Senin, 29 Juli 2013

SISA-SISA ZAMAN



Pada sebuah pagi berangin di bulan Mei tahun ini, sebuah traktor menarik benda aneh beroda yang berukuran sama dengan lemari es melalui deretan tunas tanaman slada di Lembah Salinas Kalifornia. Masih lokasi yang sama dan terpisah dengan jarak beberapa meter saja, para insinyur Lembah Silikon sedang bekerja mengoperasikan software melalui laptop untuk memastikan mesin tersebut memisahkan tunas slada yang telah berdaun dengan benar. Para insinyur yang dipekerjakan oleh sebuah perusahaan pertanian di Salinas tersebut sedang menguji “Robot Slada” (Lettuce Bot), sebuah perangkat mesin yang mampu memanen ladang slada yang biasanya dilakukan oleh 20 orang pekerja dengan menggunakan tangan.

Di daerah yang dikenal dengan sebutan America’s Salad Bowl tersebut buah-buahan dan sayuran telah ditanam, dipelihara dan dipanen oleh sekumpulan pekerja imigran  selama berabad-abad, sehingga penggunaan mesin dapat menghasilkan sesuatu yang revolusioner.  Meskipun menelan biaya jutaan dolar, para pemilik lahan mengatakan bahwa robot menguntungkan bagi investasi, yaitu penghematan biaya produksi sehingga mereka dapat terbebas dari pekerja jangka pendek, dan mengurangi arus kedatangan imigran gelap ke Amerika Serikat (yang sebagian besar berasal dari Meksiko).  

Salah seorang kepala eksekutif perusahaan perancang robot slada mengatakan, mereka telah menempuh jalan cukup panjang untuk merealisasikan robot yang tidak akan mereka jual secara komersial di pasaran. Perusahaan harus menghadapi penolakan dari kalangan serikat pekerja setempat, dikarenakan mekanisasi pertanian mengkibatkan para pekerja kehilangan pekerjaan dan makanan menjadi makin tidak aman untuk dikonsumsi akibat penggunaan pestisida secara berlebihan. Namun sang kepala eksekutif membantah, “Itulah hal-hal hebat yang dilakukan robot dan otomatisasi. Mereka dapat mengambil alih tugas berulang yang membosankan dan terlalu sederhana bagi manusia, serta melakukannya secara efektif, cepat dan akurat.”

Timbunan Masa Lalu
Memang masih akan diperlukan waktu selama beberapa tahun bagi teknologi mekanisasi pertanian serupa ini untuk dapat menginjakkan kakinya di Indonesia. Itupun setelah berkompromi dengan gelombang protes yang diperkirakan akan muncul dari kalangan pekerja di bidang tersebut. Namun toh hal semacam ini sudah merupakan hak ‘asasi’ perusahaan, dan kita tak dapat mempersalahkan keberadaan pemilik industri yang menerapkan strategi produksi semacam ini untuk efisiensi dan meningkatkan daya saing produk di pasar bebas. Segala bentuk penolakan bisa berakibat berakhirnya komitmen perusahaan bersangkutan dalam hal kerja sama yang akan sangat merugikan bagi para pekerja dan instansi terkait. Sebaliknya, kita harus menerimanya sebagai buah pahit  ekonomi berbasis investasi dan konsumsi yang saat ini tengah diterapkan pemerintah dalam negeri. 
 
Roda waktu yang bergerak maju mengubah wajah hasil karya, cipta dan karsa manusia menjadi lebih modern, canggih, keren dan anti lemot. Tentu ini adalah sebuah trend dan kewajaran yang cukup menggembirakan, karena manusia akan menyia-nyiakan sisa umurnya di dunia jika tak berhasil menciptakan sedikit perbedaan dibandingkan generasi sebelumnya. Sesuatu yang baru tentunya lebih menarik hati daripada sesuatu yang telah berusia tua dan menawarkan kemampuan terbatas. Sehingga produk-produk baru pun akan selalu berhasil merajai pasaran dan melengserkan para pendahulunya dari singgasana. Namun, pernahkah Anda berpikir kemanakah larinya produk-produk jadul yang pernah dimiliki manusia? 

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan kawan-kawannya memang telah mengklaim kesuksesan mereka dalam hal mendaur ulang berbagai jenis sampah, termasuk diantaranya sampah elektronik. Akan tetapi, beberapa tahun lalu ABC.com melaporkan adanya sejumlah besar kontainer sampah elektronik yang dikirim ke sejumlah Negara Dunia Ketiga seperti Cina, India, Vietnam, Pakistan, sejumlah Negara Afrika dan, tentu saja, Indonesia. Saya tidak hendak meremehkan eksistensi mereka yang beroleh penghasilan dengan mempereteli bagian demi bagian sebuah computer lama yang dapat dijual kembali. Namun kita perlu memperkirakan sejauh mana dampak limbah elektronik bagi kesehatan manusia, apalagi yang bertumpuk-tumpuk setara gunung anakan seperti yang dapat kita lihat di Ghana. Belum lagi dampak yang diakibatkannya bagi kesuburan tanah dan udara. 

Begitulah, ternyata perubahan tidak hanya membawa kemudahan bagi hidup manusia namun juga harga mahal yang harus dibayar oleh sebagian besar lainnya. Kemudahan kredit kepemilikan kendaraan bermotor membuat pengemudi dan pemilik angkot (angkutan kota), angkudes (angkutan pedesaan), cikar, becak dan ojek sepeda makin merana. Serbuan ponsel buatan Cina yang murah nian membuat semua orang jadi mampu membeli ponsel atau smartphone baru, dan meninggalkan pemilik wartel termangu-mangu kesepian. Demikian juga kebijakan konversi elpiji 3 kg meminggirkan minyak tanah dari pasaran, pemilik pangkalanpun gulung tikar bersama industri rumah tangga pembuat sumbu dan kompor minyak tanah. Para orang tua pun hanya dapat mengelus dada menghadapi para anak muda yang tak lagi berbicara dengan krama inggil, mendengarkan petuah para tetua dan kehilangan antusiasme terhadap keluarga besar para pendahulu. Mengapa perubahan nyaris selalu gagal mengelakkan jatuhnya korban? Seperti yang kita lihat dalam kemelut Arab Spring tak berkesudahan di daratan Mesir, Tunisia, Turki, Lebanon, Syria, Afghanistan, Libya, dan Bahrain.

Menggali Lubang yang Sama
Masyarakat pedesaan di wilayah selatan Jogjakarta punya metode unik untuk mengatasi limbah rumah tangga ( yang sudah dilakukan sejak lama dan mungkin karena tiadanya pasukan kuning ), yaitu dengan membuangnya di sebuah lubang yang cukup dalam dan lebar di pekarangan rumah.  Ketika lubang telah penuh dengan maka mereka akan menutupinya dengan tanah bekas galian sebuah lubang pembuangan sampah lain yang tidak jauh-jauh amat dari lokasi semula. Namun zaman telah berubah. Makanan dan minuman kemasan plastik yang beredar dan dikonsumsi secara massif mengakibatkan para cacing tanah bekerja lembur serta terancam kehilangan tempat tinggal. Sebuah riset menyatakan, butuh waktu hingga 6 bulan bagi puntung rokok Anda untuk menyatu dengan tanah, 12 tahun bagi kantung plastik dan jutaan tahun untuk Styrofoam. 
Yah paling tidak waktu akhirnya gagal dalam merubah satu hal, yaitu sampah. 

Apakah kompor minyak tanah juga termasuk sampah? Ya, karena ia tidak lagi digunakan ketika harga minyak tanah melambung tinggi. Apakah kurikulum 1997 dan  kurikulum pendidikan berbasis kompetensi adalah sampah juga? Ya, karena mereka tak lagi digunakan saat kursi panas menteri pendidikan dioper kepada tokoh dan partai lainnya. Apakah televisi layar cembung juga sampah? Lalu bagaimana dengan mantan pejabat, kru, asisten, staf ahli bahkan pentolannya? Ya, saya pikir Anda sudah tahu jawabannya. Lalu mengapa manusia itu gemar sekali membuat sampah, menumpuk dan menimbun sesuatu yang sudah dan atau pada akhirnya menjadi tidak berguna? Kita memang harus mengakui kecerdasan sesama manusia dalam hal merancang perangkat yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, sayang sekali mereka kurang memandang jauh ke depan terhadap segala kemungkinan di masa mendatang.

Manusia memang adalah makhluk paling kemaruk, rakus jika dibandingkan makhluk lainnya di Bumi, dan bahkan lebih lahap daripada burung pemakan bangkai sekalipun. Tidak ada roti atau nasi masih bisa makan daun-daunan. Tidak ada daun, mereka masih bisa makan belalang, atau cacing, atau jangkrik. Tidak ada uang bukan masalah berarti selagi masih dapat berhutang. Berhutang dalam jumlah besar, sekali lagi, juga bukan merupakan masalah besar, karena hutang A akan dapat  dilunasi dengan sebuah hutang lainnya. Menggali lubang hutang bukanlah masalah berarti asalkan kita dapat menutupnya kembali, untuk kemudian digali lagi pada saatnya nanti. Sedemikian memprihatinkan itukah upah standar pekerja di Indonesia? Tidak juga. Selain berjihad di hadapan atasan, meja kerja, mesin dan campuran semen, ternyata para pekerja juga harus bertarung melawan peperangan lainnya, yaitu gaya hidup konsumtif yang telah dilegalkan melalui kemudahan pengajuan kredit kepemilikan rumah, kendaraan bermotor, peralatan elektronik, gadget dan cicilan lainnya. Dan mereka, biasanya, lebih sering gagal daripada menang.  (swastantika)




Minggu, 19 Mei 2013

MENCEGAH ARWAH GENTAYANGAN



Jangan khawatir karena saya tidak sedang berupaya mengundang kontroversi dan polemic dengan menjual jasa pemburu hantu, jimat anti miskin, susuk anti memble dan berbagai jasa di bidang metafisika lainnya. Telah disepakati bersama bahwa definisi arwah secara umum adalah sesuatu yang tertinggal dari seseorang yang telah lama meninggal, alias rohnya. Ajaran agama mengatakan bahwa perbuatan manusia semasa hidup akan menentukan dimana tempat arwah mereka nantinya. Manusia jahat berada di tempat yang sepantasnya, begitu pula para manusia budiman. Sementara para manusia hidup yang ditinggalkan tak jemu melantunkan doa agar sang arwah tidak tersesat dan berada di tempat yang salah. 
 
Kita, entah karena penyesalan yang teramat pedih karena kehilangan atau penolakan terhadap kenyataan bahwa dia sudah menjadi sekedar nama, tidak dapat berbuat apapun untuk menolong orang yang sudah meninggal, termasuk dari kesalahan yang telah diperbuat semasa hidupnya. Merupakan sebuah dilemma besar saat mengetahui bahwa sosok malaikat di mata kita, misalnya, merupakan syaitan pembawa bencana bagi segolongan lainnya. Kenyataan yang saling berlawanan semacam ini dapat menjadi sesuatu penelanjangan terhadap segolongan orang yang telah mengabdikan diri kepada juragan bermental menyimpang. Para mantan anak buah mungkin akan menyangkal dengan penuh keluguan, dan mengedepankan ketidaktahuan mereka terhadap pribadi terpendam sang juragan sebagai pleidoi absurd. Mustahil rasanya seorang pembantu tidak dapat mengenali kebiasaan majikannya setelah bekerja atas perintahnya selama bertahun-tahun.
    
Kita punya dua pilihan untuk mengatasinya dengan sukses, menutup telinga rapat-rapat atau mendistorsi secara membahana sisi-sisi putih serta menyamarkan sisi-sisi hitam daripada sang tokoh almarhum/ almarhumah. Meski kedengaran seperti semacam upaya pembohongan public, namun toh sebagian kalangan tetap melaksanakannya. Tidak etis, kilah mereka, tidak ada gunanya mengungkap keburukan tentang seseorang yang sudah meninggal. Yang lalu biarlah berlalu, saatnya kini menatap masa depan. Namun, sebab dan akibat adalah sepasang pengantin yang tidak sejajar, ‘akibat’ lahir sesudah ‘sebab’. Sesederhana seorang petani yang akan selalu membajak sawahnya dari sisi tepi sebelum mencapai bagian utama. Jejak yang terlewati, atau sengaja dilewati, sama sekali tidak membantu seekor anjing untuk menemukan jalan pulang.  Begitupun sebuah jejak yang telah dihapus akan memaksa pengembara membuang waktu lebih lama lagi untuk mencari jalan keluar.  

Tersesat Di Jalan ( Negara ) Tetangga
Kepergian Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri pertama Inggris era 1979-1993, dianggap telah membangkitkan kembali kenangan pahit terhadap momen tergelap dalam sejarah Inggris. Pada hari pemakamannya April lalu, puluhan orang berdiri membelakangi mobil pembawa jenazah Thatcher sebagai penolakan pemberian penghormatan terakhir kepada perempuan yang berjuluk The Iron Lady. Bahkan sebuah poster bertuliskan ‘Dies In Shame’ ( wafat dalam kehinaan ) dibawa salah seorang warga sebagai ucapan pengantar Thatcher ke liang kubur. Bagi sebagian warga Inggris era kepemimpinan Thatcher adalah mimpi buruk yang begitu perih, hingga kematian pun tak mampu membayarnya.

Semasa hidupnya Thatcher adalah penganut ekonomi pasar bebas hasil pemikiran para tokohnya, antara lain Milton Friedman dan Alan Walters. Ia merancang deregulasi keuangan dengan memangkas anggaran pemerintahan dan memasang target inflasi Inggris yang saat itu mencapai 25%. Thatcher percaya bahwa efisiensi pasar akan tercipta dengan sendirinya jika pemerintah mengurangi peran dalam mengontrol pasar. Untuk itu dirinya memprivatisasi sejumlah perusahaan milik pemerintah seperti British Gas, British Petroleum, Britoil, British Steel serta perusahaan listrik dan air, disertai pemangkasan pengeluaran Negara di bidang sosial dan pendidikan ( yang justru diterapkan di Indonesia baru-baru ini ). Hal ini tentu saja memicu mahalnya biaya pendidikan dan makin sedikit anak muda yang  mendapat pendidikan layak.  Sesuatu yang mengakibatkan dirinya menjadi pejabat Inggris lulusan Oxford pertama yang tidak menerima penghargaan doctoral. Thatcher juga harus menghadapi gencarnya pemogokan buruh sebagai imbas kerasnya kebijakan ekonomi saat itu bagi perut orang Inggris. Namun ia tak gentar, sebaliknya menerapkan aturan baru dalam pengupahan untuk mencegah keikutsertaan para buruh dalam pemogokan.

Kebijakan  itu membuat ratusan ribu warga Inggris kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat. Puluhan ribu keluarga terlantar dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Jutaan anak muda Inggris menjadi penganggur dan terjebak kesulitan ekonomi, ( yah masih miriplah dengan keadaan di tanah air ). Mereka yang terpukul mencari penghiburan dalam pertandingan sepak bola, dan sering kali meluapkan amarah terpendam melalui perkelahian antar supporter klub kesayangan masing-masing ( mirip lagi, mirip lagi. Hhh.. ). 

Thatcher kembali menurunkan tangan besinya saat terjadinya Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989, klimaks Hooliganisme yang menggejala sejak awal kekuasannya. Kepolisian Inggris mencatat 766 suporter mengalami luka-luka dan 96 lainnya tewas akibat berdesakan di tribun penonton Hillsborough Stadium Sheffield Inggris, saat berlangsungnya partai semifinal Piala FA antara Nottingham Forest melawan Liverpool. Thatcher menyetujui factor pendukung Liverpool yang mabuk dan tak membeli tiket sebagai penyebab utama, sebagaimana tertulis dalam laporan resmi yang dikeluarkan Kepolisian Inggris. Tidak adanya penyelidikan lanjutan terhadap insiden itu membuat sebagian kalangan, terutama para sepak bolawan, menuduhnya sebagai bentuk kebencian Maggie, panggilan Margaret Thatcher, kepada kaum pekerja yang mendominasi jumlah pendukung sepak bola di Inggris. Puluhan tahun kemudian, tepatnya 13 Oktober 2012, PM David Cameron menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui keteledoran pihak kepolisian dalam mengawasi situasi keseluruhan stadion sebagai kambing hitam yang sebenarnya ( kalau yang ini sih belum tahu kapan akan mirip ). 
 ( Bagian ini disarikan dari Detik Sport, Wikipedia dan Kontan.co.id ).

      Mengobati Penyakit Lama
Daya ingat manusia ternyata berbanding terbalik dengan bertambahnya usia, dan kita tidak dapat menghindarinya. Sebuah tinjauan yang ditulis oleh Dr. Ery Dwisuryono MHKes menuturkan, menurunnya daya ingat manusia disebabkan oleh dua hal, yaitu factor organik yang diakibatkan gangguan dalam organ otak, dan factor anorganik yang didapatkan manusia dari masalah psikologis. Ada beberapa masalah yang ingin dilupakan manusia karena alasan tertentu. Namun metode penekanan ingatan semacam ini sekaligus membuang ingatan manusia terhadap hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan masalah yang ingin dilupakan. Kita tidak dapat menjustifikasi jenis ingatan apa saja yang ingin dilupakan manusia. Satu hal yang pasti, itu bukanlah ingatan tentang sesuatu yang menyenangkan.

Berbicara tentang kejadian tidak menyenangkan yang telah terjadi secara nasional, Anda tentu dapat menyebutkannya satu per satu dengan sangat mudah. Kita belum beranjak jauh dari bulan Mei, sehingga peristiwa Mei 1998 masihlah layak mendapatkan predikat sebagai kejadian nasional yang tidak menyenangkan. Ada kerusuhan ( dan pemerkosaan? ) massal, perusakan fasilitas dan property, penjarahan, penculikan dan penembakan terhadap aktivis anti-pemerintah. Pada saat yang sama sejumlah kota besar dan daerah diwarnai dengan aksi demonstrasi besar-besaran memprotes tindakan aparat yang saat itu dianggap berlebihan dan tak manusiawi, sekaligus menuntut mundurnya Soeharto dari singgasana kepresidenan. Sejumlah tinjauan menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang diakibatkan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar secara drastis di awal 1997 sebagai penyebab utama kemarahan publik, terutama di Pulau Jawa ( karena tidak semua daerah merasakan sakitnya efek akibat kenaikan harga barang ).

Manusia dianggap hidup dan normal setelah mampu memberikan reaksi terhadap sejumlah rangsangan, termasuk rasa sakit. Ada yang lari ke dalam pelukan hedonism, melawan rasa sakit dengan melakukan perbuatan yang menimbulkan perasaan gembira meluap-luap untuk menutupi kepedihan yang bersarang di bawah permukaan. Ada yang meratapinya seumur hidup dan memohon keajaiban langit datang untuk membawa pergi rasa sakit selamanya. Ada yang menolak rasa sakit dengan menyakiti dirinya sendiri, sebuah metode yang biasanya diterapkan oleh sebagian jenis orang yang sudah putus asa dengan kehidupan-berharap kematian akan datang dengan segera namun terlalu takut untuk mencabut nyawa sendirian. Ada yang berpura-pura tidak pernah mengalami rasa sakit, bersikap tidak ada apa-apa, dan memerintah otak untuk menghapus sama sekali kenangan tentangnya.

Kita bisa saja membuang jauh-jauh segalanya tentang Mei 1998 ( pembantaian G30S, Tanjung Priok, Marsinah, Munir, Petrus, DOM Atjeh-Papua, Talangsari, 27 Juli 1996, Waduk Kedung Ombo, Nipah, Haor Koneng, Sum Kuning, Udin, Dietje maupun Lumpur Lapindo ) dari sel-sel kelabu yang bersemayam dalam otak kita. Namun, hidup itu sendiri adalah penggalan-penggalan kisah yang terjadi berkat adanya sebab dan akibat, sebuah proses berkesinambungan yang linier, sepasang sejoli yang tak terpisahkan kecuali kematian. Kita terpuruk bukan karena takdir, melainkan buah dari sesuatu yang telah kita lakukan di masa lalu.  Memerintahkan otak melupakan rasa sakit berikut penyebabnya adalah satu kesalahan fatal, yang menyebabkan kita tidak akan pernah belajar bagaimana cara menghindari terjadinya rasa sakit di masa yang akan datang.

Kita tahu nama sang mendiang Jenderal Murah Senyum memang besar, namun seperti manusia lainnya, dirinya juga tidak sempurna. Masa sih kita harus memberikan maaf, bukan karena Indonesia adalah bukan dan tak akan pernah menjadi seperti Inggris, tanpa adanya pengakuan yang dikeluarkan dengan kepala tegak atas dasar kebenaran dan penghormatan Negara terhadap nasib dan nyawa sekian jumlah warganya yang menemui ajal secara tidak wajar. Jenderal Murah Senyum memang sudah lama meninggal, lalu mengapa harus Anda, hai petinggi Negara, malu-malu untuk mengakui bahwa Sang Jenderal tersenyum untuk menutupi kesalahannya?
Kecuali jika arwah Sang Jenderal ternyata bergentayangan dan Anda nggak suka hantu.
     ( swastantika ).       

Kamis, 28 Maret 2013

‘PENGAGUM’ RAHASIA



“A gentleman will walk but never run” ( Sting )
Carousel adalah sebuah drama musical yang dipentaskan pada tahun 1945 oleh Oscar Hammerstein sebagai penulis lirik lagu dan Richard Rodgers sebagai sutradara. Berkisah tentang sepasang kekasih Billy Bigelow dan Julie Jordan yang sama-sama berasal dari kelas pekerja rendah. Suatu saat Julie dinyatakan hamil dan Billy yang saat itu berada dalam keterdesakan keuangan tergoda melakukan perampokan untuk mendapatkan uang dengan cepat untuk istri dan calon anaknya. Namun, apa daya, perampokan itu gagal dan Billy nekat membunuh dirinya sendiri untuk menghindari penangkapan pihak berwajib. Kenyataan itu membuat Julie sangat terpukul. Cerita yang merupakan awal dari babak kedua drama musikal itu dimulai dengan penghiburan untuk Julie saat sepupunya, Nettie Fowler, menyanyikan sebuah lagu yang konon akan melegenda dan masih dinyanyikan jutaan manusia di seluruh dunia hingga saat ini , You’ll Never Walk Alone.



Dalam kenyataannya kita memang tak pernah berjalan sendirian. Bukan, bukan bayangan yang setia menemani kita, karena ia akan menghilang bersama tenggelamnya matahari. Bukan pula kekasih, orang tua,anak-anak, teman sepermainan maupun sanak family, karena akan tiba saatnya salah satu diantara kita atau mereka akan pergi mendahului. Bukan pula Tuhan, karena kita juga tidak akan pernah tahu kapan Dia datang atau kapan Dia pulang. Perlu Anda ketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud menggurui, memfilosofi maupun memotivasi. Melainkan hanya bahasan terhadap sebuah kabar yang tersebar melalui internet akhir-akhir ini tentang adanya rumor tentang keberadaan pihak-pihak yang selalu setia mengawasi, mengamati, mencatat, mendokumentasikan dan merekam secara detil kegiatan setiap sosok yang bernama manusia. Mereka tahu jam berapa Anda berangkat dan pulang kerja, kuliah maupun sekolah, nama atasan,karyawan,orang tua, anak-anak,suami, istri,pacar,mantan pacar,selingkuhan. Mereka tahu dengan siapa Anda pergi makan siang, penyebab pertengkaran Anda dengan istri/ suami, alasan geng Anda mem-bully seorang rekan kantor, berapa jumlah uang Anda di bank dan berapa lama Anda menunggak cicilan sepeda motor.



Sebuah artikel berjudul ‘Governmental Social Media Surveillance Leaked WikiLeaks Stratfor Email’ menyebutkan bahwa not only the CIA OSC, and Stratfor are monitoring Facebook and Twitter or other social medias – also The NSA and for sure Germanys BND and other surveillance Agencys are up into the great spying machine called the internet. and the social media networks are their most powerful tools.’  Bukan hanya CIA OSC (Open Source Centre),namun juga NSA, BND dan sejumlah biro intelijen mancanegara lainnya yang melakukan pengawasan terhadap internet, dan jejaring media sosial adalah sumber informasi utama mereka. Atas nama upaya menjaga stabilitas dan keamanan Negara, mereka mengakui telah melakukan pengawasan melalui sarana CCTV yang terpasang di setiap obyek vital, penyadapan percakapan telepon kantor, umum,pribadi maupun intim, perekaman sidik jari secara massal dan sejumlah kegiatan ‘stalking’ lainnya. Pengawasan biasanya dilakukan terhadap sejumlah warga yang berpotensi menjadi ‘hama’ bagi stabilitas, seperti aktivis buruh, pekerja public yang ‘lurus’, aktivis mahasiswa, penggiat LSM, pemerhati isu lingkungan, dan sejumlah tukang protes lainnya.   

 
Pelanggaran HAP ( Hak Asasi Privasi ) Berat?
Beberapa kalangan mengkritisi kebijakan ini sebagai pelanggaran terhadap privasi individu. Meskipun dalam kenyataannya jauh sebelum kebijakan ini diterapkan masyarakat malah melahap mentah-mentah berita dan gossip seputar kehidupan pribadi penyanyi, pemain film, olahragawan, bangsawan, politisi dan sejumlah figure terkenal lainnya. Dimana hal itu justru merupakan pelanggaran hak privasi yang lebih serius, karena disertai dengan tindakan menyebarluaskan kehidupan pribadi sang bintang secara massal demi mendapatkan pemasang iklan, ataupun keuntungan dari segi financial lainnya. Namun, dalam tulisan ini kita tidak akan membahas mengenai faktor K, yaitu kemungkinan adanya Kesengajaan dari pihak sang bintang dalam mengumbar sisi pribadi kehidupannya agar mendapatkan perhatian media.


Bukankah kita pun, sadar atau tidak sadar, seringkali menjual kehidupan pribadi kita kepada public melalui ungkapan kemarahan, kebencian, kebahagiaan, kegalauan, dan kalimat-kalimat lebay lainnya dalam status terbaru di jejaring sosial ? Kita telah dengan sengaja membuka diri agar mereka, para pemantau itu, mengetahui dengan mudah segala sisi gelap dan terang diri Anda. So what ? Kita kan juga tidak kenal mereka, kantornya dimana, atasannya siapa, manusiakah mereka, atau masih makan nasikah mereka. You know me, but do I know you? Nyata dan tidaknya mereka kita juga tidak akan pernah tahu. Yang kita tahu secara pasti, manusia menaruh perhatian dalam porsi besar terhadap keberadaan para pemantau, dibuktikan dengan laris manisnya sejumlah film yang terinspirasi kisah para intelijen seperti Munich, Enemy Of the State, Bourne Trilogy, Breach, Spy Game, dan yang barusan berjaya di Oscar, Argo.


Dapat kita simpulkan, bahwa surveillance secara merata yang telah diterapkan sebagian atau bahkan seluruh penguasa di dunia modern kepada warganya adalah sebuah tindakan atau keputusan yang boleh dan sah, meskipun Anda merasa risi jika membayangkan seseorang di luar sana mengetahui berapa kali dalam sehari Anda mengumpuli istri. Dapatkah kita melarang inisiatif sekelompok orang yang rela meronda semalam suntuk tanpa imbalan demi menjaga keamanan kampung? Salahkah mereka yang berniat melindungi warganya dengan jalan mengambil upaya pencegahan bahkan di saat suatu niat untuk berbuat criminal masih menjadi angan-angan dalam lamunan para pelakunya? Apakah Anda merasakan adanya gangguan terhadap privasi ataukah terhadap kemungkinan terbongkarnya rahasia kelam di masa lalu? Lha emangnya Anda itu siapa? Artis?

Standing Applaus
Suatu hari kami mendengar berita duka dari seorang rekan yang telah berpulang dengan diam-diam. Ia dikenal sebagai seorang seniman multi talenta yang mahir dalam berbagai bidang kesenian, diantaranya melukis dan memainkan alat musik. Ia mencintai keduanya seperti ia mencintai dirinya sendiri, dan ia tak kan bisa hidup baik-baik saja jika meninggalkan salah satu dari keduanya. Waktu berlalu dan tiba saatnya ia hidup berumah tangga. Dengan posisi sebagai kepala keluarga yang wajib memberikan nafkah, ia dihadapkan pada situasi pelik untuk memilih manakah diantara keduanya yang lebih bermanfaat secara ekonomis. Namun ia tak pernah berdaya untuk menjatuhkan pilihan. Keraguan itu mengikis kesadarannya sedikit demi sedikit, mengakibatkan dirinya jatuh pingsan tanpa pernah bangun lagi untuk selamanya. Sesaat menjelang koma, saya masih sempat mempertanyakan keputusannya untuk tidak memilih. ‘Well,’ jawabnya ‘ kau tahu kan banyak pelukis yang berkarya kemudian kaya raya, namun mereka tak akan pernah mendapatkan tepuk tangan ‘.

Itulah mengapa seniman cenderung tampil eksentrik, percaya diri untuk tampil membahana di tengah manusia yang hidup normal dalam kesehariannya. Mereka hadir dengan kepribadiannya yang saling tarik menarik, yang disadari atau tidak merupakan bagian dari upaya merebut perhatian orang kepadanya dan karya-karyanya.  Mereka tampil dan memanfaatkan berbagai piranti, termasuk dirinya sendiri, sebagai media untuk mempresentasikan ekspresi maupun buah pemikirannya kepada khalayak. Kebebasan berekspresi ( freedom of expression ) sudah nyata-nyata diakui sejak puluhan tahun silam, sekaligus menegaskan hak setiap orang untuk mengungkapkan ekspresi meskipun ia bukanlah individu yang ditakdirkan tersesat menjadi seorang seniman. Kenyataannya, berbagai undang-undang trivia (UU santet, kumpul kerbau dan pornografi) yang dijejalkan ke ranah public baik local maupun internasional belakangan ini seperti hendak mengakui kekhawatiran penguasa terhadap kemungkinan lepas liarnya kebebasan berekspresi menjadi iblis anarkis. Penguasa seolah-olah menganggap kaum sipil adalah golongan kelas dua yang lugu, labil, naïf, kurang pandai, dan meng-underestimate-kan kemampuan serta keberanian warga Negara dalam mempertanggungjawabkan ekspresinya masing-masing.  



Kita sudah lama mengakui bahwa dunia itu adalah memang panggung sandiwara. Di bawah gemerlapnya sorotan lampu kita memerankan lakon dari episode kehidupan pribadi masing-masing. Suatu saat kita memerankan tokoh protagonist, di lain hari kita memakai topeng antagonist. Akan tetapi, seorang pelakon drama membutuhkan kehadiran penonton untuk memberikan standing applaus, serta saweran berupa uang maupun sepatu. Maka, teruskanlah kau bernyanyi dan jangan lagumu terhenti. Mari kita berikan hiburan terbaik untuk ‘para pengagum (pemantau)’ rahasia. (swastantika)   

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...