Sabtu, 31 Maret 2012

HARGA KEBEBASAN


       TVRI memegang monopoli siaran televisi semenjak kelahirannya di awal 70-an dan sekaligus membuka  jalan bagi era keemasan para biduan pada masa itu. Para penonton se-Indonesia tidak ada yang tidak mengenal, menikmati segenap talenta dan performanya di atas pentas. Mereka tidak punya kekhawatiran akan kalah bersaing dengan para biduan asing, karena akses khalayak kesana terbatasi. Di sisi lain, ketiadaan media alternatif menyuburkan keseragaman di segala bidang. Bukan saja ranah hiburan maupun lifestyle, informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya pun seragam.
  
        Aneh, setelah waktu berlari cepat bersama perkembangan teknologi dan komunikasi, kecenderungan itu belum juga berubah. Fashion dan musik adalah sekedar pengulangan dari era-era sebelumnya. Namun mengapa selera anak muda kita terhadap musik dan gaya hidup tetap saja seragam ? Mereka setuju tanpa syarat mengikuti saran media massa dan internet tentang apa trending topic di hari ini.  Seakan didera kekhawatiran yang amat sangat terhadap kemungkinan menyandang predikat ‘ kamseupay ‘ jika tidak cepat-cepat merespon perubahan arus dengan mengkonsumsi, menggemari dan, ujung-ujungnya, membeli salah satu produk hasil kebaruan tersebut. 

‘ Perjuangan Melawan Lupa ‘
        Ketertarikan dan keingintahuan kepada satu dan lain hal adalah berguna dalam upaya memperkokoh serta menajamkan pengetahuan dan ketrampilan survival sepanjang hayat. Tapi, tunggu dulu, adakah keingintahuan Anda terangsang karena gemerlap dari luarnya sesuatu hal tersebut ? Apakah karena beroleh kesempatan dikelilingi gadis-gadis sehingga putra Anda tertarik mengikuti audisi boyband ? Apakah karena menjadi politisi itu sungguh bergelimang uang untuk melunasi hutang maka mereka berpaling dari idealisme vox populi  ? Ataukah karena raja-raja dalam film dan legenda itu terlalu pesolek, lebay mendandani diri dengan perhiasan mutu manikam imitasi sekadarnya untuk menaikkan citra diri ?

     Artifialisme ( artificial = buatan, seolah-olah, palsu ) semacam inilah yang kelak dimanfaatkan pihak lain untuk menggiring kita ke dalam sebuah sangkar. Semua sudah direncanakan, disiapkan dan diatur oleh panitia penyelenggara yang bertugas memutar paksa kepala kita kepada sebuah arah serta memasangkan sepasang kacamata kuda. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita hanya berkemampuan untuk memahami, mempercayai dan beropini tentang sesuatu hal sesuai sudut pandang para empunya kepentingan sahaja.

       Memang tidak akan menyakiti siapapun secara fisik. Namun sanggup mengantarkan peradaban sekelompok manusia ke jurang kehancuran. Entah sampai kapan dicekoki, dininabobo lalu ditipu. Mungkin sampai seumur hidup dikarbitkan menjadi sosok yang berkarakter, berperilaku, berpola pikir, berbudaya sesuai keinginan mereka. Yaitu, untuk mudah dijinakkan, ditundukkan dan dikendalikan. Sehingga meminimalisir resiko sekecil-kecilnya terhadap potensi perlawanan atau anarki. 

 Kita toh tetap akan berjalan dengan dua kaki, makan dengan tangan kanan, cebok dengan tangan kiri. Di permukaan kita adalah manusia yang berhasil dipaksa untuk menjadi wajar dan biasa. Rutinitas ibarat lingkaran yang melilit akal dan nafsu, sehingga yang bersemayam di benak hanyalah makan dan cara mencari makan. Namun, peraturan yang artificial tak dapat dipungkiri juga melahirkan kepatuhan artificial, dan bukannya kesadaran terhadap alasan ‘ mengapa harus patuh itu sendiri ‘. Jadi kita pun wajib memaklumi seandainya suatu saat tiba-tiba muncullah pembangkangan massal, penyimpangan perilaku dan kepribadian, penolakan terhadap norma-norma, pelanggaran terhadap peraturan, hukum dan undang-undang, penyelewengan kepercayaan dan cinta, pemberontakan atas keharmonisan keluarga bahagia.

Budaya modern adalah ibarat meneguk anggur merah. Bergalon-galon sudah habis kita tenggak, namun dahaga tak kunjung sirna. Mengikuti mainstream mungkin salah satu jalan teraman untuk menghabiskan sisa usia.  Kita tak perlu repot-repot mencari atau melarutkan diri ke dalam kegalauan abadi terhadap masa depan alam seisinya. Cukup menikmati, mengamini dan meniru apa yang sedang dan sering sekelebat berkilauan. Namun bersediakah selamanya dikutuk sebagai para gundah gulana sampai mati ?           

Lost And Found
            “Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni “ ( Wikipedia ). Oleh karena Bumi terdiri dari lebih dari satu jenis iklim, cuaca dan kondisi geografis, maka itulah yang melatarbelakangi keberagaman budaya di antara manusia sebagai penghuninya. 

     Manusia yang tinggal di belahan Utara dan Selatan Bumi harus bertahan dan menyesuaikan diri di tiap-tiap pergantian empat musim ( salju, gugur, semi, panas ) selama satu tahun.  Sedangkan sebagian lain yang berdiam di daerah khatulistiwa cukup menghadapi dua musim saja per tahunnya ( hujan dan kemarau ). Mereka beruntung sekali karena tantangan yang dihadapi saudara-saudaranya di belahan Utara dan Selatan jauh lebih berat.  Apa mau dikata, keberuntungan tersebut ternyata bermata dua, kesialan di salah satunya. Akibat terbentuknya watak manja dan mahir potong kompas ( mencari jalan terpintas ) memaksa mereka untuk selalu dan sering kali tertinggal jauh di belakang langkah para saudara penghuni Bumi di Utara.

            Adakah faktor yang sama jua menjadi penyebab kaum penghuni Negara tropis takluk di bawah hegemoni segala bidang ( dan terutama pula budaya ) bikinan kaum penghuni Negara subtropis ? Walahu-alam. Yang jelas, Universal Declaration of Human Rights menyatakan : Everyone has the right to freely participate in the cultural life of the community, to enjoy the arts and to share in scientific advancement and its benefits. ( Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk berpartisipasi pada kehidupan berbudaya sebuah komunitas, untuk menikmati seni dan berbagi perkembangan ilmiah berikut segala manfaatnya ). Hak asasi memang adalah hak kita semenjak lahir ke dunia fana nan kejam ini. Siapakah yang memberi ? Ya, Hidup. Hiduplah yang pertama kali membebaskan kita untuk mengakui, memiliki, mengembangkan dan menjadi insan berbudaya, sebelum  manusia menuliskannya dalam wujud Undang-undang. 

        Kebebasan itu sangat berharga, Kak. Anda yang punya uang pas-pasan tak perlu khawatir tak mampu membeli, karena tak sebuah mata uang pun di Bumi ini yang bisa menukarnya. Akan tetapi kebebasan jugalah senjata rahasia yang digunakan orang-orang berwatak culas, dan menghendaki materi sebesar-besarnya yang dikumpulkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, dalam rangka menjajakan barang dagangannya. Memanjakan diri dengan menempatkan imajinasi artifisial di dunia, pengetahuan dan gaya hidup yang bukan milik kita ? Boleh-boleh saja. Sekali lagi saya katakan, kebebasan itu sangat berharga. Bukan karena darah dan air mata yang tertumpah demi memperoleh pengakuan atasnya. Melainkan buah yang akan kita petik sesudahnya : adakah kebebasan itu menjadikan kita nyaman dengan budaya sendiri dalam menjalani hari-hari.



Selasa, 28 Februari 2012

YANG SEMPURNA


“ jer basuki, mawa bea “

       Hingga pertengahan 2011, setiap perempuan muda, dewasa, tua, muda, ABG, STW ( setengah tuwa ), gadis, janda dan perawan tua, baik yang tinggal di desa maupun di kota, real estate maupun pemukiman tepi kali, apartemen maupun rumah susun di segenap penjuru tanah air patut dan sangat iri hati serta berkhayal menjadi Angelina Sondakh. Betapa tidak, all Indonesian women dream ( pernah ) tergenggam erat di jemarinya:  cantik jelita, berotak cemerlang, karismatik, kaya raya, buah hati imut nan lucu-lucu, plus ( alm. ) suami yang ganteng dan anggota DPR pula !   Angie, pada saat itu, dinobatkan sebagai trendsetter kemapanan segala bidang bagi para perempuan pekerja di Indonesia, karir nan bersinar sekaligus keluarga bahagia sejahtera.  
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sempurna tidak saja menarik, mencengangkan plus menakjubkan, namun juga  ‘ utuh dan lengkap segalanya ( tidak bercacat dan bercela ) ‘. Sekarang setelah tersingkaplah segalanya di balik wajah ayu sang Putri, saya jadi mempertanyakan kembali, apakah jebakan senantiasa mengikuti di tiap-tiap kesempurnaan itu sendiri, dan mengapakah kita dedikasikan segenap usia demi merengkuhnya ? Bukankah kesempurnaan bulan purnama yang mempesona ternyata juga palsu, karena cahayanya berhasil menyembunyikan wajah bopeng dan berlubang akibat salah pakai kosmetik murahan ?  Bulan purnama yang katanya sempurna pun ternyata tidak 100 % sempurna. Namun toh kita tetap memanggil bulan yang terbit bulat penuh itu dengan sebutan ‘ bulan purnama ( purnomo dalam bahasa Jawa, yang artinya sempurna ) ‘, iya enggak ?

Kejarlah Daku, Kau Kupalak
       Boleh-boleh saja  kita bercita-cita mengejar kesempurnaan hingga ke lapis langit ke-7.  Namun, ‘ jer basuki mawa bea, ‘ kata orang Jawa ( lagi ). Demi meraih sesuatu, dibutuhkan pengorbanan. Demi meraih kesempurnaan secara fisik, ada harga yang harus kita beli. Hunian cluster, smartphone, kendaraan bermotor roda dua, tiga dan empat, computer tablet dan kapsul , sepanjang yang digunakan sebagai alat pembayaran adalah duit yourself dan bukannya duit Negara, ngapain juga saya musti sirik ? ( Dan dalam hal ini para desainer produk adalah kaum yang patut diacungi jempol karena kecerdikan mereka berhasil membangun imaji tanpa cela melekat pada suatu produk, serta merta mencambuk semangat masing-masing pengejar nafsu  kesempurnaan berlomba memilikinya ). 
       Konon, di suatu pertengahan bulan, Anda duduk termenung. Kalender belum lagi habis, tapi dompet sudah rata beserta isinya. Sambil menopang dagu menggerutu dalam hati,sudah bekerja siang dan malam, namun masih diteror tagihan ini itu. Mungkin kurang keras membanting tulang, sehingga jumlah uang yang didapat cuma segitu-segitu melulu. Atau jangan-jangan para juragan dan atasan kita telah curang, merekayasa laporan keuangan perusahaan, menyembunyikan rapat-rapat laba perusahaan agar tak sampai tercium keluar, karena akan digunakan untuk membayar tagihan dan hutang-hutang ini itu mereka sendiri ? ( Sambil buru-buru mengorganisir demo dan pemogokan menuntut kenaikan upah, dan kalau ternyata perusahaan menolak ya kita menuntut pengurangan jam kerja saja. Mudah kan ? ).
      Berangkat dari premis, pekerja yang baik bukanlah mereka yang bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas daripada kawan-kawannya, maka ke’cerdas’an masing-masing pun dimaksimalkan guna menggelapkan serta membangun jaringan mafia anggaran, memanipulasi laporan keuangan, jurnal pajak, laporan laba rugi, dsb, dll, dst,, mencari-cari celah dan jalan tikus untuk mengalirkan sekeping dua keping rupiah yang sedang menganggur ke dalam kantong sendiri. Meski lincah melompat kesana dan kemari, Anda, meski memiliki kemampuan meramal pun, tak akan pernah tahu pada lompatan yang ke berapa akan jatuh meluncur bebas. Meski toh memegang setumpuk uang untuk menyogok hakim dan jaksa, mampukah mereka mencuci bersih noda pada nama Anda ? Oleh karena itu, demi kenyamanan dan keamanan di hari tua, would you please look again before you leap, ladies and gentlemen ? Yah, kecuali Anda ingin memecahkan rekornya Gayus Tambunan sih.

Pahit Yang Termanis
       Dalam kedukaan dan kesulitan hidup kita mendambakan kemudahan dan kesenangan sebagai obat pencuci segala yang tidak enak enyah untuk selama-lamanya. Contohnya saya. Semenjak mengurangi rokok yang 4 bulan yang lalu mengepul bak asap lokomotif kereta api jadul, kebiasaan baru jadi giat bersemi : ngemil. Tak sesuatu halangan pun mampu menghalanginya. Semakin tanggal tua, semakin mulut tidak berhenti makan. Kalau perlu berhutang di warung langganan, saya lakoni dengan gagah berani. Ada beban yang tak henti menggelayuti pikiran. Solusi ? Entah kemana perginya. Duduk manis, menatap layar laptop dan sambil mengunyah kacang-kacangan mungkin adalah pelarian terbaik secara tidak menetap.
        -2+(-2) = 4. Dari persamaan matematika di atas dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang negatif jika ditambahkan dengan yang negatif pula, maka hasilnya akan positif.  Namun, jangan buru-buru menyamaratakan, bahwa semua keadaan yang negatif, kisruh, kacau, balau, rusak dan parah itu serta merta menjadi positif jikalau dituangi semangat destruktif, suicide tendencies, patah hati, putus asa dan kegalauan lainnya. Atau kita harus sama-sama memikul tanggung jawab akibat meluasnya keos massal. Lalu negatif dari spesies apakah yang bisa kita konvert menjadi positif ? Ialah semua kenegatifan yang tak kuasa kita tolak, tapi  harus ditelan mentah-mentah. Semua kenegatifan yang ingin kita teriakkan kencang-kencang, namun mulut sudah terlanjur disegel peraturan-peraturan. Semua yang ingin kita hindari, tapi sudah tiada tempat sembunyi.
      Diantaranya adalah sifat negatif yang merupakan hasil peristiwa, atau sedang berlangsung di alam raya. Misalnya, bencana alam dan cuaca ekstrim. Pencemaran lingkungan juga bisa dikategorikan peristiwa negatif di alam, yang diakibatkan ulah tingkah manusia. Beberapa orang merasakan ketidakpuasan ( yang mana adalah perasaan negatif juga ) melihat situasi tersebut. Mereka mengendapkan baik-baik, mengkontemplasikan kedua spesies negatif tersebut di dalam diri terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama kawan-kawan sepermainan.  Sebuah kata diputuskan, dan lahirlah organisasi semacam Greenpeace dsb.  yang memilih jalan panjang beronak duri demi sesuatu yang mereka yakini.
       Daun pare dan pepaya itu pahitnya setengah mati. Toh, keduanya terkenal sebagai obat alami untuk berbagai macam penyakit seperti flu, batuk, pilek, wasir, rabun malam bahkan kanker. Akan tetapi, karena hidup itu pilihan, maka Anda masih bisa memuntahkannya kembali jika tidak suka. Lain kali tambahkan gula, atau garam sebelum menelannya. 
 ( Swastantika )
           

           
           
           
                 
           
           
           
           
           

Minggu, 29 Januari 2012

EARTH CORE


JALAN YANG BENAR

“ to be or not to be, that is the question “ ( William Shakespeare )

Manusia memantapkan hegemoninya sebagai penguasa seluruh makhluk di Bumi dengan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benaknya : ‘ Mengapa begini ? Mengapa begitu ? ‘ . Akan tetapi, jawaban bukannya menghilangkan dahaga. Malah membukakan pintu kepada sebuah pertanyaan lain, pertanyaan selanjutnya, pertanyaan berikutnya, dan seterusnya. Contoh : pertanyaan klasik : lebih dulu mana ayam atau telur ? Kalau duluan telur, kira-kira pohon jenis apa yang berbuah telur ? Kalau duluan ayam, apakah sejak kecil ayam lahir sudah membawa telur di temboloknya ? Lalu darimanakah datangnya ayam, apakah ia berasal dari sejenis dinosaurus yang telah terseleksi alam atau reinkarnasi dari roh manusia yang bersifat serta berkelakuan ke’ayam-ayam’an semasa hidupnya ?

Si kakek buyut Plato mengatakan, ‘ masyarakat merupakan refleksi dari manusia perorangan ‘. Jadi, setelah manusia puas mengamati dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan teknis seputar cara kerja tubuh dan alam seisinya, ia mendadak terhenyak, termangu dan kesepian. Di kanan kirinya ternyata ada manusia-manusia lain yang berciri-ciri fisik berbeda, namun berbicara dengan bahasa yang sama. Ia pun sadar ternyata tidak sedang sendiri saja dan adalah bagian dari sekelompok manusia tersebut. Akan tetapi mengapa mereka tak pernah tenang dan tentram dalam hidup sepanjang harinya ? Adakah mereka juga terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama, namun tak kunjung beroleh jawaban ? Ataukah sama-sama berkeinginan menjadi si nomor satu agar dituruti segala kehendak dan perintah kepada para manusia lainnya ?

Lalu ia pergi dan mengajak mereka duduk sama-sama minum kopi di pagi hari. ‘ Siapa nama Anda dan mengapa ada disini ? ‘ Begitulah mufakat itu diawali. Mereka berkompromi untuk meredam gejolak di pikiran dan libido berkuasa masing-masing. Direkalah sebuah rumusan yang telah disepakati bersama ( norma-norma, hukum adat, agama, KUHP, peraturan lalu llintas ), demi mengendalikan tingkah polah manusia dengan menuliskan batasan apa-apa yang ‘ benar ‘ dan ‘ salah ‘. Kesalahan dalam berbuat harus menerima hukuman sebagai konsekuensi. Kebenaran dalam bertindak apakah imbalannya ? Itulah yang saya coba gali disini. Meski tak sedalam sumur, mudah-mudahan tetap memancurkan sumber air nan sejuk segar.

Lurus Tidak Selalu Mulus
Mengapa perumpamaan abadi mengidentikkan ‘ benar ‘ itu dengan ‘ putih ‘ dan ‘ lurus ‘ ? Apakah mungkin, dikatakan ‘ putih ‘ itu adalah ekspresi kerinduan manusia fana terhadap sapuan cahaya Ilahi yang Maha Absurd dan hanya indra hati yang mampu mendeteksi keberadaannya ? Dan apakah disebut ‘ lurus ‘ sekedar sebagai penggambaran umum atas kekokohan batu karang menjulang tinggi hendak menembus cakrawala, pralambang dari hakekat tiap-tiap manusia, ialah pencarian seumur hidup atas jalan pulang yang kan membawanya kembali kepada Dia yang menciptanya ?

Yah entah sampai kapan pun jalan lurus itu selalu agak membosankan, karena hanya akan melangkah ke muka dan bukan tujuan lainnya. Meskipun harus menabrak dinding, dan menderita karena sakit benjol di kepala ( kecuali kita sejenis mutan, atau hantu yang memiliki keahlian khusus mampu menembus tembok ). Selalu ada sekian rambu-rambu yang belum tentu menggembirakan. Jalan yang salah menyilaukan mata, mudah, cepat serta menyenangkan. Sedangkan jalan yang benar menyesakkan, sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Cepat atau lama, disitulah letak permasalahannya.

Perubahan Dan Kawan-kawannya
Sama halnya dengan situasi terkini, saat disana-sini beberapa kelompok mulai meneriakkan revolusi a.k.a perubahan dengan cepat melalui berbagai cara, bahkan yang haram sekalipun, seperti kerusuhan massal, kekerasan bersenjata tajam dan tumpul, original maupun rakitan, dan tindakan menumpahkan darah lainnya. Alternatif lainnya adalah evolusi. Yaitu semacam perubahan juga, yang lebih slow dilakukan oleh tangan alam dan waktu. Teknologi memang sih berjasa menaikkan derajat manusia sebagai penguasa;, mengeksplorasi, memanfaatkan dan menaklukkan planet Bumi dan galaksi Bima Sakti. Namun sampai kapanpun tiada jua akan berjaya memutar arah jarum jam, menukar posisi siang dan malam. Ada sesuatu dan lain hal yang hanya dapat dirubah melalui seleksi alam dan berlalunya waktu. Ada buah yang tidak bisa cepat-cepat dipetik, kecuali kita penggemar rasa asem atau sedang ngidam.

Jadi, perubahan berkarakter kencang atau perlahankah yang musti kita pilih ? Kecil kemungkinannya evolusi untuk mendadak laju. Sedangkan revolusi masih bisa diinjak remnya kuat-kuat, dilambatkan langkah dan membanting kemudi demi menghindari jumlah korban jiwa akibat hantaman kereta. Kita kan telah merasai hasil-hasil buruk, busuk dan lebay dari proses bertahun-tahun. Padahal kita manusia yang tak pernah puas dan menginginkan lebih. Lalu dimanakah letak kesalahannya ? Mungkin ide, sikap, tindakan atau budayalah yang pertama-tama harus dibenahi, sebelum ia membawa kita kembali ke jalan yang salah tuk kesekian kali. Jangan pernah lagi menyempitkan definisi budaya ke dalam lingkup aktivitas tari, musik, masakan, bahasa dan seni rupa belaka. Karena selain kehalusan rasa moralitas, keadilan, kemanusiaan dan kasih sayang menciptakan seni dan kesenian, bekerja bersama dengannya adalah kerasnya kerja otak memikir dan mempelajari. Sama seperti ketika Archimedes asyik berendam di bath tubnya, melamun sambil mengamati lantai kamar mandinya, ‘ Eureka … ! ‘.

Pola pikir orang gunung tidak sama dengan pola pikir orang pantai. Yang satu tiap hari kedinginan di ketinggian, sedang yang satunya tiap hari berjemur di terik matahari. Yang satu berpikir bagaimana supaya tetap hangat dan nyaman, sedang yang satunya lagi sibuk mencari cara agar tak lagi gerah dan kepanasan. Yang satu terbiasa memendam dengki demi menghindari konflik, sedang yang satunya lagi adalah si jujur mengatakan apa saja meski akhirnya meninggalkan luka. Perbedaan tak seharusnya ditakuti, dan oleh karenanya diseragamkan atas nama stabilitas dan keamanan. Pakaian dapat kita atur, namun apakah demikian halnya dengan isi perut, kepala dan hatinya ? Benturan-benturan kecil tak akan dapat dihindari, kecuali sebagian kecil yang masih waras berkenan mengalah demi situasi kondusif. Kompromi, itu jalan tengah temporari. Jikalau kompromi, kompromi dan kompromi mengucilkan kita jauh-jauh dari kesejatian diri, maka itu bukan lagi sebuah solusi. ( by : swastantika )

Rabu, 28 Desember 2011

MERETAS HARAPAN

            Akan kemanakah kita sesudah mati ? Ketidaktahuan terhadap tujuan berikutnya itu mengerikan karena kita tak bisa memprediksi dan memperbaiki apapun manakala kita sudah tak lagi bernafas, alias koit. Untungnya ajaran agama dan kepercayaan, baik modern, tradisional, lokal maupun impor masing-masing membawa pencerahan dengan selalu menekankan pentingnya berbuat benar hari ini, sehingga angan-angan kita tidak melayang-layang menuju hal-hal yang belum pasti. Meski demikian, manusia masih saja asyik mengejawantahkan ilusi metafisika mereka dalam bentuk film-film hantu, cerita-cerita seram dan kesaktian klenik. Seakan hendak membudidayakan pencerahan alternatif, bahwa alam sesudah mati adalah kembali lagi berbaur bersama manusia-manusia hidup dalam bentuk makhluk-makhluk yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, pandai menghilang dan  bergaya busana kadaluwarsa.
Sesungguhnya ada dua dunia yang berandil mewarnai hari-hari manusia. Salah satunya menjadi alasan kita bertahan dan yang lainnya menjadi sumber kesengsaraan seumur hidup. Dunia mayoritas, dunia minoritas. Dunia publik, dunia privasi. Dunia keramaian, dunia kesendirian. Dunia kompromi, dunia idealis. Dunia materi, dunia empati. Dunia nyata, dunia maya. Dunia fiksi, dunia ilmiah. Dunia janji, dunia bukti. Dunia mimpi, dunia sejati. Dunia benda, dunia rasa.
         Pada dasarnya manusia mengidap dualisme karakter semenjak lahirnya. Berjiwa sosial dan takut dengan ilusi kesepian. Namun setelah nyaman berbaur bersama kelompoknya, mereka cenderung membangun sekat dan peraturan-peraturan yang diharapkan mampu melindungi mereka dari kelompok manusia lain yang berbeda secara fisik, ideology maupun materi. Seiring dengan perkembangan zaman sekat itupun tumbuh tinggi dan terealisasi. Manusia tak lagi membatasi pergaulan atas dasar perbedaan. Karena suatu sebab dan lain hal seorang manusia mengisolasi diri, bahkan dengan mereka yang memiliki kesamaan.


Kepedihan Terdalam
         Apalah arti kata-kata ? Bagi Subcomandante Marcos kata “ adalah senjata.” Senjata bagi siapa ? Bagi yang ingin memenangkan peperangan, tentu saja. Sedangkan si Fulan yang sedang kalah dalam posisi terjepit sedang tidak ingin melawan dan menaklukkan siapapun juga. Maka ia memilih diam. Tanpa kata-kata, tetap ada disana. Imajinasi menjadi satu-satunya pelipur lara. Ekspresi emosi bekerja kreatif di suatu tempat dalam pikirannya. Diputuskan menjadi satu-satunya solusi terbaik sebelum seseorang lain terluka parah dan masuk rumah sakit jiwa. Satu demi satu pembatas diletakkan. Sehingga dalam saat-saat paling menyakitkanpun tempat persembunyiannya adalah cukup dengan menarik fokus dan visi satu langkah ke samping, mengucilkan dunia fana dan masuk ke dalam dunia rekaan sendiri.
         Awalnya adalah sosok jiwa naïf a little bit polos yang sedang mencari petunjuk yang benar dari petuah para pendahulu dan buku sejarah. Dan tak pernah menaruh curiga serta buruk sangka. Selalu percaya dengan sepenuh heart and soul. Manakala mendapati kenyataan tak seindah harapan dan melenceng jauh dari kisah ideal yang pernah digembar-gemborkan, tersentak dan hancur berkeping-kepinglah dia. Ingin protes harus kemana ? Mau mengadu kepada siapa ? Kemurkaan terlanjur menggunung dan menyesaki dada. Sembilu sudah menyayat kecil-kecil nalar, hingga lidah tak bisa lagi berkata. Kecuali diam menunggu di tengah membuncahnya kebimbangan. Berjalan dalam kepedihan, mencari jawaban. Kata-kata yang dimanterai berupa lagu screamo oleh kerongkongan si parau, sketsa di secarik kertas lusuh, goresan graffiti dinding kota, hiasan kulit bernama tato, permainan online dengan episode abadi dan aktivitas lain yang memungkinkan pelakunya meminimalisir interaksi dengan orang lain. Sembari menjahit mulut rapat-rapat demi mencegah tak seorang pun mampu membaca isi hatinya ( kecuali dukun, paranormal beserta segenap rekan sejawatnya tentu saja ).
         Dalam kacamata norma-norma masyarakat waras, dialah orang sakit. Hama wereng pengganggu kesehatan otak. Sebelum menular dan merasuk kemana-mana, ‘ kill them before they grow, ‘ demikianlah instruksi para yang punya kuasa. Kewajaran sikap dan kenormalan perilaku harus ditegakkan, agar tercapai kehidupan sempurna di mata yang melihat. Apa yang bergejolak di sanubari tiada penting. Karena isinya tidak akan bisa dijual, dieksploitasi, menghasilkan uang yang bisa digunakan untuk mengkonstruksi rumah dan harta benda agar lebih layak dikagumi dan dipuja-puji.


Mengawali Awal Yang Lain
         Menyepi dan menjauh dari ingar bingar mainstream rutin, tidaklah mudah bagi mereka yang sudah terlanjur menjadi bagian dari hedonis nan materialistis itu sendiri. Apalagi jika menyepinya adalah ‘seolah-olah.’ Raga masih menjejak kerumunan kota, lamunan melayang ke hutan belantara. Dan mengandung resiko besar tatkala isi kepala terlalu jauh mengembara, tersesat dan gagal menemukan jalan pulang. Kenyentrikan itu ibarat pisau bermata dua. Sekedar keisengan jiwa kanak-kanak yang terjebak di tubuh orang dewasa, atau totalitas tanpa ampun yang akan mengucilkan kita dari dunia sama sekali.
         Mengapa para orang tua di institusi keluarga, pendidikan dan pemerintahan menetapkan peraturan ? Karena mereka sadar tak akan hidup selamanya. Penyakit, bencana dan kecelakaan bisa sewaktu-waktu menjemput. Sedangkan cita-cita belum lagi ada di genggaman dan anak-anak muda terlalu sibuk bersenang-senang. Dalam paradigma orang tua, menjadi ‘ aneh ‘ adalah menyakiti diri sendiri dan sama sekali tak ada masa depannya. Sesungguhnya guru ‘killer’, mama cerewet dan penguasa semena-mena adalah cerminan ketidakpuasan atas pencapaian prestasi yang diraihnya. Sadar energi tiada lagi cukup untuk membabat hutan, mengawali awal, maka dengan keberuntungan posisi sebagai yang lebih tua dan berkuasa, peraturan-peraturan super ketat dibuat demi menyuruh orang-orang di bawah umur dan kakinya untuk mengerjakan semua hal demi mencapai impian si empunya kuasa.
         Salahkah ? Sejak kapan impian seseorang dianggap salah dan melanggar hukum ? Ya semenjak darah manusia ditumpahkan dengan cuma-cuma atas nama Cita-cita. Tak ada kebakaran tanpa kompor meleduk. Jadi, semestinya Anda-anda  para orang tua bersiap dan tak perlu terbengong-bengong amat mengamati tingkah polah ABG trendi. Salahkah kita meluapkan ekspresi diri sejati ? Bisa berdosa besar tujuh turunan jika tak sekecap katapun mampu Anda berikan sebagai deskripsi dan argumentasi atas jawaban yang Anda pilih, dan menolak mentah-mentah dampak sekejap yang ditimbulkan olehnya.
        
         Kita terpaksa menutup tahun dengan keprihatinan mendalam pada menyeruaknya konflik dan sengketa rakyat dengan aparat di berbagai penjuru negeri. Rakyat dan alat Negara memang adalah sama-sama manusia. Manusia-manusia malang yang tersumbat lubang pengeluaran emosionalnya. Jika rakyat melampiaskan kekecewaan dengan makian dan batu-batu beterbangan, maka kekesalan aparat atas pembangkangan massal adalah senjata dan provokasi.  Di padang demonstrasi mereka bertemu dan para anak bangsa tersayang saling meregang nyawa. Cerita tragis yang tangispun tak berdaya menghentikannya.
         Apakah proses kita melenceng jauh dari peraturan ? Akan tetapi rakyat tetap setia membayar pajak dan aparat loyal mengabdi pada perintah juragan. Kita bukan lagi sebuah keluarga besar yang penuh cinta melangkah bersama meraih tujuan. Atau jangan-jangan, kita adalah pengidap autis berjamaah yang saling sulit mengkomunikasikan tujuan dan harapan versi sendiri-sendiri ? Ibarat satu kaki menuju Roma, sedangkan kaki yang lain menuju Rusia. Jangankan tujuan, sebagai sebuah bangsa besar kita tidak mengawali apapun dengan niat ingsun yang sama. Kami menginginkan kesejahteraan, sedangkan Penguasa mendambakan keamanan posisi. Maka tragedi tak perlu diherani karena itu adalah buah dari ruwetnya visi kebangsaan.
         Cukup sampai disini kita akhiri. Say goodbye lah kepada kekeliruan yang tidak ingin kita ulangi. Tegakan hati untuk bertetapan : inilah kesempatan terakhir, dan alam raya beserta Pembuatnya pun tak memberi maaf untuk kegagalan kesekian kali.
( by : Swastantika )

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...