Kamis, 12 Agustus 2021

Membangun Mimpi di Atas Ilusi: Ketika Negara Menjadi Bandar Narkoba

Pertama kali saya tahu kata “sabu-sabu” adalah sekitar tahun 1999, ketika seorang teman mahasiswa yang orang tuanya cukup berada memperkenalkan “mainan” baru ini kepada kami. Saat itu harga sabu-sabu, atau disebut juga metamfetamina alias crystal meth, masih sangat mahal dan hanya para mahasiswa kaya yang bisa membelinya. Darah muda memang identik dengan petualangan, apalagi bila petualangan itu bisa dilakukan dalam angan-angan tanpa harus pergi jauh. Setidaknya itulah yang biasanya dicari seorang pengguna narkoba. Dia mengenal narkoba dari teman-teman, dari dua orang menjadi tiga, lima, sepuluh, lima puluh … Sebuah kampus di mana 90% mahasiswanya pengguna narkoba, ini bukan hoaks. Pandemi COVID-19 yang membatasi gerakan para pelajar dan mahasiswa dituding menjadi biang kemerosotan pencapaian akademis generasi muda sedunia. Meski demikian, kuncitara selama lebih dari setahun dapat menanamkan kebiasaan bergaul yang baru dalam diri anak-anak muda. Suatu kebiasaan yang diharapkan akan melindungi diri mereka sendiri ketika jauh dari rumah dan bertemu berbagai jenis teman baru yang menawarkan hal-hal menggelitik untuk dicoba. Namun, apakah ini cukup?

 

Epidemi di dalam Epidemi

Sementara itu, di Amerika Serikat kuncitara diberlakukan sejak Maret 2020 dan sudah dilonggarkan beberapa waktu lalu. Namun, jejak-jejak yang ditinggalkan kuncitara mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk hilang sepenuhnya. Bagi kita semua, kuncitara bukan hanya menjadi awal bagi kesulitan ekonomi dan pengangguran berkepanjangan. Keadaan sulit di berbagai sendi kehidupan akibat COVID-19 telah memicu timbulnya wabah lain, yaitu penyakit jiwa atau lebih sering disebut depresi. Sebagaimana penyakit lainnya, daya tahan yang lemah adalah pra kondisi sempurna bagi segala jenis virus untuk merajalela. Dalam hal ini, kondisi kejiwaan yang rapuh menjadi lahan subur bagi depresi dan keinginan menyakiti diri sendiri untuk berkembang biak. Sebuah laporan menyebut terjadi kenaikan kematian akibat overdosis zat terlarang sekitar 30% year-on-year di tahun 2020 di AS, atau lebih dari 93.000 kasus. Artikel ini juga menggarisbawahi stigma yang diberikan masyarakat kepada mereka dengan gangguan kejiwaan ibarat “orang cacat,” sehingga tidak sedikit dari mereka yang tidak mencari bantuan professional dan mencari kesembuhan dengan mengonsumsi obat-obat penenang seperti fentanyl yang pada saat artikel ini ditulis sedang booming di negeri Joe Biden.

Kita mulai mengenal nama fentanyl setelah obat legal ini dikaitkan dengan kematian legenda pop Prince 2016 lalu. Menurut sebuah dokumen resmi DEA, fentanyl adalah obat penenang yang 100 kali lebih kuat dibanding morfin dan 50 kali lebih keras dari heroin sebagai analgesik. Mirisnya, fentanyl adalah jenis obat yang diproduksi dan dijual secara legal di AS. Upaya mengurangi penggunaan fentanyl sebagai obat yang diresepkan dokter sudah dilakukan sejak 2011, tetapi belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Pandemi COVID-19 memicu apa yang disebut epidemi di dalam epidemi, ketika jumlah orang yang tewas akibat overdosis fentanyl meningkat bersamaan dengan jumlah kematian akibat virus korona. Sejumlah pihak menuding keberpihakan pemerintah AS pada Big Pharma (kelompok perusahaan-perusahaan farmasi besar yang mendominasi peredaran obat-obatan di AS maupun global) menjadi penyebab kegagalan AS menekan penyalahgunaan fentanyl dewasa ini.

Malangnya, penyalahgunaan fentanyl bukan satu-satunya penyebab epidemi dalam epidemi di Amerika Serikat. Sabu-sabu juga menjadi masalah besar, ketika beberapa Negara bagian AS sudah melegalkan penggunaan mariyuana sejak beberapa tahun lalu. Salah satu pemicunya adalah mudahnya membuat sabu-sabu menggunakan metode “shake-and-bake” dengan bahan dasar ephedrine atau pseudoephedrine, sebuah dekongestan dalam obat demam dan alergi yang dijual bebas di apotik. Ini adalah cara alternatif para pemadat ketika pasokan sabu dari Amerika Tengah sudah diputus pihak berwajib. Upaya DEA untuk mendesak Kongres AS mengatur peredaran obat demam juga pernah dipatahkan oleh Big Pharma yang berdalih masyarakat umum juga berhak dan bebas membeli obat demam sesuai kebutuhan tanpa resep dokter. Sebuah situs menyebutkan, Big Pharma merupakan penyumbang terbesar bagi anggaran Badan Obat dan Makanan AS (FDA). Kelompok ini juga mengerahkan pasukan pelobi sebanyak 1378 orang untuk menyebarkan pengaruhnya di Capitol Hill, memastikan agar kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah AS tidak menghalangi upaya mereka meraup profit.

 

Bulan Sabit Emas

Sementara itu di belahan dunia lainnya, Presiden Joe Biden mengakhiri operasi militer Amerika Serikat di Afghanistan yang sudah berlangsung 20 tahun. Sikap dunia terbelah dua terhadap keputusan itu, karena belakangan ini pasukan Taliban semakin menggila, membantai para pejabat pemerintah dan anggota militer Afghanistan, bahkan memenggal kepala para penerjemah Afghanistan yang pernah bekerja untuk militer AS. Di sisi lain, tidak sedikit pihak yang menuding operasi militer AS sebagai upaya campur tangan dalam urusan dalam negeri bangsa lain. Terlepas dari kontroversi itu, ada satu masalah “sepele” yang belum berhasil mereka selesaikan ketika operasi militer mereka jatuh tempo Agustus 2021. Perdagangan narkoba.

Laporan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime/ Badan PBB untuk Narkoba dan Kriminalitas) mencatat, Afghanistan menjadi pemasok utama industri heroin sejak 1979, atau sesaat sebelum perang berkepanjangan berkecamuk di Negara itu. Luas lahan tanaman opium (bahan dasar heroin) di Afghanistan adalah 224 ribu hektar di tahun 2020, bertambah 37% atau 61 ribu hektar bila dibandingkan tahun 2019. Menurut studi lain yang dipublikasikan tahun 2005, heroin dari Afghanistan didistribusikan ke berbagai Negara, termasuk Eropa, Asia Barat Daya, dan China. Sementara itu di Afghanistan, jumlah pecandu heroin menurun karena mereka beralih ke sabu-sabu yang jumlahnya terus meningkat bersamaan dengan ketidakpastian hidup akibat situasi dalam negeri. Ironisnya, di antara mereka adalah kaum perempuan yang sebagian besar menjadi pecandu sabu-sabu akibat pengaruh para suami mereka.

Di tengah upaya membasmi peredaran opium Segitiga Emas, para penegak hukum China telah mendeteksi adanya wilayah perdagangan narkoba yang disebut Bulan Sabit Emas (Afghanistan, Pakistan, Iran) mengambil alih kejayaan jalur Segitiga Emas sejak 1990-an. Para produsen narkoba Bulan Sabit Emas telah merasuk ke wilayah China Barat melalui Provinsi Xinjiang, area transit sebelum narkoba diedarkan ke wilayah lain di China dan Asia. Pergeseran tren produksi Bulan Sabit Emas dari opium dan heroin ke sabu-sabu bisa jadi dipicu oleh peningkatan jumlah pemakainya di seluruh dunia.  Dibandingkan heroin atau mariyuana, setelah menghisap sabu-sabu seseorang akan merasa lebih percaya diri, lebih bugar saat beraktivitas, dugem, dan bercinta tanpa kenal lelah. Belakangan ini para pecandu narkoba tidak lagi menggunakan crystal meth untuk sekedar lari dari kejamnya kenyataan dan melayang di awang-awang. Mereka mendambakan energi yang kekal agar dapat bekerja keras non-stop untuk mengumpulkan banyak uang demi tercapainya cita-cita akan kesejahteraan hidup yang akan mengangkat derajat mereka dalam masyarakat, tanpa mengorbankan kesenangan. Efek dahsyat sabu-sabu memang dapat memberikan sensasi energi semacam itu, meski untuk sesaat.

Lalu siapakah yang menginisiasi berdirinya Bulan Sabit Emas di mana sumber energi delusi berasal? Mulai 1980-an sudah ada indikasi bahwa para mujahidin Afghanistan memanfaatkan produksi dan penjualan opium untuk mendanai penjualan senjata, yang belakangan mendiversifikasi bisnisnya ke penjualan sabu-sabu. Kemurnian sabu-sabu berbahan dasar obat demam tentunya akan kalah jauh dengan sabu-sabu buatan Afghanistan, karena ephedra (sejenis tanaman bahan dasar ephedrine) tumbuh subur di sana. Mengandalkan pengalaman panjang dalam hal pemrosesan dan distribusi heroin, Taliban mengendalikan seluruh jaringan narkoba Afghan dengan income sekitar 4,2 juta dolar per tahun. Dalam beberapa tahun, penyeludupan sabu-sabu Afghan telah terbongkar di Iran, Pakistan, dan Indonesia. Akan tetapi ini belum cukup untuk membasmi akar permasalahan, sementara peredaran sabu-sabu yang makin marak luput dari perhatian akibat riuh rendah pemberitaan varian Delta.

Saya jadi teringat kisah seorang teman yang kakaknya meninggal karena tertembak dalam sebuah operasi penggerebekan narkoba di sebuah kota. Teman saya sama sekali tak menyangka kakaknya terlibat jaringan perdagangan gelap, karena almarhum tidak merokok dan bukan pemabuk. Terungkap bahwa saat itu si kakak dan temannya, seorang bandar kelas kakap, berkendara dalam sebuah mobil yang membawa beberapa puluh kilogram metamfetamina. Pihak berwajib menembaknya karena berusaha melarikan diri. Teman saya juga bercerita bahwa si bandar besar sempat meneleponnya dari penjara sebelum dihukum mati di tahun 2011, bercerita bahwa dia sudah menyumbangkan uang “hasil kerja kerasnya” ke beberapa pondok pesantren di sebuah kota. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mendengar gosip bahwa GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjual ganja untuk mendanai pembelian senjata dan aksi pemberontakan mereka. Benar dan tidaknya gosip ini, entahlah.

Dari kisah-kisah di atas bisa disimpulkan bahwa Bulan Sabit Emas tidaklah seindah namanya. Tidak dipungkiri bahwa cita-cita Taliban untuk mendirikan Negara Islam yang menegakkan Syariah Islam telah mengundang simpati dari kalangan umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebagai seorang Muslim yang belum dapat menjalankan Syariah Islam dengan benar, saya sedikit lega ketika Taliban menjamin bahwa mereka akan memperlakukan kaum perempuan Afghan dengan lebih manusiawi sesuai dengan hak asasi manusia. Namun sebuah cita-cita seharusnya diwujudkan melalui jalan yang benar, karena apa pun nama agamanya seyogyanya tidak digunakan untuk membenarkan dan melegalkan berbagai tindakan keliru yang dengan sengaja kita lakukan semulia apa pun tujuan tindakan itu. Apakah tujuan menegakkan Syariah Islam bisa membuat orang memaafkan tindakan Taliban yang mengangkat senjata hasil penjualan narkoba?

Saya bukan orang yang sempurna dan tanpa dosa tetapi saya tidak terima bila siapa pun menggunakan agama sebagai dalih atau kedok, karena saya yakin bukan untuk itu agama diciptakan. Hasil tidak mengkhianati proses. Sebuah proses yang bersih tentunya juga akan menghasilkan sesuatu yang positif, bukan sebaliknya. PR utama bagi Taliban ketika mereka sudah berhasil menguasai Afghanistan adalah memutus lingkaran perdagangan narkoba yang sudah menafkahi masyarakat Afghan selama puluhan tahun, karena saya yakin semua negara menginginkan warga negaranya sehat fisik dan mental tanpa narkoba agar dapat bersama membangun kehidupan bangsa yang sejahtera. Saya bersyukur karena sudah menemukan cahaya di ujung lorong kegelapan, tetapi narkoba dan khususnya sabu-sabu masih menjadi ancaman hingga entah kapan. Seorang mantan bandar ganja yang telah meninggal 15 tahun lalu pernah mengatakan, “bisnis narkoba tidak akan pernah mati selama masih ada orang yang mau membelinya.” (dy)

Sabtu, 31 Juli 2021

Kehendak Bebas Untuk Membebaskan

Kebebasan, saya akui, adalah topik favorit karena saya pecinta kebebasan jebolan sebuah kampus yang dulu pernah menjadi surga buat anak-anak (yang pernah) muda seperti saya. Kami cukup beruntung menjadi bagian sebuah generasi yang mengabaikan pencitraan, lantang mengekspresikan ide-ide, korban sekaligus pelaku bullying yang jarang sekali berujung pada perkelahian atau permusuhan. Akan tetapi, waktu berjalan ke depan dan bukan ke belakang. Ketika rambut sudah mulai memutih, kami menyadari ternyata kebebasan telah berganti wajah. Kini dia bukan lagi sesuatu yang kami cintai di masa muda, melainkan monster pengumbar nafsu yang siap memakan dan memenjarakan akal sehat. Dulu kebebasan sangat berharga melebihi emas, karena sangat sulit didapatkan. Kini harganya turun drastis dan nyaris kehilangan makna sejatinya. Sudah saatnya kita mengkaji kembali makna kebebasan dengan tanpa mengorbankan hak asasi manusia untuk hidup dalam damai dan sejahtera.

Meski sudah mendapat pengakuan di beberapa tempat di dunia, tidak sedikit yang enggan membahas isu LGBT+ (lesbian, gay, biseksual, transgender, + ditujukan untuk mereka dengan orientasi seks yang tidak termasuk di kelompok mana pun) karena masalah moralitas dan kepantasan. Kaum LGBT+ sudah cukup lama menerima perlakuan sewenang-wenang, pelecehan, diskriminasi, korban kejahatan akibat kebencian, rudapaksa, bahkan pemenjaraan akibat apa yang mereka percayai sebagai jati diri mereka. Di tahun 1940-an kelompok LGBT+ mulai bangkit di Amerika Serikat menuntut hak mereka untuk diperlakukan sebagai manusia. Mereka beroleh kemenangan ketika semua negara bagian Amerika Serikat mencabut larangan hubungan seks sesama jenis di tahun 2003.

Angin segar bagi kalangan LGBT+ semakin sejuk ketika Uni Eropa mengesahkan undang-undang perlindungan hak-hak LGBT+, dan menindak tegas negara anggota yang dianggap tidak menunjukkan niat untuk menerima undang-undang itu sepenuhnya. Hungaria memersepsikan undang-undang itu dengan cara yang berbeda. Negara itu berkomitmen untuk melindungi nilai-nilai tradisional keluarga dari “kampanye” LGBT+ melalui sebuah peraturan yang melarang propaganda LGBT+ di sekolah, televisi maupun iklan bagi anak-anak di bawah usia 18+. Hungaria melalui PM Viktor Orban telah menolak tudingan peraturan itu dibuat karena Hungaria anti LGBT+.  Sialnya, Hungaria dihujani kecaman dan diancam dikeluarkan dari keanggotaan Uni Eropa bila tidak mencabut peraturan tersebut. Ini belum seberapa, karena saat artikel ini ditulis beberapa negara Barat sedang merumuskan undang-undang yang mengizinkan anak di bawah usia 15 tahun untuk memutuskan berganti jenis kelamin.

 

Ketika Kebebasan Tidak Membebaskan

Kebebasan itu memang seharusnya bisa membebaskan, agar manusia tidak terhimpit oleh penolakan dari dalam dirinya terhadap situasi yang sedang berlangsung di sekitarnya di mana ia terlibat langsung atau pun sebagai penonton. Agar siapa pun bisa memilih dan menentukan apa yang terbaik untuk dirinya, tumbuh dan berkembang di arah sesuai harapan dan cita-citanya. Sayangnya ini hanyalah sebuah utopia tentang kehidupan yang ideal, karena kenyataan tidak dapat diramalkan. Kehendak bebas (free will) tidak muncul sekonyong-konyong. Awalnya, kehendak bebas muncul karena ada tekanan, di mana keduanya adalah sepasang sejoli yang saling mengisi. Ketika tekanan sudah tidak ada, maka kehendak bebas mengembara tak tentu arah, mendesak di dalam relung-relung sempit dalam Pikiran manusia yang mempunyai kebiasaan egosentris melawan kehendak kehidupan untuk hidup dalam kewajaran. Apakah ini berarti tekanan memang dibutuhkan agar kehendak bebas dalam diri masing-masing manusia tidak salah jalan?

Sanksi bidang ekonomi, keuangan, dan militer dari Amerika Serikat untuk Kuba adalah yang terpanjang  dalam sejarah dunia. Selama kurang lebih 60 tahun, masyarakat Kuba tidak diperkenankan melakukan perdagangan dengan negara mana pun, tidak dapat menggunakan metode pembayaran internasional baik untuk keperluan nasional maupun pribadi, mengalami keterbatasan pasokan obat dan makanan, dan tidak dapat menjual produksi dalam negerinya ke negara mana pun. Sanksi yang dijatuhkan sejak jaman Dwight Eisenhower dan semakin meluas di tahun 2021, telah berlaku sejak tahun 1960 ketika Fidel Castro menggulingkan Presiden Fulgencio Batista (1952-1959) yang didukung Amerika Serikat. Dalam sudut pandang Amerika, sanksi ini dijatuhkan sebagai hukuman atas tindakan pemerintah Fidel Castro di tahun 1959 yang menasionalisasi beberapa aset milik warga AS di Kuba di bawah Undang-Undang Reformasi Pertanian, serta peran serta negara itu dalam mensponsori pergerakan revolusioner di wilayah Karibia.

Sanksi Amerika Serikat yang bertujuan memberi pelajaran kepada negara-negara pembangkang biasanya bertujuan agar rakyat negara itu bangkit dan mengakhiri rezim berkuasa yang bertentangan dengan kepentingan sang negara adidaya. Bila sanksi adalah salah satu manifestasi tekanan, maka perlawanan rakyat adalah kehendak bebas yang seharusnya muncul sebagai pangkal dari hubungan sebab akibat ini. Akan tetapi, tekanan dari sanksi berasal dari luar (Amerika Serikat) yang jelas-jelas pelanggaran terhadap kedaulatan suatu bangsa. Sebagian warga Kuba yang menjadi imigran di AS menyadari hal ini, dan melakukan aksi protes terhadap pemerintah AS di Washington menuntut pencabutan sanksi atas Tanah Air mereka. Apa yang mereka lakukan patut menjadi bahan renungan kita, karena komunitas Kuba yang kita bicarakan meninggalkan negaranya akibat ketidaksepahaman dengan pemerintah komunis Kuba.    

Kisah perseteruan Kuba dan Amerika Serikat berawal dari kehendak bebas Presiden Fidel Castro dengan berbagai aksinya yang memicu reaksi yaitu sanksi AS. Namun, sebelum itu Amerika Serikat sudah berniat memadamkan komunisme di Kuba dengan memberikan dukungan kepada Presiden Batista. Komunisme bagi Amerika adalah paham gagal yang otoriter, pelanggar hak asasi manusia karena negara menerapkan berbagai peraturan mengikat untuk menjaga kedisplinan warga negaranya dari ujung rambut sampai kaki. Kehidupan masyarakat dijamin oleh negara komunis, ibarat orang tua yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sebagai imbalannya, anak-anak harus patuh dan mendengarkan kata orang tua supaya mereka aman hingga dewasa. Artinya, anak-anak itu dilatih untuk tidak memiliki free will yang bagi pemerintah komunis sangat merepotkan dan bisa menyebar laksana virus dari satu anak ke anak lain.

Anak-anak yang cinta kebebasan tentunya sangat ketakutan membayangkan musnahnya kebebasan. Di alam demokrasi pendapat pribadi dapat diekspresikan sebebas mungkin, tidak ada hukuman bagi pembuat karikatur atau meme presiden. Warga negara juga bebas mencari nafkah dan memilih agama atau kepercayaan. Cakupan kebebasan pun meluas seiring dengan berjalannya waktu, di mana kehendak memutuskan menjadi LGBT+ adalah salah satunya. Semua yang kita bahas di bagian ini adalah contoh-contoh kasus di mana kehendak bebas gagal untuk membebaskan manusia, baik secara individu maupun kolektif, dari eksklusivitas. Mereka menciptakan pagar pembatas yang memisahkan diri mereka dari kehidupan bermasyarakat, baik itu Fidel Castro, para presiden AS pembela sanksi Kuba, maupun para pejuang LGBT+. Kehendak bebas dalam sudut pandang kita tidak selalu sejalan dengan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, tetapi individu tidak harus mengorbankan kesenangan pribadinya agar tercipta kestabilan dalam masyarakat. Inilah yang diperjuangkan oleh kalangan yang meyakini bahwa kekuatan suatu bangsa terdapat pada kekuatan masing-masing individu dalam berkehendak dan mewujudkan kehendaknya. Kegigihan memperjuangkan kehendak bebas dalam contoh di atas mengundang konflik dalam berbagai bentuk dan skala keparahan, tidak berhasil membebaskan komunitas dari tekanan agar dapat melangkah maju untuk mencapai hal-hal lain yang lebih berarti.

Apakah ini berarti kehendak bebas adalah sesuatu yang terlarang? Tidak juga. Tidak ada yang bisa menentukan orientasi seksual seseorang, atau menasihati seorang pemimpin tentang bagaimana cara memerintah wilayahnya, termasuk bagaimana cara bersikap terhadap musuh-musuhnya. Kita membutuhkan kehendak bebas agar berani bereksperimen dan berani menanggung akibatnya. Sebuah kehendak bebas akan membebaskan ketika dia tidak lagi eksklusif, tidak menakutkan bagi masyarakat, tetapi ada ruang rahasia baginya untuk bebas dari berbagai keharusan. Ruang yang bisa tercipta ketika kita tidak lagi membutuhkan pengakuan, dan menyadari peran kita dalam mempertahankan kestabilan suatu kebersamaan. (swastantika)     

Selasa, 15 Juni 2021

Jalan Terjal Sang Juara

Pandemi COVID-19 memaksa Komite Internasional Olimpiade (IOC) menunda penyelenggaraan Olimpiade Tokyo yang seharusnya diadakan 2020 lalu. Pemerintah Jepang sebagai tuan rumah terpaksa menerima pil pahit ini dan menerima kenyataan bahwa renovasi besar-besaran sejumlah stadion dan berbagai fasilitas olahraga lainnya belum akan balik modal dalam waktu dekat. Walaupun ada sejumlah orang yang meraup untung dari pembatasan sosial dan kuncitara, jumlah kerugian yang dialami bidang olahraga sangat besar karena larangan membuat kerumunan mengharuskan pertandingan diadakan tanpa penonton. Artinya, pihak penyelenggara event olahraga tidak akan memperoleh penghasilan dari penjualan tiket. Bagi para atlit, tidak ada kompetisi bukan hanya akan berdampak buruk bagi performa dan stamina. Semangat bertanding pun bisa luntur seiring berlalunya waktu, dan mengakhiri rasa dahaga akan kemenangan. Seperti bidang lain yang terpaksa menghadapi ujian berat di masa pandemi, para atlit harus menyelesaikan sebuah pertanyaan besar. Bagi para atlit, pertanyaan yang harus mereka jawab adalah apakah kehadiran penonton mereka butuhkan agar berhasil mencapai prestasi? 

Bagaimanapun, pencapaian prestasi bukan hak monopoli para atlit. Sama seperti hak asasi manusia, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berusaha mencapai prestasi. Mereka berhak menempa diri sebaik mungkin, baik dengan mempelajari ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, melatih kekuatan fisik, dan meningkatkan keahlian yang dimiliki agar dapat meraih pengakuan atas apa yang sudah mereka lakukan dengan baik di bidangnya masing-masing. Keberhasilan mencapai prestasi bukan hanya menimbulkan rasa bangga, tetapi juga hadiah dalam bentuk materi (uang) yang tak sedikit jumlahnya. Prestasi akan mengukuhkan pengakuan masyarakat atas kemampuan seseorang, sekaligus meningkatkan reputasinya dalam kehidupan bermasyarakat atau dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas.

Namun tidak ada yang abadi, demikian juga prestasi. Ada yang mengatakan mempertahankan lebih sulit daripada merebut, dan pepatah ini benar adanya. Sebuah tim olah raga akan berjuang mati-matian merebut sebuah gelar yang belum pernah dimenangkan, mengolah skill, mempelajari taktik lawan, mencoba berbagai strategi baru, dll. Di musim kompetisi berikutnya, sang jawara musim lalu harus menghadapi situasi yang lebih menantang karena para pesaing sudah mengetahui kemampuan mereka dan kehilangan gelar adalah sesuatu yang tidak membanggakan. Akan tetapi, tidak semua jawara memilih jalan logis dan pantas untuk mempertahankan gelar. Ada juga yang menghalalkan segala cara demi mempertahankan kebanggaan, walaupun cara tersebut jauh dari nilai dan prinsip sportivitas.

Balada Juara Bertahan 

Di artikel blog ini, dijabarkan tentang bagaimana Amerika Serikat memperoleh posisi mereka sebagai penguasa dunia finansial. Berbagai kisah dan sejarah yang kurang lebih sama juga memaparkan secara detil bagaimana sang negara adidaya berusaha mempertahankan posisinya. Masa pandemi COVID-19 rupanya sudah dianggap sebagai momen yang tepat untuk melestarikan dominasi tersebut. Pertama, AS di bawah pemerintahan Donald Trump secara terang-terangan menuduh bahwa virus COVID-19 adalah hasil rekayasa sebuah laboratorium senjata biologis di Wuhan, China. WHO pernah menyatakan bahwa tuduhan itu dibuat berdasarkan bukti-bukti yang keliru dan tidak berdasar karena virus Sars Cov-2 adalah murni hasil rekayasa alam. Namun AS mengabaikan laporan WHO dan bersikukuh dengan asumsinya. Penerus Trump, Joe Biden, belum menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri tuduhan ini meski dirinya sudah berikrar akan melakukan detrumpfikasi (penghapusan semua kebijakan yang dibuat di masa pemerintahan Trump). Sebaliknya, Biden memerintahkan para anak buahnya untuk melipatgandakan upaya guna membuktikan asal usul virus COVID-19. 

Kedua, Amerika Serikat juga secara terang-terangan merayu pemerintah Brasil agar tidak mengesahkan penggunaan vaksin COVID-19 buatan Rusia, Sputnik V, dengan alasan Amerika Serikat ingin meminimalisir pengaruh negara yang bukan sekutunya di benua Amerika. Padahal saat itu dan bahkan saat ini hingga waktu yang belum dapat ditentukan, rakyat Brasil dan semua penduduk dunia sangat membutuhkan vaksin dari pihak mana pun tidak memandang siapa produsen atau dari negara mana vaksin tersebut berasal. Bagi pemerintah Brasil, keselamatan rakyat dari COVID-19 lebih penting daripada membantu melestarikan hegemoni politik salah satu pihak. Seolah ada mimpi buruk dari masa lalu yang belum bisa dilupakan oleh Amerika Serikat dalam kaitannya dengan ideologi suatu negara yang notabene adalah kompetitor. Namun perilaku yang menolak move on ini bukan sekonyong-konyong muncul tanpa sebab. Manusia adalah makhluk yang mudah ditebak, perilaku yang diperlihatkan saat ini adalah cerminan dari apa yang pernah dilakukannya sebelumnya.  

Amerika Serikat sangat beruntung memiliki Inggris sebagai sekutu. Hubungan simbiosis mutualisme mereka berdua ibarat sepasang kekasih yang mengalahkan batasan ruang dan waktu. Salah satu bentuk kesetiaan itu adalah pengusiran masyarakat Chagos yang tinggal di Pulau Diego Garcia Kepulauan Chagos, sebuah kelompok kepulauan karang dengan luas total 56,13 km persegi di Samudra Hindia. 

Diego Garcia pertama kali berpenghuni di abad ke-18 ketika sekelompok warga Afrika dari Kepulauan Mauritius didatangkan ke pulau itu sebagai pekerja perkebunan kelapa. Dengan berakhirnya masa perbudakan, masyarakat Chagos beroleh kemerdekaan mereka dan hidup tenang di kepulauan tropis itu bersama anak keturunan mereka. Namun ini tidak berlangsung lama, karena di tahun 1965 Inggris memutuskan wilayah itu termasuk wilayah koloni mereka. Di tahun 1967, 2000 orang warga Chagos diusir dari kampung halaman mereka oleh pemerintah Inggris. Pemerintah Inggris saat itu menganggap masyarakat Chagos bukanlah warga asli sehingga tidak berhak atas rumah dan tanah yang sudah mereka warisi dari nenek moyang selama berpuluh tahun. Ini hanyalah dalih karena tak lama kemudian Diego Garcia menjadi pangkalan militer Amerika Serikat di Samudra Hindia, di mana AS memberangkatkan pesawat-pesawat tempur pengebom Iraq dan Afghanistan. Kisah pilu yang diabadikan film dokumenter Stealing of a Nation ini nyaris tidak terdengar, walau sama tragisnya dengan pendudukan Jalur Gaza.   

Semua Bisa Jadi Pemenang

Sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki hasrat dalam berbagai bentuk dan tujuan, termasuk hasrat menjadi pemenang. Akan tetapi, podium terlalu sempit sehingga tidak semua orang dapat naik podium secara bersamaan. Manusia harus berkompetisi mengalahkan manusia lain yang juga ingin merasakan nikmatnya kemenangan, sehingga selalu ada pemenang dan juga pecundang. Di satu sisi, kekalahan bisa menjadi pengalaman berharga sebagai pengukur kemampuan diri dan memotivasi agar tidak lelah mencari jalan agar bisa jadi pemenang di lain hari. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, kemerdekaan setidaknya menjadi pelipur lara pengingat kita untuk memanfaatkan kemerdekaan itu seluas-luasnya agar bisa menjadi sesuatu yang kita inginkan. Atau mencapai sesuatu yang belum pernah kita capai, sesuatu yang lebih baik dan bermartabat tentunya.  

Memang, kemenangan bisa menjadi sebuah jebakan bagi sang juara untuk besar kepala dan mengabaikan rasa keadilan serta kemanusiaan asal dirinya bisa terus jadi pemenang. Ini karena tidak semua orang bisa memaknai secara positif suatu kekalahan sebagai kemenangan yang tertunda. Rasa sakit akibat jatuh terjerembab dari ketinggian tentunya lebih pedih dibandingkan sudah terbiasa kalah dan tidak pernah menang di berbagai kesempatan. Alih-alih siap menghadapi kenyataan, sang juara bertahan berusaha menghindari kekalahan atau kemungkinan akan kalah dengan membiarkan ego tidak terkontrol dan merusak diri sendiri. Sayangnya, golongan dengan karakter semacam ini sekarang sedang menguasai dunia (Amerika Serikat dan para sekutunya) seakan tak kehabisan akal menyingkirkan golongan lain yang berusaha menciptakan perbedaan (Rusia & China).

Haruskah bangsa-bangsa yang belum pernah jadi pemenang pasrah dengan keadaan dan mengubur dalam-dalam impian mereka menjadi bangsa pemenang untuk selamanya? Kebanggaan memang hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan disiplin, tetapi suatu negara juga bertanggung jawab menghasilkan sesuatu yang bisa membuat warga negaranya tidak minder di tengah pergaulan internasional. Sesuatu yang bukan sekedar bisa dinilai dengan uang dan habis dibelanjakan. (d.swastantika).    

Kamis, 31 Desember 2020

Menjadi Bebas Bersama Pembatasan

 Apa yang terjadi pada otak manusia setelah terisolasi dari dunia luar sekian lama? Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa terisolasi secara fisik dan emosional cenderung mengakibatkan penurunan fungsi otak. Max Planck Institute for Human Development melakukan tes pada 9 awak stasiun penelitian Antartika Neumayer III, dan mereka mendeteksi adanya perubahan pada dentate gyrus, yaitu bagian otak yang memegang peranan penting dalam hal mempelajari dan mengingat sesuatu. Bagian otak ini telah menyusut 7% dalam waktu 14 bulan yang dihabiskan para kru menunaikan tugas mereka di Antartika. Pada kurun waktu tersebut, mereka bertahan hidup di tengah suhu minus 50 derajat Celcius, terpapar perubahan drastis cahaya alami dan tanpa kontak di lokasi terpencil ujung Utara Planet Bumi.

Para manula yang terisolasi cenderung lebih cepat mengalami penurunan kondisi kesehatan dibandingkan para manula dari kalangan usia yang sama, tetapi tidak enggan bersosialisasi dengan sesama dan keluarganya. Di masa pandemi COVID-19, para pasien yang kabur dari rumah sakit lantaran tidak betah terisolasi sudah bukan breaking news lagi. Sedangkan bagi seorang narapidana yang tengah berada di dalam kurungan, waktu berjalan sangat lambat.  Isolasi mengakibatkan perasaan kesepian yang mendalam, keputusasaan, dan tanpa harapan untuk masa depan. Depresi bisa menyerang siapa saja, baik tua dan muda, yang merasa kebebasan mereka terenggut dan tidak dapat lagi menikmati hidup bebas.  

Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dijalani para pendahulu kita. Para penemu, ilmuwan, dan seniman ternama justru berhasil menciptakan buah karya terbaik dan pencapaian terbesar dalam bidang yang mereka tekuni setelah mengisolasi diri, menjauhkan diri dari hiruk pikuk dunia untuk berkontemplasi, menguji coba, menganalisa, menghubungkan pola-pola, dan merealisasikan ide-ide. Wabah Besar atau The Great Plague (1665-1666) adalah pandemi terbesar di era itu akibat meluasnya penyakit pes yang menewaskan 20% penduduk London. Wabah ini memaksa banyak orang mengisolasi diri, termasuk Sir Isaac Newton. Ia dan teman-teman sesama mahasiswa meninggalkan kampus Universitas Cambridge untuk mengisolasi diri agar tidak tertular penyakit.

Newton menyebut masa itu sebagai masa terproduktif dalam hidupnya, annus mirabilis (years of wonders) yang telah menciptakan ruang baginya untuk merefleksikan dan mengembangkan berbagai teorinya dalam hal optik, kalkulus, dan eksperimen prisma yang sangat terkenal sampai saat ini. Mungkin lantaran bosan terisolasi, Newton muda melubangi dinding kamarnya sehingga seberkas sinar matahari menerobos masuk. Ia letakkan dua buah prisma dalam posisi sejajar dan searah dengan pancaran sinar matahari. Dan ia takjub ketika dua prisma itu berhasil menguraikan sinar matahari menjadi tujuh macam warna. Ide untuk “menangkap” sinar matahari ini di kemudian hari berperan besar dalam penciptaan alat-alat fotografi, kamera video, televisi, layar komputer, dan layar hape Anda juga pastinya.

 

Keterbukaan sebagai Salah Satu Bentuk Isolasi

Dengan berjalannya waktu, isolasi bukan lagi bermakna keterkurungan di suatu tempat. Keterkurungan itu bukan hanya bisa diterapkan dengan membatasi gerak fisik seseorang, tetapi juga pada pola berpikir dan daya ciptanya. Newton sangat beruntung karena isolasi tidak berhasil mengurung imajinasinya ketika mengamati benda-benda di sekitarnya yang membosankan. Keterbatasan fasilitas di masa itu (masih belum ada listrik, apalagi internet) membuat manusia jaman kuno menjelajahi alam pikirannya sendiri agar bisa sejenak melupakan ketidaknyamanan akibat terkurung dalam waktu lama. Di tengah kontemplasi itulah mereka menemukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawaban melalui eksperimen-eksperimen. Dan hal ini juga dijalani sebagian kecil orang di tengah masa kuncitara COVID-19. Mereka membantu banyak orang melalui teknologi untuk mengatasi keterbatasan, tanpa tertular virus korona. Lihat penemuan-penemuan baru yang diciptakan selama pandemi di sini.  

Ada beberapa manusia yang berusaha mengatasi keterbatasan dengan membayangkan kalau batas-batas itu tidak ada. Pembatasan mobilitasnya sebagai individu memaksa seorang manusia menghabiskan banyak waktu dengan dirinya sendiri dan mengamati kondisi yang terjadi di dalam jiwa dan raganya. Reaksi yang pertama kali muncul sudah pasti adalah perlawanan, karena manusia yang sudah merasakan kenyamanan cenderung akan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kenyamanan itu. Aksi protes anti lockdown yang terjadi di beberapa tempat adalah salah satu contoh nyata untuk kebiasaan ini.  

Apakah itu berarti keterbukaan dan atau kebebasan dari kekangan selalu lebih baik daripada pembatasan? Alam demokrasi mengizinkan masyarakat menyuarakan aspirasi dan berekspresi sebebas-bebasnya. Bagaimana mungkin kebebasan ini menjadi kurungan yang tidak terlihat? Bila diberi kebebasan untuk berselancar di internet, 80% dari kita akan memilih untuk mengakses hal-hal yang kita sukai dan tidak ada di dunia nyata. Itulah mengapa, para siswa yang bersekolah dari rumah lebih suka menonton YouTube daripada membuka Wikipedia, misalnya. Kebebasan di dunia maya juga sangat rapuh, karena hasrat untuk merebut semakin banyak likes dan views mendorong para netizen untuk mengekspos aktivitas yang sedang banyak disukai. Yang terjadi kemudian adalah keseragaman, baik dalam hal cara berekspresi maupun kualitas ekspresi itu sendiri.

Sungguh tak terbatas hal yang bisa kita gali dari internet, apa pun bisa kita pelajari mulai dari memasak, cara membangun rumah sampai belajar bahasa asing. Namun bila kita menganggap internet adalah sebuah tempat di mana kita bisa bersembunyi dari kejamnya dunia nyata, bisa dipastikan kita tidak akan mendapat apa-apa karena kita menganggap tempat tersebut sekedar pelarian dan bukan “rumah” di mana kita akan tinggal secara virtual. Internet adalah sebuah dunia lain dengan realita, norma-norma, dan hukum endemik yang khas dengan atau tanpa kaitan apa pun dengan dunia nyata.  Tanpa literasi digital yang progresif, para netizen akan berhenti berkembang dengan cara mengurung diri mereka di tengah mainstream tren terkini agar menghindari perundungan (bullying) secara daring atau pun luring. Alih-alih menjadi suatu momentum untuk memaknai kebebasan dengan cara berani bersikap berbeda tetapi bertanggung jawab, keterbukaan digital malah mengurung para netizen dalam arus utama di segala bidang, baik informasi, tren, maupun gaya hidup.

Contoh riilnya adalah pro dan kontra yang dialami vaksin COVID-19 buatan Institut Gamaleya, Sputnik V. Inisiatif pembuatan vaksin ini muncul akibat kerisauan tentang dampak sosial dan ekonomi yang harus diterima masyarakat global akibat pandemi. Globalisasi bukan hanya membuat semua negara bebas berdagang dengan pihak mana pun, tetapi juga membuat sektor perdagangan saling tergantung satu sama lain. Bila satu wilayah mengunci diri, semua pihak yang sebelumnya bekerja sama dengan wilayah ini juga akan terdampak.

Maka, satu-satunya cara menghentikan penyebaran virus adalah membuat seluruh komunitas global kebal terhadap virus dalam waktu yang bersamaan. Vaksin Sputnik V dikembangkan dalam waktu singkat, jauh lebih cepat dari produsen lainnya untuk mengejar tenggat tersebut dan dengan harga yang lebih terjangkau. Namun permainan politik kotor para kompetitor berusaha mencari celah untuk menurunkan reputasi vaksin COVID-19 pertama yang diakui oleh WHO. Setelah menuding Sputnik V sengaja melewati uji klinis Fase III dan keamanannya dipertanyakan, beberapa media menyorot reaksi alergi yang dialami sejumlah relawan yang menerima vaksin ini.

 

Mempersiapkan Diri Memetik Buah Ekspresi

Berbicara kebebasan berekspresi menyiratkan dua jenis tindakan yang berbeda arah. Yang pertama adalah mengekspresikan diri, sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakat masing-masing. Sedangkan yang kedua adalah mengekspresikan pendapat tentang sesuatu peristiwa atau fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Bila pihak yang pertama adalah penampil, maka pihak kedua adalah penonton. Bila pihak pertama bebas melakukan apa saja yang ia inginkan, pihak kedua bebas mengomentari apa yang dilakukan pihak kedua. Hubungan semacam ini biasa ditemukan dalam pergaulan digital, terutama di jejaring sosial.

Bertahun-tahun sebelum Mark Zuckerberg mendapat pencerahan untuk mendirikan Facebook, hubungan antara pengomentar dan terkomentar sudah terjadi di tempat lain, yaitu di sebuah kampus di mana saya sempat menempuh pendidikan seni. Para mahasiswa di kampus saya mempelajari seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media elektronik. Setiap mahasiswa di akhir tiap semester harus mempresentasikan karya seni mereka di hadapan dosen dan rekan-rekan se-angkatan, di mana presentasi tersebut menjelaskan tentang judul karya, proses penciptaan, dan alasan penciptaan karyanya. Di akhir presentasi siapa saja boleh bertanya tentang karyanya, dan ia harus bisa mempertahankan konsep yang sudah disiapkan. Perdebatan tentang karya juga biasa terjadi di koridor kampus, warung kopi, bahkan kos-kosan. Perdebatan bisa berlangsung sengit, tetapi untunglah semua itu tidak dibawa masuk ke hati karena tujuannya adalah saling memberikan pendapat tentang progress masing-masing.

Dengan menjadi peserta interaksi semacam ini, siapa saja akan memahami bahwa kita akan memetik apa yang kita tanam. Artinya, selalu ada konsekuensi dari segala yang kita yakini dan kita membiarkan mereka di luar kita mengetahuinya. Mengingat reaksi yang akan muncul bisa sangat massif dan pedas, akhirnya kita menciptakan sendiri batas-batas untuk meluruskan kebebasan kita ke jalan yang benar. Kita akan berpikir panjang sebelum bertindak apabila nurani mengakui kalau kita sebenarnya belum siap memetik buahnya. Sebuah moral compass ternyata bisa kita ciptakan sendiri tanpa perintah pihak lain, di mana akhirnya kita bisa menajdi juragan atas diri kita sendiri. Namun tentunya, panjang sekali jalan yang harus kita tempuh agar bisa mencapai tahap ini.

Adalah sebuah kewajaran bila di saat ini kita merasa belum siap memetika buah ekspresi, dan memilih untuk menahan diri tidak mengeluarkan statement yang memancing kehebohan. Memilih untuk mengikuti mainstream dan hidup dalam damai juga adalah sebuah pilihan, sehingga hal ini juga merupakan salah satu bentuk kebebasan dalam menentukan sikap. Apakah dengan memilih menjadi mainstream akan aman hidup kita selamanya? Apa pun yang menunggu kita di akhir hari, bukan ini yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah sudah cukup kuatkah jantung Anda menerima kejutan-kejutannya? (swast) 

Sabtu, 28 Maret 2020

Mencari Rekan Seperjuangan


Menurut mereka yang saat ini berusia 40-an atau 30-an tahun, perilaku anak muda jaman now semakin kelewatan dan tidak tahu unggah-ungguh (sopan santun). Apakah itu semua kesalahan kemajuan jaman, di mana media dan internet semakin terbuka dan siapa saja bisa mengekspos apa saja di mana saja? Semua anak berasal dari rumah, dan di sinilah sebenarnya bisa ditumbuhkan sebuah kesadaran untuk mengendalikan diri agar anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang merepotkan untuk sekitarnya. Kedua orang tua perlu bekerja sama membangun visi anak, dan tugas ini termasuk berat karena akan ada masanya ketika jalinan kasih ayah dan ibu tidak lagi sehangat masa pengantin baru.

Pengibaratan ini berlaku juga dalam hal mencari negara mitra untuk bekerja sama di segala bidang. Dulu pernah ada kecenderungan melakukan kerja sama dengan negara lain dilakukan atas dasar kesamaan histori, ideologi, akar budaya, serta nasib sebagai negara terjajah. Semua ini tidaklah relevan kalau tetap dipertahankan di masa sekarang, seolah-olah kita memilih pasangan dengan pertimbangan latar belakang keluarga.

Keluarga memang berperan besar dalam membentuk watak seseorang (negara), tetapi dialah seorang yang paling berperan dalam berikhtiar dan mengarahkan diri ke arah yang lebih baik dan bahkan yang belum pernah dicapai oleh keluarga atau para pendahulunya.  Tentu saja banyak yang bisa dipelajari dari masa lalu, termasuk dari calon mitra kita. Bagaimana masa lalu mengajarkan calon kita untuk menjadi lebih baik di masa sekarang, ini sepertinya lebih menarik untuk dipelajari. Kita perlu tahu segalanya tentang calon pasangan, ya nggak sih?

Sempurna belum tentu bahagia

Sudah bukan rahasia umum kalau ada sebagian dari kaum perempuan yang lebih tertarik dengan lelaki yang mapan, memiliki pekerjaan tetap, dan materi yang berkecukupan. Mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan dan dicap sebagai perempuan matre (materialistis). Setelah menikah dan mempunyai anak, mereka harus memastikan kalau anak-anak bisa tumbuh normal dan tidak kekurangan gizi. Padahal, makanan bergizi itu tidak murah harganya. Namun apakah materi menjamin kebahagiaan?

Di dunia ini ada 193 negara yang terdaftar di PBB, 211 negara menjadi anggota FIFA, dan 206 negara masuk dalam daftar IOC (Komite Olimpiade Internasional). Di antara negara-negara itu ada yang sudah maju, ada yang berkembang, ada yang tertinggal, dan ada yang dilanda konflik berkepanjangan. Semua bisa eksis seperti sekarang karena masing-masing mempunyai perjalanan sejarah yang membentuk karakter, pandangan, kebijakan, dan pencapaian mereka di saat ini.

Ibarat ada gula ada semut, negara mana yang tidak silau dengan kesuksesan, kekuatan, dan kekayaan sebuah negara lain. Ada yang percaya bahwa dengan siapa kita bergaul mempunyai peranan besar dalam membentuk cara berpikir dan bertindak di segala situasi. Kalau mereka akrab dengan orang-orang sukses, siapa tahu mereka juga akan ketularan sukses. Sama seperti mencari pasangan, kita sebaiknya tahu bagaimana cara negara calon mitra kita menghadapi situasi sulit. Semakin sulit situasi yang harus dihadapi, semakin terbentuk mental seseorang untuk menghadapi situasi yang lebih sulit lagi di masa yang akan datang.

Hampir tidak ada yang menyangka kalau wabah COVID-19 akan menjadi bencana global. Dampak yang sesungguhnya bukan saja pada hilangnya nyawa manusia, tetapi juga dampak ekonomi. Sejumlah aktivitas ekonomi banyak negara mandek karena para pelaku bisnis sangat khawatir akan terjangkit virus manakala melakukan tukar-menukar barang dengan negara-negara lain atau melakukan aktivitas produksi, sehingga banyak bisnis yang terancam gulung tikar.  

Situasi tersebut sebenarnya sudah dapat diproyeksikan sejak korban COVID-19 mulai berjatuhan di Wuhan, Tiongkok sejak bulan Januari, yang mengakibatkan negara tersebut menghentikan aktivitas produksi dan menerapkan lockdown. Akan tetapi, negara adidaya sekelas Amerika Serikat saat itu seolah-olah memanfaatkan momen tersebut untuk menggalakkan kampanye anti Tiongkok dengan menyosialisasikan kebijakan blokade produk-produk impor dan kunjungan wisatawan dari Tiongkok melalui pemberitaan media-media AS yang terus memperbarui data jumlah korban meninggal setiap hari.

Pada saat kasus COVID-19 pertama terjadi di AS, Presiden Donald Trump sedang sibuk mengirim ancaman untuk Iran. Pada saat sejumlah perusahaan di AS mulai mengalami masa sulit akibat pelarangan masuknya wisatawan Tiongkok, Trump malah menegaskan dirinya tidak ingin ada pejabat pemerintahannya yang mengatakan atau melakukan apapun terkait COVID-19. Alasannya, pasar saham dapat terguncang dan wabah akan menjauhkan dirinya dari peluang untuk terpilih kembali sebagai presiden pada pemilu AS mendatang.

Apa yang dikhawatirkan Pak Trump akhirnya benar-benar terjadi. Pada minggu-minggu awal mulai tersebarnya COVID-19 di Eropa dan Amerika, pasar saham AS jatuh.  Setelah kebijakan social distancing (dan lockdown) mulai diterapkan secara global, jumlah klaim pengangguran di AS meningkat. Pemerintah Trump (dan beberapa negara lainnya) mengeluarkan kebijakan paket stimulus ekonomi sebagai solusi untuk menghadapi ancaman krisis, dan jumlahnya cukup besar dibandingkan negara manapun di dunia, yaitu sekitar 2 triliun dolar.


Kita sebaiknya jangan buru-buru silau melihat banyaknya dana yang mampu disiapkan pemerintah AS itu. Sebaiknya kita pelajari dulu darimana dana itu berasal, atau setidaknya bagaimana proses mereka mengeluarkan dana tersebut. Jawabannya adalah … dari berhutang, dan hutang Pemerintah AS adalah yang termasuk tertinggi di dunia. Memang, ada situasi-situasi tertentu di mana berhutang adalah satu-satunya solusi, dan hutang itu harus dibayar. Berkaca dari pengalaman sejumlah korban aplikasi pinjaman online beberapa waktu lalu, siapa saja bisa kehilangan akal bila sudah tidak punya jalan untuk membayar hutang. Apa yang akan dilakukan sebuah negara bila berada di posisi ini?  

Bertahan atau Berpisah

Seperti apa sih pasangan terbaik? Jawaban untuk pertanyaan ini akan sangat berbeda bagi masing-masing orang, dan itu adalah sebuah kewajaran. Setiap orang ingin memiliki pasangan karena mereka ingin dicintai, ingin mempunyai tempat bersandar, dan yang jelas, mereka ingin bahagia. Perlu kita ingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, dan kebahagiaan akan mempunyai kawan seiring yang bernama kesedihan, dan ini pun adalah sebuah kewajaran juga.

Untungnya, dalam tatanan bernegara, negara manapun bebas mencari dan bebas menjalin kerja sama dengan negara mitra sebanyak yang diinginkan. Idealnya, semakin banyak negara mitra akan semakin baik, karena akan semakin banyak dan bervariasi pula pasar untuk produk-produk kita. Pandangan dan pemahaman kita pun akan semakin terbuka terhadap berbagai sifat dan karakter negara-negara mitra kita yang jelas berbeda satu sama lain. Ini seharusnya bukan masalah pelik, ‘kan Indonesia juga terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat yang berbeda?

Beberapa tahun belakangan ini, situasi dunia (dan dalam negeri, kadang-kadang) berkembang bertolak belakang dari sikap terbuka terhadap keragaman dan perbedaan yang selama ini kita pegang dan yakini. Ada unilateralisme, rasialisme, dan perang dagang. Sedangkan pada 2017 AS memberlakukan Undang-undang Penentang Lawan Amerika Melalui Sanksi (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act) yang melegalkan keputusan Presiden AS terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh, sekaligus negara-negara lain yang bekerja sama dengan negara-negara musuh AS tersebut.

Menghadapi tantangan zaman yang kian hari kian penuh tekanan, kita sebaiknya menyadari bahwa persaingan juga terjadi di antara kekuatan-kekuatan besar dunia. Persaingan atau kompetisi semacam itu ada sisi positifnya, karena masing-masing pihak akan terpacu untuk meningkatkan kemampuan masing-masing di segala bidang agar dapat tampil menjadi pemenang. Situasi yang senantiasa berkembang selama ini adalah suatu pihak yang sudah lama menjadi juara bertahan ingin mempertahankan posisinya dengan segala cara, salah satunya adalah menciptakan jurang pemisah antar negara. Mereka mengumumkan pada dunia siapa musuh mereka, dan pihak-pihak lain juga sebaiknya menganggap mereka musuh. Kalau tidak, mereka akan menjatuhkan sanksi karena berani menantang sang jagoan.

Kalangan warga negara Indonesia sendiri pun sudah menyadari bahwa gangguan inferiority complex menjadi penghambat kita untuk maju, apalagi kalau harus berhadapan dengan ancaman sanksi. Di sisi lain, kita membutuhkan dunia luar untuk memasarkan produk-produk dalam negeri dan meningkatkan penghasilan. Jadi, kemanakah kaki ini harus melangkah, tetap mempertahankan sebuah hubungan yang toxic atau mencari mitra baru?

Yang jelas, badai pasti (dan harus berlalu). Kita dapat berjuang secara mandiri maupun bermitra dengan negara-negara lain untuk mempercepat berlalunya badai tersebut. Bahkan di masa krisis akibat COVID-19 ini kita bisa melihat dengan jelas wajah asli semua negara yang ada di dunia. Badai pasti berlalu, dan inilah saat terbaik mulai memilih mana negara calon mitra yang bisa melihat potensi kita, termasuk potensi yang belum kita sadari, dan bersedia membantu kita untuk mengembangkannya dengan berlandaskan prinsip-prinsip kerja sama internasional yang saling menguntungkan, menghormati, memberikan dukungan, dan bukan mencari-cari alasan untuk menjatuhkan sanksi.
(Swastantika)

Minggu, 29 Desember 2019

Jerat Kebebasan


Manusia mungkin tidak pernah meminta untuk dilahirkan, toh ia tetap dilahirkan juga. Ia tidak bebas menentukan siapa orang tua dan keluarganya, tapi ia bisa memilih saat untuk dilahirkan ke dunia. Sejak awal penciptaannya, manusia sudah mendapat pelajaran penting perihal kebebasan. Bahwa ada hal-hal yang bisa diwujudkan sesuai keinginannya, dan ada yang tidak. Sekelompok manusia yang menjalani kehidupan yang nyaman sentosa sejak jabang bayi sampai usia senja memang adalah golongan yang beruntung. Akan tetapi manusia tidak dapat memprediksi kapan kehidupan nyamannya akan berakhir, sehingga pada saat akhir itu tiba manusia menjadi gagap dan merasa sakit karena hidupnya tidak lagi nyaman. Lantaran merasa tidak berdaya menghadapi perubahan, manusia meneriakkan protes ketika kehidupan berbalik arah dan tidak sejalan dengan keinginannya. Sejalan dengan hukum alam, sesuatu reaksi akan terjadi karena ada tindakan yang dilakukan sebelumnya. Sederhananya begini, karena merasa lapar maka perut akan keroncongan alias berteriak. Tampaknya segelintir manusia telah alpa, bahwa kebebasan bukan hanya dimiliki oleh mereka saja. Keadaaan juga memiliki kebebasan untuk berubah-ubah, dengan tanpa memandang siapa pun yang mengendalikannya.  

Meski demikian, bila kita luangkan waktu sejenak untuk menelaah secara mendalam, ada sejumlah aksi massa besar yang terjadi belakangan ini bertentangan dengan hukum alam karena aksi dilancarkan untuk memprotes sebuah rencana, sesuatu yang belum benar-benar terjadi karena masih dalam tahap penyusunan dasar hukum untuk menguatkan sebuah keputusan. Aksi massa Yellow Vest yang dilakukan secara heroik sampai berminggu-minggu adalah ungkapan protes terhadap rencana pemerintah Prancis untuk menaikkan pajak bahan bakar minyak. Lalu ada juga aksi unjuk rasa para Hong Kongers yang awalnya memprotes RUU Ekstradisi beberapa waktu lalu. Walaupun RUU tersebut telah dibatalkan, Hong Kongers terus melanjutkan aksi protesnya. Bahkan aksi yang awalnya tertib damai berubah beringas (kemudian reda kembali dan mudah-mudahan tidak akan  dan kabarnya didukung sejumlah negara Barat berkembang menuntut kemerdekaan dari Tiongkok sebagai penguasa negara pulau sekaligus pusat bursa efek Asia. Sementara di Indonesia, aksi demo mahasiswa yang terjadi di beberapa kota menyuarakan protes terhadap banyak RUU. Mulai dari  RKUHP, RUU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pekerja Seks Komersial, dan sejumlah masalah lainnya. Seperti dua unjuk rasa fenomenal lainnya, aksi unjuk rasa ini juga berakhir rusuh dan menelan korban jiwa. Di penghujung 2019, India juga diguncang gelombang demonstrasi yang berawal dari rencana pengesahan UU Kewarganegaraan. Aksi yang menelan korban jiwa kabarnya juga dipicu oleh kekeliruan dalam menafsirkan makna undang-undang, sehingga muncul anggapan bahwa UU tersebut anti Muslim. 

Di tengah berjayanya aliran politik identitas di sejumlah negara, ternyata perbedaan ras, bahasa, dan budaya tidak menjadi halangan bagi masyarakat dunia untuk mempercayai kemujaraban sebuah aksi protes. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana para pengunjuk rasa berusaha keras agar apa yang mereka suarakan bisa terwujud, pengunjuk rasa masa kini yang sebagian besar adalah kaum milenial berusaha keras menarik perhatian media massa untuk mengumpulkan lebih banyak dukungan terhadap aksi-aksi mereka. Apakah strategi ini efektif? Ya, karena pihak pemerintah yang mereka protes akhirnya mengalah pada tuntutan mereka. Akan tetapi hal itu ternyata tidak menyurutkan aksi protes. Sejumlah pemrotes masih turun ke jalan dan menyuarakan aksi protes terhadap hal-hal lainnya walaupun pemerintah sebagai pihak yang diprotes sudah memenuhi tuntutan mereka. Semua manusia di muka Bumi ini memang bebas menyuarakan aspirasi mereka dalam bentuk aksi unjuk rasa. Sampai detik ini pun kebebasan berekspresi masih menjadi suatu hak asasi yang wajib dilindungi negara-negara di seluruh penjuru dunia. Dengan kebebasan, manusia bisa membangun perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan kebebasan, manusia bisa mencari kelegaan dari beban hati yang tidak puas dengan keadaan. Benarkah demikian? 

Kehendak bawah sadar kolektif  

Pada saat didirikan pada 1 Januari 1995, WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) mengikrarkan bahwa tujuan organisasi tersebut adalah untuk meningkatkan taraf hidup, mewujudkan lapangan kerja penuh, menambah pendapatan riil dan permintaan, memperbesar produksi dan perdagangan barang dan jasa dengan menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan, serta integrasi negara-negara berkembang dalam sistem perdagangan dunia. Sejak saat itu, semua negara bebas memasarkan produknya ke negara mana saja dengan berpatokan pada undang-undang perdagangan internasional yang telah ditetapkan oleh WTO. Salah satu dari ketentuan itu adalah menggunakan mata uang dolar (USD) sebagai alat tukar dalam aktivitas perdagangan antar negara.  

Ketika Perang Dunia I meletus tahun 1914, sejumlah negara Eropa yang tergabung dalam kelompok Sekutu menjual cadangan emas negara untuk ditukar dengan uang kertas. Uang kertas dikumpulkan untuk membayar pembelian senjata dan barang-barang lainnya dari negara penyuplai, yaitu Amerika Serikat. Pada Perang Dunia II, negara-negara Sekutu memutuskan untuk membeli persenjataan dari Amerika Serikat dengan emas sehingga Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah cadangan emas terbesar di dunia ketika perang berakhir. Pada 1944 di Bretton Woods, AS, 44 negara menyepakati sebuah sistem pertukaran mata uang asing yang tidak merugikan negara-negara mana pun. Mulai saat itu ditetapkan bahwa nilai mata uang semua negara tidak lagi tergantung pada jumlah cadangan emas yang dimiliki negara tersebut. Nilai mata uang suatu negara akan tergantung pada nilai mata uang USD (dolar AS) yang berkorelasi dengan emas. Begitulah asal muasal dolar AS menjadi mata uang nomor satu di dunia.  

Kita tidak perlu menjadi sarjana ilmu psikologi untuk bisa menyimpulkan bahwa perjalanan sejarah akan memengaruhi tingkah laku, pandangan, dan cita-cita masa depan seseorang, sebuah kelompok masyarakat, atau sebuah entitas. Apabila sejarah mencatat tentang sebuah kenikmatan yang pernah dialami , naluri akan mengarahkan manusia bertindak untuk mempertahankan kenikmatan itu agar dapat dirasakan lebih lama lagi. Sekali merasakan nikmatnya memegang kendali atas keberlangsungan hidup negara-negara lain dalam hal finansial, mengapa tidak mempertahankan kenikmatan tersebut bila ada peluang? Tekad itu ditanamkan menjadi bagian dari bawah sadar kolektif (collective unconscious) suatu kaum dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita-cerita sejarah yang diajarkan di institusi-institusi pendidikan. Media juga berperan dalam menanamkan bawah sadar kolektif tentang imaji keadidayaan dengan cara menebar pemberitaan negatif tentang pihak-pihak lain yang tidak sepaham agar suatu kaum selalu sepakat bahwa satu-satunya cara agar tidak ditindas bangsa lain, siapa pun itu, adalah menjadi yang terkuat di antara mereka dengan segala cara.  

Meninjau Ulang Kebebasan  

Aksi massa memang sering kali berhasil menarik simpati pihak lain yang pada akhirnya tertarik untuk memberi dukungan pada semua isu yang diperjuangkan kelompok tersebut. Apalagi bila yang memberi dukungan adalah pihak-pihak berkekuatan besar. Memang tidak ada yang melarang sih. Akan tetapi hal semacam itu bisa dikatakan mencampuri rumah tangga orang dan tidak patut ditiru atau diterapkan dalam pergaulan, apapun ruang lingkupnya, kelas RT-RW atau kelas global. Sialnya, kelompok yang mendapat dukungan dari Negara lain justru bersikap bangga dan berterima kasih pada pihak yang sebenarnya sudah melanggar kedaulatan Negara lain secara halus. Contoh nyata adalah sekelompok Hong Kongers yang melakukan pawai ke Kedubes Amerika Serikat di Hong Kong sambil membawa spanduk "Thank You, America”. Fenomena ini adalah sebuah ironi, ketika kaum milenial memandang pemerintah yang sah adalah monster dan mereka lebih memercayai pihak luar. Mereka seperti melupakan sebuah ungkapan yang sangat terkenal, yaitu “tidak ada makan siang gratis”. Sesuatu yang mudah didapat biasanya mengandung konsekuensi kurang menyenangkan di belakang hari.

Pada tulisan saya sebelumnya, saya memandang protes adalah cara untuk bertahan. Tulisan itu dibuat beberapa waktu lalu ketika saya belum menemukan konklusi bahwa protes ternyata bukan satu-satunya tindakan yang bisa digunakan warga negara untuk menyuarakan pendapatnya. Seiring dengan berjalannya waktu, saya menemukan fakta bahwa faktor dominan yang memicu protes adalah kekecewaan, dan ini adalah salah satu bentuk dari emosi negatif.  Ibarat gerhana, emosi negatif adalah bulan yang bergerak perlahan menutupi matahari sehingga untuk sesaat sinar matahari tidak dapat menerangi hamparan benak manusia. Perilaku destruktif yang nyaris tak dapat dipisahkan dari aksi massa, pembangkangan massal, dan kecenderungan untuk secara naif menerima dukungan pihak luar, apakah ini semua bukan bukti nyata terjadinya gerhana massal di benak masing-masing pengunjuk rasa? Kebebasan dan atau memperjuangkan kebebasan menjadi tameng untuk melegalkan perilaku merusak tatanan suatu wilayah berdaulat.

Entah kebetulan atau tidak, perilaku yang sama juga ditunjukkan oleh pemerintah AS (presiden, DPR, dan menteri-menterinya) dalam upaya mereka menegakkan kebebasan berekonomi dan berpolitik luar negeri. Mereka tidak cukup puas dengan pencapaian ‘hanya’ memiliki mata uang yang menjadi patokan mata uang negara-negara lain di dunia. Orang-orang cerdas di negara itu berhasil menemukan cara untuk memproduksi barang-barang berkualitas tinggi dalam waktu singkat. Akan tetapi, keberlimpahan hasil produksi tidak dibarengi dengan meningkatnya daya beli masyarakat. Semakin baik kualitas suatu barang semakin tinggi pula harganya, dan tidak semua warga negara bisa membelinya. Barang-barang tersebut harus dijual di tempat lain supaya terbeli dan ada aliran uang masuk untuk memproduksi dan menjual lagi. Di masa lalu, negara-negara berkembang belum cukup terampil memproduksi barang-barang dengan kualitas yang sama seperti barang made in USA, sehingga negara-negara ini menjadi lokasi di mana AS memasarkan produk-produknya, mulai dari komoditas pertanian, peralatan elektronik, busana, sampai budaya populer. Akan tetapi masyarakat di negara-negara tersebut ternyata tidak hanya membeli, melainkan juga mempelajari bagaimana proses pembuatan produk tersebut dan mempunyai ide untuk membuatnya sendiri dan menjualnya dengan harga yang lebih murah. Akibatnya bukan hanya kehilangan pasar, AS sebagai pihak pertama yang mempunyai ide untuk memproduksi barang tersebut juga kecolongan kekayaan intelektual. Begitulah kurang lebih bagaimana kisah perang dagang AS-Tiongkok bermula, demikian juga kisah peperangan dagang yang dikobarkan AS terhadap negara-negara lain seperti Rusia  (dan Jerman dalam sengketa jaringan pipa gas Nord Stream 2) dan Prancis (sebagai aksi retaliasi terhadap pajak digital yang diberlakukan Prancis).

Aksi koboi di percaturan ekonomi global maupun di jalanan, bukan ini yang kita harapkan untuk terciptanya dunia yang lebih baik. Maka dari itu, tidak berlebihan kiranya bila Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa “liberal idea has failed (gagasan liberal telah gagal)”.  Kebebasan ala liberalisme telah gagal membebaskan negara pejuang kebebasan dari kesempitan mindset dan itikad untuk memperkaya diri sendiri. Sebagai warga negara sebaiknya kita bersyukur karena negara kita masing-masing telah memiliki ideologi dan cara pandang yang tidak sama persis dengan liberalisme. Kita pun tidak perlu terlalu silau dengan kebebasan yang dipertontonkan negara-negara liberal. Semua negara membutuhkan kestabilan agar dapat membangun dan menyejahterakan rakyatnya. Tugas rakyat adalah bersedia bekerja sama menciptakan kestabilan, dan ini bisa mengakibatkan suara protes kita tidak selantang dulu lagi. Bersediakah kita? (dswasti)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...