Selasa, 06 November 2012
Rabu, 31 Oktober 2012
RASA YANG MENDIDIK
Sebagai
orang tua yang sudah meninggalkan bangku sekolah dan kuliah selama
bertahun-tahun, sampai saat ini pun saya masih bertanya-tanya, mengapa dulu
saya harus bersekolah, dan mengapa saya mau saja disuruh orang tua berangkat ke
sekolah sambil memanggul puluhan buku tebal dalam tas kami, menelan
mentah-mentah pelajaran tambahan, pengayaan, uji kemampuan bulanan, harian
maupun tahunan, serta semua materi yang dijanjikan akan menjadikan kami menjadi
manusia yang lebih cerdas dan bermartabat di masa mendatang.
Buat kami, guru tidak masuk karena sakit
adalah hal yang ditunggu-tunggu semua murid, mulai dari ketua kelas sampai
siswa teladan. Bukan hendak membalas dendam lantaran sering dimarahi, lalu
mendoakan kesialan menimpa guru tercinta. Melainkan , at least, kami dapat merasakan
sensasi senang dan santai berada di sekolah, berinteraksi dengan teman-teman
senasib, membaca buku atau mendengarkan musik dari walkman dan radio transistor
(harap maklum karena Mp3 player dan iPod saat itu masih berupa
angan-angan penciptanya masing-masing) yang dibawa secara sembunyi-sembunyi. Mangkir alias bolos sekolah adalah suatu
pelanggaran terhadap peraturan yang sedikit menantang adrenalin. Biar orang mau
berkata apa, yang penting kami senang
Meski
kedengaran sedikit ‘anti sistem’, namun kami mengakui perilaku melanggar
peraturan menimbulkan kepuasan tersendiri dalam batin, semacam upaya pembuktian
terhadap paranoia para orang tua, sekolah dan, bahkan, pemerintah. Bukti bahwa
kami punya nyali untuk tampil sebagai insan yang tidak dapat disamakan, dan lebih
mengerti perubahan zaman dibandingkan kaum renta. Dalam sudut pandang kami, penyimpangan perilaku yang kami lakukan bukan
merupakan suatu penyakit berbahaya yang harus diberantas dengan penambahan jam
pelajaran tentang moral dan berbagai jenis norma-norma sosial. Melainkan semacam takdir kegalauan batin alami
yang dialami sesosok manusia dewasa berusia muda, semacam bentuk protes
terhadap kenyataan mengapa harus menjadi ‘besar’ di dalam tubuhnya yang
‘kecil’, dan sebaliknya.
Karakter Instan
Seorang pemerhati pendidikan
terkemuka, Arif Rahman mengatakan, dirinya merasa kecolongan dengan adanya
beberapa peristiwa kekerasan yang melibatkan pelajar, baik sebagai korban
maupun pelaku, belakangan ini. Dengan besar hati beliau menandaskan, peristiwa itu merupakan cermin kesalahan serta tanggung
jawab dari orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah sebagai penyelenggara
pendidikan yang ternyata gagal membentuk watak anak muda kita. Sementara itu,
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menampik tawuran
merupakan akibat dari kegagalan sistem pendidikan (Antara, 30/9), karena hanya
dilakukan sebagian kecil pelajar yang berdomisili di Jakarta dan tidak terjadi
di tempat lain di luar Jakarta ( kecuali Makassar ).
Watak, karakter, perilaku, ketiga
hal inilah yang selalu menjadi kambing hitam atas semakin beringasnya perilaku
generasi penerus kita, menurut sudut pandang kita sebagai pendidik maupun orang
tua. Namun, siapakah yang dapat
mengetahui tentang visi remaja kita tentang masa depan ? Karena toh nyatanya
degradasi tidak hanya terjadi pada kualitas udara yang kita hirup, tetapi juga
pada strategi dan metodologi yang diaplikasikan untuk mencapai suatu tujuan. Bahwa
menurut mereka untuk mendapatkan pengakuan atas kehebatan, ketenaran, dan popularitas
tidak memerlukan jerih payah berdarah-darah seperti nasihat para leluhur,
melainkan cukup dengan meng-upload foto, video, tweet maupun status senarsis
dan sesensasional mungkin tentang diri dan dunianya masing-masing, jawaban lugas
dari pertanyaan ‘what’s on your mind?’, terbebas sejenak dari segala bentuk
peraturan yang membelenggu dirinya.
Namun,
sang anak hanya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemilik, pengguna, tak
pernah menjadi pencipta; dia tidak menemukan dunia ini, dia hanya
menggunakannya: yang disiapkan bagi dia, ada tindakan-tindakan tanpa
petualangan, tanpa pertanyaan, tanpa rasa senang ( Roland Barthes ). Maka
wajarlah jika sebuah surat kabar nasional menyimpulkan gejala depresi manusia
modern ada kaitannya dengan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk
bersosialisasi di jejaring sosial. Mereka menanti dengan penuh harap tanggapan
simpatik dalam komentar rekan-rekan mayanya, namun tidak siap dengan sikap
sinis maupun apatis yang mungkin saja terposting. Kesibukan bermain gadget membuat mereka lupa
cara menghadapi kenyataan hidup, dan sibuk mencari sasaran pelampiasan
kemarahan. Sikap diam anak muda di rumah
justru merupakan lampu kuning bagi kita, adakah mereka hanya menunggu waktu dan
kesempatan untuk melampiaskan ketidakpuasannya terhadap ketidak ramahan dunia secara
membabi buta ?
#Save Our Children
Pernahkah Anda mendengar nama Leonardo
Da Vinci ? Ya, dia adalah kreator di balik buah karya fenomenal sepanjang masa,
Monalisa, yang ternyata juga adalah seorang musisi, koki dan ilmuwan. Melalui
sketsanya ia mencoba mengungkapkan hasil pengamatan tentang cara terbang seekor
burung (yang di kemudian hari dikembangkan oleh Wright Bersaudara menjadi alat
transportasi yang bernama pesawat terbang), desain kapal selam, jam, kanon uap,
pompa hidrolik dan sebuah studi tentang anatomi tubuh manusia. Sejarah mencatat
kemampuan Da Vinci (di kemudian hari beliau diketahui juga mengidap sindroma
autism) yang belum tertandingi dalam hal menggabungkan gambar nyata suatu
rancangan (gambar teknik) dengan unsur keindahan, yang mengilhami banyak orang
hingga detik ini.
Eksistensi Da Vinci seakan mengamini
pengertian umum tentang seni, yakni sebuah aktifitas yang merupakan hasil
cipta, rasa dan karsa manusia yang memiliki nilai keindahan. Aktifitas
sederhana ini memang hanya membutuhkan kebebasan para pelakunya untuk mengekspresikan
segala bentuk ide. Dengan berkesenian manusia tidak harus menjadi seseorang
yang tidak diinginkannya, karena setiap ekspresi dalam seni membutuhkan
kejujuran terhadap apa yang dirasakan di dalam benak masing-masing. Seni juga
merupakan suatu titik dimana ilmu
mengawali langkah fenomenalnya untuk kali pertama, dimana tiap manusia
dapat menumbuhkan keingintahuan di dalam dirinya masing-masing, serta
membebaskan mereka untuk menemukan berbagai pengetahuan di pelbagai
kedalamannya yang mencengangkan.
Akan tetapi, waktu berlalu begitu
cepat, dan kebutuhan naluri berksperesi dipandang sebagai penghambat kemajuan.
Terbukti, kurikulum pendidikan dasar dan menengah di negeri ini kian
meminggirkan mata pelajaran Kesenian sebagai mata pelajaran wajib. Kesenian
dianggap tidak membawa manfaat, selain sebagai penggembira acara peresmian
gedung, tujuhbelasan, atau pentas akhir tahun ajaran. Dibanding mata pelajaran
eksak seni tidak akan membuat orang menjadi kaya raya dan terkenal, karena tidak ada kisahnya orang berlatar
belakang pendidikan seni meraih posisi mapan di sebuah perusahaan. Namun,
apakah tujuan mendidik adalah untuk menjadikan sang anak kaya ketika mereka
dewasa, sehingga kita bira balik modal ?
Manusia tidak dapat disebut pandai
plus jenius hanya karena ia dapat memecahkan sejuta persoalan matematika dan
fisika. Apalah artinya sebuah kepandaian, jika tidak dibarengi dengan kepekaan
rasa terhadap keberadaan individu lain di sekitarnya. Berartikah kejeniusan
bila hanya mendatangkan penderitaan bagi sesama ? Berhati-hatilah terhadap
kekayaan, kecuali bila tidak keberatan menjadi korban kriminalitas., atau
kehilangan nyawa.
(swastantika)
Minggu, 30 September 2012
MIMPI TERINDAH
Belakangan ini tetangga saya mengeluh, bangun
tidur tubuh bukannya segar malah tambah terasa pegal-pegal. Padahal, ia mengaku
sudah berangkat ke peraduan sejak pukul 9 malam, dan baru bangun setelah pukul
6 pagi keesokan harinya, itu pun dengan bantuan omelan istri. Berangkat tidur
lebih awal dan bangun paling lambat diakuinya sudah menjadi kegiatan favoritnya
selama beberapa bulan terakhir. Kapan tepatnya, ia tidak yakin. Satu-satunya
yang diyakininya adalah, ekonomi biaya akan semakin tinggi hingga batas waktu
yang tidak ia ketahui, dan berharap dalam mimpinya akan ditemukan jawaban
mengenai tanggal dan jam berakhirnya krisis beras di negeri ini.
Perlukah
kita bermimpi ? Mungkin Anda akan menjawab ‘ya’, karena selain sebuah aktifitas
wajar pada otak, mimpi adalah sebuah hiburan murah. Cukup dengan membaringkan
badan dan memejamkan mata, kita dapat merasakan sensasi suatu pengalaman baru,
meski hanya maya. Ada beberapa mimpi yang dapat berulang setiap kali manusia
berangkat ke alam tidur, tergantung kepada kondisi psikologis masing-masing. Beberapa
lainnya sangat dan teramat indah, tidak dapat diulangi, bahkan di dunia nyata sekalipun.
Namun,
ada juga sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk dapat dan merasakan
adanya mimpi, tak peduli seberapa empuk dan nyaman kasur, atau berapa botol dan
butir pil tidur yang ditenggaknya. Lantas, kaum jenis ini pun berpikir
pragmatis, mungkin mereka harus mengeluarkan sejumlah rupiah untuk dapat
meyakini kehadiran mimpi dalam kehidupan mereka.
Mimpi
Terindah
Walaupun tiap individu
mempunyai definisi sendiri-sendiri, saya 99,99% yakin bahwa hidup layak tanpa
kekurangan merupakan salah satu impian terindah setiap umat manusia di muka
Bumi. Memang sih, hal itu merupakan salah satu hak pokok manusia yang paling
asasi. Namun, apa daya, jauh panggang dari api. Jangankan untuk hidup layak,
sekedar dapat bernafas kembali pada esok haripun sudah lebih dari cukup.
Maka jangan heran, ketika
manusia mendadak berubah menjadi monster pemakan segala diskon, demi memperoleh
barang-barang berkilau untuk dikenakan atau dipamerkan di Hari Raya yang baru
saja lewat. Rela mempertaruhkan nyawa dengan menjadi pencuri jemuran, pencopet,
preman parkiran, demi menyenangkan anak istri. Sementara, sebagian kecil lainnya
mengakhiri hidup dengan cara sendiri, akibat putus asa tidak berdaya untuk larut
dalam keriaan duniawi tersebut.
Demi mencapai prestasi
sebagai negara yang tidak gagal, data statistik mengenai pertumbuhan ekonomi
yang positif di Indonesia pun digembar-gemborkan.
Di saat perekonomian Eropa terpuruk dan hanya mampu tumbuh di bawah 1% pada
tahun ini, Indonesia boleh berbangga hati karena mencapai pertumbuhan ekonomi
sebesar 6%. Tak kurang dari Fitch Rating dan Moody’s memberikan status investment grade kepada negara tercinta,
terkait persepsi positif Indonesia di mata investor (Media Indonesia, Kamis
16/8/2012).
Angka-angka itu memang
menyatakan adanya peningkatan pertumbuhan yang tak lain dan tak bukan, berasal
dari peningkatan konsumsi masyarakat akibat perubahan harga sejumlah barang
kebutuhan pokok. Jadi bukan karena
Negara berhasil melakukan pemerataan keadilan ekonomi, mengangkat taraf hidup
kaum tak berpunya, ataupun berhasil memotivasi mereka (dan, terutama, dirinya sendiri) untuk memperbaiki nasib saat
ini.
Bangun
dari Mimpi
Ketika saya
memutuskan pada pukul berapa saya tidur, pada saat bersamaan (seharusnya) saya
juga sudah memutuskan pada pukul berapakah saya akan bangun. Akan tetapi,
semalam lalu adalah malam yang berat, saya habis kerja lembur, terjebak macet
harian, dan saya hanyalah manusia biasa yang mendambakan tidur
senyaman-nyamannya. Mungkin saja setanlah yang akan bangun jika Anda
membangunkan saya tanpa permisi. Emangnya mau situ diterkam setan ?
Meski
demikian, mau tidak mau, bersedia atau tidak bersedia, siap atau tidak siap,
saya, Anda dan kita semua harus segera bangun dari tidur, untuk kemudian dapat
bergerak dan beraktifitas, kalau tidak ingin dianggap almarhum karena memilih
untuk diam dalam tidur dan menyambung mimpi selama mungkin. Toh Anda tidak
membutuhkan seorang motivator pun untuk berkata di depan hidung Anda, bahwa
langkah pertama untuk segera melepaskan diri dari jeratan mimpi adalah bangkit,
membuka mata selebar mungkin, segera mandi, dan jangan tidur lagi.
Ya
memang ada sih sebagian kecil golongan yang merasa tidak siap menghadapi
transisi dari dunia mimpi ke dunia nyata, dari jaman sepur lempung ke jaman
komuter listrik, dari masa kini ke masa lalu, dan melepasliarkan kegagapannya
hingga melukai diri kita, orang lain serta dirinya sendiri. Musti dendamkah
kita kepadanya ? Jangan. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengasihani dan
memaafkan dirinya, yang merepresentasikan salah satu jenis spesies penderita
ketakutan akut terhadap sesuatu yang gaib, sesuatu yang belum tentu, sahih dan
pasti terjadi.
Sebagian dari kita mungkin
telah mati rasa, dan menganggap ketidakpastian dalam hidup belakangan ini
merupakan sesuatu yang biasa, sesuatu takdir yang tidak mungkin bisa kita ubah.
Apakah mungkin karena terjerembab dalam keputusasaan itulah yang kemudian
membuat sebagian dari diri kita memutuskan untuk berhenti berharap, dan
membangun istana impian dengan bantuan narkoba, tikus, tuyul, maupun dukun
pengganda uang ? Sebenarnya manakah yang
kenyataan, hidup menderita ataukah berfoya-foya ? Sebentar, sebentar … saya
juga ragu nih, sebenarnya saya sekarang lagi bermimpi atau enggak ya ?
(swastantika)
Selasa, 31 Juli 2012
TIDAK SENDIRIAN
Memiliki
anak autisme, menyandang cacat fisik, dan berkebutuhan khusus lainnya dikatakan
sebagai ‘ berkah ‘ tersendiri bagi orang tuanya. Yah, merawat mereka memang
membutuhkan perhatian, tenaga, kesabaran serta biaya ekstra,, dikarenakan
kekhususan yang mereka miliki tidak bisa disamakan dengan pola pengasuhan
terhadap anak normal lainnya. Saya dapat berkata demikian, karena secara
kebetulan Sang Maha Hidup telah menganugerahkan 1 anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity
Disorder) ke tengah keluarga kami, sekitar 12 tahun
yang lalu.
Keresahan
saat membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus bukan terletak pada materi,
melainkan pada sejauh manakah kita dapat menjadi orang tua yang memahami
perasaan atau keinginan mereka. Anugrah yang mereka miliki telah membatasi
kemampuannya untuk berperilaku secara
normal, serta mengekspresikan isi hatinya dengan cara yang normal pula. Seandainya
dengan bahasa verbal yang paling sederhanapun tidak sanggup mewakili
kegelisahannya, haruskan kita menjadi paranormal untuk dapat membaca isi
hatinya ?
Menguras
Tenaga
Sudah
semenjak jabang bayi kita dibiasakan untuk menomorsatukan bahasa verbal dalam
pergaulan sehari-hari. Kita memperoleh pendidikan juga dari penggunaan bahasa
verbal. Era keemasan dunia hiburan elektronik pun dimulai ketika teknologi awal
1930an berhasil memadupadankan antara gambar bergerak dengan dialog para
penampilnya ( untuk diketahui, era tersebut sekaligus menandai berakhirnya
kejayaan film bisu, yang hanya menampilkan gambar bergerak dan menjual
kemampuan para aktor dan aktris dalam berakting tanpa mengucapkan sepatah
katapun ). Namun, justru ada beberapa
kalangan mengais rezeki dan bermata pencaharian dari ketrampilannya menjual
kata-kata, seperti salesman/girl, pedagang, humas/juru bicara, penyiar,
reporter, dan tentu saja, politikus.
Meski
demikian, lidah itu tidak bertulang, Saudara-saudari, dan kita tidak bisa
memastikan kapan tepatnya tiba-tiba lidah tergelincir di tengah perjalanan,
kemudian mengucapkan kata-kata yang salah, di hadapan orang-orang yang salah
pula.
Masih ingat kah Anda mengenai fenomena
seorang pejabat X, yang hampir selalu menjadi headline atas interpretasi yang
salah mengenai kata-kata yang diucapkannya. Maksud mencairkan suasana dengan
bersenda gurau pun menjadi sumpah serapah, saat beliau pernah dengan sengaja
mengatakan ‘ kalau takut ombak jangan tinggal di pantai ‘, beberapa saat
setelah terjadinya bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, 2010
silam.
Jadi,
apakah kemampuan berpikir secara cepat
para manusia kadang-kadang ikutan keseleo, dan menjadi berbanding terbalik
dengan kemampuan berbicara secara cepatnya ?
Ataukah tiba-tiba mereka merasa lemas dan kehabisan energi karena
terlampau banyak menghabiskan waktu untuk berbicara, baik di depan cermin,
penggemar, maupun via Skype, sehingga tidak luput dari kesalahan berucap? Namun, apa daya, kesalahan itu harus diterima
dan dimaklumi, untuk kemudian dimaafkan dan saling memaafkannya di hari raya
Lebaran.
Alih-alih meminimalisir
jumlah kesalahan sekecil mungkin, ada sebagian golongan yang lantas mengobral
‘kesalahan’ dalam berkata-kata, sama banyak dengan kata maaf yang akan
diobralnya di kemudian hari. Buat apa berhati-hati dalam berkata, jika di
kemudian hari warga masyarakat akan memaafkannya, ikhlas tidak ikhlas itu
urusan belakang. Toh, berbicara kan tidak terlalu menghabiskan
banyak energi jika dibandingkan dengan berlarian mengejar bola, berlari
mengejar layangan, maupun berlari mengejar bus kota to ?
Telinganya
Jangan Sombong
Seorang bocah laki-laki berusia 8
tahun, Cole Sear, mengaku bisa melihat hantu dan mereka mengunjunginya setiap
saat dengan berbagai bentuk yang menyeramkan, sesuai dengan kondisi terakhir
mereka menjelang ajalnya. Ibunya, Lynn Sear, khawatir anaknya mengidap gangguan
psikologis, dikarenakan kesepian serta bullying yang dialaminya di sekolah.
Kemudian mereka menemui seorang psikolog anak, Dr. Malcolm Crowe, yang setengah
percaya setengah tidak akan ‘kemampuan’ Cole tersebut. Dengan bijak, Crowe pun
akhirnya menyarankan agar Cole menanyai para hantu mengenai maksud dan tujuan
mereka mendatangi dia, yakni dengan berkomunikasi melalui pikirannya.
Tentu
saja semua itu hanya terjadi di The Sixth
Sense, sebuah film horror psikologi karya M. Night Shymalan, yang dirilis
September 1999 lalu. Jadul ? Tapi hantu ternyata tidak sejadul yang kita
bayangkan lho. Selain berhasil eksis melalui beberapa film hantu ‘hot’ (dan
sesudah itu ‘kramas’ tentunya), mereka juga nongol di sejumlah video dan foto,
versi You Tube. Sosok mereka yang unik, sekonyong-konyong dan nyentrik begitu
mudah membuat kita ternganga, sehingga pun melupakan sebab musabab mereka sampai begitu nekat
menampangkan sosok yang tidak bisa dibilang rupawan itu ke hadapan kita.
Benarkah penampakan hantu dan beberapa makhluk halus lainnya, dikarenakan
adanya urusan yang belum selesai di dunia badan kasarnya ?
Lalu,
apakah hanya dengan kata-kata Anda akan mampu memahami orang-orang itu ?
Bagaimana seandainya takdir membawa Anda ke tengah kaum yang tidak menggunakan
bahasa verbal untuk berkomunikasi, misalnya saja Anda tiba-tiba berkemampuan linuwih seperti Cole Sear, dan harus
meladeni penampakan makhluk halus secara silih berganti ? Kabur ?
Sepakat atau tidak sepakat,
tetap ada satu pelajaran positif dari sekelumit ulasan di atas. Yakni, ternyata
segala jenis makhluk butuh untuk dipahami oleh sesamanya (maupun oleh makhluk
yang bukan berasal dari spesies yang sama dengannya). Beda dengan aktifitas
berbicara yang membutuhkan sejumlah besar energi, keberanian, dan ketrampilan
mengolah kata secara lisan, untuk memahami orang lain Anda bisa jadi tidak
perlu mengeluarkan tenaga sama sekali, namun menuntut sejumlah besar
pengorbanan, yakni menyediakan telinga dan waktu bagi ‘sampah’ dari orang-orang
di sekitar Anda.( Bukan berarti Anda harus menjadi cleaning service, meskipun itu adalah salah satu pekerjaan termulia
dewasa ini lho).
Konon, pada HUTnya yang ke 100 Liverpool Football Club, alias
Liverpool, melakukan perubahan pada lambang klub, dengan menambahkan tulisan
'You'll Never Walk Alone' di atas
tameng 'Liver Bird' , yang ditujukan untuk mengingat jasa manajer Bill Shankly
yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Meskipun prestasi The Reds (panggilan
kesayangan Liverpool) termasuk jeblok pada musim lalu, mudah-mudahan itu cukup
untuk sekedar mengingatkan bahwa saya, Anda dan kita tidak akan dan tidak
pernah sendirian, dalam segala cuaca panas, hujan, maupun pancaroba.
Didengarkan orang memang
akan membanggakan bagi harga diri. Bagaimana dengan mendengarkan, apakah itu
juga berharga bagi Anda ?
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



