“Silence is golden” dapat diterjemahkan sebagai diam dapat menghasilkan emas. Penafsiran ini tidak sebaiknya disalahkan, karena diam benar-benar menghasilkan emas, setidaknya di abad 18. Diam yang sudah menjadi niat, bahkan dipandang sebagai salah satu cara kaum elit menikmati luang di zaman itu.
Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah mengenal “tanaman
pembawa bahagia” alias opium sejak 3400
SM. Mengingat letak geografisnya, bukan kebetulan jika kemudian para
pedagang Arab yang memperkenalkan zat pembawa kebahagiaan ini pada orang-orang
China Daratan. Walaupun opium telah dicatat dalam naskah kuno China dari zaman
Dinasti Tang (617-907) untuk keperluan medis.
Para pedagang Inggris di masa itu yang sedang memutar otak,
mencari cara memperluas pasar. Di saat yang sama, Tentara Kerajaan Inggris baru
saja menaklukkan Dinasti Mughal di India. Mereka secara tidak sengaja mendapati
bahwa dinasti itu telah mengenal opium dan bahkan membudidayakan serta
mengolahnya untuk dikonsumsi golongan tertentu, di antaranya para bangsawan.
Inggris telah menjalin hubungan dagang dengan China sejak 1635, walaupun dalam prosesnya perdagangan tidak dilakukan dengan tatap muka langsung antara pihak Inggris sebagai pembeli dan pedagang China. Dengan sistem makelar yang diberlakukan oleh Dinasti Qing sebagai penguasa China saat itu, hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan berinteraksi dengan para pedagang asing.
Para pedagang Inggris menjual opium pada makelar resmi yang
ditunjuk otoritas China, di mana uang yang dihasilkan dari transaksi ini akan
mereka gunakan untuk membeli komoditas perak dari China sebagai bahan baku mata
uang logam. Para pedagang China diam-diam melakukan barter antara perak dan
opium dengan para pedagang Inggris, lantaran sistem makelar oleh otoritas China
dianggap penghalang mengumpulkan cuan.
‘Diam’ sebagai komoditas
Mereka yang getol mengampanyekan legalisasi zat adiktif
jenis tertentu sering mengatakan “Tanaman ganja ciptaan Tuhan, dan Tuhan
menciptakan seisi dunia untuk manusia. Mengapa kita dilarang menikmati ciptaan
Tuhan?”
Saya pengguna narkoba aktif beberapa tahun yang lalu, karena
begitulah perjalanan hidup saya. Narkoba yang paling sering saya konsumsi ada
dua, ganja dan pil leksotan (atau kadang-kadang triheksifenidil). Narkoba jenis
lain yang sudah saya coba adalah sabu-sabu dan putauw.
Selain itu, saya juga pernah menjadi alkoholik selama
sekitar 1,5 tahun. Total waktu saya menikmati halusinasi adalah sekitar 7
tahun, walaupun tidak berturut-turut. Ada beberapa jeda sejak saya pertama kali
mengenal narkoba pada 1999, dan resmi putus darinya pada 2018 setelah mengenal
yoga dan meditasi.
Alasan saya mencoba narkoba, mungkin sama dengan banyak
pecandu dan pemakai narkoba lainnya di luar sana, yaitu ingin lari dari
kenyataan hidup yang menyakitkan. Karena cinta yang dikhianati seorang lelaki.
Karena sebuah drama percintaan yang tidak happy
ending, karena kekasih yang berselingkuh.
Bukan sejarah yang membanggakan.
Ada sesuatu dalam tanaman opium, ganja, dan sejenisnya, yang
membantu manusia mendiamkan suara-suara gelisah, sedih, marah di dalam dirinya.
Berbeda dengan minuman beralkohol yang cenderung memperlihatkan watak asli
manusia dan menyingkap rahasia yang tak terucap, narkoba cenderung memengaruhi
penggunanya untuk ‘diam’. Bagi beberapa pengguna kelas berat, ‘diam’ yang
mereka butuhkan adalah ‘diam’ yang produktif mencari dan mengkaji berbagai
kemungkinan untuk bisa diwujudkan dalam bentuk apa pun.
Itulah mengapa para pedagang narkoba menjual produk mereka. Karena
akan selalu ada orang-orang yang tak dapat mengontrol pelampiasan emosi dengan
saksama agar tidak berbalik arah, lalu berpaling ke narkoba untuk menenangkan
diri. Untuk membekukan tubuh dan otak agar diam terpaku, sembari halusinasi
terbang tinggi ke awang-awang.
Namun, ini bukanlah pakem yang berlaku di dunia narkoba.
Karena narkoba jenis tertentu juga digunakan untuk membantu penggunanya agar
lebih kuat dalam bekerja, terutama untuk bidang pekerjaan yang membutuhkan
kekuatan fisik.
Salah siapa?
Era kecanduan opium massal di China digambarkan dalam
beberapa film kungfu berlatar belakang sejarah China yang diproduksi sekitar
akhir 90-an, salah satunya adalah sequel Once Upon A Time in China (saya lupa
ke berapa) yang dibintangi oleh Jet Lee dan Rosamund Kwan. Film-film ini
diproduksi di Hongkong, di era sebelum kembalinya negara pulau itu dari tangan
Inggris ke China, sehingga dapat dipahami bila pesan anti Barat sangat terasa
dalam film-film dari genre yang sama.
Dengan umpan-umpan yang saling berkelindan seperti timeline
laman medsos kita, akan sangat mudah mempersalahkan Inggris telah dengan
sengaja menyebabkan rakyat China kecanduan opium guna memperlemah mereka dari
dalam. Perang Candu I sebagai peristiwa yang menjadi hasil dari meningkatnya
ketergantungan pada opium di kalangan rakyat China memang dimenangi oleh
Inggris.
Yang jarang diketahui orang adalah, di akhir abad 18 telah
terjadi ketidakseimbangan
penghasilan antara para pedagang Inggris dan China, karena para pedagang
China lebih banyak menjual produk mereka pada para pedagang Inggris daripada
membeli barang dagangan yang ditawarkan para pedagang Inggris (mungkin ini
mengingatkan Anda pada sesuatu?).
Sebagaimana pebisnis pada umumnya, para pedagang Inggris bisa tahu bahwa opium banyak dikonsumsi di China. Mereka menjual produk pembawa kebahagiaan itu karena itulah satu-satunya produk yang dibeli para pedagang China dari para pedagang asing. Penyebabnya, Dinasti Qing telah melarang perdagangan opium, akibatnya opium menjadi barang yang langka dan otomatis harganya juga naik. Para pedagang China tentu saja tak menyia-nyiakan peluang emas ini. (dswas)






