Selasa, 26 Februari 2013
Senin, 25 Februari 2013
MEMULIHKAN HARGA DIRI
Hal yang berkenaan dengan
syahwat disebut sebagai sunah Rasul bagi sebagian orang, yaitu sesuatu yang
tidak harus dilakukan, namun akan memberikan berkah kepada mereka yang bersedia
melakukannya dengan sukarela, ikhlas, dan tentu saja,sah. Making Love, kata
orang-orang England, memang merupakan sesuatu yang indah, namun keindahan itu
bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh kedua belah pihak yang terlibat di
dalamnya. Ketika hak asasi nan privasi itu kemudian dieksplorasi demi keuntungan
finansial, maka terhenyaklah para kawula. Kaum kita yang lugu membuka pintu
selebar-lebarnya hingga riuh rendah informasi menjejali isi kepala. Di suatu
titik otak tiba-tiba berhenti berjalan lantaran kelebihan muatan. Dalam kondisi
kehilangan akal secara mendadak, mereka mengira akan dapat mengurangi beban
pikiran tersebut dengan mengeluarkan hasrat secara membabi buta kepada siapa
saja.
Sumpah serapah dan hukuman yang jauh lebih keji,
sebagaimana pernah dikatakan penulis Arswendo Atmowiloto, akan didapatkan para
pelaku perkosaan ketika mereka menjalani hukuman di dalam penjara, tempat dimana
mereka hidup bersama dengan kawan-kawan sesama narapidana. Jeruji besi adalah hotel
prodeo, tempat dimana harga manusia dilucuti menjadi sekelas budak, tiada lagi
hak untuk berkumpul bersama keluarga maupun orang yang dicintai. Meski
demikian, ingatan akan keluarga masih membekas begitu dalam di dalam jiwa
orang-orang buangan itu, di saat mereka mengganjar tanpa ampun para perkosaan
yang dianggap telah mencabik-cabik kekasih tercintanya sendiri.
Kegagalan Sistem
Kita boleh menepuk dada sebagai Negara dengan
wilayah Kepulauan terluas di dunia yang kaya akan berbagai macam adat istiadat
dan norma budaya, dikenal sebagai bangsa yang santun dan menjunjung tinggi
norma-norma kesopanan, sekaligus merupakan Negara dengan jumlah penganut agama
Islam terbesar di dunia – yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi seluruh
penganutnya. Dengan segala kelebihan dan predikat yang indah-indah itu, tak
berlebihan kiranya jika sebuah tanggung jawab besar dibebankan ke pundak kita,
yaitu harapan akan terciptanya generasi dengan pribadi-pribadi yang menyejukkan
serta membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.
Namun,
krisis ekonomi dan ketakberpunyaan materi telah mencampakkan kita begitu dalam,
dan sejak saat itu kita tidak lagi berpikir keras tentang arti ketentraman,
selain daripada ketercukupan dalam hal finansial. Kedua orang tua bekerja keras
membanting tulang demi mencukupi kebutuhan dapur dan menggantikan waktu serta
kasih sayang mereka kepada anak-anak dengan sejumlah uang saku, kendaraan
pribadi, gadget keluaran terbaru, dan sekolah berkualitas nomer satu. Maka tidak heran jika hari-hari kita
belakangan ini penuh sesak oleh para orang dewasa berjiwa kanak-kanak, yang
tiada memiliki kepekaan rasa terhadap sesamanya. Orang-orang semacam ini boleh
jadi menjadi suksesor dalam bidangnya masing-masing, namun sebaliknya membawa
malapetaka manakala berupaya memaksakan kehendak duniawi kepada pihak kedua
yang belum tentu memahami.
Ketika
seorang manusia dewasa menjelma menjadi monster yang siap memangsa tanpa
pandang bulu, pertanyaan pertama yang muncul adalah : siapa orang tuanya ?
Dalam keluarga macam apa dia dibesarkan ? Sedemikian burukkah orang tua yang
mengasuhnya, sehingga dia tidak mengerti batas antara benar dan salah ? Ya,
benar. Mereka telah didewasakan oleh keluarga yang gagal. Lantas dimanakah
tangan Negara yang seharusnya tidak hanya bertugas menyejahterakan rakyat dalam
hal materi, namun juga menjamin keselamatan dan keamanan secara rohani dengan
mewaspadai terjangkitnya anak-anak dari penyakit sosial serta perilaku
menyimpang sedini mungkin ? Gagalkah Negara karena membiarkan ekonomi biaya
tinggi menggelinding dengan bebasnya, memaksa para ibu meninggalkan anak-anak
tanpa pengawasan demi sesuap nasi, serta menyerahkan tanggung jawab pembentukan
moral kepada pihak ketiga ?
Bangkit dari Kubur
Para korban perkosaan dahulunya adalah
manusia-manusia normal, namun sesuatu dalam dirinya direnggut dan dikubur
dalam-dalam tepat pada saat dirinya mengalami musibah itu. Sedemikian hebatnya
pelaknatan terhadap para perkosaan, yang musti menerima konsekuensi logis
sebagai buah dari perbuatannya, tidak akan pernah dapat mengembalikan keadaan
semula. Bukan, bukan keperawanan dan atau keperjakaan ( dalam beberapa kasus
sodomi terhadap anak-anak lelaki ). Melainkan ‘perasaan yang sudah tidak
memiliki harga dan diobralpun tidak laku’ yang akan dibawa serta para korban
seumur hidupnya.
Luka
psikis yang ditimbulkan oleh tindak pidana perkosaan bisa menjadi teramat
dalam, dan akan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun, bahkan seumur hidup,
bagi seorang korban perkosaan untuk dapat menerima kenyataan pahit yang dihadiahkan
kehidupan kepadanya. Hilangnya harga diri dan menganggap rendah terhadap
keberadaan diri sendiri adalah beberapa diantara dampak psikologis yang dialami
para korban perkosaan. Gejala ini dapat menjadi pemicu bagi sejumlah tindakan
lanjutan akibat depresi seperti meningkatnya rasa rendah diri, pesimis terhadap
masa depan, pemutusan segala bentuk komunikasi dan interaksi dengan pihak luar,
hilangnya kepercayaan terhadap lawan jenis, percobaan bunuh diri dan
menjerumuskan diri ke lembah prostitusi.
Hal inilah yang sebenarnya perlu mendapatkan
perhatian dalam porsi yang lebih besar dibandingkan perdebatan mengenai
siapakah pemicu terjadinya perkosaan, pelaku dan nafsunya yang tidak terdidik,
ataukah korban yang secara tidak disengaja telah membangkitkan keinginan liar
para pelaku terhadap dirinya, dimana kemungkinan ini mendapat kecaman keras
dari masyarakat sebagai bentuk patriarkisme sistem terhadap para korban
perkosaan. Paling tidak, Negara mampu menyediakan layanan konseling paska
kejadian dengan biaya rendah maupun tanpa biaya, terutama bagi korban yang
berasal dari kalangan kurang mampu. Selain konseling juga perlu adanya
pemantauan perilaku terhadap para korban perkosaan hingga kurun waktu tertentu,
untuk memastikan bahwa mereka telah stabil secara psikis dan siap melanjutkan
hidup kembali. Peran dan kepedulian Negara terhadap para korban sangat penting
sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kembali harga diri yang telah terkoyak,
sehingga para korban mampu mengemudikan kembali kendaraan pada jalurnya semula.(swastantika)
Minggu, 30 Desember 2012
SISTEM YANG IDEAL
Penyambutan
tahun baru yang hiruk pikuk, itu memang adalah salah satu hak asasi
dan pilihan Anda akan menjadi salah satu bagiannya atau tidak. Jika
Julius Caesar, penguasa legendaries sekaligus pencipta kalender
Masehi sempat bangkit dari kuburnya pada era ini, ia pun akan
bertanya-tanya, sebegitu besarkah harga yang harus dikeluarkan
manusia ultra modern demi merasakan sensasi perubahan tanggal dan
kalender ? Atau bisa jadi malah dirinya ogah kembali lagi ke alam
kubur, dan memilih untuk ikut berpesta demi merayakan penemuan system
penanggalan yang dibuatnya sendiri.
Nyatanya,
pergeseran zaman turut serta menggeser kualitas sumber daya manusia,
berikut pola pikir, ketahanan mental serta kecerdasan intuitif
mereka. Beragamnya jenis santapan rupa-rupanya punya andil dalam
menambah jumlah sel-sel kelabu dalam otak, dan manusia ultra modern
menjadi berkelebihan dibanding para pendahulunya, yaitu lebih piawai
dalam mencari jalan pintas tersingkat dalam mewujudkan keinginannya.
Sehingga demi mencapai tujuan mereka tidak perlu lagi menggunakan
system serumit ciptaan para orang tua. Bukankah lebih cepat itu lebih
baik ? Memang. Namun segala kemudahan yang merupakan asal muasal
datangnya attitude
malas dan mudah menyerah itu dipandang sebagai celah dan peluang buat
sebagian kecil manusia ambisius, yang bersedia melakukan segala cara
demi menuju Kota Roma.
Kisah
Sang Pemberontak
Para
pembuat system bukanlah orang-orang masa kini, apalagi masa depan.
Mereka lahir dan dibesarkan dari masa yang sangat random dan antah
berantah, masa-masa penuh perjuangan nan berdarah-darah. Tanpa kerja
keras mereka hari ini kita belum tentu dapat saling berbicara dalam
Bahasa Indonesia, merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 maupun
memiliki kebanggaan karena memiliki kewarganegaraan Indonesia. Oleh
karenanya kita patut mengacungkan jempol karena membuat dan
meletakkan dasar-dasar bangunan Negara bukanlah pekerjaan mudah.
Salah sedikit bisa runtuh susu sebelanga. Akan tetapi, masih saja
ada cabang melintang di jalan, yang mengakibatkan perjalanan tidak
semulus seperti yang sudah diangan-angankan.
Apakah ambisi berkuasa sahaja sudah cukup untuk membuat manusia
lainnya dapat memahami apa yang diinginkannya ? Sayangnya tidak,
karena berbedanya nama tiap-tiap individu makhluk yang namanya
manusia, berbeda jualah isi kepalanya. Sedangkan saat ini adalah era
keemasan internet yang serba cepat, dan manusia merasa mereka telah
membuang waktunya dengan percuma manakala belajar memahami isi kepala
si A, E dan Z, atau mencoba menemukan solusi terbaik dengan
mengadakan musyawarah. Maka bisa dipahami kiranya jika kaum penguasa
seringkali membangun pagar berduri di sekelilingnya berupa sederetan
peraturan dan sanksi hukum, yang tidak perlu adil asalkan dapat
memberikan efek jera kepada para pemilik isi kepala yang mencoba
menjadi jagoan dengan menyatakan ketidaksetujuan.
Ibarat
mangga yang matang akibat diperam, tidak akan pernah bisa seranum
buah mangga yang matang dari pohonnya. Begitupun system yang dipaksa
digunakan untuk mengikat liyan, membosankan, kurang bergairah dan
loyo. Mereka hanya akan menjerumuskan para liyan ke dalam lingkaran
iblis stagnasi. Melalui jalan yang hanya berujung pada titik Sisifus,
maka titik klimaks, puncak pembuktian atas eksistensi sebagai makhluk
berakal budi sejati pun akan semakin jauh dari pandangan. Kegagalan
mencapai puncak hanya akan menimbulkan ketidakpuasan-ketidakpuasan,
yang di kemudian hari kekecewaan itu akan tumbuh dan dewasa sebagai
amok.
Pilihan
Sempurna
Tanpa manusia bersusah payah
pun sebenarnya alam sudah menyediakan segalanya yang mereka butuhkan,
termasuk diantaranya system. Hal itu nampak jelas ketika dua jenis
makhluk hidup yang berlandaskan kasih sayang berikrar dan membuat
komitmen untuk menjalin kerjasama dalam membangun sebuah keluarga.
Sebuah system paling sederhana di muka dunia terbentuk manakala sang
ayah memegang posisi sebagai pemimpin keluarga, ibu sebagai keluarga,
dan anak-anak sebagai makhluk kecil yang harus dirawat baik-baik,
agar dapat melanjutkan tongkat estafet system keluarga kelak saat
mereka sudah dewasa.
Bukan
manusia namanya jika tiada pernah terjerumus dalam lembah kealpaan.
Itulah yang mereka perbuat tatkala dengan gagah berani
memproklamirkan jalan hidup yang dipilihnya sebagai bentuk penolakan
terhadap system yang berlaku. Naifnya kesesatan alam pikiran membuat
mereka lupa, bahwa mereka bisa berjalan, makan dan bercinta karena
adanya system yang mengatur cara kerja organ tubuh masing-masing.
Sistem organ tubuhlah yang memberi tahu mereka kapan saatnya merasa
lapar, dan pada jam berapa mereka harus berangkat tidur. Manusia
tidak dapat melawan keteraturan system alami organ tubuh dengan
mendadak tidak makan seharian, maupun tidak tidur selama
berhari-hari, tanpa menanggung resiko penyakit kronis di belakang
hari. Bisa dipahamikah muasalnya penderitaan manusia ? Yakni pada
saat arogansi mereka menentang system alam, tanpa membekali diri
dengan penerimaan terhadap konsekuensi logis atas bibit yang telah
ditanamnya.
Pada
saat seseorang memutuskan untuk menolak menundukkan kepalanya
dalam-dalam terhadap sebuah system, saat itu pulalah ia ( seharusnya
) tahu jalur alternatif mana yang harus ditempuhnya. Untuk dapat
hidup dan berdiri di luar system, yang mana hal itu merupakan hak
asasi bagi tiap individu manusia untuk memilih, idealisme melulu
tidaklah akan pernah cukup. Perut keroncongan sampai kapanpun tidak
akan bisa dikenyangkan dengan hanya makan kata-kata,
semboyan,filosofi, motivasi, resolusi, dll. Hanya uanglah yang bisa
mengenyangkan perut, tetapi kita mempunyai berbagai macam pilihan
tentang bagaimana memperolehnya dengan cara-cara yang ideal.
Akhirul
kata, andaikata sesosok manusia tadi memang benar-benar keluar dari
system yang diemohinya, dan sukses bertahan hidup dengan jalan (yang
adalah juga merupakan panggilan lain dari kata ‘ system ‘) maka
dirinya pun juga harus bersiap sedia, jikalau di kemudian hari harus
berhadapan dengan sekelompok manusia muda lain yang seperti dirinya,
yang juga gerah berkompromi dengan system yang sama bertahun-tahun
lamanya. (swastantika)
Selasa, 06 November 2012
Rabu, 31 Oktober 2012
RASA YANG MENDIDIK
Sebagai
orang tua yang sudah meninggalkan bangku sekolah dan kuliah selama
bertahun-tahun, sampai saat ini pun saya masih bertanya-tanya, mengapa dulu
saya harus bersekolah, dan mengapa saya mau saja disuruh orang tua berangkat ke
sekolah sambil memanggul puluhan buku tebal dalam tas kami, menelan
mentah-mentah pelajaran tambahan, pengayaan, uji kemampuan bulanan, harian
maupun tahunan, serta semua materi yang dijanjikan akan menjadikan kami menjadi
manusia yang lebih cerdas dan bermartabat di masa mendatang.
Buat kami, guru tidak masuk karena sakit
adalah hal yang ditunggu-tunggu semua murid, mulai dari ketua kelas sampai
siswa teladan. Bukan hendak membalas dendam lantaran sering dimarahi, lalu
mendoakan kesialan menimpa guru tercinta. Melainkan , at least, kami dapat merasakan
sensasi senang dan santai berada di sekolah, berinteraksi dengan teman-teman
senasib, membaca buku atau mendengarkan musik dari walkman dan radio transistor
(harap maklum karena Mp3 player dan iPod saat itu masih berupa
angan-angan penciptanya masing-masing) yang dibawa secara sembunyi-sembunyi. Mangkir alias bolos sekolah adalah suatu
pelanggaran terhadap peraturan yang sedikit menantang adrenalin. Biar orang mau
berkata apa, yang penting kami senang
Meski
kedengaran sedikit ‘anti sistem’, namun kami mengakui perilaku melanggar
peraturan menimbulkan kepuasan tersendiri dalam batin, semacam upaya pembuktian
terhadap paranoia para orang tua, sekolah dan, bahkan, pemerintah. Bukti bahwa
kami punya nyali untuk tampil sebagai insan yang tidak dapat disamakan, dan lebih
mengerti perubahan zaman dibandingkan kaum renta. Dalam sudut pandang kami, penyimpangan perilaku yang kami lakukan bukan
merupakan suatu penyakit berbahaya yang harus diberantas dengan penambahan jam
pelajaran tentang moral dan berbagai jenis norma-norma sosial. Melainkan semacam takdir kegalauan batin alami
yang dialami sesosok manusia dewasa berusia muda, semacam bentuk protes
terhadap kenyataan mengapa harus menjadi ‘besar’ di dalam tubuhnya yang
‘kecil’, dan sebaliknya.
Karakter Instan
Seorang pemerhati pendidikan
terkemuka, Arif Rahman mengatakan, dirinya merasa kecolongan dengan adanya
beberapa peristiwa kekerasan yang melibatkan pelajar, baik sebagai korban
maupun pelaku, belakangan ini. Dengan besar hati beliau menandaskan, peristiwa itu merupakan cermin kesalahan serta tanggung
jawab dari orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah sebagai penyelenggara
pendidikan yang ternyata gagal membentuk watak anak muda kita. Sementara itu,
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menampik tawuran
merupakan akibat dari kegagalan sistem pendidikan (Antara, 30/9), karena hanya
dilakukan sebagian kecil pelajar yang berdomisili di Jakarta dan tidak terjadi
di tempat lain di luar Jakarta ( kecuali Makassar ).
Watak, karakter, perilaku, ketiga
hal inilah yang selalu menjadi kambing hitam atas semakin beringasnya perilaku
generasi penerus kita, menurut sudut pandang kita sebagai pendidik maupun orang
tua. Namun, siapakah yang dapat
mengetahui tentang visi remaja kita tentang masa depan ? Karena toh nyatanya
degradasi tidak hanya terjadi pada kualitas udara yang kita hirup, tetapi juga
pada strategi dan metodologi yang diaplikasikan untuk mencapai suatu tujuan. Bahwa
menurut mereka untuk mendapatkan pengakuan atas kehebatan, ketenaran, dan popularitas
tidak memerlukan jerih payah berdarah-darah seperti nasihat para leluhur,
melainkan cukup dengan meng-upload foto, video, tweet maupun status senarsis
dan sesensasional mungkin tentang diri dan dunianya masing-masing, jawaban lugas
dari pertanyaan ‘what’s on your mind?’, terbebas sejenak dari segala bentuk
peraturan yang membelenggu dirinya.
Namun,
sang anak hanya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemilik, pengguna, tak
pernah menjadi pencipta; dia tidak menemukan dunia ini, dia hanya
menggunakannya: yang disiapkan bagi dia, ada tindakan-tindakan tanpa
petualangan, tanpa pertanyaan, tanpa rasa senang ( Roland Barthes ). Maka
wajarlah jika sebuah surat kabar nasional menyimpulkan gejala depresi manusia
modern ada kaitannya dengan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk
bersosialisasi di jejaring sosial. Mereka menanti dengan penuh harap tanggapan
simpatik dalam komentar rekan-rekan mayanya, namun tidak siap dengan sikap
sinis maupun apatis yang mungkin saja terposting. Kesibukan bermain gadget membuat mereka lupa
cara menghadapi kenyataan hidup, dan sibuk mencari sasaran pelampiasan
kemarahan. Sikap diam anak muda di rumah
justru merupakan lampu kuning bagi kita, adakah mereka hanya menunggu waktu dan
kesempatan untuk melampiaskan ketidakpuasannya terhadap ketidak ramahan dunia secara
membabi buta ?
#Save Our Children
Pernahkah Anda mendengar nama Leonardo
Da Vinci ? Ya, dia adalah kreator di balik buah karya fenomenal sepanjang masa,
Monalisa, yang ternyata juga adalah seorang musisi, koki dan ilmuwan. Melalui
sketsanya ia mencoba mengungkapkan hasil pengamatan tentang cara terbang seekor
burung (yang di kemudian hari dikembangkan oleh Wright Bersaudara menjadi alat
transportasi yang bernama pesawat terbang), desain kapal selam, jam, kanon uap,
pompa hidrolik dan sebuah studi tentang anatomi tubuh manusia. Sejarah mencatat
kemampuan Da Vinci (di kemudian hari beliau diketahui juga mengidap sindroma
autism) yang belum tertandingi dalam hal menggabungkan gambar nyata suatu
rancangan (gambar teknik) dengan unsur keindahan, yang mengilhami banyak orang
hingga detik ini.
Eksistensi Da Vinci seakan mengamini
pengertian umum tentang seni, yakni sebuah aktifitas yang merupakan hasil
cipta, rasa dan karsa manusia yang memiliki nilai keindahan. Aktifitas
sederhana ini memang hanya membutuhkan kebebasan para pelakunya untuk mengekspresikan
segala bentuk ide. Dengan berkesenian manusia tidak harus menjadi seseorang
yang tidak diinginkannya, karena setiap ekspresi dalam seni membutuhkan
kejujuran terhadap apa yang dirasakan di dalam benak masing-masing. Seni juga
merupakan suatu titik dimana ilmu
mengawali langkah fenomenalnya untuk kali pertama, dimana tiap manusia
dapat menumbuhkan keingintahuan di dalam dirinya masing-masing, serta
membebaskan mereka untuk menemukan berbagai pengetahuan di pelbagai
kedalamannya yang mencengangkan.
Akan tetapi, waktu berlalu begitu
cepat, dan kebutuhan naluri berksperesi dipandang sebagai penghambat kemajuan.
Terbukti, kurikulum pendidikan dasar dan menengah di negeri ini kian
meminggirkan mata pelajaran Kesenian sebagai mata pelajaran wajib. Kesenian
dianggap tidak membawa manfaat, selain sebagai penggembira acara peresmian
gedung, tujuhbelasan, atau pentas akhir tahun ajaran. Dibanding mata pelajaran
eksak seni tidak akan membuat orang menjadi kaya raya dan terkenal, karena tidak ada kisahnya orang berlatar
belakang pendidikan seni meraih posisi mapan di sebuah perusahaan. Namun,
apakah tujuan mendidik adalah untuk menjadikan sang anak kaya ketika mereka
dewasa, sehingga kita bira balik modal ?
Manusia tidak dapat disebut pandai
plus jenius hanya karena ia dapat memecahkan sejuta persoalan matematika dan
fisika. Apalah artinya sebuah kepandaian, jika tidak dibarengi dengan kepekaan
rasa terhadap keberadaan individu lain di sekitarnya. Berartikah kejeniusan
bila hanya mendatangkan penderitaan bagi sesama ? Berhati-hatilah terhadap
kekayaan, kecuali bila tidak keberatan menjadi korban kriminalitas., atau
kehilangan nyawa.
(swastantika)
Minggu, 30 September 2012
MIMPI TERINDAH
Belakangan ini tetangga saya mengeluh, bangun
tidur tubuh bukannya segar malah tambah terasa pegal-pegal. Padahal, ia mengaku
sudah berangkat ke peraduan sejak pukul 9 malam, dan baru bangun setelah pukul
6 pagi keesokan harinya, itu pun dengan bantuan omelan istri. Berangkat tidur
lebih awal dan bangun paling lambat diakuinya sudah menjadi kegiatan favoritnya
selama beberapa bulan terakhir. Kapan tepatnya, ia tidak yakin. Satu-satunya
yang diyakininya adalah, ekonomi biaya akan semakin tinggi hingga batas waktu
yang tidak ia ketahui, dan berharap dalam mimpinya akan ditemukan jawaban
mengenai tanggal dan jam berakhirnya krisis beras di negeri ini.
Perlukah
kita bermimpi ? Mungkin Anda akan menjawab ‘ya’, karena selain sebuah aktifitas
wajar pada otak, mimpi adalah sebuah hiburan murah. Cukup dengan membaringkan
badan dan memejamkan mata, kita dapat merasakan sensasi suatu pengalaman baru,
meski hanya maya. Ada beberapa mimpi yang dapat berulang setiap kali manusia
berangkat ke alam tidur, tergantung kepada kondisi psikologis masing-masing. Beberapa
lainnya sangat dan teramat indah, tidak dapat diulangi, bahkan di dunia nyata sekalipun.
Namun,
ada juga sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk dapat dan merasakan
adanya mimpi, tak peduli seberapa empuk dan nyaman kasur, atau berapa botol dan
butir pil tidur yang ditenggaknya. Lantas, kaum jenis ini pun berpikir
pragmatis, mungkin mereka harus mengeluarkan sejumlah rupiah untuk dapat
meyakini kehadiran mimpi dalam kehidupan mereka.
Mimpi
Terindah
Walaupun tiap individu
mempunyai definisi sendiri-sendiri, saya 99,99% yakin bahwa hidup layak tanpa
kekurangan merupakan salah satu impian terindah setiap umat manusia di muka
Bumi. Memang sih, hal itu merupakan salah satu hak pokok manusia yang paling
asasi. Namun, apa daya, jauh panggang dari api. Jangankan untuk hidup layak,
sekedar dapat bernafas kembali pada esok haripun sudah lebih dari cukup.
Maka jangan heran, ketika
manusia mendadak berubah menjadi monster pemakan segala diskon, demi memperoleh
barang-barang berkilau untuk dikenakan atau dipamerkan di Hari Raya yang baru
saja lewat. Rela mempertaruhkan nyawa dengan menjadi pencuri jemuran, pencopet,
preman parkiran, demi menyenangkan anak istri. Sementara, sebagian kecil lainnya
mengakhiri hidup dengan cara sendiri, akibat putus asa tidak berdaya untuk larut
dalam keriaan duniawi tersebut.
Demi mencapai prestasi
sebagai negara yang tidak gagal, data statistik mengenai pertumbuhan ekonomi
yang positif di Indonesia pun digembar-gemborkan.
Di saat perekonomian Eropa terpuruk dan hanya mampu tumbuh di bawah 1% pada
tahun ini, Indonesia boleh berbangga hati karena mencapai pertumbuhan ekonomi
sebesar 6%. Tak kurang dari Fitch Rating dan Moody’s memberikan status investment grade kepada negara tercinta,
terkait persepsi positif Indonesia di mata investor (Media Indonesia, Kamis
16/8/2012).
Angka-angka itu memang
menyatakan adanya peningkatan pertumbuhan yang tak lain dan tak bukan, berasal
dari peningkatan konsumsi masyarakat akibat perubahan harga sejumlah barang
kebutuhan pokok. Jadi bukan karena
Negara berhasil melakukan pemerataan keadilan ekonomi, mengangkat taraf hidup
kaum tak berpunya, ataupun berhasil memotivasi mereka (dan, terutama, dirinya sendiri) untuk memperbaiki nasib saat
ini.
Bangun
dari Mimpi
Ketika saya
memutuskan pada pukul berapa saya tidur, pada saat bersamaan (seharusnya) saya
juga sudah memutuskan pada pukul berapakah saya akan bangun. Akan tetapi,
semalam lalu adalah malam yang berat, saya habis kerja lembur, terjebak macet
harian, dan saya hanyalah manusia biasa yang mendambakan tidur
senyaman-nyamannya. Mungkin saja setanlah yang akan bangun jika Anda
membangunkan saya tanpa permisi. Emangnya mau situ diterkam setan ?
Meski
demikian, mau tidak mau, bersedia atau tidak bersedia, siap atau tidak siap,
saya, Anda dan kita semua harus segera bangun dari tidur, untuk kemudian dapat
bergerak dan beraktifitas, kalau tidak ingin dianggap almarhum karena memilih
untuk diam dalam tidur dan menyambung mimpi selama mungkin. Toh Anda tidak
membutuhkan seorang motivator pun untuk berkata di depan hidung Anda, bahwa
langkah pertama untuk segera melepaskan diri dari jeratan mimpi adalah bangkit,
membuka mata selebar mungkin, segera mandi, dan jangan tidur lagi.
Ya
memang ada sih sebagian kecil golongan yang merasa tidak siap menghadapi
transisi dari dunia mimpi ke dunia nyata, dari jaman sepur lempung ke jaman
komuter listrik, dari masa kini ke masa lalu, dan melepasliarkan kegagapannya
hingga melukai diri kita, orang lain serta dirinya sendiri. Musti dendamkah
kita kepadanya ? Jangan. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengasihani dan
memaafkan dirinya, yang merepresentasikan salah satu jenis spesies penderita
ketakutan akut terhadap sesuatu yang gaib, sesuatu yang belum tentu, sahih dan
pasti terjadi.
Sebagian dari kita mungkin
telah mati rasa, dan menganggap ketidakpastian dalam hidup belakangan ini
merupakan sesuatu yang biasa, sesuatu takdir yang tidak mungkin bisa kita ubah.
Apakah mungkin karena terjerembab dalam keputusasaan itulah yang kemudian
membuat sebagian dari diri kita memutuskan untuk berhenti berharap, dan
membangun istana impian dengan bantuan narkoba, tikus, tuyul, maupun dukun
pengganda uang ? Sebenarnya manakah yang
kenyataan, hidup menderita ataukah berfoya-foya ? Sebentar, sebentar … saya
juga ragu nih, sebenarnya saya sekarang lagi bermimpi atau enggak ya ?
(swastantika)
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...


