Minggu, 06 Mei 2012

One HeArt

KITA DAN MEREKA

            Penundaan kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah awal bulan lalu akhirnya bisa melegakan nafas kita barang sejenak. Paling tidak memberi kita waktu untuk beristirahat, sebelum akhirnya menanggung beban yang lebih berat dari sebelumnya pada 5-6 bulan ke depan. Entah apa yang melandasi keputusan yang sangat menggalaukan hati nasional berjamaah tersebut, apakah karena tekanan internasional, atau menipisnya persediaan minyak di bawah tanah tempat kita berdiri ini, walahualam. Yang jelas itu adalah sebuah tantangan baru bagi Anda yang menggemari permainan teka-teki silang dunia nyata. Haruskah mereka yang lemah selalu tergerus  gelak tawa kemenangan si kuat ?
            Para manusia penghuni awal Bumi ini tidak pernah bekerja. Mereka hanya mencari makan agar perutnya tidak lapar, tidak merasakan hawa panas menyengat maupun menggigil kedinginan, tidak juga basah kehujanan maupun diserang binatang buas saat lelap tertidur. Pola hidup purba itu berubah drastic manakala nenek moyang kita saling memperkenalkan dan mengenal uang sebagai alat tukar. Lambat laun mereka pun merubah cara pandang, dari makhluk yang sehari-harinya menggantungkan hidup kepada alam menjadi manusia yang mempertahankan hidup kepada seberapa banyak uang di dalam saku. Semakin banyak  memiliki alat tukar ( uang ), maka semakin banyak juga peluang bagi mereka untuk memiliki lebih banyak dan bermacam-macam barang.
            Bergesernya orientasi survival kaum perintis mencari alat tukar sebanyak mungkin sebenarnya terjadi bukan mendadak sontak. Karena perkawinan diantara mereka menghasilkan keturunan, dan keturunan mereka kemudian beranak pinak, maka bertambahlah jumlah penduduk yang mulanya sedikit. Peningkatan jumlah penduduk sekaligus memanaskan suhu persaingan diantara mereka demi mencari makan. Mereka yang dulunya berburu, mulai sulit medapat binatang buruan. Sedangkan mereka yang bercocok tanam harus berkompromi dengan cuaca yang tidak menentu. Pun, hasil panen  kebun kadang tidak sesuai dengan harapan.

Kapitalis Juga Manusia
            Tersebutlah di suatu tempat terdapat sekelompok orang beruntung dan memiliki sejumlah uang dalam jumlah besar yang hendak mereka investasikan dalam bentuk perusahaan. Mereka membutuhkan pegawai/ pekerja untuk memproduksi barang-barang yang hendak mereka jual. Sedangkan kita adalah sekelompok orang yang desperately membutuhkan uang agar dapur di rumah tetap mengepulkan asapnya. Singkat cerita, atas dasar asas saling membutuhkan  maka terciptalah kerja sama antara kita dan mereka.
            Kedudukan antara pimpinan dan bawahan tidak lagi berdasar besarnya gaji yang dipunya. Melainkan atas perbedaan luas dan sempitnya wilayah tanggung jawab, beserta deskripsi kerja masing-masing individu. Jadi, gaji seorang supervisor/pengawas lebih tinggi karena tugasnya lebih sulit dan kompleks daripada seorang pekerja biasa. Namun itu bukan berarti para pekerja sah-sah saja mendapat gaji ala kadarnya, karena tugas dan tanggung jawab mereka yang lebih sederhana dan tidak serumit tugas direktur utama perusahaan.
            Perusahaan tetap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan serta kesehatan para pekerja, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik ada kaitannya dengan ketahanan dan stamina tubuh menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga. Sedangkan kesehatan mental berhubungan erat dengan konsentrasi dan pengendalian emosi para pekerja saat menyelesaikan pekerjaan. Dan tugas dan atau pekerjaan yang dapat selesai pada waktunya adalah keuntungan besar bagi perusahaan karena berhasil mengejar tenggat waktu produksi.
            Akan tetapi, seringkali kaum pemilik modal dan alat-alat usaha tersebut dilanda kekhawatiran atau ketakutan terhadap kemungkinan tidak stabilnya posisi yang sudah mereka capai dengan memeras darah dan air mata. Ketakutan ini mungkin timbul akibat traumatisme mendalam terhadap kejadian buruk di masa lalu ( misalnya, Holocaust di era Nazi yang menewaskan jutaan ras Yahudi, dimana kaum Yahudi disinyalir adalah penguasa dari beberapa konglomerasi tersukses di dunia pada saat ini ). Serta tiadanya jaminan bahwa penyelenggara kegiatan pemerintahan aka penguasa, yang merupakan satu-satunya yang berdaya kuasa mengatur hidup seluruh sendi kehidupan umat manusia, tidak akan melakukan kesalahan sekecil-kecil pun. Toh mereka hanyalah manusia biasa.
            Beberapa korporasi besar mungkin sudah terlampau banyak menenggelamkan sejumlah modal pada sebuah proyek maupun pabrik. Asal modal tersebut ialah berhutang kepada pihak lain atau menggadaikan ini itu. Terlunasinya hutang sebelum jatuh tempo akan meningkatkan kredibilitas mereka di mata kreditor, sehingga akan melapangkan urusan pinjam meminjam di lain waktu. Hasrat mengejar kredibilitas sebagai debitur teladan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya telah menjerumuskan mereka ke dalam api neraka duniawi.
            Betapa tidak, paranoia melatarbelakangi terbentuknya watak egois oportunis. Yaitu mereka yang cenderung untuk mencari keuntungan pribadi sendiri daripada kemaslahatan bersama. Para korporat enggan mengambil resiko menurunkan mutu barang hasil produksi, atau mereka harus siap-siap kehilangan konsumen. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk mengurangi ongkos bagi kesejahteraan karyawan/ pekerja, menghapus hak kenaikan gaji bertahap dengan memberlakukan system kontrak, mengurangi tunjangan karyawan dan memperketat peraturan bekerja. Belum lagi tindakan-tindakan licik golongan korporasi sumber daya alam multi nasional ketika mereka mengabaikan hubungan timbal balik nan harmonis dengan alam sekitar.  Kadang kala kaum pemilik modal menutup mata rapat-rapat terhadap kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan mereka telah mencemari lingkungan atau bahkan mengakibatkan bencana alam yang menelan korban jiwa maupun harta benda.
Tertawa Paling Akhir
            `Kesulitan demi kesulitan hidup telah terlalu menguras ludas energi kita, sampai-sampai kita lupa menyempatkan waktu luang untuk tertawa. Tekanan dari tempat kerja berkejaran bersama tuntutan pemenuhan kebutuhan perut, berlomba menyesaki dada, mempermainkan emosi. Dalam sepuluh tahun terakhir, sadarkah Anda bahwa bangsa berkarakter ramah tamah, bertoleransi tinggi dan gemar bergotong royong yang selalu kita banggakan itu tinggalah sebuah kenangan ?  Dan tahukah Anda bahwa penyebabnya adalah uang, serta rasa putus asa dan tidak percaya diri mempertahankan hidup, sehingga mengambil jalan pintas yang menafikan dampaknya terhadap hubungan dengan sesama manusia di sekitarnya ?
            Tidak ada guru terbaik yang mampu mengajarkan jalan terbaik keluar dari problematika mengisi perut selain daripada kita sendiri. Sekarang dan selamanya gerakan mengupayakan perubahan adalah sama dengan menantang arus. Menantang arus adalah sama dengan menyatakan diri sendiri sebagai pembeda, dimana perbedaan atau ketidakseragaman merupakan sesuatu yang menakutkan karena itu adalah indikasi pembangkangan. Sedangkan pembangkangan adalah sama dengan makar. Maka jangan heran apabila para pencetusnya mengalami nasib seperti Malcolm X, Marsinah, Martin Luther King, Munir, maupun jutaan orang yang dibunuh oleh ‘ hanya Tuhan yang tahu siapa pelakunya ‘ di sepanjang 1965-1966. Seandainyapun lolos dari maut mungkin akan melalui jalan hidup yang lebih tidak biasa, sebagai konsekuensi memilih jalan keluar sebagai pemberontak.
            Di dalam perjalanan memperjuangkan hak atas penghidupan yang layak atas kemanusiaan, semestinya kita juga jangan sampai menginjak atau bahkan melupakan hak para liyan untuk memperoleh hak yang sama juga. Kita bukanlah satu-satunya golongan yang menapakkan kaki di Bumi. Dan kita tak pernah tahu kapan dan dimana akan membutuhkan bantuan dari mereka yang berada di kanan dan kiri. Ini bukan sesuatu yang gaib dan di luar logika. Kelapangan hati dalam hidup bermasyarakat, itulah modal awal jika kita serius hendak meraih ketentraman. Misalnya saja, Anda hidup bertetangga dengan seorang montir mobil yang sering bekerja hingga larut malam dan itu sebenarnya membuat anak Anda rewel karena tidurnya terganggu suara mesin mobil. Namun Anda memahami posisi sang montir yang punya banyak hutang sehingga ia harus bekerja ekstra demi mencari uang untuk menutup hutang-hutangnya. Dan Anda sadar memusuhinya adalah tindakan yang sangat merugikan. Karena Anda juga punya sebuah mobil di rumah yang sudah uzur dan sering mogok. Kan Ada tidak tahu kapan saatnya, pagi hari Anda harus segera tiba di kantor untuk urusan pekerjaan, tiba-tiba mobil Anda ngadat. Sedangkan jam masih menunjuk angka pukul 6 pagi, dan bengkel mana yang sudah buka selain sang tetangga montir yang bisa dimintai pertolongan.
            Pun sama halnya jika seorang mandor dan atau atasan tiba-tiba mengguyuri kita dengan sumpah serapah di tengah-tengah waktu bekerja. Jangan terburu marah, Gan. Mungkin saja kita memang bersalah, kurang disiplin, kurang terampil, kurang professional, dll. Sudah inrospeksi namun tak juga menemukan sesuatu yang salah di diri kita ? Ya mungkin kita harus menerapkan asas tenggang rasa juga kepada beliaunya. Mungkin sedang ada masalah di rumah tangganya, tidak mendapat jatah rokhani dsb itu bisa memicu ketakstabilan suasana hati juga lho. Betul tidak ?
           
           
           
           

           

           
             

Sabtu, 31 Maret 2012

TANDA


HARGA KEBEBASAN


       TVRI memegang monopoli siaran televisi semenjak kelahirannya di awal 70-an dan sekaligus membuka  jalan bagi era keemasan para biduan pada masa itu. Para penonton se-Indonesia tidak ada yang tidak mengenal, menikmati segenap talenta dan performanya di atas pentas. Mereka tidak punya kekhawatiran akan kalah bersaing dengan para biduan asing, karena akses khalayak kesana terbatasi. Di sisi lain, ketiadaan media alternatif menyuburkan keseragaman di segala bidang. Bukan saja ranah hiburan maupun lifestyle, informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya pun seragam.
  
        Aneh, setelah waktu berlari cepat bersama perkembangan teknologi dan komunikasi, kecenderungan itu belum juga berubah. Fashion dan musik adalah sekedar pengulangan dari era-era sebelumnya. Namun mengapa selera anak muda kita terhadap musik dan gaya hidup tetap saja seragam ? Mereka setuju tanpa syarat mengikuti saran media massa dan internet tentang apa trending topic di hari ini.  Seakan didera kekhawatiran yang amat sangat terhadap kemungkinan menyandang predikat ‘ kamseupay ‘ jika tidak cepat-cepat merespon perubahan arus dengan mengkonsumsi, menggemari dan, ujung-ujungnya, membeli salah satu produk hasil kebaruan tersebut. 

‘ Perjuangan Melawan Lupa ‘
        Ketertarikan dan keingintahuan kepada satu dan lain hal adalah berguna dalam upaya memperkokoh serta menajamkan pengetahuan dan ketrampilan survival sepanjang hayat. Tapi, tunggu dulu, adakah keingintahuan Anda terangsang karena gemerlap dari luarnya sesuatu hal tersebut ? Apakah karena beroleh kesempatan dikelilingi gadis-gadis sehingga putra Anda tertarik mengikuti audisi boyband ? Apakah karena menjadi politisi itu sungguh bergelimang uang untuk melunasi hutang maka mereka berpaling dari idealisme vox populi  ? Ataukah karena raja-raja dalam film dan legenda itu terlalu pesolek, lebay mendandani diri dengan perhiasan mutu manikam imitasi sekadarnya untuk menaikkan citra diri ?

     Artifialisme ( artificial = buatan, seolah-olah, palsu ) semacam inilah yang kelak dimanfaatkan pihak lain untuk menggiring kita ke dalam sebuah sangkar. Semua sudah direncanakan, disiapkan dan diatur oleh panitia penyelenggara yang bertugas memutar paksa kepala kita kepada sebuah arah serta memasangkan sepasang kacamata kuda. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita hanya berkemampuan untuk memahami, mempercayai dan beropini tentang sesuatu hal sesuai sudut pandang para empunya kepentingan sahaja.

       Memang tidak akan menyakiti siapapun secara fisik. Namun sanggup mengantarkan peradaban sekelompok manusia ke jurang kehancuran. Entah sampai kapan dicekoki, dininabobo lalu ditipu. Mungkin sampai seumur hidup dikarbitkan menjadi sosok yang berkarakter, berperilaku, berpola pikir, berbudaya sesuai keinginan mereka. Yaitu, untuk mudah dijinakkan, ditundukkan dan dikendalikan. Sehingga meminimalisir resiko sekecil-kecilnya terhadap potensi perlawanan atau anarki. 

 Kita toh tetap akan berjalan dengan dua kaki, makan dengan tangan kanan, cebok dengan tangan kiri. Di permukaan kita adalah manusia yang berhasil dipaksa untuk menjadi wajar dan biasa. Rutinitas ibarat lingkaran yang melilit akal dan nafsu, sehingga yang bersemayam di benak hanyalah makan dan cara mencari makan. Namun, peraturan yang artificial tak dapat dipungkiri juga melahirkan kepatuhan artificial, dan bukannya kesadaran terhadap alasan ‘ mengapa harus patuh itu sendiri ‘. Jadi kita pun wajib memaklumi seandainya suatu saat tiba-tiba muncullah pembangkangan massal, penyimpangan perilaku dan kepribadian, penolakan terhadap norma-norma, pelanggaran terhadap peraturan, hukum dan undang-undang, penyelewengan kepercayaan dan cinta, pemberontakan atas keharmonisan keluarga bahagia.

Budaya modern adalah ibarat meneguk anggur merah. Bergalon-galon sudah habis kita tenggak, namun dahaga tak kunjung sirna. Mengikuti mainstream mungkin salah satu jalan teraman untuk menghabiskan sisa usia.  Kita tak perlu repot-repot mencari atau melarutkan diri ke dalam kegalauan abadi terhadap masa depan alam seisinya. Cukup menikmati, mengamini dan meniru apa yang sedang dan sering sekelebat berkilauan. Namun bersediakah selamanya dikutuk sebagai para gundah gulana sampai mati ?           

Lost And Found
            “Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni “ ( Wikipedia ). Oleh karena Bumi terdiri dari lebih dari satu jenis iklim, cuaca dan kondisi geografis, maka itulah yang melatarbelakangi keberagaman budaya di antara manusia sebagai penghuninya. 

     Manusia yang tinggal di belahan Utara dan Selatan Bumi harus bertahan dan menyesuaikan diri di tiap-tiap pergantian empat musim ( salju, gugur, semi, panas ) selama satu tahun.  Sedangkan sebagian lain yang berdiam di daerah khatulistiwa cukup menghadapi dua musim saja per tahunnya ( hujan dan kemarau ). Mereka beruntung sekali karena tantangan yang dihadapi saudara-saudaranya di belahan Utara dan Selatan jauh lebih berat.  Apa mau dikata, keberuntungan tersebut ternyata bermata dua, kesialan di salah satunya. Akibat terbentuknya watak manja dan mahir potong kompas ( mencari jalan terpintas ) memaksa mereka untuk selalu dan sering kali tertinggal jauh di belakang langkah para saudara penghuni Bumi di Utara.

            Adakah faktor yang sama jua menjadi penyebab kaum penghuni Negara tropis takluk di bawah hegemoni segala bidang ( dan terutama pula budaya ) bikinan kaum penghuni Negara subtropis ? Walahu-alam. Yang jelas, Universal Declaration of Human Rights menyatakan : Everyone has the right to freely participate in the cultural life of the community, to enjoy the arts and to share in scientific advancement and its benefits. ( Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk berpartisipasi pada kehidupan berbudaya sebuah komunitas, untuk menikmati seni dan berbagi perkembangan ilmiah berikut segala manfaatnya ). Hak asasi memang adalah hak kita semenjak lahir ke dunia fana nan kejam ini. Siapakah yang memberi ? Ya, Hidup. Hiduplah yang pertama kali membebaskan kita untuk mengakui, memiliki, mengembangkan dan menjadi insan berbudaya, sebelum  manusia menuliskannya dalam wujud Undang-undang. 

        Kebebasan itu sangat berharga, Kak. Anda yang punya uang pas-pasan tak perlu khawatir tak mampu membeli, karena tak sebuah mata uang pun di Bumi ini yang bisa menukarnya. Akan tetapi kebebasan jugalah senjata rahasia yang digunakan orang-orang berwatak culas, dan menghendaki materi sebesar-besarnya yang dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dalam rangka menjajakan barang dagangannya. Memanjakan diri dengan menempatkan imajinasi artifisial di dunia, pengetahuan dan gaya hidup yang bukan milik kita ? Boleh-boleh saja. Sekali lagi saya katakan, kebebasan itu sangat berharga. Bukan karena darah dan air mata yang tertumpah demi memperoleh pengakuan atasnya. Melainkan buah yang akan kita petik sesudahnya : adakah kebebasan itu menjadikan kita nyaman dengan budaya sendiri dalam menjalani hari-hari.



Selasa, 28 Februari 2012

YANG SEMPURNA


“ jer basuki, mawa bea “

       Hingga pertengahan 2011, setiap perempuan muda, dewasa, tua, muda, ABG, STW ( setengah tuwa ), gadis, janda dan perawan tua, baik yang tinggal di desa maupun di kota, real estate maupun pemukiman tepi kali, apartemen maupun rumah susun di segenap penjuru tanah air patut dan sangat iri hati serta berkhayal menjadi Angelina Sondakh. Betapa tidak, all Indonesian women dream ( pernah ) tergenggam erat di jemarinya:  cantik jelita, berotak cemerlang, karismatik, kaya raya, buah hati imut nan lucu-lucu, plus ( alm. ) suami yang ganteng dan anggota DPR pula !   Angie, pada saat itu, dinobatkan sebagai trendsetter kemapanan segala bidang bagi para perempuan pekerja di Indonesia, karir nan bersinar sekaligus keluarga bahagia sejahtera.  
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sempurna tidak saja menarik, mencengangkan plus menakjubkan, namun juga  ‘ utuh dan lengkap segalanya ( tidak bercacat dan bercela ) ‘. Sekarang setelah tersingkaplah segalanya di balik wajah ayu sang Putri, saya jadi mempertanyakan kembali, apakah jebakan senantiasa mengikuti di tiap-tiap kesempurnaan itu sendiri, dan mengapakah kita dedikasikan segenap usia demi merengkuhnya ? Bukankah kesempurnaan bulan purnama yang mempesona ternyata juga palsu, karena cahayanya berhasil menyembunyikan wajah bopeng dan berlubang akibat salah pakai kosmetik murahan ?  Bulan purnama yang katanya sempurna pun ternyata tidak 100 % sempurna. Namun toh kita tetap memanggil bulan yang terbit bulat penuh itu dengan sebutan ‘ bulan purnama ( purnomo dalam bahasa Jawa, yang artinya sempurna ) ‘, iya enggak ?

Kejarlah Daku, Kau Kupalak
       Boleh-boleh saja  kita bercita-cita mengejar kesempurnaan hingga ke lapis langit ke-7.  Namun, ‘ jer basuki mawa bea, ‘ kata orang Jawa ( lagi ). Demi meraih sesuatu, dibutuhkan pengorbanan. Demi meraih kesempurnaan secara fisik, ada harga yang harus kita beli. Hunian cluster, smartphone, kendaraan bermotor roda dua, tiga dan empat, computer tablet dan kapsul , sepanjang yang digunakan sebagai alat pembayaran adalah duit yourself dan bukannya duit Negara, ngapain juga saya musti sirik ? ( Dan dalam hal ini para desainer produk adalah kaum yang patut diacungi jempol karena kecerdikan mereka berhasil membangun imaji tanpa cela melekat pada suatu produk, serta merta mencambuk semangat masing-masing pengejar nafsu  kesempurnaan berlomba memilikinya ). 
       Konon, di suatu pertengahan bulan, Anda duduk termenung. Kalender belum lagi habis, tapi dompet sudah rata beserta isinya. Sambil menopang dagu menggerutu dalam hati,sudah bekerja siang dan malam, namun masih diteror tagihan ini itu. Mungkin kurang keras membanting tulang, sehingga jumlah uang yang didapat cuma segitu-segitu melulu. Atau jangan-jangan para juragan dan atasan kita telah curang, merekayasa laporan keuangan perusahaan, menyembunyikan rapat-rapat laba perusahaan agar tak sampai tercium keluar, karena akan digunakan untuk membayar tagihan dan hutang-hutang ini itu mereka sendiri ? ( Sambil buru-buru mengorganisir demo dan pemogokan menuntut kenaikan upah, dan kalau ternyata perusahaan menolak ya kita menuntut pengurangan jam kerja saja. Mudah kan ? ).
      Berangkat dari premis, pekerja yang baik bukanlah mereka yang bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas daripada kawan-kawannya, maka ke’cerdas’an masing-masing pun dimaksimalkan guna menggelapkan serta membangun jaringan mafia anggaran, memanipulasi laporan keuangan, jurnal pajak, laporan laba rugi, dsb, dll, dst,, mencari-cari celah dan jalan tikus untuk mengalirkan sekeping dua keping rupiah yang sedang menganggur ke dalam kantong sendiri. Meski lincah melompat kesana dan kemari, Anda, meski memiliki kemampuan meramal pun, tak akan pernah tahu pada lompatan yang ke berapa akan jatuh meluncur bebas. Meski toh memegang setumpuk uang untuk menyogok hakim dan jaksa, mampukah mereka mencuci bersih noda pada nama Anda ? Oleh karena itu, demi kenyamanan dan keamanan di hari tua, would you please look again before you leap, ladies and gentlemen ? Yah, kecuali Anda ingin memecahkan rekornya Gayus Tambunan sih.

Pahit Yang Termanis
       Dalam kedukaan dan kesulitan hidup kita mendambakan kemudahan dan kesenangan sebagai obat pencuci segala yang tidak enak enyah untuk selama-lamanya. Contohnya saya. Semenjak mengurangi rokok yang 4 bulan yang lalu mengepul bak asap lokomotif kereta api jadul, kebiasaan baru jadi giat bersemi : ngemil. Tak sesuatu halangan pun mampu menghalanginya. Semakin tanggal tua, semakin mulut tidak berhenti makan. Kalau perlu berhutang di warung langganan, saya lakoni dengan gagah berani. Ada beban yang tak henti menggelayuti pikiran. Solusi ? Entah kemana perginya. Duduk manis, menatap layar laptop dan sambil mengunyah kacang-kacangan mungkin adalah pelarian terbaik secara tidak menetap.
        -2+(-2) = 4. Dari persamaan matematika di atas dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang negatif jika ditambahkan dengan yang negatif pula, maka hasilnya akan positif.  Namun, jangan buru-buru menyamaratakan, bahwa semua keadaan yang negatif, kisruh, kacau, balau, rusak dan parah itu serta merta menjadi positif jikalau dituangi semangat destruktif, suicide tendencies, patah hati, putus asa dan kegalauan lainnya. Atau kita harus sama-sama memikul tanggung jawab akibat meluasnya keos massal. Lalu negatif dari spesies apakah yang bisa kita konvert menjadi positif ? Ialah semua kenegatifan yang tak kuasa kita tolak, tapi  harus ditelan mentah-mentah. Semua kenegatifan yang ingin kita teriakkan kencang-kencang, namun mulut sudah terlanjur disegel peraturan-peraturan. Semua yang ingin kita hindari, tapi sudah tiada tempat sembunyi.
      Diantaranya adalah sifat negatif yang merupakan hasil peristiwa, atau sedang berlangsung di alam raya. Misalnya, bencana alam dan cuaca ekstrim. Pencemaran lingkungan juga bisa dikategorikan peristiwa negatif di alam, yang diakibatkan ulah tingkah manusia. Beberapa orang merasakan ketidakpuasan ( yang mana adalah perasaan negatif juga ) melihat situasi tersebut. Mereka mengendapkan baik-baik, mengkontemplasikan kedua spesies negatif tersebut di dalam diri terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama kawan-kawan sepermainan.  Sebuah kata diputuskan, dan lahirlah organisasi semacam Greenpeace dsb.  yang memilih jalan panjang beronak duri demi sesuatu yang mereka yakini.
       Daun pare dan pepaya itu pahitnya setengah mati. Toh, keduanya terkenal sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit seperti flu, batuk, pilek, wasir, rabun malam bahkan kanker. Akan tetapi, karena hidup itu pilihan, maka Anda masih bisa memuntahkannya kembali jika tidak suka. Lain kali tambahkan gula, atau garam sebelum menelannya. 
 ( Swastantika )
           

           
           
           
                 
           
           
           
           
           

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...