Kamis, 16 Juli 2015
BEKERJA TANPA PAMRIH, MASIH ADAKAH?
Without hope and
with the mind and the self controlled, having abandoned all greed,doing mere bodily action, he incurs no sin (Bhagavad Gita)
Meski saya tidak
ikut teman-teman memilih Sang Bapak yang sekarang menjadi Presiden, maupun
pesaingnya, saya senang mendengar pidato yang beliau sampaikan di hari
pelantikannya. Pidato yang menegaskan komitmen Presiden baru RI terhadap kerja
keras untuk memakmurkan rakyat semacam ini jelas berbeda dengan pidato
kenegaraan yang sudah-sudah, termasuk pidato Presiden lama yang baru saja turun
takhta. Rasanya sudah lama sekali kita tidak mendengar ucapan-ucapan positif
semacam ini dari para pemimpin. Dan pidato Bapak kita yang baru ini ibarat
tetesan air hujan di tengah siang bolong yang kering kerontang.
Memang sih, tanpa
harus menunggu pidato kenegaraan itu pun kita semua tahu bahwa bekerja adalah
mutlak hukumnya bagi semua manusia yang hidup dan telah melewati masa akil
baliknya. Buat mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, bekerja adalah
sebuah keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Apalagi sekarang saat
segalanya nyaris tak ada yang murah, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi
dengan dapur di rumah jika kita tidak bekerja. Jangankan untuk mengobarkan
sebuah perang dengan pasangan tercinta, untuk bangkit dari tempat tidurpun
mungkin kita tak akan berdaya karena tidak tahu apa yang akan kita kerjakan
ketika kita membuka mata di pagi hari.
Ya, bahkan
bayangan tentang apa yang akan kita lakukan di esok hari sudah terpikirkan
sejak malam sebelumnya, sejak kita masih melek menonton film India kesayangan
atau sedang merokok di teras memandangi bulan. Bagi sebagian orang yang bekerja
di tempat dengan rutinitas ketat, baik di kantor, di pabrik, atau di rumah,
hari-hari yang akan mereka lalui seminggu, setahun atau bertahun-tahun ke depan
sudah tergambar dengan jelas.
Mungkin mereka
ingin membebaskan diri dari belenggu ini, namun dapatkah anak-anak mereka
bersekolah dan jajan dengan layak ketika mereka tak lagi bekerja? Bagaimana
cara membeli beras atau melunasi kredit sepeda motor? Dengan apa musti membayar
rumah kontrakan? Bagaimana menenangkan hati istri, atau suami, atau pasangan? Karena
mereka pasti akan lebih galau daripada kita ketika tahu kita tidak lagi bekerja,
bener nggak sih?
Perubahan yang tak sekonyong-konyong
Seorang sahabat saya mengaku terpaksa mengencangkan ikat pinggang sejak pemerintah negara ini membekukan sebuah organisasi puncak sepak bola di Tanah Air, yang berimbas pada ditiadakannya semua jenis pertandingan sepak bola, sekaligus mematikan sumber nafkah para pemain, pelatih, ofisial, wartawan media sepak bola, penjaja makanan di dalam stadion, pembuat jersey, tukang pijet pemain sepak bola, tukang cuci baju pemain sepak bola, dan orang-orang lain yang mendapatkan nafkah dari sepak bola, termasuk sahabat saya terkasih.
Seorang sahabat saya mengaku terpaksa mengencangkan ikat pinggang sejak pemerintah negara ini membekukan sebuah organisasi puncak sepak bola di Tanah Air, yang berimbas pada ditiadakannya semua jenis pertandingan sepak bola, sekaligus mematikan sumber nafkah para pemain, pelatih, ofisial, wartawan media sepak bola, penjaja makanan di dalam stadion, pembuat jersey, tukang pijet pemain sepak bola, tukang cuci baju pemain sepak bola, dan orang-orang lain yang mendapatkan nafkah dari sepak bola, termasuk sahabat saya terkasih.
Sangat mudah bagi
kita yang menjadi penonton untuk melayangkan rasa simpati, semudah para
stakeholder mengucapkan rasa simpati pada ratusan buruh yang terpaksa di-PHK
akibat kebijakan yang mereka buat. Saya kadang bertanya-tanya, apakah yang
dirasakan oleh orang-orang yang berada dalam posisi seperti ini? Mereka yang
sudah bertahun-tahun bekerja dari dan berakhir di jam yang sama setiap hari,
menerima gaji di tanggal yang sama dan mendadak seseorang, sesuatu atau
entahlah, sekonyong-konyong datang dan menyemburkan kata-kata di wajah mereka
bahwa semuanya harus berakhir saat itu
juga.
Perubahan mendadak
memang belakangan sedang menjadi tren di banyak tempat di dunia. Revolusi, kata
orang. Bisa jadi mereka lupa atau kurang memperhatikan bahwa tidak mungkin
suatu perubahan dapat terjadi secara mendadak tanpa adanya gejala-gejala
penanda perubahan. Apalagi karena hanya mitoslah yang mengatakan kita bisa
menjadi kaya mendadak berkat uang yang jatuh dari langit, atau kuat luar biasa
setelah tersambar geledek.
Peristiwa maha
dahsyat semacam bencana alam pun sesungguhnya telah mengirimkan sinyal-sinyal
kedatangannya jauh-jauh sebelum hari H. Hanya saja kita manusia dari hari ke
hari bukan cuma semakin nggak peka terhadap perasaan sesama manusia, tapi
membaca tanda-tanda alam pun kita sudah tak mampu. Kita menganggap sepele
gempa-gempa tektonik kecil yang sering timbul dan hilang sendiri, tanpa
mengetahui bahwa itu adalah tanda bahwa lempeng benua Bumi terus bergerak dan
di kemudian hari akan bertabrakan dengan lempeng benua lainnya trus
menghasilkan tsunami.
Nggak jauh beda
dengan semua hal yang sedang terhampar di hadapan kita saat ini. Semua itu
adalah hasil suatu proses di masa yang lampau. Misalnya, mengapa para pekerja
pabrik rokok mendadak di-PHK? Karena pemilik pabrik telah mendatangkan sebuah
mesin yang mampu menghasilkan rokok dengan kualitas lintingan hasil karya
pekerja manusia. Sebuah sumber yang menolak disebutkan namanya mengatakan, mesin
itu sebenarnya illegal dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar si mesin bisa
sampai ke Indonesia. Jadi mengapa mesin itu bisa sampai kemari? Hanya waktu
yang bisa menjawabnya.
Di sisi lain, para
pekerja pabrik rokok didominasi kaum perempuan yang karena tuntutan ekonomi
harus meninggalkan rumah dan bayi mereka bersama orang lain untuk bekerja. Para
perempuan dalam posisi ini umumnya mencari aman agar tak terjadi sesuatu dengan
sumber pendapatannya. Mereka sudah puas mendapatkan sejumlah uang untuk membeli
susu anak atau untuk bayar uang SPP. Di tiap-tiap bulan mereka tak khawatir
tidak akan bisa makan karena sudah pasti akan mendapatkan uang.
Tak terpikir di
benak mereka tentang segala kemungkinan yang bisa terjadi, bahwa usia mereka
semakin bertambah dan fisik pun tak lagi sebugar saat belia. Tak hendak saya
menyalahkan pilihan profesi seseorang, namun saya hanya menyayangkan kekurang
tanggapan mereka dalam membaca keadaan.
Kemapanan memang
suatu hal yang diinginkan banyak orang, tapi bagaimana jika Takdir berkata
lain? Kepakkanlah sayap selagi masih bisa terbang dan mengapa tidak mencari
peluang di tempat lain yang menjanjikan. Atau bisa juga dengan memulai merintis
usaha semenjak masih bekerja.
Jika semua orang
dan pekerja memperhatikan detil semacam ini tentunya Presiden, mantan-mantan
presiden, dan presiden-presiden yang akan datang tak akan menghadapi tuntutan
klasik perihal penyediaan lapangan kerja bagi para penganggur.
Menjual idealisme
Muda, gagah,
berapi-api, mungkin seperti itulah gambaran diri kita di masa remaja.
Perjalanan menghantarkan kita pada berbagai terminal, stasiun dan halte, besar
dan kecil. Di situ kita mengalami banyak hal yang sering kali berbenturan dengan
gambaran yang kita yakini sebagai sesuatu yang benar. Satu dua kali terbentur, manusia tak butuh kekuatan super
untuk bisa berdiri.
Jatuh- berdiri,
terkapar-bangkit, kesandung- bangun .. Membosankan! Tapi ya seperti itulahh idup
manusia sebelum hari H nya menuju alam arwah jatuh tempo. Ada yang merasa bosan
dengan siklus alami ini dan memilih mengakhiri hidup lebih cepat. Ada yang
berhenti berkeluh kesah, memumikan angan dan pikirannya dalam dunia buatannya
sendiri, menjadikan diri sendiri anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang
dewasa. Sementara, ada juga yang ingin membuat ledakan sekonyong-konyong agar
ia segera mencapai kemuliaan dengan jalan pintas.
Golongan manusia
ber-attitude semacam ini rela
melakukan apa saja, bahkan menyerahkan mimpi-mimpi mereka tentang apa yang benar asalkan berhasil menggenggam
kegemilangan. Contohnya banyak. Misalnya, beberapa pejabat yang tak segan
mengeluarkan uang berpuluh juta agar bisa naik haji untuk ketiga atau keempat
kalinya. Tentu saja itu uang mereka dan
mereka boleh melakukan apapun dengannya. Tapi apa benar mereka mendapatkan uang
itu dengan cara-cara yang seharusnya?
Cara untuk
mengungkapkannya juga tidak sulit cukup dengan mengulik berapa besar gaji
mereka per bulan, berapa lama mereka bekerja, aset atau usaha apa yang mereka
miliki dan darimana mereka mendapatkan modal untuk mendirikannya, apakah mereka
masih punya orangtua dan saudara yang wajib dibiayai, berapa jumlah anak dan
apa pendidikan yang mereka tempuh, berapa jumlah binatang peliharaan, berapa
jumlah istri, ..
Selain
bisa mengetahui seberapa besar kadar kejujuran yang mereka miliki dalam hal
mendapatkan uang, dengan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas
kita juga akan bisa mengetahui kenyataan lainnya tentang alasan banyak manusia
tentang mengapa mereka, dan kita, bekerja.
Apakah bekerja demi memenuhi
pundi-pundi sendiri, demi golongan, demi partai, demi perintah? Atau apakah
mereka, atau kita, jenis manusia yang kian langka belakangan ini, bekerja hanya
untuk melayani masyarakat dan negaranya? Ataukah mereka, atau kita, jenis
manusia utopis yang gagal move on karena bekerja hanya demi kebenaran?
Kamis, 04 Desember 2014
ANAK MUDA, HARUSKAH BERBAHAYA?
Sekitar tahun 2009-2011 saya mendapat pekerjaan pertama sebagai seorang
operator di sebuah warnet yang letaknya hanya sekitar beberapa kilometer saja
dari rumah orang tua saya tempat saya menumpang hidup beberapa tahun terakhir
ini. Saya yang waktu itu hampir buta sama sekali dengan yang namanya komputer
dan internet terpaksa harus belajar segalanya dari nol, meski pekerjaan itu
dipandang mudah oleh sebagian orang.
Bayangkan saja, waktu itu saya tak tahu apa itu memory card, termasuk cara menggunakan card reader. Singkat kata, sangat gaptek dan malu-maluin! Dalam
saat-saat genting biasanya seorang operator lain yang sudah senior (dan
sekarang menjadi sahabat saya) akan memberikan instruksinya. Tapi, dia pun
punya kehidupan sendiri dan menghabiskan waktu selama 12 jam lebih di depan
komputer mungkin hanya sanggup dilakukan para gamer.
Pada suatu hari, sang operator senior tak ada di tempat karena suatu
urusan. Dan tinggalah saya di sana sendiri bersama para user pelanggan saya.
Mendadak sinyal internet terputus dan muncul tulisan connection lost di layar. Beberapa user menggerutu dan mendatangi
meja saya. Sebagai seseorang yang saat itu sangat gaptek terhadap teknologi,
tentu saja saya panic dibuatnya.
Jangankan memikirkan solusi mengatasi sinyal yang putus itu, saya aja sama
sekali tak tahu apa harus saya katakan pada para pelanggan yang marah-marah
karena aktivitas ngegame mereka terganggu. Dan wajah saya waktu itu mungkin
mirip sekali dengan seseorang yang habis menguntal leksotan sebanyak 20 butir
sekaligus!
Di saat seperti itu, orang cenderung memimpikan datangnya dewa penyelamat.
Dan tahukah Anda, bahwa sang dewa yang menyelamatkan saya itu ternyata bukan
Mahadewa yang berambut gondrong dan berkalung ular, atau Basudewa yang berkulit
biru bersenjata cakra. Melainkan seorang anak ABG berseragam putih abu-abu,
berkulit hitam dan tinggi kurus, yang tiba-tiba datang ke meja saya dan bilang
agar saya mencoba mematikan modem dan router selama lima menit lalu
menyalakannya kembali.
Saya, bagaikan seekor kerbau yang dicocok hidungnya, menuruti saja saran
anak muda itu. Dan apa yang terjadi, Saudara-saudara? Sinyal internet yang
hilang itu pun kembali pulang! Dan para pelanggan tidak jadi melontarkan
gerutuan mereka pada saya, kembali duduk manis di depan layar masing-masing dan
memainkan Point Blank (sebuah game online yang saat itu lagi populer).
Abimanyu, Si Bonek Yang Ganteng
Pasti Anda akan sepakat jika saya mengatakan, masa remaja adalah masa yang
paling indah. Meski indah, sayangnya masa ini tak akan terulang kembali dan tak
seorang pun di dunia ini akan mengalami masa remaja untuk kedua kalinya. Jika
para remaja di Amerika merayakan ulang tahun ke-18 mereka dengan gembira karena
boleh memiliki SIM dan berkendara bebas di jalan raya, para remaja Indonesia
merayakan ulang tahun ke-14 atau ke-15 mereka dengan nekat berkendara di jalan
raya tanpa SIM dan kendaraan bermotor milik orang tuanya. Kalau perlu tanpa
memakai helm atau sabuk pengaman, karena semakin melanggar peraturan akan
semakin terbuktilah pada dunia bahwa mereka adalah anak muda yang pemberani.
Bahkan jika di masa dewasa mereka telah kehilangan ‘keberanian’nya, paling
tidak para ABG tua ini masih dapat mengenang kisah di masa lalu, ketika ia masih seorang anak muda berbahaya mencari pengakuan sebagai pemberani dari teman-temannya
berdasarkan jumlah peraturan yang telah ia langgar.
Ya, Bapak dan Ibu, si Kecil kini sudah tak kecil lagi, bahkan tinggi tubuhnya
pun telah melampaui tubuh kita, sehingga kita harus mendongak ketika hendak
memarahinya. Mungkin Anda sekarang sedang merasa kecewa karena seiring
bertambahnya usia, semakin jauh pula si buah hati yang Anda besarkan dengan
susah payah ini dari orang tuanya. Namun, bukankah kebanggaan orang tua
terletak pada seorang anak yang mampu hidup tanpa bantuan orang tuanya?
Si Kecil Anda bukannya tak lagi menyayangi orang tuanya, melainkan sedang
terlalu sibuk memikirkan cara terbaik untuk mendapatkan pengakuan tentang
eksistensinya, baik dari teman-teman maupun orang tuanya. Motif demi
mendapatkan pengakuan dari teman-teman mungkin akan lebih mendominasi tujuan
hidup para remaja, dan ini biasanya berkaitan erat dengan seseorang yang berlawanan
jenis daripada dirinya.
Maka dari itu berbahagialah para remaja yang memiliki segudang keahlian,
baik menyanyi, bermusik, menggambar atau berolah raga, karena mereka dapat
menggunakan keahlian itu untuk mendapatkan simpati dari orang-orang di
sekelilingnya dengan cara-cara unik, namun masuk akal dan juga terhormat.
Like father, like son. Inilah
ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keahlian memanah Abimanyu jika
dibandingkan dengan kemampuan Arjuna, ayahnya. Dalam usianya yang ke-16 tahun
Abimanyu tidak berperang melawan musuh di arena Lost Saga (sejenis nama game
online), melainkan adalah seorang pemuda penganut subkultur bonek (bondo/modal
nekat) yang berjuang sendirian memecahkan formasi Chakravyuha untuk
menghindarkan bala tentara Pandawa dari kekalahan.
Pamannya, Yudistira, memohon agar Abimanyu tidak menyerang demi keselamatan dirinya sendiri. Akan tetapi, darah Abimanyu adalah darah muda. Sedangkan darah muda adalah darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Upaya perlindungan dari Yudistira dan ketiga pamannya yang lain malah membuatnya berontak dan makin panas hati untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia bukan anak kecil lagi, bahwa ia memiliki kemampuan yang sama seperti ayahnya, Arjuna yang saat itu sedang berperang di arena pertempuran lain berjarak berkilo-kilo meter dari Kuruksetra.
Ksatria macam apa yang berani mengeroyok seorang anak remaja secara
bersama-sama? (Ya, paling tidak pertanyaan ini mudah-mudahan akan timbul dalam
benak setiap pria sebelum mereka mengeroyok seorang pencuri jemuran yang tertangkap
basah secara massal). Abimanyu pun menerjang pasukan musuh dengan semangat 45
setelah Paman Yudistira mengijinkannya dengan berat hati.
Saat ke-6 orang ksatria Kurawa senior mengepung dan menyerangnya dengan hujan anak panah, ia pun sadar bahwa ia tak akan menang berperang melawan mereka. Namun demi menjaga nama baik ayahnya dan demi mendapatkan pengakuan terhadap kemampuan dan keberaniannya, ia tak mau menjerit kesakitan meski tubuhnya telah remuk redam oleh gada Duryudana dan menyunggingkan senyum di wajahnya yang ganteng saat menemui ajal.
Saat ke-6 orang ksatria Kurawa senior mengepung dan menyerangnya dengan hujan anak panah, ia pun sadar bahwa ia tak akan menang berperang melawan mereka. Namun demi menjaga nama baik ayahnya dan demi mendapatkan pengakuan terhadap kemampuan dan keberaniannya, ia tak mau menjerit kesakitan meski tubuhnya telah remuk redam oleh gada Duryudana dan menyunggingkan senyum di wajahnya yang ganteng saat menemui ajal.
Kisah kepahlawanan seorang anak remaja bernama Abimanyu ini pasti membuat
para ibu meneteskan air mata. Karena bagi para ibu, kehilangan seorang anak-bahkan
yang belum sempat dilahirkan karena keguguran sekalipun adalah lebih buruk daripada
kehilangan suami atau anggota keluarga lainnya.
Andaikan Abimanyu hidup di masa sekarang, lebih baik ia jadi anak punk
yang bisa cari duit sendiri dengan berjualan sayur di pasar. Ia bisa
menunjukkan eksistensinya sebagai anak muda yang berbahaya, yang tahan terhadap rasa sakit
dengan membuat tato Circle A atau tato lainnya di sekujur tubuh, dan dapat
membuat Ayah Bundanya merasa senang plus
bangga karena Abimanyu tak lagi merepotkan mereka.
Mereka pasti senang melihat si Kecilnya mampu menjalani hari dengan optimisme
dan pengetahuan-pengetahuan baru. Mereka juga dapat menjalani masa tuanya
dengan tenang tanpa didera kekhawatiran putra kesayangan tak sedang pergi
berperang, atau melakukan suatu hal yang akan menjerumuskan diri sendiri dalam
bahaya. Yah ,, itulah solusi yang mendamaikan hati, setidaknya jika dilihat dari sudut pandang sebagai orang tua.
Tapi, Bapak dan Ibu, you are the bows from which your children as living arrows are sent forth, kau adalah busur Gandiwa dari anak-anakmu, anak-anak panah hidup yang diberikan kepadamu, begitulah wejang Kahlil Gibran. Gandiwa dapat mengarahkan panah Pashupatastra ke mana saja, namun Pashupatastra bisa jadi punya pendapat lain dan mencari kata hatinya sendiri. Jikalau panah Pashupatastra mengalami kegagalan yang di luar dugaan, apakah hal itu akan membuat Gandiwa kehilangan kemampuannya sebagai jiwa yang stabil dan pemberi yang tak mengharapkan imbalan?
Tak Ada Cermin Yang Tak Retak
Tapi, Bapak dan Ibu, you are the bows from which your children as living arrows are sent forth, kau adalah busur Gandiwa dari anak-anakmu, anak-anak panah hidup yang diberikan kepadamu, begitulah wejang Kahlil Gibran. Gandiwa dapat mengarahkan panah Pashupatastra ke mana saja, namun Pashupatastra bisa jadi punya pendapat lain dan mencari kata hatinya sendiri. Jikalau panah Pashupatastra mengalami kegagalan yang di luar dugaan, apakah hal itu akan membuat Gandiwa kehilangan kemampuannya sebagai jiwa yang stabil dan pemberi yang tak mengharapkan imbalan?
Yah memang benar bahwa kita bukanlah manusia yang tanpa dosa dan bersih
dari kesalahan. Ada saat-saat di mana sesosok individu tersesat, karena nekat
berjalan tanpa kompas dan peta. Bagi manusia semacam ini, keberuntungannya bukan
terletak pada harta karun berlimpah, tapi pada seorang teman atau seseorang yang sedang nongkrong di lampu merah untuk
ditanyai tentang arah jalan yang benar agar kita tak tersesat lagi buat yang
kesekian kalinya.
Mungkin tak semua orang beruntung dapat hidup bersama dengan teman-teman
seperjuangan yang dapat ditemuinya kapan dan dimana saja sesuka hatinya.
Mungkin ada beberapa perantau yang sudah puas bertemu dengan kawan lama, meski
hanya di dalam dunia maya. Buat orang-orang semacam ini, mereka tak perlu
khawatir akan tak punya tempat untuk bertanya jika suatu hari mereka kembali
tersesat.
Pandangilah wajah anak-anak (baik anak Anda atau anak tetangga) ketika
Anda memikirkan sebuah pertanyaan yang tak seorangpun bisa menjawabnya. Jiwa
anak yang polos dan belum berdosa akan merefleksikan segalanya pada Anda, tentang kasih sayang, pengetahuan, komitmen, dedikasi dan bahkan seluruh dunia. Sekalipun
ia bukan anak kandung Anda, Anda akan dapat menemukan diri sendiri di dalam
dirinya ketika Anda mengajaknya bicara, berjalan-jalan atau menggambar atau
main sepak bola.
Demikian pula suatu bangsa yang tak kunjung berhasil menemukan jati
dirinya akan mendapatkan pencerahan mengenai penyebab segala kemalangan
nasional atau ketidakberuntungan berjamaah dalam diri anak-anak yang sedang dibesarkan di
Tanah ini.
Misalnya, seorang anak manja adalah cerminan karakter seorang manusia dewasa dengan kehidupan berkecukupan berkat alam yang kaya dan subur, malas bekerja dan bersusah payah karena merasa telah memiliki segalanya. Atau seorang anak yang suka buang sampah sembarangan akan membuat orang lain merasa repot karena harus membersihkan sampah yang ia tinggalkan. Dan seorang anak yang suka mengadu adalah refleksi dari manusia tanpa rasa berani untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Maka dari itu, adalah sebuah ketidakadilan besar jika suatu bangsa sudah membebankan tanggung jawab mengangkat harkat dan martabat bangsa itu sendiri di pundak anak-anak muda, baik yang telah lahir, sedang akan lahir, ataupun yang belum dilahirkan. Mereka tidak terlibat dalam ikhwal yang menyebabkan keterpurukan itu, lalu mengapa musti meminta mereka turun tangan untuk menyelesaikannya?
Sadarkah kita bahwa usia yang panjang dipandang sebagai azab oleh sebagian kecil manusia lanjut usia, karena mereka dipaksa melihat akibat perbuatan di masa lalu dan didera rasa penyesalan berkepanjangan? Saya yakin, di antara kita semua tak ada yang ingin menjalani masa tua dengan penuh duka cita. Daripada mengharapkan anak-anak kita mendatangkan kebahagiaan itu kepada kita, lebih baik kita kelola saja diri dan situasi terkini kita ini baik-baik, agar di masa depan kita bisa menuai buah kebaikan yang pernah kita tanam, tanpa harus dimusuhi anak muda yang bercita-cita menjadi Singha, si maharaja hutan yang selalu berbahaya, baik di usia muda maupun tua.
Misalnya, seorang anak manja adalah cerminan karakter seorang manusia dewasa dengan kehidupan berkecukupan berkat alam yang kaya dan subur, malas bekerja dan bersusah payah karena merasa telah memiliki segalanya. Atau seorang anak yang suka buang sampah sembarangan akan membuat orang lain merasa repot karena harus membersihkan sampah yang ia tinggalkan. Dan seorang anak yang suka mengadu adalah refleksi dari manusia tanpa rasa berani untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Maka dari itu, adalah sebuah ketidakadilan besar jika suatu bangsa sudah membebankan tanggung jawab mengangkat harkat dan martabat bangsa itu sendiri di pundak anak-anak muda, baik yang telah lahir, sedang akan lahir, ataupun yang belum dilahirkan. Mereka tidak terlibat dalam ikhwal yang menyebabkan keterpurukan itu, lalu mengapa musti meminta mereka turun tangan untuk menyelesaikannya?
Sadarkah kita bahwa usia yang panjang dipandang sebagai azab oleh sebagian kecil manusia lanjut usia, karena mereka dipaksa melihat akibat perbuatan di masa lalu dan didera rasa penyesalan berkepanjangan? Saya yakin, di antara kita semua tak ada yang ingin menjalani masa tua dengan penuh duka cita. Daripada mengharapkan anak-anak kita mendatangkan kebahagiaan itu kepada kita, lebih baik kita kelola saja diri dan situasi terkini kita ini baik-baik, agar di masa depan kita bisa menuai buah kebaikan yang pernah kita tanam, tanpa harus dimusuhi anak muda yang bercita-cita menjadi Singha, si maharaja hutan yang selalu berbahaya, baik di usia muda maupun tua.
Minggu, 31 Agustus 2014
KETIKA PESTA USAI
“Kegelisahan terletak di kepala
yang mengenakan mahkota.”
—William Shakespeare
Henry IV, Part II
Henry IV, Part II
Semua
keceriaan, kegembiraan dan eforia sesaat berakhir ketika satu per satu pesta
meninggalkan kita, mulai dari pesta sepak bola dunia, pesta demokrasi, pesta
ketupat dan pesta panjat pinang. Di tengah-tengah pesta kita dibujuk untuk
melupakan segala masalah, dan kita dengan ikhlas dan tanpa syak wasangka
menerima begitu saja bujukan itu. Kita membiarkan diri kita terhanyut dan mabuk
oleh keadaan (yang lebih hemat daripada mabuk miras oplosan karena kita nggak
harus mengeluarkan uang sepeserpun demi bisa merasakan yang namanya mabuk).
Gangguan kepada suasana pesta dan mabuk keadaan ini adalah merupakan
pelanggaran serius, dan kita akan dapat dengan mudah menjadi murka karenanya.
Tak segan-segan kita memutuskan hubungan pertemanan yang telah dijalin
bertahun-tahun akibat hal remeh temeh, ketika si teman tega mengganggu dengan
menuliskan komentar pedas terhadap kesenangan kita pada postingannya di
jejaring sosial. Berkelahi demi membela sesuatu yang kita senangi adalah hal
yang biasa, demikian pula perpecahan dalam keluarga karena masing-masing
anggota memiliki kesenangan yang berbeda.
Tapi
pesta-pesta yang usai itu menyisakan lebih dari sekedar polemik akibat perbedaan
kesenangan. Ada sesuatu yang hilang ketika mendadak segala gegap gempita itu
meninggalkan kita, menghilang dalam waktu dan era. Bahkan dalam tidur pun kita
seperti masih bisa mendengar gelak tawa, setiap gebyar kembang api dan suara
denting botol bir yang bersentuhan. Semua seperti memanggil-memanggil kita
untuk kembali, seperti menolak dilupakan dan dibiarkan berlalu. Kita tidak siap
menghadapi keheningan yang datang mendadak. Tidak siap menghadapi hilangnya
puluhan, ratusan atau ribuan pasang mata yang menatap iri dan kagum pada kita.
Kita memang tak selalu mengenal baik para pemilik sorotan mata itu, beberapa di
antara mereka mungkin namanya pun tidak kita kenal. Namun di tengah pesta,
identitas bukan lagi menjadi hal utama. Karena, selain daripada bersosialisasi,
di dalam pesta kita mencari kegembiraan, dan juga pengakuan.
Seorang pertapa yang telah menyepi begitu lama
tidak berminat terhadap hedonism dunia fana. Akan tetapi manusia dengan darah
mudanya masih membutuhkan pengakuan dari pihak lain yang berada di luar
dirinya. Pengakuan yang dianggapnya dapat menjadi modal untuk dapat berjalan
dengan kepala tegak.
Demikian
pula suatu bangsa dan negara yang telah dijerat dalam nasib buruk sejak puluhan
ribu tahun silam. Sebuah bangsa yang belum berumur seabad, seperti mereka yang
mendiami tanah ini. Ketika para perantau tak diundang menjejakkan kaki dan
mengatakan kepada mereka bahwa di sini, di tanah ini adalah tanah yang dihuni
kaum tak beradab, liar dan barbar; kaum pribumi yang lugu yakin kalau diri
mereka sendiri adalah barbar, karena sistem yang mereka ciptakan terus menerus
membawa mereka dalam pertengkaran abadi yang meresahkan. Oleh karena itu,
rakyat yang berdiam di Tanah Perak Jawa Barat tak menolak ketika seorang
perantau dari India yang bernama Dewawarman datang berkunjung dan mengusulkan
pendirian sebuah kerajaan yang di kemudian hari dinamakan dengan Kerajaan
Salakanagara, kerajaan pertama di tanah Jawa.
Toh
bangkitnya hegemoni kerajaan tak menjamin kehidupan masyarakat pribumi semakin
jauh dari sengketa. Perjalanan sejarah di Tanah Jawa (dan juga tanah lainnya di
pelosok Nusantara) selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, perebutan
kekuasaan dan singgasana. Nyaris tak ada kerajaan yang bisa bertahan lama
setelah terlibat dalam peperangan. Mereka musnah karena tak punya kekuatan atau
dihukum oleh bencana alam atau akibat kedatangan para pendatang lain yang
memiliki karakter berbeda dan lebih kejam. Dan masyarakat pribumi pun semakin
lupa bahwa pada jaman dahulu kala, di kala segala gemerlapannya harta benda dan
pesta kerajaan hanyalah kisah pengantar tidur dari para perantau negeri
seberang; bahwa mereka pernah hidup dengan lebih damai, tenang dalam kesederhanaan,
di bawah naungan sistem yang mereka buat sendiri sebelum datangnya sistem
kerajaan. Sistem apakah itu? Saya akan membahasnya lain waktu.
Semua suka memakai mahkota
Apa sih yang biasanya Anda lakukan saat berpesta? Makan? Minum? Mabuk? Mencari teman kencan? Memamerkan kesuksesan? Apapun itu, pesta ibarat keadilan bagi semua, berbagi kesenangan secara merata. Dan jika seorang tamu pesta tetap merasa sedih hingga pesta berakhir, itu artinya panitia penyelenggara pesta telah gagal. Hal semacam inilah yang kadang luput dari perhatian penyelenggara pesta, apakah hadirin merasa senang atau tidak bukanlah urusan tuan rumah. Tuan rumah hanya bertugas menyediakan kebutuhan fisik, bukan untuk menyenangkan kebutuhan batin tamunya. Bisa jadi tujuan utama pesta memang bukanlah bekerja sama menyenangkan diri masing-masing. Namun lebih sekedar upaya menunjukkan eksistensi diri melalui segenap kemewahan hidangan dan hiburan. Bahwa pemberian yang mahal secara cuma-cuma adalah semacam pernyataan tingkat kesejahteraan yang melebihi siapapun, bahkan para tamu yang hadir di dalam pesta.
Apa sih yang biasanya Anda lakukan saat berpesta? Makan? Minum? Mabuk? Mencari teman kencan? Memamerkan kesuksesan? Apapun itu, pesta ibarat keadilan bagi semua, berbagi kesenangan secara merata. Dan jika seorang tamu pesta tetap merasa sedih hingga pesta berakhir, itu artinya panitia penyelenggara pesta telah gagal. Hal semacam inilah yang kadang luput dari perhatian penyelenggara pesta, apakah hadirin merasa senang atau tidak bukanlah urusan tuan rumah. Tuan rumah hanya bertugas menyediakan kebutuhan fisik, bukan untuk menyenangkan kebutuhan batin tamunya. Bisa jadi tujuan utama pesta memang bukanlah bekerja sama menyenangkan diri masing-masing. Namun lebih sekedar upaya menunjukkan eksistensi diri melalui segenap kemewahan hidangan dan hiburan. Bahwa pemberian yang mahal secara cuma-cuma adalah semacam pernyataan tingkat kesejahteraan yang melebihi siapapun, bahkan para tamu yang hadir di dalam pesta.
Dahulu
memang hanya sang raja saja yang memakai mahkota. Namun kini, siapapun bisa
bangga memakai mahkota dengan membelinya. Ya, membeli. Rumah yang bagus,
perhiasan mewah, mobil impor, karir yang menanjak sudah cukup membuat
sekelompok orang merasa bangga. Kesejahteraan yang dipamerkan dalam bentuk
upaya menyenangkan hati semua orang seharusnya tidak salah. Namun permasalahan
akan timbul di kala orang-orang itu tidak mengetahui cara sesat atau benarkah
yang dipakai seseorang dalam mendapatkan mahkotanya. Seseorang sadar telah
menempuh jalan yang salah, lalu akan berusaha menutup mulut orang-orang di sekitarnya
untuk bertanya. Itu adalah hal yang sangat wajar karena kebanggaan adalah
sesuatu yang berharga, dan rongrongan terhadap kebanggaan adalah sama dengan
tindakan terorisme terhadap eksistensi diri, terhadap kebutuhan sebuah pihak
untuk mendapatkan pengakuan.
Kebutuhan
mendapatkan pengakuan? Bukankah itu penyakit temporer yang diderita para ABG?
Sedangkan usia kita di sini sudah terlalu kadaluarsa untuk disebut ABG. Jangan
salah, kebutuhan mendapatkan pengakuan itu adalah milik siapa saja, untuk
segala umur. Pencipta karakter Hello Kitty pun masih merasa perlu meluruskan
jati diri si tokoh yang identik dengan warna pink, meski kini Kitty telah
berumur 40 tahun. Dalam sebuah jumpa pers diungkapkan bahwa meski berwajah
mirip kucing, Kitty bukanlah seekor kucing. Ia adalah anak manusia yang
berkulit putih, tidak tinggal di Inggris dan bermata sipit. Mungkin Kitty
mengalami guncangan hebat secara psikologis, kehilangan sesuatu, ditinggalkan
oleh seseorang atau menjadi korban perang, sehingga ia membonsaikan dirinya
sendiri dalam kenangan atas masa kecil yang membahagiakan. Waktu berlalu, dan
Kitty dalam umurnya yang ke-40 tetap menjadi seorang anak kelas 3 SD, mungkin
untuk selamanya.
Suatu
negara pasti pernah meragukan rasa cinta para warga negara terhadap dirinya.
Oleh karena itulah slogan-slogan patriotism digembar-gemborkan demi untuk
mengingatkan warga negara agar selalu mencintainya. Ibarat seorang kekasih
yang menaruh curiga akan kesetiaan belahan jiwanya. Ia membutuhkan pengakuan
untuk menyembuhkan keragu-raguannya, yang mana adalah penyakit hati yang telah
dibuatnya sendiri.
Ya, keraguan yang kita bayangkan sesungguhnya hanya ilusi. Ilusi yang timbul bukan karena pengaruh narkoba, melainkan karena keputusasaan setelah menyadari kekurangberuntungan nasibnya sebagai obyek yang harus tunduk terhadap perintah orang lain, kaum linuwih (lebih) dalam hal apa saja dibandingkan dengan nasib mereka sendiri.
Ya, keraguan yang kita bayangkan sesungguhnya hanya ilusi. Ilusi yang timbul bukan karena pengaruh narkoba, melainkan karena keputusasaan setelah menyadari kekurangberuntungan nasibnya sebagai obyek yang harus tunduk terhadap perintah orang lain, kaum linuwih (lebih) dalam hal apa saja dibandingkan dengan nasib mereka sendiri.
Selama
beratus tahun sebelum kedatangan para perantau Hindustan, setiap tanah di
Nusantara telah memiliki dan mengembangkan kemampuan untuk mengorganisasi diri
mereka menjadi sebuah kelompok besar yang bergerak berdasarkan kesepakatan.
Pemimpin bukanlah jabatan untuk dipamerkan, melainkan koordinator yang bertugas
merumuskan dan menyimpulkan kebijakan terbaik berdasarkan banyak pendapat.
Meski demikian, bukan berarti sistem yang lahir di awal kisah sejarah manusia
Bumi dituliskan ini bebas dari prahara. Friksi tetap saja terjadi, dan tak jauh
beda dengan masa kini, ujung pangkal masalah selalu tak lain dan tak bukan
adalah tentang uang dan usaha mendapatkan makanan. Makanan yang enak akan
memuaskan lidah, namun hanya kebanggaan dan kehormatanlah yang mampu
memusnahkan rasa haus oleh pengakuan. Makanan yang enak bisa dibeli. Jadi,
bisakah kita membeli kebanggaan?
Membiasakan diri dengan
kehinaan
Mungkinkah dahulu tanah ini begitu penuh sesak oleh keajaiban, sehingga siapapun yang berdiam di atasnya tak pernah ingin meninggalkannya? Bahwa tanah ini ditakdirkan menjadi comfort zone, zona nyaman yang mampu menghidupi manusia rakus yang menjelajahi punggung-punggung perbukitan, tinggal di dalam gua dan menghabiskan waktu dengan melukis gambar tangan atau monyet. Kehidupan yang sangat sederhana menjadi pilihan bukan karena kebodohan atau kurang ilmu pengetahuan. Melainkan karena mereka tiadanya keinginan untuk hidup melampaui batas, dan berakibat menyinggung perasaan orang lain.
Naif, Anda bilang? Ya, memang. Dan kini Anda pun tahu sebuah sisi dari karakter nenek moyang kita yang sebenarnya. Sekumpulan orang pecinta ketentraman yang suka berkumpul bersama keluarga dan tetangga dan teman-teman yang jauh. Sangat kaya karena berkat makanan yang disediakan hutan secara gratis. Suatu paguyuban yang tak pernah menanti undangan pesta, karena mereka berpesta setiap hari dalam keramahtamahan alam yang mencintai ketidakserakahan.
Mungkinkah dahulu tanah ini begitu penuh sesak oleh keajaiban, sehingga siapapun yang berdiam di atasnya tak pernah ingin meninggalkannya? Bahwa tanah ini ditakdirkan menjadi comfort zone, zona nyaman yang mampu menghidupi manusia rakus yang menjelajahi punggung-punggung perbukitan, tinggal di dalam gua dan menghabiskan waktu dengan melukis gambar tangan atau monyet. Kehidupan yang sangat sederhana menjadi pilihan bukan karena kebodohan atau kurang ilmu pengetahuan. Melainkan karena mereka tiadanya keinginan untuk hidup melampaui batas, dan berakibat menyinggung perasaan orang lain.
Naif, Anda bilang? Ya, memang. Dan kini Anda pun tahu sebuah sisi dari karakter nenek moyang kita yang sebenarnya. Sekumpulan orang pecinta ketentraman yang suka berkumpul bersama keluarga dan tetangga dan teman-teman yang jauh. Sangat kaya karena berkat makanan yang disediakan hutan secara gratis. Suatu paguyuban yang tak pernah menanti undangan pesta, karena mereka berpesta setiap hari dalam keramahtamahan alam yang mencintai ketidakserakahan.
Namun,
alam bukanlah suatu individu dengan karakter penuh kedamaian. Alam yang cantik,
halus tutur katanya dan baik hati
seperti Dewi Parwati, bisa menjelma menjadi kekuatan yang menghancurkan,
menjadi sumber bagi semua penderitaan dan kemalangan, seperti Dewi Parwati yang
menjelma menjadi Dewi Kali ketika tersulut emosi, tak segan meletakkan kaki di
dada Siwa, orang yang dicintainya. Apakah ini juga merupakan suatu pertanda
bahwa penyakit psikologis gangguan emosi atau bipolar disorder telah
menjangkiti manusia ribuan tahun yang lampau? Bisa jadi. Yang jelas, ada
sesuatu yang hilang di masa ketika para perantau negri yang jauh itu datang.
Semenjak kedatangan mereka, para nenek moyang pribumi mendadak setuju
meninggalkan sistem yang dibuatnya, seolah hasil karya entah-siapa-itu yang
telah mereka praktekkan sejak masa ayah mereka dan ayah dari ayah mereka dan
ayah dari ayah ayah mereka dan seterusnya adalah sesuatu yang hina dan tak
pantas dibanggakan.
Para nenek moyang berusaha membiasakan diri hidup dalam kehinaan dengan mengadaptasikan diri terhadap pengaruh baru, berusaha mempelajari baik-baik nilai-nilai baru. Dan dengan penuh penghormatan terhadap para pendahulu yang membentuk sistem mereka, pengaruh baru itu dilunakkan dengan tutur bahasa yang halus dan mungkin juga rayuan, bahwa ada kesamaan di antara pengaruh asli dan pengaruh baru, jadi mengapa kita tidak menyatukan diri saja. Suatu pilihan yang sangat amat mengesankan karakter oportunis alami suatu bangsa, bukan?
Tapi saya berusaha memandang dari sudut pandang positif, bahwa kompromi mereka lakukan agar budaya asli tak kehilangan tempat dan pengikutnya. Bahwa dalam kedamaian yang seolah-olah itu mereka menyimpan penyesalan karena merasa terhina di tanah kelahiran mereka sendiri. Hal ini terbukti karena adanya karakter pencitraan, jaga imej, jaga iman, demi gengsi, dsb. dll. dst. yang begitu kental dan terus menerus diajarkan secara turun menurun. Karakter yang disertai tindakan membaik-baikkan diri dengan semua kesempurnaan untuk menutupi kegelapan di bawah permukaan. Menutup-nutupi hal yang hina, kehinaan atau perasaan terhina dengan kebanggaan dan hal-hal yang memancing rasa bangga. Dan mereka tak ragu untuk mengangkat senjata di kala segala upaya artifisial ini menemui kegagalan dalam memusnahkan rasa keterhinaan.
Para nenek moyang berusaha membiasakan diri hidup dalam kehinaan dengan mengadaptasikan diri terhadap pengaruh baru, berusaha mempelajari baik-baik nilai-nilai baru. Dan dengan penuh penghormatan terhadap para pendahulu yang membentuk sistem mereka, pengaruh baru itu dilunakkan dengan tutur bahasa yang halus dan mungkin juga rayuan, bahwa ada kesamaan di antara pengaruh asli dan pengaruh baru, jadi mengapa kita tidak menyatukan diri saja. Suatu pilihan yang sangat amat mengesankan karakter oportunis alami suatu bangsa, bukan?
Tapi saya berusaha memandang dari sudut pandang positif, bahwa kompromi mereka lakukan agar budaya asli tak kehilangan tempat dan pengikutnya. Bahwa dalam kedamaian yang seolah-olah itu mereka menyimpan penyesalan karena merasa terhina di tanah kelahiran mereka sendiri. Hal ini terbukti karena adanya karakter pencitraan, jaga imej, jaga iman, demi gengsi, dsb. dll. dst. yang begitu kental dan terus menerus diajarkan secara turun menurun. Karakter yang disertai tindakan membaik-baikkan diri dengan semua kesempurnaan untuk menutupi kegelapan di bawah permukaan. Menutup-nutupi hal yang hina, kehinaan atau perasaan terhina dengan kebanggaan dan hal-hal yang memancing rasa bangga. Dan mereka tak ragu untuk mengangkat senjata di kala segala upaya artifisial ini menemui kegagalan dalam memusnahkan rasa keterhinaan.
Pesta
yang berakhir meninggalkan rasa bangga atau terhina atau tidak ada rasanya,
itulah peran kebijaksanaan manusia yang berpesta. Berhasilkah si bijaksana
menerima kebanggaan atau kehinaan dengan suka rela, duka cita, atau suka sama
suka? Semuanya hanya manusia yang hidup saja bisa menjawabnya. (swastantika)
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



