Senin, 15 Mei 2023
Siti Jenar Cypher Drive - Homicide (video)
Senin, 24 April 2023
Dunia Tidak Terdiri Dari Hitam dan Putih
Dunia Barat mencela perilaku orang-orang Dunia Ketiga yang punya istri lebih dari satu; mereka memandang poligami sebagai perilaku kaum maniak seks. Bagi umat Islam, pendapat semacam ini sama dengan hinaan karena Nabi Muhammad SAW beristri 9 orang. Mereka memandang rendah pilihan hidup Nabi Muhammad lantaran tidak tahu bahwa beliau hanya mencintai 1 perempuan (istri pertama beliau, Khadijah binti Khuwailid) saja selama 25 tahun usia perkawinan mereka. Beliau tidak berpoligami ketika masih berusia muda dan fit secara fisik, melainkan ketika beliau sudah berusia 50 tahun atau 5 tahun setelah wafatnya Khadijah yang lebih tua 15 tahun dari Nabi Muhammad.
Akibat sebuah perang besar, yaitu Perang Uhud, banyak pria Arab
tewas dalam pertempuran. Istri-istri mereka menjadi janda, dan anak-anak mereka
tidak berayah. Di zaman kuno tidak ada lowongan kerja untuk perempuan, maka
para janda tidak bisa bekerja untuk menafkahi anak-anak mereka dan hidup dalam
kemiskinan.
Nabi Muhammad menikahi salah satu janda akibat Perang Uhud,
Zainab binti Khuzaimah, untuk meringankan penderitaannya. Pernikahan itu awalnya
dimaksudkan sebagai contoh agar para pria di sekeliling Nabi Muhammad di masa
itu juga melakukan hal yang sama demi menolong janda-janda lainnya.
Para cendekiawan Muslim menuturkan bahwa Nabi Muhammad
berpoligami bukan demi tujuan tidak berselingkuh dengan perempuan lain (salah
satu argumen justfikasi poligami yang sering kita dengar), melainkan demi
menjaga martabat seorang janda dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak dapat
dipungkiri bahwa sebuah kepingan peradaban masa lalu menganggap janda sebagai
barang bekas dipakai orang lain, sehingga tidak layak dinikahi apalagi diberi
nafkah.
Lain dulu lain sekarang. Latar belakang poligami berkembang
seiring waktu, demikian pula suara-suara yang menentangnya. Di tengah tingginya
angka perceraian saat ini, kesetiaan bagaikan emas. Mereka yang yakin monogami lebih
baik, tentu akan sakit kepala bila menyaksikan kehidupan beberapa perempuan baik-baik
saja meski suami
mereka menikah lagi.
Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin berhasil
membawa negerinya keluar dari situasi carut marut untuk kembali menjadi
kekuatan dunia yang diperhitungkan, sehingga dirinya dinobatkan sebagai Person of
The Year 2007 oleh majalah Time. Namun, Putin sosok berbahaya dan bukanlah
pribadi baik-baik, tulis editor pelaksana Time, Richard Stengel.
Menurut Stengel, Putin perlu diwaspadai karena ia
memprioritaskan stabilitas di atas kebebasan sipil; menurutnya inilah yang
dibutuhkan Rusia meninggalkan bayang-bayang Uni Soviet dan gang-gang buntu di
mana hantu itu bersemayam. Dan ia berhasil; ekonomi Rusia maju pesat berkat minyak,
gas alam, gandum, dan berbagai komoditas. Setelah membiarkan pintu terbuka
lebar-lebar bagi investasi asing dari Eropa dan Amerika dalam waktu sekitar 20
tahun sejak ia berkuasa, Putin memutuskan untuk putar
balik. Kita menyaksikannya dalam bentuk operasi militer khusus Rusia di
Ukraina 24 Februari 2022 berikut ribuan sanksi
yang menyertainya.
Seperti pemimpin dunia manapun, Putin sudah punya banyak haters jauh sebelum rudal pertama Rusia
mendarat di Ukraina. Bila Anda belum tahu, para haters ini biasanya menentang pandangan konservatif Putin terkait
identitas nasional Rusia dan nilai-nilai keluarga. Pernikahan
sesama jenis dan transgenderisme adalah perilaku menyimpang yang wajib dijauhi,
bahkan dipenjarakan, menurut undang-undang Rusia. Situasinya relatif tidak berbeda
dengan pandangan beberapa negara Islam.
Alasan Putin, demi melindungi nilai-nilai tradisional dan
identitas nasional Rusia, sebenarnya sangat wajar dan dapat dipahami hampir
siapa pun. Meski tujuannya adalah terciptanya negara kesejahteraan (welfare state), tidak sedikit anak muda
Rusia yang sangat anti Putin, termasuk band punk cewek Pussy Riot. Ulah vandal band ini 2012 silam berujung hukuman dua
tahun penjara bagi dua anggotanya, tetapi berkat amnesti pada
Desember 2013 mereka bebas sebelum waktunya.
Kekokohan Vladimir Putin dalam sudut pandang berbagai media
Barat mengisnpirasi terciptanya ratusan meme dan karikatur sindiran tentang
dirinya. Inilah manifestasi kebebasan berekspresi yang mendorong kita untuk mengabaikan
fakta bahwa Putin juga manusia. Lahir dari keluarga sederhana yang harmonis,
Vladimir kecil juga nakal seperti kita semua. Ia beruntung karena salah satu gurunya
di Sekolah Dasar menafsirkan kenakalannya sebagai ciri-ciri seorang pemimpin
hebat di masa depan.
Sebagaimana lelaki Rusia pada umumnya, Putin menaruh hormat
pada perempuan yang anggun, mampu menjaga martabat keluarga, suka berolah raga,
setia pada pasangan, sopan, cerdas, sayang anak, dan mahir dalam urusan rumah tangga.
Perempuan yang terlalu dominan dalam kehidupan berpasangan, atau di lingkungan
profesi, dipandang
menakutkan bagi para lelaki Rusia. Dengan adanya “nilai-nilai tradisional”
ini, kita bisa memaklumi pandangan Presiden Putin tentang gerakan feminisme di
Rusia . Sialnya, di tengah konflik geopolitik Eropa Timur, gerakan itu dimanfaatkan
musuh-musuh Rusia dengan tujuan menyerang dari dalam.
Abu-Abu
Manusia cenderung tidak merasa nyaman menghadapi sesuatu
yang samar-samar, di saat yang sama, konsep Ketuhanan juga samar-samar karena
hanya berlandaskan keyakinan manusia itu sendiri. Maka ada segolongan orang
yang menolak konsep ini dan menyatakan diri sebagai kaum ateis.
Sebuah bangsa religius mungkin akan menganggap mereka
sebagai anak-anak yang tersesat, meski ada sebagian kecil kalangan religius
yang menghargai pilihan hidup kaum ateis. Sri Sri Ravi Shankar, pemimpin
spiritual dan praktisi yoga kawakan dari India, membeberkan tentang baik atau
buruk seseorang tidak ditentukan oleh apa yang mereka yakini (parafrasa dari versi
aslinya).
Kemajuan teknologi informasi Amerika dibayar dengan semakin
sempitnya ruang pribadi masyarakat, algoritma menjadi tongkat sihir
sekelompok orang untuk mengendalikan kebiasaan sekelompok orang lainnya tanpa
berinteraksi langsung dengan mereka. Mendobrak masuk dalam privasi seseorang
bisa menimbulkan perasaan terganggu, kehilangan kebebasan, malu, kurang nyaman;
atas nama ekonomi mereka mengabaikan hak manusia untuk memiliki kehidupan
pribadi yang tidak harus diketahui orang lain. Ketika demokrasi memberikan
kebebasan ekonomi seluas-luasnya kepada kita untuk meraup keuntungan, bukankah
seharusnya para karyawan sektor teknologi Amerika terhindar dari pemecatan karena
perusahaan mereka mengantongi banyak uang berkat kebebasan itu?
Di sisi lain, berbagai platform teknologi informasi menyebarkan kisah tentang
mereka yang mendambakan kebenaran selalu menang melawan kejahatan, bahwa
golongan hitam akan selamanya berperilaku buruk dan golongan putih lebih suci
dari mereka. Bahwa di hari akhir nanti hanya orang baik dan beriman yang
bahagia, sementara orang jahat dan tidak beriman akan sengsara. Bahwa mereka
yang terlibat perang adalah para zombie haus darah, sementara yang tidak adalah
para pahlawan. Lalu ada di pihak mana Lockheed Martin (produsen peralatan
tempur nomor satu dunia asal Amerika Serikat) dalam hal ini, misalnya?
Sebagai bentuk dukungan untuk Ukraina, Amerika Serikat dan
para sekutunya yang didominasi negara-negara Eropa sepakat mengucilkan Rusia
dari akses finansial dan perbankan, perdagangan, sektor energi, pertanian, teknologi,
sampai olahraga internasional, film dan seni sejak 2022 lalu. Namun, mengapa
semua itu tidak mengakhiri perang Ukraina secepat yang diharapkan, mengapa kebangkrutan
dan chaos massal yang seharusnya
hanya terjadi di Rusia malah meluas ke banyak tempat di seluruh dunia?
Bukankah seharusnya tatanan dunia yang lebih adil dan sejahtera tercipta ketika si jahat sudah dihukum seberat-beratnya?
Kamis, 29 Desember 2022
Bercerai dan Bersatu di Bawah Nasionalisme
Bahasa Inggris punya banyak kekurangan, meski berstatus bahasa persatuan dunia. Kata ‘we’ memperlihatkan impresi kemanunggalan antara banyak orang, yang menghadirkan citra kekokohan dan meyakinkan daripada kata ‘I’. ‘We’ seringkali diucapkan banyak tokoh pemimpin untuk mengarahkan kepercayaan khalayak kepada apa yang mereka sampaikan, walaupun ‘we’ dalam konteks tertentu bersifat eksklusif, tidak selalu mengarah kepada atau melibatkan orang yang diajak bicara.
Dalam Bahasa Inggris, we
(subyek) dan us (obyek) adalah kata
ganti orang pertama jamak yang sangat membantu tujuan penggalangan massa karena
kelenturan eksklusivitas dan inklusivitasnya. Ketika seorang presiden Amerika
Serikat (misalnya) berbicara di depan sidang PBB tentang perlunya warga dunia
mengutuk operasi
militer Rusia di Ukraina, ia bisa berkata, “’We’ condemn Russia invasion
over Ukraine,” meskipun ‘we’
tidak merepresentasikan semua negara anggota PBB secara kontekstual.
Persentase orang yang mencari nafkah di bidang bahasa hanya
sekian dari total penduduk dunia, mungkin akan lebih sedikit lagi jumlahnya
bila AI (artificial intelligence) kian fasih berbicara dalam banyak bahasa. Apa
pun perkembangan yang akan terjadi di masa depan, bahasa tetap adalah jembatan menjalin
hubungan dengan mereka yang ada di luar diri kita. Bahasa memberi bentuk kepada
semua hal yang keluar dari dan masuk ke dalam diri kita, yang pada gilirannya
menjadi alat untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Ketika Subcomandante
Marcos berkata, “kata adalah senjata (our
word is our weapon),” maka bahasa adalah militer karena sama-sama punya
aturan baku yang tidak bisa dilanggar.
Sebuah akar diskriminasi
bahasa
Beberapa negara dengan mayoritas Muslim sedikit rikuh menanggapi
gelombang
aksi massa Iran yang memanas sejak akhir September 2022, mungkin mereka mengira
aksi tersebut wujud protes terhadap syariah Islam. Akar masalah kerusuhan sipil
Iran sebenarnya jauh dari masalah agama, walaupun dipicu kematian Mahsa Amini
(22) saat ditahan polisi moralitas Iran karena tidak berhijab sesuai peraturan.
Ketimpangan dan diskriminasi budaya serta bahasa atas kelompok etnis tertentu
di wilayah Asia Barat, inilah api dalam sekam yang membakar atmosfer Persia dewasa
ini.
Dinasti Hasanwayhid, Annazid, dan Ayyubid adalah penguasa
besar dari suku Kurdi di masanya, tetapi di era modern suku ini mengalami
persekusi berkelanjutan. Nasib buruk suku Kurdi bermula 1920 dengan runtuhnya
Kekaisaran Ottoman, Türkiye, sebagai hasil
akhir Perang Dunia I. Mustafa Kemal Attaturk, presiden Türkiye saat itu, menolak klausul Traktat Sevres
tentang pembentukan wilayah otonom bagi etnis Kurdi yang mendiami wilayah
Ottoman pra Perang Dunia I.
Selanjutnya, diterbitkanlah Traktat Lausanne (1923) yang mengabaikan
penyebutan apa pun tentang rumah untuk suku Kurdi. Akibatnya, sejumlah besar orang
Kurdi tersebar di empat negara (Iran, Irak, Turki, Suriah) sembari terus
memperjuangkan wilayah otonom untuk mereka. Tuntutan mereka bukan hanya diekspresikan
dalam unjuk rasa. Aksi
terorisme kerap mewarnai perjuangan mereka terutama setelah tokoh terkenal
suku Kurdi, Abdullah Öcalan, mendirikan Partai
Pekerja Kurdistan (PKK) yang berhalauan Marxis-Leninis. PKK berikut para anggota
dan simpatisannya ditetapkan sebagai kelompok teroris di berbagai negara,
termasuk Uni Eropa dan Türkiye.
Bahasa Persia sudah menjadi bahasa nasional Iran sejak
beberapa dekade silam menggantikan bahasa lokal kelompok etnis minoritas Kurdi,
Arab Khuzestan, Türkiye Azerbaijan,
Turkmenistan, dan Balochistan. Di bawah Republik Islam Iran, bahasa suku minoritas
dicap kuno, ketinggalan zaman, bahkan ada larangan mempelajari maupun
mengajarkan bahasa lokal/ daerah suku minoritas di sekolah. Mereka yang
menentang dihukum
berat dan dijebloskan ke penjara. Anda menganggap fenomena ini ekses
permusuhan abadi Islam Syiah versus Islam Sunni, mengingat penguasa dan
mayoritas warga Iran beraliran Syiah sementara kaum minoritasnya beraliran
Sunni? Waspadalah! Jangan biarkan sentimen agama menutupi cakrawala Anda.
Terorisme bukanlah makanan cepat saji; selalu ada latar
belakang panjang di balik keputusan seorang teroris memilih jalan kelamnya. Karena
semua manusia di Bumi butuh pengakuan atas keberadaaan mereka, maka pelarangan
bahasa berarti pelarangan budaya. Anda bisa dianggap punya hak lebih kecil untuk
eksis di dunia ini ketika seseorang mencela budaya Anda. Mengingat budaya
adalah produk daya cipta, rasa, dan karsa manusia, maka diskriminasi budaya
adalah genosida tak berdarah secara perlahan atas intelektualitas mereka.
Dampak takut sakit
Analis JPMorgan meramalkan deglobalisasi adalah tren
2023, di mana deglobalisasi menurutnya adalah berhentinya Barat sebagai kiblat
dunia dalam hal perkembangan ekonomi. JPMorgan bukanlah paranormal yang
sekonyong-konyong membuat ramalan berdasarkan hasil penerawangan ke masa depan
dengan bantuan kekuatan supranatural. Prediksi JPMorgan yang semata-mata
berdasarkan logika dan berbagai peristiwa sepanjang 2022, seolah menyiratkan
pesimisme entitas bisnis kelas paus tentang perkembangan terkini dominasi
kelompok negara maju (Barat) terhadap kelompok negara berkembang (Timur).
Kuncitara global COVID-19 sepanjang 2020 menyadarkan banyak
kalangan bahwa isolasi total tidak menjamin manusia terhindar dari wabah
penyakit, karena virus dan bakteri selalu bisa menemukan celah-celah kecil
untuk menyusup dan menggerogoti ketahanan manusia. Manusia yang sudah sakit,
baik sakit maupun psikologis, sejak sebelum virus masuk adalah sasaran empuk
bagi COVID-19. Ada makna tersirat bahwa inilah fenomena ketika penyakit dan
kesedihan menjadi ganas pasca masuknya zat dari luar yang bertujuan mengakhiri
hidup seseorang. Menurut beberapa kisah pandemi, bukan virus melainkan
kuncitara memperparah penyakit yang diderita para pasien dan keluarga mereka.
Ramalan analis JPMorgan di atas seakan-akan memberikan
sinyal bahwa kuncitara global bisa saja diterapkan kembali di waktu mendatang
untuk tujuan yang berbeda. Saat ini, kuncitara sedang diberlakukan atas Rusia
dalam bentuk 6800 sanksi dan pengucilan dunia internasional sebagai “hukuman”
atas operasi militernya di Ukraina. Berhasilkah kuncitara termasif atas suatu
bangsa ini memelihara keamanan bangsa-bangsa lain? Siapa yang berperan sebagai
penyakit berbahaya dalam drama ini, Rusia atau negara-negara yang menghukumnya?
Kisah suku Kurdi pasca-Perang Dunia I dan etnis Rusia di Ukraina
hampir tak jauh beda, mereka adalah apa yang tersisa dari kejayaan suatu masa
lalu. Ketika kejayaan itu berakhir, orang-orang yang seharusnya mengayomi
mereka menyerah
pada ambisi pribadi, golongan, bahkan tekanan pihak luar. Kita tidak bisa
bertanya kepada Mustafa Kemal Attaturk, mengapa ia menolak menyetujui pendirian
wilayah khusus untuk suku Kurdi. Namun, kita masih bisa bertanya kepada pers
Barat mengapa diskriminasi atas bahasa dan budaya Rusia di Ukraina tidak
dipaparkan sama detailnya. Sukar dipercaya jika dalih pengabaian ini adalah rasa
takut pada virus komunisme, mengingat negara-negara pro demokrasi seperti
Swedia, Jerman, dan Prancis pernah dan masih menampung beberapa anggota PKK
yang “tercemar” Leninisme di suatu fase dalam kehidupan mereka.
Nasionalisme itu
cinta?
Nasionalisme adalah nama lain dari rasa cinta untuk tanah
air, yang akhir-akhir ini sering diungkapkan dalam bentuk seruan untuk
memprioritaskan produk dalam negeri, kepentingan negara, atau pembangunan adil
dan merata di seluruh negeri. Beberapa negara dengan penduduk homogen sejak
awal berdirinya, mungkin tidak mengalami hambatan berarti untuk menyatukan
warga negaranya. Mereka berbicara dan berperilaku menurut sebuah standar,
sehingga penguasa tahu pasti apa yang mereka butuhkan dan (seharusnya) mampu
mengemudikan perahu negeri menuju tujuan yang sama sebagai satu bangsa.
Banyak dari kita rindu masa lalu, karena masa lalu lebih
simpel daripada masa kini. Tidak sedikit pemimpin nasionalis yang sepakat
dengan ini. Globalisasi dan keterbukaan membuat orang lebih mudah berpindah
tempat, baik secara fisik maupun virtual, lintas wilayah hingga lintas negara. Para
alien berwujud manusia masuk dalam kehidupan kita membawa adat, budaya, dan
nilai-nilai mereka, membuat kita tertegun karena keunikan mereka yang tak
terlupakan. Virus-virus alien menghipnotis, mengacaukan mindset dan tindak-tanduk masyarakat homogen, dan… pusing kepala
penguasa dibuatnya!
Sementara itu, masyarakat heterogen menghadapi kendala yang
jauh berbeda. Iran memberlakukan bahasa Farsi sebagai bahasa resmi sebagai
bagian dari standar budaya dengan cenderung mengabaikan bahasa minoritas. Tak
adakah solusi lain? Hanya para penguasa di sana tahu jawabannya. Pemberlakuan
standar secara paksa tidak hanya terjadi di Iran, sebenarnya. Seorang saksi
hidup (yang kini sudah meninggal) terlibat dalam gerakan penyeragaman agama di
suatu kepulauan terpencil Indonesia bertahun-tahun silam, saat masyarakat di
pulau itu diwajibkan meninggalkan agama lokal dan memilih antara agama Islam,
Kristen Protestan, atau Katolik. Pemberlakuan standar semacam ini pernah jadi kebijakan
untuk mempersatukan masyarakat heterogen dengan cara meniadakan keragaman.
Lebih mudah mempersatukan beragam suku, ras, golongan, dan agama di masa perang, karena mereka sama-sama bertujuan menaklukkan musuh dan mau tidak mau harus bekerja sama. Karena hidup nikmat juga suatu cobaan, maka masalah datang kepada mereka ketika tujuan sudah tercapai. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, sehingga ia akan selalu berusaha mencapai kenyamanan hidup yang maksimal. Namun, standar hidup ideal tidak pernah sama bagi masing-masing kita. Persatuan kehilangan kekuatannya, melemah karena kepentingan yang saling bertabrakan sehingga diputuskan keragaman perlu dimusnahkan. Jadi, apakah nasionalisme itu cinta?
Selasa, 16 Agustus 2022
Hidup Aman Bersama Sejarah Memalukan
Tuduhan dan penghakiman bukan hanya untuk manusia, tetapi juga benda mati seperti monumen. Monumen berarti patung-patung, tonggak-tonggak, struktur bangunan kokoh dan perkasa yang didirikan untuk mengenang tokoh berjasa besar atau peristiwa bersejarah. Di antara ribuan monumen megah yang tersebar di seluruh dunia, beberapa punya latar belakang “abu-abu”. Monumen Rusia yang didirikan tak jauh dari Universitas Bangui, Republik Afrika Tengah termasuk dalam kategori ini.
Monumen
Rusia bukanlah nama resmi monumen yang menggambarkan tiga pria dan satu
wanita bersenjata melindungi seorang perempuan Afrika dan dua anaknya. Tidak
ada inskripsi pada monumen itu, tidak ada tanggal yang menunjuk waktu pendirian
atau peresmiannya. Monumen Rusia adalah nama yang diberikan penduduk setempat
sebagai ucapan terima kasih atas bantuan
sekelompok prajurit Rusia dalam perang sipil di negara itu antara pemerintah melawan
para pemberontak.
Kelompok prajurit Rusia ini bukanlah prajurit biasa, mereka
adalah kelompok tentara bayaran yang disebut Wagner Group. Nyaris tidak ada
sumber internet yang memberikan informasi positif tentang kelompok ini. Mereka
disebut-sebut terlibat dalam perampasan, pemerkosaan, dan penganiayaan warga di
mana mereka berperang demi uang, termasuk di Afrika
Tengah. Begitulah cara pandang media arus utama terhadap mereka. Namun
demikian, Monumen Rusia adalah kenyataan terlepas dari segala kontroversi yang
menyertainya. Kelompok ini bahkan ikut membela Rusia dalam operasi militer
khususnya di Ukraina
guna membebaskan wilayah Donbass dari teror para milisi Neo-Nazi.
Malu masa lalu
Kita semua bangga terhadap hasil karya, pencapaian, dan
kebesaran generasi sebelumnya. Mereka yang mendirikan bangunan-bangunan megah
di zaman kuno, mereka yang menciptakan mitos-mitos, mereka yang berjuang
membebaskan tanah air kita dari penindasan, mereka yang membuka jalan supaya
kita mengenal dunia… Akan tetapi, para pendahulu kita adalah juga manusia. Sama
seperti kita, mereka melakukan banyak hal yang tidak bisa diterima dan dipahami
orang lain; generasi penerus mereka dalam hal ini. Lebih jauh lagi, generasi
berikutnya menganggap tidak sedikit tindakan para pendahulu yang telah membuat
mereka malu menjadi penerus mereka. Kesadaran manusia adalah misteri, karena
terkadang kita baru menyadari adanya ketidakberesan setelah sekian lama kita
menganggapnya sebuah normalitas. Atau, benarkah demikian?
Sejarah Konfederasi
(1861-1865) adalah tentang konflik bersenjata antara pemerintah sah Amerika
Serikat di wilayah Utara dan beberapa negara bagian di wilayah Selatan yang
memerdekakan diri, berawal dari kegagalan menyepakati cara terbaik
memperlakukan warga AS keturunan Afrika. Konfederasi mulai dipandang sebagai aib oleh
sebagian besar warga Amerika Serikat sejak 2017 setelah serentetan peristiwa
tragis yang diinspirasi oleh nilai-nilai inti Konfederasi. Insiden pembunuhan
George Floyd 2020 lalu adalah klimaksnya. Sejumlah monumen untuk mengenang para
pahlawan Konfederasi dihancurkan
atau disingkirkan, lantaran dianggap sebagai benda-benda mati yang memicu ingatan
generasi penerus untuk melestarikan perbudakan dan diskriminasi atas warga AS
keturunan Afrika serta non kulit putih lain.
Kurang lebih setahun setelah pergerakan Black Lives Matter
mengguncang Amerika Serikat, tren penghancuran monumen menjadi tren baru di
Eropa. Pengorbanan para serdadu Uni Soviet yang gugur dalam Perang Dunia II tidak
lagi dianggap penting untuk dikenang oleh beberapa negara Eropa, akibat
operasi militer khusus Rusia di Ukraina. Meski Euromaidan
adalah penyebab utama di balik gemuruh mesin-mesin perang yang diterjunkan demi
membela rakyat Donbass, tetapi ribuan sanksi dijatuhkan terhadap Rusia berikut
upaya penghapusan jasa-jasa para pendahulunya dari sejarah. Sebagian besar kubu
Barat – berbagai negara, organisasi internasional, organisasi induk olahraga,
perusahaan multi nasional, platform daring, beberapa institusi seni, dan
akademik tersohor dunia mungkin menyadari bahwa bangsa yang besar adalah bangsa
yang menghargai para pahlawannya. Akan tetapi, mereka merasa malu mengakui jasa
para pahlawan berdarah Rusia.
Mengubah masa lalu
“Belajar dari masa lalu.” Ini sudah terlalu sering kita
dengar. Bagaimana kalau mengubah masa lalu? Guna mencapai tujuan ini, kita
tidak perlu mesin waktu untuk menjelajahi zaman dahulu dan mengubah peristiwa
yang sudah terjadi. Beberapa orang menemukan cara lebih praktis yang tidak
butuh biaya triliunan untuk pembuatan mesin beralgoritme canggih yang bisa
memutar balik waktu. Caranya adalah mengubah sudut pandang saat ini agar bisa
memahami anomali masa lalu yang tidak sesuai standar dan norma-norma.
Salah satu tokoh legendaris yang menjadi “korban” eksperimen
ini adalah Joan of Arc, pahlawan perempuan Prancis yang memimpin bangsanya
bangkit dari penjajahan Inggris di Abad Pertengahan. Joan of Arc mampu
membangkitkan semangat para prajurit Prancis jauh sebelum paham feminisme ada, ketika
aktivitas utama para perempuan muda di masa itu adalah melakukan pekerjaan
rumah tangga menanti dinikahi para lelaki. Bagi mayoritas orang Eropa, Joan
terlalu macho, gagah berani, dan
tidak layak menjadi perempuan. Ia tidak hanya dituduh sebagai tukang sihir dan
dibakar hidup-hidup, berabad-abad setelah kematiannya yang memilukan ia
dianggap bukan perempuan
tulen.
Kekhasan suatu bangunan yang sudah berdiri jauh sebelum modernisasi
dianggap sebagai kesesatan
oleh sudut pandang tertentu, sehingga perlu dihancurkan. Ini pernah dialami
Candi Borobudur, dan gosipnya, tidak sedikit candi di Indonesia yang bernasib
sama. Ada yang menganggap ini hanyalah rekayasa
politik suatu kelompok atau tokoh tertentu. Ada yang khawatir membuka tabir
sejarah bisa memecah belah masyarakat apabila dibahas terlalu dalam dari
berbagai sudut pandang yang saling berseberangan.
Masa lalu telah mengungkapkan bahwa manusia tidak pernah lelah dalam pencarian mereka demi membuktikan apa yang benar dan seharusnya. Merasakan malu bisa mengaburkan keyakinan manusia untuk melangkah karena semuanya terlihat abu-abu di dalam kabut. Manusia tidak nyaman menghadapi zona abu-abu, bukan hitam dan bukan pula putih, karena kita berharap ada panduan to the point tentang bagaimana melalui semua itu. Ini tidak salah. Dibutuhkan proses bagi siapa pun untuk mempunyai pola pikir aman di tengah berbagai bentuk ketidakpastian di masa depan. Bukankah suatu kelompok, masyarakat, bangsa, dan negara berdiri di atas berlapis-lapis pondasi yang diletakkan berbagai generasi?
Minggu, 01 Mei 2022
Selektif Beramal Juga Perbuatan Mulia
Di awal masa pandemi 2020 lalu, seruan beramal dan membantu sesama kencang diperdengarkan ke seluruh pelosok dunia. Ada kelompok musisi yang menggalang dana untuk para nakes, ada grup alumnus sekolah yang membagikan makanan gratis untuk siapa saja. Bagi mereka yang kehilangan penghasilan akibat kuncitara global saat itu, makanan gratis bisa sedikit membantu mengisi perut yang lapar. Adalah sifat alami manusia yang mudah tersentuh dan iba terhadap kesusahan orang lain ketika dirinya sendiri juga mengalami kesulitan yang tidak jauh berbeda. Tidak sedikit orang di luar sana yang, meski di tengah kesulitan keuangan, ikut trenyuh saat melihat atau mengetahui penderitaan sesamanya di media sosial. Mereka memproyeksikan rasa berat yang tiap hari bersarang di dalam kalbu kepada orang-orang lain dengan situasi yang kurang lebih sama.
“Among its other
benefits, giving liberates the soul of the giver,” kata Maya Angelou. Sesungguhnya
memberi (bantuan) akan membebaskan jiwa si pemberi. Secara kalkulasi matematika
atau akuntansi, jelas pemberi akan rugi karena sebagian dari miliknya tidak
lagi menjadi haknya setelah diberikan kepada orang lain. Jadi bagaimana bisa
jiwa si pemberi akan bebas setelah dirinya melepaskan sesuatu yang menjadi
miliknya? Apakah kita berharap pemberian kita untuk orang lain akan kembali
dalam bentuk lain? Apakah kita sudah ikhlas saat beramal? Jawaban untuk
pertanyaan ini sangat layak menjadi PR bagi kita semua.
Sungguh beruntung apabila Anda masih mempunyai sesuatu untuk
diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Karena jika tidak, sebagian orang
akan beralih ke media sosial untuk mengungkapkan rasa simpati mereka dan teman-teman
medsos kita tidak akan pernah tahu apakah pernyataan simpati itu datang dari
lubuk hati terdalam. Ataukah kita sedang memproyeksikan kegalauan yang kita
alami kepada pihak lain. Terlepas dari berbagai kontroversi belakangan ini, bagi
sejumlah kalangan media sosial masih layak disebut sebagai wadah menyalurkan
kebebasan berpendapat dan meminta bantuan.
Bercermin dari konflik Rusia-Ukraina, Presiden Ukraina
Voldymyr Zelensky menggunakan akun Telegram (yang ironisnya adalah hasil karya
jutawan IT asal Rusia, Pavel Durov)-nya untuk menarik simpati dan menggalang
bantuan senjata dari negara-negara Eropa, Amerika, bahkan Asia. Ketika operasi
militer Rusia di Ukraina dimulai 24 Februari 2022 lalu, sejumlah negara
mengirimkan bantuan senjata stok lawas dari era Uni Soviet, misalnya sistem
rudal S-300 yang didonasikan Slovakia dan helikopter Mil MI-17 dari Amerika
Serikat sebagai bagian paket bantuan senilai 33 biliun dolar. Sejak awal,
angkatan bersenjata Rusia hanya menargetkan demiliterisasi dan denazifikasi
Ukraina tanpa menyerang warga sipil. Pada gilirannya, semua bantuan ini bisa
dikatakan muspro (istilah Jawa),
sia-sia belaka karena dimusnahkan pasukan Rusia. Menurut sebuah laporan,
bantuan senjata dari Barat yang tidak dihancurkan akan dijual di pasar gelap,
mengingat Ukraina adalah salah satu pasar
gelap senjata terbesar di Eropa.
Bantuan salah sasaran
Beberapa tahun lalu, bermunculan kelompok-kelompok kecil
yang mengedarkan kotak amal di sejumlah lampu merah yang dipadati pengguna
jalan di kota saya. Bendera sebuah negara di mana konflik terjadi menahun
mereka kibarkan di tepi jalan. Seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana
cara memastikan bahwa sumbangan yang kita berikan benar-benar sampai di negara
tersebut? Sekedar tambahan bagi wawasan kita, kasus penipuan berkedok amal atau
donasi merupakan fenomena umum di Amerika Serikat sehingga FBI membuka saluran
komunikasi khusus bagi mereka yang menjadi korban modus ini. Reuters menjabarkan beberapa kesalahan umum yang
biasa dilakukan para donatur, yaitu menyumbang di bawah 25 dolar dan “terlalu
dermawan.” Alasannya, bila donatur menyumbang terlalu sedikit maka penipu
berkedok amal bisa meminta lebih banyak lagi. Lalu kita teringat pada
permintaan sumbangan
bernuansa emosional dan mengundang rasa iba seperti postingan Telegram Mr.
Zelensky.
Mereka yang tidak dalam kapasitas prima untuk menyumbang
dalam bentuk uang atau barang cenderung memilih menyampaikan keprihatinan di
akun media sosial, dengan tujuan agar lebih banyak orang yang peduli dan
memberikan sumbangan dalam bentuk riil. Lagi-lagi soal operasi militer khusus
Rusia di Ukraina, bagi sebagian besar orang pihak penyerang adalah agresor biadab
yang tak layak jadi bagian komunitas global terlepas dari alasan apa pun di
balik serangan tersebut. Pertentangan antara si lemah dan si kuat menjadi
sumber inspirasi abadi bagi cerita fiksi, dipertontonkan secara massal berulang
kali sebagai doktrin tentang banalitas kekejaman suatu pihak. Ketika Rusia
melumpuhkan beberapa fasilitas militer Ukraina, kita tak perlu menunggu lama
untuk tahu bagaimana reaksi
mayoritas warga net seluruh dunia, khususnya dari negara-negara Uni Eropa
dan NATO.
Hujatan untuk Rusia, Presiden Rusia Vladimir Putin, angkatan
bersenjata, dan warga sipil Rusia menghiasi berbagai kanal media sosial sejak
saat itu. Bahkah platform sejuta umat, Facebook, sempat melegalkan ujaran
kebencian bagi warga negara Rusia sebelum dibatalkan beberapa saat kemudian. Adalah
manusiawi bagi setiap manusia bereaksi emosional terhadap situasi di Ukraina
saat ini. Sebuah studi
menyimpulkan, para pengguna yang sering menggunakan internet untuk hiburan,
berkomunikasi, dan mencari informasi cenderung menunjukkan perilaku yang lebih
agresif, bermusuhan, dan secara psikologis mampu mengatasi pengaruh informasi
konteks. Artinya, seorang gamer
cenderung mudah tergerak secara emosional dan menyebarkan Russophobia akibat cuitan pendek di Twitter yang dilihatnya tentang
kuburan massal para korban pembantaian serdadu Rusia tanpa meneliti lebih jauh
tentang kebenaran informasi
itu.
Bantuan “beracun”
“Beramal tak perlu menunggu kaya,” kata tukang kayu yang pernah
bekerja untuk keluarga kami beberapa tahun lalu. Ya, siapa saja bisa beramal.
Sering merasa tidak berdaya karena tidak punya banyak uang cenderung membentuk
mental yang pasrah pada keadaan, menyabotase diri sendiri, selalu merasa
miskin, dan kehilangan daya juang untuk mengatasi keterbatasan. Beramal, meski
sedikit jumlahnya, setidaknya bisa membantu membangkitkan semangat dalam menjalani
rutinitas sehari-hari.
Akan tetapi di tengah inflasi tinggi dan kian mahalnya biaya
hidup, beramal menjadi suatu tantangan bagi mereka yang menganggapnya sebagai
suatu kewajiban atau kepedulian terhadap sesama manusia. Sebagian orang mencoba
mengkaji kembali sejauh mana amal mereka bermanfaat, atau malah memicu
kemalasan. Belum lagi berbagai risiko penipuan berkedok amal yang disebut di
atas.
Pertimbangan yang sama sudah seharusnya berlaku ketika Anda
merasakan dorongan emosional dan ingin memberikan dukungan untuk sebuah cause, fenomena, atau kemalangan yang
sedang ramai dibicarakan orang. Beramal atau berdonasi lebih baik diberikan
kepada seseorang, kelompok masyarakat, atau pihak yang kita ketahui dan pahami
dengan baik latar belakang, aktivitas, visi dan upaya mereka mengatasi
kesulitan. Ingat, zaman sudah berubah. Komentar dan jempol kita di media sosial
adalah “donasi” kita pada wacana atau pemikiran yang sedikit banyak bisa
mengungkapkan siapa sesungguhnya dan apa yang tersembunyi di benak kita.
Seorang pengguna media sosial yang aktif memiliki daya tarik memesona mata para
bandit dunia hitam yang ingin merekrut
pribadi-pribadi unik untuk memperkuat barisan mereka.
Dukungan saya untuk Rusia sebagian besar berawal dari
keisengan mempelajari sejarah, ideologi, pandangan politik, kebijakan-kebijakan,
serta karakter masyarakatnya sejak masa kuliah hingga saat ini. Tidak semuanya
saya setuju, tetapi ambisi Amerika Serikat dan para sekutunya tentang dunia
yang unipolar perlu dikritisi karena bertolak belakang dengan prinsip-prinsip
kesetaraan global. Saat ini, Rusia (dan negara-negara pendukungnya) adalah
satu-satunya yang mampu mempersulit Barat mencapai tujuan nya.
Selasa, 15 Maret 2022
Bukan Perang Dunia III, Melainkan Akhir Liberalisme
“Those who do not remember the past are condemned to repeat it,” kata George Santayana. Perang urat saraf antara Rusia vs Eropa dan Amerika Serikat terkait perekrutan Ukraina sebagai anggota baru NATO telah berubah menjadi adu senjata sejak 24 Februari 2022. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali menegaskan bahwa tujuan operasi militer khusus Rusia adalah “denazifikasi” dan “demiliterisasi” militer Ukraina dari ideologi dan antek-antek ultranasionalis yang telah menebar teror atas ribuan warga Rusia di Ukraina, terutama mereka yang tinggal di wilayah Donetsk and Lugansk People’s Republics (DLPR) yang telah menjadi korban sejak 2014. Dunia seolah menutup mata atas pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama bertahun-tahun, sehingga Rusia memutuskan untuk memusnahkan fasilitas militer Ukraina tanpa menyerang warga sipil.
Siapa dan apa kelompok ekstremis sayap kanan yang
disebut-sebut sebagai virus bagi masyarakat Ukraina? Sebuah situs
mengaitkan keberadaan mereka sebagai ekses dari peristiwa unjuk rasa massal
yang berbuntut penggulingan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych di tahun 2014,
atau populer dengan sebutan Euromaidan. Mengingat sejarahnya sebagai bekas
wilayah Uni Soviet, dunia Barat cenderung memandang Euromaidan adalah momen
“kemenangan” rakyat Ukraina atas “penguasa asing” Rusia, karena Yanukovych pro
Rusia. Larut dalam euforia terbebas dari pengaruh Rusia, sekelompok anak muda
Ukraina yang pernah menjadi penggerak dalam aksi massal Euromaidan berubah
menjadi massa liar tanpa pemimpin kuat.
Dengan berjalannya waktu, slogan nasionalisme Ukraina
berubah menjadi ultranasionalisme. Kelompok yang menamakan dirinya The Right
Sector bukan hanya mengumandangkan kebanggaan atas identitas Ukraina, tetapi
juga ujaran kebencian terhadap para aktivis perempuan, LGBT, dan anti orang
asing. Namun akar far-right (sayap
kanan) Ukraina sesungguhnya sudah tumbuh sejak 1929 dengan berdirinya Organization
of Ukrainian Nationalists (OUN), yang menjadi radikal di tengah peperangan
Ukraina melawan Polandia saat itu. OUN terpisah menjadi OUN (b) yang dipimpin
Stepan Bandera, dan OUN(m) dengan ketuanya Andrii Mel’nyk. Dua tokoh yang
sama-sama totalitarian, anti Semit, dan fasis. Ketika Nazi merambah Ukraina,
OUN(m) menyatakan kesetiaan pada Adolf Hitler. Paska Euromaidan, pemerintah
nasionalis Ukraina menulis ulang sejarahnya, antara lain dengan menghapus
tokoh-tokoh pro Soviet Rusia dari buku sejarah dan menjadikan tokoh fasis
Stepan Bandera sebagai pahlawan.
Sejarah yang Berulang
Uni Eropa dan Amerika Serikat, pada akhirnya, memenuhi sumpah
mereka untuk mempersulit ekonomi Rusia bila Presiden Putin benar-benar
memerintahkan penyerangan atas Ukraina. Terhitung sejak pemberlakuan operasi
militer di Ukraina, Rusia telah menerima ribuan sanksi dan restriksi yang
meliputi embargo ekonomi, perdagangan, finansial, teknologi, media massa,
energi, dan larangan terbang bagi pesawat-pesawat buatan atau milik maskapai
penerbangan Rusia. Restriksi juga menjalar ke berbagai bidang yang seharusnya ranah
bebas politik seperti seni, sastra, dan olahraga. Sentimen
anti Rusia merebak di seluruh dunia, bahkan anjing dan kucing endemik Rusia
dilarang mengikuti kompetisi binatang peliharaan. Jejaring
media sosial yang mengklaim menjunjung tinggi kebebasan berbicara
memperbolehkan ujaran kebencian terhadap warga negara Rusia.
Fenomena ini mendekati pengulangan sejarah kelam yang pernah
terjadi di awal abad ke-20, ketika Nazi menancapkan
kukunya di tanah Jerman. Atas dasar nasionalisme sempit yang berlandaskan
kesukuan, Nazi memberlakukan peraturan anti Yahudi Jerman. Ratusan ribu orang
Yahudi dipecat dari pekerjaan, aset-aset mereka dibekukan dan disita, termasuk
bisnis atau perusahaan yang mereka miliki. Para artis dan atlet keturunan
Yahudi dilarang bertanding atau tampil di depan publik. Akses pendidikan untuk
anak-anak Yahudi ditutup. Bersama etnis Rusia, Polandia, dan Rumania, kaum
Yahudi dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi untuk dipekerjakan sebagai budak
sebelum akhirnya meregang nyawa.
Tragedi zaman modern yang lazim disebut Holocaust telah
menjadi bahan cerita ratusan film dan novel, beberapa di antaranya bahkan
memenangkan penghargaan internasional. Rupanya semua itu justru menginspirasi beberapa
orang untuk menjadi Nazi-Nazi baru zaman sekarang. Slogan-slogan persatuan dan
anti rasisme terbukti tiada bertaji dan gagal netral dalam konflik Ukraina. Di
tengah tekanan internasional, beberapa negara yaitu China, India, Israel,
Turki, Uni Emirat Arab, Venezuela, Serbia, Pakistan, Kuba, Belarusia, Meksiko,
Myanmar, dan mayoritas negara Asia Tengah menyatakan tidak akan menjatuhkan sanksi
kepada dan mempertahankan hubungan diplomatik mereka dengan Rusia. Sebuah
perpaduan negara-negara dengan keanekaragaman latar belakang sejarah yang
“unik”. Namun banyak pihak, terutama kalangan Barat, meragukan kemampuan bakal aliansi
ini bertahan menghadapi ancaman, tekanan, dan sanksi unilateral dari Amerika
Serikat dan para sekutunya. Yang jelas, Rusia melalui Wakil Menteri Luar Negeri
Sergey Vershinin telah menegaskan
bahwa sanksi-sanksi Barat tidak akan mengubah pendirian Rusia.
Akhir Sebuah Masa
Beberapa saat sebelum pandemi COVID-19, wacana Revolusi
Industri 4.0 menjadi tren di beberapa negara. Istilah ini dipopulerkan pertama
kali oleh Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, di tahun 2015 yang
mengacu pada perubahan cepat di bidang teknologi, industri, dan pola-pola serta
proses sosial di abad 21 berkat meningkatnya inter konektivitas dan otomasi
cerdas. Bentuk perubahan ini di antaranya adalah kemunculan kecerdasan buatan,
pengeditan gen, hingga robot-robot mutakhir yang menggantikan tenaga manusia
demi terwujudnya efisiensi industri. Kemajuan era digital hingga terciptanya
metaverse, yang bertujuan pemutakhiran komunikasi dan cara mengenal serta
berinteraksi dengan jagat sekitar kita, semua ini adalah sedikit contoh dari
apa yang bisa dihasilkan Revolusi Industri 4.0.
Dengan efisiensi yang makin tinggi, akan lebih banyak produk
atau barang siap jual dalam waktu singkat jika dibandingkan teknik produksi
tradisional yang masih menggunakan tenaga manusia. Akan tetapi, kenaikan hasil
produksi tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya tingkat permintaan. Para
pelaku industri selalu membutuhkan konsumen dan pasar baru agar hasil produksi
mereka bisa diserap dan memperoleh pendapatan. Persaingan usaha di mana pun
adalah sesuatu yang wajar saja, sebetulnya. Hal ini menjadi tidak wajar ketika
para pelaku industri melakukan monopoli usaha dengan tujuan menyingkirkan para
pesaing secara paksa.
Niat menyingkirkan Rusia (dan China) dari percaturan bisnis
internasional sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Bisa kita lihat dari
kenaikan tarif unilateral yang pernah dijatuhkan Amerika Serikat kepada China
di tahun 2019, atau upaya AS memanfaatkan CAATSA untuk menakut-nakuti berbagai
negara yang ingin membeli produk-produk militer buatan Rusia. Ketika berbagai
produk Rusia menghilang dari pasar, mereka yang hadir menggantikannya
kemungkinan besar adalah para pesaing bisnis dengan tendensi monopoli usaha
demi meningkatkan pendapatan.
“Tetapi kapitalisme tidak tinggal di zaman mudanya saja, kapitalisme itu menjadi subur, membesar, meningkat, dan menua … Kapitalisme itu kini sudah tidak lagi di zaman “Aufstieg (Bangkit)”, tetapi “Niedergang (turun)” … Kini yang lemah telah tersapu dari muka bumi, atau telah tergabung menjadi persekutuan besar satu dengan yang lain; yang maha besar. Kini malahan persekutuan-persekutuan besar itu telah selesai perjuangannya dengan yang lain; kini tinggal badan-badan monopool (monopoli) saja yang berhadapan satu sama lain. Vrij concurentie (persaingan bebas) sudah selesai, tidak perlu lagi. Yang perlu ialah menjaga tegaknya raksasa-raksasa monopool itu saja. Maka oleh karena itu liberalisme dan parlementaire democratie (demokrasi parlementer) lantas “tidak laku lagi” … Liberalisme dibuang jauh-jauh, diperkutukkan sebagai sistem kolot yang sudah tak laku lagi … dan dilahirkanlah satu sistem baru yang cocok dengan menjaga tegaknya monopool itu. Satu sistem baru yang sudah tentu bersifat monopool pula … inilah sistem fasisme!” (Dikutip dari “Di Bawah Bendera Revolusi” oleh Ir.Soekarno, 1959).
Jumat, 21 Januari 2022
Ke Mana Mencari Kebanggaan yang Hilang?
Orang bilang sebuah penolakan atau tidak tercapainya tujuan adalah hidden blessing (berkah tersembunyi), karena kita akan terpacu untuk memperbaiki diri agar lebih layak menggapai cita-cita. Namun, tentunya, tidak mudah mengatakan itu semua kepada sekelompok masyarakat yang baru kehilangan tempat tinggal akibat bencana, baru mengalami PHK, atau kehilangan anggota keluarga. Ada warna kesedihan yang sama di balik itu semua, dan dibutuhkan waktu yang cukup lama agar dapat memandang ketidakberuntungan sebagai berkah tersembunyi.
Akhir Desember 1991, di manakah Anda berada saat itu?
Sekitar tahun itu di kota saya hanya ada satu channel TV pemerintah yang
disebut TVRI. Belum ada internet apalagi ponsel, sehingga otomatis masa liburan
kala itu hanya ada TVRI mulai petang sampai malam hari sebagai hiburan bagi
para anak rumahan. Hari itu tanggal 26
Desember. Ada satu tayangan Dunia Dalam Berita malam itu yang masih terus
terkenang dalam benak saya hingga kini. Peristiwa penurunan bendera Uni Soviet.
Daya nalar seorang remaja 13 tahun mengira peristiwa itu sekedar seremonial
belaka, seperti upacara bendera yang diadakan semua sekolah di Indonesia tiap
hari Senin era pra pandemi. Bedanya, bendera merah Uni Soviet tidak pernah terlihat
berkibar kembali di perhelatan internasional sejak itu.
Sekitar 30 tahun kemudian saya menyadari bahwa kehilangan
sesuatu yang pernah menjadi kebanggaan kita bukanlah sesuatu yang mudah. Apakah
ada hidden blessings di balik peristiwa
yang terjadi 25 Desember 1991, tetapi kami di Indonesia menontonnya di televisi
26 Desember 1991 akibat perbedaan waktu (stasiun yang menayangkan peristiwa itu
adalah ABC, stasiun televisi Amerika Serikat)? Apakah emosi yang menguasai
batin ketika melihat bendera yang kita puja sebagai identitas nasional
dinyatakan tidak berharga lagi, terlepas siapa pun yang menyatakannya? Meskipun
saya dan Anda yang tinggal di luar Uni Soviet (saat itu) hanyalah penonton, tidakkah
kita menyadari bahwa situasi dalam konteks yang kurang lebih sama pernah dan
atau sedang ada di depan mata kita saat ini?
Freedom from want
Demokrasi dijunjung tinggi di banyak negara berkat berbagai
kelebihan yang ditawarkan sistem ini. Franklin D. Roosevelt menguraikan
keistimewaan utama demokrasi melalui pidatonya pada 6 Januari 1941 tentang Empat
Kebebasan (Four Freedoms). Freedom from want adalah salah satu
bentuk kebebasan yang dipresentasikan. Secara literal terjemahan dari kata “want” di sini adalah keinginan, sehingga
arti frasa “freedom from want” secara
literal adalah “kebebasan dari keinginan”.
Dari semua jenis kebebasan yang disebut dalam Four Freedom, freedom from want adalah alasan utama
yang menggerakkan manusia. Semua manusia
menginginkan sesuatu dalam hidupnya; kebahagiaan, kemakmuran, kesuksesan, silakan
sebut lainnya. Berkat kemajuan teknologi digital, manusia semakin mudah
mendapatkan apa pun yang diinginkan melalui lokapasar daring, jodoh pun bisa
dicari di situs kontak jodoh seperti Tinder. Itulah keajaiban demokrasi, karena
kebebasan yang mengiringinya melapangkan jalan bagi manusia untuk mencipta dan
mengembangkan ide-ide demi tercapainya, menurut Roosevelt, healthy peacetime life (kehidupan yang sehat di masa damai).
Dengan berjalannya waktu, keinginan manusia pun semakin
bertambah. Ibarat menenggak vodka, makin banyak minum makin kering tenggorokan.
Sebagian masyarakat tidak lagi merasa cukup bahagia dengan makanan lezat yang
disantap bersama keluarga di rumah. Standar kehidupan layak pun juga berubah,
karena makin banyak orang yang merasa cukup bahagia hidup bersama pasangan
tanpa anak atau hidup sebatang kara menjelajah dunia. Sementara di belahan lain
planet ini orang-orang masih kelimpungan mendefinisikan apa makna kebahagiaan
dan memilih berbagai opsi yang mengada berkat adanya kebebasan. Di Amerika
Serikat, gerakan “Great Resignation” muncul akibat para karyawan yang kabarnya
tidak menemukan kebahagiaan dari pekerjaan mereka. Mungkin bagi mereka hidup
terasa hampa, dan kehampaan itu tidak bisa diobati dengan gaji puluhan juta.
Fenomena kehidupan malam, narkoba, dan segala yang
‘remang-remang’ membuat kaum religius menuding kealpaan religiusitas dalam
hidup manusia kekinian sebagai pangkal dari ketidakmampuan sebagian orang
melihat cahaya di ujung terowongan, sebuah tudingan yang sekaligus memicu
radikalisme agama di berbagai tempat. Jangan lupa, bagi sebagian orang religiusitas
juga termasuk upaya mencapai freedom from
want ketika mereka menganggap religi adalah jalan membebaskan diri dari
keinginan duniawi yang membelenggu kesehatan pikiran dan jiwa.
Bagaimana pun juga, adalah freedom from want yang memotivasi manusia berlomba-lomba
mengumpulkan profit sebanyak mungkin lantaran kebutuhan hidup mereka banyak
sehingga banyak pula uang yang dibutuhkan untuk mencukupinya. Kesejahteraan
ekonomi yang tidak merata membuat beberapa kelompok manusia merasa tidak aman
menjalani hidup mereka dan mencari-cari celah untuk mengamankan masa depannya. Mereka
yang cukup beruntung memiliki akses infrastruktur dan relasi untuk mendukung
berbagai tujuan akan keluar sebagai para pemenang di tengah kompetisi pasar
bebas. Semua ini berkat demokrasi yang membebaskan orang untuk berusaha
semampunya demi hidup yang lebih baik.
Di alam demokrasi pemerintah berbagai negara mengurangi
peranan sebagai pengawas pertandingan, tetapi akan tetap bertindak tegas bila
otoritas mereka dilanggar. Teknologi informasi dan internet of things dikembangkan semaksimal mungkin bukan hanya untuk
mendukung kebebasan berbisnis, tetapi juga memudahkan pengendalian kebebasan
anggota masyarakat. Mereka diarahkan untuk mencari kebanggaan di area-area yang
sudah ditentukan dan menguntungkan para pengendali serta para pemilik modal.
Di Mana Mencari
Kebanggaan?
Seandainya kita kehilangan rumah, kendaraan, uang akibat
bencana atau dicuri orang, kita bisa memperoleh yang lebih baik suatu saat
nanti. Bagaimana kalau yang hilang adalah kebanggaan, harus ke mana kita
mencarinya? Kebanggaan itu tidak kasat mata, lalu bagaimana mungkin bisa
hilang? Meski berkah tersembunyi yang baru terungkap kemudian setelah
kejatuhannya, menghilangnya
USSR dari peta dunia meninggalkan jejak abadi di benak warga yang dulu
pernah menjadi bagiannya. Ada yang bersikukuh Uni Soviet masih ada, sementara hasil jajak pendapat
Maret 2021 menunjukkan 58% masyarakat Rusia menyesali keruntuhannya. Amerika
Serikat dan para sekutunya mungkin memandangnya sebagai sebuah prestasi, tetapi
mereka tidak menyadari bahwa jutaan manusia lainnya termasuk warga mereka sendiri
dan bahkan mungkin sebagian dari kita tengah merasakan apa yang dirasakan warga
Uni Soviet dahulu dan kini.
Mereka dengan latar belakang ekonomi, budaya, sosial, agama,
kepercayaan, jenis kelamin, dan usia berbeda bisa merasakan keterhempasan yang
sama, ketika seseorang atau sesuatu memutuskan bahwa apa yang sedang mereka
banggakan saat ini sudah tidak berharga lagi. Mereka mungkin salah satu dari penganut
kepercayaan leluhur yang dianggap sesat oleh kelompok kepercayaan yang lebih
kekinian. Atau seorang keturunan imigran yang lahir dan dibesarkan di negara
yang bukan negara asal orang tuanya, berusaha memperjuangkan hak yang sama
seperti warga asli selama bertahun-tahun, tetapi pupus akibat pernyataan
“America For The Americans.” Atau suku asli yang terusir dari tanah nenek
moyang mereka setelah kedatangan bangsa lain yang yakin diri mereka lebih
beradab dan cerdas. Mereka kehilangan kebanggaan atas identitas warisan
keluarga, komunitas, bangsa, karena desakan berbagai pihak dari luar yang juga
bangga dengan identitas mereka dan membutuhkan pengakuan.
Artinya, identitas kita saat ini sebaiknya hanya menempati 10% saja dari rasa bangga di dada Anda. Ya, identitas ada dan yang tidak ada di KTP seperti apa ras atau suku bangsa kedua orang tua Anda, partai politik pilihan Anda, atau jurusan apa yang Anda pilih semasa kuliah. Apa pun yang membuat kita merasa bangga telah memilikinya dan atau menjadi bagian dari itu sejak kurun waktu tertentu dalam hidup. Tidak peduli seberapa aman dunia kita saat ini, tetap ada saja pihak yang ingin melucuti kebanggaan kita melalui narasi tentang upaya pemurnian asal-usul, agama, dan kepercayaan sebagai cara yang “benar” untuk mencari jati diri. Kita harus ingat bahwa kebanggaan bukanlah hadiah pemberian seseorang, bukan pula tujuan. Kebanggaan adalah sebuah dampak yang kita rasakan sebagai konsekuensi dari hal bermakna yang sudah atau pernah kita lakukan. Lalu bagaimana seandainya kita belum pernah melakukan hal semacam itu, apakah kita tidak bisa menemukan kebanggaan? “The darker the night, the brighter the stars,” kata Fyodor Dostoevsky
Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...