Minggu, 19 Mei 2013

MENCEGAH ARWAH GENTAYANGAN



Jangan khawatir karena saya tidak sedang berupaya mengundang kontroversi dan polemic dengan menjual jasa pemburu hantu, jimat anti miskin, susuk anti memble dan berbagai jasa di bidang metafisika lainnya. Telah disepakati bersama bahwa definisi arwah secara umum adalah sesuatu yang tertinggal dari seseorang yang telah lama meninggal, alias rohnya. Ajaran agama mengatakan bahwa perbuatan manusia semasa hidup akan menentukan dimana tempat arwah mereka nantinya. Manusia jahat berada di tempat yang sepantasnya, begitu pula para manusia budiman. Sementara para manusia hidup yang ditinggalkan tak jemu melantunkan doa agar sang arwah tidak tersesat dan berada di tempat yang salah. 
 
Kita, entah karena penyesalan yang teramat pedih karena kehilangan atau penolakan terhadap kenyataan bahwa dia sudah menjadi sekedar nama, tidak dapat berbuat apapun untuk menolong orang yang sudah meninggal, termasuk dari kesalahan yang telah diperbuat semasa hidupnya. Merupakan sebuah dilemma besar saat mengetahui bahwa sosok malaikat di mata kita, misalnya, merupakan syaitan pembawa bencana bagi segolongan lainnya. Kenyataan yang saling berlawanan semacam ini dapat menjadi sesuatu penelanjangan terhadap segolongan orang yang telah mengabdikan diri kepada juragan bermental menyimpang. Para mantan anak buah mungkin akan menyangkal dengan penuh keluguan, dan mengedepankan ketidaktahuan mereka terhadap pribadi terpendam sang juragan sebagai pleidoi absurd. Mustahil rasanya seorang pembantu tidak dapat mengenali kebiasaan majikannya setelah bekerja atas perintahnya selama bertahun-tahun.
    
Kita punya dua pilihan untuk mengatasinya dengan sukses, menutup telinga rapat-rapat atau mendistorsi secara membahana sisi-sisi putih serta menyamarkan sisi-sisi hitam daripada sang tokoh almarhum/ almarhumah. Meski kedengaran seperti semacam upaya pembohongan public, namun toh sebagian kalangan tetap melaksanakannya. Tidak etis, kilah mereka, tidak ada gunanya mengungkap keburukan tentang seseorang yang sudah meninggal. Yang lalu biarlah berlalu, saatnya kini menatap masa depan. Namun, sebab dan akibat adalah sepasang pengantin yang tidak sejajar, ‘akibat’ lahir sesudah ‘sebab’. Sesederhana seorang petani yang akan selalu membajak sawahnya dari sisi tepi sebelum mencapai bagian utama. Jejak yang terlewati, atau sengaja dilewati, sama sekali tidak membantu seekor anjing untuk menemukan jalan pulang.  Begitupun sebuah jejak yang telah dihapus akan memaksa pengembara membuang waktu lebih lama lagi untuk mencari jalan keluar.  

Tersesat Di Jalan ( Negara ) Tetangga
Kepergian Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri pertama Inggris era 1979-1993, dianggap telah membangkitkan kembali kenangan pahit terhadap momen tergelap dalam sejarah Inggris. Pada hari pemakamannya April lalu, puluhan orang berdiri membelakangi mobil pembawa jenazah Thatcher sebagai penolakan pemberian penghormatan terakhir kepada perempuan yang berjuluk The Iron Lady. Bahkan sebuah poster bertuliskan ‘Dies In Shame’ ( wafat dalam kehinaan ) dibawa salah seorang warga sebagai ucapan pengantar Thatcher ke liang kubur. Bagi sebagian warga Inggris era kepemimpinan Thatcher adalah mimpi buruk yang begitu perih, hingga kematian pun tak mampu membayarnya.

Semasa hidupnya Thatcher adalah penganut ekonomi pasar bebas hasil pemikiran para tokohnya, antara lain Milton Friedman dan Alan Walters. Ia merancang deregulasi keuangan dengan memangkas anggaran pemerintahan dan memasang target inflasi Inggris yang saat itu mencapai 25%. Thatcher percaya bahwa efisiensi pasar akan tercipta dengan sendirinya jika pemerintah mengurangi peran dalam mengontrol pasar. Untuk itu dirinya memprivatisasi sejumlah perusahaan milik pemerintah seperti British Gas, British Petroleum, Britoil, British Steel serta perusahaan listrik dan air, disertai pemangkasan pengeluaran Negara di bidang sosial dan pendidikan ( yang justru diterapkan di Indonesia baru-baru ini ). Hal ini tentu saja memicu mahalnya biaya pendidikan dan makin sedikit anak muda yang  mendapat pendidikan layak.  Sesuatu yang mengakibatkan dirinya menjadi pejabat Inggris lulusan Oxford pertama yang tidak menerima penghargaan doctoral. Thatcher juga harus menghadapi gencarnya pemogokan buruh sebagai imbas kerasnya kebijakan ekonomi saat itu bagi perut orang Inggris. Namun ia tak gentar, sebaliknya menerapkan aturan baru dalam pengupahan untuk mencegah keikutsertaan para buruh dalam pemogokan.

Kebijakan  itu membuat ratusan ribu warga Inggris kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat. Puluhan ribu keluarga terlantar dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Jutaan anak muda Inggris menjadi penganggur dan terjebak kesulitan ekonomi, ( yah masih miriplah dengan keadaan di tanah air ). Mereka yang terpukul mencari penghiburan dalam pertandingan sepak bola, dan sering kali meluapkan amarah terpendam melalui perkelahian antar supporter klub kesayangan masing-masing ( mirip lagi, mirip lagi. Hhh.. ). 

Thatcher kembali menurunkan tangan besinya saat terjadinya Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989, klimaks Hooliganisme yang menggejala sejak awal kekuasannya. Kepolisian Inggris mencatat 766 suporter mengalami luka-luka dan 96 lainnya tewas akibat berdesakan di tribun penonton Hillsborough Stadium Sheffield Inggris, saat berlangsungnya partai semifinal Piala FA antara Nottingham Forest melawan Liverpool. Thatcher menyetujui factor pendukung Liverpool yang mabuk dan tak membeli tiket sebagai penyebab utama, sebagaimana tertulis dalam laporan resmi yang dikeluarkan Kepolisian Inggris. Tidak adanya penyelidikan lanjutan terhadap insiden itu membuat sebagian kalangan, terutama para sepak bolawan, menuduhnya sebagai bentuk kebencian Maggie, panggilan Margaret Thatcher, kepada kaum pekerja yang mendominasi jumlah pendukung sepak bola di Inggris. Puluhan tahun kemudian, tepatnya 13 Oktober 2012, PM David Cameron menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui keteledoran pihak kepolisian dalam mengawasi situasi keseluruhan stadion sebagai kambing hitam yang sebenarnya ( kalau yang ini sih belum tahu kapan akan mirip ). 
 ( Bagian ini disarikan dari Detik Sport, Wikipedia dan Kontan.co.id ).

      Mengobati Penyakit Lama
Daya ingat manusia ternyata berbanding terbalik dengan bertambahnya usia, dan kita tidak dapat menghindarinya. Sebuah tinjauan yang ditulis oleh Dr. Ery Dwisuryono MHKes menuturkan, menurunnya daya ingat manusia disebabkan oleh dua hal, yaitu factor organik yang diakibatkan gangguan dalam organ otak, dan factor anorganik yang didapatkan manusia dari masalah psikologis. Ada beberapa masalah yang ingin dilupakan manusia karena alasan tertentu. Namun metode penekanan ingatan semacam ini sekaligus membuang ingatan manusia terhadap hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan masalah yang ingin dilupakan. Kita tidak dapat menjustifikasi jenis ingatan apa saja yang ingin dilupakan manusia. Satu hal yang pasti, itu bukanlah ingatan tentang sesuatu yang menyenangkan.

Berbicara tentang kejadian tidak menyenangkan yang telah terjadi secara nasional, Anda tentu dapat menyebutkannya satu per satu dengan sangat mudah. Kita belum beranjak jauh dari bulan Mei, sehingga peristiwa Mei 1998 masihlah layak mendapatkan predikat sebagai kejadian nasional yang tidak menyenangkan. Ada kerusuhan ( dan pemerkosaan? ) massal, perusakan fasilitas dan property, penjarahan, penculikan dan penembakan terhadap aktivis anti-pemerintah. Pada saat yang sama sejumlah kota besar dan daerah diwarnai dengan aksi demonstrasi besar-besaran memprotes tindakan aparat yang saat itu dianggap berlebihan dan tak manusiawi, sekaligus menuntut mundurnya Soeharto dari singgasana kepresidenan. Sejumlah tinjauan menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang diakibatkan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar secara drastis di awal 1997 sebagai penyebab utama kemarahan publik, terutama di Pulau Jawa ( karena tidak semua daerah merasakan sakitnya efek akibat kenaikan harga barang ).

Manusia dianggap hidup dan normal setelah mampu memberikan reaksi terhadap sejumlah rangsangan, termasuk rasa sakit. Ada yang lari ke dalam pelukan hedonism, melawan rasa sakit dengan melakukan perbuatan yang menimbulkan perasaan gembira meluap-luap untuk menutupi kepedihan yang bersarang di bawah permukaan. Ada yang meratapinya seumur hidup dan memohon keajaiban langit datang untuk membawa pergi rasa sakit selamanya. Ada yang menolak rasa sakit dengan menyakiti dirinya sendiri, sebuah metode yang biasanya diterapkan oleh sebagian jenis orang yang sudah putus asa dengan kehidupan-berharap kematian akan datang dengan segera namun terlalu takut untuk mencabut nyawa sendirian. Ada yang berpura-pura tidak pernah mengalami rasa sakit, bersikap tidak ada apa-apa, dan memerintah otak untuk menghapus sama sekali kenangan tentangnya.

Kita bisa saja membuang jauh-jauh segalanya tentang Mei 1998 ( pembantaian G30S, Tanjung Priok, Marsinah, Munir, Petrus, DOM Atjeh-Papua, Talangsari, 27 Juli 1996, Waduk Kedung Ombo, Nipah, Haor Koneng, Sum Kuning, Udin, Dietje maupun Lumpur Lapindo ) dari sel-sel kelabu yang bersemayam dalam otak kita. Namun, hidup itu sendiri adalah penggalan-penggalan kisah yang terjadi berkat adanya sebab dan akibat, sebuah proses berkesinambungan yang linier, sepasang sejoli yang tak terpisahkan kecuali kematian. Kita terpuruk bukan karena takdir, melainkan buah dari sesuatu yang telah kita lakukan di masa lalu.  Memerintahkan otak melupakan rasa sakit berikut penyebabnya adalah satu kesalahan fatal, yang menyebabkan kita tidak akan pernah belajar bagaimana cara menghindari terjadinya rasa sakit di masa yang akan datang.

Kita tahu nama sang mendiang Jenderal Murah Senyum memang besar, namun seperti manusia lainnya, dirinya juga tidak sempurna. Masa sih kita harus memberikan maaf, bukan karena Indonesia adalah bukan dan tak akan pernah menjadi seperti Inggris, tanpa adanya pengakuan yang dikeluarkan dengan kepala tegak atas dasar kebenaran dan penghormatan Negara terhadap nasib dan nyawa sekian jumlah warganya yang menemui ajal secara tidak wajar. Jenderal Murah Senyum memang sudah lama meninggal, lalu mengapa harus Anda, hai petinggi Negara, malu-malu untuk mengakui bahwa Sang Jenderal tersenyum untuk menutupi kesalahannya?
Kecuali jika arwah Sang Jenderal ternyata bergentayangan dan Anda nggak suka hantu.
     ( swastantika ).       

Kamis, 28 Maret 2013

‘PENGAGUM’ RAHASIA



“A gentleman will walk but never run” ( Sting )
Carousel adalah sebuah drama musical yang dipentaskan pada tahun 1945 oleh Oscar Hammerstein sebagai penulis lirik lagu dan Richard Rodgers sebagai sutradara. Berkisah tentang sepasang kekasih Billy Bigelow dan Julie Jordan yang sama-sama berasal dari kelas pekerja rendah. Suatu saat Julie dinyatakan hamil dan Billy yang saat itu berada dalam keterdesakan keuangan tergoda melakukan perampokan untuk mendapatkan uang dengan cepat untuk istri dan calon anaknya. Namun, apa daya, perampokan itu gagal dan Billy nekat membunuh dirinya sendiri untuk menghindari penangkapan pihak berwajib. Kenyataan itu membuat Julie sangat terpukul. Cerita yang merupakan awal dari babak kedua drama musikal itu dimulai dengan penghiburan untuk Julie saat sepupunya, Nettie Fowler, menyanyikan sebuah lagu yang konon akan melegenda dan masih dinyanyikan jutaan manusia di seluruh dunia hingga saat ini , You’ll Never Walk Alone.



Dalam kenyataannya kita memang tak pernah berjalan sendirian. Bukan, bukan bayangan yang setia menemani kita, karena ia akan menghilang bersama tenggelamnya matahari. Bukan pula kekasih, orang tua,anak-anak, teman sepermainan maupun sanak family, karena akan tiba saatnya salah satu diantara kita atau mereka akan pergi mendahului. Bukan pula Tuhan, karena kita juga tidak akan pernah tahu kapan Dia datang atau kapan Dia pulang. Perlu Anda ketahui bahwa tulisan ini bukan bermaksud menggurui, memfilosofi maupun memotivasi. Melainkan hanya bahasan terhadap sebuah kabar yang tersebar melalui internet akhir-akhir ini tentang adanya rumor tentang keberadaan pihak-pihak yang selalu setia mengawasi, mengamati, mencatat, mendokumentasikan dan merekam secara detil kegiatan setiap sosok yang bernama manusia. Mereka tahu jam berapa Anda berangkat dan pulang kerja, kuliah maupun sekolah, nama atasan,karyawan,orang tua, anak-anak,suami, istri,pacar,mantan pacar,selingkuhan. Mereka tahu dengan siapa Anda pergi makan siang, penyebab pertengkaran Anda dengan istri/ suami, alasan geng Anda mem-bully seorang rekan kantor, berapa jumlah uang Anda di bank dan berapa lama Anda menunggak cicilan sepeda motor.



Sebuah artikel berjudul ‘Governmental Social Media Surveillance Leaked WikiLeaks Stratfor Email’ menyebutkan bahwa not only the CIA OSC, and Stratfor are monitoring Facebook and Twitter or other social medias – also The NSA and for sure Germanys BND and other surveillance Agencys are up into the great spying machine called the internet. and the social media networks are their most powerful tools.’  Bukan hanya CIA OSC (Open Source Centre),namun juga NSA, BND dan sejumlah biro intelijen mancanegara lainnya yang melakukan pengawasan terhadap internet, dan jejaring media sosial adalah sumber informasi utama mereka. Atas nama upaya menjaga stabilitas dan keamanan Negara, mereka mengakui telah melakukan pengawasan melalui sarana CCTV yang terpasang di setiap obyek vital, penyadapan percakapan telepon kantor, umum,pribadi maupun intim, perekaman sidik jari secara massal dan sejumlah kegiatan ‘stalking’ lainnya. Pengawasan biasanya dilakukan terhadap sejumlah warga yang berpotensi menjadi ‘hama’ bagi stabilitas, seperti aktivis buruh, pekerja public yang ‘lurus’, aktivis mahasiswa, penggiat LSM, pemerhati isu lingkungan, dan sejumlah tukang protes lainnya.   

 
Pelanggaran HAP ( Hak Asasi Privasi ) Berat?
Beberapa kalangan mengkritisi kebijakan ini sebagai pelanggaran terhadap privasi individu. Meskipun dalam kenyataannya jauh sebelum kebijakan ini diterapkan masyarakat malah melahap mentah-mentah berita dan gossip seputar kehidupan pribadi penyanyi, pemain film, olahragawan, bangsawan, politisi dan sejumlah figure terkenal lainnya. Dimana hal itu justru merupakan pelanggaran hak privasi yang lebih serius, karena disertai dengan tindakan menyebarluaskan kehidupan pribadi sang bintang secara massal demi mendapatkan pemasang iklan, ataupun keuntungan dari segi financial lainnya. Namun, dalam tulisan ini kita tidak akan membahas mengenai faktor K, yaitu kemungkinan adanya Kesengajaan dari pihak sang bintang dalam mengumbar sisi pribadi kehidupannya agar mendapatkan perhatian media.


Bukankah kita pun, sadar atau tidak sadar, seringkali menjual kehidupan pribadi kita kepada public melalui ungkapan kemarahan, kebencian, kebahagiaan, kegalauan, dan kalimat-kalimat lebay lainnya dalam status terbaru di jejaring sosial ? Kita telah dengan sengaja membuka diri agar mereka, para pemantau itu, mengetahui dengan mudah segala sisi gelap dan terang diri Anda. So what ? Kita kan juga tidak kenal mereka, kantornya dimana, atasannya siapa, manusiakah mereka, atau masih makan nasikah mereka. You know me, but do I know you? Nyata dan tidaknya mereka kita juga tidak akan pernah tahu. Yang kita tahu secara pasti, manusia menaruh perhatian dalam porsi besar terhadap keberadaan para pemantau, dibuktikan dengan laris manisnya sejumlah film yang terinspirasi kisah para intelijen seperti Munich, Enemy Of the State, Bourne Trilogy, Breach, Spy Game, dan yang barusan berjaya di Oscar, Argo.


Dapat kita simpulkan, bahwa surveillance secara merata yang telah diterapkan sebagian atau bahkan seluruh penguasa di dunia modern kepada warganya adalah sebuah tindakan atau keputusan yang boleh dan sah, meskipun Anda merasa risi jika membayangkan seseorang di luar sana mengetahui berapa kali dalam sehari Anda mengumpuli istri. Dapatkah kita melarang inisiatif sekelompok orang yang rela meronda semalam suntuk tanpa imbalan demi menjaga keamanan kampung? Salahkah mereka yang berniat melindungi warganya dengan jalan mengambil upaya pencegahan bahkan di saat suatu niat untuk berbuat criminal masih menjadi angan-angan dalam lamunan para pelakunya? Apakah Anda merasakan adanya gangguan terhadap privasi ataukah terhadap kemungkinan terbongkarnya rahasia kelam di masa lalu? Lha emangnya Anda itu siapa? Artis?

Standing Applaus
Suatu hari kami mendengar berita duka dari seorang rekan yang telah berpulang dengan diam-diam. Ia dikenal sebagai seorang seniman multi talenta yang mahir dalam berbagai bidang kesenian, diantaranya melukis dan memainkan alat musik. Ia mencintai keduanya seperti ia mencintai dirinya sendiri, dan ia tak kan bisa hidup baik-baik saja jika meninggalkan salah satu dari keduanya. Waktu berlalu dan tiba saatnya ia hidup berumah tangga. Dengan posisi sebagai kepala keluarga yang wajib memberikan nafkah, ia dihadapkan pada situasi pelik untuk memilih manakah diantara keduanya yang lebih bermanfaat secara ekonomis. Namun ia tak pernah berdaya untuk menjatuhkan pilihan. Keraguan itu mengikis kesadarannya sedikit demi sedikit, mengakibatkan dirinya jatuh pingsan tanpa pernah bangun lagi untuk selamanya. Sesaat menjelang koma, saya masih sempat mempertanyakan keputusannya untuk tidak memilih. ‘Well,’ jawabnya ‘ kau tahu kan banyak pelukis yang berkarya kemudian kaya raya, namun mereka tak akan pernah mendapatkan tepuk tangan ‘.

Itulah mengapa seniman cenderung tampil eksentrik, percaya diri untuk tampil membahana di tengah manusia yang hidup normal dalam kesehariannya. Mereka hadir dengan kepribadiannya yang saling tarik menarik, yang disadari atau tidak merupakan bagian dari upaya merebut perhatian orang kepadanya dan karya-karyanya.  Mereka tampil dan memanfaatkan berbagai piranti, termasuk dirinya sendiri, sebagai media untuk mempresentasikan ekspresi maupun buah pemikirannya kepada khalayak. Kebebasan berekspresi ( freedom of expression ) sudah nyata-nyata diakui sejak puluhan tahun silam, sekaligus menegaskan hak setiap orang untuk mengungkapkan ekspresi meskipun ia bukanlah individu yang ditakdirkan tersesat menjadi seorang seniman. Kenyataannya, berbagai undang-undang trivia (UU santet, kumpul kerbau dan pornografi) yang dijejalkan ke ranah public baik local maupun internasional belakangan ini seperti hendak mengakui kekhawatiran penguasa terhadap kemungkinan lepas liarnya kebebasan berekspresi menjadi iblis anarkis. Penguasa seolah-olah menganggap kaum sipil adalah golongan kelas dua yang lugu, labil, naïf, kurang pandai, dan meng-underestimate-kan kemampuan serta keberanian warga Negara dalam mempertanggungjawabkan ekspresinya masing-masing.  



Kita sudah lama mengakui bahwa dunia itu adalah memang panggung sandiwara. Di bawah gemerlapnya sorotan lampu kita memerankan lakon dari episode kehidupan pribadi masing-masing. Suatu saat kita memerankan tokoh protagonist, di lain hari kita memakai topeng antagonist. Akan tetapi, seorang pelakon drama membutuhkan kehadiran penonton untuk memberikan standing applaus, serta saweran berupa uang maupun sepatu. Maka, teruskanlah kau bernyanyi dan jangan lagumu terhenti. Mari kita berikan hiburan terbaik untuk ‘para pengagum (pemantau)’ rahasia. (swastantika)   

Senin, 25 Februari 2013

MEMULIHKAN HARGA DIRI



Hal yang berkenaan dengan syahwat disebut sebagai sunah Rasul bagi sebagian orang, yaitu sesuatu yang tidak harus dilakukan, namun akan memberikan berkah kepada mereka yang bersedia melakukannya dengan sukarela, ikhlas, dan tentu saja,sah. Making Love, kata orang-orang England, memang merupakan sesuatu yang indah, namun keindahan itu bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Ketika hak asasi nan privasi itu kemudian dieksplorasi demi keuntungan finansial, maka terhenyaklah para kawula. Kaum kita yang lugu membuka pintu selebar-lebarnya hingga riuh rendah informasi menjejali isi kepala. Di suatu titik otak tiba-tiba berhenti berjalan lantaran kelebihan muatan. Dalam kondisi kehilangan akal secara mendadak, mereka mengira akan dapat mengurangi beban pikiran tersebut dengan mengeluarkan hasrat secara membabi buta kepada siapa saja. 

Baru-baru ini Kepolisian Republik Indonesia telah merilis data terbaru jumlah kasus perkosaan pada rahun 2012 mencapai 267.181 kasus, mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 274.180 kasus ( Liputan6.com 10/2 ), dan telah mencapai 25 kasus sepanjang Januari 2013. Perilaku semacam ini yang merupakan gejala awal dari sindroma gegar budaya, umumnya dialami masyarakat di Negara berkembang, telah mengakibatkan sejumlah efek samping yang maha dahsyat. Di samping timbulnya peningkatan signifikan dalam jumlah pernikahan usia dini yang dicatatkan di masing-masing wilayah, sengketa akibat pernikahan siri juga mengalami peningkatan, berikut perceraian dan pula perkosaan terhadap korban berusia dewasa, remaja, dan bahkan anak-anak. Eksploitasi berita kasus perkosaan beberapa waktu lalu layaknya sebuah pernyataan yang mengamini sisi gelap manusia, sebuah pengakuan banal terhadap ketidakmampuan manusia untuk mengalahkan iblis yang bersemayam di dalam batinnya sendiri. 
 
Sumpah serapah dan hukuman yang jauh lebih keji, sebagaimana pernah dikatakan penulis Arswendo Atmowiloto, akan didapatkan para pelaku perkosaan ketika mereka menjalani hukuman di dalam penjara, tempat dimana mereka hidup bersama dengan kawan-kawan sesama narapidana. Jeruji besi adalah hotel prodeo, tempat dimana harga manusia dilucuti menjadi sekelas budak, tiada lagi hak untuk berkumpul bersama keluarga maupun orang yang dicintai. Meski demikian, ingatan akan keluarga masih membekas begitu dalam di dalam jiwa orang-orang buangan itu, di saat mereka mengganjar tanpa ampun para perkosaan yang dianggap telah mencabik-cabik kekasih tercintanya sendiri.
                 
Kegagalan Sistem
Kita boleh menepuk dada sebagai Negara dengan wilayah Kepulauan terluas di dunia yang kaya akan berbagai macam adat istiadat dan norma budaya, dikenal sebagai bangsa yang santun dan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, sekaligus merupakan Negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia – yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi seluruh penganutnya. Dengan segala kelebihan dan predikat yang indah-indah itu, tak berlebihan kiranya jika sebuah tanggung jawab besar dibebankan ke pundak kita, yaitu harapan akan terciptanya generasi dengan pribadi-pribadi yang menyejukkan serta membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.

Namun, krisis ekonomi dan ketakberpunyaan materi telah mencampakkan kita begitu dalam, dan sejak saat itu kita tidak lagi berpikir keras tentang arti ketentraman, selain daripada ketercukupan dalam hal finansial. Kedua orang tua bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan dapur dan menggantikan waktu serta kasih sayang mereka kepada anak-anak dengan sejumlah uang saku, kendaraan pribadi, gadget keluaran terbaru, dan sekolah berkualitas nomer satu.  Maka tidak heran jika hari-hari kita belakangan ini penuh sesak oleh para orang dewasa berjiwa kanak-kanak, yang tiada memiliki kepekaan rasa terhadap sesamanya. Orang-orang semacam ini boleh jadi menjadi suksesor dalam bidangnya masing-masing, namun sebaliknya membawa malapetaka manakala berupaya memaksakan kehendak duniawi kepada pihak kedua yang belum tentu memahami.

Ketika seorang manusia dewasa menjelma menjadi monster yang siap memangsa tanpa pandang bulu, pertanyaan pertama yang muncul adalah : siapa orang tuanya ? Dalam keluarga macam apa dia dibesarkan ? Sedemikian burukkah orang tua yang mengasuhnya, sehingga dia tidak mengerti batas antara benar dan salah ? Ya, benar. Mereka telah didewasakan oleh keluarga yang gagal. Lantas dimanakah tangan Negara yang seharusnya tidak hanya bertugas menyejahterakan rakyat dalam hal materi, namun juga menjamin keselamatan dan keamanan secara rohani dengan mewaspadai terjangkitnya anak-anak dari penyakit sosial serta perilaku menyimpang sedini mungkin ? Gagalkah Negara karena membiarkan ekonomi biaya tinggi menggelinding dengan bebasnya, memaksa para ibu meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan demi sesuap nasi, serta menyerahkan tanggung jawab pembentukan moral kepada pihak ketiga ?

 Bangkit dari Kubur
Para korban perkosaan dahulunya adalah manusia-manusia normal, namun sesuatu dalam dirinya direnggut dan dikubur dalam-dalam tepat pada saat dirinya mengalami musibah itu. Sedemikian hebatnya pelaknatan terhadap para perkosaan, yang musti menerima konsekuensi logis sebagai buah dari perbuatannya, tidak akan pernah dapat mengembalikan keadaan semula. Bukan, bukan keperawanan dan atau keperjakaan ( dalam beberapa kasus sodomi terhadap anak-anak lelaki ). Melainkan ‘perasaan yang sudah tidak memiliki harga dan diobralpun tidak laku’ yang akan dibawa serta para korban seumur hidupnya. 
  
Luka psikis yang ditimbulkan oleh tindak pidana perkosaan bisa menjadi teramat dalam, dan akan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun, bahkan seumur hidup, bagi seorang korban perkosaan untuk dapat menerima kenyataan pahit yang dihadiahkan kehidupan kepadanya. Hilangnya harga diri dan menganggap rendah terhadap keberadaan diri sendiri adalah beberapa diantara dampak psikologis yang dialami para korban perkosaan. Gejala ini dapat menjadi pemicu bagi sejumlah tindakan lanjutan akibat depresi seperti meningkatnya rasa rendah diri, pesimis terhadap masa depan, pemutusan segala bentuk komunikasi dan interaksi dengan pihak luar, hilangnya kepercayaan terhadap lawan jenis, percobaan bunuh diri dan menjerumuskan diri ke lembah prostitusi.

Hal inilah yang sebenarnya perlu mendapatkan perhatian dalam porsi yang lebih besar dibandingkan perdebatan mengenai siapakah pemicu terjadinya perkosaan, pelaku dan nafsunya yang tidak terdidik, ataukah korban yang secara tidak disengaja telah membangkitkan keinginan liar para pelaku terhadap dirinya, dimana kemungkinan ini mendapat kecaman keras dari masyarakat sebagai bentuk patriarkisme sistem terhadap para korban perkosaan. Paling tidak, Negara mampu menyediakan layanan konseling paska kejadian dengan biaya rendah maupun tanpa biaya, terutama bagi korban yang berasal dari kalangan kurang mampu. Selain konseling juga perlu adanya pemantauan perilaku terhadap para korban perkosaan hingga kurun waktu tertentu, untuk memastikan bahwa mereka telah stabil secara psikis dan siap melanjutkan hidup kembali. Peran dan kepedulian Negara terhadap para korban sangat penting sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kembali harga diri yang telah terkoyak, sehingga para korban mampu mengemudikan kembali kendaraan pada jalurnya semula.(swastantika)

Minggu, 30 Desember 2012

SISTEM YANG IDEAL

Penyambutan tahun baru yang hiruk pikuk, itu memang adalah salah satu hak asasi dan pilihan Anda akan menjadi salah satu bagiannya atau tidak. Jika Julius Caesar, penguasa legendaries sekaligus pencipta kalender Masehi sempat bangkit dari kuburnya pada era ini, ia pun akan bertanya-tanya, sebegitu besarkah harga yang harus dikeluarkan manusia ultra modern demi merasakan sensasi perubahan tanggal dan kalender ? Atau bisa jadi malah dirinya ogah kembali lagi ke alam kubur, dan memilih untuk ikut berpesta demi merayakan penemuan system penanggalan yang dibuatnya sendiri.

Kata Sistem awalnya berasal dari bahasa Yunani (sustēma) dan bahasa Latin (systēma). Sedangkan pengertian dan definisi sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk keseluruhan yang kompleks. Demi apakah manusia menciptakan system ? Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk mengatur hidup dan sesamanya kepada tujuan jangka panjang masing-masing. Sistem pada awalnya dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia. Agar hidup mereka menjadi lebih teratur, dan dengan sendirinya akan terciptalah perdamaian. Karena arah yang ingin dicapai tidaklah sederhana, maka manusia pun tidak gegabah dalam merancang system. Mereka mencetuskan berlakunya sebuah system secara permanen setelah melakukan uji dan coba kepada dirinya sendiri, dan lambat laun optimistis hasil yang sama dapat dicapai secara berulang, apabila system yang sama tetap dilaksanakan oleh generasi berikutnya. 

Nyatanya, pergeseran zaman turut serta menggeser kualitas sumber daya manusia, berikut pola pikir, ketahanan mental serta kecerdasan intuitif mereka. Beragamnya jenis santapan rupa-rupanya punya andil dalam menambah jumlah sel-sel kelabu dalam otak, dan manusia ultra modern menjadi berkelebihan dibanding para pendahulunya, yaitu lebih piawai dalam mencari jalan pintas tersingkat dalam mewujudkan keinginannya. Sehingga demi mencapai tujuan mereka tidak perlu lagi menggunakan system serumit ciptaan para orang tua. Bukankah lebih cepat itu lebih baik ? Memang. Namun segala kemudahan yang merupakan asal muasal datangnya attitude malas dan mudah menyerah itu dipandang sebagai celah dan peluang buat sebagian kecil manusia ambisius, yang bersedia melakukan segala cara demi menuju Kota Roma.

Kisah Sang Pemberontak
Para pembuat system bukanlah orang-orang masa kini, apalagi masa depan. Mereka lahir dan dibesarkan dari masa yang sangat random dan antah berantah, masa-masa penuh perjuangan nan berdarah-darah. Tanpa kerja keras mereka hari ini kita belum tentu dapat saling berbicara dalam Bahasa Indonesia, merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 maupun memiliki kebanggaan karena memiliki kewarganegaraan Indonesia. Oleh karenanya kita patut mengacungkan jempol karena membuat dan meletakkan dasar-dasar bangunan Negara bukanlah pekerjaan mudah. Salah sedikit bisa runtuh susu sebelanga. Akan tetapi, masih saja ada cabang melintang di jalan, yang mengakibatkan perjalanan tidak semulus seperti yang sudah diangan-angankan.

Apakah ambisi berkuasa sahaja sudah cukup untuk membuat manusia lainnya dapat memahami apa yang diinginkannya ? Sayangnya tidak, karena berbedanya nama tiap-tiap individu makhluk yang namanya manusia, berbeda jualah isi kepalanya. Sedangkan saat ini adalah era keemasan internet yang serba cepat, dan manusia merasa mereka telah membuang waktunya dengan percuma manakala belajar memahami isi kepala si A, E dan Z, atau mencoba menemukan solusi terbaik dengan mengadakan musyawarah. Maka bisa dipahami kiranya jika kaum penguasa seringkali membangun pagar berduri di sekelilingnya berupa sederetan peraturan dan sanksi hukum, yang tidak perlu adil asalkan dapat memberikan efek jera kepada para pemilik isi kepala yang mencoba menjadi jagoan dengan menyatakan ketidaksetujuan.

Ibarat mangga yang matang akibat diperam, tidak akan pernah bisa seranum buah mangga yang matang dari pohonnya. Begitupun system yang dipaksa digunakan untuk mengikat liyan, membosankan, kurang bergairah dan loyo. Mereka hanya akan menjerumuskan para liyan ke dalam lingkaran iblis stagnasi. Melalui jalan yang hanya berujung pada titik Sisifus, maka titik klimaks, puncak pembuktian atas eksistensi sebagai makhluk berakal budi sejati pun akan semakin jauh dari pandangan. Kegagalan mencapai puncak hanya akan menimbulkan ketidakpuasan-ketidakpuasan, yang di kemudian hari kekecewaan itu akan tumbuh dan dewasa sebagai amok.

Pilihan Sempurna 

Tanpa manusia bersusah payah pun sebenarnya alam sudah menyediakan segalanya yang mereka butuhkan, termasuk diantaranya system. Hal itu nampak jelas ketika dua jenis makhluk hidup yang berlandaskan kasih sayang berikrar dan membuat komitmen untuk menjalin kerjasama dalam membangun sebuah keluarga. Sebuah system paling sederhana di muka dunia terbentuk manakala sang ayah memegang posisi sebagai pemimpin keluarga, ibu sebagai keluarga, dan anak-anak sebagai makhluk kecil yang harus dirawat baik-baik, agar dapat melanjutkan tongkat estafet system keluarga kelak saat mereka sudah dewasa.
 
Bukan manusia namanya jika tiada pernah terjerumus dalam lembah kealpaan. Itulah yang mereka perbuat tatkala dengan gagah berani memproklamirkan jalan hidup yang dipilihnya sebagai bentuk penolakan terhadap system yang berlaku. Naifnya kesesatan alam pikiran membuat mereka lupa, bahwa mereka bisa berjalan, makan dan bercinta karena adanya system yang mengatur cara kerja organ tubuh masing-masing. Sistem organ tubuhlah yang memberi tahu mereka kapan saatnya merasa lapar, dan pada jam berapa mereka harus berangkat tidur. Manusia tidak dapat melawan keteraturan system alami organ tubuh dengan mendadak tidak makan seharian, maupun tidak tidur selama berhari-hari, tanpa menanggung resiko penyakit kronis di belakang hari. Bisa dipahamikah muasalnya penderitaan manusia ? Yakni pada saat arogansi mereka menentang system alam, tanpa membekali diri dengan penerimaan terhadap konsekuensi logis atas bibit yang telah ditanamnya.

Pada saat seseorang memutuskan untuk menolak menundukkan kepalanya dalam-dalam terhadap sebuah system, saat itu pulalah ia ( seharusnya ) tahu jalur alternatif mana yang harus ditempuhnya. Untuk dapat hidup dan berdiri di luar system, yang mana hal itu merupakan hak asasi bagi tiap individu manusia untuk memilih, idealisme melulu tidaklah akan pernah cukup. Perut keroncongan sampai kapanpun tidak akan bisa dikenyangkan dengan hanya makan kata-kata, semboyan,filosofi, motivasi, resolusi, dll. Hanya uanglah yang bisa mengenyangkan perut, tetapi kita mempunyai berbagai macam pilihan tentang bagaimana memperolehnya dengan cara-cara yang ideal.

Akhirul kata, andaikata sesosok manusia tadi memang benar-benar keluar dari system yang diemohinya, dan sukses bertahan hidup dengan jalan (yang adalah juga merupakan panggilan lain dari kata ‘ system ‘) maka dirinya pun juga harus bersiap sedia, jikalau di kemudian hari harus berhadapan dengan sekelompok manusia muda lain yang seperti dirinya, yang juga gerah berkompromi dengan system yang sama bertahun-tahun lamanya. (swastantika)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...