Minggu, 30 September 2012
MIMPI TERINDAH
Belakangan ini tetangga saya mengeluh, bangun
tidur tubuh bukannya segar malah tambah terasa pegal-pegal. Padahal, ia mengaku
sudah berangkat ke peraduan sejak pukul 9 malam, dan baru bangun setelah pukul
6 pagi keesokan harinya, itu pun dengan bantuan omelan istri. Berangkat tidur
lebih awal dan bangun paling lambat diakuinya sudah menjadi kegiatan favoritnya
selama beberapa bulan terakhir. Kapan tepatnya, ia tidak yakin. Satu-satunya
yang diyakininya adalah, ekonomi biaya akan semakin tinggi hingga batas waktu
yang tidak ia ketahui, dan berharap dalam mimpinya akan ditemukan jawaban
mengenai tanggal dan jam berakhirnya krisis beras di negeri ini.
Perlukah
kita bermimpi ? Mungkin Anda akan menjawab ‘ya’, karena selain sebuah aktifitas
wajar pada otak, mimpi adalah sebuah hiburan murah. Cukup dengan membaringkan
badan dan memejamkan mata, kita dapat merasakan sensasi suatu pengalaman baru,
meski hanya maya. Ada beberapa mimpi yang dapat berulang setiap kali manusia
berangkat ke alam tidur, tergantung kepada kondisi psikologis masing-masing. Beberapa
lainnya sangat dan teramat indah, tidak dapat diulangi, bahkan di dunia nyata sekalipun.
Namun,
ada juga sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk dapat dan merasakan
adanya mimpi, tak peduli seberapa empuk dan nyaman kasur, atau berapa botol dan
butir pil tidur yang ditenggaknya. Lantas, kaum jenis ini pun berpikir
pragmatis, mungkin mereka harus mengeluarkan sejumlah rupiah untuk dapat
meyakini kehadiran mimpi dalam kehidupan mereka.
Mimpi
Terindah
Walaupun tiap individu
mempunyai definisi sendiri-sendiri, saya 99,99% yakin bahwa hidup layak tanpa
kekurangan merupakan salah satu impian terindah setiap umat manusia di muka
Bumi. Memang sih, hal itu merupakan salah satu hak pokok manusia yang paling
asasi. Namun, apa daya, jauh panggang dari api. Jangankan untuk hidup layak,
sekedar dapat bernafas kembali pada esok haripun sudah lebih dari cukup.
Maka jangan heran, ketika
manusia mendadak berubah menjadi monster pemakan segala diskon, demi memperoleh
barang-barang berkilau untuk dikenakan atau dipamerkan di Hari Raya yang baru
saja lewat. Rela mempertaruhkan nyawa dengan menjadi pencuri jemuran, pencopet,
preman parkiran, demi menyenangkan anak istri. Sementara, sebagian kecil lainnya
mengakhiri hidup dengan cara sendiri, akibat putus asa tidak berdaya untuk larut
dalam keriaan duniawi tersebut.
Demi mencapai prestasi
sebagai negara yang tidak gagal, data statistik mengenai pertumbuhan ekonomi
yang positif di Indonesia pun digembar-gemborkan.
Di saat perekonomian Eropa terpuruk dan hanya mampu tumbuh di bawah 1% pada
tahun ini, Indonesia boleh berbangga hati karena mencapai pertumbuhan ekonomi
sebesar 6%. Tak kurang dari Fitch Rating dan Moody’s memberikan status investment grade kepada negara tercinta,
terkait persepsi positif Indonesia di mata investor (Media Indonesia, Kamis
16/8/2012).
Angka-angka itu memang
menyatakan adanya peningkatan pertumbuhan yang tak lain dan tak bukan, berasal
dari peningkatan konsumsi masyarakat akibat perubahan harga sejumlah barang
kebutuhan pokok. Jadi bukan karena
Negara berhasil melakukan pemerataan keadilan ekonomi, mengangkat taraf hidup
kaum tak berpunya, ataupun berhasil memotivasi mereka (dan, terutama, dirinya sendiri) untuk memperbaiki nasib saat
ini.
Bangun
dari Mimpi
Ketika saya
memutuskan pada pukul berapa saya tidur, pada saat bersamaan (seharusnya) saya
juga sudah memutuskan pada pukul berapakah saya akan bangun. Akan tetapi,
semalam lalu adalah malam yang berat, saya habis kerja lembur, terjebak macet
harian, dan saya hanyalah manusia biasa yang mendambakan tidur
senyaman-nyamannya. Mungkin saja setanlah yang akan bangun jika Anda
membangunkan saya tanpa permisi. Emangnya mau situ diterkam setan ?
Meski
demikian, mau tidak mau, bersedia atau tidak bersedia, siap atau tidak siap,
saya, Anda dan kita semua harus segera bangun dari tidur, untuk kemudian dapat
bergerak dan beraktifitas, kalau tidak ingin dianggap almarhum karena memilih
untuk diam dalam tidur dan menyambung mimpi selama mungkin. Toh Anda tidak
membutuhkan seorang motivator pun untuk berkata di depan hidung Anda, bahwa
langkah pertama untuk segera melepaskan diri dari jeratan mimpi adalah bangkit,
membuka mata selebar mungkin, segera mandi, dan jangan tidur lagi.
Ya
memang ada sih sebagian kecil golongan yang merasa tidak siap menghadapi
transisi dari dunia mimpi ke dunia nyata, dari jaman sepur lempung ke jaman
komuter listrik, dari masa kini ke masa lalu, dan melepasliarkan kegagapannya
hingga melukai diri kita, orang lain serta dirinya sendiri. Musti dendamkah
kita kepadanya ? Jangan. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengasihani dan
memaafkan dirinya, yang merepresentasikan salah satu jenis spesies penderita
ketakutan akut terhadap sesuatu yang gaib, sesuatu yang belum tentu, sahih dan
pasti terjadi.
Sebagian dari kita mungkin
telah mati rasa, dan menganggap ketidakpastian dalam hidup belakangan ini
merupakan sesuatu yang biasa, sesuatu takdir yang tidak mungkin bisa kita ubah.
Apakah mungkin karena terjerembab dalam keputusasaan itulah yang kemudian
membuat sebagian dari diri kita memutuskan untuk berhenti berharap, dan
membangun istana impian dengan bantuan narkoba, tikus, tuyul, maupun dukun
pengganda uang ? Sebenarnya manakah yang
kenyataan, hidup menderita ataukah berfoya-foya ? Sebentar, sebentar … saya
juga ragu nih, sebenarnya saya sekarang lagi bermimpi atau enggak ya ?
(swastantika)
Selasa, 31 Juli 2012
TIDAK SENDIRIAN
Memiliki
anak autisme, menyandang cacat fisik, dan berkebutuhan khusus lainnya dikatakan
sebagai ‘ berkah ‘ tersendiri bagi orang tuanya. Yah, merawat mereka memang
membutuhkan perhatian, tenaga, kesabaran serta biaya ekstra,, dikarenakan
kekhususan yang mereka miliki tidak bisa disamakan dengan pola pengasuhan
terhadap anak normal lainnya. Saya dapat berkata demikian, karena secara
kebetulan Sang Maha Hidup telah menganugerahkan 1 anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity
Disorder) ke tengah keluarga kami, sekitar 12 tahun
yang lalu.
Keresahan
saat membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus bukan terletak pada materi,
melainkan pada sejauh manakah kita dapat menjadi orang tua yang memahami
perasaan atau keinginan mereka. Anugrah yang mereka miliki telah membatasi
kemampuannya untuk berperilaku secara
normal, serta mengekspresikan isi hatinya dengan cara yang normal pula. Seandainya
dengan bahasa verbal yang paling sederhanapun tidak sanggup mewakili
kegelisahannya, haruskan kita menjadi paranormal untuk dapat membaca isi
hatinya ?
Menguras
Tenaga
Sudah
semenjak jabang bayi kita dibiasakan untuk menomorsatukan bahasa verbal dalam
pergaulan sehari-hari. Kita memperoleh pendidikan juga dari penggunaan bahasa
verbal. Era keemasan dunia hiburan elektronik pun dimulai ketika teknologi awal
1930an berhasil memadupadankan antara gambar bergerak dengan dialog para
penampilnya ( untuk diketahui, era tersebut sekaligus menandai berakhirnya
kejayaan film bisu, yang hanya menampilkan gambar bergerak dan menjual
kemampuan para aktor dan aktris dalam berakting tanpa mengucapkan sepatah
katapun ). Namun, justru ada beberapa
kalangan mengais rezeki dan bermata pencaharian dari ketrampilannya menjual
kata-kata, seperti salesman/girl, pedagang, humas/juru bicara, penyiar,
reporter, dan tentu saja, politikus.
Meski
demikian, lidah itu tidak bertulang, Saudara-saudari, dan kita tidak bisa
memastikan kapan tepatnya tiba-tiba lidah tergelincir di tengah perjalanan,
kemudian mengucapkan kata-kata yang salah, di hadapan orang-orang yang salah
pula.
Masih ingat kah Anda mengenai fenomena
seorang pejabat X, yang hampir selalu menjadi headline atas interpretasi yang
salah mengenai kata-kata yang diucapkannya. Maksud mencairkan suasana dengan
bersenda gurau pun menjadi sumpah serapah, saat beliau pernah dengan sengaja
mengatakan ‘ kalau takut ombak jangan tinggal di pantai ‘, beberapa saat
setelah terjadinya bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, 2010
silam.
Jadi,
apakah kemampuan berpikir secara cepat
para manusia kadang-kadang ikutan keseleo, dan menjadi berbanding terbalik
dengan kemampuan berbicara secara cepatnya ?
Ataukah tiba-tiba mereka merasa lemas dan kehabisan energi karena
terlampau banyak menghabiskan waktu untuk berbicara, baik di depan cermin,
penggemar, maupun via Skype, sehingga tidak luput dari kesalahan berucap? Namun, apa daya, kesalahan itu harus diterima
dan dimaklumi, untuk kemudian dimaafkan dan saling memaafkannya di hari raya
Lebaran.
Alih-alih meminimalisir
jumlah kesalahan sekecil mungkin, ada sebagian golongan yang lantas mengobral
‘kesalahan’ dalam berkata-kata, sama banyak dengan kata maaf yang akan
diobralnya di kemudian hari. Buat apa berhati-hati dalam berkata, jika di
kemudian hari warga masyarakat akan memaafkannya, ikhlas tidak ikhlas itu
urusan belakang. Toh, berbicara kan tidak terlalu menghabiskan
banyak energi jika dibandingkan dengan berlarian mengejar bola, berlari
mengejar layangan, maupun berlari mengejar bus kota to ?
Telinganya
Jangan Sombong
Seorang bocah laki-laki berusia 8
tahun, Cole Sear, mengaku bisa melihat hantu dan mereka mengunjunginya setiap
saat dengan berbagai bentuk yang menyeramkan, sesuai dengan kondisi terakhir
mereka menjelang ajalnya. Ibunya, Lynn Sear, khawatir anaknya mengidap gangguan
psikologis, dikarenakan kesepian serta bullying yang dialaminya di sekolah.
Kemudian mereka menemui seorang psikolog anak, Dr. Malcolm Crowe, yang setengah
percaya setengah tidak akan ‘kemampuan’ Cole tersebut. Dengan bijak, Crowe pun
akhirnya menyarankan agar Cole menanyai para hantu mengenai maksud dan tujuan
mereka mendatangi dia, yakni dengan berkomunikasi melalui pikirannya.
Tentu
saja semua itu hanya terjadi di The Sixth
Sense, sebuah film horror psikologi karya M. Night Shymalan, yang dirilis
September 1999 lalu. Jadul ? Tapi hantu ternyata tidak sejadul yang kita
bayangkan lho. Selain berhasil eksis melalui beberapa film hantu ‘hot’ (dan
sesudah itu ‘kramas’ tentunya), mereka juga nongol di sejumlah video dan foto,
versi You Tube. Sosok mereka yang unik, sekonyong-konyong dan nyentrik begitu
mudah membuat kita ternganga, sehingga pun melupakan sebab musabab mereka sampai begitu nekat
menampangkan sosok yang tidak bisa dibilang rupawan itu ke hadapan kita.
Benarkah penampakan hantu dan beberapa makhluk halus lainnya, dikarenakan
adanya urusan yang belum selesai di dunia badan kasarnya ?
Lalu,
apakah hanya dengan kata-kata Anda akan mampu memahami orang-orang itu ?
Bagaimana seandainya takdir membawa Anda ke tengah kaum yang tidak menggunakan
bahasa verbal untuk berkomunikasi, misalnya saja Anda tiba-tiba berkemampuan linuwih seperti Cole Sear, dan harus
meladeni penampakan makhluk halus secara silih berganti ? Kabur ?
Sepakat atau tidak sepakat,
tetap ada satu pelajaran positif dari sekelumit ulasan di atas. Yakni, ternyata
segala jenis makhluk butuh untuk dipahami oleh sesamanya (maupun oleh makhluk
yang bukan berasal dari spesies yang sama dengannya). Beda dengan aktifitas
berbicara yang membutuhkan sejumlah besar energi, keberanian, dan ketrampilan
mengolah kata secara lisan, untuk memahami orang lain Anda bisa jadi tidak
perlu mengeluarkan tenaga sama sekali, namun menuntut sejumlah besar
pengorbanan, yakni menyediakan telinga dan waktu bagi ‘sampah’ dari orang-orang
di sekitar Anda.( Bukan berarti Anda harus menjadi cleaning service, meskipun itu adalah salah satu pekerjaan termulia
dewasa ini lho).
Konon, pada HUTnya yang ke 100 Liverpool Football Club, alias
Liverpool, melakukan perubahan pada lambang klub, dengan menambahkan tulisan
'You'll Never Walk Alone' di atas
tameng 'Liver Bird' , yang ditujukan untuk mengingat jasa manajer Bill Shankly
yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Meskipun prestasi The Reds (panggilan
kesayangan Liverpool) termasuk jeblok pada musim lalu, mudah-mudahan itu cukup
untuk sekedar mengingatkan bahwa saya, Anda dan kita tidak akan dan tidak
pernah sendirian, dalam segala cuaca panas, hujan, maupun pancaroba.
Didengarkan orang memang
akan membanggakan bagi harga diri. Bagaimana dengan mendengarkan, apakah itu
juga berharga bagi Anda ?
Minggu, 06 Mei 2012
KITA DAN MEREKA
Penundaan kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah awal bulan lalu akhirnya bisa melegakan nafas kita barang sejenak. Paling tidak memberi kita waktu untuk beristirahat, sebelum akhirnya menanggung beban yang lebih berat dari sebelumnya pada 5-6 bulan ke depan. Entah apa yang melandasi keputusan yang sangat menggalaukan hati nasional berjamaah tersebut, apakah karena tekanan internasional, atau menipisnya persediaan minyak di bawah tanah tempat kita berdiri ini, walahualam. Yang jelas itu adalah sebuah tantangan baru bagi Anda yang menggemari permainan teka-teki silang dunia nyata. Haruskah mereka yang lemah selalu tergerus gelak tawa kemenangan si kuat ?
Bergesernya orientasi survival kaum perintis mencari alat tukar sebanyak mungkin sebenarnya terjadi bukan mendadak sontak. Karena perkawinan diantara mereka menghasilkan keturunan, dan keturunan mereka kemudian beranak pinak, maka bertambahlah jumlah penduduk yang mulanya sedikit. Peningkatan jumlah penduduk sekaligus memanaskan suhu persaingan diantara mereka demi mencari makan. Mereka yang dulunya berburu, mulai sulit medapat binatang buruan. Sedangkan mereka yang bercocok tanam harus berkompromi dengan cuaca yang tidak menentu. Pun, hasil panen kebun kadang tidak sesuai dengan harapan.
Kapitalis Juga Manusia
Tersebutlah di suatu tempat terdapat sekelompok orang beruntung dan memiliki sejumlah uang dalam jumlah besar yang hendak mereka investasikan dalam bentuk perusahaan. Mereka membutuhkan pegawai/ pekerja untuk memproduksi barang-barang yang hendak mereka jual. Sedangkan kita adalah sekelompok orang yang desperately membutuhkan uang agar dapur di rumah tetap mengepulkan asapnya. Singkat cerita, atas dasar asas saling membutuhkan maka terciptalah kerja sama antara kita dan mereka.
Kedudukan antara pimpinan dan bawahan tidak lagi berdasar besarnya gaji yang dipunya. Melainkan atas perbedaan luas dan sempitnya wilayah tanggung jawab, beserta deskripsi kerja masing-masing individu. Jadi, gaji seorang supervisor/pengawas lebih tinggi karena tugasnya lebih sulit dan kompleks daripada seorang pekerja biasa. Namun itu bukan berarti para pekerja sah-sah saja mendapat gaji ala kadarnya, karena tugas dan tanggung jawab mereka yang lebih sederhana dan tidak serumit tugas direktur utama perusahaan.
Perusahaan tetap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan serta kesehatan para pekerja, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik ada kaitannya dengan ketahanan dan stamina tubuh menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga. Sedangkan kesehatan mental berhubungan erat dengan konsentrasi dan pengendalian emosi para pekerja saat menyelesaikan pekerjaan. Dan tugas dan atau pekerjaan yang dapat selesai pada waktunya adalah keuntungan besar bagi perusahaan karena berhasil mengejar tenggat waktu produksi.
Akan tetapi, seringkali kaum pemilik modal dan alat-alat usaha tersebut dilanda kekhawatiran atau ketakutan terhadap kemungkinan tidak stabilnya posisi yang sudah mereka capai dengan memeras darah dan air mata. Ketakutan ini mungkin timbul akibat traumatisme mendalam terhadap kejadian buruk di masa lalu ( misalnya, Holocaust di era Nazi yang menewaskan jutaan ras Yahudi, dimana kaum Yahudi disinyalir adalah penguasa dari beberapa konglomerasi tersukses di dunia pada saat ini ). Serta tiadanya jaminan bahwa penyelenggara kegiatan pemerintahan aka penguasa, yang merupakan satu-satunya yang berdaya kuasa mengatur hidup seluruh sendi kehidupan umat manusia, tidak akan melakukan kesalahan sekecil-kecil pun. Toh mereka hanyalah manusia biasa.
Beberapa korporasi besar mungkin sudah terlampau banyak menenggelamkan sejumlah modal pada sebuah proyek maupun pabrik. Asal modal tersebut ialah berhutang kepada pihak lain atau menggadaikan ini itu. Terlunasinya hutang sebelum jatuh tempo akan meningkatkan kredibilitas mereka di mata kreditor, sehingga akan melapangkan urusan pinjam meminjam di lain waktu. Hasrat mengejar kredibilitas sebagai debitur teladan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya telah menjerumuskan mereka ke dalam api neraka duniawi.
Betapa tidak, paranoia melatarbelakangi terbentuknya watak egois oportunis. Yaitu mereka yang cenderung untuk mencari keuntungan pribadi sendiri daripada kemaslahatan bersama. Para korporat enggan mengambil resiko menurunkan mutu barang hasil produksi, atau mereka harus siap-siap kehilangan konsumen. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk mengurangi ongkos bagi kesejahteraan karyawan/ pekerja, menghapus hak kenaikan gaji bertahap dengan memberlakukan system kontrak, mengurangi tunjangan karyawan dan memperketat peraturan bekerja. Belum lagi tindakan-tindakan licik golongan korporasi sumber daya alam multi nasional ketika mereka mengabaikan hubungan timbal balik nan harmonis dengan alam sekitar. Kadang kala kaum pemilik modal menutup mata rapat-rapat terhadap kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan mereka telah mencemari lingkungan atau bahkan mengakibatkan bencana alam yang menelan korban jiwa maupun harta benda.
Tertawa Paling Akhir
`Kesulitan demi kesulitan hidup telah terlalu menguras ludas energi kita, sampai-sampai kita lupa menyempatkan waktu luang untuk tertawa. Tekanan dari tempat kerja berkejaran bersama tuntutan pemenuhan kebutuhan perut, berlomba menyesaki dada, mempermainkan emosi. Dalam sepuluh tahun terakhir, sadarkah Anda bahwa bangsa berkarakter ramah tamah, bertoleransi tinggi dan gemar bergotong royong yang selalu kita banggakan itu tinggalah sebuah kenangan ? Dan tahukah Anda bahwa penyebabnya adalah uang, serta rasa putus asa dan tidak percaya diri mempertahankan hidup, sehingga mengambil jalan pintas yang menafikan dampaknya terhadap hubungan dengan sesama manusia di sekitarnya ?
Tidak ada guru terbaik yang mampu mengajarkan jalan terbaik keluar dari problematika mengisi perut selain daripada kita sendiri. Sekarang dan selamanya gerakan mengupayakan perubahan adalah sama dengan menantang arus. Menantang arus adalah sama dengan menyatakan diri sendiri sebagai pembeda, dimana perbedaan atau ketidakseragaman merupakan sesuatu yang menakutkan karena itu adalah indikasi pembangkangan. Sedangkan pembangkangan adalah sama dengan makar. Maka jangan heran apabila para pencetusnya mengalami nasib seperti Malcolm X, Marsinah, Martin Luther King, Munir, maupun jutaan orang yang dibunuh oleh ‘ hanya Tuhan yang tahu siapa pelakunya ‘ di sepanjang 1965-1966. Seandainyapun lolos dari maut mungkin akan melalui jalan hidup yang lebih tidak biasa, sebagai konsekuensi memilih jalan keluar sebagai pemberontak.
Di dalam perjalanan memperjuangkan hak atas penghidupan yang layak atas kemanusiaan, semestinya kita juga jangan sampai menginjak atau bahkan melupakan hak para liyan untuk memperoleh hak yang sama juga. Kita bukanlah satu-satunya golongan yang menapakkan kaki di Bumi. Dan kita tak pernah tahu kapan dan dimana akan membutuhkan bantuan dari mereka yang berada di kanan dan kiri. Ini bukan sesuatu yang gaib dan di luar logika. Kelapangan hati dalam hidup bermasyarakat, itulah modal awal jika kita serius hendak meraih ketentraman. Misalnya saja, Anda hidup bertetangga dengan seorang montir mobil yang sering bekerja hingga larut malam dan itu sebenarnya membuat anak Anda rewel karena tidurnya terganggu suara mesin mobil. Namun Anda memahami posisi sang montir yang punya banyak hutang sehingga ia harus bekerja ekstra demi mencari uang untuk menutup hutang-hutangnya. Dan Anda sadar memusuhinya adalah tindakan yang sangat merugikan. Karena Anda juga punya sebuah mobil di rumah yang sudah uzur dan sering mogok. Kan Ada tidak tahu kapan saatnya, pagi hari Anda harus segera tiba di kantor untuk urusan pekerjaan, tiba-tiba mobil Anda ngadat. Sedangkan jam masih menunjuk angka pukul 6 pagi, dan bengkel mana yang sudah buka selain sang tetangga montir yang bisa dimintai pertolongan.
Pun sama halnya jika seorang mandor dan atau atasan tiba-tiba mengguyuri kita dengan sumpah serapah di tengah-tengah waktu bekerja. Jangan terburu marah, Gan. Mungkin saja kita memang bersalah, kurang disiplin, kurang terampil, kurang professional, dll. Sudah inrospeksi namun tak juga menemukan sesuatu yang salah di diri kita ? Ya mungkin kita harus menerapkan asas tenggang rasa juga kepada beliaunya. Mungkin sedang ada masalah di rumah tangganya, tidak mendapat jatah rokhani dsb itu bisa memicu ketakstabilan suasana hati juga lho. Betul tidak ?
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



