Minggu, 30 September 2012

MIMPI TERINDAH



         Belakangan ini tetangga saya mengeluh, bangun tidur tubuh bukannya segar malah tambah terasa pegal-pegal. Padahal, ia mengaku sudah berangkat ke peraduan sejak pukul 9 malam, dan baru bangun setelah pukul 6 pagi keesokan harinya, itu pun dengan bantuan omelan istri. Berangkat tidur lebih awal dan bangun paling lambat diakuinya sudah menjadi kegiatan favoritnya selama beberapa bulan terakhir. Kapan tepatnya, ia tidak yakin. Satu-satunya yang diyakininya adalah, ekonomi biaya akan semakin tinggi hingga batas waktu yang tidak ia ketahui, dan berharap dalam mimpinya akan ditemukan jawaban mengenai tanggal dan jam berakhirnya krisis beras di negeri ini.
        Perlukah kita bermimpi ? Mungkin Anda akan menjawab ‘ya’, karena selain sebuah aktifitas wajar pada otak, mimpi adalah sebuah hiburan murah. Cukup dengan membaringkan badan dan memejamkan mata, kita dapat merasakan sensasi suatu pengalaman baru, meski hanya maya. Ada beberapa mimpi yang dapat berulang setiap kali manusia berangkat ke alam tidur, tergantung kepada kondisi psikologis masing-masing. Beberapa lainnya sangat dan teramat indah, tidak dapat diulangi,  bahkan di dunia nyata sekalipun. 
           Namun, ada juga sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk dapat dan merasakan adanya mimpi, tak peduli seberapa empuk dan nyaman kasur, atau berapa botol dan butir pil tidur yang ditenggaknya. Lantas, kaum jenis ini pun berpikir pragmatis, mungkin mereka harus mengeluarkan sejumlah rupiah untuk dapat meyakini kehadiran mimpi dalam kehidupan mereka.
                       
Mimpi Terindah
Walaupun tiap individu mempunyai definisi sendiri-sendiri, saya  99,99% yakin bahwa hidup layak tanpa kekurangan merupakan salah satu impian terindah setiap umat manusia di muka Bumi. Memang sih, hal itu merupakan salah satu hak pokok manusia yang paling asasi. Namun, apa daya, jauh panggang dari api. Jangankan untuk hidup layak, sekedar dapat bernafas kembali pada esok haripun sudah lebih dari cukup.
Maka jangan heran, ketika manusia mendadak berubah menjadi monster pemakan segala diskon, demi memperoleh barang-barang berkilau untuk dikenakan atau dipamerkan di Hari Raya yang baru saja lewat. Rela mempertaruhkan nyawa dengan menjadi pencuri jemuran, pencopet, preman parkiran, demi menyenangkan anak istri. Sementara, sebagian kecil lainnya mengakhiri hidup dengan cara sendiri, akibat putus asa tidak berdaya untuk larut dalam keriaan duniawi tersebut.
Demi mencapai prestasi sebagai negara yang tidak gagal, data statistik mengenai pertumbuhan ekonomi yang positif di Indonesia  pun digembar-gemborkan. Di saat perekonomian Eropa terpuruk dan hanya mampu tumbuh di bawah 1% pada tahun ini, Indonesia boleh berbangga hati karena mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Tak kurang dari Fitch Rating dan Moody’s memberikan status investment grade kepada negara tercinta, terkait persepsi positif Indonesia di mata investor (Media Indonesia, Kamis 16/8/2012). 
Angka-angka itu memang menyatakan adanya peningkatan pertumbuhan yang tak lain dan tak bukan, berasal dari peningkatan konsumsi masyarakat akibat perubahan harga sejumlah barang kebutuhan pokok.  Jadi bukan karena Negara berhasil melakukan pemerataan keadilan ekonomi, mengangkat taraf hidup kaum tak berpunya, ataupun berhasil memotivasi mereka (dan, terutama,  dirinya sendiri) untuk memperbaiki nasib saat ini.

Bangun dari Mimpi
      Ketika saya memutuskan pada pukul berapa saya tidur, pada saat bersamaan (seharusnya) saya juga sudah memutuskan pada pukul berapakah saya akan bangun. Akan tetapi, semalam lalu adalah malam yang berat, saya habis kerja lembur, terjebak macet harian, dan saya hanyalah manusia biasa yang mendambakan tidur senyaman-nyamannya. Mungkin saja setanlah yang akan bangun jika Anda membangunkan saya tanpa permisi. Emangnya mau situ diterkam setan ?
            Meski demikian, mau tidak mau, bersedia atau tidak bersedia, siap atau tidak siap, saya, Anda dan kita semua harus segera bangun dari tidur, untuk kemudian dapat bergerak dan beraktifitas, kalau tidak ingin dianggap almarhum karena memilih untuk diam dalam tidur dan menyambung mimpi selama mungkin. Toh Anda tidak membutuhkan seorang motivator pun untuk berkata di depan hidung Anda, bahwa langkah pertama untuk segera melepaskan diri dari jeratan mimpi adalah bangkit, membuka mata selebar mungkin, segera mandi, dan jangan tidur lagi.
         Ya memang ada sih sebagian kecil golongan yang merasa tidak siap menghadapi transisi dari dunia mimpi ke dunia nyata, dari jaman sepur lempung ke jaman komuter listrik, dari masa kini ke masa lalu, dan melepasliarkan kegagapannya hingga melukai diri kita, orang lain serta dirinya sendiri. Musti dendamkah kita kepadanya ? Jangan. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengasihani dan memaafkan dirinya, yang merepresentasikan salah satu jenis spesies penderita ketakutan akut terhadap sesuatu yang gaib, sesuatu yang belum tentu, sahih dan pasti terjadi.
           
Sebagian dari kita mungkin telah mati rasa, dan menganggap ketidakpastian dalam hidup belakangan ini merupakan sesuatu yang biasa, sesuatu takdir yang tidak mungkin bisa kita ubah. Apakah mungkin karena terjerembab dalam keputusasaan itulah yang kemudian membuat sebagian dari diri kita memutuskan untuk berhenti berharap, dan membangun istana impian dengan bantuan narkoba, tikus, tuyul, maupun dukun pengganda uang ?  Sebenarnya manakah yang kenyataan, hidup menderita ataukah berfoya-foya ? Sebentar, sebentar … saya juga ragu nih, sebenarnya saya sekarang lagi bermimpi atau enggak ya ?
(swastantika)                

Selasa, 31 Juli 2012

NERAKA DUNIA ?


TIDAK SENDIRIAN


            Memiliki anak autisme, menyandang cacat fisik, dan berkebutuhan khusus lainnya dikatakan sebagai ‘ berkah ‘ tersendiri bagi orang tuanya. Yah, merawat mereka memang membutuhkan perhatian, tenaga, kesabaran serta biaya ekstra,, dikarenakan kekhususan yang mereka miliki tidak bisa disamakan dengan pola pengasuhan terhadap anak normal lainnya. Saya dapat berkata demikian, karena secara kebetulan Sang Maha Hidup telah menganugerahkan 1 anak dengan ADHD  (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) ke tengah keluarga kami, sekitar 12 tahun yang lalu.
             Keresahan saat membesarkan anak-anak berkebutuhan khusus bukan terletak pada materi, melainkan pada sejauh manakah kita dapat menjadi orang tua yang memahami perasaan atau keinginan mereka. Anugrah yang mereka miliki telah membatasi kemampuannya  untuk berperilaku secara normal, serta mengekspresikan isi hatinya dengan cara yang normal pula. Seandainya dengan bahasa verbal yang paling sederhanapun tidak sanggup mewakili kegelisahannya, haruskan kita menjadi paranormal untuk dapat membaca isi hatinya ?
           
Menguras Tenaga
            Sudah semenjak jabang bayi kita dibiasakan untuk menomorsatukan bahasa verbal dalam pergaulan sehari-hari. Kita memperoleh pendidikan juga dari penggunaan bahasa verbal. Era keemasan dunia hiburan elektronik pun dimulai ketika teknologi awal 1930an berhasil memadupadankan antara gambar bergerak dengan dialog para penampilnya ( untuk diketahui, era tersebut sekaligus menandai berakhirnya kejayaan film bisu, yang hanya menampilkan gambar bergerak dan menjual kemampuan para aktor dan aktris dalam berakting tanpa mengucapkan sepatah katapun  ). Namun, justru ada beberapa kalangan mengais rezeki dan bermata pencaharian dari ketrampilannya menjual kata-kata, seperti salesman/girl, pedagang, humas/juru bicara, penyiar, reporter, dan tentu saja, politikus.
            Meski demikian, lidah itu tidak bertulang, Saudara-saudari, dan kita tidak bisa memastikan kapan tepatnya tiba-tiba lidah tergelincir di tengah perjalanan, kemudian mengucapkan kata-kata yang salah, di hadapan orang-orang yang salah pula.
Masih ingat kah Anda mengenai fenomena seorang pejabat X, yang hampir selalu menjadi headline atas interpretasi yang salah mengenai kata-kata yang diucapkannya. Maksud mencairkan suasana dengan bersenda gurau pun menjadi sumpah serapah, saat beliau pernah dengan sengaja mengatakan ‘ kalau takut ombak jangan tinggal di pantai ‘, beberapa saat setelah terjadinya bencana tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, 2010 silam.
            Jadi, apakah kemampuan  berpikir secara cepat para manusia kadang-kadang ikutan keseleo, dan menjadi berbanding terbalik dengan kemampuan berbicara secara cepatnya ?  Ataukah tiba-tiba mereka merasa lemas dan kehabisan energi karena terlampau banyak menghabiskan waktu untuk berbicara, baik di depan cermin, penggemar, maupun via Skype, sehingga tidak luput dari kesalahan berucap?  Namun, apa daya, kesalahan itu harus diterima dan dimaklumi, untuk kemudian dimaafkan dan saling memaafkannya di hari raya Lebaran.
Alih-alih meminimalisir jumlah kesalahan sekecil mungkin, ada sebagian golongan yang lantas mengobral ‘kesalahan’ dalam berkata-kata, sama banyak dengan kata maaf yang akan diobralnya di kemudian hari. Buat apa berhati-hati dalam berkata, jika di kemudian hari warga masyarakat akan memaafkannya, ikhlas tidak ikhlas itu urusan belakang.  Toh,  berbicara kan tidak terlalu menghabiskan banyak energi jika dibandingkan dengan berlarian mengejar bola, berlari mengejar layangan, maupun berlari mengejar bus kota to ?

Telinganya Jangan Sombong   
            Seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun, Cole Sear, mengaku bisa melihat hantu dan mereka mengunjunginya setiap saat dengan berbagai bentuk yang menyeramkan, sesuai dengan kondisi terakhir mereka menjelang ajalnya. Ibunya, Lynn Sear, khawatir anaknya mengidap gangguan psikologis, dikarenakan kesepian serta bullying yang dialaminya di sekolah. Kemudian mereka menemui seorang psikolog anak, Dr. Malcolm Crowe, yang setengah percaya setengah tidak akan ‘kemampuan’ Cole tersebut. Dengan bijak, Crowe pun akhirnya menyarankan agar Cole menanyai para hantu mengenai maksud dan tujuan mereka mendatangi dia, yakni dengan berkomunikasi melalui pikirannya.
            Tentu saja semua itu hanya terjadi di The Sixth Sense, sebuah film horror psikologi karya M. Night Shymalan, yang dirilis September 1999 lalu. Jadul ? Tapi hantu ternyata tidak sejadul yang kita bayangkan lho. Selain berhasil eksis melalui beberapa film hantu ‘hot’ (dan sesudah itu ‘kramas’ tentunya), mereka juga nongol di sejumlah video dan foto, versi You Tube. Sosok mereka yang unik, sekonyong-konyong dan nyentrik begitu mudah membuat kita ternganga, sehingga pun melupakan  sebab musabab mereka sampai begitu nekat menampangkan sosok yang tidak bisa dibilang rupawan itu ke hadapan kita. Benarkah penampakan hantu dan beberapa makhluk halus lainnya, dikarenakan adanya urusan yang belum selesai di dunia badan kasarnya ?
            Lalu, apakah hanya dengan kata-kata Anda akan mampu memahami orang-orang itu ? Bagaimana seandainya takdir membawa Anda ke tengah kaum yang tidak menggunakan bahasa verbal untuk berkomunikasi, misalnya saja Anda tiba-tiba berkemampuan linuwih seperti Cole Sear, dan harus meladeni penampakan makhluk halus secara silih berganti ? Kabur ?
Sepakat atau tidak sepakat, tetap ada satu pelajaran positif dari sekelumit ulasan di atas. Yakni, ternyata segala jenis makhluk butuh untuk dipahami oleh sesamanya (maupun oleh makhluk yang bukan berasal dari spesies yang sama dengannya). Beda dengan aktifitas berbicara yang membutuhkan sejumlah besar energi, keberanian, dan ketrampilan mengolah kata secara lisan, untuk memahami orang lain Anda bisa jadi tidak perlu mengeluarkan tenaga sama sekali, namun menuntut sejumlah besar pengorbanan, yakni menyediakan telinga dan waktu bagi ‘sampah’ dari orang-orang di sekitar Anda.( Bukan berarti Anda harus menjadi cleaning service, meskipun itu adalah salah satu pekerjaan termulia dewasa ini lho).

Konon, pada HUTnya yang  ke 100 Liverpool Football Club, alias Liverpool, melakukan perubahan pada lambang klub, dengan menambahkan   tulisan 'You'll Never Walk Alone' di atas tameng 'Liver Bird' , yang ditujukan untuk mengingat jasa manajer Bill Shankly yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC.  Meskipun prestasi The Reds (panggilan kesayangan Liverpool) termasuk jeblok pada musim lalu, mudah-mudahan itu cukup untuk sekedar mengingatkan bahwa saya, Anda dan kita tidak akan dan tidak pernah sendirian, dalam segala cuaca panas, hujan, maupun pancaroba.
Didengarkan orang memang akan membanggakan bagi harga diri. Bagaimana dengan mendengarkan, apakah itu juga berharga bagi Anda ?

Minggu, 06 Mei 2012

One HeArt

KITA DAN MEREKA

            Penundaan kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah awal bulan lalu akhirnya bisa melegakan nafas kita barang sejenak. Paling tidak memberi kita waktu untuk beristirahat, sebelum akhirnya menanggung beban yang lebih berat dari sebelumnya pada 5-6 bulan ke depan. Entah apa yang melandasi keputusan yang sangat menggalaukan hati nasional berjamaah tersebut, apakah karena tekanan internasional, atau menipisnya persediaan minyak di bawah tanah tempat kita berdiri ini, walahualam. Yang jelas itu adalah sebuah tantangan baru bagi Anda yang menggemari permainan teka-teki silang dunia nyata. Haruskah mereka yang lemah selalu tergerus  gelak tawa kemenangan si kuat ?
            Para manusia penghuni awal Bumi ini tidak pernah bekerja. Mereka hanya mencari makan agar perutnya tidak lapar, tidak merasakan hawa panas menyengat maupun menggigil kedinginan, tidak juga basah kehujanan maupun diserang binatang buas saat lelap tertidur. Pola hidup purba itu berubah drastic manakala nenek moyang kita saling memperkenalkan dan mengenal uang sebagai alat tukar. Lambat laun mereka pun merubah cara pandang, dari makhluk yang sehari-harinya menggantungkan hidup kepada alam menjadi manusia yang mempertahankan hidup kepada seberapa banyak uang di dalam saku. Semakin banyak  memiliki alat tukar ( uang ), maka semakin banyak juga peluang bagi mereka untuk memiliki lebih banyak dan bermacam-macam barang.
            Bergesernya orientasi survival kaum perintis mencari alat tukar sebanyak mungkin sebenarnya terjadi bukan mendadak sontak. Karena perkawinan diantara mereka menghasilkan keturunan, dan keturunan mereka kemudian beranak pinak, maka bertambahlah jumlah penduduk yang mulanya sedikit. Peningkatan jumlah penduduk sekaligus memanaskan suhu persaingan diantara mereka demi mencari makan. Mereka yang dulunya berburu, mulai sulit medapat binatang buruan. Sedangkan mereka yang bercocok tanam harus berkompromi dengan cuaca yang tidak menentu. Pun, hasil panen  kebun kadang tidak sesuai dengan harapan.

Kapitalis Juga Manusia
            Tersebutlah di suatu tempat terdapat sekelompok orang beruntung dan memiliki sejumlah uang dalam jumlah besar yang hendak mereka investasikan dalam bentuk perusahaan. Mereka membutuhkan pegawai/ pekerja untuk memproduksi barang-barang yang hendak mereka jual. Sedangkan kita adalah sekelompok orang yang desperately membutuhkan uang agar dapur di rumah tetap mengepulkan asapnya. Singkat cerita, atas dasar asas saling membutuhkan  maka terciptalah kerja sama antara kita dan mereka.
            Kedudukan antara pimpinan dan bawahan tidak lagi berdasar besarnya gaji yang dipunya. Melainkan atas perbedaan luas dan sempitnya wilayah tanggung jawab, beserta deskripsi kerja masing-masing individu. Jadi, gaji seorang supervisor/pengawas lebih tinggi karena tugasnya lebih sulit dan kompleks daripada seorang pekerja biasa. Namun itu bukan berarti para pekerja sah-sah saja mendapat gaji ala kadarnya, karena tugas dan tanggung jawab mereka yang lebih sederhana dan tidak serumit tugas direktur utama perusahaan.
            Perusahaan tetap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan serta kesehatan para pekerja, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik ada kaitannya dengan ketahanan dan stamina tubuh menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga. Sedangkan kesehatan mental berhubungan erat dengan konsentrasi dan pengendalian emosi para pekerja saat menyelesaikan pekerjaan. Dan tugas dan atau pekerjaan yang dapat selesai pada waktunya adalah keuntungan besar bagi perusahaan karena berhasil mengejar tenggat waktu produksi.
            Akan tetapi, seringkali kaum pemilik modal dan alat-alat usaha tersebut dilanda kekhawatiran atau ketakutan terhadap kemungkinan tidak stabilnya posisi yang sudah mereka capai dengan memeras darah dan air mata. Ketakutan ini mungkin timbul akibat traumatisme mendalam terhadap kejadian buruk di masa lalu ( misalnya, Holocaust di era Nazi yang menewaskan jutaan ras Yahudi, dimana kaum Yahudi disinyalir adalah penguasa dari beberapa konglomerasi tersukses di dunia pada saat ini ). Serta tiadanya jaminan bahwa penyelenggara kegiatan pemerintahan aka penguasa, yang merupakan satu-satunya yang berdaya kuasa mengatur hidup seluruh sendi kehidupan umat manusia, tidak akan melakukan kesalahan sekecil-kecil pun. Toh mereka hanyalah manusia biasa.
            Beberapa korporasi besar mungkin sudah terlampau banyak menenggelamkan sejumlah modal pada sebuah proyek maupun pabrik. Asal modal tersebut ialah berhutang kepada pihak lain atau menggadaikan ini itu. Terlunasinya hutang sebelum jatuh tempo akan meningkatkan kredibilitas mereka di mata kreditor, sehingga akan melapangkan urusan pinjam meminjam di lain waktu. Hasrat mengejar kredibilitas sebagai debitur teladan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya telah menjerumuskan mereka ke dalam api neraka duniawi.
            Betapa tidak, paranoia melatarbelakangi terbentuknya watak egois oportunis. Yaitu mereka yang cenderung untuk mencari keuntungan pribadi sendiri daripada kemaslahatan bersama. Para korporat enggan mengambil resiko menurunkan mutu barang hasil produksi, atau mereka harus siap-siap kehilangan konsumen. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk mengurangi ongkos bagi kesejahteraan karyawan/ pekerja, menghapus hak kenaikan gaji bertahap dengan memberlakukan system kontrak, mengurangi tunjangan karyawan dan memperketat peraturan bekerja. Belum lagi tindakan-tindakan licik golongan korporasi sumber daya alam multi nasional ketika mereka mengabaikan hubungan timbal balik nan harmonis dengan alam sekitar.  Kadang kala kaum pemilik modal menutup mata rapat-rapat terhadap kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan mereka telah mencemari lingkungan atau bahkan mengakibatkan bencana alam yang menelan korban jiwa maupun harta benda.
Tertawa Paling Akhir
            `Kesulitan demi kesulitan hidup telah terlalu menguras ludas energi kita, sampai-sampai kita lupa menyempatkan waktu luang untuk tertawa. Tekanan dari tempat kerja berkejaran bersama tuntutan pemenuhan kebutuhan perut, berlomba menyesaki dada, mempermainkan emosi. Dalam sepuluh tahun terakhir, sadarkah Anda bahwa bangsa berkarakter ramah tamah, bertoleransi tinggi dan gemar bergotong royong yang selalu kita banggakan itu tinggalah sebuah kenangan ?  Dan tahukah Anda bahwa penyebabnya adalah uang, serta rasa putus asa dan tidak percaya diri mempertahankan hidup, sehingga mengambil jalan pintas yang menafikan dampaknya terhadap hubungan dengan sesama manusia di sekitarnya ?
            Tidak ada guru terbaik yang mampu mengajarkan jalan terbaik keluar dari problematika mengisi perut selain daripada kita sendiri. Sekarang dan selamanya gerakan mengupayakan perubahan adalah sama dengan menantang arus. Menantang arus adalah sama dengan menyatakan diri sendiri sebagai pembeda, dimana perbedaan atau ketidakseragaman merupakan sesuatu yang menakutkan karena itu adalah indikasi pembangkangan. Sedangkan pembangkangan adalah sama dengan makar. Maka jangan heran apabila para pencetusnya mengalami nasib seperti Malcolm X, Marsinah, Martin Luther King, Munir, maupun jutaan orang yang dibunuh oleh ‘ hanya Tuhan yang tahu siapa pelakunya ‘ di sepanjang 1965-1966. Seandainyapun lolos dari maut mungkin akan melalui jalan hidup yang lebih tidak biasa, sebagai konsekuensi memilih jalan keluar sebagai pemberontak.
            Di dalam perjalanan memperjuangkan hak atas penghidupan yang layak atas kemanusiaan, semestinya kita juga jangan sampai menginjak atau bahkan melupakan hak para liyan untuk memperoleh hak yang sama juga. Kita bukanlah satu-satunya golongan yang menapakkan kaki di Bumi. Dan kita tak pernah tahu kapan dan dimana akan membutuhkan bantuan dari mereka yang berada di kanan dan kiri. Ini bukan sesuatu yang gaib dan di luar logika. Kelapangan hati dalam hidup bermasyarakat, itulah modal awal jika kita serius hendak meraih ketentraman. Misalnya saja, Anda hidup bertetangga dengan seorang montir mobil yang sering bekerja hingga larut malam dan itu sebenarnya membuat anak Anda rewel karena tidurnya terganggu suara mesin mobil. Namun Anda memahami posisi sang montir yang punya banyak hutang sehingga ia harus bekerja ekstra demi mencari uang untuk menutup hutang-hutangnya. Dan Anda sadar memusuhinya adalah tindakan yang sangat merugikan. Karena Anda juga punya sebuah mobil di rumah yang sudah uzur dan sering mogok. Kan Ada tidak tahu kapan saatnya, pagi hari Anda harus segera tiba di kantor untuk urusan pekerjaan, tiba-tiba mobil Anda ngadat. Sedangkan jam masih menunjuk angka pukul 6 pagi, dan bengkel mana yang sudah buka selain sang tetangga montir yang bisa dimintai pertolongan.
            Pun sama halnya jika seorang mandor dan atau atasan tiba-tiba mengguyuri kita dengan sumpah serapah di tengah-tengah waktu bekerja. Jangan terburu marah, Gan. Mungkin saja kita memang bersalah, kurang disiplin, kurang terampil, kurang professional, dll. Sudah inrospeksi namun tak juga menemukan sesuatu yang salah di diri kita ? Ya mungkin kita harus menerapkan asas tenggang rasa juga kepada beliaunya. Mungkin sedang ada masalah di rumah tangganya, tidak mendapat jatah rokhani dsb itu bisa memicu ketakstabilan suasana hati juga lho. Betul tidak ?
           
           
           
           

           

           
             

Sabtu, 31 Maret 2012

TANDA


HARGA KEBEBASAN


       TVRI memegang monopoli siaran televisi semenjak kelahirannya di awal 70-an dan sekaligus membuka  jalan bagi era keemasan para biduan pada masa itu. Para penonton se-Indonesia tidak ada yang tidak mengenal, menikmati segenap talenta dan performanya di atas pentas. Mereka tidak punya kekhawatiran akan kalah bersaing dengan para biduan asing, karena akses khalayak kesana terbatasi. Di sisi lain, ketiadaan media alternatif menyuburkan keseragaman di segala bidang. Bukan saja ranah hiburan maupun lifestyle, informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya pun seragam.
  
        Aneh, setelah waktu berlari cepat bersama perkembangan teknologi dan komunikasi, kecenderungan itu belum juga berubah. Fashion dan musik adalah sekedar pengulangan dari era-era sebelumnya. Namun mengapa selera anak muda kita terhadap musik dan gaya hidup tetap saja seragam ? Mereka setuju tanpa syarat mengikuti saran media massa dan internet tentang apa trending topic di hari ini.  Seakan didera kekhawatiran yang amat sangat terhadap kemungkinan menyandang predikat ‘ kamseupay ‘ jika tidak cepat-cepat merespon perubahan arus dengan mengkonsumsi, menggemari dan, ujung-ujungnya, membeli salah satu produk hasil kebaruan tersebut. 

‘ Perjuangan Melawan Lupa ‘
        Ketertarikan dan keingintahuan kepada satu dan lain hal adalah berguna dalam upaya memperkokoh serta menajamkan pengetahuan dan ketrampilan survival sepanjang hayat. Tapi, tunggu dulu, adakah keingintahuan Anda terangsang karena gemerlap dari luarnya sesuatu hal tersebut ? Apakah karena beroleh kesempatan dikelilingi gadis-gadis sehingga putra Anda tertarik mengikuti audisi boyband ? Apakah karena menjadi politisi itu sungguh bergelimang uang untuk melunasi hutang maka mereka berpaling dari idealisme vox populi  ? Ataukah karena raja-raja dalam film dan legenda itu terlalu pesolek, lebay mendandani diri dengan perhiasan mutu manikam imitasi sekadarnya untuk menaikkan citra diri ?

     Artifialisme ( artificial = buatan, seolah-olah, palsu ) semacam inilah yang kelak dimanfaatkan pihak lain untuk menggiring kita ke dalam sebuah sangkar. Semua sudah direncanakan, disiapkan dan diatur oleh panitia penyelenggara yang bertugas memutar paksa kepala kita kepada sebuah arah serta memasangkan sepasang kacamata kuda. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita hanya berkemampuan untuk memahami, mempercayai dan beropini tentang sesuatu hal sesuai sudut pandang para empunya kepentingan sahaja.

       Memang tidak akan menyakiti siapapun secara fisik. Namun sanggup mengantarkan peradaban sekelompok manusia ke jurang kehancuran. Entah sampai kapan dicekoki, dininabobo lalu ditipu. Mungkin sampai seumur hidup dikarbitkan menjadi sosok yang berkarakter, berperilaku, berpola pikir, berbudaya sesuai keinginan mereka. Yaitu, untuk mudah dijinakkan, ditundukkan dan dikendalikan. Sehingga meminimalisir resiko sekecil-kecilnya terhadap potensi perlawanan atau anarki. 

 Kita toh tetap akan berjalan dengan dua kaki, makan dengan tangan kanan, cebok dengan tangan kiri. Di permukaan kita adalah manusia yang berhasil dipaksa untuk menjadi wajar dan biasa. Rutinitas ibarat lingkaran yang melilit akal dan nafsu, sehingga yang bersemayam di benak hanyalah makan dan cara mencari makan. Namun, peraturan yang artificial tak dapat dipungkiri juga melahirkan kepatuhan artificial, dan bukannya kesadaran terhadap alasan ‘ mengapa harus patuh itu sendiri ‘. Jadi kita pun wajib memaklumi seandainya suatu saat tiba-tiba muncullah pembangkangan massal, penyimpangan perilaku dan kepribadian, penolakan terhadap norma-norma, pelanggaran terhadap peraturan, hukum dan undang-undang, penyelewengan kepercayaan dan cinta, pemberontakan atas keharmonisan keluarga bahagia.

Budaya modern adalah ibarat meneguk anggur merah. Bergalon-galon sudah habis kita tenggak, namun dahaga tak kunjung sirna. Mengikuti mainstream mungkin salah satu jalan teraman untuk menghabiskan sisa usia.  Kita tak perlu repot-repot mencari atau melarutkan diri ke dalam kegalauan abadi terhadap masa depan alam seisinya. Cukup menikmati, mengamini dan meniru apa yang sedang dan sering sekelebat berkilauan. Namun bersediakah selamanya dikutuk sebagai para gundah gulana sampai mati ?           

Lost And Found
            “Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni “ ( Wikipedia ). Oleh karena Bumi terdiri dari lebih dari satu jenis iklim, cuaca dan kondisi geografis, maka itulah yang melatarbelakangi keberagaman budaya di antara manusia sebagai penghuninya. 

     Manusia yang tinggal di belahan Utara dan Selatan Bumi harus bertahan dan menyesuaikan diri di tiap-tiap pergantian empat musim ( salju, gugur, semi, panas ) selama satu tahun.  Sedangkan sebagian lain yang berdiam di daerah khatulistiwa cukup menghadapi dua musim saja per tahunnya ( hujan dan kemarau ). Mereka beruntung sekali karena tantangan yang dihadapi saudara-saudaranya di belahan Utara dan Selatan jauh lebih berat.  Apa mau dikata, keberuntungan tersebut ternyata bermata dua, kesialan di salah satunya. Akibat terbentuknya watak manja dan mahir potong kompas ( mencari jalan terpintas ) memaksa mereka untuk selalu dan sering kali tertinggal jauh di belakang langkah para saudara penghuni Bumi di Utara.

            Adakah faktor yang sama jua menjadi penyebab kaum penghuni Negara tropis takluk di bawah hegemoni segala bidang ( dan terutama pula budaya ) bikinan kaum penghuni Negara subtropis ? Walahu-alam. Yang jelas, Universal Declaration of Human Rights menyatakan : Everyone has the right to freely participate in the cultural life of the community, to enjoy the arts and to share in scientific advancement and its benefits. ( Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk berpartisipasi pada kehidupan berbudaya sebuah komunitas, untuk menikmati seni dan berbagi perkembangan ilmiah berikut segala manfaatnya ). Hak asasi memang adalah hak kita semenjak lahir ke dunia fana nan kejam ini. Siapakah yang memberi ? Ya, Hidup. Hiduplah yang pertama kali membebaskan kita untuk mengakui, memiliki, mengembangkan dan menjadi insan berbudaya, sebelum  manusia menuliskannya dalam wujud Undang-undang. 

        Kebebasan itu sangat berharga, Kak. Anda yang punya uang pas-pasan tak perlu khawatir tak mampu membeli, karena tak sebuah mata uang pun di Bumi ini yang bisa menukarnya. Akan tetapi kebebasan jugalah senjata rahasia yang digunakan orang-orang berwatak culas, dan menghendaki materi sebesar-besarnya yang dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dalam rangka menjajakan barang dagangannya. Memanjakan diri dengan menempatkan imajinasi artifisial di dunia, pengetahuan dan gaya hidup yang bukan milik kita ? Boleh-boleh saja. Sekali lagi saya katakan, kebebasan itu sangat berharga. Bukan karena darah dan air mata yang tertumpah demi memperoleh pengakuan atasnya. Melainkan buah yang akan kita petik sesudahnya : adakah kebebasan itu menjadikan kita nyaman dengan budaya sendiri dalam menjalani hari-hari.



Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...