Sabtu, 31 Maret 2012
HARGA KEBEBASAN
TVRI
memegang monopoli siaran televisi semenjak kelahirannya di awal 70-an dan
sekaligus membuka jalan bagi era keemasan para biduan pada masa itu. Para
penonton se-Indonesia tidak ada yang tidak mengenal, menikmati segenap talenta
dan performanya di atas pentas. Mereka tidak punya kekhawatiran akan kalah bersaing dengan para
biduan asing, karena akses khalayak kesana terbatasi. Di sisi lain, ketiadaan
media alternatif menyuburkan keseragaman di segala bidang. Bukan saja ranah
hiburan maupun lifestyle, informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya pun
seragam.
Aneh, setelah waktu berlari cepat bersama perkembangan teknologi dan
komunikasi, kecenderungan itu belum juga berubah. Fashion dan musik adalah
sekedar pengulangan dari era-era sebelumnya. Namun mengapa selera anak muda
kita terhadap musik dan gaya hidup tetap saja seragam ? Mereka setuju tanpa
syarat mengikuti saran media massa dan internet tentang apa trending topic di hari ini. Seakan
didera kekhawatiran yang amat sangat terhadap kemungkinan menyandang predikat ‘
kamseupay ‘ jika tidak cepat-cepat merespon perubahan arus dengan mengkonsumsi,
menggemari dan, ujung-ujungnya, membeli salah satu produk hasil kebaruan
tersebut.
‘ Perjuangan Melawan
Lupa ‘
Ketertarikan dan keingintahuan kepada satu dan lain hal adalah berguna dalam
upaya memperkokoh serta menajamkan pengetahuan dan ketrampilan survival sepanjang hayat. Tapi, tunggu
dulu, adakah keingintahuan Anda terangsang karena gemerlap dari luarnya sesuatu
hal tersebut ? Apakah karena beroleh kesempatan dikelilingi gadis-gadis
sehingga putra Anda tertarik mengikuti audisi boyband ? Apakah karena menjadi politisi itu sungguh bergelimang
uang untuk melunasi hutang maka mereka berpaling dari idealisme vox populi ? Ataukah karena
raja-raja dalam film dan legenda itu terlalu pesolek, lebay mendandani
diri dengan perhiasan mutu manikam imitasi sekadarnya untuk menaikkan citra
diri ?
Artifialisme ( artificial = buatan, seolah-olah, palsu ) semacam inilah yang
kelak dimanfaatkan pihak lain untuk menggiring kita ke dalam sebuah sangkar.
Semua sudah direncanakan, disiapkan dan diatur oleh panitia penyelenggara yang
bertugas memutar paksa kepala kita kepada sebuah arah serta memasangkan
sepasang kacamata kuda. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita hanya
berkemampuan untuk memahami, mempercayai dan beropini tentang sesuatu hal
sesuai sudut pandang para empunya kepentingan sahaja.
Memang tidak akan menyakiti siapapun secara fisik. Namun sanggup mengantarkan
peradaban sekelompok manusia ke jurang kehancuran. Entah sampai kapan dicekoki,
dininabobo lalu ditipu. Mungkin sampai seumur hidup dikarbitkan menjadi sosok
yang berkarakter, berperilaku, berpola pikir, berbudaya sesuai keinginan
mereka. Yaitu, untuk mudah
dijinakkan, ditundukkan dan dikendalikan. Sehingga meminimalisir resiko
sekecil-kecilnya terhadap potensi perlawanan atau anarki.
Kita toh tetap akan berjalan
dengan dua kaki, makan dengan tangan kanan, cebok dengan tangan kiri. Di
permukaan kita adalah manusia yang berhasil dipaksa untuk menjadi wajar dan
biasa. Rutinitas ibarat lingkaran yang melilit akal dan nafsu, sehingga yang
bersemayam di benak hanyalah makan dan cara mencari makan. Namun, peraturan
yang artificial tak dapat dipungkiri juga melahirkan kepatuhan artificial, dan
bukannya kesadaran terhadap alasan ‘ mengapa harus patuh itu sendiri ‘. Jadi
kita pun wajib memaklumi seandainya suatu saat tiba-tiba muncullah
pembangkangan massal, penyimpangan perilaku dan kepribadian, penolakan terhadap
norma-norma, pelanggaran terhadap peraturan, hukum dan undang-undang,
penyelewengan kepercayaan dan cinta, pemberontakan atas keharmonisan keluarga
bahagia.
Budaya modern adalah ibarat meneguk anggur merah. Bergalon-galon sudah
habis kita tenggak, namun dahaga tak kunjung sirna. Mengikuti mainstream mungkin salah satu jalan
teraman untuk menghabiskan sisa usia. Kita tak perlu repot-repot mencari
atau melarutkan diri ke dalam kegalauan abadi terhadap masa depan alam
seisinya. Cukup menikmati, mengamini dan meniru apa yang sedang dan sering
sekelebat berkilauan. Namun bersediakah selamanya dikutuk sebagai para gundah
gulana sampai mati
?
Lost And Found
“Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya
seni “ ( Wikipedia ). Oleh karena Bumi
terdiri dari lebih dari satu jenis iklim, cuaca dan kondisi geografis, maka
itulah yang melatarbelakangi keberagaman budaya di antara manusia sebagai
penghuninya.
Manusia yang tinggal di belahan
Utara dan Selatan Bumi harus bertahan dan menyesuaikan diri di tiap-tiap
pergantian empat musim ( salju, gugur, semi, panas ) selama satu tahun.
Sedangkan sebagian lain yang berdiam di daerah khatulistiwa cukup menghadapi
dua musim saja per tahunnya ( hujan dan kemarau ). Mereka beruntung sekali
karena tantangan yang dihadapi saudara-saudaranya di belahan Utara dan Selatan
jauh lebih berat. Apa mau dikata, keberuntungan tersebut ternyata bermata
dua, kesialan di salah satunya. Akibat terbentuknya watak manja dan mahir
potong kompas ( mencari jalan terpintas ) memaksa mereka untuk selalu dan
sering kali tertinggal jauh di belakang langkah para saudara penghuni Bumi di
Utara.
Adakah faktor yang sama jua menjadi penyebab kaum penghuni Negara tropis takluk
di bawah hegemoni segala bidang ( dan terutama pula budaya ) bikinan kaum
penghuni Negara subtropis ? Walahu-alam. Yang jelas, Universal Declaration of
Human Rights menyatakan : Everyone has
the right to freely participate in the cultural life of the community, to enjoy
the arts and to share in scientific advancement and its benefits. ( Setiap orang mempunyai hak yang sama
untuk berpartisipasi pada kehidupan berbudaya sebuah komunitas, untuk menikmati
seni dan berbagi perkembangan ilmiah berikut segala manfaatnya ). Hak asasi
memang adalah hak kita semenjak lahir ke dunia fana nan kejam ini. Siapakah
yang memberi ? Ya, Hidup. Hiduplah yang pertama kali membebaskan kita untuk
mengakui, memiliki, mengembangkan dan menjadi insan berbudaya, sebelum
manusia menuliskannya dalam wujud Undang-undang.
Kebebasan itu sangat berharga, Kak. Anda yang punya uang pas-pasan tak perlu
khawatir tak mampu membeli, karena tak sebuah mata uang pun di Bumi ini yang
bisa menukarnya. Akan tetapi kebebasan jugalah senjata rahasia yang digunakan
orang-orang berwatak culas, dan menghendaki materi sebesar-besarnya yang
dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dalam rangka menjajakan
barang dagangannya. Memanjakan diri dengan menempatkan imajinasi artifisial di
dunia, pengetahuan dan gaya hidup yang bukan milik kita ? Boleh-boleh saja.
Sekali lagi saya katakan, kebebasan itu sangat berharga. Bukan karena darah dan
air mata yang tertumpah demi memperoleh pengakuan atasnya. Melainkan buah yang
akan kita petik sesudahnya : adakah kebebasan itu menjadikan kita nyaman dengan
budaya sendiri dalam menjalani hari-hari.
Rabu, 29 Februari 2012
Selasa, 28 Februari 2012
YANG SEMPURNA
“ jer basuki, mawa bea “
Hingga pertengahan 2011, setiap
perempuan muda, dewasa, tua, muda, ABG, STW ( setengah tuwa ), gadis, janda dan
perawan tua, baik yang tinggal di desa maupun di kota, real estate maupun
pemukiman tepi kali, apartemen maupun rumah susun di segenap penjuru tanah air patut dan sangat iri hati serta berkhayal menjadi Angelina Sondakh. Betapa tidak, all Indonesian women dream ( pernah ) tergenggam erat di jemarinya: cantik jelita,
berotak cemerlang, karismatik, kaya raya, buah hati imut nan lucu-lucu, plus (
alm. ) suami yang ganteng dan anggota DPR pula ! Angie, pada saat itu, dinobatkan sebagai trendsetter kemapanan segala bidang bagi
para perempuan pekerja di Indonesia, karir nan bersinar sekaligus keluarga
bahagia sejahtera.
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, sempurna tidak saja menarik, mencengangkan plus menakjubkan, namun
juga ‘ utuh dan lengkap segalanya (
tidak bercacat dan bercela ) ‘. Sekarang setelah tersingkaplah segalanya di
balik wajah ayu sang Putri, saya jadi mempertanyakan kembali, apakah jebakan
senantiasa mengikuti di tiap-tiap kesempurnaan itu sendiri, dan mengapakah kita
dedikasikan segenap usia demi merengkuhnya ? Bukankah kesempurnaan bulan
purnama yang mempesona ternyata juga palsu, karena cahayanya berhasil
menyembunyikan wajah bopeng dan berlubang akibat salah pakai kosmetik murahan ?
Bulan purnama yang katanya sempurna pun
ternyata tidak 100 % sempurna. Namun toh kita tetap memanggil bulan yang terbit
bulat penuh itu dengan sebutan ‘ bulan purnama ( purnomo dalam bahasa Jawa,
yang artinya sempurna ) ‘, iya enggak ?
Kejarlah Daku, Kau Kupalak
Boleh-boleh
saja kita bercita-cita mengejar
kesempurnaan hingga ke lapis langit ke-7.
Namun, ‘ jer basuki mawa bea, ‘ kata orang Jawa ( lagi ). Demi meraih
sesuatu, dibutuhkan pengorbanan. Demi meraih kesempurnaan secara fisik, ada
harga yang harus kita beli. Hunian cluster,
smartphone, kendaraan bermotor roda
dua, tiga dan empat, computer tablet dan kapsul , sepanjang yang digunakan
sebagai alat pembayaran adalah duit yourself
dan bukannya duit Negara, ngapain juga saya musti sirik ? ( Dan dalam hal ini
para desainer produk adalah kaum yang patut diacungi jempol karena kecerdikan
mereka berhasil membangun imaji tanpa cela melekat pada suatu produk, serta
merta mencambuk semangat masing-masing pengejar nafsu kesempurnaan berlomba memilikinya ).
Konon, di suatu pertengahan bulan,
Anda duduk termenung. Kalender belum lagi habis, tapi dompet sudah rata beserta
isinya. Sambil menopang dagu menggerutu dalam hati,sudah bekerja siang dan
malam, namun masih diteror tagihan ini itu. Mungkin kurang keras membanting
tulang, sehingga jumlah uang yang didapat cuma segitu-segitu melulu. Atau
jangan-jangan para juragan dan atasan kita telah curang, merekayasa laporan
keuangan perusahaan, menyembunyikan rapat-rapat laba perusahaan agar tak sampai
tercium keluar, karena akan digunakan untuk membayar tagihan dan hutang-hutang
ini itu mereka sendiri ? ( Sambil buru-buru mengorganisir demo dan pemogokan
menuntut kenaikan upah, dan kalau ternyata perusahaan menolak ya kita menuntut
pengurangan jam kerja saja. Mudah kan ? ).
Berangkat dari premis, pekerja yang
baik bukanlah mereka yang bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas
daripada kawan-kawannya, maka ke’cerdas’an masing-masing pun dimaksimalkan guna menggelapkan serta membangun
jaringan mafia anggaran, memanipulasi laporan keuangan, jurnal pajak, laporan
laba rugi, dsb, dll, dst,, mencari-cari celah dan jalan tikus untuk mengalirkan
sekeping dua keping rupiah yang sedang menganggur ke dalam kantong sendiri. Meski
lincah melompat kesana dan kemari, Anda, meski memiliki kemampuan meramal pun,
tak akan pernah tahu pada lompatan yang ke berapa akan jatuh meluncur bebas.
Meski toh memegang setumpuk uang untuk menyogok hakim dan jaksa, mampukah
mereka mencuci bersih noda pada nama Anda ? Oleh karena itu, demi kenyamanan
dan keamanan di hari tua, would you please look again before
you leap, ladies and gentlemen ? Yah, kecuali Anda ingin memecahkan
rekornya Gayus Tambunan sih.
Pahit Yang Termanis
Dalam kedukaan dan kesulitan hidup
kita mendambakan kemudahan dan kesenangan sebagai obat pencuci segala yang tidak
enak enyah untuk selama-lamanya. Contohnya saya. Semenjak mengurangi rokok yang
4 bulan yang lalu mengepul bak asap lokomotif kereta api jadul, kebiasaan baru
jadi giat bersemi : ngemil. Tak sesuatu halangan pun mampu menghalanginya.
Semakin tanggal tua, semakin mulut tidak berhenti makan. Kalau perlu berhutang
di warung langganan, saya lakoni dengan gagah berani. Ada beban yang tak henti
menggelayuti pikiran. Solusi ? Entah kemana perginya. Duduk manis, menatap
layar laptop dan sambil mengunyah kacang-kacangan mungkin adalah pelarian
terbaik secara tidak menetap.
-2+(-2) = 4. Dari persamaan
matematika di atas dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang negatif jika
ditambahkan dengan yang negatif pula, maka hasilnya akan positif. Namun, jangan buru-buru menyamaratakan, bahwa
semua keadaan yang negatif, kisruh, kacau, balau, rusak dan parah itu serta merta menjadi
positif jikalau dituangi semangat destruktif, suicide tendencies, patah hati, putus asa dan kegalauan lainnya. Atau kita
harus sama-sama memikul tanggung jawab akibat meluasnya keos massal. Lalu negatif dari spesies apakah yang bisa kita konvert menjadi positif ? Ialah semua kenegatifan yang tak kuasa kita tolak, tapi harus ditelan mentah-mentah. Semua kenegatifan yang ingin kita teriakkan kencang-kencang, namun mulut sudah terlanjur disegel peraturan-peraturan. Semua yang ingin kita hindari, tapi sudah tiada tempat sembunyi.
Diantaranya adalah sifat negatif yang merupakan hasil peristiwa, atau sedang berlangsung di alam raya. Misalnya, bencana alam dan cuaca ekstrim. Pencemaran lingkungan juga bisa dikategorikan peristiwa negatif di alam, yang diakibatkan ulah tingkah manusia. Beberapa orang merasakan ketidakpuasan ( yang mana adalah perasaan negatif juga ) melihat situasi tersebut. Mereka mengendapkan baik-baik, mengkontemplasikan kedua spesies negatif tersebut di dalam diri terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama kawan-kawan sepermainan. Sebuah kata diputuskan, dan lahirlah organisasi semacam Greenpeace dsb. yang memilih jalan panjang beronak duri demi sesuatu yang mereka yakini.
Daun pare dan pepaya itu pahitnya setengah mati. Toh, keduanya terkenal sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit seperti flu, batuk, pilek, wasir, rabun malam bahkan kanker. Akan tetapi, karena hidup itu pilihan, maka Anda masih bisa memuntahkannya kembali jika tidak suka. Lain kali tambahkan gula, atau garam sebelum menelannya.
( Swastantika )
Diantaranya adalah sifat negatif yang merupakan hasil peristiwa, atau sedang berlangsung di alam raya. Misalnya, bencana alam dan cuaca ekstrim. Pencemaran lingkungan juga bisa dikategorikan peristiwa negatif di alam, yang diakibatkan ulah tingkah manusia. Beberapa orang merasakan ketidakpuasan ( yang mana adalah perasaan negatif juga ) melihat situasi tersebut. Mereka mengendapkan baik-baik, mengkontemplasikan kedua spesies negatif tersebut di dalam diri terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama kawan-kawan sepermainan. Sebuah kata diputuskan, dan lahirlah organisasi semacam Greenpeace dsb. yang memilih jalan panjang beronak duri demi sesuatu yang mereka yakini.
Daun pare dan pepaya itu pahitnya setengah mati. Toh, keduanya terkenal sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit seperti flu, batuk, pilek, wasir, rabun malam bahkan kanker. Akan tetapi, karena hidup itu pilihan, maka Anda masih bisa memuntahkannya kembali jika tidak suka. Lain kali tambahkan gula, atau garam sebelum menelannya.
( Swastantika )
Minggu, 29 Januari 2012
JALAN YANG BENAR
“ to be or not to be, that is the question “ ( William Shakespeare )
Manusia memantapkan hegemoninya sebagai penguasa seluruh makhluk di Bumi dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benaknya : ‘ Mengapa begini ? Mengapa begitu ? ‘ . Akan tetapi, jawaban bukannya menghilangkan dahaga. Malah membukakan pintu kepada sebuah pertanyaan lain, pertanyaan selanjutnya, pertanyaan berikutnya, dan seterusnya. Contoh : pertanyaan klasik : lebih dulu mana ayam atau telur ? Kalau duluan telur, kira-kira pohon jenis apa yang berbuah telur ? Kalau duluan ayam, apakah sejak kecil ayam lahir sudah membawa telur di temboloknya ? Lalu darimanakah datangnya ayam, apakah ia berasal dari sejenis dinosaurus yang telah terseleksi alam atau reinkarnasi dari roh manusia yang bersifat serta berkelakuan ke’ayam-ayam’an semasa hidupnya ?
Si kakek buyut Plato mengatakan, ‘ masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan ‘. Jadi, setelah manusia puas mengamati dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis seputar cara kerja tubuh dan alam seisinya, ia mendadak terhenyak, termangu dan kesepian. Di kanan kirinya ternyata ada manusia-manusia lain yang berciri-ciri fisik berbeda, namun berbicara dengan bahasa yang sama. Ia pun sadar ternyata tidak sedang sendiri saja dan adalah bagian dari sekelompok manusia tersebut. Akan tetapi mengapa mereka tak pernah tenang dan tentram dalam hidup sepanjang harinya ? Adakah mereka juga terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama, namun tak kunjung beroleh jawaban ? Ataukah sama-sama berkeinginan menjadi si nomor satu agar dituruti segala kehendak dan perintah kepada para manusia lainnya ?
Lalu ia pergi dan mengajak mereka duduk sama-sama minum kopi di pagi hari. ‘ Siapa nama Anda dan mengapa ada disini ? ‘ Begitulah mufakat itu diawali. Mereka berkompromi untuk meredam gejolak di pikiran dan libido berkuasa masing-masing. Direkalah sebuah rumusan yang telah disepakati bersama ( norma-norma, hukum adat, agama, KUHP, peraturan lalu llintas ), demi mengendalikan tingkah polah manusia dengan menuliskan batasan apa-apa yang ‘ benar ‘ dan ‘ salah ‘. Kesalahan dalam berbuat harus menerima hukuman sebagai konsekuensi. Kebenaran dalam bertindak apakah imbalannya ? Itulah yang saya coba gali disini. Meski tak sedalam sumur, mudah-mudahan tetap memancurkan sumber air nan sejuk segar.
Lurus Tidak Selalu Mulus
Mengapa perumpamaan abadi mengidentikkan ‘ benar ‘ itu dengan ‘ putih ‘ dan ‘ lurus ‘ ? Apakah mungkin, dikatakan ‘ putih ‘ itu adalah ekspresi kerinduan manusia fana terhadap sapuan cahaya Ilahi yang Maha Absurd dan hanya indra hati yang mampu mendeteksi keberadaannya ? Dan apakah disebut ‘ lurus ‘ sekedar sebagai penggambaran umum atas kekokohan batu karang menjulang tinggi hendak menembus cakrawala, pralambang dari hakekat tiap-tiap manusia, ialah pencarian seumur hidup atas jalan pulang yang kan membawanya kembali kepada Dia yang menciptanya ?
Yah entah sampai kapan pun jalan lurus itu selalu agak membosankan, karena hanya akan melangkah ke muka dan bukan tujuan lainnya. Meskipun harus menabrak dinding, dan menderita karena sakit benjol di kepala ( kecuali kita sejenis mutan, atau hantu yang memiliki keahlian khusus mampu menembus tembok ). Selalu ada sekian rambu-rambu yang belum tentu menggembirakan. Jalan yang salah menyilaukan mata, mudah, cepat serta menyenangkan. Sedangkan jalan yang benar menyesakkan, sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Cepat atau lama, disitulah letak permasalahannya.
Perubahan Dan Kawan-kawannya
Sama halnya dengan situasi terkini, saat disana-sini beberapa kelompok mulai meneriakkan revolusi a.k.a perubahan dengan cepat melalui berbagai cara, bahkan yang haram sekalipun, seperti kerusuhan massal, kekerasan bersenjata tajam dan tumpul, original maupun rakitan, dan tindakan menumpahkan darah lainnya. Alternatif lainnya adalah evolusi. Yaitu semacam perubahan juga, yang lebih slow dilakukan oleh tangan alam dan waktu. Teknologi memang sih berjasa menaikkan derajat manusia sebagai penguasa;, mengeksplorasi, memanfaatkan dan menaklukkan planet Bumi dan galaksi Bima Sakti. Namun sampai kapanpun tiada jua akan berjaya memutar arah jarum jam, menukar posisi siang dan malam. Ada sesuatu dan lain hal yang hanya dapat dirubah melalui seleksi alam dan berlalunya waktu. Ada buah yang tidak bisa cepat-cepat dipetik, kecuali kita penggemar rasa asem atau sedang ngidam.
Jadi, perubahan berkarakter kencang atau perlahankah yang musti kita pilih ? Kecil kemungkinannya evolusi untuk mendadak laju. Sedangkan revolusi masih bisa diinjak remnya kuat-kuat, dilambatkan langkah dan membanting kemudi demi menghindari jumlah korban jiwa akibat hantaman kereta. Kita kan telah merasai hasil-hasil buruk, busuk dan lebay dari proses bertahun-tahun. Padahal kita manusia yang tak pernah puas dan menginginkan lebih. Lalu dimanakah letak kesalahannya ? Mungkin ide, sikap, tindakan atau budayalah yang pertama-tama harus dibenahi, sebelum ia membawa kita kembali ke jalan yang salah tuk kesekian kali. Jangan pernah lagi menyempitkan definisi budaya ke dalam lingkup aktivitas tari, musik, masakan, bahasa dan seni rupa belaka. Karena selain kehalusan rasa moralitas, keadilan, kemanusiaan dan kasih sayang menciptakan seni dan kesenian, bekerja bersama dengannya adalah kerasnya kerja otak memikir dan mempelajari. Sama seperti ketika Archimedes asyik berendam di bath tubnya, melamun sambil mengamati lantai kamar mandinya, ‘ Eureka … ! ‘.
Pola pikir orang gunung tidak sama dengan pola pikir orang pantai. Yang satu tiap hari kedinginan di ketinggian, sedang yang satunya tiap hari berjemur di terik matahari. Yang satu berpikir bagaimana supaya tetap hangat dan nyaman, sedang yang satunya lagi sibuk mencari cara agar tak lagi gerah dan kepanasan. Yang satu terbiasa memendam dengki demi menghindari konflik, sedang yang satunya lagi adalah si jujur mengatakan apa saja meski akhirnya meninggalkan luka. Perbedaan tak seharusnya ditakuti, dan oleh karenanya diseragamkan atas nama stabilitas dan keamanan. Pakaian dapat kita atur, namun apakah demikian halnya dengan isi perut, kepala dan hatinya ? Benturan-benturan kecil tak akan dapat dihindari, kecuali sebagian kecil yang masih waras berkenan mengalah demi situasi kondusif. Kompromi, itu jalan tengah temporari. Jikalau kompromi, kompromi dan kompromi mengucilkan kita jauh-jauh dari kesejatian diri, maka itu bukan lagi sebuah solusi. ( by : swastantika )
Manusia memantapkan hegemoninya sebagai penguasa seluruh makhluk di Bumi dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benaknya : ‘ Mengapa begini ? Mengapa begitu ? ‘ . Akan tetapi, jawaban bukannya menghilangkan dahaga. Malah membukakan pintu kepada sebuah pertanyaan lain, pertanyaan selanjutnya, pertanyaan berikutnya, dan seterusnya. Contoh : pertanyaan klasik : lebih dulu mana ayam atau telur ? Kalau duluan telur, kira-kira pohon jenis apa yang berbuah telur ? Kalau duluan ayam, apakah sejak kecil ayam lahir sudah membawa telur di temboloknya ? Lalu darimanakah datangnya ayam, apakah ia berasal dari sejenis dinosaurus yang telah terseleksi alam atau reinkarnasi dari roh manusia yang bersifat serta berkelakuan ke’ayam-ayam’an semasa hidupnya ?
Si kakek buyut Plato mengatakan, ‘ masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan ‘. Jadi, setelah manusia puas mengamati dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis seputar cara kerja tubuh dan alam seisinya, ia mendadak terhenyak, termangu dan kesepian. Di kanan kirinya ternyata ada manusia-manusia lain yang berciri-ciri fisik berbeda, namun berbicara dengan bahasa yang sama. Ia pun sadar ternyata tidak sedang sendiri saja dan adalah bagian dari sekelompok manusia tersebut. Akan tetapi mengapa mereka tak pernah tenang dan tentram dalam hidup sepanjang harinya ? Adakah mereka juga terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama, namun tak kunjung beroleh jawaban ? Ataukah sama-sama berkeinginan menjadi si nomor satu agar dituruti segala kehendak dan perintah kepada para manusia lainnya ?
Lalu ia pergi dan mengajak mereka duduk sama-sama minum kopi di pagi hari. ‘ Siapa nama Anda dan mengapa ada disini ? ‘ Begitulah mufakat itu diawali. Mereka berkompromi untuk meredam gejolak di pikiran dan libido berkuasa masing-masing. Direkalah sebuah rumusan yang telah disepakati bersama ( norma-norma, hukum adat, agama, KUHP, peraturan lalu llintas ), demi mengendalikan tingkah polah manusia dengan menuliskan batasan apa-apa yang ‘ benar ‘ dan ‘ salah ‘. Kesalahan dalam berbuat harus menerima hukuman sebagai konsekuensi. Kebenaran dalam bertindak apakah imbalannya ? Itulah yang saya coba gali disini. Meski tak sedalam sumur, mudah-mudahan tetap memancurkan sumber air nan sejuk segar.
Lurus Tidak Selalu Mulus
Mengapa perumpamaan abadi mengidentikkan ‘ benar ‘ itu dengan ‘ putih ‘ dan ‘ lurus ‘ ? Apakah mungkin, dikatakan ‘ putih ‘ itu adalah ekspresi kerinduan manusia fana terhadap sapuan cahaya Ilahi yang Maha Absurd dan hanya indra hati yang mampu mendeteksi keberadaannya ? Dan apakah disebut ‘ lurus ‘ sekedar sebagai penggambaran umum atas kekokohan batu karang menjulang tinggi hendak menembus cakrawala, pralambang dari hakekat tiap-tiap manusia, ialah pencarian seumur hidup atas jalan pulang yang kan membawanya kembali kepada Dia yang menciptanya ?
Yah entah sampai kapan pun jalan lurus itu selalu agak membosankan, karena hanya akan melangkah ke muka dan bukan tujuan lainnya. Meskipun harus menabrak dinding, dan menderita karena sakit benjol di kepala ( kecuali kita sejenis mutan, atau hantu yang memiliki keahlian khusus mampu menembus tembok ). Selalu ada sekian rambu-rambu yang belum tentu menggembirakan. Jalan yang salah menyilaukan mata, mudah, cepat serta menyenangkan. Sedangkan jalan yang benar menyesakkan, sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Cepat atau lama, disitulah letak permasalahannya.
Perubahan Dan Kawan-kawannya
Sama halnya dengan situasi terkini, saat disana-sini beberapa kelompok mulai meneriakkan revolusi a.k.a perubahan dengan cepat melalui berbagai cara, bahkan yang haram sekalipun, seperti kerusuhan massal, kekerasan bersenjata tajam dan tumpul, original maupun rakitan, dan tindakan menumpahkan darah lainnya. Alternatif lainnya adalah evolusi. Yaitu semacam perubahan juga, yang lebih slow dilakukan oleh tangan alam dan waktu. Teknologi memang sih berjasa menaikkan derajat manusia sebagai penguasa;, mengeksplorasi, memanfaatkan dan menaklukkan planet Bumi dan galaksi Bima Sakti. Namun sampai kapanpun tiada jua akan berjaya memutar arah jarum jam, menukar posisi siang dan malam. Ada sesuatu dan lain hal yang hanya dapat dirubah melalui seleksi alam dan berlalunya waktu. Ada buah yang tidak bisa cepat-cepat dipetik, kecuali kita penggemar rasa asem atau sedang ngidam.
Jadi, perubahan berkarakter kencang atau perlahankah yang musti kita pilih ? Kecil kemungkinannya evolusi untuk mendadak laju. Sedangkan revolusi masih bisa diinjak remnya kuat-kuat, dilambatkan langkah dan membanting kemudi demi menghindari jumlah korban jiwa akibat hantaman kereta. Kita kan telah merasai hasil-hasil buruk, busuk dan lebay dari proses bertahun-tahun. Padahal kita manusia yang tak pernah puas dan menginginkan lebih. Lalu dimanakah letak kesalahannya ? Mungkin ide, sikap, tindakan atau budayalah yang pertama-tama harus dibenahi, sebelum ia membawa kita kembali ke jalan yang salah tuk kesekian kali. Jangan pernah lagi menyempitkan definisi budaya ke dalam lingkup aktivitas tari, musik, masakan, bahasa dan seni rupa belaka. Karena selain kehalusan rasa moralitas, keadilan, kemanusiaan dan kasih sayang menciptakan seni dan kesenian, bekerja bersama dengannya adalah kerasnya kerja otak memikir dan mempelajari. Sama seperti ketika Archimedes asyik berendam di bath tubnya, melamun sambil mengamati lantai kamar mandinya, ‘ Eureka … ! ‘.
Pola pikir orang gunung tidak sama dengan pola pikir orang pantai. Yang satu tiap hari kedinginan di ketinggian, sedang yang satunya tiap hari berjemur di terik matahari. Yang satu berpikir bagaimana supaya tetap hangat dan nyaman, sedang yang satunya lagi sibuk mencari cara agar tak lagi gerah dan kepanasan. Yang satu terbiasa memendam dengki demi menghindari konflik, sedang yang satunya lagi adalah si jujur mengatakan apa saja meski akhirnya meninggalkan luka. Perbedaan tak seharusnya ditakuti, dan oleh karenanya diseragamkan atas nama stabilitas dan keamanan. Pakaian dapat kita atur, namun apakah demikian halnya dengan isi perut, kepala dan hatinya ? Benturan-benturan kecil tak akan dapat dihindari, kecuali sebagian kecil yang masih waras berkenan mengalah demi situasi kondusif. Kompromi, itu jalan tengah temporari. Jikalau kompromi, kompromi dan kompromi mengucilkan kita jauh-jauh dari kesejatian diri, maka itu bukan lagi sebuah solusi. ( by : swastantika )
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



