Senin, 25 Februari 2013

MEMULIHKAN HARGA DIRI



Hal yang berkenaan dengan syahwat disebut sebagai sunah Rasul bagi sebagian orang, yaitu sesuatu yang tidak harus dilakukan, namun akan memberikan berkah kepada mereka yang bersedia melakukannya dengan sukarela, ikhlas, dan tentu saja,sah. Making Love, kata orang-orang England, memang merupakan sesuatu yang indah, namun keindahan itu bersifat rahasia dan hanya diketahui oleh kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Ketika hak asasi nan privasi itu kemudian dieksplorasi demi keuntungan finansial, maka terhenyaklah para kawula. Kaum kita yang lugu membuka pintu selebar-lebarnya hingga riuh rendah informasi menjejali isi kepala. Di suatu titik otak tiba-tiba berhenti berjalan lantaran kelebihan muatan. Dalam kondisi kehilangan akal secara mendadak, mereka mengira akan dapat mengurangi beban pikiran tersebut dengan mengeluarkan hasrat secara membabi buta kepada siapa saja. 

Baru-baru ini Kepolisian Republik Indonesia telah merilis data terbaru jumlah kasus perkosaan pada rahun 2012 mencapai 267.181 kasus, mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 274.180 kasus ( Liputan6.com 10/2 ), dan telah mencapai 25 kasus sepanjang Januari 2013. Perilaku semacam ini yang merupakan gejala awal dari sindroma gegar budaya, umumnya dialami masyarakat di Negara berkembang, telah mengakibatkan sejumlah efek samping yang maha dahsyat. Di samping timbulnya peningkatan signifikan dalam jumlah pernikahan usia dini yang dicatatkan di masing-masing wilayah, sengketa akibat pernikahan siri juga mengalami peningkatan, berikut perceraian dan pula perkosaan terhadap korban berusia dewasa, remaja, dan bahkan anak-anak. Eksploitasi berita kasus perkosaan beberapa waktu lalu layaknya sebuah pernyataan yang mengamini sisi gelap manusia, sebuah pengakuan banal terhadap ketidakmampuan manusia untuk mengalahkan iblis yang bersemayam di dalam batinnya sendiri. 
 
Sumpah serapah dan hukuman yang jauh lebih keji, sebagaimana pernah dikatakan penulis Arswendo Atmowiloto, akan didapatkan para pelaku perkosaan ketika mereka menjalani hukuman di dalam penjara, tempat dimana mereka hidup bersama dengan kawan-kawan sesama narapidana. Jeruji besi adalah hotel prodeo, tempat dimana harga manusia dilucuti menjadi sekelas budak, tiada lagi hak untuk berkumpul bersama keluarga maupun orang yang dicintai. Meski demikian, ingatan akan keluarga masih membekas begitu dalam di dalam jiwa orang-orang buangan itu, di saat mereka mengganjar tanpa ampun para perkosaan yang dianggap telah mencabik-cabik kekasih tercintanya sendiri.
                 
Kegagalan Sistem
Kita boleh menepuk dada sebagai Negara dengan wilayah Kepulauan terluas di dunia yang kaya akan berbagai macam adat istiadat dan norma budaya, dikenal sebagai bangsa yang santun dan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, sekaligus merupakan Negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia – yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi seluruh penganutnya. Dengan segala kelebihan dan predikat yang indah-indah itu, tak berlebihan kiranya jika sebuah tanggung jawab besar dibebankan ke pundak kita, yaitu harapan akan terciptanya generasi dengan pribadi-pribadi yang menyejukkan serta membawa kedamaian bagi lingkungan sekitarnya.

Namun, krisis ekonomi dan ketakberpunyaan materi telah mencampakkan kita begitu dalam, dan sejak saat itu kita tidak lagi berpikir keras tentang arti ketentraman, selain daripada ketercukupan dalam hal finansial. Kedua orang tua bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan dapur dan menggantikan waktu serta kasih sayang mereka kepada anak-anak dengan sejumlah uang saku, kendaraan pribadi, gadget keluaran terbaru, dan sekolah berkualitas nomer satu.  Maka tidak heran jika hari-hari kita belakangan ini penuh sesak oleh para orang dewasa berjiwa kanak-kanak, yang tiada memiliki kepekaan rasa terhadap sesamanya. Orang-orang semacam ini boleh jadi menjadi suksesor dalam bidangnya masing-masing, namun sebaliknya membawa malapetaka manakala berupaya memaksakan kehendak duniawi kepada pihak kedua yang belum tentu memahami.

Ketika seorang manusia dewasa menjelma menjadi monster yang siap memangsa tanpa pandang bulu, pertanyaan pertama yang muncul adalah : siapa orang tuanya ? Dalam keluarga macam apa dia dibesarkan ? Sedemikian burukkah orang tua yang mengasuhnya, sehingga dia tidak mengerti batas antara benar dan salah ? Ya, benar. Mereka telah didewasakan oleh keluarga yang gagal. Lantas dimanakah tangan Negara yang seharusnya tidak hanya bertugas menyejahterakan rakyat dalam hal materi, namun juga menjamin keselamatan dan keamanan secara rohani dengan mewaspadai terjangkitnya anak-anak dari penyakit sosial serta perilaku menyimpang sedini mungkin ? Gagalkah Negara karena membiarkan ekonomi biaya tinggi menggelinding dengan bebasnya, memaksa para ibu meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan demi sesuap nasi, serta menyerahkan tanggung jawab pembentukan moral kepada pihak ketiga ?

 Bangkit dari Kubur
Para korban perkosaan dahulunya adalah manusia-manusia normal, namun sesuatu dalam dirinya direnggut dan dikubur dalam-dalam tepat pada saat dirinya mengalami musibah itu. Sedemikian hebatnya pelaknatan terhadap para perkosaan, yang musti menerima konsekuensi logis sebagai buah dari perbuatannya, tidak akan pernah dapat mengembalikan keadaan semula. Bukan, bukan keperawanan dan atau keperjakaan ( dalam beberapa kasus sodomi terhadap anak-anak lelaki ). Melainkan ‘perasaan yang sudah tidak memiliki harga dan diobralpun tidak laku’ yang akan dibawa serta para korban seumur hidupnya. 
  
Luka psikis yang ditimbulkan oleh tindak pidana perkosaan bisa menjadi teramat dalam, dan akan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun, bahkan seumur hidup, bagi seorang korban perkosaan untuk dapat menerima kenyataan pahit yang dihadiahkan kehidupan kepadanya. Hilangnya harga diri dan menganggap rendah terhadap keberadaan diri sendiri adalah beberapa diantara dampak psikologis yang dialami para korban perkosaan. Gejala ini dapat menjadi pemicu bagi sejumlah tindakan lanjutan akibat depresi seperti meningkatnya rasa rendah diri, pesimis terhadap masa depan, pemutusan segala bentuk komunikasi dan interaksi dengan pihak luar, hilangnya kepercayaan terhadap lawan jenis, percobaan bunuh diri dan menjerumuskan diri ke lembah prostitusi.

Hal inilah yang sebenarnya perlu mendapatkan perhatian dalam porsi yang lebih besar dibandingkan perdebatan mengenai siapakah pemicu terjadinya perkosaan, pelaku dan nafsunya yang tidak terdidik, ataukah korban yang secara tidak disengaja telah membangkitkan keinginan liar para pelaku terhadap dirinya, dimana kemungkinan ini mendapat kecaman keras dari masyarakat sebagai bentuk patriarkisme sistem terhadap para korban perkosaan. Paling tidak, Negara mampu menyediakan layanan konseling paska kejadian dengan biaya rendah maupun tanpa biaya, terutama bagi korban yang berasal dari kalangan kurang mampu. Selain konseling juga perlu adanya pemantauan perilaku terhadap para korban perkosaan hingga kurun waktu tertentu, untuk memastikan bahwa mereka telah stabil secara psikis dan siap melanjutkan hidup kembali. Peran dan kepedulian Negara terhadap para korban sangat penting sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kembali harga diri yang telah terkoyak, sehingga para korban mampu mengemudikan kembali kendaraan pada jalurnya semula.(swastantika)

Minggu, 30 Desember 2012

SISTEM YANG IDEAL

Penyambutan tahun baru yang hiruk pikuk, itu memang adalah salah satu hak asasi dan pilihan Anda akan menjadi salah satu bagiannya atau tidak. Jika Julius Caesar, penguasa legendaries sekaligus pencipta kalender Masehi sempat bangkit dari kuburnya pada era ini, ia pun akan bertanya-tanya, sebegitu besarkah harga yang harus dikeluarkan manusia ultra modern demi merasakan sensasi perubahan tanggal dan kalender ? Atau bisa jadi malah dirinya ogah kembali lagi ke alam kubur, dan memilih untuk ikut berpesta demi merayakan penemuan system penanggalan yang dibuatnya sendiri.

Kata Sistem awalnya berasal dari bahasa Yunani (sustēma) dan bahasa Latin (systēma). Sedangkan pengertian dan definisi sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk keseluruhan yang kompleks. Demi apakah manusia menciptakan system ? Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk mengatur hidup dan sesamanya kepada tujuan jangka panjang masing-masing. Sistem pada awalnya dibuat untuk memudahkan kehidupan manusia. Agar hidup mereka menjadi lebih teratur, dan dengan sendirinya akan terciptalah perdamaian. Karena arah yang ingin dicapai tidaklah sederhana, maka manusia pun tidak gegabah dalam merancang system. Mereka mencetuskan berlakunya sebuah system secara permanen setelah melakukan uji dan coba kepada dirinya sendiri, dan lambat laun optimistis hasil yang sama dapat dicapai secara berulang, apabila system yang sama tetap dilaksanakan oleh generasi berikutnya. 

Nyatanya, pergeseran zaman turut serta menggeser kualitas sumber daya manusia, berikut pola pikir, ketahanan mental serta kecerdasan intuitif mereka. Beragamnya jenis santapan rupa-rupanya punya andil dalam menambah jumlah sel-sel kelabu dalam otak, dan manusia ultra modern menjadi berkelebihan dibanding para pendahulunya, yaitu lebih piawai dalam mencari jalan pintas tersingkat dalam mewujudkan keinginannya. Sehingga demi mencapai tujuan mereka tidak perlu lagi menggunakan system serumit ciptaan para orang tua. Bukankah lebih cepat itu lebih baik ? Memang. Namun segala kemudahan yang merupakan asal muasal datangnya attitude malas dan mudah menyerah itu dipandang sebagai celah dan peluang buat sebagian kecil manusia ambisius, yang bersedia melakukan segala cara demi menuju Kota Roma.

Kisah Sang Pemberontak
Para pembuat system bukanlah orang-orang masa kini, apalagi masa depan. Mereka lahir dan dibesarkan dari masa yang sangat random dan antah berantah, masa-masa penuh perjuangan nan berdarah-darah. Tanpa kerja keras mereka hari ini kita belum tentu dapat saling berbicara dalam Bahasa Indonesia, merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 maupun memiliki kebanggaan karena memiliki kewarganegaraan Indonesia. Oleh karenanya kita patut mengacungkan jempol karena membuat dan meletakkan dasar-dasar bangunan Negara bukanlah pekerjaan mudah. Salah sedikit bisa runtuh susu sebelanga. Akan tetapi, masih saja ada cabang melintang di jalan, yang mengakibatkan perjalanan tidak semulus seperti yang sudah diangan-angankan.

Apakah ambisi berkuasa sahaja sudah cukup untuk membuat manusia lainnya dapat memahami apa yang diinginkannya ? Sayangnya tidak, karena berbedanya nama tiap-tiap individu makhluk yang namanya manusia, berbeda jualah isi kepalanya. Sedangkan saat ini adalah era keemasan internet yang serba cepat, dan manusia merasa mereka telah membuang waktunya dengan percuma manakala belajar memahami isi kepala si A, E dan Z, atau mencoba menemukan solusi terbaik dengan mengadakan musyawarah. Maka bisa dipahami kiranya jika kaum penguasa seringkali membangun pagar berduri di sekelilingnya berupa sederetan peraturan dan sanksi hukum, yang tidak perlu adil asalkan dapat memberikan efek jera kepada para pemilik isi kepala yang mencoba menjadi jagoan dengan menyatakan ketidaksetujuan.

Ibarat mangga yang matang akibat diperam, tidak akan pernah bisa seranum buah mangga yang matang dari pohonnya. Begitupun system yang dipaksa digunakan untuk mengikat liyan, membosankan, kurang bergairah dan loyo. Mereka hanya akan menjerumuskan para liyan ke dalam lingkaran iblis stagnasi. Melalui jalan yang hanya berujung pada titik Sisifus, maka titik klimaks, puncak pembuktian atas eksistensi sebagai makhluk berakal budi sejati pun akan semakin jauh dari pandangan. Kegagalan mencapai puncak hanya akan menimbulkan ketidakpuasan-ketidakpuasan, yang di kemudian hari kekecewaan itu akan tumbuh dan dewasa sebagai amok.

Pilihan Sempurna 

Tanpa manusia bersusah payah pun sebenarnya alam sudah menyediakan segalanya yang mereka butuhkan, termasuk diantaranya system. Hal itu nampak jelas ketika dua jenis makhluk hidup yang berlandaskan kasih sayang berikrar dan membuat komitmen untuk menjalin kerjasama dalam membangun sebuah keluarga. Sebuah system paling sederhana di muka dunia terbentuk manakala sang ayah memegang posisi sebagai pemimpin keluarga, ibu sebagai keluarga, dan anak-anak sebagai makhluk kecil yang harus dirawat baik-baik, agar dapat melanjutkan tongkat estafet system keluarga kelak saat mereka sudah dewasa.
 
Bukan manusia namanya jika tiada pernah terjerumus dalam lembah kealpaan. Itulah yang mereka perbuat tatkala dengan gagah berani memproklamirkan jalan hidup yang dipilihnya sebagai bentuk penolakan terhadap system yang berlaku. Naifnya kesesatan alam pikiran membuat mereka lupa, bahwa mereka bisa berjalan, makan dan bercinta karena adanya system yang mengatur cara kerja organ tubuh masing-masing. Sistem organ tubuhlah yang memberi tahu mereka kapan saatnya merasa lapar, dan pada jam berapa mereka harus berangkat tidur. Manusia tidak dapat melawan keteraturan system alami organ tubuh dengan mendadak tidak makan seharian, maupun tidak tidur selama berhari-hari, tanpa menanggung resiko penyakit kronis di belakang hari. Bisa dipahamikah muasalnya penderitaan manusia ? Yakni pada saat arogansi mereka menentang system alam, tanpa membekali diri dengan penerimaan terhadap konsekuensi logis atas bibit yang telah ditanamnya.

Pada saat seseorang memutuskan untuk menolak menundukkan kepalanya dalam-dalam terhadap sebuah system, saat itu pulalah ia ( seharusnya ) tahu jalur alternatif mana yang harus ditempuhnya. Untuk dapat hidup dan berdiri di luar system, yang mana hal itu merupakan hak asasi bagi tiap individu manusia untuk memilih, idealisme melulu tidaklah akan pernah cukup. Perut keroncongan sampai kapanpun tidak akan bisa dikenyangkan dengan hanya makan kata-kata, semboyan,filosofi, motivasi, resolusi, dll. Hanya uanglah yang bisa mengenyangkan perut, tetapi kita mempunyai berbagai macam pilihan tentang bagaimana memperolehnya dengan cara-cara yang ideal.

Akhirul kata, andaikata sesosok manusia tadi memang benar-benar keluar dari system yang diemohinya, dan sukses bertahan hidup dengan jalan (yang adalah juga merupakan panggilan lain dari kata ‘ system ‘) maka dirinya pun juga harus bersiap sedia, jikalau di kemudian hari harus berhadapan dengan sekelompok manusia muda lain yang seperti dirinya, yang juga gerah berkompromi dengan system yang sama bertahun-tahun lamanya. (swastantika)

Rabu, 31 Oktober 2012

RASA YANG MENDIDIK


        Sebagai orang tua yang sudah meninggalkan bangku sekolah dan kuliah selama bertahun-tahun, sampai saat ini pun saya masih bertanya-tanya, mengapa dulu saya harus bersekolah, dan mengapa saya mau saja disuruh orang tua berangkat ke sekolah sambil memanggul puluhan buku tebal dalam tas kami, menelan mentah-mentah pelajaran tambahan, pengayaan, uji kemampuan bulanan, harian maupun tahunan, serta semua materi yang dijanjikan akan menjadikan kami menjadi manusia yang lebih cerdas dan bermartabat di masa mendatang.
 Buat kami, guru tidak masuk karena sakit adalah hal yang ditunggu-tunggu semua murid, mulai dari ketua kelas sampai siswa teladan. Bukan hendak membalas dendam lantaran sering dimarahi, lalu mendoakan kesialan menimpa guru tercinta. Melainkan , at least,  kami dapat merasakan sensasi senang dan santai berada di sekolah, berinteraksi dengan teman-teman senasib, membaca buku atau mendengarkan musik dari walkman dan radio  transistor  (harap maklum karena Mp3 player dan iPod saat itu masih berupa angan-angan penciptanya masing-masing) yang dibawa secara sembunyi-sembunyi.  Mangkir alias bolos sekolah adalah suatu pelanggaran terhadap peraturan yang sedikit menantang adrenalin. Biar orang mau berkata apa, yang penting kami senang
Meski kedengaran sedikit ‘anti sistem’, namun kami mengakui perilaku melanggar peraturan menimbulkan kepuasan tersendiri dalam batin, semacam upaya pembuktian terhadap paranoia para orang tua, sekolah dan, bahkan, pemerintah. Bukti bahwa kami punya nyali untuk tampil sebagai insan yang tidak dapat disamakan, dan lebih mengerti perubahan zaman dibandingkan kaum renta.  Dalam sudut pandang kami,  penyimpangan perilaku yang kami lakukan bukan merupakan suatu penyakit berbahaya yang harus diberantas dengan penambahan jam pelajaran tentang moral dan berbagai jenis norma-norma sosial.  Melainkan semacam takdir kegalauan batin alami yang dialami sesosok manusia dewasa berusia muda, semacam bentuk protes terhadap kenyataan mengapa harus menjadi ‘besar’ di dalam tubuhnya yang ‘kecil’, dan sebaliknya.

Karakter Instan
            Seorang pemerhati pendidikan terkemuka, Arif Rahman mengatakan, dirinya merasa kecolongan dengan adanya beberapa peristiwa kekerasan yang melibatkan pelajar, baik sebagai korban maupun pelaku, belakangan ini. Dengan besar hati beliau menandaskan, peristiwa  itu merupakan cermin kesalahan serta tanggung jawab dari orang tua, sekolah, masyarakat dan pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan yang ternyata gagal membentuk watak anak muda kita. Sementara itu, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menampik tawuran merupakan akibat dari kegagalan sistem pendidikan (Antara, 30/9), karena hanya dilakukan sebagian kecil pelajar yang berdomisili di Jakarta dan tidak terjadi di tempat lain di luar Jakarta ( kecuali Makassar ).  
         Watak, karakter, perilaku, ketiga hal inilah yang selalu menjadi kambing hitam atas semakin beringasnya perilaku generasi penerus kita, menurut sudut pandang kita sebagai pendidik maupun orang tua.  Namun, siapakah yang dapat mengetahui tentang visi remaja kita tentang masa depan ? Karena toh nyatanya degradasi tidak hanya terjadi pada kualitas udara yang kita hirup, tetapi juga pada strategi dan metodologi yang diaplikasikan untuk mencapai suatu tujuan. Bahwa menurut mereka untuk mendapatkan pengakuan atas kehebatan, ketenaran, dan popularitas tidak memerlukan jerih payah berdarah-darah seperti nasihat para leluhur, melainkan cukup dengan meng-upload foto, video, tweet maupun status senarsis dan sesensasional mungkin tentang diri dan dunianya masing-masing, jawaban lugas dari pertanyaan ‘what’s on your mind?’, terbebas sejenak dari segala bentuk peraturan yang membelenggu dirinya.
Namun, sang anak hanya mengidentifikasikan dirinya sebagai pemilik, pengguna, tak pernah menjadi pencipta; dia tidak menemukan dunia ini, dia hanya menggunakannya: yang disiapkan bagi dia, ada tindakan-tindakan tanpa petualangan, tanpa pertanyaan, tanpa rasa senang ( Roland Barthes ). Maka wajarlah jika sebuah surat kabar nasional menyimpulkan gejala depresi manusia modern ada kaitannya dengan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bersosialisasi di jejaring sosial. Mereka menanti dengan penuh harap tanggapan simpatik dalam komentar rekan-rekan mayanya, namun tidak siap dengan sikap sinis maupun apatis yang mungkin saja terposting.  Kesibukan bermain gadget membuat mereka lupa cara menghadapi kenyataan hidup, dan sibuk mencari sasaran pelampiasan kemarahan.  Sikap diam anak muda di rumah justru merupakan lampu kuning bagi kita, adakah mereka hanya menunggu waktu dan kesempatan untuk melampiaskan ketidakpuasannya terhadap ketidak ramahan dunia secara membabi buta ?

#Save Our Children
            Pernahkah Anda mendengar nama Leonardo Da Vinci ? Ya, dia adalah kreator di balik buah karya fenomenal sepanjang masa, Monalisa, yang ternyata juga adalah seorang musisi, koki dan ilmuwan. Melalui sketsanya ia mencoba mengungkapkan hasil pengamatan tentang cara terbang seekor burung (yang di kemudian hari dikembangkan oleh Wright Bersaudara menjadi alat transportasi yang bernama pesawat terbang), desain kapal selam, jam, kanon uap, pompa hidrolik dan sebuah studi tentang anatomi tubuh manusia. Sejarah mencatat kemampuan Da Vinci (di kemudian hari beliau diketahui juga mengidap sindroma autism) yang belum tertandingi dalam hal menggabungkan gambar nyata suatu rancangan (gambar teknik) dengan unsur keindahan, yang mengilhami banyak orang hingga detik ini.  
            Eksistensi Da Vinci seakan mengamini pengertian umum tentang seni, yakni sebuah aktifitas yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang memiliki nilai keindahan. Aktifitas sederhana ini memang hanya membutuhkan kebebasan para pelakunya untuk mengekspresikan segala bentuk ide. Dengan berkesenian manusia tidak harus menjadi seseorang yang tidak diinginkannya, karena setiap ekspresi dalam seni membutuhkan kejujuran terhadap apa yang dirasakan di dalam benak masing-masing. Seni juga merupakan suatu titik dimana ilmu  mengawali langkah fenomenalnya untuk kali pertama, dimana tiap manusia dapat menumbuhkan keingintahuan di dalam dirinya masing-masing, serta membebaskan mereka untuk menemukan berbagai pengetahuan di pelbagai kedalamannya yang mencengangkan.
            Akan tetapi, waktu berlalu begitu cepat, dan kebutuhan naluri berksperesi dipandang sebagai penghambat kemajuan. Terbukti, kurikulum pendidikan dasar dan menengah di negeri ini kian meminggirkan mata pelajaran Kesenian sebagai mata pelajaran wajib. Kesenian dianggap tidak membawa manfaat, selain sebagai penggembira acara peresmian gedung, tujuhbelasan, atau pentas akhir tahun ajaran. Dibanding mata pelajaran eksak seni tidak akan membuat orang menjadi kaya raya dan terkenal,  karena tidak ada kisahnya orang berlatar belakang pendidikan seni meraih posisi mapan di sebuah perusahaan. Namun, apakah tujuan mendidik adalah untuk menjadikan sang anak kaya ketika mereka dewasa,  sehingga kita bira balik modal ?
            Manusia tidak dapat disebut pandai plus jenius hanya karena ia dapat memecahkan sejuta persoalan matematika dan fisika. Apalah artinya sebuah kepandaian, jika tidak dibarengi dengan kepekaan rasa terhadap keberadaan individu lain di sekitarnya. Berartikah kejeniusan bila hanya mendatangkan penderitaan bagi sesama ? Berhati-hatilah terhadap kekayaan, kecuali bila tidak keberatan menjadi korban kriminalitas., atau kehilangan nyawa.
(swastantika)

Minggu, 30 September 2012

AKAL-AKALAN

MIMPI TERINDAH



         Belakangan ini tetangga saya mengeluh, bangun tidur tubuh bukannya segar malah tambah terasa pegal-pegal. Padahal, ia mengaku sudah berangkat ke peraduan sejak pukul 9 malam, dan baru bangun setelah pukul 6 pagi keesokan harinya, itu pun dengan bantuan omelan istri. Berangkat tidur lebih awal dan bangun paling lambat diakuinya sudah menjadi kegiatan favoritnya selama beberapa bulan terakhir. Kapan tepatnya, ia tidak yakin. Satu-satunya yang diyakininya adalah, ekonomi biaya akan semakin tinggi hingga batas waktu yang tidak ia ketahui, dan berharap dalam mimpinya akan ditemukan jawaban mengenai tanggal dan jam berakhirnya krisis beras di negeri ini.
        Perlukah kita bermimpi ? Mungkin Anda akan menjawab ‘ya’, karena selain sebuah aktifitas wajar pada otak, mimpi adalah sebuah hiburan murah. Cukup dengan membaringkan badan dan memejamkan mata, kita dapat merasakan sensasi suatu pengalaman baru, meski hanya maya. Ada beberapa mimpi yang dapat berulang setiap kali manusia berangkat ke alam tidur, tergantung kepada kondisi psikologis masing-masing. Beberapa lainnya sangat dan teramat indah, tidak dapat diulangi,  bahkan di dunia nyata sekalipun. 
           Namun, ada juga sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk dapat dan merasakan adanya mimpi, tak peduli seberapa empuk dan nyaman kasur, atau berapa botol dan butir pil tidur yang ditenggaknya. Lantas, kaum jenis ini pun berpikir pragmatis, mungkin mereka harus mengeluarkan sejumlah rupiah untuk dapat meyakini kehadiran mimpi dalam kehidupan mereka.
                       
Mimpi Terindah
Walaupun tiap individu mempunyai definisi sendiri-sendiri, saya  99,99% yakin bahwa hidup layak tanpa kekurangan merupakan salah satu impian terindah setiap umat manusia di muka Bumi. Memang sih, hal itu merupakan salah satu hak pokok manusia yang paling asasi. Namun, apa daya, jauh panggang dari api. Jangankan untuk hidup layak, sekedar dapat bernafas kembali pada esok haripun sudah lebih dari cukup.
Maka jangan heran, ketika manusia mendadak berubah menjadi monster pemakan segala diskon, demi memperoleh barang-barang berkilau untuk dikenakan atau dipamerkan di Hari Raya yang baru saja lewat. Rela mempertaruhkan nyawa dengan menjadi pencuri jemuran, pencopet, preman parkiran, demi menyenangkan anak istri. Sementara, sebagian kecil lainnya mengakhiri hidup dengan cara sendiri, akibat putus asa tidak berdaya untuk larut dalam keriaan duniawi tersebut.
Demi mencapai prestasi sebagai negara yang tidak gagal, data statistik mengenai pertumbuhan ekonomi yang positif di Indonesia  pun digembar-gemborkan. Di saat perekonomian Eropa terpuruk dan hanya mampu tumbuh di bawah 1% pada tahun ini, Indonesia boleh berbangga hati karena mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Tak kurang dari Fitch Rating dan Moody’s memberikan status investment grade kepada negara tercinta, terkait persepsi positif Indonesia di mata investor (Media Indonesia, Kamis 16/8/2012). 
Angka-angka itu memang menyatakan adanya peningkatan pertumbuhan yang tak lain dan tak bukan, berasal dari peningkatan konsumsi masyarakat akibat perubahan harga sejumlah barang kebutuhan pokok.  Jadi bukan karena Negara berhasil melakukan pemerataan keadilan ekonomi, mengangkat taraf hidup kaum tak berpunya, ataupun berhasil memotivasi mereka (dan, terutama,  dirinya sendiri) untuk memperbaiki nasib saat ini.

Bangun dari Mimpi
      Ketika saya memutuskan pada pukul berapa saya tidur, pada saat bersamaan (seharusnya) saya juga sudah memutuskan pada pukul berapakah saya akan bangun. Akan tetapi, semalam lalu adalah malam yang berat, saya habis kerja lembur, terjebak macet harian, dan saya hanyalah manusia biasa yang mendambakan tidur senyaman-nyamannya. Mungkin saja setanlah yang akan bangun jika Anda membangunkan saya tanpa permisi. Emangnya mau situ diterkam setan ?
            Meski demikian, mau tidak mau, bersedia atau tidak bersedia, siap atau tidak siap, saya, Anda dan kita semua harus segera bangun dari tidur, untuk kemudian dapat bergerak dan beraktifitas, kalau tidak ingin dianggap almarhum karena memilih untuk diam dalam tidur dan menyambung mimpi selama mungkin. Toh Anda tidak membutuhkan seorang motivator pun untuk berkata di depan hidung Anda, bahwa langkah pertama untuk segera melepaskan diri dari jeratan mimpi adalah bangkit, membuka mata selebar mungkin, segera mandi, dan jangan tidur lagi.
         Ya memang ada sih sebagian kecil golongan yang merasa tidak siap menghadapi transisi dari dunia mimpi ke dunia nyata, dari jaman sepur lempung ke jaman komuter listrik, dari masa kini ke masa lalu, dan melepasliarkan kegagapannya hingga melukai diri kita, orang lain serta dirinya sendiri. Musti dendamkah kita kepadanya ? Jangan. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengasihani dan memaafkan dirinya, yang merepresentasikan salah satu jenis spesies penderita ketakutan akut terhadap sesuatu yang gaib, sesuatu yang belum tentu, sahih dan pasti terjadi.
           
Sebagian dari kita mungkin telah mati rasa, dan menganggap ketidakpastian dalam hidup belakangan ini merupakan sesuatu yang biasa, sesuatu takdir yang tidak mungkin bisa kita ubah. Apakah mungkin karena terjerembab dalam keputusasaan itulah yang kemudian membuat sebagian dari diri kita memutuskan untuk berhenti berharap, dan membangun istana impian dengan bantuan narkoba, tikus, tuyul, maupun dukun pengganda uang ?  Sebenarnya manakah yang kenyataan, hidup menderita ataukah berfoya-foya ? Sebentar, sebentar … saya juga ragu nih, sebenarnya saya sekarang lagi bermimpi atau enggak ya ?
(swastantika)                

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...