Selasa, 31 Juli 2012
TIDAK SENDIRIAN
Memiliki
anak autisme, menyandang cacat fisik, dan berkebutuhan khusus lainnya dikatakan
sebagai ‘ berkah ‘ tersendiri bagi orang tuanya. Yah, merawat mereka memang
membutuhkan perhatian, tenaga, kesabaran serta biaya ekstra,, dikarenakan
kekhususan yang mereka miliki tidak bisa disamakan dengan pola pengasuhan
terhadap anak normal lainnya. Saya dapat berkata demikian, karena secara
kebetulan Sang Maha Hidup telah menganugerahkan 1 anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity
Disorder) ke tengah keluarga kami, sekitar 12 tahun
yang lalu.
Keresahan
saat membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus bukan terletak pada materi,
melainkan pada sejauh manakah kita dapat menjadi orang tua yang memahami
perasaan atau keinginan mereka. Anugrah yang mereka miliki telah membatasi
kemampuannya untuk berperilaku secara
normal, serta mengekspresikan isi hatinya dengan cara yang normal pula. Seandainya
dengan bahasa verbal yang paling sederhanapun tidak sanggup mewakili
kegelisahannya, haruskan kita menjadi paranormal untuk dapat membaca isi
hatinya ?
Menguras
Tenaga
Sudah
semenjak jabang bayi kita dibiasakan untuk menomorsatukan bahasa verbal dalam
pergaulan sehari-hari. Kita memperoleh pendidikan juga dari penggunaan bahasa
verbal. Era keemasan dunia hiburan elektronik pun dimulai ketika teknologi awal
1930an berhasil memadupadankan antara gambar bergerak dengan dialog para
penampilnya ( untuk diketahui, era tersebut sekaligus menandai berakhirnya
kejayaan film bisu, yang hanya menampilkan gambar bergerak dan menjual
kemampuan para aktor dan aktris dalam berakting tanpa mengucapkan sepatah
katapun ). Namun, justru ada beberapa
kalangan mengais rezeki dan bermata pencaharian dari ketrampilannya menjual
kata-kata, seperti salesman/girl, pedagang, humas/juru bicara, penyiar,
reporter, dan tentu saja, politikus.
Meski
demikian, lidah itu tidak bertulang, Saudara-saudari, dan kita tidak bisa
memastikan kapan tepatnya tiba-tiba lidah tergelincir di tengah perjalanan,
kemudian mengucapkan kata-kata yang salah, di hadapan orang-orang yang salah
pula.
Masih ingat kah Anda mengenai fenomena
seorang pejabat X, yang hampir selalu menjadi headline atas interpretasi yang
salah mengenai kata-kata yang diucapkannya. Maksud mencairkan suasana dengan
bersenda gurau pun menjadi sumpah serapah, saat beliau pernah dengan sengaja
mengatakan ‘ kalau takut ombak jangan tinggal di pantai ‘, beberapa saat
setelah terjadinya bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, 2010
silam.
Jadi,
apakah kemampuan berpikir secara cepat
para manusia kadang-kadang ikutan keseleo, dan menjadi berbanding terbalik
dengan kemampuan berbicara secara cepatnya ?
Ataukah tiba-tiba mereka merasa lemas dan kehabisan energi karena
terlampau banyak menghabiskan waktu untuk berbicara, baik di depan cermin,
penggemar, maupun via Skype, sehingga tidak luput dari kesalahan berucap? Namun, apa daya, kesalahan itu harus diterima
dan dimaklumi, untuk kemudian dimaafkan dan saling memaafkannya di hari raya
Lebaran.
Alih-alih meminimalisir
jumlah kesalahan sekecil mungkin, ada sebagian golongan yang lantas mengobral
‘kesalahan’ dalam berkata-kata, sama banyak dengan kata maaf yang akan
diobralnya di kemudian hari. Buat apa berhati-hati dalam berkata, jika di
kemudian hari warga masyarakat akan memaafkannya, ikhlas tidak ikhlas itu
urusan belakang. Toh, berbicara kan tidak terlalu menghabiskan
banyak energi jika dibandingkan dengan berlarian mengejar bola, berlari
mengejar layangan, maupun berlari mengejar bus kota to ?
Telinganya
Jangan Sombong
Seorang bocah laki-laki berusia 8
tahun, Cole Sear, mengaku bisa melihat hantu dan mereka mengunjunginya setiap
saat dengan berbagai bentuk yang menyeramkan, sesuai dengan kondisi terakhir
mereka menjelang ajalnya. Ibunya, Lynn Sear, khawatir anaknya mengidap gangguan
psikologis, dikarenakan kesepian serta bullying yang dialaminya di sekolah.
Kemudian mereka menemui seorang psikolog anak, Dr. Malcolm Crowe, yang setengah
percaya setengah tidak akan ‘kemampuan’ Cole tersebut. Dengan bijak, Crowe pun
akhirnya menyarankan agar Cole menanyai para hantu mengenai maksud dan tujuan
mereka mendatangi dia, yakni dengan berkomunikasi melalui pikirannya.
Tentu
saja semua itu hanya terjadi di The Sixth
Sense, sebuah film horror psikologi karya M. Night Shymalan, yang dirilis
September 1999 lalu. Jadul ? Tapi hantu ternyata tidak sejadul yang kita
bayangkan lho. Selain berhasil eksis melalui beberapa film hantu ‘hot’ (dan
sesudah itu ‘kramas’ tentunya), mereka juga nongol di sejumlah video dan foto,
versi You Tube. Sosok mereka yang unik, sekonyong-konyong dan nyentrik begitu
mudah membuat kita ternganga, sehingga pun melupakan sebab musabab mereka sampai begitu nekat
menampangkan sosok yang tidak bisa dibilang rupawan itu ke hadapan kita.
Benarkah penampakan hantu dan beberapa makhluk halus lainnya, dikarenakan
adanya urusan yang belum selesai di dunia badan kasarnya ?
Lalu,
apakah hanya dengan kata-kata Anda akan mampu memahami orang-orang itu ?
Bagaimana seandainya takdir membawa Anda ke tengah kaum yang tidak menggunakan
bahasa verbal untuk berkomunikasi, misalnya saja Anda tiba-tiba berkemampuan linuwih seperti Cole Sear, dan harus
meladeni penampakan makhluk halus secara silih berganti ? Kabur ?
Sepakat atau tidak sepakat,
tetap ada satu pelajaran positif dari sekelumit ulasan di atas. Yakni, ternyata
segala jenis makhluk butuh untuk dipahami oleh sesamanya (maupun oleh makhluk
yang bukan berasal dari spesies yang sama dengannya). Beda dengan aktifitas
berbicara yang membutuhkan sejumlah besar energi, keberanian, dan ketrampilan
mengolah kata secara lisan, untuk memahami orang lain Anda bisa jadi tidak
perlu mengeluarkan tenaga sama sekali, namun menuntut sejumlah besar
pengorbanan, yakni menyediakan telinga dan waktu bagi ‘sampah’ dari orang-orang
di sekitar Anda.( Bukan berarti Anda harus menjadi cleaning service, meskipun itu adalah salah satu pekerjaan termulia
dewasa ini lho).
Konon, pada HUTnya yang ke 100 Liverpool Football Club, alias
Liverpool, melakukan perubahan pada lambang klub, dengan menambahkan tulisan
'You'll Never Walk Alone' di atas
tameng 'Liver Bird' , yang ditujukan untuk mengingat jasa manajer Bill Shankly
yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Meskipun prestasi The Reds (panggilan
kesayangan Liverpool) termasuk jeblok pada musim lalu, mudah-mudahan itu cukup
untuk sekedar mengingatkan bahwa saya, Anda dan kita tidak akan dan tidak
pernah sendirian, dalam segala cuaca panas, hujan, maupun pancaroba.
Didengarkan orang memang
akan membanggakan bagi harga diri. Bagaimana dengan mendengarkan, apakah itu
juga berharga bagi Anda ?
Minggu, 06 Mei 2012
KITA DAN MEREKA
Penundaan kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah awal bulan lalu akhirnya bisa melegakan nafas kita barang sejenak. Paling tidak memberi kita waktu untuk beristirahat, sebelum akhirnya menanggung beban yang lebih berat dari sebelumnya pada 5-6 bulan ke depan. Entah apa yang melandasi keputusan yang sangat menggalaukan hati nasional berjamaah tersebut, apakah karena tekanan internasional, atau menipisnya persediaan minyak di bawah tanah tempat kita berdiri ini, walahualam. Yang jelas itu adalah sebuah tantangan baru bagi Anda yang menggemari permainan teka-teki silang dunia nyata. Haruskah mereka yang lemah selalu tergerus gelak tawa kemenangan si kuat ?
Bergesernya orientasi survival kaum perintis mencari alat tukar sebanyak mungkin sebenarnya terjadi bukan mendadak sontak. Karena perkawinan diantara mereka menghasilkan keturunan, dan keturunan mereka kemudian beranak pinak, maka bertambahlah jumlah penduduk yang mulanya sedikit. Peningkatan jumlah penduduk sekaligus memanaskan suhu persaingan diantara mereka demi mencari makan. Mereka yang dulunya berburu, mulai sulit medapat binatang buruan. Sedangkan mereka yang bercocok tanam harus berkompromi dengan cuaca yang tidak menentu. Pun, hasil panen kebun kadang tidak sesuai dengan harapan.
Kapitalis Juga Manusia
Tersebutlah di suatu tempat terdapat sekelompok orang beruntung dan memiliki sejumlah uang dalam jumlah besar yang hendak mereka investasikan dalam bentuk perusahaan. Mereka membutuhkan pegawai/ pekerja untuk memproduksi barang-barang yang hendak mereka jual. Sedangkan kita adalah sekelompok orang yang desperately membutuhkan uang agar dapur di rumah tetap mengepulkan asapnya. Singkat cerita, atas dasar asas saling membutuhkan maka terciptalah kerja sama antara kita dan mereka.
Kedudukan antara pimpinan dan bawahan tidak lagi berdasar besarnya gaji yang dipunya. Melainkan atas perbedaan luas dan sempitnya wilayah tanggung jawab, beserta deskripsi kerja masing-masing individu. Jadi, gaji seorang supervisor/pengawas lebih tinggi karena tugasnya lebih sulit dan kompleks daripada seorang pekerja biasa. Namun itu bukan berarti para pekerja sah-sah saja mendapat gaji ala kadarnya, karena tugas dan tanggung jawab mereka yang lebih sederhana dan tidak serumit tugas direktur utama perusahaan.
Perusahaan tetap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan serta kesehatan para pekerja, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik ada kaitannya dengan ketahanan dan stamina tubuh menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga. Sedangkan kesehatan mental berhubungan erat dengan konsentrasi dan pengendalian emosi para pekerja saat menyelesaikan pekerjaan. Dan tugas dan atau pekerjaan yang dapat selesai pada waktunya adalah keuntungan besar bagi perusahaan karena berhasil mengejar tenggat waktu produksi.
Akan tetapi, seringkali kaum pemilik modal dan alat-alat usaha tersebut dilanda kekhawatiran atau ketakutan terhadap kemungkinan tidak stabilnya posisi yang sudah mereka capai dengan memeras darah dan air mata. Ketakutan ini mungkin timbul akibat traumatisme mendalam terhadap kejadian buruk di masa lalu ( misalnya, Holocaust di era Nazi yang menewaskan jutaan ras Yahudi, dimana kaum Yahudi disinyalir adalah penguasa dari beberapa konglomerasi tersukses di dunia pada saat ini ). Serta tiadanya jaminan bahwa penyelenggara kegiatan pemerintahan aka penguasa, yang merupakan satu-satunya yang berdaya kuasa mengatur hidup seluruh sendi kehidupan umat manusia, tidak akan melakukan kesalahan sekecil-kecil pun. Toh mereka hanyalah manusia biasa.
Beberapa korporasi besar mungkin sudah terlampau banyak menenggelamkan sejumlah modal pada sebuah proyek maupun pabrik. Asal modal tersebut ialah berhutang kepada pihak lain atau menggadaikan ini itu. Terlunasinya hutang sebelum jatuh tempo akan meningkatkan kredibilitas mereka di mata kreditor, sehingga akan melapangkan urusan pinjam meminjam di lain waktu. Hasrat mengejar kredibilitas sebagai debitur teladan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya telah menjerumuskan mereka ke dalam api neraka duniawi.
Betapa tidak, paranoia melatarbelakangi terbentuknya watak egois oportunis. Yaitu mereka yang cenderung untuk mencari keuntungan pribadi sendiri daripada kemaslahatan bersama. Para korporat enggan mengambil resiko menurunkan mutu barang hasil produksi, atau mereka harus siap-siap kehilangan konsumen. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk mengurangi ongkos bagi kesejahteraan karyawan/ pekerja, menghapus hak kenaikan gaji bertahap dengan memberlakukan system kontrak, mengurangi tunjangan karyawan dan memperketat peraturan bekerja. Belum lagi tindakan-tindakan licik golongan korporasi sumber daya alam multi nasional ketika mereka mengabaikan hubungan timbal balik nan harmonis dengan alam sekitar. Kadang kala kaum pemilik modal menutup mata rapat-rapat terhadap kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan mereka telah mencemari lingkungan atau bahkan mengakibatkan bencana alam yang menelan korban jiwa maupun harta benda.
Tertawa Paling Akhir
`Kesulitan demi kesulitan hidup telah terlalu menguras ludas energi kita, sampai-sampai kita lupa menyempatkan waktu luang untuk tertawa. Tekanan dari tempat kerja berkejaran bersama tuntutan pemenuhan kebutuhan perut, berlomba menyesaki dada, mempermainkan emosi. Dalam sepuluh tahun terakhir, sadarkah Anda bahwa bangsa berkarakter ramah tamah, bertoleransi tinggi dan gemar bergotong royong yang selalu kita banggakan itu tinggalah sebuah kenangan ? Dan tahukah Anda bahwa penyebabnya adalah uang, serta rasa putus asa dan tidak percaya diri mempertahankan hidup, sehingga mengambil jalan pintas yang menafikan dampaknya terhadap hubungan dengan sesama manusia di sekitarnya ?
Tidak ada guru terbaik yang mampu mengajarkan jalan terbaik keluar dari problematika mengisi perut selain daripada kita sendiri. Sekarang dan selamanya gerakan mengupayakan perubahan adalah sama dengan menantang arus. Menantang arus adalah sama dengan menyatakan diri sendiri sebagai pembeda, dimana perbedaan atau ketidakseragaman merupakan sesuatu yang menakutkan karena itu adalah indikasi pembangkangan. Sedangkan pembangkangan adalah sama dengan makar. Maka jangan heran apabila para pencetusnya mengalami nasib seperti Malcolm X, Marsinah, Martin Luther King, Munir, maupun jutaan orang yang dibunuh oleh ‘ hanya Tuhan yang tahu siapa pelakunya ‘ di sepanjang 1965-1966. Seandainyapun lolos dari maut mungkin akan melalui jalan hidup yang lebih tidak biasa, sebagai konsekuensi memilih jalan keluar sebagai pemberontak.
Di dalam perjalanan memperjuangkan hak atas penghidupan yang layak atas kemanusiaan, semestinya kita juga jangan sampai menginjak atau bahkan melupakan hak para liyan untuk memperoleh hak yang sama juga. Kita bukanlah satu-satunya golongan yang menapakkan kaki di Bumi. Dan kita tak pernah tahu kapan dan dimana akan membutuhkan bantuan dari mereka yang berada di kanan dan kiri. Ini bukan sesuatu yang gaib dan di luar logika. Kelapangan hati dalam hidup bermasyarakat, itulah modal awal jika kita serius hendak meraih ketentraman. Misalnya saja, Anda hidup bertetangga dengan seorang montir mobil yang sering bekerja hingga larut malam dan itu sebenarnya membuat anak Anda rewel karena tidurnya terganggu suara mesin mobil. Namun Anda memahami posisi sang montir yang punya banyak hutang sehingga ia harus bekerja ekstra demi mencari uang untuk menutup hutang-hutangnya. Dan Anda sadar memusuhinya adalah tindakan yang sangat merugikan. Karena Anda juga punya sebuah mobil di rumah yang sudah uzur dan sering mogok. Kan Ada tidak tahu kapan saatnya, pagi hari Anda harus segera tiba di kantor untuk urusan pekerjaan, tiba-tiba mobil Anda ngadat. Sedangkan jam masih menunjuk angka pukul 6 pagi, dan bengkel mana yang sudah buka selain sang tetangga montir yang bisa dimintai pertolongan.
Pun sama halnya jika seorang mandor dan atau atasan tiba-tiba mengguyuri kita dengan sumpah serapah di tengah-tengah waktu bekerja. Jangan terburu marah, Gan. Mungkin saja kita memang bersalah, kurang disiplin, kurang terampil, kurang professional, dll. Sudah inrospeksi namun tak juga menemukan sesuatu yang salah di diri kita ? Ya mungkin kita harus menerapkan asas tenggang rasa juga kepada beliaunya. Mungkin sedang ada masalah di rumah tangganya, tidak mendapat jatah rokhani dsb itu bisa memicu ketakstabilan suasana hati juga lho. Betul tidak ?
Sabtu, 31 Maret 2012
HARGA KEBEBASAN
TVRI
memegang monopoli siaran televisi semenjak kelahirannya di awal 70-an dan
sekaligus membuka jalan bagi era keemasan para biduan pada masa itu. Para
penonton se-Indonesia tidak ada yang tidak mengenal, menikmati segenap talenta
dan performanya di atas pentas. Mereka tidak punya kekhawatiran akan kalah bersaing dengan para
biduan asing, karena akses khalayak kesana terbatasi. Di sisi lain, ketiadaan
media alternatif menyuburkan keseragaman di segala bidang. Bukan saja ranah
hiburan maupun lifestyle, informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya pun
seragam.
Aneh, setelah waktu berlari cepat bersama perkembangan teknologi dan
komunikasi, kecenderungan itu belum juga berubah. Fashion dan musik adalah
sekedar pengulangan dari era-era sebelumnya. Namun mengapa selera anak muda
kita terhadap musik dan gaya hidup tetap saja seragam ? Mereka setuju tanpa
syarat mengikuti saran media massa dan internet tentang apa trending topic di hari ini. Seakan
didera kekhawatiran yang amat sangat terhadap kemungkinan menyandang predikat ‘
kamseupay ‘ jika tidak cepat-cepat merespon perubahan arus dengan mengkonsumsi,
menggemari dan, ujung-ujungnya, membeli salah satu produk hasil kebaruan
tersebut.
‘ Perjuangan Melawan
Lupa ‘
Ketertarikan dan keingintahuan kepada satu dan lain hal adalah berguna dalam
upaya memperkokoh serta menajamkan pengetahuan dan ketrampilan survival sepanjang hayat. Tapi, tunggu
dulu, adakah keingintahuan Anda terangsang karena gemerlap dari luarnya sesuatu
hal tersebut ? Apakah karena beroleh kesempatan dikelilingi gadis-gadis
sehingga putra Anda tertarik mengikuti audisi boyband ? Apakah karena menjadi politisi itu sungguh bergelimang
uang untuk melunasi hutang maka mereka berpaling dari idealisme vox populi ? Ataukah karena
raja-raja dalam film dan legenda itu terlalu pesolek, lebay mendandani
diri dengan perhiasan mutu manikam imitasi sekadarnya untuk menaikkan citra
diri ?
Artifialisme ( artificial = buatan, seolah-olah, palsu ) semacam inilah yang
kelak dimanfaatkan pihak lain untuk menggiring kita ke dalam sebuah sangkar.
Semua sudah direncanakan, disiapkan dan diatur oleh panitia penyelenggara yang
bertugas memutar paksa kepala kita kepada sebuah arah serta memasangkan
sepasang kacamata kuda. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita hanya
berkemampuan untuk memahami, mempercayai dan beropini tentang sesuatu hal
sesuai sudut pandang para empunya kepentingan sahaja.
Memang tidak akan menyakiti siapapun secara fisik. Namun sanggup mengantarkan
peradaban sekelompok manusia ke jurang kehancuran. Entah sampai kapan dicekoki,
dininabobo lalu ditipu. Mungkin sampai seumur hidup dikarbitkan menjadi sosok
yang berkarakter, berperilaku, berpola pikir, berbudaya sesuai keinginan
mereka. Yaitu, untuk mudah
dijinakkan, ditundukkan dan dikendalikan. Sehingga meminimalisir resiko
sekecil-kecilnya terhadap potensi perlawanan atau anarki.
Kita toh tetap akan berjalan
dengan dua kaki, makan dengan tangan kanan, cebok dengan tangan kiri. Di
permukaan kita adalah manusia yang berhasil dipaksa untuk menjadi wajar dan
biasa. Rutinitas ibarat lingkaran yang melilit akal dan nafsu, sehingga yang
bersemayam di benak hanyalah makan dan cara mencari makan. Namun, peraturan
yang artificial tak dapat dipungkiri juga melahirkan kepatuhan artificial, dan
bukannya kesadaran terhadap alasan ‘ mengapa harus patuh itu sendiri ‘. Jadi
kita pun wajib memaklumi seandainya suatu saat tiba-tiba muncullah
pembangkangan massal, penyimpangan perilaku dan kepribadian, penolakan terhadap
norma-norma, pelanggaran terhadap peraturan, hukum dan undang-undang,
penyelewengan kepercayaan dan cinta, pemberontakan atas keharmonisan keluarga
bahagia.
Budaya modern adalah ibarat meneguk anggur merah. Bergalon-galon sudah
habis kita tenggak, namun dahaga tak kunjung sirna. Mengikuti mainstream mungkin salah satu jalan
teraman untuk menghabiskan sisa usia. Kita tak perlu repot-repot mencari
atau melarutkan diri ke dalam kegalauan abadi terhadap masa depan alam
seisinya. Cukup menikmati, mengamini dan meniru apa yang sedang dan sering
sekelebat berkilauan. Namun bersediakah selamanya dikutuk sebagai para gundah
gulana sampai mati
?
Lost And Found
“Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni “ ( Wikipedia ). Oleh karena Bumi
terdiri dari lebih dari satu jenis iklim, cuaca dan kondisi geografis, maka
itulah yang melatarbelakangi keberagaman budaya di antara manusia sebagai
penghuninya.
Manusia yang tinggal di belahan
Utara dan Selatan Bumi harus bertahan dan menyesuaikan diri di tiap-tiap
pergantian empat musim ( salju, gugur, semi, panas ) selama satu tahun.
Sedangkan sebagian lain yang berdiam di daerah khatulistiwa cukup menghadapi
dua musim saja per tahunnya ( hujan dan kemarau ). Mereka beruntung sekali
karena tantangan yang dihadapi saudara-saudaranya di belahan Utara dan Selatan
jauh lebih berat. Apa mau dikata, keberuntungan tersebut ternyata bermata
dua, kesialan di salah satunya. Akibat terbentuknya watak manja dan mahir
potong kompas ( mencari jalan terpintas ) memaksa mereka untuk selalu dan
sering kali tertinggal jauh di belakang langkah para saudara penghuni Bumi di
Utara.
Adakah faktor yang sama jua menjadi penyebab kaum penghuni Negara tropis takluk
di bawah hegemoni segala bidang ( dan terutama pula budaya ) bikinan kaum
penghuni Negara subtropis ? Walahu-alam. Yang jelas, Universal Declaration of
Human Rights menyatakan : Everyone has
the right to freely participate in the cultural life of the community, to enjoy
the arts and to share in scientific advancement and its benefits. ( Setiap orang mempunyai hak yang sama
untuk berpartisipasi pada kehidupan berbudaya sebuah komunitas, untuk menikmati
seni dan berbagi perkembangan ilmiah berikut segala manfaatnya ). Hak asasi
memang adalah hak kita semenjak lahir ke dunia fana nan kejam ini. Siapakah
yang memberi ? Ya, Hidup. Hiduplah yang pertama kali membebaskan kita untuk
mengakui, memiliki, mengembangkan dan menjadi insan berbudaya, sebelum
manusia menuliskannya dalam wujud Undang-undang.
Kebebasan itu sangat berharga, Kak. Anda yang punya uang pas-pasan tak perlu
khawatir tak mampu membeli, karena tak sebuah mata uang pun di Bumi ini yang
bisa menukarnya. Akan tetapi kebebasan jugalah senjata rahasia yang digunakan
orang-orang berwatak culas, dan menghendaki materi sebesar-besarnya yang
dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dalam rangka menjajakan
barang dagangannya. Memanjakan diri dengan menempatkan imajinasi artifisial di
dunia, pengetahuan dan gaya hidup yang bukan milik kita ? Boleh-boleh saja.
Sekali lagi saya katakan, kebebasan itu sangat berharga. Bukan karena darah dan
air mata yang tertumpah demi memperoleh pengakuan atasnya. Melainkan buah yang
akan kita petik sesudahnya : adakah kebebasan itu menjadikan kita nyaman dengan
budaya sendiri dalam menjalani hari-hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



