Selasa, 28 Februari 2012

YANG SEMPURNA


“ jer basuki, mawa bea “

       Hingga pertengahan 2011, setiap perempuan muda, dewasa, tua, muda, ABG, STW ( setengah tuwa ), gadis, janda dan perawan tua, baik yang tinggal di desa maupun di kota, real estate maupun pemukiman tepi kali, apartemen maupun rumah susun di segenap penjuru tanah air patut dan sangat iri hati serta berkhayal menjadi Angelina Sondakh. Betapa tidak, all Indonesian women dream ( pernah ) tergenggam erat di jemarinya:  cantik jelita, berotak cemerlang, karismatik, kaya raya, buah hati imut nan lucu-lucu, plus ( alm. ) suami yang ganteng dan anggota DPR pula !   Angie, pada saat itu, dinobatkan sebagai trendsetter kemapanan segala bidang bagi para perempuan pekerja di Indonesia, karir nan bersinar sekaligus keluarga bahagia sejahtera.  
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sempurna tidak saja menarik, mencengangkan plus menakjubkan, namun juga  ‘ utuh dan lengkap segalanya ( tidak bercacat dan bercela ) ‘. Sekarang setelah tersingkaplah segalanya di balik wajah ayu sang Putri, saya jadi mempertanyakan kembali, apakah jebakan senantiasa mengikuti di tiap-tiap kesempurnaan itu sendiri, dan mengapakah kita dedikasikan segenap usia demi merengkuhnya ? Bukankah kesempurnaan bulan purnama yang mempesona ternyata juga palsu, karena cahayanya berhasil menyembunyikan wajah bopeng dan berlubang akibat salah pakai kosmetik murahan ?  Bulan purnama yang katanya sempurna pun ternyata tidak 100 % sempurna. Namun toh kita tetap memanggil bulan yang terbit bulat penuh itu dengan sebutan ‘ bulan purnama ( purnomo dalam bahasa Jawa, yang artinya sempurna ) ‘, iya enggak ?

Kejarlah Daku, Kau Kupalak
       Boleh-boleh saja  kita bercita-cita mengejar kesempurnaan hingga ke lapis langit ke-7.  Namun, ‘ jer basuki mawa bea, ‘ kata orang Jawa ( lagi ). Demi meraih sesuatu, dibutuhkan pengorbanan. Demi meraih kesempurnaan secara fisik, ada harga yang harus kita beli. Hunian cluster, smartphone, kendaraan bermotor roda dua, tiga dan empat, computer tablet dan kapsul , sepanjang yang digunakan sebagai alat pembayaran adalah duit yourself dan bukannya duit Negara, ngapain juga saya musti sirik ? ( Dan dalam hal ini para desainer produk adalah kaum yang patut diacungi jempol karena kecerdikan mereka berhasil membangun imaji tanpa cela melekat pada suatu produk, serta merta mencambuk semangat masing-masing pengejar nafsu  kesempurnaan berlomba memilikinya ). 
       Konon, di suatu pertengahan bulan, Anda duduk termenung. Kalender belum lagi habis, tapi dompet sudah rata beserta isinya. Sambil menopang dagu menggerutu dalam hati,sudah bekerja siang dan malam, namun masih diteror tagihan ini itu. Mungkin kurang keras membanting tulang, sehingga jumlah uang yang didapat cuma segitu-segitu melulu. Atau jangan-jangan para juragan dan atasan kita telah curang, merekayasa laporan keuangan perusahaan, menyembunyikan rapat-rapat laba perusahaan agar tak sampai tercium keluar, karena akan digunakan untuk membayar tagihan dan hutang-hutang ini itu mereka sendiri ? ( Sambil buru-buru mengorganisir demo dan pemogokan menuntut kenaikan upah, dan kalau ternyata perusahaan menolak ya kita menuntut pengurangan jam kerja saja. Mudah kan ? ).
      Berangkat dari premis, pekerja yang baik bukanlah mereka yang bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas daripada kawan-kawannya, maka ke’cerdas’an masing-masing pun dimaksimalkan guna menggelapkan serta membangun jaringan mafia anggaran, memanipulasi laporan keuangan, jurnal pajak, laporan laba rugi, dsb, dll, dst,, mencari-cari celah dan jalan tikus untuk mengalirkan sekeping dua keping rupiah yang sedang menganggur ke dalam kantong sendiri. Meski lincah melompat kesana dan kemari, Anda, meski memiliki kemampuan meramal pun, tak akan pernah tahu pada lompatan yang ke berapa akan jatuh meluncur bebas. Meski toh memegang setumpuk uang untuk menyogok hakim dan jaksa, mampukah mereka mencuci bersih noda pada nama Anda ? Oleh karena itu, demi kenyamanan dan keamanan di hari tua, would you please look again before you leap, ladies and gentlemen ? Yah, kecuali Anda ingin memecahkan rekornya Gayus Tambunan sih.

Pahit Yang Termanis
       Dalam kedukaan dan kesulitan hidup kita mendambakan kemudahan dan kesenangan sebagai obat pencuci segala yang tidak enak enyah untuk selama-lamanya. Contohnya saya. Semenjak mengurangi rokok yang 4 bulan yang lalu mengepul bak asap lokomotif kereta api jadul, kebiasaan baru jadi giat bersemi : ngemil. Tak sesuatu halangan pun mampu menghalanginya. Semakin tanggal tua, semakin mulut tidak berhenti makan. Kalau perlu berhutang di warung langganan, saya lakoni dengan gagah berani. Ada beban yang tak henti menggelayuti pikiran. Solusi ? Entah kemana perginya. Duduk manis, menatap layar laptop dan sambil mengunyah kacang-kacangan mungkin adalah pelarian terbaik secara tidak menetap.
        -2+(-2) = 4. Dari persamaan matematika di atas dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang negatif jika ditambahkan dengan yang negatif pula, maka hasilnya akan positif.  Namun, jangan buru-buru menyamaratakan, bahwa semua keadaan yang negatif, kisruh, kacau, balau, rusak dan parah itu serta merta menjadi positif jikalau dituangi semangat destruktif, suicide tendencies, patah hati, putus asa dan kegalauan lainnya. Atau kita harus sama-sama memikul tanggung jawab akibat meluasnya keos massal. Lalu negatif dari spesies apakah yang bisa kita konvert menjadi positif ? Ialah semua kenegatifan yang tak kuasa kita tolak, tapi  harus ditelan mentah-mentah. Semua kenegatifan yang ingin kita teriakkan kencang-kencang, namun mulut sudah terlanjur disegel peraturan-peraturan. Semua yang ingin kita hindari, tapi sudah tiada tempat sembunyi.
      Diantaranya adalah sifat negatif yang merupakan hasil peristiwa, atau sedang berlangsung di alam raya. Misalnya, bencana alam dan cuaca ekstrim. Pencemaran lingkungan juga bisa dikategorikan peristiwa negatif di alam, yang diakibatkan ulah tingkah manusia. Beberapa orang merasakan ketidakpuasan ( yang mana adalah perasaan negatif juga ) melihat situasi tersebut. Mereka mengendapkan baik-baik, mengkontemplasikan kedua spesies negatif tersebut di dalam diri terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama kawan-kawan sepermainan.  Sebuah kata diputuskan, dan lahirlah organisasi semacam Greenpeace dsb.  yang memilih jalan panjang beronak duri demi sesuatu yang mereka yakini.
       Daun pare dan pepaya itu pahitnya setengah mati. Toh, keduanya terkenal sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit seperti flu, batuk, pilek, wasir, rabun malam bahkan kanker. Akan tetapi, karena hidup itu pilihan, maka Anda masih bisa memuntahkannya kembali jika tidak suka. Lain kali tambahkan gula, atau garam sebelum menelannya. 
 ( Swastantika )
           

           
           
           
                 
           
           
           
           
           

Minggu, 29 Januari 2012

EARTH CORE


JALAN YANG BENAR

“ to be or not to be, that is the question “ ( William Shakespeare )

Manusia memantapkan hegemoninya sebagai penguasa seluruh makhluk di Bumi dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benaknya : ‘ Mengapa begini ? Mengapa begitu ? ‘ . Akan tetapi, jawaban bukannya menghilangkan dahaga. Malah membukakan pintu kepada sebuah pertanyaan lain, pertanyaan selanjutnya, pertanyaan berikutnya, dan seterusnya. Contoh : pertanyaan klasik : lebih dulu mana ayam atau telur ? Kalau duluan telur, kira-kira pohon jenis apa yang berbuah telur ? Kalau duluan ayam, apakah sejak kecil ayam lahir sudah membawa telur di temboloknya ? Lalu darimanakah datangnya ayam, apakah ia berasal dari sejenis dinosaurus yang telah terseleksi alam atau reinkarnasi dari roh manusia yang bersifat serta berkelakuan ke’ayam-ayam’an semasa hidupnya ?

Si kakek buyut Plato mengatakan, ‘ masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan ‘. Jadi, setelah manusia puas mengamati dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis seputar cara kerja tubuh dan alam seisinya, ia mendadak terhenyak, termangu dan kesepian. Di kanan kirinya ternyata ada manusia-manusia lain yang berciri-ciri fisik berbeda, namun berbicara dengan bahasa yang sama. Ia pun sadar ternyata tidak sedang sendiri saja dan adalah bagian dari sekelompok manusia tersebut. Akan tetapi mengapa mereka tak pernah tenang dan tentram dalam hidup sepanjang harinya ? Adakah mereka juga terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama, namun tak kunjung beroleh jawaban ? Ataukah sama-sama berkeinginan menjadi si nomor satu agar dituruti segala kehendak dan perintah kepada para manusia lainnya ?

Lalu ia pergi dan mengajak mereka duduk sama-sama minum kopi di pagi hari. ‘ Siapa nama Anda dan mengapa ada disini ? ‘ Begitulah mufakat itu diawali. Mereka berkompromi untuk meredam gejolak di pikiran dan libido berkuasa masing-masing. Direkalah sebuah rumusan yang telah disepakati bersama ( norma-norma, hukum adat, agama, KUHP, peraturan lalu llintas ), demi mengendalikan tingkah polah manusia dengan menuliskan batasan apa-apa yang ‘ benar ‘ dan ‘ salah ‘. Kesalahan dalam berbuat harus menerima hukuman sebagai konsekuensi. Kebenaran dalam bertindak apakah imbalannya ? Itulah yang saya coba gali disini. Meski tak sedalam sumur, mudah-mudahan tetap memancurkan sumber air nan sejuk segar.

Lurus Tidak Selalu Mulus
Mengapa perumpamaan abadi mengidentikkan ‘ benar ‘ itu dengan ‘ putih ‘ dan ‘ lurus ‘ ? Apakah mungkin, dikatakan ‘ putih ‘ itu adalah ekspresi kerinduan manusia fana terhadap sapuan cahaya Ilahi yang Maha Absurd dan hanya indra hati yang mampu mendeteksi keberadaannya ? Dan apakah disebut ‘ lurus ‘ sekedar sebagai penggambaran umum atas kekokohan batu karang menjulang tinggi hendak menembus cakrawala, pralambang dari hakekat tiap-tiap manusia, ialah pencarian seumur hidup atas jalan pulang yang kan membawanya kembali kepada Dia yang menciptanya ?

Yah entah sampai kapan pun jalan lurus itu selalu agak membosankan, karena hanya akan melangkah ke muka dan bukan tujuan lainnya. Meskipun harus menabrak dinding, dan menderita karena sakit benjol di kepala ( kecuali kita sejenis mutan, atau hantu yang memiliki keahlian khusus mampu menembus tembok ). Selalu ada sekian rambu-rambu yang belum tentu menggembirakan. Jalan yang salah menyilaukan mata, mudah, cepat serta menyenangkan. Sedangkan jalan yang benar menyesakkan, sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Cepat atau lama, disitulah letak permasalahannya.

Perubahan Dan Kawan-kawannya
Sama halnya dengan situasi terkini, saat disana-sini beberapa kelompok mulai meneriakkan revolusi a.k.a perubahan dengan cepat melalui berbagai cara, bahkan yang haram sekalipun, seperti kerusuhan massal, kekerasan bersenjata tajam dan tumpul, original maupun rakitan, dan tindakan menumpahkan darah lainnya. Alternatif lainnya adalah evolusi. Yaitu semacam perubahan juga, yang lebih slow dilakukan oleh tangan alam dan waktu. Teknologi memang sih berjasa menaikkan derajat manusia sebagai penguasa;, mengeksplorasi, memanfaatkan dan menaklukkan planet Bumi dan galaksi Bima Sakti. Namun sampai kapanpun tiada jua akan berjaya memutar arah jarum jam, menukar posisi siang dan malam. Ada sesuatu dan lain hal yang hanya dapat dirubah melalui seleksi alam dan berlalunya waktu. Ada buah yang tidak bisa cepat-cepat dipetik, kecuali kita penggemar rasa asem atau sedang ngidam.

Jadi, perubahan berkarakter kencang atau perlahankah yang musti kita pilih ? Kecil kemungkinannya evolusi untuk mendadak laju. Sedangkan revolusi masih bisa diinjak remnya kuat-kuat, dilambatkan langkah dan membanting kemudi demi menghindari jumlah korban jiwa akibat hantaman kereta. Kita kan telah merasai hasil-hasil buruk, busuk dan lebay dari proses bertahun-tahun. Padahal kita manusia yang tak pernah puas dan menginginkan lebih. Lalu dimanakah letak kesalahannya ? Mungkin ide, sikap, tindakan atau budayalah yang pertama-tama harus dibenahi, sebelum ia membawa kita kembali ke jalan yang salah tuk kesekian kali. Jangan pernah lagi menyempitkan definisi budaya ke dalam lingkup aktivitas tari, musik, masakan, bahasa dan seni rupa belaka. Karena selain kehalusan rasa moralitas, keadilan, kemanusiaan dan kasih sayang menciptakan seni dan kesenian, bekerja bersama dengannya adalah kerasnya kerja otak memikir dan mempelajari. Sama seperti ketika Archimedes asyik berendam di bath tubnya, melamun sambil mengamati lantai kamar mandinya, ‘ Eureka … ! ‘.

Pola pikir orang gunung tidak sama dengan pola pikir orang pantai. Yang satu tiap hari kedinginan di ketinggian, sedang yang satunya tiap hari berjemur di terik matahari. Yang satu berpikir bagaimana supaya tetap hangat dan nyaman, sedang yang satunya lagi sibuk mencari cara agar tak lagi gerah dan kepanasan. Yang satu terbiasa memendam dengki demi menghindari konflik, sedang yang satunya lagi adalah si jujur mengatakan apa saja meski akhirnya meninggalkan luka. Perbedaan tak seharusnya ditakuti, dan oleh karenanya diseragamkan atas nama stabilitas dan keamanan. Pakaian dapat kita atur, namun apakah demikian halnya dengan isi perut, kepala dan hatinya ? Benturan-benturan kecil tak akan dapat dihindari, kecuali sebagian kecil yang masih waras berkenan mengalah demi situasi kondusif. Kompromi, itu jalan tengah temporari. Jikalau kompromi, kompromi dan kompromi mengucilkan kita jauh-jauh dari kesejatian diri, maka itu bukan lagi sebuah solusi. ( by : swastantika )

Rabu, 28 Desember 2011

MERETAS HARAPAN

            Akan kemanakah kita sesudah mati ? Ketidaktahuan terhadap tujuan berikutnya itu mengerikan karena kita tak bisa memprediksi dan memperbaiki apapun manakala kita sudah tak lagi bernafas, alias koit. Untungnya ajaran agama dan kepercayaan, baik modern, tradisional, lokal maupun impor masing-masing membawa pencerahan dengan selalu menekankan pentingnya berbuat benar hari ini, sehingga angan-angan kita tidak melayang-layang menuju hal-hal yang belum pasti. Meski demikian, manusia masih saja asyik mengejawantahkan ilusi metafisika mereka dalam bentuk film-film hantu, cerita-cerita seram dan kesaktian klenik. Seakan hendak membudidayakan pencerahan alternatif, bahwa alam sesudah mati adalah kembali lagi berbaur bersama manusia-manusia hidup dalam bentuk makhluk-makhluk yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, pandai menghilang dan  bergaya busana kadaluwarsa.
Sesungguhnya ada dua dunia yang berandil mewarnai hari-hari manusia. Salah satunya menjadi alasan kita bertahan dan yang lainnya menjadi sumber kesengsaraan seumur hidup. Dunia mayoritas, dunia minoritas. Dunia publik, dunia privasi. Dunia keramaian, dunia kesendirian. Dunia kompromi, dunia idealis. Dunia materi, dunia empati. Dunia nyata, dunia maya. Dunia fiksi, dunia ilmiah. Dunia janji, dunia bukti. Dunia mimpi, dunia sejati. Dunia benda, dunia rasa.
         Pada dasarnya manusia mengidap dualisme karakter semenjak lahirnya. Berjiwa sosial dan takut dengan ilusi kesepian. Namun setelah nyaman berbaur bersama kelompoknya, mereka cenderung membangun sekat dan peraturan-peraturan yang diharapkan mampu melindungi mereka dari kelompok manusia lain yang berbeda secara fisik, ideology maupun materi. Seiring dengan perkembangan zaman sekat itupun tumbuh tinggi dan terealisasi. Manusia tak lagi membatasi pergaulan atas dasar perbedaan. Karena suatu sebab dan lain hal seorang manusia mengisolasi diri, bahkan dengan mereka yang memiliki kesamaan.


Kepedihan Terdalam
         Apalah arti kata-kata ? Bagi Subcomandante Marcos kata “ adalah senjata.” Senjata bagi siapa ? Bagi yang ingin memenangkan peperangan, tentu saja. Sedangkan si Fulan yang sedang kalah dalam posisi terjepit sedang tidak ingin melawan dan menaklukkan siapapun juga. Maka ia memilih diam. Tanpa kata-kata, tetap ada disana. Imajinasi menjadi satu-satunya pelipur lara. Ekspresi emosi bekerja kreatif di suatu tempat dalam pikirannya. Diputuskan menjadi satu-satunya solusi terbaik sebelum seseorang lain terluka parah dan masuk rumah sakit jiwa. Satu demi satu pembatas diletakkan. Sehingga dalam saat-saat paling menyakitkanpun tempat persembunyiannya adalah cukup dengan menarik fokus dan visi satu langkah ke samping, mengucilkan dunia fana dan masuk ke dalam dunia rekaan sendiri.
         Awalnya adalah sosok jiwa naïf a little bit polos yang sedang mencari petunjuk yang benar dari petuah para pendahulu dan buku sejarah. Dan tak pernah menaruh curiga serta buruk sangka. Selalu percaya dengan sepenuh heart and soul. Manakala mendapati kenyataan tak seindah harapan dan melenceng jauh dari kisah ideal yang pernah digembar-gemborkan, tersentak dan hancur berkeping-kepinglah dia. Ingin protes harus kemana ? Mau mengadu kepada siapa ? Kemurkaan terlanjur menggunung dan menyesaki dada. Sembilu sudah menyayat kecil-kecil nalar, hingga lidah tak bisa lagi berkata. Kecuali diam menunggu di tengah membuncahnya kebimbangan. Berjalan dalam kepedihan, mencari jawaban. Kata-kata yang dimanterai berupa lagu screamo oleh kerongkongan si parau, sketsa di secarik kertas lusuh, goresan graffiti dinding kota, hiasan kulit bernama tato, permainan online dengan episode abadi dan aktivitas lain yang memungkinkan pelakunya meminimalisir interaksi dengan orang lain. Sembari menjahit mulut rapat-rapat demi mencegah tak seorang pun mampu membaca isi hatinya ( kecuali dukun, paranormal beserta segenap rekan sejawatnya tentu saja ).
         Dalam kacamata norma-norma masyarakat waras, dialah orang sakit. Hama wereng pengganggu kesehatan otak. Sebelum menular dan merasuk kemana-mana, ‘ kill them before they grow, ‘ demikianlah instruksi para yang punya kuasa. Kewajaran sikap dan kenormalan perilaku harus ditegakkan, agar tercapai kehidupan sempurna di mata yang melihat. Apa yang bergejolak di sanubari tiada penting. Karena isinya tidak akan bisa dijual, dieksploitasi, menghasilkan uang yang bisa digunakan untuk mengkonstruksi rumah dan harta benda agar lebih layak dikagumi dan dipuja-puji.


Mengawali Awal Yang Lain
         Menyepi dan menjauh dari ingar bingar mainstream rutin, tidaklah mudah bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi bagian dari hedonis nan materialistis itu sendiri. Apalagi jika menyepinya adalah ‘seolah-olah.’ Raga masih menjejak kerumunan kota, lamunan melayang ke hutan belantara. Dan mengandung resiko besar tatkala isi kepala terlalu jauh mengembara, tersesat dan gagal menemukan jalan pulang. Kenyentrikan itu ibarat pisau bermata dua. Sekedar keisengan jiwa kanak-kanak yang terjebak di tubuh orang dewasa, atau totalitas tanpa ampun yang akan mengucilkan kita dari dunia sama sekali.
         Mengapa para orang tua di institusi keluarga, pendidikan dan pemerintahan menetapkan peraturan ? Karena mereka sadar tak akan hidup selamanya. Penyakit, bencana dan kecelakaan bisa sewaktu-waktu menjemput. Sedangkan cita-cita belum lagi ada di genggaman dan anak-anak muda terlalu sibuk bersenang-senang. Dalam paradigma orang tua, menjadi ‘ aneh ‘ adalah menyakiti diri sendiri dan sama sekali tak ada masa depannya. Sesungguhnya guru ‘killer’, mama cerewet dan penguasa semena-mena adalah cerminan ketidakpuasan atas pencapaian prestasi yang diraihnya. Sadar energi tiada lagi cukup untuk membabat hutan, mengawali awal, maka dengan keberuntungan posisi sebagai yang lebih tua dan berkuasa, peraturan-peraturan super ketat dibuat demi menyuruh orang-orang di bawah umur dan kakinya untuk mengerjakan semua hal demi mencapai impian si empunya kuasa.
         Salahkah ? Sejak kapan impian seseorang dianggap salah dan melanggar hukum ? Ya semenjak darah manusia ditumpahkan dengan cuma-cuma atas nama Cita-cita. Tak ada kebakaran tanpa kompor meleduk. Jadi, semestinya Anda-anda  para orang tua bersiap dan tak perlu terbengong-bengong amat mengamati tingkah polah ABG trendi. Salahkah kita meluapkan ekspresi diri sejati ? Bisa berdosa besar tujuh turunan jika tak sekecap katapun mampu Anda berikan sebagai deskripsi dan argumentasi atas jawaban yang Anda pilih, dan menolak mentah-mentah dampak sekejap yang ditimbulkan olehnya.
        
         Kita terpaksa menutup tahun dengan keprihatinan mendalam pada menyeruaknya konflik dan sengketa rakyat dengan aparat di berbagai penjuru negeri. Rakyat dan alat Negara memang adalah sama-sama manusia. Manusia-manusia malang yang tersumbat lubang pengeluaran emosionalnya. Jika rakyat melampiaskan kekecewaan dengan makian dan batu-batu beterbangan, maka kekesalan aparat atas pembangkangan massal adalah senjata dan provokasi.  Di padang demonstrasi mereka bertemu dan para anak bangsa tersayang saling meregang nyawa. Cerita tragis yang tangispun tak berdaya menghentikannya.
         Apakah proses kita melenceng jauh dari peraturan ? Akan tetapi rakyat tetap setia membayar pajak dan aparat loyal mengabdi pada perintah juragan. Kita bukan lagi sebuah keluarga besar yang penuh cinta melangkah bersama meraih tujuan. Atau jangan-jangan, kita adalah pengidap autis berjamaah yang saling sulit mengkomunikasikan tujuan dan harapan versi sendiri-sendiri ? Ibarat satu kaki menuju Roma, sedangkan kaki yang lain menuju Rusia. Jangankan tujuan, sebagai sebuah bangsa besar kita tidak mengawali apapun dengan niat ingsun yang sama. Kami menginginkan kesejahteraan, sedangkan Penguasa mendambakan keamanan posisi. Maka tragedi tak perlu diherani karena itu adalah buah dari ruwetnya visi kebangsaan.
         Cukup sampai disini kita akhiri. Say goodbye lah kepada kekeliruan yang tidak ingin kita ulangi. Tegakan hati untuk bertetapan : inilah kesempatan terakhir, dan alam raya beserta Pembuatnya pun tak memberi maaf untuk kegagalan kesekian kali.
( by : Swastantika )

Rabu, 30 November 2011

PADA ZAMAN DAHULU KALA

 “ Apa sih bedanya masa sekarang dan zaman dahulu ? “ Pertanyaan naïf, jawab Anda. Dulu wajah masih cakep imut-imut. Sekarang mulai mengeriput. Sekitar 10-15 tahun yang lalu jalan raya kota Anda juga masih muda dan ramah. Sekarang terjebak macet adalah mimpi buruk segenap pengendara kendaraan bermotor. Sejuknya udara pagi diiringi suara kicau burung adalah sepele dan remeh temeh semasa kita kanak-kanak. Sekarang baru sadar, betapa mahalnya itu semua. Udara kian pengap dikotori asap pabrik serta knalpot dan burung-burung telah binasa di tangan pemburu liar. Dulu manusia Indonesia kelihatannya sempurna, normal, wajar, sehat dan baik-baik saja. Siapa sangka, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia meningkat seiring dengan semakin lebarnya jurang pemisah kaya dan miskin dan semakin meningkatnya ekonomi biaya tinggi. Pada 2010 lalu, sebanyak 10 sampai 20 pasien per bulannya mendapatkan perawatan di Instalasi Rawat Inap Jiwa Rumah Sakit Umum (RSU) dr Soetomo. Kini, sebanyak 20 sampai 30 pasien yang mendapat perawatan tiap bulannya ( Republika co.id 27/11 ). Seandainya mesin waktu memang pernah ditemukan orang, lebih baik kita pergi ke masa lalu saja. Karena masa kini adalah gila, sedangkan masa lalu oh indahnya.


Masa lalu ibarat spion. Melaluinya kita mengamati jalan sesekali manakala hendak menyeberang jalan atau menepi, agar terhindar dari tumbukan dengan kendaraan lain. Ada sekelompok orang menjadikan masa lalu sebagai pelarian. Mengenang kejayaan lampau sekedar untuk menghibur diri dari realita terkini. Seandainyapun di masa lampau mereka belum pernah jaya, mereka masih bisa menertawakannya lebar-lebar jikalau saat ini kejayaan telah tergenggam. Sementara jika ada yang merasa masa lampau dan masa kini sama saja dan begitu-begitu melulu, mereka pun masih juga bisa tertawa simpul : “ Mungkin sudah ditakdirkan menderita selamanya. Hiks .. “

Pengingkaran
Namun untuk sebagian lainnya juga, masa lalu adalah tragedi. Sangat pahit dan menyayatkan hati. Masa lalu menjadi hal terakhir yang ingin kita ingat sepanjang hayat. Jadi lebih baik untuk dilupakan sama sekali hingga ke akar-akarnya. Melupakan sering dipandang sebagai jalan terbaik pemecahan masalah. Btw, apakah masalah itu pun selesai tanpa masalah ?

Mungkin peristiwa misterius sepanjang 1965-1966 yang ‘ sukses ‘ menewaskan 1-2 juta orang-orang yang diduga adalah anggota dan atau simpatisan PKI tak layak dikenang, karena tak tercatat di buku pelajaran sejarah untuk murid sekolah dasar dan menengah. Apakah serupa halnya dengan peristiwa-peristiwa lain semacam Tanjung Priok, Talangsari, Mei 1998. Bagaimana dengan Munir ? Atau, yang baru-baru ini sajalah, Century ? Kita selama ini mempercayai bahwa Mahapatih Gadjah Mada adalah sosok pemersatu Nusantara yang gagah dan perkasa. Nah bagaimana kalau ternyata sang pahlawan berbodi gemuk dan pendek ? Mengapa pula surat dokumen Negara sekelas Supersemar bisa raib tak tentu rimbanya, sedangkan diantara kita saja ada yang masih menyimpan ijasah tamat Taman Kanak-kanak baik-baik ?
 
Melupakan sebuah peristiwa menyakitkan ibarat mengkonsumsi obat bius pereda rasa sakit sementara. Ketika efek obat habis maka rasa sakit kembali menyerang dan menyiksa. Kita coba lupakan dan lupakan lagi. Kita lupakan segalanya yang membuat kita terkenang kepada kepahitan hidup itu. Kita lupakan sedang berada dimana kaki kita menginjak. Kita lupakan orang-orang di sekeliling kita. Kita lupakan pekerjaan dan tanggung jawab kita. Kita lupakan makan, minum, tidur dan ngupdate status. Kita lupakan orang tua,anak-anak, pacar dan selingkuhan. Bahkan kita lupakan juga siapa diri kita. Akan tetapi rasa sakit itu tak kunjung lelah mengejar sejauh manapun kita berlari. 

Mengapa kita memilih untuk lupa ? Mengapa kita menolak untuk mengingat ? Adakah makanan yang kita santap kurang mengandung vitamin B 12 dan DHA maka daya tangkap otak kita menjadi tumpul ? Atau adakah logika kita kalah dalam adu penalti melawan suasana hati ? Sehingga menurut takluk manakala hati yang luka menyuruh logika berhenti bekerja dan melupakan semuanya. Mengapa bisa sekejam itu hati menyiksa raga tempatnya bernaung ? Sedahsyat itukah akibat yang dihasilkan kepedihan yang begitu dalam, yaitu nyaris membunuh dirinya sendiri ?

Sekali dan Seumur Hidup
Bukan. Sekali lagi bukan karena ogah menjejakkan kaki kepada kenyataan masa kini. Bukan itu alasan saya mengungkit-ungkit luka lama. Meski kadaluwarsa, tetapi masih menganga selebar pertama kali dihujam oleh pisau ketidakadilan. Masih sesakit pertama kali dikoyak oleh peluru nafsu kekuasaan. 

Tak seekor makhluk hidup pun menegakan dan merelakan diri menanggung rasa sakit. Kecuali para pecinta tatoisme, yang punya prinsip bahwa sakit hanyalah sensasi sesaat untuk mencapai kesempurnaan, yang direpresentasikan oleh indahnya motif tato menyatu di kulit tubuh selamanya hingga ajal menjemput. Tapi kapankah kita akhirnya mampu berdamai dengan rasa sakit ? Apa harus menunggu sampai ajal menjemput juga ? Emang enak mati kesakitan ?

Lupa akan rasa sakit sama dengan berjalan mengitari lingkaran iblis. Berkelana mengembara jauh-jauh untuk kembali ke titik yang sama. Mengabadikan jejak langkah Sisifus, mendorong beban kuat-kuat ke suatu tempat hanya untuk melihatnya meluncur bebas menimpa kepala kita kembali. Maka jangan tanyakan kenapa kisah bangsa kita tak pernah romantis. Selalu tragis dan penuh tangis. Selalu dijejali makian kepada nasib yang bengis. Karena kita berhutang terhadap masa lampau ; mengingkari rasa sakit dan tak pernah berusaha untuk menyembuhkannya. 

Sampai kapan betah menyiksa diri dengan seribu satu pengingkaran ? Tak sadarkah bahwa pengingkaran hanya akan menendang cita-cita dan impian menjauh dari gapaian ? Pertumbuhan ekonomi boleh meningkat ( katanya siih ), jumlah orang kaya di Indonesia boleh bertambah. Toh itu semua tak serta merta membikin kita digdaya sebagai Negara. Apakah kesejahteraan sudah merata ? Apakah kedaulatan aka eksistensi kita sudah diperjuangkan sekuat tenaga ke tetes darah penghabisan hingga tak sebuah Negara tetanggapun berani menyepelekan kita ?
 
Mengakui buruk wajah sendiri memang tak semudah kita menghujat kekurangbecusan pemimpin. Akan tetapi bukankah lebih melegakan dan tidak sakit-sakit amat kalau kita yang mengakuinya duluan ? Bukankah kesalahan dan sakit akibat terjerembab dalam lubang adalah konsekuensi dari kecerobohan kaki yang malas menggunakan matanya mengamati medan ?

Jadi, akuilah sejarah agar nasib merdeka dari kutukan Sisifus ini. Agar kesalahan yang sama hanyalah sekali dan seumur hidup tak kan pernah terulang kembali.
           
           

             

          

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...