Minggu, 29 Januari 2012

EARTH CORE


JALAN YANG BENAR

“ to be or not to be, that is the question “ ( William Shakespeare )

Manusia memantapkan hegemoninya sebagai penguasa seluruh makhluk di Bumi dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benaknya : ‘ Mengapa begini ? Mengapa begitu ? ‘ . Akan tetapi, jawaban bukannya menghilangkan dahaga. Malah membukakan pintu kepada sebuah pertanyaan lain, pertanyaan selanjutnya, pertanyaan berikutnya, dan seterusnya. Contoh : pertanyaan klasik : lebih dulu mana ayam atau telur ? Kalau duluan telur, kira-kira pohon jenis apa yang berbuah telur ? Kalau duluan ayam, apakah sejak kecil ayam lahir sudah membawa telur di temboloknya ? Lalu darimanakah datangnya ayam, apakah ia berasal dari sejenis dinosaurus yang telah terseleksi alam atau reinkarnasi dari roh manusia yang bersifat serta berkelakuan ke’ayam-ayam’an semasa hidupnya ?

Si kakek buyut Plato mengatakan, ‘ masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan ‘. Jadi, setelah manusia puas mengamati dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis seputar cara kerja tubuh dan alam seisinya, ia mendadak terhenyak, termangu dan kesepian. Di kanan kirinya ternyata ada manusia-manusia lain yang berciri-ciri fisik berbeda, namun berbicara dengan bahasa yang sama. Ia pun sadar ternyata tidak sedang sendiri saja dan adalah bagian dari sekelompok manusia tersebut. Akan tetapi mengapa mereka tak pernah tenang dan tentram dalam hidup sepanjang harinya ? Adakah mereka juga terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama, namun tak kunjung beroleh jawaban ? Ataukah sama-sama berkeinginan menjadi si nomor satu agar dituruti segala kehendak dan perintah kepada para manusia lainnya ?

Lalu ia pergi dan mengajak mereka duduk sama-sama minum kopi di pagi hari. ‘ Siapa nama Anda dan mengapa ada disini ? ‘ Begitulah mufakat itu diawali. Mereka berkompromi untuk meredam gejolak di pikiran dan libido berkuasa masing-masing. Direkalah sebuah rumusan yang telah disepakati bersama ( norma-norma, hukum adat, agama, KUHP, peraturan lalu llintas ), demi mengendalikan tingkah polah manusia dengan menuliskan batasan apa-apa yang ‘ benar ‘ dan ‘ salah ‘. Kesalahan dalam berbuat harus menerima hukuman sebagai konsekuensi. Kebenaran dalam bertindak apakah imbalannya ? Itulah yang saya coba gali disini. Meski tak sedalam sumur, mudah-mudahan tetap memancurkan sumber air nan sejuk segar.

Lurus Tidak Selalu Mulus
Mengapa perumpamaan abadi mengidentikkan ‘ benar ‘ itu dengan ‘ putih ‘ dan ‘ lurus ‘ ? Apakah mungkin, dikatakan ‘ putih ‘ itu adalah ekspresi kerinduan manusia fana terhadap sapuan cahaya Ilahi yang Maha Absurd dan hanya indra hati yang mampu mendeteksi keberadaannya ? Dan apakah disebut ‘ lurus ‘ sekedar sebagai penggambaran umum atas kekokohan batu karang menjulang tinggi hendak menembus cakrawala, pralambang dari hakekat tiap-tiap manusia, ialah pencarian seumur hidup atas jalan pulang yang kan membawanya kembali kepada Dia yang menciptanya ?

Yah entah sampai kapan pun jalan lurus itu selalu agak membosankan, karena hanya akan melangkah ke muka dan bukan tujuan lainnya. Meskipun harus menabrak dinding, dan menderita karena sakit benjol di kepala ( kecuali kita sejenis mutan, atau hantu yang memiliki keahlian khusus mampu menembus tembok ). Selalu ada sekian rambu-rambu yang belum tentu menggembirakan. Jalan yang salah menyilaukan mata, mudah, cepat serta menyenangkan. Sedangkan jalan yang benar menyesakkan, sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Cepat atau lama, disitulah letak permasalahannya.

Perubahan Dan Kawan-kawannya
Sama halnya dengan situasi terkini, saat disana-sini beberapa kelompok mulai meneriakkan revolusi a.k.a perubahan dengan cepat melalui berbagai cara, bahkan yang haram sekalipun, seperti kerusuhan massal, kekerasan bersenjata tajam dan tumpul, original maupun rakitan, dan tindakan menumpahkan darah lainnya. Alternatif lainnya adalah evolusi. Yaitu semacam perubahan juga, yang lebih slow dilakukan oleh tangan alam dan waktu. Teknologi memang sih berjasa menaikkan derajat manusia sebagai penguasa;, mengeksplorasi, memanfaatkan dan menaklukkan planet Bumi dan galaksi Bima Sakti. Namun sampai kapanpun tiada jua akan berjaya memutar arah jarum jam, menukar posisi siang dan malam. Ada sesuatu dan lain hal yang hanya dapat dirubah melalui seleksi alam dan berlalunya waktu. Ada buah yang tidak bisa cepat-cepat dipetik, kecuali kita penggemar rasa asem atau sedang ngidam.

Jadi, perubahan berkarakter kencang atau perlahankah yang musti kita pilih ? Kecil kemungkinannya evolusi untuk mendadak laju. Sedangkan revolusi masih bisa diinjak remnya kuat-kuat, dilambatkan langkah dan membanting kemudi demi menghindari jumlah korban jiwa akibat hantaman kereta. Kita kan telah merasai hasil-hasil buruk, busuk dan lebay dari proses bertahun-tahun. Padahal kita manusia yang tak pernah puas dan menginginkan lebih. Lalu dimanakah letak kesalahannya ? Mungkin ide, sikap, tindakan atau budayalah yang pertama-tama harus dibenahi, sebelum ia membawa kita kembali ke jalan yang salah tuk kesekian kali. Jangan pernah lagi menyempitkan definisi budaya ke dalam lingkup aktivitas tari, musik, masakan, bahasa dan seni rupa belaka. Karena selain kehalusan rasa moralitas, keadilan, kemanusiaan dan kasih sayang menciptakan seni dan kesenian, bekerja bersama dengannya adalah kerasnya kerja otak memikir dan mempelajari. Sama seperti ketika Archimedes asyik berendam di bath tubnya, melamun sambil mengamati lantai kamar mandinya, ‘ Eureka … ! ‘.

Pola pikir orang gunung tidak sama dengan pola pikir orang pantai. Yang satu tiap hari kedinginan di ketinggian, sedang yang satunya tiap hari berjemur di terik matahari. Yang satu berpikir bagaimana supaya tetap hangat dan nyaman, sedang yang satunya lagi sibuk mencari cara agar tak lagi gerah dan kepanasan. Yang satu terbiasa memendam dengki demi menghindari konflik, sedang yang satunya lagi adalah si jujur mengatakan apa saja meski akhirnya meninggalkan luka. Perbedaan tak seharusnya ditakuti, dan oleh karenanya diseragamkan atas nama stabilitas dan keamanan. Pakaian dapat kita atur, namun apakah demikian halnya dengan isi perut, kepala dan hatinya ? Benturan-benturan kecil tak akan dapat dihindari, kecuali sebagian kecil yang masih waras berkenan mengalah demi situasi kondusif. Kompromi, itu jalan tengah temporari. Jikalau kompromi, kompromi dan kompromi mengucilkan kita jauh-jauh dari kesejatian diri, maka itu bukan lagi sebuah solusi. ( by : swastantika )

Rabu, 28 Desember 2011

MERETAS HARAPAN

            Akan kemanakah kita sesudah mati ? Ketidaktahuan terhadap tujuan berikutnya itu mengerikan karena kita tak bisa memprediksi dan memperbaiki apapun manakala kita sudah tak lagi bernafas, alias koit. Untungnya ajaran agama dan kepercayaan, baik modern, tradisional, lokal maupun impor masing-masing membawa pencerahan dengan selalu menekankan pentingnya berbuat benar hari ini, sehingga angan-angan kita tidak melayang-layang menuju hal-hal yang belum pasti. Meski demikian, manusia masih saja asyik mengejawantahkan ilusi metafisika mereka dalam bentuk film-film hantu, cerita-cerita seram dan kesaktian klenik. Seakan hendak membudidayakan pencerahan alternatif, bahwa alam sesudah mati adalah kembali lagi berbaur bersama manusia-manusia hidup dalam bentuk makhluk-makhluk yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, pandai menghilang dan  bergaya busana kadaluwarsa.
Sesungguhnya ada dua dunia yang berandil mewarnai hari-hari manusia. Salah satunya menjadi alasan kita bertahan dan yang lainnya menjadi sumber kesengsaraan seumur hidup. Dunia mayoritas, dunia minoritas. Dunia publik, dunia privasi. Dunia keramaian, dunia kesendirian. Dunia kompromi, dunia idealis. Dunia materi, dunia empati. Dunia nyata, dunia maya. Dunia fiksi, dunia ilmiah. Dunia janji, dunia bukti. Dunia mimpi, dunia sejati. Dunia benda, dunia rasa.
         Pada dasarnya manusia mengidap dualisme karakter semenjak lahirnya. Berjiwa sosial dan takut dengan ilusi kesepian. Namun setelah nyaman berbaur bersama kelompoknya, mereka cenderung membangun sekat dan peraturan-peraturan yang diharapkan mampu melindungi mereka dari kelompok manusia lain yang berbeda secara fisik, ideology maupun materi. Seiring dengan perkembangan zaman sekat itupun tumbuh tinggi dan terealisasi. Manusia tak lagi membatasi pergaulan atas dasar perbedaan. Karena suatu sebab dan lain hal seorang manusia mengisolasi diri, bahkan dengan mereka yang memiliki kesamaan.


Kepedihan Terdalam
         Apalah arti kata-kata ? Bagi Subcomandante Marcos kata “ adalah senjata.” Senjata bagi siapa ? Bagi yang ingin memenangkan peperangan, tentu saja. Sedangkan si Fulan yang sedang kalah dalam posisi terjepit sedang tidak ingin melawan dan menaklukkan siapapun juga. Maka ia memilih diam. Tanpa kata-kata, tetap ada disana. Imajinasi menjadi satu-satunya pelipur lara. Ekspresi emosi bekerja kreatif di suatu tempat dalam pikirannya. Diputuskan menjadi satu-satunya solusi terbaik sebelum seseorang lain terluka parah dan masuk rumah sakit jiwa. Satu demi satu pembatas diletakkan. Sehingga dalam saat-saat paling menyakitkanpun tempat persembunyiannya adalah cukup dengan menarik fokus dan visi satu langkah ke samping, mengucilkan dunia fana dan masuk ke dalam dunia rekaan sendiri.
         Awalnya adalah sosok jiwa naïf a little bit polos yang sedang mencari petunjuk yang benar dari petuah para pendahulu dan buku sejarah. Dan tak pernah menaruh curiga serta buruk sangka. Selalu percaya dengan sepenuh heart and soul. Manakala mendapati kenyataan tak seindah harapan dan melenceng jauh dari kisah ideal yang pernah digembar-gemborkan, tersentak dan hancur berkeping-kepinglah dia. Ingin protes harus kemana ? Mau mengadu kepada siapa ? Kemurkaan terlanjur menggunung dan menyesaki dada. Sembilu sudah menyayat kecil-kecil nalar, hingga lidah tak bisa lagi berkata. Kecuali diam menunggu di tengah membuncahnya kebimbangan. Berjalan dalam kepedihan, mencari jawaban. Kata-kata yang dimanterai berupa lagu screamo oleh kerongkongan si parau, sketsa di secarik kertas lusuh, goresan graffiti dinding kota, hiasan kulit bernama tato, permainan online dengan episode abadi dan aktivitas lain yang memungkinkan pelakunya meminimalisir interaksi dengan orang lain. Sembari menjahit mulut rapat-rapat demi mencegah tak seorang pun mampu membaca isi hatinya ( kecuali dukun, paranormal beserta segenap rekan sejawatnya tentu saja ).
         Dalam kacamata norma-norma masyarakat waras, dialah orang sakit. Hama wereng pengganggu kesehatan otak. Sebelum menular dan merasuk kemana-mana, ‘ kill them before they grow, ‘ demikianlah instruksi para yang punya kuasa. Kewajaran sikap dan kenormalan perilaku harus ditegakkan, agar tercapai kehidupan sempurna di mata yang melihat. Apa yang bergejolak di sanubari tiada penting. Karena isinya tidak akan bisa dijual, dieksploitasi, menghasilkan uang yang bisa digunakan untuk mengkonstruksi rumah dan harta benda agar lebih layak dikagumi dan dipuja-puji.


Mengawali Awal Yang Lain
         Menyepi dan menjauh dari ingar bingar mainstream rutin, tidaklah mudah bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi bagian dari hedonis nan materialistis itu sendiri. Apalagi jika menyepinya adalah ‘seolah-olah.’ Raga masih menjejak kerumunan kota, lamunan melayang ke hutan belantara. Dan mengandung resiko besar tatkala isi kepala terlalu jauh mengembara, tersesat dan gagal menemukan jalan pulang. Kenyentrikan itu ibarat pisau bermata dua. Sekedar keisengan jiwa kanak-kanak yang terjebak di tubuh orang dewasa, atau totalitas tanpa ampun yang akan mengucilkan kita dari dunia sama sekali.
         Mengapa para orang tua di institusi keluarga, pendidikan dan pemerintahan menetapkan peraturan ? Karena mereka sadar tak akan hidup selamanya. Penyakit, bencana dan kecelakaan bisa sewaktu-waktu menjemput. Sedangkan cita-cita belum lagi ada di genggaman dan anak-anak muda terlalu sibuk bersenang-senang. Dalam paradigma orang tua, menjadi ‘ aneh ‘ adalah menyakiti diri sendiri dan sama sekali tak ada masa depannya. Sesungguhnya guru ‘killer’, mama cerewet dan penguasa semena-mena adalah cerminan ketidakpuasan atas pencapaian prestasi yang diraihnya. Sadar energi tiada lagi cukup untuk membabat hutan, mengawali awal, maka dengan keberuntungan posisi sebagai yang lebih tua dan berkuasa, peraturan-peraturan super ketat dibuat demi menyuruh orang-orang di bawah umur dan kakinya untuk mengerjakan semua hal demi mencapai impian si empunya kuasa.
         Salahkah ? Sejak kapan impian seseorang dianggap salah dan melanggar hukum ? Ya semenjak darah manusia ditumpahkan dengan cuma-cuma atas nama Cita-cita. Tak ada kebakaran tanpa kompor meleduk. Jadi, semestinya Anda-anda  para orang tua bersiap dan tak perlu terbengong-bengong amat mengamati tingkah polah ABG trendi. Salahkah kita meluapkan ekspresi diri sejati ? Bisa berdosa besar tujuh turunan jika tak sekecap katapun mampu Anda berikan sebagai deskripsi dan argumentasi atas jawaban yang Anda pilih, dan menolak mentah-mentah dampak sekejap yang ditimbulkan olehnya.
        
         Kita terpaksa menutup tahun dengan keprihatinan mendalam pada menyeruaknya konflik dan sengketa rakyat dengan aparat di berbagai penjuru negeri. Rakyat dan alat Negara memang adalah sama-sama manusia. Manusia-manusia malang yang tersumbat lubang pengeluaran emosionalnya. Jika rakyat melampiaskan kekecewaan dengan makian dan batu-batu beterbangan, maka kekesalan aparat atas pembangkangan massal adalah senjata dan provokasi.  Di padang demonstrasi mereka bertemu dan para anak bangsa tersayang saling meregang nyawa. Cerita tragis yang tangispun tak berdaya menghentikannya.
         Apakah proses kita melenceng jauh dari peraturan ? Akan tetapi rakyat tetap setia membayar pajak dan aparat loyal mengabdi pada perintah juragan. Kita bukan lagi sebuah keluarga besar yang penuh cinta melangkah bersama meraih tujuan. Atau jangan-jangan, kita adalah pengidap autis berjamaah yang saling sulit mengkomunikasikan tujuan dan harapan versi sendiri-sendiri ? Ibarat satu kaki menuju Roma, sedangkan kaki yang lain menuju Rusia. Jangankan tujuan, sebagai sebuah bangsa besar kita tidak mengawali apapun dengan niat ingsun yang sama. Kami menginginkan kesejahteraan, sedangkan Penguasa mendambakan keamanan posisi. Maka tragedi tak perlu diherani karena itu adalah buah dari ruwetnya visi kebangsaan.
         Cukup sampai disini kita akhiri. Say goodbye lah kepada kekeliruan yang tidak ingin kita ulangi. Tegakan hati untuk bertetapan : inilah kesempatan terakhir, dan alam raya beserta Pembuatnya pun tak memberi maaf untuk kegagalan kesekian kali.
( by : Swastantika )

Rabu, 30 November 2011

PADA ZAMAN DAHULU KALA

 “ Apa sih bedanya masa sekarang dan zaman dahulu ? “ Pertanyaan naïf, jawab Anda. Dulu wajah masih cakep imut-imut. Sekarang mulai mengeriput. Sekitar 10-15 tahun yang lalu jalan raya kota Anda juga masih muda dan ramah. Sekarang terjebak macet adalah mimpi buruk segenap pengendara kendaraan bermotor. Sejuknya udara pagi diiringi suara kicau burung adalah sepele dan remeh temeh semasa kita kanak-kanak. Sekarang baru sadar, betapa mahalnya itu semua. Udara kian pengap dikotori asap pabrik serta knalpot dan burung-burung telah binasa di tangan pemburu liar. Dulu manusia Indonesia kelihatannya sempurna, normal, wajar, sehat dan baik-baik saja. Siapa sangka, jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia meningkat seiring dengan semakin lebarnya jurang pemisah kaya dan miskin dan semakin meningkatnya ekonomi biaya tinggi. Pada 2010 lalu, sebanyak 10 sampai 20 pasien per bulannya mendapatkan perawatan di Instalasi Rawat Inap Jiwa Rumah Sakit Umum (RSU) dr Soetomo. Kini, sebanyak 20 sampai 30 pasien yang mendapat perawatan tiap bulannya ( Republika co.id 27/11 ). Seandainya mesin waktu memang pernah ditemukan orang, lebih baik kita pergi ke masa lalu saja. Karena masa kini adalah gila, sedangkan masa lalu oh indahnya.


Masa lalu ibarat spion. Melaluinya kita mengamati jalan sesekali manakala hendak menyeberang jalan atau menepi, agar terhindar dari tumbukan dengan kendaraan lain. Ada sekelompok orang menjadikan masa lalu sebagai pelarian. Mengenang kejayaan lampau sekedar untuk menghibur diri dari realita terkini. Seandainyapun di masa lampau mereka belum pernah jaya, mereka masih bisa menertawakannya lebar-lebar jikalau saat ini kejayaan telah tergenggam. Sementara jika ada yang merasa masa lampau dan masa kini sama saja dan begitu-begitu melulu, mereka pun masih juga bisa tertawa simpul : “ Mungkin sudah ditakdirkan menderita selamanya. Hiks .. “

Pengingkaran
Namun untuk sebagian lainnya juga, masa lalu adalah tragedi. Sangat pahit dan menyayatkan hati. Masa lalu menjadi hal terakhir yang ingin kita ingat sepanjang hayat. Jadi lebih baik untuk dilupakan sama sekali hingga ke akar-akarnya. Melupakan sering dipandang sebagai jalan terbaik pemecahan masalah. Btw, apakah masalah itu pun selesai tanpa masalah ?

Mungkin peristiwa misterius sepanjang 1965-1966 yang ‘ sukses ‘ menewaskan 1-2 juta orang-orang yang diduga adalah anggota dan atau simpatisan PKI tak layak dikenang, karena tak tercatat di buku pelajaran sejarah untuk murid sekolah dasar dan menengah. Apakah serupa halnya dengan peristiwa-peristiwa lain semacam Tanjung Priok, Talangsari, Mei 1998. Bagaimana dengan Munir ? Atau, yang baru-baru ini sajalah, Century ? Kita selama ini mempercayai bahwa Mahapatih Gadjah Mada adalah sosok pemersatu Nusantara yang gagah dan perkasa. Nah bagaimana kalau ternyata sang pahlawan berbodi gemuk dan pendek ? Mengapa pula surat dokumen Negara sekelas Supersemar bisa raib tak tentu rimbanya, sedangkan diantara kita saja ada yang masih menyimpan ijasah tamat Taman Kanak-kanak baik-baik ?
 
Melupakan sebuah peristiwa menyakitkan ibarat mengkonsumsi obat bius pereda rasa sakit sementara. Ketika efek obat habis maka rasa sakit kembali menyerang dan menyiksa. Kita coba lupakan dan lupakan lagi. Kita lupakan segalanya yang membuat kita terkenang kepada kepahitan hidup itu. Kita lupakan sedang berada dimana kaki kita menginjak. Kita lupakan orang-orang di sekeliling kita. Kita lupakan pekerjaan dan tanggung jawab kita. Kita lupakan makan, minum, tidur dan ngupdate status. Kita lupakan orang tua,anak-anak, pacar dan selingkuhan. Bahkan kita lupakan juga siapa diri kita. Akan tetapi rasa sakit itu tak kunjung lelah mengejar sejauh manapun kita berlari. 

Mengapa kita memilih untuk lupa ? Mengapa kita menolak untuk mengingat ? Adakah makanan yang kita santap kurang mengandung vitamin B 12 dan DHA maka daya tangkap otak kita menjadi tumpul ? Atau adakah logika kita kalah dalam adu penalti melawan suasana hati ? Sehingga menurut takluk manakala hati yang luka menyuruh logika berhenti bekerja dan melupakan semuanya. Mengapa bisa sekejam itu hati menyiksa raga tempatnya bernaung ? Sedahsyat itukah akibat yang dihasilkan kepedihan yang begitu dalam, yaitu nyaris membunuh dirinya sendiri ?

Sekali dan Seumur Hidup
Bukan. Sekali lagi bukan karena ogah menjejakkan kaki kepada kenyataan masa kini. Bukan itu alasan saya mengungkit-ungkit luka lama. Meski kadaluwarsa, tetapi masih menganga selebar pertama kali dihujam oleh pisau ketidakadilan. Masih sesakit pertama kali dikoyak oleh peluru nafsu kekuasaan. 

Tak seekor makhluk hidup pun menegakan dan merelakan diri menanggung rasa sakit. Kecuali para pecinta tatoisme, yang punya prinsip bahwa sakit hanyalah sensasi sesaat untuk mencapai kesempurnaan, yang direpresentasikan oleh indahnya motif tato menyatu di kulit tubuh selamanya hingga ajal menjemput. Tapi kapankah kita akhirnya mampu berdamai dengan rasa sakit ? Apa harus menunggu sampai ajal menjemput juga ? Emang enak mati kesakitan ?

Lupa akan rasa sakit sama dengan berjalan mengitari lingkaran iblis. Berkelana mengembara jauh-jauh untuk kembali ke titik yang sama. Mengabadikan jejak langkah Sisifus, mendorong beban kuat-kuat ke suatu tempat hanya untuk melihatnya meluncur bebas menimpa kepala kita kembali. Maka jangan tanyakan kenapa kisah bangsa kita tak pernah romantis. Selalu tragis dan penuh tangis. Selalu dijejali makian kepada nasib yang bengis. Karena kita berhutang terhadap masa lampau ; mengingkari rasa sakit dan tak pernah berusaha untuk menyembuhkannya. 

Sampai kapan betah menyiksa diri dengan seribu satu pengingkaran ? Tak sadarkah bahwa pengingkaran hanya akan menendang cita-cita dan impian menjauh dari gapaian ? Pertumbuhan ekonomi boleh meningkat ( katanya siih ), jumlah orang kaya di Indonesia boleh bertambah. Toh itu semua tak serta merta membikin kita digdaya sebagai Negara. Apakah kesejahteraan sudah merata ? Apakah kedaulatan aka eksistensi kita sudah diperjuangkan sekuat tenaga ke tetes darah penghabisan hingga tak sebuah Negara tetanggapun berani menyepelekan kita ?
 
Mengakui buruk wajah sendiri memang tak semudah kita menghujat kekurangbecusan pemimpin. Akan tetapi bukankah lebih melegakan dan tidak sakit-sakit amat kalau kita yang mengakuinya duluan ? Bukankah kesalahan dan sakit akibat terjerembab dalam lubang adalah konsekuensi dari kecerobohan kaki yang malas menggunakan matanya mengamati medan ?

Jadi, akuilah sejarah agar nasib merdeka dari kutukan Sisifus ini. Agar kesalahan yang sama hanyalah sekali dan seumur hidup tak kan pernah terulang kembali.
           
           

             

          

FINISH 1st

Jumat, 30 September 2011

PENGHIBURAN UNTUK SEMUA

Buanglah mimpi-mimpi iblismu.” ( Dendang Kampungan )

              Pentas dangdut dimanapun masih menjadi idola masyarakat semua lapisan, sekaligus ajang bacokan antar penonton. Apalagi kalau bukan karena alunan musik serta goyangan sang diva melayu yang membangkitkan gejolak darah muda, tanpa bayar pula. Karena keampuhannya mengumpulkan massa, seringkali digunakan sebagai sarana penyampai pesan promosi produk maupun politik. Saya yakin para biduan dangdut akan mendapat lebih banyak order daripada musisi jenis musik lain pada perhelatan kampanye Pemilu 2014 mendatang.
             Selain makan dan minum, orang juga butuh hiburan untuk melepaskan dahaga di jiwa kerontangnya. Penolakan atas keruwetan hidup menjadikan detik, menit, jam dan hari terasa panjang dan melelahkan. Mereka rela memberikan apa saja asalkan bisa merebut secuil waktu untuk melonggarkan ketatnya ikat pinggang dan melepaskan sejenak semua beban. Kapanpun dan dimanapun, asalkan mereka dibebaskan demi meluapkan emosi, ceria, air mata, setengah gila, seluas-luasnya. Sampai-sampai apa yang dilihat di kaca bukan lagi topeng rutinitas keseharian, melainkan diri sejati terlepas dari sangkar emas budi pekerti.
         Tanpa sadar, dahaga itu ternyata membunuh pelan-pelan. Ibarat anggur merah, semakin banyak ditenggak semakin panas kerongkongan. Ia bernama hawa nafsu hedonis. Di genggamannya penderitaan bisa hilang ditelan kenyamanan sesaat. Candu karena sifat ceria yang dihasilkan tak pernah kekal. Ada sejumlah harga yang harus kita keluarkan untuk membeli tiap kali efek ekstase yang dihasilkannya hilang. Itu pun jarang sekali murah. Kita harus keluarkan uang untuk membeli kebahagiaan di lantai diskotik, mall, restoran cepat saji, pil koplo, balapan liar, Sarkem maupun Gang Dolly. Ketika tiada fulus terperosokkah kita ke jurang kriminalitas ? Bisa jadi para koruptor adalah clubbers yang kehabisan uang untuk dugem. Dan untuk menjadi maling jemuran adalah tidak mbois ( keren ) sama sekali.

Harga Ketentraman
Apakah ada diantara pembaca budiman sekalian yang emoh jadi orang kaya ? OMG, Anda menjawab ‘ Ya ‘ ??? Menjadi kaya artinya kita sudah lebih dari sekedar sejahtera. Lebih dari sejahtera dan mustahil kelaparan karena bisa membeli beras serta apa saja. Seandainya kebahagiaan dan kesenangan sahaja sudah mampu terbeli, apakah demikian halnya ketentraman ?
Tengok saja berita-berita perkelahian massal, kerusuhan dan perusakan bangunan belakangan. Itu adalah sebagian kecil efek dari hati yang kurang tentram. Ada sampah-sampah kering yang bertumpuk menyesaki ruang batin. Sampah yang sulit didaur ulang oleh karena terlampau banyak mimpi-mimpi dan waktu tak mampu membusukkannya satu per satu. Sampah-sampah itu terdiri dari kekecewaan, kemarahan dan ketidakpuasan yang tak terucap karena peraturan dan norma-norma membungkamnya rapat-rapat. Gesekan friksi dua pihak, kubu, benda yang sama keras menghasilkan percikan api. Terbakarlah sampah kering oleh bara emosi. Panas hati melumpuhkan akal. Duarrr … !
Sedangkan bumi semakin dipanggang pemanasan global dan bahan pangan makin susah dicari. Atasan semakin uring-uringan dan sang kekasih susah dihubungi. Situasi memang sedang tak bersahabat. Namun kita makan hari ini supaya esok kita masih bisa makan lagi. Selemah itukah sel-sel otak kita menyerah kalah di tangan penjarah logika ? Mentari kota besar memang seperti hendak memecah ubun-ubun, terik tak kepalang. Tapi gedung-gedung tinggi masih punya pendingin dalam ruangan ( AC ). Perut memang kelaparan, tapi tak berarti gelap penglihatan. Terinjak-injak memang pedih nian, namun tak musti kita menghunus pedang.

Engkau adalah Aku “
           Kawula berjiwa muda dan gaya, mungkin menganggap perayaan Lebaran lalu sebagai ‘ biasa-biasa saja ‘ dan tidak spesial. Ajang silaturahmi keluarga besar dan antar tetangga agak sedikit bergeser dari fungsinya sebagai sarana mempererat tali persaudaraan. Anak-anak muda menganggapnya penuh kepalsuan manakala orang-orang tua memanfaatkannya sebagai ruang pamer bebas sewa atas keberhasilan anak-anak mereka, kemapanan jabatan dan pencapaian materi masing-masing.
        Sebagai makhluk yang takut kesepian, manusia membutuhkan sosialisasi. Sebuah aktivitas dimana mereka bisa bekerja dan berbagi apa saja dan dengan siapa saja. Namun itu akan menjadi sia-sia jika komunikasi dipaksakan menjadi jalur satu arah. Menutup pintu bagi mereka di sekitar untuk ikut bicara dan turut merasa. Ya, memang kita kurang sempurna dan banyak kegagalan yang masih enggan kita terima. Akan tetapi itu bukanlah landasan kuat bagi pengesahan ke’ini lho aku’an masing-masing menjadi iblis yang senantiasa berhasil menguasai hawa nafsu kita untuk tak mau menjadi orang mengalah. Ya, memang kita harus didengar. Akan tetapi mereka-mereka disana sini juga ingin didengar. Ya, memang eksistensi ( keberadaan ) kita harus nampak. Akan tetapi maukah mereka-mereka di sekeliling kita itu disamakan dengan hantu karena keberadaan mereka di mata kita adalah ghoib alias tembus pandang alias tidak ada.
      Jalan panjang meraih cita-cita tidak selalu mulus. Dan kita tak bisa selamanya berjalan tanpa membungkukan badan atau menundukkan kepala barang sejenak. Kecuali kita siap terima resiko akan terbentur dahan melintang. Kehidupan bukanlah medan perang abadi. Kecuali kita dengan sengaja memelihara konflik demi keuntungan golongan dan pribadi dan uang. Sang ego memang tinggi dan besar bentuknya. Kita pelihara dia baik-baik, kemudian lihat dan rasakan apakah ketentraman pula akan tumbuh bersamanya ?
         Hari-hari melelahkan dan kita butuh hiburan. Ketentraman hati tidak butuh biaya karena kita mampu dan sangat mampu membuatnya sendiri. Just Do It Yourself, Beib.



Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...