobil, anak-anak mereka kemungkinan bersekolah di sekolah swasta terbaik yang
membebaskan orangtua siswa dari segala pungutan, rumah mereka besar dan ber-AC
dan listrik gratis. Massa yang hidup mewah tak punya waktu memikirkan apa yang
musti dimakan atau dari mana dapat uang esok hari karena semua sudah tersedia.
Sehingga pikiran mereka bernostalgia ke masa lalu, ke masa yang hanya hidup
dalam cerita para elders, tepat di
tahun 1965 ketika mereka masih balita (atau mungkin belum lahir) dan mengenang
paranoia yang dirasakan segelintir orang saat itu.
Bisa
jadi para elders mereka adalah
penderita buta warna, karena tak bisa melihat warna merah darah para korban
yang mengotori sungai-sungai di berbagai kota di Jawa. Mungkin mereka juga
tuli, lantaran tak bisa mendengar suara tembakan senapan dan jeritan para
korban pada malam-malam paling kelam dalam sejarah sebuah negara bernama
Indonesia. Saya nggak akan bilang begini jika saya tak punya bukti, Jendral.
Karena
negara tak pernah mengakui bahwa 1965 adalah sebuah kesalahan, maka
terulangilah kesalahan itu lagi di tahun-tahun berikutnya. Anda pasti sudah
tahu peristiwa apa sajakah itu. Please,
jangan paksa dan buat hati saya sedih karena menyebutkan peristiwa-peristiwa
tersebut satu per satu. Jika peristiwa-peristiwa semua bukanlah kesalahan, lalu
apa? Retorika yang dibuat oleh pihak sana yang tak ingin mengakuinya hanya
makin mengukuhkan kesan bahwa mereka tahu kebenarannya, kebenaran yang sangat
menyakitkan untuk diakui sebagai sebuah kenyataan.
Bukti?
Ya, ibaratnya begini: peringatan 17 Agustus beberapa waktu lalu menumbuhkan
semacam keyakinan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang menghargai
jasa para pahlawannya, bla bla bla. Sebagai bangsa dengan adat ketimuran yang
tinggi dan menjunjung tinggi harkat serta martabatnya dalam pergaulan
internasional tentu akan malu jika memiliki noda hitam yang tak bisa dicuci
seperti peristiwa-peristiwa unexplained
tersebut dan akan bertindak untuk mengakhiri siksaan rasa malu itu selamanya.
Tapi
kita adalah bangsa yang sangat praktis, segala sesuatu dilihat dari nilai
ekonomi, jadi kalo nggak menguntungkan dari sisi ekonomi ya tinggalkan saja.
Mengapa pola pikir praktis itu tidak terlihat dalam upaya penyelesaian
peristiwa-peristiwa kelam? Jangan-jangan kita memang sebenarnya hanya
pura-pura; pura-pura pintar, pura-pura praktis dan pura-pura berharkat dan
martabat tinggi.
Saran
saya, Pak Bos, gunakanlah isu-isu yang lebih sophisticated lagi, lebih kekinian agar kebangkitan dari kejatuhan
yang pura-pura itu bisa menjadi kenyataan dan kita tak perlu lagi menjadi
bangsa yang berpura-pura memiliki harkat dan martabat tinggi. Isu komunisme itu
sudah out of date, dan kini para
arwah korban unsolved tragedies penghuni alam baka
mungkin sedang menertawakan Anda, saya dan kejatuhan kita berulang kali di kesalahan yang sama . (da)
Kamis, 16 Juli 2015
BEKERJA TANPA PAMRIH, MASIH ADAKAH?
Without hope and
with the mind and the self controlled, having abandoned all greed,doing mere bodily action, he incurs no sin (Bhagavad Gita)
Meski saya tidak
ikut teman-teman memilih Sang Bapak yang sekarang menjadi Presiden, maupun
pesaingnya, saya senang mendengar pidato yang beliau sampaikan di hari
pelantikannya. Pidato yang menegaskan komitmen Presiden baru RI terhadap kerja
keras untuk memakmurkan rakyat semacam ini jelas berbeda dengan pidato
kenegaraan yang sudah-sudah, termasuk pidato Presiden lama yang baru saja turun
takhta. Rasanya sudah lama sekali kita tidak mendengar ucapan-ucapan positif
semacam ini dari para pemimpin. Dan pidato Bapak kita yang baru ini ibarat
tetesan air hujan di tengah siang bolong yang kering kerontang.
Memang sih, tanpa
harus menunggu pidato kenegaraan itu pun kita semua tahu bahwa bekerja adalah
mutlak hukumnya bagi semua manusia yang hidup dan telah melewati masa akil
baliknya. Buat mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, bekerja adalah
sebuah keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Apalagi sekarang saat
segalanya nyaris tak ada yang murah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi
dengan dapur di rumah jika kita tidak bekerja. Jangankan untuk mengobarkan
sebuah perang dengan pasangan tercinta, untuk bangkit dari tempat tidurpun
mungkin kita tak akan berdaya karena tidak tahu apa yang akan kita kerjakan
ketika kita membuka mata di pagi hari.
Ya, bahkan
bayangan tentang apa yang akan kita lakukan di esok hari sudah terpikirkan
sejak malam sebelumnya, sejak kita masih melek menonton film India kesayangan
atau sedang merokok di teras memandangi bulan. Bagi sebagian orang yang bekerja
di tempat dengan rutinitas ketat, baik di kantor, di pabrik, atau di rumah,
hari-hari yang akan mereka lalui seminggu, setahun atau bertahun-tahun ke depan
sudah tergambar dengan jelas.
Mungkin mereka
ingin membebaskan diri dari belenggu ini, namun dapatkah anak-anak mereka
bersekolah dan jajan dengan layak ketika mereka tak lagi bekerja? Bagaimana
cara membeli beras atau melunasi kredit sepeda motor? Dengan apa musti membayar
rumah kontrakan? Bagaimana menenangkan hati istri, atau suami, atau pasangan? Karena
mereka pasti akan lebih galau daripada kita ketika tahu kita tidak lagi bekerja,
bener nggak sih?
Perubahan yang tak sekonyong-konyong
Seorang sahabat saya mengaku terpaksa mengencangkan ikat pinggang sejak pemerintah negara ini membekukan sebuah organisasi puncak sepak bola di Tanah Air, yang berimbas pada ditiadakannya semua jenis pertandingan sepak bola, sekaligus mematikan sumber nafkah para pemain, pelatih, ofisial, wartawan media sepak bola, penjaja makanan di dalam stadion, pembuat jersey, tukang pijet pemain sepak bola, tukang cuci baju pemain sepak bola, dan orang-orang lain yang mendapatkan nafkah dari sepak bola, termasuk sahabat saya terkasih.
Seorang sahabat saya mengaku terpaksa mengencangkan ikat pinggang sejak pemerintah negara ini membekukan sebuah organisasi puncak sepak bola di Tanah Air, yang berimbas pada ditiadakannya semua jenis pertandingan sepak bola, sekaligus mematikan sumber nafkah para pemain, pelatih, ofisial, wartawan media sepak bola, penjaja makanan di dalam stadion, pembuat jersey, tukang pijet pemain sepak bola, tukang cuci baju pemain sepak bola, dan orang-orang lain yang mendapatkan nafkah dari sepak bola, termasuk sahabat saya terkasih.
Sangat mudah bagi
kita yang menjadi penonton untuk melayangkan rasa simpati, semudah para
stakeholder mengucapkan rasa simpati pada ratusan buruh yang terpaksa di-PHK
akibat kebijakan yang mereka buat. Saya kadang bertanya-tanya, apakah yang
dirasakan oleh orang-orang yang berada dalam posisi seperti ini? Mereka yang
sudah bertahun-tahun bekerja dari dan berakhir di jam yang sama setiap hari,
menerima gaji di tanggal yang sama dan mendadak seseorang, sesuatu atau
entahlah, sekonyong-konyong datang dan menyemburkan kata-kata di wajah mereka
bahwa semuanya harus berakhir saat itu
juga.
Perubahan mendadak
memang belakangan sedang menjadi tren di banyak tempat di dunia. Revolusi, kata
orang. Bisa jadi mereka lupa atau kurang memperhatikan bahwa tidak mungkin
suatu perubahan dapat terjadi secara mendadak tanpa adanya gejala-gejala
penanda perubahan. Apalagi karena hanya mitoslah yang mengatakan kita bisa
menjadi kaya mendadak berkat uang yang jatuh dari langit, atau kuat luar biasa
setelah tersambar geledek.
Peristiwa maha
dahsyat semacam bencana alam pun sesungguhnya telah mengirimkan sinyal-sinyal
kedatangannya jauh-jauh sebelum hari H. Hanya saja kita manusia dari hari ke
hari bukan cuma semakin nggak peka terhadap perasaan sesama manusia, tapi
membaca tanda-tanda alam pun kita sudah tak mampu. Kita menganggap sepele
gempa-gempa tektonik kecil yang sering timbul dan hilang sendiri, tanpa
mengetahui bahwa itu adalah tanda bahwa lempeng benua Bumi terus bergerak dan
di kemudian hari akan bertabrakan dengan lempeng benua lainnya trus
menghasilkan tsunami.
Nggak jauh beda
dengan semua hal yang sedang terhampar di hadapan kita saat ini. Semua itu
adalah hasil suatu proses di masa yang lampau. Misalnya, mengapa para pekerja
pabrik rokok mendadak di-PHK? Karena pemilik pabrik telah mendatangkan sebuah
mesin yang mampu menghasilkan rokok dengan kualitas lintingan hasil karya
pekerja manusia. Sebuah sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan, mesin
itu sebenarnya illegal dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar si mesin bisa
sampai ke Indonesia. Jadi mengapa mesin itu bisa sampai kemari? Hanya waktu
yang bisa menjawabnya.
Di sisi lain, para
pekerja pabrik rokok didominasi kaum perempuan yang karena tuntutan ekonomi
harus meninggalkan rumah dan bayi mereka bersama orang lain untuk bekerja. Para
perempuan dalam posisi ini umumnya mencari aman agar tak terjadi sesuatu dengan
sumber pendapatannya. Mereka sudah puas mendapatkan sejumlah uang untuk membeli
susu anak atau untuk bayar uang SPP. Di tiap-tiap bulan mereka tak khawatir
tidak akan bisa makan karena sudah pasti akan mendapatkan uang.
Tak terpikir di
benak mereka tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi, bahwa usia mereka
semakin bertambah dan fisik pun tak lagi sebugar saat belia. Tak hendak saya
menyalahkan pilihan profesi seseorang, namun saya hanya menyayangkan kekurang
tanggapan mereka dalam membaca keadaan.
Kemapanan memang
suatu hal yang diinginkan banyak orang, tapi bagaimana jika Takdir berkata
lain? Kepakkanlah sayap selagi masih bisa terbang dan mengapa tidak mencari
peluang di tempat lain yang menjanjikan. Atau bisa juga dengan memulai merintis
usaha semenjak masih bekerja.
Jika semua orang
dan pekerja memperhatikan detil semacam ini tentunya Presiden, mantan-mantan
presiden, dan presiden-presiden yang akan datang tak akan menghadapi tuntutan
klasik perihal penyediaan lapangan kerja bagi para penganggur.
Menjual idealisme
Muda, gagah,
berapi-api, mungkin seperti itulah gambaran diri kita di masa remaja.
Perjalanan menghantarkan kita pada berbagai terminal, stasiun dan halte, besar
dan kecil. Di situ kita mengalami banyak hal yang sering kali berbenturan dengan
gambaran yang kita yakini sebagai sesuatu yang benar. Satu dua kali terbentur, manusia tak butuh kekuatan super
untuk bisa berdiri.
Jatuh- berdiri,
terkapar-bangkit, kesandung- bangun .. Membosankan! Tapi ya seperti itulahh idup
manusia sebelum hari H nya menuju alam arwah jatuh tempo. Ada yang merasa bosan
dengan siklus alami ini dan memilih mengakhiri hidup lebih cepat. Ada yang
berhenti berkeluh kesah, memumikan angan dan pikirannya dalam dunia buatannya
sendiri, menjadikan diri sendiri anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang
dewasa. Sementara, ada juga yang ingin membuat ledakan sekonyong-konyong agar
ia segera mencapai kemuliaan dengan jalan pintas.
Golongan manusia
ber-attitude semacam ini rela
melakukan apa saja, bahkan menyerahkan mimpi-mimpi mereka tentang apa yang benar asalkan berhasil menggenggam
kegemilangan. Contohnya banyak. Misalnya, beberapa pejabat yang tak segan
mengeluarkan uang berpuluh juta agar bisa naik haji untuk ketiga atau keempat
kalinya. Tentu saja itu uang mereka dan
mereka boleh melakukan apapun dengannya. Tapi apa benar mereka mendapatkan uang
itu dengan cara-cara yang seharusnya?
Cara untuk
mengungkapkannya juga tidak sulit cukup dengan mengulik berapa besar gaji
mereka per bulan, berapa lama mereka bekerja, aset atau usaha apa yang mereka
miliki dan darimana mereka mendapatkan modal untuk mendirikannya, apakah mereka
masih punya orangtua dan saudara yang wajib dibiayai, berapa jumlah anak dan
apa pendidikan yang mereka tempuh, berapa jumlah binatang peliharaan, berapa
jumlah istri, ..
Selain
bisa mengetahui seberapa besar kadar kejujuran yang mereka miliki dalam hal
mendapatkan uang, dengan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas
kita juga akan bisa mengetahui kenyataan lainnya tentang alasan banyak manusia
tentang mengapa mereka, dan kita, bekerja.
Apakah bekerja demi memenuhi
pundi-pundi sendiri, demi golongan, demi partai, demi perintah? Atau apakah
mereka, atau kita, jenis manusia yang kian langka belakangan ini, bekerja hanya
untuk melayani masyarakat dan negaranya? Ataukah mereka, atau kita, jenis
manusia utopis yang gagal move on karena bekerja hanya demi kebenaran?
Kamis, 04 Desember 2014
ANAK MUDA, HARUSKAH BERBAHAYA?
Sekitar tahun 2009-2011 saya mendapat pekerjaan pertama sebagai seorang
operator di sebuah warnet yang letaknya hanya sekitar beberapa kilometer saja
dari rumah orang tua saya tempat saya menumpang hidup beberapa tahun terakhir
ini. Saya yang waktu itu hampir buta sama sekali dengan yang namanya komputer
dan internet terpaksa harus belajar segalanya dari nol, meski pekerjaan itu
dipandang mudah oleh sebagian orang.
Bayangkan saja, waktu itu saya tak tahu apa itu memory card, termasuk cara menggunakan card reader. Singkat kata, sangat gaptek dan malu-maluin! Dalam
saat-saat genting biasanya seorang operator lain yang sudah senior (dan
sekarang menjadi sahabat saya) akan memberikan instruksinya. Tapi, dia pun
punya kehidupan sendiri dan menghabiskan waktu selama 12 jam lebih di depan
komputer mungkin hanya sanggup dilakukan para gamer.
Pada suatu hari, sang operator senior tak ada di tempat karena suatu
urusan. Dan tinggalah saya di sana sendiri bersama para user pelanggan saya.
Mendadak sinyal internet terputus dan muncul tulisan connection lost di layar. Beberapa user menggerutu dan mendatangi
meja saya. Sebagai seseorang yang saat itu sangat gaptek terhadap teknologi,
tentu saja saya panic dibuatnya.
Jangankan memikirkan solusi mengatasi sinyal yang putus itu, saya aja sama
sekali tak tahu apa harus saya katakan pada para pelanggan yang marah-marah
karena aktivitas ngegame mereka terganggu. Dan wajah saya waktu itu mungkin
mirip sekali dengan seseorang yang habis menguntal leksotan sebanyak 20 butir
sekaligus!
Di saat seperti itu, orang cenderung memimpikan datangnya dewa penyelamat.
Dan tahukah Anda, bahwa sang dewa yang menyelamatkan saya itu ternyata bukan
Mahadewa yang berambut gondrong dan berkalung ular, atau Basudewa yang berkulit
biru bersenjata cakra. Melainkan seorang anak ABG berseragam putih abu-abu,
berkulit hitam dan tinggi kurus, yang tiba-tiba datang ke meja saya dan bilang
agar saya mencoba mematikan modem dan router selama lima menit lalu
menyalakannya kembali.
Saya, bagaikan seekor kerbau yang dicocok hidungnya, menuruti saja saran
anak muda itu. Dan apa yang terjadi, Saudara-saudara? Sinyal internet yang
hilang itu pun kembali pulang! Dan para pelanggan tidak jadi melontarkan
gerutuan mereka pada saya, kembali duduk manis di depan layar masing-masing dan
memainkan Point Blank (sebuah game online yang saat itu lagi populer).
Abimanyu, Si Bonek Yang Ganteng
Pasti Anda akan sepakat jika saya mengatakan, masa remaja adalah masa yang
paling indah. Meski indah, sayangnya masa ini tak akan terulang kembali dan tak
seorang pun di dunia ini akan mengalami masa remaja untuk kedua kalinya. Jika
para remaja di Amerika merayakan ulang tahun ke-18 mereka dengan gembira karena
boleh memiliki SIM dan berkendara bebas di jalan raya, para remaja Indonesia
merayakan ulang tahun ke-14 atau ke-15 mereka dengan nekat berkendara di jalan
raya tanpa SIM dan kendaraan bermotor milik orang tuanya. Kalau perlu tanpa
memakai helm atau sabuk pengaman, karena semakin melanggar peraturan akan
semakin terbuktilah pada dunia bahwa mereka adalah anak muda yang pemberani.
Bahkan jika di masa dewasa mereka telah kehilangan ‘keberanian’nya, paling
tidak para ABG tua ini masih dapat mengenang kisah di masa lalu, ketika ia masih seorang anak muda berbahaya mencari pengakuan sebagai pemberani dari teman-temannya
berdasarkan jumlah peraturan yang telah ia langgar.
Ya, Bapak dan Ibu, si Kecil kini sudah tak kecil lagi, bahkan tinggi tubuhnya
pun telah melampaui tubuh kita, sehingga kita harus mendongak ketika hendak
memarahinya. Mungkin Anda sekarang sedang merasa kecewa karena seiring
bertambahnya usia, semakin jauh pula si buah hati yang Anda besarkan dengan
susah payah ini dari orang tuanya. Namun, bukankah kebanggaan orang tua
terletak pada seorang anak yang mampu hidup tanpa bantuan orang tuanya?
Si Kecil Anda bukannya tak lagi menyayangi orang tuanya, melainkan sedang
terlalu sibuk memikirkan cara terbaik untuk mendapatkan pengakuan tentang
eksistensinya, baik dari teman-teman maupun orang tuanya. Motif demi
mendapatkan pengakuan dari teman-teman mungkin akan lebih mendominasi tujuan
hidup para remaja, dan ini biasanya berkaitan erat dengan seseorang yang berlawanan
jenis daripada dirinya.
Maka dari itu berbahagialah para remaja yang memiliki segudang keahlian,
baik menyanyi, bermusik, menggambar atau berolah raga, karena mereka dapat
menggunakan keahlian itu untuk mendapatkan simpati dari orang-orang di
sekelilingnya dengan cara-cara unik, namun masuk akal dan juga terhormat.
Like father, like son. Inilah
ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keahlian memanah Abimanyu jika
dibandingkan dengan kemampuan Arjuna, ayahnya. Dalam usianya yang ke-16 tahun
Abimanyu tidak berperang melawan musuh di arena Lost Saga (sejenis nama game
online), melainkan adalah seorang pemuda penganut subkultur bonek (bondo/modal
nekat) yang berjuang sendirian memecahkan formasi Chakravyuha untuk
menghindarkan bala tentara Pandawa dari kekalahan.
Pamannya, Yudistira, memohon agar Abimanyu tidak menyerang demi keselamatan dirinya sendiri. Akan tetapi, darah Abimanyu adalah darah muda. Sedangkan darah muda adalah darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Upaya perlindungan dari Yudistira dan ketiga pamannya yang lain malah membuatnya berontak dan makin panas hati untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia bukan anak kecil lagi, bahwa ia memiliki kemampuan yang sama seperti ayahnya, Arjuna yang saat itu sedang berperang di arena pertempuran lain berjarak berkilo-kilo meter dari Kuruksetra.
Ksatria macam apa yang berani mengeroyok seorang anak remaja secara
bersama-sama? (Ya, paling tidak pertanyaan ini mudah-mudahan akan timbul dalam
benak setiap pria sebelum mereka mengeroyok seorang pencuri jemuran yang tertangkap
basah secara massal). Abimanyu pun menerjang pasukan musuh dengan semangat 45
setelah Paman Yudistira mengijinkannya dengan berat hati.
Saat ke-6 orang ksatria Kurawa senior mengepung dan menyerangnya dengan hujan anak panah, ia pun sadar bahwa ia tak akan menang berperang melawan mereka. Namun demi menjaga nama baik ayahnya dan demi mendapatkan pengakuan terhadap kemampuan dan keberaniannya, ia tak mau menjerit kesakitan meski tubuhnya telah remuk redam oleh gada Duryudana dan menyunggingkan senyum di wajahnya yang ganteng saat menemui ajal.
Saat ke-6 orang ksatria Kurawa senior mengepung dan menyerangnya dengan hujan anak panah, ia pun sadar bahwa ia tak akan menang berperang melawan mereka. Namun demi menjaga nama baik ayahnya dan demi mendapatkan pengakuan terhadap kemampuan dan keberaniannya, ia tak mau menjerit kesakitan meski tubuhnya telah remuk redam oleh gada Duryudana dan menyunggingkan senyum di wajahnya yang ganteng saat menemui ajal.
Kisah kepahlawanan seorang anak remaja bernama Abimanyu ini pasti membuat
para ibu meneteskan air mata. Karena bagi para ibu, kehilangan seorang anak-bahkan
yang belum sempat dilahirkan karena keguguran sekalipun adalah lebih buruk daripada
kehilangan suami atau anggota keluarga lainnya.
Andaikan Abimanyu hidup di masa sekarang, lebih baik ia jadi anak punk
yang bisa cari duit sendiri dengan berjualan sayur di pasar. Ia bisa
menunjukkan eksistensinya sebagai anak muda yang berbahaya, yang tahan terhadap rasa sakit
dengan membuat tato Circle A atau tato lainnya di sekujur tubuh, dan dapat
membuat Ayah Bundanya merasa senang plus
bangga karena Abimanyu tak lagi merepotkan mereka.
Mereka pasti senang melihat si Kecilnya mampu menjalani hari dengan optimisme
dan pengetahuan-pengetahuan baru. Mereka juga dapat menjalani masa tuanya
dengan tenang tanpa didera kekhawatiran putra kesayangan tak sedang pergi
berperang, atau melakukan suatu hal yang akan menjerumuskan diri sendiri dalam
bahaya. Yah ,, itulah solusi yang mendamaikan hati, setidaknya jika dilihat dari sudut pandang sebagai orang tua.
Tapi, Bapak dan Ibu, you are the bows from which your children as living arrows are sent forth, kau adalah busur Gandiwa dari anak-anakmu, anak-anak panah hidup yang diberikan kepadamu, begitulah wejang Kahlil Gibran. Gandiwa dapat mengarahkan panah Pashupatastra ke mana saja, namun Pashupatastra bisa jadi punya pendapat lain dan mencari kata hatinya sendiri. Jikalau panah Pashupatastra mengalami kegagalan yang di luar dugaan, apakah hal itu akan membuat Gandiwa kehilangan kemampuannya sebagai jiwa yang stabil dan pemberi yang tak mengharapkan imbalan?
Tak Ada Cermin Yang Tak Retak
Tapi, Bapak dan Ibu, you are the bows from which your children as living arrows are sent forth, kau adalah busur Gandiwa dari anak-anakmu, anak-anak panah hidup yang diberikan kepadamu, begitulah wejang Kahlil Gibran. Gandiwa dapat mengarahkan panah Pashupatastra ke mana saja, namun Pashupatastra bisa jadi punya pendapat lain dan mencari kata hatinya sendiri. Jikalau panah Pashupatastra mengalami kegagalan yang di luar dugaan, apakah hal itu akan membuat Gandiwa kehilangan kemampuannya sebagai jiwa yang stabil dan pemberi yang tak mengharapkan imbalan?
Yah memang benar bahwa kita bukanlah manusia yang tanpa dosa dan bersih
dari kesalahan. Ada saat-saat di mana sesosok individu tersesat, karena nekat
berjalan tanpa kompas dan peta. Bagi manusia semacam ini, keberuntungannya bukan
terletak pada harta karun berlimpah, tapi pada seorang teman atau seseorang yang sedang nongkrong di lampu merah untuk
ditanyai tentang arah jalan yang benar agar kita tak tersesat lagi buat yang
kesekian kalinya.
Mungkin tak semua orang beruntung dapat hidup bersama dengan teman-teman
seperjuangan yang dapat ditemuinya kapan dan dimana saja sesuka hatinya.
Mungkin ada beberapa perantau yang sudah puas bertemu dengan kawan lama, meski
hanya di dalam dunia maya. Buat orang-orang semacam ini, mereka tak perlu
khawatir akan tak punya tempat untuk bertanya jika suatu hari mereka kembali
tersesat.
Pandangilah wajah anak-anak (baik anak Anda atau anak tetangga) ketika
Anda memikirkan sebuah pertanyaan yang tak seorangpun bisa menjawabnya. Jiwa
anak yang polos dan belum berdosa akan merefleksikan segalanya pada Anda, tentang kasih sayang, pengetahuan, komitmen, dedikasi dan bahkan seluruh dunia. Sekalipun
ia bukan anak kandung Anda, Anda akan dapat menemukan diri sendiri di dalam
dirinya ketika Anda mengajaknya bicara, berjalan-jalan atau menggambar atau
main sepak bola.
Demikian pula suatu bangsa yang tak kunjung berhasil menemukan jati
dirinya akan mendapatkan pencerahan mengenai penyebab segala kemalangan
nasional atau ketidakberuntungan berjamaah dalam diri anak-anak yang sedang dibesarkan di
Tanah ini.
Misalnya, seorang anak manja adalah cerminan karakter seorang manusia dewasa dengan kehidupan berkecukupan berkat alam yang kaya dan subur, malas bekerja dan bersusah payah karena merasa telah memiliki segalanya. Atau seorang anak yang suka buang sampah sembarangan akan membuat orang lain merasa repot karena harus membersihkan sampah yang ia tinggalkan. Dan seorang anak yang suka mengadu adalah refleksi dari manusia tanpa rasa berani untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Maka dari itu, adalah sebuah ketidakadilan besar jika suatu bangsa sudah membebankan tanggung jawab mengangkat harkat dan martabat bangsa itu sendiri di pundak anak-anak muda, baik yang telah lahir, sedang akan lahir, ataupun yang belum dilahirkan. Mereka tidak terlibat dalam ikhwal yang menyebabkan keterpurukan itu, lalu mengapa musti meminta mereka turun tangan untuk menyelesaikannya?
Sadarkah kita bahwa usia yang panjang dipandang sebagai azab oleh sebagian kecil manusia lanjut usia, karena mereka dipaksa melihat akibat perbuatan di masa lalu dan didera rasa penyesalan berkepanjangan? Saya yakin, di antara kita semua tak ada yang ingin menjalani masa tua dengan penuh duka cita. Daripada mengharapkan anak-anak kita mendatangkan kebahagiaan itu kepada kita, lebih baik kita kelola saja diri dan situasi terkini kita ini baik-baik, agar di masa depan kita bisa menuai buah kebaikan yang pernah kita tanam, tanpa harus dimusuhi anak muda yang bercita-cita menjadi Singha, si maharaja hutan yang selalu berbahaya, baik di usia muda maupun tua.
Misalnya, seorang anak manja adalah cerminan karakter seorang manusia dewasa dengan kehidupan berkecukupan berkat alam yang kaya dan subur, malas bekerja dan bersusah payah karena merasa telah memiliki segalanya. Atau seorang anak yang suka buang sampah sembarangan akan membuat orang lain merasa repot karena harus membersihkan sampah yang ia tinggalkan. Dan seorang anak yang suka mengadu adalah refleksi dari manusia tanpa rasa berani untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Maka dari itu, adalah sebuah ketidakadilan besar jika suatu bangsa sudah membebankan tanggung jawab mengangkat harkat dan martabat bangsa itu sendiri di pundak anak-anak muda, baik yang telah lahir, sedang akan lahir, ataupun yang belum dilahirkan. Mereka tidak terlibat dalam ikhwal yang menyebabkan keterpurukan itu, lalu mengapa musti meminta mereka turun tangan untuk menyelesaikannya?
Sadarkah kita bahwa usia yang panjang dipandang sebagai azab oleh sebagian kecil manusia lanjut usia, karena mereka dipaksa melihat akibat perbuatan di masa lalu dan didera rasa penyesalan berkepanjangan? Saya yakin, di antara kita semua tak ada yang ingin menjalani masa tua dengan penuh duka cita. Daripada mengharapkan anak-anak kita mendatangkan kebahagiaan itu kepada kita, lebih baik kita kelola saja diri dan situasi terkini kita ini baik-baik, agar di masa depan kita bisa menuai buah kebaikan yang pernah kita tanam, tanpa harus dimusuhi anak muda yang bercita-cita menjadi Singha, si maharaja hutan yang selalu berbahaya, baik di usia muda maupun tua.
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



