Jumat, 24 November 2023
Masa Lalu Rumit Mengganggu Hak Untuk Hidup Sejahtera: Sejarah Gua Machpela
Rabu, 08 November 2023
Cara Aman Peduli Pada Sesama
Bencana alam, perang, dan berbagai peristiwa memilukan datang mengejutkan kita, entah kita siap atau tidak. Duka dan lara yang dialami para korban dipertontonkan di media setiap saat, sehingga kita iba pada penderitaan mereka.
Reaksi yang biasanya muncul adalah kita berusaha membantu
dengan cara ikut memikirkan solusi, atau menyalahkan pihak-pihak yang menjadi
penyebab penderitaan para korban (misalnya terkait perang atau kerusuhan).
Biasanya, seseorang yang tengah mengalami kesulitan hidup,
entah itu karena masalah ekonomi, pertengkaran dalam keluarga, patah hati,
kehilangan pekerjaan, banyak utang, dll., berusaha mencari “obat” guna
meredakan rasa sakitnya. Dan terkadang “obat” itu adalah dengan cara menaruh
empati kepada mereka yang bernasib lebih buruk dari kita.
Berempati pada penderitaan sesama itu baik, inilah kewajiban
kita sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat. Namun, empati
seharusnya muncul spontan dan ikhlas: tidak mengharap imbalan atau keinginan
“mengobati” penderitaan kita sendiri, agar kebaikan yang Anda lakukan dapat
diteruskan oleh seseorang atau pihak yang menerima kebaikan hati Anda.
Empati juga tidak semestinya menjadi bumerang bagi kita
sendiri, ketika orang yang kita tolong ternyata hanya sekadar memanfaatkan
ketulusan hati kita demi kepentingannya sendiri. Ketika si penerima amal Anda
terus mengharap pemberian Anda sebagai cara mengakhiri situasi sulit yang
dihadapinya.
Lantas, apakah ini artinya kita harus berhenti berempati
pada penderitaan sesama? Tidak juga. Cukup renungkan dulu poin-poin berikut ini
sebelum Anda memutuskan untuk memberi pertolongan pada seseorang:
Ada berlapis-lapis kisah mengapa seseorang bisa terjerembab
dan membutuhkan bantuan orang lain untuk bangkit. Kisah-kisah itu bisa sangat
mengejutkan, karena kita tidak pernah mengalaminya. Sebagaimana siang berganti
malam dengan sendirinya, apapun bisa terjadi di dunia ini.
Pastikan angan-angan Anda tidak berkelana, menebak-nebak, atau
melebih-lebihkan sebuah situasi yang sedang Anda lihat atau dengar. Biasakan
untuk tetap fokus pada apa yang ada di depan Anda, bukan pada apa yang ada di
dalam benak Anda.
Hindari bereaksi seketika itu juga pada segala hal dan dalam
segala situasi. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menelaah suatu peristiwa
yang sedang dibeberkan ke hadapan Anda. Bersikap skeptis adalah hak kita,
jangan biarkan siapapun merebut hak ini dari tangan kita.
Orang-orang fear of
missing out, bagi mereka ketinggalan sesuatu itu menakutkan. Namun,
bereaksi salah terhadap suatu peristiwa itu lebih menakutkan lagi. Ingatkah
Anda gelombang sanksi untuk Rusia atas penyerbuannya ke Ukraina? Itu semua
berawal dari reaksi kemarahan warga net.
Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain
yang bermil-mil jauhnya melalui media massa. Perlu diingat bahwa media massa
tidak selalu netral; mereka membuat berita berdasarkan berbagai faktor, salah
satunya pandangan politik media itu sendiri. Media juga membuat berita yang
selaras dengan kepentingan pihak-pihak yang mendanainya.
Agar dapat menentukan sikap terhadap suatu peristiwa
memilukan (misalnya, konflik), kita perlu mencerna informasi dari berbagai
media mengenai peristiwa itu. Masalahnya, seringkali media yang tidak seiring
dengan kepentingan nasional akan disisihkan, sehingga sulit bagi masyarakat
biasa mendapat informasi yang berimbang.
Nestapa yang dialami orang lain menimbulkan perasaan iba,
bahkan ada juga yang merasakan kesedihan ekstrem. Wajar jika kita merasa
tergerak untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, karena jauh
dalam lubuk hati kita juga ingin dibantu bila mengalami situasi yang sama.
Bantuan yang kita berikan jangan sampai mempersulit kita
sendiri di belakang hari, karena selalu ada konsekuensi atau risiko dari
keputusan apapun yang kita ambil. Di sinilah pengendalian diri menjadi kompas
Anda untuk mengukur dan menentukan sejauh atau sebesar apa Anda bisa membantu mereka
yang membutuhkan.
Ibarat memberi uang receh pada pengemis, lupakan apa yang
sudah pernah Anda lakukan untuk menolong seseorang. Melupakan kebaikan yang
Anda lakukan adalah cara untuk menjadi ikhlas, sebesar atau sekecil apapun
milik Anda yang Anda lepaskan untuk menjadi milik orang lain.
Pada akhirnya, kita harus kembali ke kehidupan kita sendiri dan tanggung jawab masing-masing. Dan menjalani rutinitas itu tidak mudah, karena problematika hidup setiap saat tidak pernah sama. Kita masih butuh tenaga dan kekuatan hati kita untuk mengemudikan kapal kita agar tidak tenggelam di tengah pasang surut laut kehidupan. Apabila semua Anda berikan untuk orang lain dan tak tersisa apapun, lalu dengan apa Anda akan menjalani hidup ini?
Rabu, 04 Oktober 2023
5 Trik Bahagia Meski Punya Utang
Karena satu dan lain hal, kita berutang pada seseorang, sebuah bank, pinjaman online, atau pihak manapun sebagai pemberi pinjaman. Dengan memburuknya situasi ekonomi global belakangan ini, memiliki utang bisa makin memperparah situasi keuangan pribadi Anda apabila situasi psikologis Anda juga tidak menentu.
Mengenang kembali pandemi COVID-19, virus SARS-CoV-2 yang
masuk dalam tubuh seseorang cenderung mengganas manakala pasien itu sudah
memiliki penyakit lain di dalam tubuhnya (comorbid). Pasien non-comorbid yang
psikologisnya tertekan akibat isolasi, misalnya, juga tidak selamat dan
meninggal tidak lama setelah tertular COVID-19.
Sama halnya dengan kondisi keuangan Anda. Perasaan dan emosi
negatif yang timbul karena memiliki utang ibarat upaya “bunuh diri mental” yang
kita lakukan pada diri sendiri. Orang bilang janji adalah utang, tetapi utang
tidak bisa dibayar dengan janji. Begitu pula kecemasan, kekecewaan, rasa malu,
dan emosi negatif lainnya; semua itu
tidak bisa membayar utang Anda.
Ingat! Menjaga kewarasan adalah senjata utama agar Anda bisa
membayar utang, dan ini bisa dilakukan dengan memelihara rasa bahagia di dalam
benak Anda. Begini caranya:
Disiplin
Disiplin adalah kunci sukses, bukan hanya dalam karir tetapi
juga dalam menavigasi langkah Anda di tengah situasi sulit. Jangan abaikan
tenggat waktu pembayaran utang dalam situasi apapun, karena menundanya hanya
akan memperberat beban yang harus dibayar.
Ini tentu tidak sulit apabila Anda seseorang yang disiplin dalam kehidupan sehari-hari, di mana saja Anda berada. Terbiasa bangun dan
tidur, makan, bekerja, dsb. di jam yang sama sedikit banyak akan berkontribusi
pada pembentukan sikap kita terhadap tanggung jawab dan, pada akhirnya, melonggarkan kesemrawutan
hidup.
Maaf
Punya utang yang belum terbayar bisa menjadi sumber
kerisauan kita setiap hari, mungkin karena kita tidak senang penghasilan kita
terpotong untuk membayarnya. Ini pola pikir yang salah. Sadarilah bahwa setiap
keputusan mengandung konsekuensi, demikian juga saat Anda memutuskan untuk
meminjam uang.
Atasilah rasa yang tidak nyaman ini dengan sering memaafkan,
baik orang lain maupun diri sendiri, atas segala kesalahan sebesar dan sekecil
apapun. Apabila Anda tidak kesulitan menerapkan memberi dan menerima permaafan, maka
seharusnya tidak akan lagi timbul “perlawanan” untuk tidak membayar ketika
utang sudah jatuh tempo, baik pinjaman pokok atau bunganya.
Berterima kasih
Mengucapkan terima kasih tidak menyita separuh dari waktu
Anda sepanjang hari, tetapi seringkali kita lupa melakukannya. Sibuk memikirkan
situasi kita sendiri membuat kita abai pada orang lain di sekeliling kita,
entah itu anggota keluarga, rekan kerja, tetangga, dan banyak orang lain yang
tidak kita kenal. Hei, bukan Anda saja yang punya masalah di dunia ini lho. You'll never walk alone.
Mengucapkan terima kasih adalah cara sederhana menghargai
kehadiran orang lain, juga suatu bentuk kerendahan hati kita sebagai manusia
biasa. Ucapkanlah terima kasih kepada alam sekitar atas cuaca yang baik atau
udara yang bersih. Dan jangan lupa juga mengucapkan terima kasih kepada diri
sendiri yang sudah bersedia bangun pagi dan bekerja keras tiap hari.
Menjaga penampilan
Meski harus menghadapi sesuatu yang belum terselesaikan,
bukan berarti kita berhenti menghargai diri sendiri. Anda tidak harus
berpenampilan “wah” setiap hari, tetapi setidaknya kebersihan diri terjaga dan
tidak mengenakan pakaian lusuh, sobek, atau yang sudah memudar warnanya saat
menghadiri acara penting.
Para penagih utang mungkin (dan akan) mengucapkan kata-kata kasar dan
merendahkan yang melukai harga diri Anda. Kita maklumi saja karena mereka
sedang melakukan tugas, dan, seperti Anda dan kita semua, apapun akan mereka
lakukan untuk mencapai target. Namun, jangan biarkan “teror” sesaat membuat
Anda yakin diri Anda tidak layak lagi dihargai.
Mawas diri
Utang besar dan kecil yang Anda punya saat ini bukanlah Anda,
sehingga Anda tidak harus memikirkannya setiap saat. Kesulitan ekonomi memang
menjadi penyebab utama depresi di banyak tempat di dunia ini. Akan tetapi,
sadarilah bahwa utang kita tidak akan lenyap tanpa bekas dengan protes atau
kemarahan kita.
Modal utama Anda untuk melunasi semua utang bukanlah
pekerjaan bergaji besar, atau sekarung uang yang jatuh dari langit. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Andalah
satu-satunya yang Anda punya di dunia ini untuk membayar semua utang. Maka,
jagalah diri Anda baik-baik dengan tetap mawas diri dan memelihara rasa bahagia, sesulit
apapun keadaan Anda saat ini.
Senin, 25 September 2023
Kita atau Mereka: Ketika Agama Tidak Mempersatukan
Dalam sebuah survei tentang religiusitas terungkap bahwa Indonesia adalah negara di mana 96% penduduknya percaya kepada Tuhan, sehingga bisa disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Temuan ini ditanggapi biasa saja bagi sebagian orang, karena pada kenyataannya nilai-nilai agama hanya sebatas rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, religius bukan berarti bebas korupsi (misalnya).
Di masa pemerintahan Suharto (1968-1998), gesekan antar umat
beragama tidak pernah terjadi berkat adanya peraturan tegas yang mengatur
bidang sensitif ini. Kebijakan Suharto cenderung memperlakukan semua agama
secara sama, bahkan menekan ‘kebebasan beribadah’ (menurut anggapan beberapa
orang), guna mencegah munculnya dominasi suatu kelompok. Kebijakan yang sama
juga diterapkan Lee
Kuan Yew, salah satu pemimpin Asia Tenggara yang cukup disegani sampai saat
ini.
Akibat kekeruhan politik di sekitarnya, apa yang diterapkan
Suharto ditinggalkan jauh-jauh oleh para penerusnya, kecuali Presiden Indonesia
ke-4, Abdurrahman Wahid, yang masa jabatan sangat singkat. Setelah beberapa
pergantian kepemimpinan, ada satu pertanyaan penting yang kian nyata menghantui
kehidupan bangsa paling religius di dunia. Manakah yang lebih wajib dipatuhi,
peraturan agama atau peraturan negara?
Perang dan agama
Pertanyaan itu tidak akan sulit dijawab apabila suatu negara
berideologi hukum agama, misalnya Iran dan Arab Saudi. Berabad silam, dorongan
kehendak menegakkan hukum agama menjadi salah satu penyebab utama Perang Salib
yang berlangsung selama dua abad (abad 15-abad 17) bagi kubu Islam. Sementara
di kubu Katolik dan Kristen, mencari ampunan Tuhan dan laku tobat adalah
motivasi utama mereka berjuang di medan pertempuran suci itu.
Membicarakan peristiwa ini mungkin mengungkit kembali luka
lama yang ingin kita lupakan, tetapi dampaknya terus menghantui hingga saat
ini. Sebagai pihak pemenang dalam Perang Salib, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman
Empire) merampas wilayah Byzantium yang sebelumnya menjadi Pusat Kristen
Ortodoks Timur. Para pemimpin Turki dan para penerusnya memang memberikan
perlindungan pada umat Kristen dan Yahudi di wilayah itu di bawah aturan
tersendiri.
Sebuah perang dahsyat (Great
Turkish War) mengubah semuanya. Pertama, karena Utsmaniyah menderita
kekalahan dalam perang melawan Liga Suci (Kekaisaran Romawi Suci,
Polandia-Lithuania, Hongaria, Kekaisaran Rusia, Venesia). Kedua, keterlibatan
Utsmaniyah dalam perang itu berawal dari penandatanganan kesepakatan antara seorang
pemimpin Kazaki (Cossack) Kristen Ortodoks, Petro
Dorosenko, dengan Kesultanan Utsmaniyah sebagai upaya mempertahankan diri
dari serangan Polandia.
Bagaimana perasaan seseorang yang kalah dalam pertempuran?
Kata apapun yang menjadi jawaban pertanyaan ini, itulah penyebab Kesultanan
Utsmaniyah mengubah sikap terhadap kaum non-Muslim yang selama ini mereka
lindungi. Kekalahan dari Liga Suci diduga kuat sebagai penyebab menguatnya
nasionalisme Turki yang mendorong tumbuhnya sentimen anti non-Muslim dan anti
orang asing.
Orang-orang Kristen Ortodoks Armenia
menjadi korban pertama gerakan ultranasionalisme di Turki pasca perang, meski
para sejarawan hingga saat ini masih memperdebatkan detail jalannya peristiwa
itu dan jumlah korbannya. Selama berlangsungnya Perang Dunia II orang-orang
Kristen Ortodoks Serbia menghadapi tragedi
terburuk sebelum era Perang Balkan yang jarang dibahas, mungkin lantaran
alasan miris yang melatarbelakanginya diam-diam disesalkan beberapa kalangan. Di
abad 21, Gereja
Kristen Ortodoks Ukraina (Ukrainian Orthodox Church) dibubarkan pemerintah
Ukraina karena menolak fusi dengan OCU (Orthodox Church of Ukraine) dan salah
satu biara mereka ditutup.
Lalu, harus bagaimana?
Religiositas itu besar maknanya dalam membentuk persepsi
manusia tentang kehidupannya sendiri dan sekelilingnya, tanpa mengecilkan
berbagai faktor lain yang juga berperan besar dalam hal ini. Masing-masing
agama besar di dunia saat ini terbentuk dan eksis berkat proses panjang
berabad-abad yang membentuk perspektif masing-masing agama itu sendiri tentang
banyak hal lain di luar diri mereka.
Para pemuka dan penyebar agama membawa persepsi ini di dalam
ajaran mereka dan meneruskan pesan mereka pada masyarakat di tempat lain. Maka
tidak heran apabila kadang kala kita mendengar seseorang memiliki visi agamis
yang tidak sesuai dengan kaidah norma-norma budaya di mana kita berada. Namun,
menyerang mereka secara frontal juga tidak disarankan karena itu artinya kita
menganggap serius apa yang sedang mereka lakukan.
Situasi beberapa bangsa di muka Bumi ini unik satu sama
lain, tetapi keunikan ini sedang terancam di bawah wacana “pembangunan
modernitas yang berkelanjutan”. Ajaran yang kita butuhkan untuk menghadapinya harus mampu mengajak kita untuk wawas diri, fokus pada suasana
batin kita terlebih dahulu agar tidak mudah syok mendapati kenyataan hidup.
Itulah yang sebaiknya kita lakukan sebelum memutuskan untuk “mengobati” dunia.
Selasa, 05 September 2023
5 Tips Menghadapi Kesulitan Ekonomi
Kesulitan ekonomi bukanlah sesuatu yang memalukan, bisa
menimpa siapa saja dan di mana saja, mulai dari seorang ibu tunggal di pedesaan
sampai pengusaha di kota besar. Tidak ada satu atau serangkaian solusi tunggal
yang bisa menyelesaikan masalah ini, karena kesulitan ekonomi adalah hasil dari
berbagai faktor yang saling berkelindan, tarik menarik, dan tergantung satu
sama lain.
Media cetak, daring, elektronik sudah banyak membahas
penyebab kemerosotan ekonomi global saat ini, dan saya tidak akan membahasnya
di sini. Apabila saat ini Anda sedang mengalami kesulitan ekonomi, jangan
khawatir, Anda tidak sendiri.
Inilah beberapa cara yang bisa Anda terapkan.
“Masalahmu
bukanlah dirimu”
Ya, masalah Anda dan diri Anda adalah dua entitas yang
berbeda. Anda mungkin seorang anak muda, ayah, ibu, atau lansia yang memiliki
nama dan segala hal yang bisa diidentikkan dengan keberadaan Anda sebagai
manusia.
Sedangkan masalah Anda punya nama, tetapi dia bukanlah benda hidup. Dia adalah situasi atau sekumpulan situasi yang membuat batin dan pikiran kita terasa berat. Lalu mengapa kita harus takluk pada benda mati?
Bersih-bersih
Masihkah ingat di masa pandemi lalu saat kita tinggal di
rumah saja berhari-hari sampai berbulan-bulan? Kita menyibukkan diri dengan
berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, di antaranya membersihkan
rumah dan area di sekitarnya.
Sesulit apapun situasi ekonomi yang harus kita hadapi, jangan korbankan kenyamanan diri kita dan seluruh anggota keluarga. Tempat tidur, kamar mandi, dapur, ruang kerja, bahkan kamar anak-anak Anda harus dalam kondisi rapi agar tidak memperberat benak yang sedang tertekan.
Menjaga diri sendiri
Sering kita mendengar kisah orang-orang yang tidak mau makan
demi menghemat makanan di rumah. Ini kurang tepat karena sama artinya dengan
Anda menyakiti diri sendiri. Tubuh perlu makan untuk mendapat energi agar bisa
beraktivitas dan berpikir jernih dari waktu ke waktu. Sarapan dan makan siang
itu penting, makan malam bisa Anda lewatkan bila ingin berhemat sekaligus
mengurangi berat badan.
Menjaga kebersihan diri juga penting. Mandi, gosok gigi, mencuci rambut, bercukur, dll. itu krusial sebagai bentuk penghormatan kita pada tubuh kita yang bekerja keras dan memutar otak tanpa henti mencari solusi mengatasi masalah ekonomi.
Olahraga
Orang cenderung malas berolah raga karena dipandang tidak
mendatangkan uang untuk membayar tagihan atau membeli makanan. Justru kepenatan
pikiran dan perasaan kita harus disalurkan dalam bentuk aktivitas fisik, karena
energi negatif yang menjadi penyebab stres dan depresi bisa ditipiskan dengan
cara berolah raga secara rutin.
Anda tidak harus melakukan olahraga kelas berat jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jalan-jalan pagi di sekitar tempat tinggal pun sudah cukup dan akan bermanfaat bila dilakukan teratur. Ingatlah pepatah mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.
Meditasi
Meditasi bisa diterapkan semua orang apapun agama dan
kepercayaannya, apabila mereka bisa menerimanya sebagai penerapan universal oleh
umat manusia secara umum. Meditasi adalah sebuah aktivitas di mana kita
mengistirahatkan pikiran kita dari berpikir, mendiamkan suara-suara negatif di
dalam benak yang cenderung membuat kita justru merasa lebih tertekan di tengah
kerumitan apapun.
Seorang ahli neurologi mengakui manfaat meditasi dalam membantu manusia membugarkan kembali otak yang performanya turun dari tahun ke tahun akibat berpikir tanpa henti. Ibarat gadget yang perlu dimatikan setelah lama digunakan, otak manusia akan segar setelah diistirahatkan untuk beberapa saat melalui meditasi.
Skala keparahan, jenis, dan cakupan kesulitan ekonomi tiap
orang berbeda karena manusia tidak sama satu sama lain Tidak ada satu obat yang
ampuh menyembuhkan semua halangan ini seketika.
Penjelasan di atas adalah sedikit cara yang bisa Anda
terapkan untuk memberikan jarak/ ruang antara Anda sebagai seseorang dan
masalah atau situasi Anda saat ini.
Kesulitan ekonomi memang tidak akan hilang setelah Anda bermeditasi dan berolah raga. Namun, jiwa dan raga akan terasa bugar dan cerah sehingga Anda akan bisa melihat jalan keluar yang sudah Anda cari-cari selama ini.
Minggu, 30 Juli 2023
Ilusi Kesempurnaan
Sempurna itu indah, lebih unggul dari lainnya. Merasa memiliki kesempurnaan adalah apa yang dibutuhkan mayoritas orang untuk bangga dan puas dengan hidup mereka agar terhindar jadi bahan olokan di muka umum. Entah itu kesempurnaan yang datang dari hasil kerja keras mereka, atau didapatkan sebagai warisan.
Mereka yang berhasil mengeklaim kesempurnaan setelah melalui
jatuh bangun dalam usaha mereka akan cenderung menjaga “prestasi” ini baik-baik
agar tidak lepas begitu saja, karena mempertahankan sesuatu lebih sulit
daripada meraihnya.
Ketika Perang Ukraina meletus 24 Februari 2022,
negara-negara yang enggan memilih kubu menyatakan diri sebagai pihak netral.
Beberapa dari mereka menunjukkan itikad baik sebagai mediator, entah karena
sangat terganggu konflik Eropa Timur itu atau memang berniat jadi penengah;
sikap yang menurut beberapa kultur dan ajaran agama sebaiknya dikedepankan
ketika kita terjebak di tengah kemelut perseteruan. Salah satu di antara
kelompok netral ini adalah Turki.
Selain mengajukan diri sebagai mediator antara pihak Rusia
dan Ukraina, pada Juni 2022 Turki bersedia mefasilitasi ekspor biji-bijian
Ukraina dan Rusia ke negara-negara yang membutuhkan.
Turki juga menampung lima orang tahanan perang dari pihak
Ukraina dari Batalyon Azov setelah kekalahan dari pasukan Rusia dalam
pertempuran panjang di pabrik baja Azovstal 2022 lalu melalui perjanjian resmi
antar pemerintah Turki-Rusia.
Entah mengapa Turki sekonyong-konyong mengubah sikap.
Presiden Recep Erdogan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara
pribadi untuk berkunjung ke negaranya dan membawa pulang lima tahanan perang
yang seharusnya tidak menghirup udara bebas sampai operasi militer Rusia di
Ukraina berakhir. Pihak Rusia, tentu saja, menyesalkan pelanggaran kesepakatan
yang dilakukan Turki di awal musim panas 2023.
“Iman”
Iman (faith)
adalah kesediaan untuk percaya dengan penuh keyakinan tanpa keraguan dan
penolakan terhadap sesuatu (atau seseorang) yang pada gilirannya memengaruhi falsafah,
pandangan hidup, tingkah laku, sikap, dan perbuatan sehari-hari. Iman bukan
hanya menyangkut-paut dunia rohani atau sebagai pernyataan keadaan religiusitas
seseorang, meskipun istilah ini nyaris jarang meninggalkan dua wilayah itu.
Menurut riwayatnya, faith (iman) dikenal sejak abad 13 sebagai sebuah kata yang
bermakna “keyakinan pada kepercayaan atau janji; kesetiaan pada seseorang.”
Kata ini merupakan bentukan dari kata Prancis Kuno feid yang berarti “kepercayaan, percaya, keyakinan, ikrar” dari
sebuah kata Latin fides dengan makna
“percaya, iman, keyakinan, kepercayaan, kredo, anutan.”
Ada dinamika dalam makna orisinil faith selama abad 14 ketika kata ini digunakan untuk mendefinisikan
persetujuan akal pikiran pada kebenaran pernyataan yang buktinya tidak lengkap,
khususnya dalam hal keyakinan pada hal-hal religius. Awalnya, faith digunakan untuk merujuk referensi
yang berkaitan dengan agama apapun, lebih jauh lagi, referensi tentang persuasi
agama. Makna faith kembali meluas di
akhir abad yang sama sebagai “keyakinan pada seseorang atau sesuatu yang
merujuk pada keadaan yang sebenarnya dan dapat dipercaya.”
Karena mengejar kesempurnaan tidak selamanya baik, orang tua
dan para pendahulu menasehati kita untuk lebih fokus pada menjaga kualitas
kepribadian atau karakter sebagai manusia melalui laku sederhana yang tidak
sundul langit. Di antaranya, dengan menepati janji.
Manusia membuat janji hampir setiap hari pada siapapun;
keluarga, kolega, pasangan, atasan, penagih utang … Himpitan kesulitan hidup
yang makin berat akibat berbagai hal mendorong manusia untuk buru-buru
melepaskan diri dari tekanan dengan membuat janji tanpa memperhitungkan kemampuan
diri untuk memenuhi janji tersebut.
Berlandaskan penjabaran asal dan makna kata faith secara luas di luar konteks agama di atas, tidak salah bila ditafsirkan
bahwa seseorang murtad (apostate)
saat ia melanggar janji yang telah diikrarkannya sendiri, di mana kemurtadan
adalah apokalips; sebuah tonggak penanda akhir dan awal suatu fase akibat
tersingkapnya sebuah kasunyatan yang
menimbulkan penolakan kelompok atau kalangan tertentu. Ketika dunia ibarat
runtuh bagi mereka yang kita khianati, di saat yang sama dunia mekar bersemi
bagi mereka yang mendapat profit sebagai hasil pengingkaran janji tersebut.
“Tertuduh” yang setia
Memercayai sesuatu adalah bagian dari hak dasar manusia yang
dilindungi hukum internasional, termasuk kebebasan untuk memutuskan berganti
keyakinan atau mengalihkan kepercayaan dari satu entitas ke entitas lainnya.
Peradaban manusia akan tetap ada selama Bumi masih ada, dan senantiasa mengubah
diri demi bertahan untuk tetap ada.
Sama halnya keyakinan manusia bisa luntur dan pergi ke
tempat lain (hijrah) ketika ia merasa dirinya tak lagi mampu bertahan untuk
tetap ada akibat memegang keyakinan lamanya. Perpindahan ini diputuskan di
bawah dorongan keyakinan yang timbul setelah menerima persuasi bahwa tempat
baru lebih baik.
Pada cuplikan salah satu skena Perang Ukraina di atas, Turki
yakin sudah bertindak benar dengan melepaskan lima tahanan perang Ukraina
supaya mereka bisa kembali membela negaranya. Demi bertindak di jalan
kebenaran, Turki mengkianati kepercayaan sahabatnya, Rusia, dan mengorbankan
hubungan baik yang sudah berjalan puluhan tahun. Meskipun ajaran berbagai agama
besar menganjurkannya, menegakkan kebenaran tidak selalu berdampak manis bagi
semua pihak -- selalu akan ada yang merasa dikecewakan.
Menyadari bahwa dirinya bukan “orang baik-baik”, seseorang
akan cenderung mengalihkan rasa sakit itu ke hal-hal lain yang diharapkan dapat
meredakannya. Mungkin ia akan rajin beribadah atau terlibat aktivitas amal
untuk membuang uang jutaan dolar demi menebus “dosa-dosanya”. Apakah semua itu
akan membuat Tuhan tergerak untuk mengampuni kita? Kita tidak pernah tahu,
kecuali kita meninggalkan dunia ini dan bisa kembali ke rumah untuk bercerita
tentang pengalaman kita.
Oleh karena itu, mengejar kesempurnaan adalah ikhtiar yang sia-sia karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dibutuhkan kerja keras secara fisik maupun mental untuk bersedia menerima tanpa penolakan tentang kenyataan itu, sembari tetap melakukan yang terbaik sesuai bidang kita masing-masing.
Selasa, 16 Mei 2023
Сансара (Samsara) by Basta and Friends (video)
Gagasan ini kami visualisasikan melalui video tidak resmi untuk tembang Сансара (Samsara) dari Basta, seorang biduan dari Rusia. Video dipublikasikan di channel YouTube anak lanangku.
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...
