Senin, 31 Desember 2018
Nasionalisme, Alasan atau Jawaban?
“Nationalism
is a betrayal of patriotism (nasionalisme adalah pengkhianatan patriotism).”
Demikian ujar Presiden Macron dalam pidatonya di depan para pemimpin dunia di
peringatan 100 tahun berakhirnya Perang Dunia I di Paris (11/11), kira-kira
satu bulan sebelum digoncang aksi Gilets Jaunes (Jas Kuning). Salah satu
pemimpin yang mengernyitkan kening mendengar pidato tersebut adalah President
Trump, dan kita bisa lihat fotonya di sini.
Pemimpin Prancis itu juga menambahkan apa yang telah direnggut oleh
nasionalisme dari setiap negara, yaitu adalah “nilai-nilai moral negara
tersebut.” Pernyataan kontroversial itu sudah jelas direspon “sangat meriah”
oleh para netizen di Prancis dan di sejumlah negara lainnya. Kita yang tinggal
di Indonesia dan dikenal dengan masyarakat penjunjung tinggi nasionalisme pasti
tidak habis pikir. Mengapa justru presiden sebuah negara yang memelopori
tumbuhnya nasionalisme di Eropa melalui Revolusi Prancis menganggap
nasionalisme adalah sebuah kekeliruan.
Supaya kita
bisa memahami mengapa Macron beranggapan demikian, kita sebaiknya memperluas
sedikit cakrawala kepada kondisi terkini di daratan Eropa. Sejak dua tahun terakhir
Benua Biru kebanjiran pengungsi dari Suriah yang saat itu sedang dilanda
konflik bersenjata. Pada awalnya Angela Merkel, petinggi Uni Eropa saat itu,
bermaksud baik dengan menawarkan tempat tinggal sementara untuk para pengungsi.
Namun beliau melupakan fakta bahwa para pengungsi itu berasal dari daratan lain
dengan kondisi budaya yang jauh berbeda. Mereka tidak biasa melihat perempuan
berpakaian terbuka, akibatnya banyak terjadi kasus pemerkosaan dengan pelaku
oknum pengungsi. Para pengungsi mau bekerja dengan gaji rendah demi bertahan
hidup, sehingga berkuranglah lapangan kerja untuk penduduk asli sejumlah negara
Eropa. Dua isu ini hanya sebagian kecil buah gesekan kultural yang dipahami
masing-masing pihak pengungsi dan penduduk asli. Akan tetapi sudah cukup untuk
memicu keruwetan lainnya.
Sepanjang
2017-2018, golongan sayap kanan di sejumlah negara Eropa mengalami masa
kebangkitannya. Di Austria, Swedia, Denmark, Swiss, Finlandia, dan Jerman,
partai sayap kanan menjadi popular seiring dengan meluasnya krisis finansial
dan krisis pengungsi. Jumlah pemilih yang mencoblos partai sayap kanan
meningkat lantaran adanya kekhawatiran tentang menghilangnya identitas nasional
dan kebiasaan para pengungsi yang dianggap tidak sejalan dengan nilai yang
sudah dianut masyarakat Eropa selama ribuan tahun. Bila di masa lalu
nasionalisme menjadi motivasi melawan penindasan, di jaman now nasionalisme
menjadi dalih untuk bertahan dari “gempuran” para pengungsi. Pergeseran makna
nasionalisme di sejumlah negara inilah yang membuat Macron cemas, dan mungkin
bertanya-tanya mengapa sebuah kaum yang dikenal sebagai salah satu pilar
ekonomi dunia menjadi paranoid terhadap kaum papa?
Dari dalam ke luar
Pada coretan
kali ini akan dipaparkan sekelumit perjalanan nasionalisme sebagai sebuah
ideologi pada tingkatan internasional maupun lokal, mulai sejak awal paham ini
menjadi hits sampai bagaimana wujud transformasinya di masa kekinian. Sering
kita mendengar nasionalisme disebut-sebut untuk memoles visi misi sejumlah
golongan, dan menjadi penggerak untuk melakukan perubahan. Apakah Anda termasuk
salah satu yang bertanya-tanya, akankah nasionalisme berhasil mengarahkan
langkah sebuah bangsa mencapai cita-citanya?
Kalah dalam
perang atau kehilangan wilayah kekuasaan adalah dua faktor utama yang
berkecamuk dalam batin sebuah bangsa dan menjadi bahan bakar untuk menggerakkan
nasionalisme. Itulah situasi yang terjadi di Prancis setelah kalah perang
melawan Jerman di tahun 1871. Menderita kekalahan setelah mempertaruhkan
segalanya adalah sangat pedih bukan? Apalagi melihat apa yang dulu menjadi
milik kita sudah diambil orang lain. Kepedihan sering kali menjadi sumber inspirasi
ide-ide besar. Inilah yang mengilhami sejumlah tokoh Prancis saat itu
menginisiasi gerakan Revanchism, atau balas dendam-isme, dengan tujuan membalas
dendam atas kekalahan Prancis dan merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan
Jerman. Gerakan ini mendapat kekuatannya dari pemikiran patriotik yang
seringkali dimotivasi oleh faktor ekonomi dan geopolitik. Politik revanchism
tergantung pada identifikasi sebuah bangsa dengan negara bangsa (nation state)
dan memobilisasi sentimen keakaran nasionalisme etnis untuk mengembalikan
keutuhan bangsa dalam hal wilayah berdasarkan dinamika historis. Berhasilkah
paham ini menggerakkan masyarakat Prancis di era itu menduduki kembali
wilayahnya?
Setelah
melalui jalan panjang berliku, tekad membalas dendam itu pun tuntas meski butuh
waktu sekitar 47 tahun kemudian. Kedua negara itu terbawa oleh arus nasib yang
mempertemukan mereka kembali di arena Perang Dunia I, ketika Eropa terpecah
menjadi dua blok besar, yaitu Triple Entente (Prancis, Rusia, Inggris) vs
Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, Italia). Tak jauh beda dengan
pencapaian Die Mannschaft (sebutan untuk timnas sepak bola Jerman) di Piala
Dunia 2018, pada Perang Dunia I Jerman berada di pihak yang menderita
kekalahan. Angkatan bersenjata Jerman dilucuti dan dikurangi, ribuan
penduduknya mati kelaparan karena ketergantungan pada impor bahan makanan dari
AS dan Inggris. Selain mengalami pengurangan wilayah sampai 13%, negara ini dan
negara-negara lain yang kalah perang
harus membayar kerugian materiil akibat perang pada komite negara-negara
pemenang. Kenyataan ini membuat seorang mantan prajurit bernama Adolf Hitler
merasa negaranya bagaikan ditikam dari belakang. Ketika dipenjara akibat
upayanya melawan pemerintah, ia menulis “Mein Kampf” yang intinya adalah ide
mengembalikan kejayaan Jerman sebagai sebuah bangsa dengan menciptakan negara
dengan ras tunggal. Kisah selanjutnya, kita sudah sama-sama tahu bagaimana
dahsyatnya Holocaust dan agresi militer di bawah komandonya. Kepahitan akibat
keterpurukan ternyata bisa juga mengubah manusia menjadi monster.
Di jaman
now, contoh paling gres tentang sinergi harmonis revanchisme dan nasionalisme
adalah perang dagang antara Tiongkok vs Amerika Serikat. Produk buatan Tiongkok
sudah terkenal karena harganya terjangkau. Menurut AS, produk Tiongkok tidak
orisinil karena cenderung menjiplak merek-merek terkenal. Namun, apapun
kualitas barangnya konsumen cenderung memilih barang yang lebih murah bukan?
Hal ini membuat barang produksi AS kalah bersaing di dunia internasional,
bahkan juga di negaranya sendiri. Selain itu, kenyataan sebagian besar merek
ternama AS cenderung membuka pabrik di Tiongkok membuat pemerintah AS geram,
karena lapangan pekerjaan di dalam negeri jadi berkurang. Sebagai tindakan
balas dendam terhadap kenyataan itu, AS menaikkan tarif terhadap sejumlah barang
yang diimpor dari Tiongkok (dan dari negara-negara lainnya), dan dibalas
Tiongkok dengan menaikkan tarif barang impor produk AS yang masuk ke pihaknya. Baik
AS maupun Tiongkok sama-sama berdalih membela harga diri bangsa masing-masing
dalam konflik tanpa senjata ini. Meski kesepakatan “gencatan senjata” perang
dagang telah ditandatangani kedua belah pihak, ketegangan masih terus
berlangsung. Asal tahu saja, seiring dengan perkembangan jaman, nasionalisme
bukan lagi melulu soal mengusir penjajah atau membela kedaulatan negara.
Persaingan memperebutkan pasar atau konsumen saat ini cenderung menjadi
pendorong tindakan heroik yang mengatasnamakan nasionalisme.
Dari luar ke dalam
Makhluk
hidup mana pun bisa bertahan hidup bukan hanya karena kekuatan dan potensinya,
namun juga karena kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang terus
berubah. Pada awalnya mungkin akan ada penolakan untuk keluar dari kenyamanan
situasi sebelumnya. Akan tetapi makhluk hidup hanya bertahan hidup bukanlah
satu-satunya cara melanjutkan hidup, itulah yang membedakan manusia dengan
makhluk lainnya. Demikian halnya dengan nasionalisme. Selain adanya dorongan
massal di dalam batin sebuah bangsa, hal lain yang menggerakkan nasionalisme
adalah adanya faktor-faktor luar yang eksis di sekeliling mereka.
Krimea
adalah sebuah semenanjung di pesisir utara Laut Hitam di Eropa Timur,
berbatasan dengan Ukraina, Rusia, Rumania dan Turki. Posisi geografisnya yang
strategis membuat wilayah ini jadi rebutan bangsa-bangsa lain sejak masa Abad
Pertengahan. Meski dianugerahi pemandangan alam laut yang memanjakan mata, sejarah
semenanjung Krimea relatif kompleks. Di tahun 1954, Rusia yang saat itu bernama Uni Soviet ‘menghadiahkan’ Semenanjung Crimea kepada Republik Ukraina, berdasarkan pertimbangan bahwa kedua wilayah memiliki kesamaan kultural dan pertalian ekonomi. Mungkinkah dekrit ini dilatarbelakangi dengan adanya kesamaan ideologi antara Uni Soviet dan Ukraina pada saat itu? Yang jelas, dekrit ini ‘mengkhianati’ kesepakatan sebelumnya, yaitu Treaty of Paris 1856. Dalam Treaty of Paris yang menandai berakhirnya Perang Krimea antara Kekaisaran Rusia dan persekutuan Kekaisaran Utsmaniyah, Britania Raya, Kekaisaran Perancis Kedua, dan Kerajaan Sardinia, disebutkan bahwa persekutuan harus angkat kaki dari sejumlah kota pelabuhan Krimea dan mengembalikannya pada Kekaisaran Rusia. Kurun waktu mulai dari tahun 1856 sampai 1954 adalah cukup lama bagi warga Krimea untuk terbiasa dengan identitas sebagai bagian dari Rusia. Maka bisa dipahami apabila dalam referendum 2014 yang mewajibkan warga Krimea memilih untuk bergabung dengan Ukraina atau Rusia, mereka memilih Rusia. Hasil referendum itu merefleksikan aspirasi warga Krimea yang dipicu kesadaran untuk kembali ke asal, setelah hampir satu abad terpisah dari akar sejarahnya.
Kembali ke akar sejarah, menurut sebagian orang, adalah salah satu cara terbaik untuk membangkitkan kembali nasionalisme sebagai pandangan hidup sebuah bangsa. Alasannya, melalui sejarah kita bisa mengetahui apa yang mendasari kehendak sebuah bangsa untuk mendirikan negara dengan segala kompleksitasnya. Masalahnya, sentimen kembali ke akar sejarah kadang hanya terbatas sebagai romantisme, bagaikan nostalgia jaman SMA yang hanya bisa dikenang sambil ngopi bersama teman-teman dan tak pernah bisa terulang kembali. Apakah cukup mengenang kejayaan bangsa dengan kembali mengenakan busana adat, misalnya? Kisah bangsa kita menjadi sedikit lebih rumit, karena nasionalisme kita yang dibangun oleh para nenek moyang di atas keberagaman dalam segala hal sangat rentan menjadi pupus dan pudar bukan karena pengaruh luar, melainkan karena penafsiran yang keliru mengenai nasionalisme itu sendiri.
Adalah wajar jika kita bercita-cita menjadi bangsa yang tidak dipandang sebelah mata dalam pergaulan internasional. Bagaimana bisa kita menjadi bangsa bergengsi, bila terlalu silau pada gemerlap budaya luar, atau sebaliknya, memandang negatif pada segala hal yang datang dari luar bangsa kita. Lalu harus gimana dong? Untuk mencapai cita-cita itu diperlukan proses, bukan hanya proses untuk memoles diri agar tampil bergengsi. Namun juga proses memoles mindset di dalam diri agar siap untuk menjadi bergengsi. (swastantika).
Selasa, 25 September 2018
Protes dan Bertahan
Dua makhluk berbeda jenis dan heteroseksual memiliki banyak atau sedikit peluang untuk bertemu, saling jatuh cinta, dan menjalin hubungan. Dahulu, hubungan antar dua manusia yang berbeda jenis biasanya akan masuk ke tahap selanjutnya, yaitu memiliki anak-anak, menantu, dan cucu-cucu. Di kemudian hari ketika sepasang makhluk itu sudah meninggal dunia, keturunan mereka yang masih hidup dan segar bugar dihadapkan pada dua pilihan. Akankah mereka tetap saling menjaga api persaudaraan, atau membiarkannya padam. Di setiap keluarga umumnya memiliki sepasang kakek nenek yang senantiasa mengajarkan nilai-nilai ini. Mereka ingin agar suatu saat ketika mereka sudah tiada, para keturunannya bisa saling membantu bila ada di antara mereka yang mengalami kesusahan. Ini karena mereka sudah hidup terlalu lama untuk menyadari bahwa hidup manusia tidaklah selalu penuh dengan berkah dan suka cita. Ada kalanya roda kehidupan berbalik arah. Keluarga yang mengalaminya sebaiknya dibantu sebisanya agar mereka punya motivasi untuk membalikkan arah roda kehidupan itu seperti semula.
Kenyataannya, menjaga ikatan persaudaraan agar hangat dan penuh cinta itu lebih sulit daripada teorinya. Lebih rumit daripada sekedar kumpul-kumpul di Hari Raya dan makan bersama. Dua saudara sekandung yang dulunya sepaham bisa jadi tidak lagi sepaham setelah mereka punya pasangan dan anak-anak. Apalagi sebuah keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga inti dari anak pertama, kedua, dst. dan mereka punya anak-anak yang sudah punya anak-anak, dst. Lantaran ingin menjaga kesan supaya tidak ada anggota keluarga inti yang terluka, kadang satu pihak keluarga inti yang merasa tidak sepaham dengan keluarga inti lainnya akan cenderung mengabaikan ketidaksepahaman itu. Keluarga ini mengambil sikap wait and see, menunggu waktu terbaik untuk menyelesaikan ketidaksepahaman. Namun ada juga kelompok keluarga inti lain yang langsung menghilang karena menemui ketidaksepahaman, karena beranggapan ketidaksepahaman itu lebih baik tidak dibicarakan. Toh nanti tidak akan ada yang mau mengalah atau mengakui kesalahan. Langkah mereka diikuti oleh kelompok keluarga lainnya, mereka menghilang satu demi satu. Lambat laun musnahlah ikatan persaudaraan, hanya tinggal nama, foto-foto kenangan, dan makam para tetua saja.
Ketidaksepahaman dan konsekuensinya
Kenyataannya, menjaga ikatan persaudaraan agar hangat dan penuh cinta itu lebih sulit daripada teorinya. Lebih rumit daripada sekedar kumpul-kumpul di Hari Raya dan makan bersama. Dua saudara sekandung yang dulunya sepaham bisa jadi tidak lagi sepaham setelah mereka punya pasangan dan anak-anak. Apalagi sebuah keluarga besar yang terdiri dari beberapa keluarga inti dari anak pertama, kedua, dst. dan mereka punya anak-anak yang sudah punya anak-anak, dst. Lantaran ingin menjaga kesan supaya tidak ada anggota keluarga inti yang terluka, kadang satu pihak keluarga inti yang merasa tidak sepaham dengan keluarga inti lainnya akan cenderung mengabaikan ketidaksepahaman itu. Keluarga ini mengambil sikap wait and see, menunggu waktu terbaik untuk menyelesaikan ketidaksepahaman. Namun ada juga kelompok keluarga inti lain yang langsung menghilang karena menemui ketidaksepahaman, karena beranggapan ketidaksepahaman itu lebih baik tidak dibicarakan. Toh nanti tidak akan ada yang mau mengalah atau mengakui kesalahan. Langkah mereka diikuti oleh kelompok keluarga lainnya, mereka menghilang satu demi satu. Lambat laun musnahlah ikatan persaudaraan, hanya tinggal nama, foto-foto kenangan, dan makam para tetua saja.
Ketidaksepahaman dan konsekuensinya
Bisakah ketidaksepahaman itu berubah menjadi sepaham dalam waktu singkat, tanpa diskusi debat publik bertele-tele? Jawabannya, bisa. Tapi sayangnya ini tidak abadi. Pada waktu tertentu dan karena kesamaan kepentingan, semua perbedaan disingkirkan untuk membasmi musuh bersama. Bahkan puji-pujian dilontarkan demi mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma dari seseorang yang dibenci setengah mati. Istilahnya, baik karena ada maunya. Terdengar familiar? Pasti lah ya. Pasti ada satu di antara anggota keluarga Anda yang berkarakter seperti itu.
Beberapa waktu lalu sebuah media lokal terbitan Jawa Timur menulis tentang kecurigaan sejumlah pihak terhadap peran Presiden Rusia di balik peristiwa keracunan yang dialami seorang agen ganda bernama Skripal dan putrinya, Yulia. Disinyalir kalau racun yang digunakan adalah Novichok, sebuah racun syaraf yang merupakan buatan Rusia, sehingga dengan demikian pasti Rusia dalangnya. Begitulah menurut pemerintah Inggris. Artikel tersebut menjadi seram karena keracunan Novichok juga dialami Pyotr Verzilov yang namanya menjadi terkenal lantaran menerobos masuk ke lapangan saat pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Kroasia vs Prancis sedang berlangsung. Pertandingan sepak bola kelas dunia, apalagi final, adalah gelaran yang ditunggu-tunggu semua lapisan masyarakat, baik pecinta bola sejati atau musiman. Siapa yang tidak geram bila pertandingan sakral itu diganggu seseorang, yang bukan suporter pendukung salah satu tim bahkan. Lalu siapakah gerangan penerobos gagah berani bernama Pyotr Verzilov ini?
Pyotr Verzilov adalah suami dari Nadezhda Tolokonnikova, seorang perempuan anggota band punk asal Rusia, Pussy Riot (Пусси Райот). Awalnya, mereka adalah kolektif yang didirikan tahun 2011 dan terdiri dari lusinan orang, laki-laki dan perempuan, yang saling berbagi tugas melakukan performance art dan sisanya mendokumentasikan aksi mereka dalam bentuk video dan diposting di internet. Salah satu anggota mereka, Garadzha (bukan nama sebenarnya) mengatakan, mereka terbuka buat para simpatisan dari kaum perempuan yang tidak bisa bermain musik. “You don’t have to sing very well. It’s punk. You just scream a lot.” Begitu katanya. Seperti band-band anarcho punk pada umumnya, mereka menyuarakan protes terhadap penguasa yang dipandang represif terhadap kebebasan berekspresi. Pussy Riot mendukung hak-hak LGBT dan mendeklarasikan feminism sebagai latar belakang perjuangan mereka. Selain itu, mereka juga sangat anti gereja Russian Orthodox dan Presiden Vladimir Putin.
Meski kolektif dan band Pussy Riot sering mengekspresikan ide-ide mereka dalam bentuk performance art, namun aksi mereka bisa dibilang ekstrim, bahkan bagi kalangan scene punk di pelosok dunia. Pada penampilan publik pertama mereka di tahun 2011, para anggota Pussy Riot tampil di stasiun bawah tanah Moskow dan di atas gerbong kereta bawah tanah sambil merobek bantal bulu angsa. Pernah juga mereka tampil di atas atap penjara di mana dua anggota kolektif ditahan di tahun yang sama. Akan tetapi yang paling kontroversial adalah aksi tahun 2012 ketika mereka menerobos masuk ke Cathedral of Christ the Saviour dan sejumlah gereja lain di Moskow dan berjingkrak-jingkrak di altar. Semua aksi ini direkam dan dipublikasikan di dunia maya.
Dalam dunia anarcho punk berlaku dogma bahwa siapa pun harus siap dan bersedia menanggung konsekuensi atas tindakannya. Konsekuensi itu ada dua macam, konsekuensi baik dan konsekuensi buruk. Pussy Riots mendapat dukungan dari beragam kalangan, mulai dari organisasi internasional sekelas Amnesty International, para selebritis (Madonna, Bjork, dan Yoko Ono), politisi (Hillary Clinton), dan pastinya rekan-rekan sesama punk di Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara lainnya. Konsekuensi buruknya, para anggota sering keluar masuk penjara karena dianggap mengganggu ketentraman masyarakat. “Invasi” mereka ke sejumlah gereja di Moskow dinilai melecehkan agama, dan mengakibatkan Nadezhda Tolokonnikova, Yekaterina Samutsevich, dan Maria Aloykhina dituntut hukuman penjara dan kerja paksa selama dua tahun. Pada saat itu baik Tolokonnikova dan Aloykhina masing-masing sudah punya anak. Tolokonnikova sempat melakukan aksi mogok makan dalam upaya memrotes pelanggaran HAM di penjara. Meski aksi itu akhirnya berakibat ia harus dirawat di rumah sakit penjara selama beberapa minggu, tetap saja sebagian besar publik Rusia memandang negatif dan ogah-ogahan mendukung perjuangan mereka.
Sebuah petisi online di tahun 2013 diluncurkan untuk memohon pembebasan Tolokonnikova dari penjara, dan saya termasuk salah satu yang ikut menandatanganinya. Tidak banyak perempuan eksis di dunia punk yang sarat dengan imaji kejantanan. Apalagi yang berani melakukan tindakan-tindakan protes bahkan sampai dipenjara karena idealism mereka. Sesungguhnya dunia ini membutuhkan para perempuan seperti mereka yang berani menyuarakan ketidakberesan di sekitarnya. Pertanyaannya, siapkah kita dengan harga dari kebebasan berekspresi itu?
Ketidaksetaraan dan cara mengatasinya
Ngomong-ngomong, selain anarchy, dalam punk juga ada yang namanya equality alias kesetaraan. Dua frase ini seharusnya tidak dipisahkan dan saling mendukung agar siapa pun yang memilih punk sebagai jalan hidup selalu ingat bahwa pada saat pencarian kebebasan, dia tidaklah sedang sendirian. Selama ini para punks menganggap equality adalah kesetaraan diri pribadi dengan teman-teman sesama punk. Padahal selain teman-teman punknya, ada masyarakat, ada pemerintah, dan ada juga tetangga yang sama-sama manusia. Ketika seorang individu mengekspresikan pandangan hidup atau kritiknya terhadap sesuatu, ia berupaya dengan segala cara untuk menarik perhatian siapa pun baik yang memposisikan diri lebih rendah atau lebih tinggi agar mendengarkan suaranya. Dengan kata lain, ia “memaksa” siapa pun yang mendengarnya untuk menilai diri masing-masing sederajat dengannya. Ketika publik sudah mendengar apa isi di dalam perwujudan ekspresinya, diharapkan mereka bertindak secara bersama-sama.
Dibandingkan anarchy yang sering kali dipandang sebagai utopia, sesungguhnya equality masih dan akan selalu relevan dengan kekinian. Hal ini karena ketidaksetaraan akan selalu ditemukan di pelosok Bumi mana pun, tanpa memandang warna kulit, bahasa, kondisi geografis, ataupun ukuran celana. Dewasa ini, ketidaksetaraan adalah ancaman nyata setelah genderang perang dagang ditabuh oleh dua raksasa ekonomi, Amerika Serikat dan Cina. Masing-masing pihak berdalih menaikkan tarif impor demi melindungi pasar dan kesejahteraan rakyatnya masing-masing. Inilah contoh pahit ketika patriotism mengambil alih rasionalitas dan mendorong kedua negara dalam ajang berbalas menaikkan tarif. Yang namanya perang pasti akan memakan korban, begitu pula dalam perang dagang ini. Dampak perang dagang meluas juga ke negara-negara lain di seluruh penjuru dunia, baik Asia, Afrika, dan Eropa, pada semua negara yang menjual produk mereka ke Amerika Serikat, termasuk Indonesia pastinya.
Kita sebagai masyarakat kebanyakan belakangan sudah mulai merasakan percikan api perang dagang ini dengan menguatnya dolar terhadap rupiah. Namun menuntut pemerintah agar menaikkan nilai rupiah dengan segera adalah irasional, karena selain akibat perang dagang, pelemahan rupiah saat ini sesungguhnya adalah buah dari sikap dan pandangan berbisnis yang telah menahun dan kita terlanjur menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Misalnya, kelangkaan komoditas tertentu secara mendadak dari pasar, atau naiknya sejumlah bahan pokok di event-event tertentu. Apakah merubah hal ini dengan segera akan menaikkan nilai rupiah? Sepertinya itu sulit untuk dilakukan bukan? Menurut prediksi, menaikkan ekspor adalah salah satu cara untuk bertahan dari perang dagang ini. Kita sebagai warga biasa sebenarnya bisa mendukung upaya itu dengan menjual kemampuan dan produk ke luar negeri. Penduduk Indonesia ini puluhan juta jumlahnya. Itu hanya usul saja sih dari saya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ekonomi dan finansial. Tapi bila semuanya tergerak melakukan hal yang sama, paling tidak bersama-sama mencari solusi sesuai bidang kita masing-masing untuk mengatasi dampak buruk kenaikan dolar, kita akan dipandang sebagai bangsa yang berdaya meski tidak bisa menang dalam perang dagang ini. Bukankah Leo Tolstoy pernah berkata, “The two most powerful warriors are patience and time”?
Hal lain yang bisa kita lakukan adalah protes. Pastinya bukan protes ke pemerintah lokal ya, tapi protes ke pemerintah AS. Sejumlah band punk sudah punya lagu sentiment negatif terhadap AS, seperti The Exploited (Fuck The) USA, The Clash (I’m so Bored with the USA), We Called It America (NOFX), dan termasuk Pussy Riot yang sudah merilis Make America Great Again (sebuah lagu punk yang menyindir Donald Trump) sesaat sebelum pemilu presiden AS berlangsung. Dengan situasi terkini yang semakin memanas, ada kemungkinan daftar lagu-lagu sejenis akan bertambah panjang. Ketidaksepahaman antar anggota keluarga yang direspon dan diekspresikan secara ekstrim itu berbahaya, karena bisa membuat kita melupakan bahaya lain dan lebih ganas yang siap mengunyah kita sampai lumat. Alasan lainnya, peluang kita menyerang tapi salah sasaran juga terbuka lebar. (swastantika)
Beberapa waktu lalu sebuah media lokal terbitan Jawa Timur menulis tentang kecurigaan sejumlah pihak terhadap peran Presiden Rusia di balik peristiwa keracunan yang dialami seorang agen ganda bernama Skripal dan putrinya, Yulia. Disinyalir kalau racun yang digunakan adalah Novichok, sebuah racun syaraf yang merupakan buatan Rusia, sehingga dengan demikian pasti Rusia dalangnya. Begitulah menurut pemerintah Inggris. Artikel tersebut menjadi seram karena keracunan Novichok juga dialami Pyotr Verzilov yang namanya menjadi terkenal lantaran menerobos masuk ke lapangan saat pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Kroasia vs Prancis sedang berlangsung. Pertandingan sepak bola kelas dunia, apalagi final, adalah gelaran yang ditunggu-tunggu semua lapisan masyarakat, baik pecinta bola sejati atau musiman. Siapa yang tidak geram bila pertandingan sakral itu diganggu seseorang, yang bukan suporter pendukung salah satu tim bahkan. Lalu siapakah gerangan penerobos gagah berani bernama Pyotr Verzilov ini?
Pyotr Verzilov adalah suami dari Nadezhda Tolokonnikova, seorang perempuan anggota band punk asal Rusia, Pussy Riot (Пусси Райот). Awalnya, mereka adalah kolektif yang didirikan tahun 2011 dan terdiri dari lusinan orang, laki-laki dan perempuan, yang saling berbagi tugas melakukan performance art dan sisanya mendokumentasikan aksi mereka dalam bentuk video dan diposting di internet. Salah satu anggota mereka, Garadzha (bukan nama sebenarnya) mengatakan, mereka terbuka buat para simpatisan dari kaum perempuan yang tidak bisa bermain musik. “You don’t have to sing very well. It’s punk. You just scream a lot.” Begitu katanya. Seperti band-band anarcho punk pada umumnya, mereka menyuarakan protes terhadap penguasa yang dipandang represif terhadap kebebasan berekspresi. Pussy Riot mendukung hak-hak LGBT dan mendeklarasikan feminism sebagai latar belakang perjuangan mereka. Selain itu, mereka juga sangat anti gereja Russian Orthodox dan Presiden Vladimir Putin.
Meski kolektif dan band Pussy Riot sering mengekspresikan ide-ide mereka dalam bentuk performance art, namun aksi mereka bisa dibilang ekstrim, bahkan bagi kalangan scene punk di pelosok dunia. Pada penampilan publik pertama mereka di tahun 2011, para anggota Pussy Riot tampil di stasiun bawah tanah Moskow dan di atas gerbong kereta bawah tanah sambil merobek bantal bulu angsa. Pernah juga mereka tampil di atas atap penjara di mana dua anggota kolektif ditahan di tahun yang sama. Akan tetapi yang paling kontroversial adalah aksi tahun 2012 ketika mereka menerobos masuk ke Cathedral of Christ the Saviour dan sejumlah gereja lain di Moskow dan berjingkrak-jingkrak di altar. Semua aksi ini direkam dan dipublikasikan di dunia maya.
Dalam dunia anarcho punk berlaku dogma bahwa siapa pun harus siap dan bersedia menanggung konsekuensi atas tindakannya. Konsekuensi itu ada dua macam, konsekuensi baik dan konsekuensi buruk. Pussy Riots mendapat dukungan dari beragam kalangan, mulai dari organisasi internasional sekelas Amnesty International, para selebritis (Madonna, Bjork, dan Yoko Ono), politisi (Hillary Clinton), dan pastinya rekan-rekan sesama punk di Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara lainnya. Konsekuensi buruknya, para anggota sering keluar masuk penjara karena dianggap mengganggu ketentraman masyarakat. “Invasi” mereka ke sejumlah gereja di Moskow dinilai melecehkan agama, dan mengakibatkan Nadezhda Tolokonnikova, Yekaterina Samutsevich, dan Maria Aloykhina dituntut hukuman penjara dan kerja paksa selama dua tahun. Pada saat itu baik Tolokonnikova dan Aloykhina masing-masing sudah punya anak. Tolokonnikova sempat melakukan aksi mogok makan dalam upaya memrotes pelanggaran HAM di penjara. Meski aksi itu akhirnya berakibat ia harus dirawat di rumah sakit penjara selama beberapa minggu, tetap saja sebagian besar publik Rusia memandang negatif dan ogah-ogahan mendukung perjuangan mereka.
Sebuah petisi online di tahun 2013 diluncurkan untuk memohon pembebasan Tolokonnikova dari penjara, dan saya termasuk salah satu yang ikut menandatanganinya. Tidak banyak perempuan eksis di dunia punk yang sarat dengan imaji kejantanan. Apalagi yang berani melakukan tindakan-tindakan protes bahkan sampai dipenjara karena idealism mereka. Sesungguhnya dunia ini membutuhkan para perempuan seperti mereka yang berani menyuarakan ketidakberesan di sekitarnya. Pertanyaannya, siapkah kita dengan harga dari kebebasan berekspresi itu?
Ketidaksetaraan dan cara mengatasinya
Ngomong-ngomong, selain anarchy, dalam punk juga ada yang namanya equality alias kesetaraan. Dua frase ini seharusnya tidak dipisahkan dan saling mendukung agar siapa pun yang memilih punk sebagai jalan hidup selalu ingat bahwa pada saat pencarian kebebasan, dia tidaklah sedang sendirian. Selama ini para punks menganggap equality adalah kesetaraan diri pribadi dengan teman-teman sesama punk. Padahal selain teman-teman punknya, ada masyarakat, ada pemerintah, dan ada juga tetangga yang sama-sama manusia. Ketika seorang individu mengekspresikan pandangan hidup atau kritiknya terhadap sesuatu, ia berupaya dengan segala cara untuk menarik perhatian siapa pun baik yang memposisikan diri lebih rendah atau lebih tinggi agar mendengarkan suaranya. Dengan kata lain, ia “memaksa” siapa pun yang mendengarnya untuk menilai diri masing-masing sederajat dengannya. Ketika publik sudah mendengar apa isi di dalam perwujudan ekspresinya, diharapkan mereka bertindak secara bersama-sama.
Dibandingkan anarchy yang sering kali dipandang sebagai utopia, sesungguhnya equality masih dan akan selalu relevan dengan kekinian. Hal ini karena ketidaksetaraan akan selalu ditemukan di pelosok Bumi mana pun, tanpa memandang warna kulit, bahasa, kondisi geografis, ataupun ukuran celana. Dewasa ini, ketidaksetaraan adalah ancaman nyata setelah genderang perang dagang ditabuh oleh dua raksasa ekonomi, Amerika Serikat dan Cina. Masing-masing pihak berdalih menaikkan tarif impor demi melindungi pasar dan kesejahteraan rakyatnya masing-masing. Inilah contoh pahit ketika patriotism mengambil alih rasionalitas dan mendorong kedua negara dalam ajang berbalas menaikkan tarif. Yang namanya perang pasti akan memakan korban, begitu pula dalam perang dagang ini. Dampak perang dagang meluas juga ke negara-negara lain di seluruh penjuru dunia, baik Asia, Afrika, dan Eropa, pada semua negara yang menjual produk mereka ke Amerika Serikat, termasuk Indonesia pastinya.
Kita sebagai masyarakat kebanyakan belakangan sudah mulai merasakan percikan api perang dagang ini dengan menguatnya dolar terhadap rupiah. Namun menuntut pemerintah agar menaikkan nilai rupiah dengan segera adalah irasional, karena selain akibat perang dagang, pelemahan rupiah saat ini sesungguhnya adalah buah dari sikap dan pandangan berbisnis yang telah menahun dan kita terlanjur menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Misalnya, kelangkaan komoditas tertentu secara mendadak dari pasar, atau naiknya sejumlah bahan pokok di event-event tertentu. Apakah merubah hal ini dengan segera akan menaikkan nilai rupiah? Sepertinya itu sulit untuk dilakukan bukan? Menurut prediksi, menaikkan ekspor adalah salah satu cara untuk bertahan dari perang dagang ini. Kita sebagai warga biasa sebenarnya bisa mendukung upaya itu dengan menjual kemampuan dan produk ke luar negeri. Penduduk Indonesia ini puluhan juta jumlahnya. Itu hanya usul saja sih dari saya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia ekonomi dan finansial. Tapi bila semuanya tergerak melakukan hal yang sama, paling tidak bersama-sama mencari solusi sesuai bidang kita masing-masing untuk mengatasi dampak buruk kenaikan dolar, kita akan dipandang sebagai bangsa yang berdaya meski tidak bisa menang dalam perang dagang ini. Bukankah Leo Tolstoy pernah berkata, “The two most powerful warriors are patience and time”?
Hal lain yang bisa kita lakukan adalah protes. Pastinya bukan protes ke pemerintah lokal ya, tapi protes ke pemerintah AS. Sejumlah band punk sudah punya lagu sentiment negatif terhadap AS, seperti The Exploited (Fuck The) USA, The Clash (I’m so Bored with the USA), We Called It America (NOFX), dan termasuk Pussy Riot yang sudah merilis Make America Great Again (sebuah lagu punk yang menyindir Donald Trump) sesaat sebelum pemilu presiden AS berlangsung. Dengan situasi terkini yang semakin memanas, ada kemungkinan daftar lagu-lagu sejenis akan bertambah panjang. Ketidaksepahaman antar anggota keluarga yang direspon dan diekspresikan secara ekstrim itu berbahaya, karena bisa membuat kita melupakan bahaya lain dan lebih ganas yang siap mengunyah kita sampai lumat. Alasan lainnya, peluang kita menyerang tapi salah sasaran juga terbuka lebar. (swastantika)
Minggu, 23 September 2018
Sabtu, 17 Maret 2018
Menyederhanakan Penyesalan
Seperti apa sih
wajah kita waktu sedang mengatakan “maaf”? Sebuah cermin mungkin
akan mengatakan semuanya. Tapi pasti aneh bukan kalau kita bilang
“maaf” sambil bercermin? Lawan bicara Anda mungkin akan menjauh
pergi, bukan karena tidak mau memaafkan. Ia mungkin khawatir akan
ketularan “penyakit” Anda.
Merasakan
penyesalan, pada awalnya memang tidak mengenakkan. Pada suatu kondisi
ketika penyesalan adalah sesuatu yang tidak bisa tidak kita katakan,
manusia dihadapkan pada dua pilihan tentang bagaimana ia merespon
desakan mengungkapkan penyesalan. Mengungkapkan penyesalan bersamaan
dengan meruntuhkan gengsi-gengsi yang memagari, inilah pilihan
pertama. Sedangkan pilihan kedua adalah menggunakan penyesalan
sebagai lipstik. Penyesalan diungkapkan dalam kata-kata tanpa
membiarkan kesadaran diri untuk menerimanya. Kedua pilihan ini
kelihatannya sama-sama buruk. Pilihan pertama akan menimbulkan
tamparan di muka seseorang. Tamparan yang begitu menyakitkan dan
terngiang sepanjang hidupnya, mengingatkan agar jangan sampai
kesalahan yang mengakibatkan penyesalan kembali terulang. Pilihan
kedua malah lebih parah lagi, karena seseorang memaksa dirinya untuk
melakukan sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan kehendak
bebasnya, yaitu tidak ingin menyesali perbuatannya. Persamaan kedua
pilihan ini adalah, baik pilihan pertama maupun pilihan kedua
sama-sama tak bisa menghapus kenyataan bahwa kesalahan atau sesuatu
yang membuat seseorang merasa menyesal memang pernah terjadi. Bahkan
sebuah pakaian yang pernah dicuci bersih pun tak dapat memungkiri
kenyataan bahwa kotoran pernah menempel kepadanya.
Sebagaimana pernah
dikatakan oleh Friedrich Engels, “Alle mit Naturnotwendigkeit
eintretenden Ereignissse tragen ihren Trost in sich, sie mogen noch
so furchtbar sein”, atau “ Semua hal di alam yang mendapatkan
penghiburan di dalam hal itu sendiri, mungkin adalah hal yang paling
tak terperi.” Sesuatu peristiwa telah menjadi sebuah patahan dalam
jiwa yang begitu pahit, sehingga diputuskan untuk tak akan diakui,
baik dengan cara menyesalinya atau menuliskannya dalam buku sejarah
kehidupan pribadi maupun publik. Siapa tak akan merasa pahit paska
sebuah peristiwa besar yang merenggut nyawa banyak manusia?
Peperangan besar di dunia seperti Perang Salib dan Perang Dunia
dikenal semua umat berbagai kalangan dan jaman. Pernah nggak sih kita
membayangkan siapa sesungguhnya pihak yang meraih semua kegemerlapan
segera setelah perang dinyatakan berakhir? Nama-nama mereka memang
bisa dilihat di buku sejarah. Tetapi apakah mereka para pemenang
merasa puas dan semua masalahnya teratasi dengan kemenangan itu?
Sulit untuk dijawab karena pihak X dan Y sama-sama menderita kerugian
besar. Pihak X yang tercatat sebagai pemenang bahkan tak punya waktu
untuk merayakan kemenangannya, lantaran sibuk memutar otak bagaimana
cara ia melunasi semua pinjaman yang dipakai sebagai biaya untuk
berperang. Sementara pihak Y yang menderita kekalahan harus
menanggung stigma sebagai golongan musuh yang durjana dan wajib
dimusuhi sampai selamanya.
The root of all
“disorder” (Bibit semua penyakit)
Manusia memang
memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi di sekitarnya.
Namun tingkat kecepatan untuk beradaptasi tidak sama. Penyebabnya,
kesadaran manusia dibentuk oleh lingkungan sekitar di mana individu
itu lahir, tinggal, dan dibesarkan. Sedangkan kondisi alam tidak sama
antara belahan Bumi satu dan lainnya. Oleh karena itu, ada beragam
reaksi yang ditampilkan sekelompok orang setelah mereka melalui
sebuah peristiwa besar. Dalam Bahasa Inggris, reaksi itu disebut
dengan “aftermath”, di mana “after” adalah sesudah dan “math”
adalah matematika. Tidak seperti bahasa dan bidang ilmu sosial,
matematika adalah ilmu yang paling jujur. Angka tidak bisa berbohong,
tidak bisa dibengkokkan atau ditafsirkan dengan cara berbeda dari
sudut pandang berbeda. Apa jadinya dunia ini bila suatu hari 2 + 2 =
5? Dalam Matematika, hasil suatu tindakan (persamaan) itu pasti dan
bisa diketahui apa saja yang menyebabkan hasil tsb mengemuka. Ketika
urutan angka dalam suatu operasi penjumlahan atau pengurangan diubah,
hasilnya tetap sama. Yang bisa berbeda-beda adalah sumber, asal
muasal, atau dari mana datangnya angka 2, 3, 13, 666, dan seterusnya.
Meski sejarah telah mencatat sejuta pristiwa berbeda dari berbagai
belahan dunia, beberapa di antara peristiwa besar itu ternyata
hasilnya sama, yaitu penyesalan. Faktor situasi, kondisi, dan
dinamika lingkungan sekitar pembentuk kesadaran inilah yang
mengakibatkan adanya perbedaan reaksi dan cara sekelompok manusia
dalam merespon penyesalan.
Air yang mengalir di
sungai tak pernah sama, alirannya menggerus tepian sungai sedikit
demi sedikit tanpa ada yang menyadarinya. Namun alih fungsi hutan
menjadi hunian juga berdampak pada sungai. Debit airnya berkurang,
sehingga luas permukaan sungai semakin menyempit. Demikian juga wajah
dunia dan suatu negara dibentuk oleh serangkaian peristiwa yang telah
dialaminya dan oleh caranya bereaksi menanggapi peristiwa-peristiwa
yang sejenis. Misalnya, sebuah negara mengalami krisis ekonomi,
inflasi melonjak tinggi, pengangguran ada di mana-mana, sektor
industri macet, hutang negara semakin bertumpuk. Sepertinya cepat
atau lambat negara itu akan jatuh bangkrut. Ini bukan sebuah
peristiwa baru dalam sejarah negara itu. Setelah menimbang satu dan
lain hal, negara tsb akhirnya menerapkan proteksionisme dengan
harapan dapat meningkatkan pendapatan negara dari pajak barang-barang
atau badan usaha dari luar negeri yang berbisnis di negara tsb, bila
diasumsikan bahwa menaikkan tarif pajak yang harus dibayar warga
negaranya akan mengundang risiko impeachment alias menggoyang tampuk
kekuasaan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pilihan itu, karena
reaksi umum makhluk hidup mana pun yang merasa dirinya berada dalam
bahaya adalah berupaya sebisanya untuk melindungi dirinya sendiri
(protek/ to protect = melindungi). Asal muasal sikap itu pun bisa
ditelusuri berdasarkan (lagi-lagi) catatan sejarah, dalam hal ini
selain tujuan untuk meningkatkan pendapatan negara.
Saya yakin, semua
dasar fundamental di negara manapun tidak ada yang mengimbau warganya
untuk tidak menerima adanya perbedaan. Semua menekankan pentingnya
mengedepankan kesetaraan hak dan kewajiban tanpa memandang perbedaan,
apakah itu perbedaan jenis kelamin, ras, suku, dan agama. Pada
kenyataannya, perbedaan muncul bukan hanya pada masalah fisik atau
keyakinan pribadi individu saja. Ada juga yang namanya perbedaan
prinsip, baik prinsip ekonomi maupun prinsip politik. Apa boleh buat,
ternyata teori menanggapi perbedaan lebih mudah daripada prakteknya.
Bila individu atau kelompok masyarakat yang seumur hidupnya berada
dalam lingkungan di mana ia atau mereka tak pernah menemukan adanya
perbedaan, maka reaksi pertamanya terhadap perbedaan adalah defensif
karena mekanisme otak mendefinisikan perbedaan itu sebagai sebuah
ancaman. Salah satu bentuk manifestasi sikap defensif ini adalah
dengan memproteksi diri. Sikap ini kemudian diwariskan secara turun
temurun agar generasi selanjutnya untuk menanamkan cara pandang yang
sama terhadap perbedaan. Media bolehlah menyanjung generasi milleneal
dan adik-adiknya setinggi langit sebagai “generasi baru yang lebih
baik”. Tapi, sekali lagi, kesadaran manusia dibentuk oleh kondisi
yang melingkupinya. Sekarang waktu yang akan membuktikan apakah
generasi penerus akan melestarikan dogma para pendahulunya, atau move
on dan membuat cara pandang yang baru.
Apapun opsi yang
dipilih, baik generasi muda, tua, setengah tua, atau yang belum lahir
sekalipun sebaiknya mempertimbangkan bahwa penyesalan yang tak
terungkapkan juga bisa menjadi bahan bakar bagi reaksi defensif
terhadap perbedaan. Lama setelah berlangsungnya peristiwa penyebab
penyesalan, seseorang atau sebuah kelompok mencoba menelaah kembali
berbagai fakta yang ada pada saat peristiwa itu terjadi. Ketika ditemukan bahwa sebuah pembedalah yang menjadi pokok
permasalahan, maka tindakan preventif sudah bisa ditebak. Tindakan
itu adalah membabat habis faktor pembeda bahkan sejak ia masih berupa
bibit. Ini adalah sebuah tindakan pragmatis yang memang bisa mengunci
si pembeda di liang lahatnya. Namun tindakan tersebut belum mampu
mengungkap satu pertanyaan besar, yaitu mengapa ada perbedaan,
mengapa kita tak bisa sama? Kita harus menggerakkan diri sendiri
untuk mencari penyebabnya. Tanpa menceburkan diri dalam kolam, kita
tak akan bisa melihat dasarnya. Sama seperti cara kita merespon
perbedaan. Tetap ada peluang bahwa setelah menyelam di dasar kolam,
kita baru akan tahu bahwa ternyata di situ tidak ada buayanya. Saya
bisa mengerti bila ternyata banyak dari kita yang tidak bisa
berenang. Masalahnya sekarang adalah, maukah Anda belajar berenang
untuk bisa melihat kecantikan ikan-ikan yang hidup di dalamnya?
(swastantika).
Jumat, 14 Juli 2017
Sabtu, 10 Juni 2017
Kesalahan Terbesar
‘And if you don’t believe the sun will
rise, stand alone and greet the coming night in the last remaining light.’
(Chris Cornell)
Seorang pecinta musik rock mengatakan,
adalah alternative rock yang patut dipersalahkan sebagai biang surutnya kejayaan
musik rock di era 90-an. Kalau melihat sejarah, alternative rock 90-an (untuk
membedakannya dengan pendahulunya, gelombang alternative rock 60-an) mulai
menggila sebagai respon atas kejenuhan pasar musik rock yang saat itu dikuasai
dua nama besar, Metallica dan Guns N’ Roses. Black Album dan Use Your Illusion
I & II merajai chart top album di berbagai negara. Pencapaian dua super
grup ini bisa dibilang sebagai klimaks, dalam hal
penjualan album maupun musikalitas belantara rock. Namun, Brahmagupta (astronom India yang karya-karyanya banyak mempengaruhi ilmu
matematika Arab di abad ke-9) dalam teori gravitasinya mengatakan, ‘The earth is the only low
thing, and seeds always return to it, in whatever direction you may throw them
away, and never rise upwards from the earth‘ (Bumi adalah satu-satunya yang
terendah, dan benih selalu kembali kepadanya ke arah manapun engkau
melemparkannya, dan tidak akan pernah jauh meninggalkan bumi). Singkatnya, apa saja yang terlontar ke atas pada akhirnya akan jatuh kembali ke tanah.
Anda yang menghabiskan masa remaja di
era 90-an tentu masih ingat seperti apa kehidupan sosial, politik, dan budaya
di sekitar pada saat itu. Kita di sini hidup ‘baik-baik saja’ tanpa kekurangan.
Butuh waktu beberapa tahun sebelum akhirnya kita sadar bahwa semua itu adalah
tabir yang dikenakan rezim lama. Saat itu di luar sana ada banyak gejolak. Ada runtuhnya Tembok Berlin. Ada juga Perang
Teluk yang berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat. Namun, sebelum para
tentara AS berangkat ke Kuwait di tahun 1992, para pebisnis negara itu tengah
gelisah akibat resesi ekonomi di awal
90-an yang merupakan rentetan dari Black Monday di tahun 1987. Apa itu
Black Monday? Ini adalah sebuah fenomena jatuhnya harga saham di seluruh dunia
pada saat bersamaan. Mengapa? Satu alasan utamanya adalah akibat praktek
program trading yang tak terkendali. Apa itu program trading? Suatu teknik yang
digunakan dalam sekuritas untuk memperdagangkan lima belas atau lebih saham
dalam waktu bersamaan pada kondisi tertentu. Tujuannya jelas, yaitu untuk
menjual sebanyak mungkin saham dalam waktu singkat dan meraup untung
sebanyak-banyaknya. Dampak resesi juga terasa di beberapa negara seperti
Inggris, Australia dan Selandia Baru. Bubarnya Uni Soviet di 1989 juga membawa
Finlandia ke dalam resesi karena terjadi penurunan perdagangan dengan Rusia
hingga 70%.
Manakah yang lebih enak, susah dulu
baru senang atau senang dulu baru susah? Apapun yang terjadi lebih dulu, akan
selalu ada yang namanya masa transisi. Sebuah masa atau periode waktu yang
tidak terlihat secara fisik dan diciptakan sendiri oleh pola pikir manusia
sebagai bentuk kejeniusannya untuk beradaptasi dengan perubahan. Kaum muda
90-an dipaksa menghadapi dua masa transisi. Yang pertama adalah masa transisi
yang terjadi di luar diri mereka, yaitu perubahan dari hidup enak menjadi hidup
serba sulit akibat resesi. Di saat yang sama, seperti anak muda di era manapun,
mereka berada dalam masa transisi yang terjadi di dalam dirinya, yaitu perubahan dari anak-anak menuju dewasa. Kegalauan menghadapi dua masa transisi
sekaligus pada saat yang sama membuat banyak anak muda mendidih. Bagaikan
bendungan yang jebol akibat derasnya luapan emosi, mereka melakukan apa saja
asal teriakan mereka bisa didengar. Mereka tak peduli lagi dengan kord-kord
njelimet ala Jimmy Page, atau suara melengking tinggi khas vokalis hair metal
(grup rock yang anggotanya berambut gondrong). Gemerlap kostum para rock star
papan atas dianggap bertolak belakang dengan realita. Mereka inginkan sesuatu
yang lebih mampu merefleksikan keterpurukan massal yang terjadi pada saat itu.
Resesi ekonomi juga membuat banyak
bahtera rumah tangga terguncang dan berujung perceraian. Seorang anak lelaki
korban perceraian di Seattle yang hobinya menggambar Donal Bebek dan
mendengarkan The Beatles, berubah dari anak yang riang menjadi pemurung. Ia
kecewa pada orang tuanya, malu pergi ke sekolah lantaran selalu di-bully karena
dua orang tuanya tidak tinggal serumah. Pada usia belasan tahun ia membawa
pakaian-pakaian dan rekaman Ramones-nya pergi dari rumah karena tak ingin
merepotkan ibunya lagi. Ia tinggal di rumah kosong bersama teman-temannya,
mabuk narkoba sambil menulis lagu. Nada-nada gitarnya sederhana dan mungkin
sedikit sumbang, ia berteriak bukan bernyanyi di atas panggung bar-bar murahan.
Gaya pakaiannya yang sederhana dan nada bicara sumpah serapah di kemudian hari akan menjadikannya idola. Betul, nama cowok itu Kurt Cobain.
Lahir Dari Kelemahan
Kurt dan teman sekolahnya, Chris Novoselic
sama-sama suka The Melvins, grup rock AS dari tahun 1983 yang meng-cover lagu
Jimi Hendrix sekaligus memainkan hardcore punk. Bersama Chad Channing (yang
kemudian digantikan oleh Dave Grohl), mereka bertiga di bawah nama Nirvana merekam
album pertama, Bleach. Album dengan lagu-lagu yang terinspirasi punk 80-an dan heavy
metal 70-an dirilis tak lama setelah mereka menandatangani sebuah kontrak di tahun 1988 bersama Sub
Pop, sebuah label rekaman asal Seattle, AS. Pada masa itu Seattle digambarkan
sebagai sebuah kota yang sangat miskin, berpenduduk kaum pekerja, sebuah
tempat dengan segala kekurangan. Sebuah kota kelas dua dengan music scene aktif
yang diabaikan media AS. Dibandingkan Los Angeles yang era itu menjadi pusat musisi hard rock dan glam metal, gaung Seattle kurang gahar. Di
kota inilah istilah grunge pertama kali diucapkan oleh Mark Arm, vokalis band
Seattle, Green River (kemudian menjadi Mudhoney) di tahun 1981 dan muncul
menjadi genre sempalan musik rock. Grunge secara harafiah berarti
lemah, jorok, dan berlumpur. Konon, Kurt dikabarkan kurang suka dengan label
grunge pada musiknya. Ia lebih suka disebut sebagai seorang punk daripada
vokalis grunge. Label itu bisa jadi ada kaitannya dengan tembang-tembang dalam album Bleach yang
diilhami sebuah poster anti AIDS tentang seorang pecandu sedang
menyuntikkan heroin ke lengannya. Orang yang suka menyakiti dirinya sendiri
akan selalu dianggap lemah, ya nggak? Dan Kurt ternyata bukan satu-satunya
orang yang merasa dirinya lemah.
Kemiskinan bisa membuat orang merasa
tak berdaya, itu bukan berita baru. Bagaimana jika perasaan tak berdaya itu
bersarang di hati para muda? Sudah jelas para orang tua akan merasa
kebingungan. Apa jadinya bangsa dan negara kita ini nanti, dsb? Sebuah situs menyatakan, ada tujuh tanda yang dimiliki
orang berkepribadian lemah. Katanya, orang lemah adalah mereka yang sering komplain pada keadaan, mudah marah, menyerah tanpa berusaha, tak mau keluar
dari zona nyaman, iri pada kesuksesan orang lain, dan mengabaikan saran orang
lain. Jika tanda-tanda di atas dibaca oleh seseorang, dua orang, tiga orang atau sekelompok
orang yang ingin memprotes kenaikan sebuah tarif, sedang emosi karena terjebak
macet, tidak berbicara dalam debat untuk menghindari ketegangan, selama
bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang sama karena tidak ada pekerjaan lain
yang tersedia, hendak memprotes seseorang yang sukses karena memiliki bukti bahwa karya si orang sukses adalah hasil plagiasi, dan bersikap hati-hati memilih nasihat, mungkin untuk sesaat ia
akan merasa dirinya lemah. Dua masa transisi terjadi pada saat yang bersamaan menumbuhkan kesadaran terhadap ketertindasan. Sedangkan ketertindasan, menurut pandangan beberapa orang, seharusnya sudah cukup mampu mengubah
kelemahan seseorang menjadi kekuatan. Bukankah dari ketertindasan akan muncul
pembela kebenaran, persis seperti kisah film superhero? Menurut pandangan yang
cukup dipercaya generasi muda pada saat itu, tak perlulah menjadi pahlawan.
Sudah bisa bertahan hidup saja sudah bagus.
Beruntunglah Kurt mendapat pengetahuan
musik klasik semasa kecilnya. Ketakberdayaannya diekspresikan
dalam bentuk lagu, direkam, lalu diperdengarkan dan dimainkan di depan
anak-anak muda Seattle lainnya. Para penonton pun terperangah, terhipnotis
untuk berteriak bersamanya. Album kedua Nevermind dirilis pada 1991, berhasil
merajai puncak teratas tangga lagu di seluruh dunia selama 252 minggu, menjadi
salah satu album rock terlaris sepanjang masa. Pencapaian fenomenal Kurt dan
kawan-kawannya membuat anak muda Seattle ikut merasa bangga. Sebuah scene termarjinalkan berhasil mencatatkan namanya di peta musik internasional.
Seorang pemadat lulusan SMA dari keluarga berantakan menjelma menjadi rock star,
siapa yang menyangka? Orang lemah tidak
akan terpuruk selamanya, itulah yang dipercaya sekian anak muda kala itu. Akan ada masa ketika orang
lemah bisa menegakkan kepala. Happy ending yang manis? Ternyata
belum.
Inferior vs Superior
Mirip seperti punk yang menjadi
akarnya, grunge pun tumbuh sebagai subkultur. Band-band grunge awal merekam
musik mereka di studio berbujet rendah, memproduksi zine fotokopian atau
tulisan tangan, dan menulis lagu-lagu bertema ingin bebas, pertentangan antar
kelas sosial dan atau kemurkaan. Pada saat yang sama mereka, termasuk Kurt,
juga menulis lirik tentang keputusasaan, bunuh diri, depresi, kekerasan
seksual, kehancuran rumah tangga, kecanduan narkoba, dan kebencian pada diri
sendiri. Kemurkaan terhadap kondisi sekitar yang sama kuatnya dengan kemurkaan terhadap
diri membuat mereka membutuhkan banyak energi untuk tetap bisa mengekspresikan
ketidakpuasan ke dua arah yang berbeda. Ditambah dengan sugesti kaum lemah
yang telah terlanjur tertanam sejak awal, mereka mudah merasa lelah jiwa raga dan mudah kehabisan energi untuk mengekspresikan ide-ide yang berteriak dalam kepala. Di tengah kelelahan
itu heroin muncul sebagai obat kuat, sebagai substansi yang (menurut kesaksian seorang mantan pecandu) : ‘Rasanya seperti ledakan kecil kenikmatan
murni. Semua terasa indah dan penuh rahmat. (Setelah menggunakan heroin) Aku
mencintai segalanya.’
Tak ada halangan bagi batin yang
tenang untuk menghasilkan karya-karya luar biasa. Akan tetapi ketenangan itu
dicapai berkat campur tangan pihak ketiga, yaitu si heroin. Sama seperti
seorang lulusan SMP dengan NUN biasa-biasa saja yang berhasil masuk SMA favorit
melalui ‘jalan belakang’. Sama-sama dipaksa bertindak melampaui batas
kemampuannya. Pun heroin adalah zat kimia yang membuat penggunanya merasa
kurang ‘tinggi’ berapapun takaran yang dikonsumsi. Pada takaran tertentu
penggunaan heroin bisa menyebabkan seseorang tidak hanya teler berat, tapi juga
menjemput ajal. Jenazah Kurt Cobain ditemukan tiga hari setelah ia meninggal
pada 8 April 1994 dengan luka tembak di kepala dan heroin melebihi ambang batas
normal dalam tubuhnya. Diduga Kurt (yang di kemudian hari diketahui menderita
sindroma bipolar) mengalami depresi berat akibat kesuksesan fenomenal Nirvana.
Masa kecil yang kurang bahagia meninggalkan jejak inferiority complex dalam
diri Kurt. Sebuah kecenderungan di mana seseorang merasa dirinya tidak
berharga, takut gagal, ragu dan tidak pasti tentang dirinya sendiri, merasa
dirinya tidak seperti standar yang berlaku. Keberhasilan menjadi rock star
membuat Kurt menemukan apa yang ia cari selama ini, rasa bangga pada diri
sendiri. Ia memang telah berusaha keras mempertahankan rasa bangga itu tetap
ada, yaitu dengan menciptakan musik untuk bandnya. Namun, ia telah memilih
jalan yang salah karena mengandalkan bantuan pihak ketiga (heroin) agar tetap bisa berkarya.
Banyak cara yang dilakukan manusia
untuk menutupi kelemahan mereka, terlepas apakah kelemahan itu benar-benar ada
atau hanya ada dalam pikiran mereka sendiri. Jika Kurt dan beberapa anak muda
mencoba mengatasi rasa lemah dengan melarikan diri dalam pelukan heroin, ada
sebagian orang yang menempuh jalan sebaliknya. Mereka mencoba membuat masyarakat sekitar melupakan fakta bahwa
mereka memiliki kekurangan. Caranya adalah dengan memamerkan apa saja
yang mereka miliki. Entah itu harta, keindahan fisik, kesuksesan dalam karir,
pasangan yang cantik, anak-anak yang lucu, kecerdasan, dll. Kecenderungan ini merupakan kebalikan dari inferiority complex yang
disebut superiority complex. Para ahli psikologi pun sepakat bahwa superiority complex adalah mekanisme bertahan seseorang dengan inferiority complex sebagai upaya aktualisasi diri di masa-masa sulit. Superiority complex jauh lebih berbahaya karena seseorang yang memilikinya bisa melakukan apa
saja demi mempertahankan superioritasnya. Agar meraih sukses untuk selamanya,
ia tak segan membabat habis apa saja yang menghalangi jalannya. Perbedaan
prinsip dan pandangan adalah haram. Kritik dipandang sama dengan hinaan dan
wajib dibasmi sampai ke akar-akarnya, tak peduli akar itu bernyawa atau tidak. Sungguh luar biasa bukan apa yang bisa
dilakukan seorang manusia demi menutupi kelemahannya?
(swastantika)
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...


