Kamis, 02 Juni 2016
Senin, 23 Mei 2016
WARISAN BOM WAKTU
“Death
is not the end”
Apa yang terjadi ketika seseorang berhenti bernafas untuk selamanya?
Tidak, kita tidak akan bicarakan tentang kemana nyawanya akan pergi. Neraka dan
Surga memang dikenal di hampir semua agama, tapi tak ada seorang pun di antara
kita yang tahu kebenarannya. Jangan sebut saya ateis loh. Kenyataannya, kita
semua masih hidup bukan? Karena kita masih hidup, maka belum ada seorang pun di
antara kita yang pernah pergi ke sana. Belum ada juga yang kembali dari sana
dan menceritakannya buat kita semua di bawah sini. Tapi, sudahlah. Bukan itu
tujuan saya membuat tulisan ini.
Waktu manusia mati, nyawanya memang telah pergi. Sedangkan tubuhnya masih tertinggal di bumi, dan membusuk bersama dengan waktu. Orang-orang akan bicara tentang dia dan sepak terjangnya waktu masih hidup. Ada juga yang mendoakannya pada tiap 7, 40, 100 hingga 1000 hari setelah kematiannya. Jika dia seorang public figure, kisah hidupnya akan berhari-hari menghiasi layar kaca dan media sosial. Beberapa tahun sesudahnya mungkin ada yang menulis buku tentang dia, membangun monumen atau menamai anjing kesayangan dengan namanya. Singkat kata, seseorang yang pergi ke alam baka pasti meninggalkan sesuatu di belakang.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan hutang. Bukan maksud saya menertawakan ketidakberuntungan seseorang. Lagipula, sejak kapan gading gajah utuh dibiarkan menempel di sana ketika gajahnya mati? Bukankah dalam banyak kasus perburuan liar gajah harus mati dulu dengan cara disembelih agar bisa diambil gadingnya dengan paksa, dan sekelompok pejantan akan bersedia membelinya dengan harga mahal demi meningkatkan kejantanan mereka?
Memendam bom waktu rahasia
Rayuan materi yang semakin menggila bisa menghanyutkan orang pada dua
samudra. Samudra dengan ombak tenggat waktu yang ganas dan tak putus-putus,
buih-buih ketenaran dan gelombang pujian. Orang-orang itu berpikir, hidup adalah mereka dan apa yang ada di diri mereka.
Hidup adalah hari ini, maka nikmatilah dan kejarlah kegemilangan sebelum mati.
Kegemilangan bisa dicapai dengan berbagai cara, tapi cara yang sedang ngetren
belakangan ini adalah menghalalkan segala cara. Jikalau perlu dan berpeluang,
mereka akan membuat dasar hukum yang bisa melegitimasi cara ‘menghalalkan
segala cara’.
Suatu saat nanti, anak, cucu, anak dari cucu kita dan cucu dari cucu kita mungkin masih akan menerapkan cara menghalalkan segala cara, bahkan mungkin sudah mengupgradenya hingga ratusan ribuan versi. Itu karena mereka adalah generasi penerus yang baik, generasi pewaris nan setia pada ajaran generasi pendahulu yang lebih dulu menerapkannya.
Suatu saat nanti, anak, cucu, anak dari cucu kita dan cucu dari cucu kita mungkin masih akan menerapkan cara menghalalkan segala cara, bahkan mungkin sudah mengupgradenya hingga ratusan ribuan versi. Itu karena mereka adalah generasi penerus yang baik, generasi pewaris nan setia pada ajaran generasi pendahulu yang lebih dulu menerapkannya.
Mereka mungkin juga masih ingat pepatah yang kurang lebih berbunyi seperti ini dalam bahasa Jawa : ‘mikul dhuwur mendhem jero.’ Artinya, memikul tinggi-tinggi mengubur dalam-dalam. Seorang anak atau warga Negara sebaiknya mengubur dalam-dalam keburukan, kekurangan maupun aib orangtua atau masyarakat tempat di mana ia tinggal. Menjelek-jelekkan para pendahulu sama dengan melestarikan dendam dan permusuhan. Pepatah ini disebarluaskan dengan tujuan agar semua individu segera move on dari peristiwa pahit apapun dan mengharumkan nama baik keluarga atau Negara.
Kewajiban ‘demi mengharumkan nama …’ dibebankan kepada semua warga
Negara, tua, muda, anak-anak, bahkan mereka yang belum lahir juga mendapat
hadiah ini. Kebiasaan mengubur dalam-dalam membuat kita lupa, apakah melupakan
peristiwa pahit dan menganggapnya tak pernah ada adalah cara terbaik untuk
mencegah peristiwa pahit serupa tidak terulang lagi?
Pembuat pepatah ini mungkin benar-benar hidup di masa lalu, di mana
fenomena supranatural seperti sebuah peristiwa yang mendadak muncul dan
menghilang adalah sesuatu yang biasa. Namun, waktu terus berjalan. Hantu bukan
lagi tercipta dari arwah penasaran, melainkan efek animasi. Peristiwa buruk
terjadi bukan karena seseorang sedang mempraktekkan ilmu hitam, melainkan hasil
dari sekumpulan peristiwa yang saling berkaitan.
Kita menjadi bangsa terbelakang bukan karena bodoh atau gagap
teknologi. Kita terlalu banyak menyimpan sampah, sehingga tak ada ruang dalam
istana pikiran kita untuk menanam hal-hal baik yang lebih konstruktif. Terlalu
banyak aib dan peristiwa buruk yang dikunci dalam brankas, disimpan dan
ditumpuk sampai tinggi, sampai tak ada brankas apapun yang bisa menyimpannya. Akan
tiba saatnya brankas itu akan meledak karena terlalu banyak rahasia yang
disimpan di dalamnya. Kita sedang membuat bom waktu dan kita tak tahu kapan bom
ini bisa meledak.
Melestarikan ‘peninggalan’ para pendahulu
Melestarikan ‘peninggalan’ para pendahulu
Ada kemungkinan Bumi ini akan hancur bukan karena bencana alam, bukan
juga karena tertelan Black Hole. Melainkan akibat semakin meningkatnya jumlah
orang yang tidak sadar kalau mereka sedang sakit jiwa. Mereka juga bukan orang
gila sembarangan yang benar-benar tak tahu siapa dirinya dan dibuang
keluarganya jauh-jauh. Golongan yang saya maksud bertingkah seperti orang
normal dan berpikir delusional. Mereka menjadi gila karena kehilangan kemampuan
menerima dan memahami mana yang impian dan mana yang kenyataan. Bagaimana pun
juga, segila-gilanya orang gila ia tidak berbahaya bagi siapapun, atau Negara
manapun. Orang yang merasa benar padahal dirinya salah, itulah orang yang
paling berbahaya di muka Bumi ini.
Apakah salah kalau saya simpulkan para pendahulu kita itu ternyata
sekelompok orang egois dan paranoid? Mereka telah lama tiada dan tak perlu
menanggung konsekuensi dari prinsip selalu menyimpan aib rapat-rapat. Kematian
telah menyelamatkan muka orang-orang semacam ini karena mereka tak harus
menyaksikan di kala banyak orang beramai-ramai menumpahkan kesalahan padanya.
Lebih baik mati daripada menanggung malu. Jadi sekarang kita tahu kan, depresi
bukan satu-satunya pemicu tindakan bunuh diri.
Saya pernah membaca sebuah diskusi di jejaring sosial Quora yang membicarakan tentang seperti apa rasanya menjadi keturunan dari nenek moyang yang pernah melakukan perbuatan buruk dan memalukan. Para penjawab pertanyaan ini mengakui mereka adalah keturunan dari keluarga tidak baik-baik. Ada yang kakek moyangnya perampok bank, suka menyiksa anak-anak, pedagang budak, terlibat Nazi, penggiat Klu Klux Klan dan ada juga yang pernah terlibat penculikan dan penyiksaan kaum komunis di Brazil.
Saya pernah membaca sebuah diskusi di jejaring sosial Quora yang membicarakan tentang seperti apa rasanya menjadi keturunan dari nenek moyang yang pernah melakukan perbuatan buruk dan memalukan. Para penjawab pertanyaan ini mengakui mereka adalah keturunan dari keluarga tidak baik-baik. Ada yang kakek moyangnya perampok bank, suka menyiksa anak-anak, pedagang budak, terlibat Nazi, penggiat Klu Klux Klan dan ada juga yang pernah terlibat penculikan dan penyiksaan kaum komunis di Brazil.
Mereka mendeskripsikan semua hal buruk yang pernah dilakukan pendahulunya dengan sangat detil, hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi di sini. Mereka tidak merasa bersalah atau merasa bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan nenek moyang mereka. Mengapa harus merasa bersalah atas perbuatan anggota keluarga yang telah mati berpuluh tahun sebelum mereka lahir?
Mereka tahu perbuatan yang dilakukan para nenek moyang jauh dari benar,
dan mereka mengakuinya. Sifat alami manusia, kata mereka, adalah tidak luput
dari kesalahan. Semua yang alami itu memberi kehidupan, tapi sifat alami
manusia cenderung untuk selalu merusaknya. Apakah kita bisa menerima alasan ‘sifat
manusia yang tak luput dari kesalahan’, atau ‘manusia tak ada yang sempurna’
ini sebagai alasan untuk menjustifikasi kesalahan para nenek moyang, untuk
menguburnya dalam-dalam sampai ke dasar dunia?
Tentu bisa. Tapi kesalahan yang mana? (swastantika).
Senin, 14 Desember 2015
Pahlawan Berkepribadian Ganda
Siapa
sih dia? Mengapa dia dijuluki pahlawan, dan mengapa pula dia harus kita akui
sebagai pahlawan? Kita sebenarnya sudah tahu apa jawaban pertanyaan-pertanyaan
itu. Hanya saja, pahlawan dalam dunia nyata sering kali menimbulkan pro dan
kontra dan bukannya kekaguman seperti yang kita rasakan pada para tokoh
superhero dunia khayalan. Selaras dengan sebuah pertanyaan klasik, ‘mengapa
seseorang yang membunuh musuhnya dalam perang dianggap pahlawan, sedangkan
seseorang yang membunuh musuhnya dalam perkelahian di bar disebut pembunuh?’
Industri
komik dan animasi melahirkan ratusan tokoh superhero setiap tahun, bahkan
mungkin setiap minggu. Tapi saya hanya mengenal satu dan dia bernama Batman. Buat
saya dialah satu-satunya superhero yang mendekati kenyataan karena dia tak
punya kekuatan super yang jatuh dari langit, namun syukurlah ia anak orang kaya
sehingga tak pernah kekurangan uang untuk meneruskan hobinya menegakkan
kebenaran.
Di
siang hari Bruce Wayne adalah seorang pebisnis, milyuner yang dikelilingi
banyak wanita dan pusat perhatian media massa. Di malam hari ia suka
berjalan-jalan sendiri, berkostum hitam-hitam, berdiri di atap gedung tinggi
mencari-cari orang jahat yang mengganggu ketertiban umum.
Mengapa Bruce mau capek-capek
menangkap maling di kala semua orang sedang tertidur? Apakah karena ia memang
bercita-cita jadi polisi sejak kecil karena kedekatannya dengan Jim Gordon,
seorang polisi yang menemaninya tepat di saat orangtuanya terbunuh? Atau karena
ia benar-benar ingin mengamankan situasi Gotham, karena suasana kacau tak baik
untuk bisnis? Atau mungkin karena ia
menderita dissociative personality disorder (gangguan kepribadian terbelah)
akibat trauma masa kecil?
Jauh
sebelum Bob Kane menciptakan Batman, ratusan tahun sebelumnya kitab Mahabharata
sudah muncul duluan dan kita bisa menemukan banyak sekali tokoh penyelamat di
dalamnya dengan permasalahan personal mereka sendiri. Di sisi Pandawa kita
pasti udah kenal sama yang namanya Arjuna, si pahlawan yang gagah perkasa dan
ganteng pula. Namun semua kekuatannya seakan sirna dan ia seakan lumpuh ketika
istrinya, Drupadi, (atau kakak iparnya kalo menurut versi Jawa) dipermalukan di
depan umum dalam permainan dadu. Seperti Bruce Wayne, Arjuna disinyalir juga
mengalami dissociative personality disorder karena ia berhasil menyamar menjadi
banci bernama Brihanala selama dua tahun tanpa ketahuan saat menjalankan misi
penyamaran di Kerajaan Wirata.
Dari
sini kita bisa mengumpulkan berbagai persamaan dari dua tokoh legendaris dari
jaman yang berbeda, sama-sama gagah, pembela kebenaran, ganteng, pujaan wanita,
kaya, terkenal, tapi juga sama-sama berkepribadian ganda/ terbelah, dan
dua-duanya juga sanggup melakukan apapun demi menaklukkan musuhnya, termasuk
membunuh. Singkat kata, ketidaksempurnaan itu selalu ada di setiap makhluk,
termasuk pada para pahlawan.
Harapan, sumber segala bencana
Ketika
kita masih anak-anak, dunia tampak lebih indah karena kita belum tahu pahit
getirnya mencari nafkah, maupun dendam membara akibat cinta yang ditolak. Kita
dididik untuk selalu condong pada sisi kebenaran, sisi orang baik-baik, karena
orangtua mana yang tak hancur hatinya melihat anaknya menderita akibat
perbuatan yang salah. Karena penjara pasti akan penuh sesak jika semua anak di
dunia ini menjadi penjahat.
Akan
tetapi, dunia nyata, sekali lagi, seringkali bertolak belakang dari konsep
kehidupan ideal yang sudah ditanamkan dalam otak kita sejak usia dini. Dalam
kehidupan nyata kejahatan lebih sulit ditaklukkan, karena para penjahat selalu
mempunyai cara baru untuk menjalankan misinya, selalu bisa mencari
kolega-kolega baru untuk mencapai tujuannya. Tujuan mereka pun semakin
bervariasi, mulai dari memperkaya diri atau sengaja berbuat onar atas perintah
penjahat yang jauh lebih jahat dari dirinya atau seseorang penjahat lain yang
(ternyata) menderita sindrom kepribadian terbelah, yaitu ingin menjadi orang baik
dengan cara yang jahat.
Dalam
jiwa seseorang semacam ini tersembunyi harapan dan cita-cita yang tinggi, namun
ia ogah bekerja keras untuk mencapai tujuannya. Cara singkat yang dipilihnya
juga bervariasi, mulai dari menjual jiwanya kepada iblis, hingga menjual
nuraninya kepada uang. Dari menjual sensasi demi ketenaran, sampai menjual alam
kepada pemilik modal. Maka orangtua sebaiknya jangan menaruh harapan yang
terlalu tinggi kepada anak, kecuali Anda bisa mengetahui karakternya sejak ia
dilahirkan. Harapan yang tinggi memang baik untuk dijadikan motivasi, tapi
bukan itu saja yang bisa dilakukan sebuah hal bernama harapan.
Dilihat
dari arti katanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harap berarti keinginan
akan sesuatu agar terjadi. Sedangkan keinginan ada kaitannya dengan nafsu,
dengan sesuatu yang tidak kita miliki saat ini tapi kita berandai-andai agar
sesuatu itu ada dan menjadi milik kita. Saat mencermati asal katanya saja kita
sudah bisa menyimpulkan, harapan cenderung menyesatkan dan menjadi beban hati
karena dengan berharap kita mengarahkan diri kita untuk mendekati khayalan
tentang apa yang tidak/ belum kita miliki saat ini sehingga menjauhkan diri
dari kenyataan.
Percaya
atau tidak, penggemar DC Comics yang berusia dewasa telah mengganti pahlawan
mereka dari Batman menjadi Joker. Mereka bilang, Jokerlah yang sebenarnya
pantas dianggap pahlawan. Apakah mereka juga gila seperti Joker? Mungkin tidak,
mereka mungkin hanya menderita putus asa berkepanjangan melihat segala kekacauan
terus berlangsung di dunia dan tak pernah ada Batman yang cukup perkasa untuk
mengalahkan mereka semua.
Satu alasan yang membuat fans mengidolakan Joker adalah kelihaiannya merancang satu bom untuk membumihanguskan Kota Gotham dalam waktu singkat. Saat Kota Gotham dihancurkan, orang baik mungkin akan banyak yang mati, tapi orang jahat juga banyak yang mati kan? Hukum sudah gagal menjalankan khittahnya sebagai payung penjamin keadilan umat manusia, kenapa nggak kita coba sebuah cara baru yang lebih cepat, tepat dan ‘fun’? Mungkin itu yang mereka pikirkan.
Satu alasan yang membuat fans mengidolakan Joker adalah kelihaiannya merancang satu bom untuk membumihanguskan Kota Gotham dalam waktu singkat. Saat Kota Gotham dihancurkan, orang baik mungkin akan banyak yang mati, tapi orang jahat juga banyak yang mati kan? Hukum sudah gagal menjalankan khittahnya sebagai payung penjamin keadilan umat manusia, kenapa nggak kita coba sebuah cara baru yang lebih cepat, tepat dan ‘fun’? Mungkin itu yang mereka pikirkan.
Ya,
harapan mereka akan kehidupan yang lebih baik ternyata hampa belaka dan palsu.
Menyalahkan para pemimpin lokal dan dunia tiada berarti lagi. Karena mereka,
para pemimpin, itu sudah depresi dan tak mampu lagi mendengar suara apapun
selain suaranya sendiri. Menyesali tindakan atau aktivitas berharap yang dulu
pernah kita lakukan, atau menyesali harapan yang tersia-sia, atau menyesali
keputusan karena berharap pada seseorang yang ternyata tidak capable tidaklah
cukup. Cara mengatasi kesemerawutan ini hanya ada satu jalan, yaitu jangan berhenti
berjalan dan jangan berharap lagi.
Strategi rayuan gombal
Kita
tahu orang Jawa jaman dahulu selalu meletakkan keris, senjata andalannya, di
punggung. Mengapa harus di punggung? Mengapa tidak diselipkan di dada, atau di
pinggang? Meletakkan senjata tajam di pinggang memang tampak lebih praktis
karena senjata lebih mudah dijangkau. Tapi musuh dapat dengan mudah membaca
gesture tubuh Anda yang bersiap hendak menyerang dan ia bisa lebih dulu
menyerang Anda.
Lain hal kalo kita meletakkan senjata di punggung. Musuh di depan tidak bisa melihat apakah kita membawa senjata atau tidak. Dia juga tidak bisa memastikan apakah tangan kita sedang garuk-garuk punggung atau mencomot senjata. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar mengamati musuh dan memutuskan saat yang tepat mencabut keris dengan perkasa.
Strategi ini sesuai sekali dengan karakter orang Jawa yang lemah lembut dan cenderung menjaga perasaan orang lain. Untuk menghindari konfrontasi mereka tak segan menampakkan persetujuan, meski dalam hatinya memberontak. Namun tujuan strategi keris pun telah bergeser seiring dengan berlalunya waktu.
Lain hal kalo kita meletakkan senjata di punggung. Musuh di depan tidak bisa melihat apakah kita membawa senjata atau tidak. Dia juga tidak bisa memastikan apakah tangan kita sedang garuk-garuk punggung atau mencomot senjata. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar mengamati musuh dan memutuskan saat yang tepat mencabut keris dengan perkasa.
Strategi ini sesuai sekali dengan karakter orang Jawa yang lemah lembut dan cenderung menjaga perasaan orang lain. Untuk menghindari konfrontasi mereka tak segan menampakkan persetujuan, meski dalam hatinya memberontak. Namun tujuan strategi keris pun telah bergeser seiring dengan berlalunya waktu.
Di
masa lalu orang menyimpan keris di belakang punggung dengan tujuan untuk
membela dan mempertahankan diri. Di masa kini orang menyimpan wajah buruknya di
belakang punggung agar dapat merayu seseorang jatuh dalam pelukannya dan memberikan
apa yang ia inginkan.
Demi
meraih tujuan mereka mampu bersikap baik dan memasang senyum selebar mungkin untuk
menutupi sadisme dalam dirinya. Apakah sebutan yang patut kita berikan pada
orang yang tetap mampu tertawa lebar setelah membunuh ratusan jiwa manusia?
Ironisnya,
sindrom ini telah menyebar luas ke berbagai tempat belakangan ini. Di dalam
komik seorang tokoh memanfaatkan gangguan jiwa yang dialami akibat kepribadian
terbelah untuk membasmi kejahatan. Di dunia nyata seseorang bisa tampil bak
malaikat dengan tujuan membaik-baikkan dirinya dan menutupi perbuatan jahat
yang dilakukannya di belakang layar. Sekarang siapa yang lebih terganggu
jiwanya, mereka yang ada di rumah sakit jiwa atau mereka yang setiap hari
tampil di televisi sebagai pejabat dan politikus?
Tulisan
ini saya tutup dengan sebuah kesimpulan, bahwa berterus terang bahwa kita ini
adalah orang jahat ternyata lebih sulit daripada berterus terang kita ini orang
baik. Sebuah noda tak akan pernah hilang dengan hanya disembunyikan. Layar yang
menutupi noda itu harus diangkat dan terlihat sebelum kita bisa memutuskan apa
yang sebaiknya kita lakukan untuk membersihkan npda itu untuk selamanya.
(swastantika)
Selasa, 25 Agustus 2015
Kamis, 20 Agustus 2015
KEMBALI KE AKAR
“Why
do we fall, Sir?” (A. Pennyworth)
Ya, ‘why do we fall? (kenapa kita tersungkur?). Jaman dulu para pengasuh bayi
akan memukul lantai, meja atau apapun karena gara-gara benda-benda mati itulah
si anak balita terjatuh, sambil mengatakan “Oh, mejanya nakal sih. Nih biar
Emak pukul,” atau sejenisnya. Padahal meja, lantai, kursi, batu, dsb sudah
berdiam diri di sana sejak sebelum si anak bermain di sekitarnya, bahkan ada
juga yang sudah membatu di tempat yang sama sejak si anak belum lahir. Kecuali,
tentu saja, rumah yang dihuni anak dan pengasuhnya ini dihuni oleh makhluk
halus yang gemar memindah-mindahkan barang tanpa sepengetahuan pengasuh maupun
si anak itu sendiri. Sejak detik itulah si anak akan terbiasa dengan perasaan
bahwa kesialan yang menimpanya bukan akibat kecerobohannya melainkan
kecerobohan orang lain, atau bisa juga kecerobohan si hantu yang usil.
Beratnya mengakui sejarah
Beratnya mengakui sejarah
Sejak masih sekolah kita selalu diajarkan tentang pelajaran sejarah yang dari
tahun ke tahun isinya tetap sama, dan sedikit berubah semenjak Mei 1998, terus
berubah lagi setiap ada pergantian presiden dan para menterinya. Selama itu
pula kita diajarkan untuk membenci para penjajah karena kerakusan mereka maka
nenek moyang kita menderita selama 350 tahun. Karena kekejaman mereka nenek
moyang kita tewas bukan di medan perang, tapi dalam perbudakan menjadi tenaga
kerja paksa tanpa upah dan makanan yang layak.
Saya
yakin para penjajah tersebut adalah orang-orang baik di negara asalnya, di
kampungnya dan di rumahnya masing-masing. Apakah mungkin hawa panas katulistiwa
ini yang membuat mereka menjadi ‘haus darah’? Itu bisa jadi. Karena berdasarkan
sebuah penelitian di akhir tahun 2014 pemanasan global telah membuat banyak
orang semakin emosional dan meningkatkan angka kriminalitas.
Tapi
di awal abad ke-20, di saat-saat awal di mana menjajah adalah sebuah mainstream di kalangan negara-negara
maju, global warming belum menjadi
sebuah tren karena jumlah pabrik lebih sedikit, mobil-mobil lebih sedikit dan
jumlan manusia yang lebih sedikit. Kalau begitu, apa mungkin para penjajah itu
tidak memiliki keimanan yang kuat sehingga mereka dirasuki iblis banaspati yang saat itu konon masih
berkeliaran di hutan-hutan, dan berubah menjadi monster tanpa peri kemanusiaan?
Lalu
di manakah para raja domestik kita berada, sebegitu teganyakah mereka berdiam
diri melihat penderitaan rakyat dan menyerahkan daerah kekuasaannya yang mampu
menghasilkan emas kuning, hitam, coklat dan abu-abu ke tangan pendatang yang
sok jago secara sukarela? Ya, benar. Beberapa orang raja lokal. Bahkan
seandainya sejarah yang benar di
negara kita tak pernah tertuliskan, kita masih bisa mengambil kesimpulan dengan
menggunakan logika. Bahwa ada sebagian oknum
penguasa (di masa lalu, kini dan nanti) yang memang telah dengan sengaja
membiarkan, melegalkan dan mempersilakan Tanah Airnya untuk dijajah.
Untuk
dapat mengungkap siapa sajakah di antara para nenek moyang kita yang telah
melakukan kekhilafan fatal tersebut, pertama-tama dibutuhkan pikiran terbuka
dan kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Karena kita mungkin akan terpana
begitu mengetahui siapa saja para raja lokal yang pernah bekerja sama dengan
penjajah dari negara lain, memperluas wilayah kekuasaan dengan menjajah
kerajaan-kerajaan kecil, merebut takhta dengan jalan kekerasan, menyebarkan
agama dengan paksaan, beristri lebih dari satu dan alkoholik. However, para nenek moyang kita hanyalah
manusia biasa yang tak sempurna. Sejarah yang benar dituliskan bukan untuk mem-bully mereka yang telah pergi ke Nirwana. Bukan juga untuk
mempermalukan anak dan keturunan mereka dalam pergaulan sosial.
Melainkan
sebagai bahan renungan, cerminan, refleksi dan pelajaran berharga tentang
keabadian hukum sebab akibat. Bahwa sebab seseorang tidak mengakui telah
melakukan kesalahan, terjerembablah ia di lubang kesalahan yang sama di masa
depan. Meski manusia telah diberikan pelajaran tentang mana yang benar dan
salah sejak berusia dini, tetap saja ia hanya mendengar apa yang ingin ia
dengar. Tak masalah jika yang ingin didengarnya adalah ‘kebenaran’. Tapi
bagaimana jika yang ingin ia dengarkan adalah ‘aku yang benar’? Bersiaplah saja
untuk mengucapkan selamat tinggal pada kebenaran karena kita tak akan pernah
menemukannya di manapun selama kita tak rela bernenekmoyangkan orang-orang yang
tidak suci.
(Pura-pura) Bangkit dari kejatuhan
Tapi
.. tunggu dulu. Cobalah kita perhatikan siklus yang terjadi di sekitar tuntutan
terhadap pelurusan sejarah negeri ini. Suatu hari pihak sini membatu terhadap
pertanyaan tentang di manakah anak, ayah, ibu, saudara, kakek, nenek, tetangga,
kekasih dan mantan pacar mereka yang hilang tanpa kabar dan tak jelas apakah
mereka sudah jadi tulang belulang ataukah masih hidup. Tunggulah beberapa hari
kemudian (biasanya) akan muncul sekonyong-konyong massa yang tak jelas dari
mana asalnya atau silsilah berdirinya menuntut pemberangusan, pencekalan dan
pembasmian paham komunisme.
Saya
mengira massa ini hidup di tengah masyarakat tanpa televisi, radio, smartphone
dan internet karena mereka tidak mengerti bahwa komunisme sudah tamat sejak
satu dekade lalu. Mereka (mungkin) telah hidup dengan sangat berkecukupan,
makan 3 kali sehari pakai daging sapi, beras rojolele, pergi kemana-mana naik
mobil, anak-anak mereka kemungkinan bersekolah di sekolah swasta terbaik yang
membebaskan orangtua siswa dari segala pungutan, rumah mereka besar dan ber-AC
dan listrik gratis. Massa yang hidup mewah tak punya waktu memikirkan apa yang
musti dimakan atau dari mana dapat uang esok hari karena semua sudah tersedia.
Sehingga pikiran mereka bernostalgia ke masa lalu, ke masa yang hanya hidup
dalam cerita para elders, tepat di
tahun 1965 ketika mereka masih balita (atau mungkin belum lahir) dan mengenang
paranoia yang dirasakan segelintir orang saat itu.
Bisa
jadi para elders mereka adalah
penderita buta warna, karena tak bisa melihat warna merah darah para korban
yang mengotori sungai-sungai di berbagai kota di Jawa. Mungkin mereka juga
tuli, lantaran tak bisa mendengar suara tembakan senapan dan jeritan para
korban pada malam-malam paling kelam dalam sejarah sebuah negara bernama
Indonesia. Saya nggak akan bilang begini jika saya tak punya bukti, Jendral.
Karena
negara tak pernah mengakui bahwa 1965 adalah sebuah kesalahan, maka
terulangilah kesalahan itu lagi di tahun-tahun berikutnya. Anda pasti sudah
tahu peristiwa apa sajakah itu. Please,
jangan paksa dan buat hati saya sedih karena menyebutkan peristiwa-peristiwa
tersebut satu per satu. Jika peristiwa-peristiwa semua bukanlah kesalahan, lalu
apa? Retorika yang dibuat oleh pihak sana yang tak ingin mengakuinya hanya
makin mengukuhkan kesan bahwa mereka tahu kebenarannya, kebenaran yang sangat
menyakitkan untuk diakui sebagai sebuah kenyataan.
Bukti?
Ya, ibaratnya begini: peringatan 17 Agustus beberapa waktu lalu menumbuhkan
semacam keyakinan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang menghargai
jasa para pahlawannya, bla bla bla. Sebagai bangsa dengan adat ketimuran yang
tinggi dan menjunjung tinggi harkat serta martabatnya dalam pergaulan
internasional tentu akan malu jika memiliki noda hitam yang tak bisa dicuci
seperti peristiwa-peristiwa unexplained
tersebut dan akan bertindak untuk mengakhiri siksaan rasa malu itu selamanya.
Tapi
kita adalah bangsa yang sangat praktis, segala sesuatu dilihat dari nilai
ekonomi, jadi kalo nggak menguntungkan dari sisi ekonomi ya tinggalkan saja.
Mengapa pola pikir praktis itu tidak terlihat dalam upaya penyelesaian
peristiwa-peristiwa kelam? Jangan-jangan kita memang sebenarnya hanya
pura-pura; pura-pura pintar, pura-pura praktis dan pura-pura berharkat dan
martabat tinggi.
Saran
saya, Pak Bos, gunakanlah isu-isu yang lebih sophisticated lagi, lebih kekinian agar kebangkitan dari kejatuhan
yang pura-pura itu bisa menjadi kenyataan dan kita tak perlu lagi menjadi
bangsa yang berpura-pura memiliki harkat dan martabat tinggi. Isu komunisme itu
sudah out of date, dan kini para
arwah korban unsolved tragedies penghuni alam baka
mungkin sedang menertawakan Anda, saya dan kejatuhan kita berulang kali di kesalahan yang sama . (da)
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
-
Peristiwa besar dan membekas, salah satunya bencana alam, dapat menjadi faktor yang mendorong perubahan mindset suatu kelompok masyarakat m...
-
Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir...
-
Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. It...



