Mendengar kata ‘Bitcoin’ atau cryptocurrency, mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah suatu ruangan remang-remang di dalam bangunan bekas pabrik yang terbengkalai. Ada sosok misterius duduk di tengah ruangan sambil mengawasi anak buahnya: sederet mega komputer penambang elektronik bekerja membuat uang dari dunia maya, sembari mengirim pesan singkat ke sosok lain di seberang sana yang sedang menyusun rencana demonstrasi dan pemogokan besar-besaran di sebuah kota. Inilah gambaran ‘seram’ sebuah era ketika gerakan anti mata uang kripto dilancarkan berbagai pemerintahan di seluruh dunia, yang secara tidak langsung telah memberikan label tidak nasionalis atau bahkan anarkis kepada para penggiat cryptocurrency. Otoritas menganggap mata uang baru ini telah memainkan peranan besar sebagai alat pencucian uang, pembayaran aksi kriminalitas terorganisir, dan terorisme, sehingga pengawasan dan peraturan perlu diperketat. Pelabelan negatif ini terlalu berlebihan karena berbagai aktivitas ilegal di atas sudah ada berpuluh tahun silam sebelum Satoshi Nakamoto menciptakan bitcoin, dan bisa dilakukan lewat jalur transaksi perbankan biasa.
Represi tanpa darah
Juragan Tesla, Elon Musk, pernah mengatakan bahwa ikhtiar menambang
uang kripto memerlukan tenaga listrik dari sumber energi yang pada gilirannya melepaskan
megaton emisi karbon ke atmosfer sehingga memperparah pemanasan global.
Tudingan ini sukses memporakporandakan harga Bitcoin cs selama beberapa
saat, setelah lambat laun publik menyadari bahwa jumlah para penambang kripto
‘perusak lingkungan’ hanya sekian persen dibandingkan total jumlah kendaraan
bermotor berbahan bakar fosil di seluruh dunia. Tujuan utama penciptaan mata
uang kripto sejatinya adalah menghilangkan “orang ketiga” antara dua pihak yang
melakukan transaksi finansial, agar uang yang dipindahtangankan tidak berkurang
nominalnya akibat komisi perantara dan kerahasiaan informasi kedua belah pihak
tetap terjaga. Bitcoin sebagai pelopor mata uang kripto telah menciptakan
alternatif sistem finansial konvensional dengan mengenyahkan peran si orang
ketiga.
Orang ketiga yang dimaksud di sini adalah bank sentral, bank
pemerintah, dan bank swasta yang menjadi perantara transaksi finansial,
mengawasi, dan melakukan verifikasi validitas. Di antara tiga lembaga ini, bank
sentral berada di posisi tertinggi karena bertanggung jawab untuk menerbitkan,
mengedarkan, mencabut, menarik, serta memusnahkan uang dari peredaran. Akibat
pandemi COVID-19, nyaris seluruh negara di dunia mengalami kesulitan keuangan
yang dimulai dari kebijakan pembatasan untuk mencegah meluasnya virus. Tidak
terkecuali Amerika
Serikat sebagai ekonomi nomor satu sejagat raya. Sebagai upaya
mempertahankan gerak ekonomi, The
Fed (Bank Sentral AS) memutuskan untuk menerbitkan triliunan dolar uang
baru untuk membeli obligasi pemerintah AS melalui sejumlah bank komersial di
pasar terbuka (atau disebut Quantitative
Easing/ QE). Hal yang sama juga
dilakukan bank
sentral berbagai negara di mana wabah menelan korban sejak 2020.
Mengapa bank sentral tidak menerbitkan uang dalam jumlah tak terbatas dan membagikannya kepada warga negara agar tidak ada lagi kemiskinan di antara kita? Tak berbeda dengan hukum permintaan dan penawaran, ketika persediaan suatu barang atau jasa melimpah di pasar maka harga/nilainya akan turun. Tidak terkecuali uang. Untuk menjaga kestabilan nilai uang nasional dari konsekuensi QE, pemerintah mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi supaya uang dapat disalurkan ke berbagai penyedia barang dan jasa. Sampai di sini kita bisa memahami mengapa pusat perbelanjaan jadi tempat yang pertama kali dibuka untuk umum setelah pandemi mereda, bukan? Konsumsi tinggi yang lebih tinggi dari ketersediaan pasokan barang dan jasa menyebabkan inflasi, di saat harga barang dan jasa berubah menjadi lebih mahal secara bertahap dalam rentang waktu yang relatif singkat. Ditambah dengan keadaan panik massal, seperti pandemi, bencana alam, perang atau kekacauan politik yang membuat masyarakat memilih memegang uang tunai agar merasa aman di tengah ketidakpastian. Masyarakat tidak mempunyai pilihan selain menarik uang dari bank dan menghabiskan uang gaji bulanan hasil memeras keringat untuk mengejar cuci gudang, sebelum uang mereka kehilangan nilainya esok hari.
Pilihan sulit
Apa yang dipaparkan di atas adalah beberapa situasi yang
biasa terjadi bila suatu negara sedang menerapkan represi finansial. Represi
finansial tidaklah menakutkan, meskipun makna ‘represi’ secara harafiah
adalah tindakan penahanan, pengekangan, dan penekanan. Negara-negara maju maupun
berkembang sudah tidak asing dengan istilah ini. Tidak ada tindakan hukum atau
sanksi yang dijatuhkan sebagai tanggapan atas represi finansial, karena langkah
ini biasa dipilih sebagai jalan keluar untuk mengatasi kondisi finansial luar
biasa yang terjadi di berbagai negara. Sesuai dengan namanya, represi finansial
mengarah kepada tindakan yang dilakukan untuk memperketat peraturan pemerintah
di bidang keuangan. Setelah menggelontorkan uang yang baru dicetak ke
masyarakat, pemerintah cenderung mencegah masuknya modal asing ke dalam negeri
dengan cara menurunkan imbal hasil (yield)
obligasi pemerintah. Suku bunga acuan juga diturunkan agar tidak memberatkan
mereka yang harus membayar pinjaman di era kesuraman.
Saya yakin iklan dan judul berita yang menjejali gawai Anda
belakangan ini adalah keunggulan produk dalam negeri, iklan rumah minimalis
baru nan murah, mobil listrik, gawai terbaru, atau tempat wisata cantik di
pulau terpencil. Publikasi semacam ini diperlukan untuk menerbitkan kepercayaan
masyarakat untuk terus mengonsumsi barang dan jasa. Bagaimana kalau kita tidak
punya cukup uang untuk memiliki semua keindahan itu? Mari
kita pinjam uang di bank! Kita tidak perlu khawatir tidak bisa membayar
cicilan mobil listrik atau cicilan kartu kredit, bukankah suku bunga pinjaman
sudah lebih rendah daripada 2-3 tahun lalu? Asal tahu saja, pemerintah berbagai
negara juga diuntungkan karena suku bunga rendah sangat membantu memperkecil
jumlah pinjaman atau utang yang harus dibayar pemerintah.
Bagi banyak orang berutang atau meminjam uang dari bank
satu-satunya jalan keluar ketika semua pintu sudah tertutup, walaupun ada juga
orang yang berutang untuk mengembangkan bisnis dan kesejahteraan pribadi. Memang,
ada segelintir orang yang bisa berbangga hati di kemudian hari ketika sudah
berhasil melunasi cicilan mobil Tesla. Namun jangan kita abai pada mereka yang luluh
lantak akibat utang. Tak sedikit yang menganggap utang sebagai bagian dari
hidup untuk dijalani hingga akhir hayat, sebab mereka percaya pengorbanan
mutlak diperlukan dalam perjuangan mencapai cita-cita. Sebaiknya kita berpikir
panjang sebelum memutuskan untuk berutang karena ketenangan hidup Anda menjadi
taruhannya. Tidak ada salahnya menerapkan hidup minimalis. Hidup sesuai
kemampuan dan tidak memaksakan diri membeli rumah, mobil, perhiasan atau gawai
mahal yang cicilannya tak terjangkau dompet kita. Menjadi seseorang yang tidak
punya kemewahan untuk dipamerkan dan tidak punya utang. (dy)